Bab 1

London 07.00 a.m.

Perusahaan Nexon Games saat ini sedang ramai dibagian aula perusahaan tersebut! Pagi ini Nicholas Lauther yang merupakan putra dari pasangan Billi Lauther dan Emma Maria selaku founder perusahaan yang bergerak di bidang game online itu akan segera dilantik sebagai CEO perusahaan game tersebut.

Tentu saja Nicholas sangat bangga akan pencapaiannya hari ini, sebab sebelum Billi Lauther mempercayakan dirinya menjadi CEO di perusahaan ini, Nicholas telah diuji coba selama satu bulan terakhir untuk bekerja di Nexon Games dan terbukti Nicholas dapat menciptakan sebuah game online baru yang memiliki progres cukup baik dikalangan penikmat game online, karena itu sudah saatnya sebagai Ayah yang bangga terhadap putra tunggalnya, Billi akan menempatkan Nicholas sebagai CEO di perusahaan Nexon Games ini.

Senyum sumringah mewarnai wajah Emma Maria, dia sangat bangga terhadap Nicholas karena putranya itu ternyata mampu menjalankan bisnis Ayahnya dengan baik! Emma dan Billi yang saat ini masih berada dibawah podium bersama dengan Nicholas, sudah tak sabar ingin segera memulai acara penobatan Nicholas.

"Sini, biar mommy rapihkan dasimu!"

"Bagaimana mom? CEO tampan dan termuda ini? Apa sudah bisa mengalahkan pesona suamimu itu?"

"Cih, jangan harap! Dengar Nick, Dimata ibumu hanya aku pria paling tampan dimuka bumi ini, benar kan mom?"

Emma Maria hanya tertawa kecil mendengar anak dan ayah itu seperti tidak mau kalah menyanjung diri masing-masing.

"Ngomong-ngomong kenapa acaranya belum juga dimulai mom?"

"Kita sedang menunggu tamu, tunggulah sebentar,"

"Siapa? Tamu penting?"

"Sangat penting untukmu," ujar Billi Lauther.

Sementara itu, Amora Georgina gadis yang baru saja semalam pindah ke kota ini bersama dengan kedua orangtuanya yang bernama Mark Davidson dengan Anna Georgina, pagi ini setelah bermacet-macetan akhirnya tiba juga di aula perusahaan Nexon Games. Sebenarnya Amora masih sangat mengantuk dan malas pergi ke acara yang entah dia pun tak tahu kenapa dirinya harus ikut ke perusahaan ini.

"Bisakah aku pulang saja dan melanjutkan tidurku?"

"Amora, ini acara penting untukmu," ujar Anna sang ibu.

"Benar Amora, ini hanya sebentar saja tidak akan lama," kata Mark Davidson ayahnya.

"Ya, ya, ya,"

Setelah masuk ke aula yang sangat luas itu, kedatangan mereka langsung disambut oleh senyuman dari bibir Billi dan Emma sambil menarik tangan Nicholas Emma dan Billi pun berjalan menghampiri Mark, Anna dan Amora.

Mereka pun saling memberikan pelukan hangat satu sama lain karena memang sudah lama mereka tidak bertemu, dulu mereka adalah sahabat dekat saat kuliah bahkan perusahaan Nexon Games ini dulunya dibantu oleh keluarga Mark secara modal meskipun tidak banyak tapi dulu, bantuan itu sangat berarti untuk Billi dan Emma saat mereka baru saja menikah.

"Akhirnya kalian sampai juga, aku pikir kalian tidak bisa datang," kata Emma.

"Mana mungkin kami tidak datang," sahut Anna.

Sementara Nicholas dan Amora hanya sesekali saling melirik satu sama lain tapi enggan untuk saling menyapa, melihat putra dan putri masing-masing dari keduanya malah tidak ada inisiatif untuk saling menyapa Billi dan Mark pun berinisiatif untuk saling memperkenalkan satu sama lain.

"Waw, apa ini Nick?" tanya Mark.

"Ya, bagaimana? Dia tampan mirip denganku bukan Mark?" tanya Billi.

"Sepertinya begitu, dia sudah sangat besar sekarang,"

"Kau benar, waktu berjalan sangat cepat dulu kita terakhir bertemu saat Nick berusia lima tahun dan Amora baru lahir, sekarang lihatlah mereka berdua sudah sama-sama dewasa!" ujar Billi.

"Em, Mora ayo sapa ini Nick putra dari sahabat lama kami," kata Mark.

"Hai,"

"Hai,"

"Ya Tuhan, kalian berdua hanya sebatas saling Hai?" tanya Emma.

"Mungkin keduanya masih malu-malu, biarkan sajalah ini kan baru pertemuan pertama," ujar Anna.

Sebenarnya baik Nicholas maupun Amora sama-sama bingung dan kenapa mereka sampai dikenalkan begini, mereka juga bertanya-tanya apa arti dari kata baru pertemuan pertama? Apa nanti akan ada pertemuan kedua, ketiga dan seterusnya?

Namun keduanya tidak bersuara lagi karena merasa pikiran itu tidak penting. Akhirnya acara pelantikan Nicholas pun segera dimulai, Nicholas diminta oleh pembawa acara untuk naik keatas panggung bersama dengan kedua orangtuanya.

Para tamu pun bertepuk tangan melihat mereka berada diatas podium, secara resmi Billi mempercayakan perusahaannya ini pada Nicholas putra satu-satunya yang mulai hari ini resmi menjabat sebagai CEO di Nexon Games.

"Dengan bangga saya, sebagai founder dari Nexon Games dan atas persetujuan para pemegang saham sepakat jika Nicholas Lauther resmi menjadi CEO perusahaan ini!"

Prok, prok, prok.

Semua tamu pun ikut bangga dengan Nicholas yang masih sangat muda tapi sudah bisa mengemban tugas di perusahaan sebesar ini, setelah mengumumkan pelantikan Nicholas, Billi pun lanjut mengumumkan berita penting terakhir untuk Nicholas.

"Para tamu sekalian, hari ini kami sangat berbahagia sekali atas pencapaian putra kami Nicholas dan kami sangat bangga tentunya, namun ada satu hal penting lagi yang ingin saya sampaikan pada putra saya yang sangat saya cintai tentunya!"

Para tamu pun dibuat penasaran dengan berita penting apa yang akan disampaikan oleh Billi, termasuk juga Nicholas yang merasa penasaran.

"Saya dan Emma istri saya tercinta, sebenarnya telah lama menyiapkan jodoh terbaik untuk putra kami Nicholas dan hari ini gadis cantik tersebut datang ke acara perusahaan ini untuk memberikan selamat kepada calon suaminya! Beri tepuk tangan yang meriah untuk Amora Georgina, putri dari sahabat baik saya!"

Prok, prok, prok.

Kedua bola mata Nicholas dan Amora sama-sama melotot tajam, Nicholas bahkan mengusap kasar wajahnya karena tidak percaya dengan hal konyol yang baru saja Ayahnya sampaikan didepan publik. Nicholas pun mendekati Ayahanya.

"Dad, apa-apaan ini? Jangan bercanda, ini tidak lucu,"

"Siapa bilang ini bercanda, ini serius Nick sangat serius,"

Dibawah podium sana Amora yang tak kalah shock seperti Nicholas, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

"Ayah, Ibu, Amora Georgina yang dimaksud Paman Billi itu siapa?"

"Tentu saja kau!" serempak sambil menunjuk.

"Tidak mungkin, aku baru sekali bertemu dengannya mana mungkin dia jodohku? Bu, please,"

"Cepatlah naik dulu ke podium sayang, itu mereka sudah menunggumu!" ujar Anna.

"Ya Tuhan!"

Terlihat Emma dan Billi sudah melambaikan tangan pada Amora agar gadis itu segera naik keatas podium,para tamu undangan pun sudah penasaran dengan sosok gadis yang dijodohkan dengan Nicholas. Karena desakan dari kedua orangtuanya, akhirnya Amora pun terpaksa naik keatas podium sambil menundukkan wajahnya.

Ketika melihat gadis muda yang sangat cantik naik keatas podium, para tamu undangan pun mulai saling berbincang dan mengatakan jika jodoh Nicholas sangat serasi dengannya, selain berwajah cantik dan anggun, Amora juga memiliki bentuk tubuh yang ideal sehingga penampilannya sangat terlihat memukau dihadapan semua orang.

Emma dan Billi nampak bangga sekali menggandeng Amora sementara Nicholas benar-benar kelimpungan dengan kejadian ini, dia tidak tau harus bagaimana sekarang.

"Nick, ini Amora sudah datang ucapkanlah sepatah dua patah kata untuk calon isterimu ini!" kata Emma.

Mau tidak mau karena semua orang tengah menyoroti dirinya, Nicholas pun terpaksa menuruti keinginan kedua orangtuanya.

"Terimakasih kau sudah datang hari ini,"

Amora pun hanya mengangguk malu dan dia benar-benar merasa terjebak oleh situasi yang menurutnya sial ini.

Akhirnya serah terima jabatan sudah dan Nicholas serta Amora pun telah diperkenalkan sebagai pasangan didepan publik, acara pun ditutup dengan lancar.

Pertemuan antar dua keluarga itupun berakhir karena akan dilanjutkan lusa untuk membicarakan perjodohan Nicholas dengan Amora lebih lanjut lagi. Sepanjang jalan menuju rumah, Amora terus cemberut dan kesal terhadap kedua orangtuanya.

Setibanya di rumah yang baru saja mereka beli di kota ini, Amora pun langsung menuntut penjelasan kepada kedua orangtuanya.

"Yah, Bu, sebenarnya apa yang kalian pikirkan hah? Kenapa aku? Kenapa harus aku yang dijodohkan dengan CEO tengil itu?"

"CEO tengil? Mora, Nick itu sangat tampan dan cerdas kau harusnya berterimakasih pada kami," kata Anna.

Amora pun memegang dahinya saking stresnya dengan kejadian hari ini.

"Pokoknya Ayah atau Ibu segera hubungi Paman Billi atau Bibi Emma dan katakan aku tidak mau dijodohkan!"

"Jangan begitu Mora, mereka itu sahabat baik kami dan kami sangat ingin menjadi satu keluarga sejak dulu, lagipula kau dan Nick cocok," kata Anna.

Rasanya percuma saja berdebat dengan kedua orangtuanya, seperti perjodohan ini sudah ketuk palu dan tidak mungkin dibatalkan.

"Aku harus mencari cara agar Nick sendiri yang membatalkan perjodohan ini." didalam hati Amora.

Begitu juga Nicholas yang langsung menodong kedua orangtuanya dengan bertubi-tubi pertanyaan seputar perjodohan.

"Seharusnya kalian bicara dulu denganku, kenapa langsung diumumkan didepan umum seperti tadi?"

"Sudahlah Nick, toh diumumkan atau tidak kenyataannya Amora itu gadis yang kami pilihkan untukmu," ujar Billi.

"Kalau aku menolak?"

"Lebih baik kau jadi pengangguran saja dan mulai membuat surat lamaran kerja,"

"Dad, astaga mom bantulah aku,"

"Mau bantu bagaimana? Mommy kan memang ingin memiliki menantu seperti Amora, dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, imut dan lembut!"

"Oh God!"

Nicholas pun merasa usahanya untuk membujuk kedua orangtuanya itu akan sia-sia.

"Tidak bisa, aku harus membuat gadis itu membatalkan perjodohan ini!" didalam hati Nicholas.

Setelah pertemuan singkat itu, kedua orangtua Nicholas dan Amora kembali merencanakan pertemuan sekaligus makan malam keluarga bersama disalah satu restoran malam hari ini.

Amora dipaksa memakai gaun berwarna merah muda dan wajahnya dirias tipis agar semakin terlihat cantik dihadapan Nicholas, Amora hanya bisa pasrah saja dan menerima apapun yang orangtuanya minta.

"Senyum Mora,"

"Bu, aku tidak mau pergi! Kalian saja!"

"Disini kan yang mau bertemu kau dan Nick, mana mungkin hanya kami yang pergi, sudah sini lipstikmu kurang terlihat," kata Anna sambil menambah sentuhan lipstik berwarna merah muda dibibir Amora.

"Wah putri Ayah semakin cantik saja, mau bertemu calon suami memang harus begini Mora,

"Hmm," mendengus kesal.

Bab 2

Setibanya disalah satu restoran mewah tempat pertemuan kedua keluarga itu dilaksanakan, Amora dan kedua orangtuanya pun turun dari mobil! Suasana restoran saat ini lumayan ramai, namun kedua orangtua Amora tetap bisa menemukan meja tempat kedua orangtua Nicholas itu berada.

Mereka pun segera menghampiri kedua orangtua Nicholas yang sudah sampai lebih dulu.

"Hai Emma, Billi, maaf kami agak terlambat," ucap Anna.

"Tidak apa-apa karena ada yang lebih terlambat lagi dibandingkan kalian," kata Billi.

"Ow, apa Nick tampan belum datang?" tanya Anna.

"Ya, begitulah Nick! Amora sayang, kau harus jauh lebih sabar menghadapi sikap Nick ya, meskipun kadang menyebalkan tapi Nick sebenarnya laki-laki yang baik kok!" kata Emma.

"Tak masalah, namanya juga anak muda dan pebisnis dia pasti ada urusan sangat penting sehingga datang terlambat," kata Mark.

Entahlah kenapa kedua orangtuanya sendiri malah terlihat membela Nicholas padahal jelas-jelas dia terlambat datang, namun Dimata kedua orangtua Amora, Nick seperti tidak pernah salah. Makan malam pun berlangsung tanpa Nicholas dengan pembahasan yang tidak jauh-jauh dari bisnis dan perjodohan.

Bahkan kedua orangtua Nicholas dan kedua orangtua Amora terlihat sangat bersemangat mengobrol tentang pernikahan dan parahnya lagi mereka sudah membicarakan masalah cucu, membuat Amora ingin segera pergi dari sini. Disaat sedang kesal dan bad mood begini, Nicholas malah datang juga akhirnya, membuat Amora merasa lengkaplah sudah penderitaannya malam ini.

"Maaf semuanya aku telat, tadi ada sedikit masalah di kantor!"

"Tidak apa-apa Nick, kami paham dan kami senang kau sudah disini," ujar Mark.

"Nick sebaiknya kau ajak Amora jalan-jalan santai disekitar sini, didepan kan ada taman ngobrol lah kalian berdua," kata Emma.

"Oh oke mom,"

Kedua orangtua Amora langsung melirik memberikan kode pada Amora agar segera berdiri dari kursinya untuk ikut dengan Nicholas, dengan tampang ditekuk akhirnya Amora pun mengekor dibelakang Nicholas. Laki-laki itu terlihat mengeluarkan sebatang rokok dari saku jasnya, kemudian membakar ujung rokoknya hingga zat nikotin itu menyeruak ke udara.

"Cepatlah sedikit, jalanmu lelet sekali,"

"Maaf, kau bicara denganku?"

"Memangnya selain kau ada orang lagi disini?"

"Ya sudah tidak perlu pedulikan aku, mau aku jalan cepat atau lelet kau duluan saja,"

Namun Nicholas pun berbalik arah hingga kini keduanya menjadi berhadapan, dengan sengaja Nicholas tersenyum sambil meniupkan zat nikotin itu kewajah Amora.

Uhuk, uhuk.

Tangan Amora pun replex saja mengusir asap-asap itu.

"Dasar menyebalkan,"

"Sesuaikan langkahmu dengan langkahku, aku tidak mau sampai orangtuaku marah karena kau diculik!"

"Lagipula siapa yang mau menculikku? Ada-ada saja," kesal Amora.

"Memang kau tidak tau?"

"Tidak tau apa?"

"Sudah satu Minggu ini, kondisi kota tidak baik-baik saja! Banyak para gadis-gadis muda yang diculik untuk dijual ke rumah bordil!" ujar Nicholas yang ternyata itu sebuah kebohongan.

"A-apa?" Amora pun langsung ketakutan sehingga tangannya memegangi lengan Nicholas.

"Kau takut atau memang mau pegang-pegang padaku?"

Langsung saja dihempaskan lagi lengan Nicholas oleh Amora.

"Enak saja, narsis parah!"

Nicholas pun menanggapi wajah kesal Amora dengan santai dan senyuman. Setibanya di taman dekat restoran tersebut, terdapat sebuah bangku, Nicholas pun duduk dibangku tersebut sementara Amora memilih berdiri saja.

"Kau tidak pegal?"

"Tidak,"

"Berapa usiamu?"

"Sembilan belas tahun,"

"Oh, masih kecil rupanya,"

"Kecil? Aku sudah lulus SMA kau tau?"

"Tetap saja bagiku kau hanyalah gadis kecil,"

"Memangnya berapa usiamu Tuan CEO?"

"Cih Tuan CEO, aku dua puluh empat tahun,"

"Terlalu dewasa untukku,"

"Dan kau juga terlalu kecil untukku, kita benar-benar tidak cocok bukan?"

"Ya, memang tidak cocok dan tidak akan pernah cocok,"

"Kau menolak dijodohkan denganku?"

"Tentu saja, siapa yang mau dijodohkan dengan laki-laki sepertimu,"

Nicholas pun langsung berdiri dari bangku kemudian menghampiri Amora.

"Memang aku ini laki-laki seperti apa?"

"Kau pasti seorang playboy dan kau pun terlallu narsis,"

"Menarik, baru kali ini ada seorang gadis yang menolak dijodohkan denganku, lagipula kau bukan tipeku anak kecil,"

"Aku bukan anak kecil! Berhenti memanggilku anak kecil,"

"Kenyataannya begitu, kalau begitu pulang dan merengeklah pada orangtuamu agar tidak meneruskan perjodohan konyol ini,"

"Pasti, ya sudah aku akan kembali ke dalam dan bicara langsung agar perjodohan ini dibatalkan,"

Dengan bersemangat Amora pun berjalan dari taman menuju restoran disusul dengan Nicholas yang berada dibelakangnya.

"Ku dengar kau baru pindah kesini?"

"Ya, baru beberapa hari,"

Setelah itu tidak ada lagi obrolan diantara keduanya, namun pada saat masuk kedalam restoran! Meja tempat kedua orangtuanya tadi makan malam rupanya sudah kosong, hanya ada seorang pelayan yang tengah membereskan meja tersebut.

"Loh, orang-orang yang tadi makan disini kemana?"

"Oh, mereka sudah selesai makan malam nona,"

"Jadi, maksudnya Ayah dan Ibuku sudah pulang tanpa membawaku?"

"Saya kurang tau nona,"

Amora langsung meremat rambutnya sendiri, tidak habis pikir orangtuanya tega meninggalkan dirinya sendirian seperti ini, sementara Nicholas terlihat santai saja dibelakang Amora. Melihat Amora yang terlihat cemas karena ditinggal sendirian, Nicholas pun mendekatinya.

"Mau aku antar pulang?"

"Tidak perlu, aku bisa naik taxi,"

"Yasudah, kalau begitu aku pulang duluan,"

"Ya, silahkan,"

Sebenarnya Amora takut juga naik taxi malam-malam begini, bagaimana jika sampai bertemu driver nakal yang membawanya kabur ketempat sepi? Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Amora merinding setengah mati. Tapi daripada harus diantar oleh Nicholas nanti orangtuanya akan semakin senang jika melihat hal itu, Amora memilih untuk segera mencari taxi saja.

Saat ini Amora sendirian berdiri dipinggir jalan untuk menyetop taxi yang lewat, namun lagi-lagi ketakutan akan mendapatkan driver nakal membuat Amora tidak jadi naik padahal sudah ada taxi yang berhenti didekatnya.

"Bagaimana ini?"

Nicholas yang melihat Amora tidak kunjung jadi naik taxi yang dia berhentikan, terpaksa berputar arah untuk kembali menghampiri Amora yang saat ini masih berdiri dipinggir jalan. Mobil Nicholas pun berhenti tepat didekat Amora.

"Kau mau sampai kapan berdiri disini? Tidak berani naik taxi?"

"A-aku,"

"Sudahlah cepat naik ke mobilku,"

Karena tidak mau mengambil resiko, Amora pun memilih ikut dengan Nicholas setidaknya bersama dengan calon suami pasti lebih aman daripada dengan sopir taxi yang entah berniat jahat atau tidak.

"Jangan berpikir macam-macam, aku ikut denganmu karena aku takut bertemu driver nakal,"

"Kau merasa aman jika ikut denganku?"

"Ya sepertinya begitu,"

"Bagaimana jika aku lebih nakal daripada driver taxi yang kau takutkan itu!" goda Nicholas.

"Apa? Jangan macam-macam ya, atau,"

"Atau apa?"

"Nick, berhenti menggodaku! Kau pikir aku takut padamu,"

"Memang kau tidak takut padaku? Serius?"

"Tentu saja tidak, dengar ya aku ini atlet jadi tenagaku lebih besar daripada tenagamu!"

Bab 3

Nicholas pun melirik Amora dari atas ke bawah hingga membuat Amora langsung kesal karena ditatap seperti itu.

“Kau tidak percaya aku ini atlet? Tenagaku besar dan kau sebaiknya jangan macam-macam padaku!”

“Kalau begitu buktikan seberapa besar,” kata Nicholas.

“Ma-maksudmu buktikan bagaimana?”

Nicholas pun segera menahan kedua tangan Amora hingga membuat tubuh Amora bersandar pada jok mobil, sedangkan respon tubuhnya sangat terkejut karena kini wajah Nicholas berada tepat disepan wajahnya. Amora pun langsung ketar-ketir dan ketakutan jika Nicholas akan berbuat macam-macam terhadap dirinya.

“Nick, lepaskan aku!”

Kedua tangan Amora masih dicengkeram kuat oleh kedua tangan Nicholas, tapi ditengah ketakutannya terhadap sosok Nicholas! Dari jarak sedekat ini Amora bisa melihat jelas betapa simetrisnya wajah Nicholas, hidungnya yang mancung dan lancip, bulu matanya yang lentik, halisnya yang tebal dan bibirnya yang tipis .

“Mana katamu tenagamu lebih besar daripada aku? Kau tidak sanggup melawan bukan?”

Nicholas pun melepaskan kedua tangan Amora kemudian duduk kembali dibangkitkan kemudinya, Amora pun hanya terdiam karena masi shock ketika bertatapan seperti tadi dengan Nicholas.

Sepanjang perjalanan mengantar Amora ke rumahnya, Nicholas mengemudikan mobil sambil membalas pesan dari wanita-wanita yang sedang dekat dengannya.

“Nick, bisakah kau tidak bermain handphone dulu? Bahaya!”

“Diamlah gadis kecil, kau tidak berhak mengatur ku! Sebaiknya pikirkan saja cara agar orang tuamu mau membatalkan perjodohan konyol ini!”

“Aku akan bicara pada orang tuaku tapi please letakkan handphone mu dan fokus menyetir!”

Akan tetapi Nicholas tidak mempedulikan ucapan Amora hingga, akhirnya saat lampu merah Nicholas menabrak mobil yang berhenti di depannya.

Brak.

“Shit, apa aku menabrak?”

“Sudah aku bilang kan berhenti bermain handphone,”

“Shut up, ini bukan waktunya untuk mengomel,”

Benar saja pengemudi didepan pun menghampiri Nicholas, dengan santainya Nicholas membuka kaca jendelanya.

“Maaf mobilmu tidak sengaja aku tabrak, aku akan ganti rugi!” kata Nick lalu menyodorkan kartu namanya.

“Baik Tuan, aku akan mengirimkan tagihan service mobilku ke perusahaanmu,”

Permasalahan pun selesai sampai disitu karena menurut Nicholas tidak ada permasalahan yang tidak dapat diselsaikan dengan uang! Tapi Amora yang sudah sangat kesal dan takut bila berada terus didalam mobil bersama dengan Nicholas yang egois dan tidak peduli atas keselamatan berkendara, Amora pun memutuskan untuk turun dari mobil Nicholas mumpung masih lampu merah.

“Hei, kenapa kau turun?”

Amora pun hanya mengacungkan jari tengah pada Nicholas kemudian naik kedalam taxi, Nicholas pun masa bodo jika memang Amora maunya turun dari mobilnya dan memutuskan pulang naik taxi!

Taxi pun tiba di kediaman Amora, kedua orangtuanya yang memang sengaja menunggu Amora di teras rumah mereka karena yakin Amora akan pulang diantar oleh Nicholas, terheran-heran karena Amora justru pulang dengan taxi.

Dengan wajah menahan kesal, Amora pun menghampiri kedua orangtuanya yang telah meninggalkannya dengan laki-laki brengsek seperti Nicholas.

“Mora, kenapa pulang pakai taxi? Nick mana?”

“Nick? Ibu lihat sendiri kan betapa brengseknya dia? Masih mau aku menikah dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti dia?”

“Loh Mora, sebenarnya ada apa? Cerita sama Ayah kenapa Nick tidak mengantarmu?”

“Sudahlah Yah, Mora capek mau istirahat! Dan satu lagi, jangan pernah menanyakan cowok red flag seperti Nicholas lagi padaku!” kata Amora kemudian Amora pun masuk kedalam rumah.

“Ayah, bagaimana ini? Kenapa Amora semakin tidak suka pada Nick?”

“Namanya juga masih anak muda Bu, nanti lama kelamaan cinta akan tumbuh diantara mereka percaya sama Ayah,”

Didalam kamarnya, Amora langsung membanting tas miliknya ke atas ranjang dan terus mengutuk Nicholas karena perilakunya yang sangat menyebalkan.

“Gila, seumur hidup itu lama dan aku tidak bisa membayangkan jika harus menghabiskan sisa usiaku dengan laki-laki red flag seperti Nicholas!” umpat Amora.

Setelah pertemuan makan malam itu, Amora dan Nicholas selama beberapa hari ini tidak lagi bertemu! Padahal kedua orangtua mereka masing-masing hampir setiap hari bertemu, karena memang Ayah dan Ibu Amora sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan launchingnya restoran mereka yang cukup besar, menu andalan restoran orangtua Amora yaitu steak, pasta dan ada juga menu-menu lainnya.

Karena itu orangtua Nicholas sering datang berkunjung ke restoran orangtua Amora, bahkan orangtua Nicholas jugalah yang membantu untuk mempromosikan restoran tersebut agar saat grand p pening nanti restoran langsung ramai yang datang.

Malam harinya, Amora pun duduk bersama kedua orangtuanya yang sedang berbincang-bincang di gazebo belakang rumah mereka.

“Bu,”

“Iya Mora, ada apa?”

“Besok hari pertama Mora ngampus, nanti Ayah atau Ibu yang akan antar?”

“Oh itu, iya besok diantar,”

“Oh ya Yah, kapan Mora dibelikan mobil? Kira kan sudah layak kemana-mana bawa mobil sendiri, biar keren,”

“Biar keren, beli mobil lagi kalau belum terlalu butuh ya buat apa Mora? Kuliah kan bisa naik bis umum, atau diantar Ayah,”

“Sebentar lagi kn restoran Ayah buka, terus butik Ibu juga! Kalian akan sibuk, mana sempat antar jemput Mora,”

“Ya kan tetap bisa antar jemput sesekali, sudah sana tidur nanti kesiangan!” kata Bu Anna.

Amora dan keluarganya memang orang yang lumayan berada, meskipun tidak kaya sekali namun mereka berkecukupan! Akan tetapi memang Amora dan kedua orangtuanya hidup selalu sederhana dan biasa-biasa saja, padahal jika mereka mau memanjakan Amora bisa saja mereka membelikan Amora mobil jadi dia bisa wara-wiri atau foya-foya menghabiskan uang orangtua, tapi didikan kedua orangtua Amora tidak seperti itu.

Pagi harinya, suara alarm pun membangunkan Amora sialnya dia memang sangat sulit untuk bangun pagi! Amora pun bangun sambil bermalas-malasan kemudian mandi.

Setelah mandi dan berpakaian rapih, Amora turun ke lantai satu untuk sarapan! Akan tetapi kedua orangtuanya ternyata tidak ada di meja makan , Amora pun bertanya pada asisten rumah tangganya.

“Jenna, kemana Ayah dan Ibuku?”

“Mereka sudah pergi non, katanya Nyonya ada perlu jadi Tuan antar pagi-pagi sekali, tapi mereka berpesan nanti akan ada yang antar non ke kampus pagi ini,”

“Siapa?”

“Aku!” kata Nicholas sambil berjalan kearah Amora.

Amora yang tadinya membelakangi Nicholas pun menoleh ke belakang dan melihat sosok laki-laki berjas rapih menghampirinya.

“Kau, untuk apa kau ada disini?”

“Entahlah, tapi yang pasti bukan aku yang inginkan aku ada disini karena sungguh ini buang-buang waktu!” kata Nicholas sambil mengambil roti tawar yang telah dioles selai coklat.

“Sudah tau buang-buang waktu ya sudah sana pergi jangan ada di rumahku!”

“Cepat duduk dan habiskan sarapanmu! Aku tidak memiliki banyak waktu, jika bukan karena mommy aku tidak akan mau melakukan hal konyol ini!”

Amora pun rasanya semakin kesal saja karena setiap kalimat yang terucap dari bibir Nicholas selalu membuatnya ingin mencakar wajah laki-laki berpangkat CEO itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED