Di balik senja yang meredup, Sephia Agustin, gadis berhati mulia, masih berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. dia tak henti membersihkan sisa-sisa hari, sapu dan kain pel menjadi sahabatnya. Tak ada keluhan, hanya ketabahan yang terpancar dari sorot matanya.
Sephia, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh keluarga pamannya. Kehidupannya tak mudah, bagaikan debu yang tersapu angin, tak dihiraukan. Bibinya, wanita berhati dingin, tak segan melontarkan kata-kata kasar, bagaikan belati yang menusuk hati. Yuli, sepupunya, tak jauh berbeda, sering meremehkan dan membebani Sephia dengan berbagai perintah.
Meskipun terluka, Sephia tak pernah membenci. dia sadar, mereka adalah satu-satunya keluarga yang tersisa. Luka hatinya dia tutupi dengan senyuman, bagaikan matahari yang tetap bersinar di tengah badai.
"Sephi, ambilkan aku kacang lagi!" teriak Yuli, tanpa rasa bersalah. Kulit kacang berserakan di lantai, bagaikan cerminan hati yang tak peduli. Sephia, dengan suara lirih, mengingatkan Yuli untuk membuang sampah pada tempatnya.
Amarah Yuli meledak bagaikan gunung berapi. dia mengadu pada bibinya, menuduh Sephi tak patuh. Bibinya, tanpa mendengarkan penjelasan Sephi, langsung membentaknya, bagaikan badai yang menerjang.
Sephi terdiam, hatinya pilu. Air mata tertahan di pelupuk matanya. Demi menghindari pertengkaran yang lebih besar, dia menuruti semua perintah. Luka di hatinya makin perih, namun dia tak pernah menyerah.
Langit malam mulai merajut jubahnya saat Sephia menyelesaikan tugasnya. Debu dan kotoran takluk di bawah sapuan tangannya, meninggalkan jejak kebersihan yang berkilau. Kini, aroma masakannya menggoda selira, mengundang keluarga bibinya untuk menikmati makan malam.
Sephi, dengan perut yang menari-nari karena lapar, menanti dengan sabar di sudut ruangan. dia tak berani duduk bersama mereka, hanya berdiri di samping meja, mengamati setiap suapan yang mereka nikmati. Matanya berkaca-kaca, mencerminkan rasa lapar yang tak tertahankan.
Baru setelah piring mereka terkuras habis, Sephia diizinkan untuk makan. Sisa-sisa makanan yang dingin dan tak lagi menarik menjadi santapannya. Rasa laparnya terobati, namun hatinya teriris pilu. Ketidakadilan ini bagaikan duri yang menusuk jiwanya, membuatnya terluka dan terhina.
Meskipun begitu, Sephi tak pernah patah semangat. dia terus berjuang, menggantungkan harapan pada masa depan yang lebih cerah. Di dalam hatinya, dia berbisik, "Suatu hari nanti, aku akan keluar dari neraka ini dan hidup dengan bahagia."
"Sephi..... Ini masakan gak enak sangat sih, kamu mau meracuni kita Ha?" Bentak bibinya
"Apa sih Bi, mungkin lidah bibi saja yang salah, masakan aku pasti enak, karena sudah aku coba " jawab Sephi jujur.
"Apa maksud kau, Kalau kamu tidak percaya, silakan coba saja ini," ucap bibi mencengkram pipi Sephia dengan keras sambil menyuapkan makanan yang dia muntahkan tadi.
"bagaimana? Enak?" Tanya bibinya dengan nada suara yang tinggi.
"Udah deh Bi, ini pasti yang salah lidah Bibi, ini menurutku rasanya sudah pas kok," jawab Sephia dengan santai karena dia memang merasa masaknya itu sudah sesuai dengan lidahnya.
"Udah deh, jangan mengejek, jangan menyalahkan, kamu bisa masak gak sih, dasar wanita tidak becus,"bentak bibi sambil menjambak rambut Sephia dengan kuat.
Yuli yang melihat sephia tersiksa dia merasa puas. Karena ini yang dia inginkan. Yuli jugalah yang sudah mencampurkan banyak garam tadi saat Sephia meninggalkan masakannya karena terburu ke toilet.
Sephi hanya meringis mendapat jambakan dari sang bibi.
"Kau makan sampah itu," ujar bibi melepaskan tangannya dari rambut sephia.
"Ya udah deh Ma. Ini suruh makan dia saja. Kita makan di luar,"ajak Yuli dan suaminya.
"Rassakan itu,"Bibi melenggang pergi mengikuti langkah Yuli dengan tersenyum kemenangan kepada Sephia
Sephi pun memahami siapa dalang di balik ini semua dia memahami betul bagaimana kelicikan yuli, tetapi sayangnya dia hanya diam saja dan tertunduk menahan air mata hampir terjatuh.
Saat mereka sudah keluar, isak tangis Sephia terdengar pilu. "Hiks... hikss... mengapa paman, bibi dan kak yuli jahat kepadaku? Apa salahku?" Lirih sephia membereskan semua makanan yang ada di meja.
"Mama... papa... Aku kangen kalian, mengapa kalian tega meninggalkan aku."
Sephi menyingkirkan semua sisa makanan tadi dengan air mata yang membasahi pipinya. Setelah itu, dia memutuskan untuk merebahkan diri karena tenaganya terkuras habis.
Jarum jam sudah menunjuk angka dua belas. Di tempat lain,
Letupan bertubi-tubi menggema. Dua kelompok itu beradu kekuatan dan senjata, tak ada yang menunjukkan tanda-tanda menyerah.
"Hari ini, kalian akan tumbang," ucap pria itu dengan penekanan kepada musuhnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu menang," balas musuh pria tersebut. Pertarungan kembali berkecamuk.
Di balik wajahnya yang tampan bagaikan artis Korea ternyata, Aldo menyimpan rahasia kelam. dia adalah pemimpin mafia kejam yang tersohor di berbagai negara, terutama di belahan Eropa.
Tak hanya itu, Aldo juga merupakan CEO perusahaan nomor satu di Eropa. Dualitas dirinya ini menunjukkan sisi luarnya yang sukses dan berwibawa, namun menyimpan sisi gelap yang penuh kekejaman.
Saat ini, Aldo tengah membantai para musuhnya tanpa ampun. Awalnya, dia bekerja sama dengan mafia milik Aldo. Namun kekecewaan itu datang pada Aldo yang diperbuat oleh sahabatnya sendiri. Sehingga hal itu membuat Aldo penuh amarah karena dia merasa di bohongi. Bahkan dia menyerang balik dan menghabisi semua anak buah Elvanotanpa ampun.
setelah itu, Aldo bergegas pulang ke mension pribadinya, tak ingin keponakan kecilnya, dalam keadaan terluka.
Di sana, dia melihat Oca yang tertidur pulas dengan boneka teddy bear raksasa di pelukannya. Aldo mencium kening Oca dengan penuh kasih sayang.
****"
Waktu begitu cepat berlalu, sehingga Jauh sebelum fajar menyingsing, Sephi sudah tersadar dari mimpinya. Suara ayam jantan yang masih terlelap pun belum terdengar.
Seperti biasa, dia tak ingin terlambat dan memancing amarah bibinya. Beragam tugas rumah tangga sudah menanti, mulai dari mencuci pakaian seluruh anggota keluarga hingga menyiapkan sarapan.
Saat sarapan, bibinya selalu melontarkan komentar sinis, "Masakan ini tidak keasinan lagi kan?"
Sephi hanya bisa menjawab dengan tenang, "Tidak bibi, aku sudah belajar."
Di balik jawabannya yang tenang, Sephi merasakan pilu yang menusuk hatinya. Hanya dia yang tak bersemangat saat makan, sepi dan hampa.
Setelah sarapan, semua orang pergi.
Pamannya pergi ke perusahaan, bibinya pergi arisan, dan Yuli, kakak Sephi, pergi ke kampus dengan penuh semangat.
Sephi menatap kepergian mereka dengan tatapan iri. Dia ingin sekali merasakan apa yang Yuli rasakan, duduk di bangku sekolah, menimba ilmu, dan mengejar mimpi.
Namun, nasib berkata lain. Sephi harus terbebani pekerjaan rumah dan tak berkesempatan untuk sekolah.
Air mata Sephi menetes tanpa suara. Perlakuan keluarga bibinya bagaikan belenggu yang mencekiknya, membuatnya sesak dan tertekan.
Sephi tak tahu sampai kapan dia harus hidup dalam situasi ini. Yang dia tahu, dia harus tetap kuat dan tegar.
Suatu hari nanti, Sephi bertekad untuk bebas dari belenggu ini. Dia ingin sekolah, mengejar mimpinya, dan meraih kebahagiaannya sendiri.
Keinginan Sephi untuk sekolah makin kuat setiap harinya. Dia mulai belajar diam-diam, memanfaatkan waktu luangnya setelah menyelesaikan pekerjaan rumah.
Sephi meminjam buku-buku dari Yuli dan belajar dengan tekun. Dia yakin, suatu hari nanti dia akan bisa meraih mimpinya.
Pagi ini, Aldo bersiap-siap untuk memulai hari kerjanya di kantor. Dia teliti menyelesaikan persiapannya, memastikan tidak ada yang terlewat. Aldo tinggal sendirian di apartemen mewah, namun kehidupannya tidak sepi karena ada keponakan yang dia sayangi dan para pembantu yang membantu mengurus rumah tangga.
Sebelum berangkat, Aldo menyapa keponakannya dan berpamitan dengan para pembantu. Dengan semangat, dia melangkah keluar apartemen, siap menghadapi tantangan dan meraih kesuksesan. Aldo juga membawa Oca keponakannya yang berusia 4 tahun, bersamanya. Oca kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan mobil dan merasa nyaman hanya bersama Aldo. Aldo memutuskan untuk membawa Ocha tinggal bersamanya di hunian mewah.
Kecelakaan yang merenggut nyawa orang tua Oca meninggalkan Aldo dengan banyak pertanyaan. Dia merasa ada unsur kesengajaan di balik peristiwa tragis tersebut. Sejak saat itu, Aldo bertekad untuk mengungkap kebenaran. Dia bekerja sama dengan timnya, mengikuti setiap jejak dan bukti yang mungkin membawa mereka pada dalang di balik kecelakaan tersebut. Tekad Aldo untuk mengungkap kebenaran didorong oleh cintanya kepada Oca dan keinginannya untuk memberikan keadilan bagi orang tua Oca. Dia yakin bahwa dengan mengungkap kebenaran, dia dapat memberikan ketenangan bagi Oca dan membantu meringankan beban yang dipikulnya.
"Ayah, cepat pulang ya!" pinta Oca memelas, tak ingin ditinggal Aldo. "Oca di sini aman bersamaku, Aldo," kata Erlin penuh kasih, menenangkan Aldo.
Erlin, seorang gadis kaya dari Eropa, adalah sahabat karib Aldo. Meskipun mereka berada di kelas sosial yang berbeda, Aldo sangat menyayangi Erlin sebagai teman dan adik. Namun, Erlin diam-diam mencintai Aldo. Persahabatan mereka yang kuat membuat Aldo percaya sepenuhnya pada Erlin, bahkan sampai mempercayakan kekasihnya, Oca, kepada Erlin. Aldo keluar rumah dan masuk ke mobilnya, melaju di jalanan Berlin di pagi hari.
Di balik keramahan dan keanggunannya, Erlin menyimpan sisi jahat yang tersembunyi. Kepergian Aldo membuka kedoknya, dia berubah menjadi sosok yang kasar dan kejam. Oca merasakan perubahan itu, dia diperintah dengan kasar untuk mengambil cemilan. Ketakutan Oca tak dihiraukan, erlin mencengkram lengannya dengan kuat hingga Oca meringis kesakitan.
"Ini kak," ucap Oca meletakkan cemilan di atas meja.
"Buatkan aku juz," perintah Erlinpada Oca. Oca hanya bisa menurut saja daripada harus kena marah oleh Erlin. Tak lama, Oca membawa juz yang di minta oleh Erlin.
"Pijit kakiku!" Erlin memerintah Oca. Oca pun menuruti perintahnya, memijat kaki Erlin yang sedang bersantai di sofa panjang sambil menikmati cemilan dan bermain sosmed.
Tatapan tajam Celine menusuk mata Oca, membuatnya ketakutan. Maid yang melihat Oca memijat kaki Erlin pun merasa curiga. "Nona mengapa?" tanya maid itu.
"Ah, tidak apa, Bi. Kakiku terkilir sedikit. Oca memaksa memijatku, padahal aku sudah bilang tidak apa-apa," Erlin berbohong. Dia tidak ingin maid itu tahu sifat aslinya dan mengadu pada Aldo.
Oca mengangguk. "Iya, Bi. Bibi lanjutkan saja pekerjaannya."
Maid itu pergi. Erlin mengancam Oca, "Diam kau! Jangan bilang pada Aldo dan yang lain! Atau kau akan menyesal!" Oca hanya bisa diam, tak berani melawan.
Di puncak kejayaan, Aldo, pemimpin perusahaan teknologi dan properti ternama di Eropa, memancarkan aura karismatik. Sejak di bawah kepemimpinannya, perusahaan tersebut melesat bak meteor, menduduki posisi teratas di benua biru.
Dengan langkah mantap, Aldo melangkah di atas karpet merah yang menghiasi gerbang megah yang menjulang tinggi. Ribuan pasang mata menunduk hormat saat dia menuju lift eksklusif yang diperuntukkan bagi para pemimpin. Setelah memasuki ruang kerjanya, Aldo melepaskan jasnya dan duduk di kursi kerja. Tumpukan berkas menantinya, menunjukkan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Tiba-tiba, ada ketukan di pintu yang mengalihkan perhatiannya. "Silakan masuk," kata Aldo dengan ramah.
"Tuan, ada pertemuan dengan Collen Corporation di restoran jam 9 pagi," lapor asistennya.
"Ada lagi?" tanya Ardan singkat.
"Tidak, Tuan."
"Bagaimana kelanjutan proses rekrutmennya? Kita harus segera menemukan kandidat yang tepat."
"Baiklah. Kita bisa memulai wawancara lusa."
"Baiklah, mari kita berangkat sekarang.
Aldo restoran, sebuah rumah makan yang menyimpan banyak kenangan bagi Oca. dahulu, tempat ini dikelola dengan penuh kasih sayang oleh mendiang mamanya. Kini, Aldo, kakak Oca, yang memegang kendali restoran tersebut. dia bertekad untuk menjaganya dengan baik sampai Oca siap untuk meneruskannya.
Di balik tembok dan meja-kursi restoran ini, terukir kenangan indah Oca bersama mamanya. Aroma masakan yang lezat dan tawa pengunjung seakan membawa Oca kembali ke masa lalu. Meski mama sudah tiada, Aldo dan Oca bertekad untuk menjaga kelangsungan restoran ini sebagai warisan berharga dari sang mama.
Malam telah menyapa, menggantikan siang yang tadi bercahaya. Di kediaman Bibi
"Cepat sephi, lelet sangat sih." Bentak Yuli pada Sephi
Sephi gemetar saat menyerahkan baju Yuli yang telah rapi. Tubuhnya ringkih, tak berdaya melawan tatapan tajam Yuli yang menuntut uang untuk pergi malam ini. Dengan suara lirih, Sephi mengaku tak punya uang. Yuli, bagaikan singa betina yang marah, mendorong Sephi keluar, memaksanya menyiapkan makan malam.
Sephi terluka, tertekan. Rasa pahit menelan ludahnya. Terpaksa dia memenuhi tuntutan keluarga bibinya yang tak ada habisnya. Bahkan, dia harus berbohong demi menutupi kenyataan pahitnya.
Meskipun keluarga bibinya kaya raya, mereka tak pernah memberinya sepeser pun. Uang yang Sephi dapatkan hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Dia tak punya uang untuk bersenang-senang seperti Yuli dan teman-temannya.
Di sisi lain, Yuli dan teman-temannya menikmati malam yang indah di Berlin. Mobil mewah mereka melaju kencang, membelah kegelapan malam. Di dalam mobil, mereka tertawa riang sambil menikmati berbagai minuman keras.
Namun, di balik keriaan itu, Yuli menyimpan sebuah rahasia yang gelap. Dia tak seceria yang terlihat. Tatapannya kosong saat menyeruput minumannya, seolah tenggelam dalam pikiran sendiri.
Rahasia Yuli adalah bahwa dia telah mencuri uang dari Sephi. Dia tahu bahwa Sephi tak punya uang, tetapi dia tak peduli. Dia hanya ingin bersenang-senang dan tak ingin memikirkan orang lain.
Sephi, dengan kelicikannya, berhasil menyembunyikan rasa sakitnya. Dia tetap tersenyum dan bersikap baik kepada Yuli, meskipun dia tahu bahwa Yuli telah menipunya.
Kelicikan Yuli dan kepasrahan Sephi menciptakan sebuah dinamika yang rumit dalam hubungan mereka. Rahasia dan kebohongan menjadi benang merah yang menghubungkan mereka, dan tak ada yang tahu kapan benang itu akan putus.Yuli terus menikmati malamnya, mabuk dalam kemewahan dan kesenangan. Dia tak menyadari bahwa kebahagiaannya dibangun di atas penderitaan Sephi.
Sephi, di balik senyumannya, menyimpan luka dan kekecewaan. Dia tak tahu sampai kapan dia harus hidup dalam bayang-bayang kelicikan Yuli.
Kehidupan mereka bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda. Yuli dengan kemewahan dan keceriaannya, dan Sephi dengan kesederhanaan dan kepasrahannya.
matahari pagi menyapa dengan hangat, namun tak mampu menghangatkan hati Sephi yang terluka.
"Pergi kau dari sini! Dasar anak tak tahu diri! Kami susah payah merawatmu, kau malah mencuri!" bentak Bibi dengan kasar.
"Bi... percaya sama Sephi, Bi. Sephi tidak mencuri kalung itu," Ellina memohon dengan berlinang air mata.
Yuli, sepupu Ellina, tersenyum puas. Rencananya berhasil menyingkirkan Sephi dari rumah itu. Kemarin malam, setelah pulang dari klub, Yuli diam-diam masuk ke kamar Sephi dan menaruh kalungnya di sana.
Yuli mulai membuat rencana jahatnya. Dia diam-diam mencuri kalung berharga milik Ellina dan menaruhnya di kamar Sephi. Ketika kalung itu hilang, Bibinya langsung menuduh Sephi sebagai pencurinya.
Sephi diusir dari rumah. Dia terlunta-lunta di jalanan, tak tahu harus ke mana. Hatinya hancur, tak percaya orang-orang yang dia sayangi tega menuduhnya melakukan sesuatu yang tidak dia lakukan.
Namun, Sephi tidak menyerah. Dia bertekad untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Dia dibantu oleh teman-temannya dan berusaha mencari bukti untuk membersihkan namanya.
Deg! Jantung Sephi berdegup kencang saat mendengar suara familier di depan pintu.
"Selamat siang, tante." safa pria itu pada bibi Sephi.Sephi mendongakkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Andre, kekasihnya, berdiri di sana bersama Yuli, sepupunya yang menyebalkan.
"Hai sayang. Kau sudah datang," Yuli menggait tangan Andre dengan mesra.
Sephi terpaku, hatinya hancur berkeping-keping.
"Sejak kapan kalian dekat?" Tanya Sephi dengan suara bergetar.
Senyum miring terukir di bibir Yuli. "Sebulan kita menjalin kasih. Mulai hari ini, ikatan sepupu di antara kita terputus. Aku dan Andre akan menikah!"
Sephi terhuyung ke lantai, tak kuasa menahan hantaman rasa sakit dan pengkhianatan.
"Ini tidak bisa terjadi," desis Sephi, menolak untuk menerima kenyataan. Andre, pasangannya selama dua tahun, telah berkhianat dan menjalin hubungan dengan Yuli, sepupunya sendiri. Yuli, yang selalu merasa iri pada Sephi, kini tersenyum puas. Dia telah berhasil merenggut Andre dan membuat Sephi harus meninggalkan rumah. "Kau harus pergi," ujar bibi dengan nada dingin. "Izinkan aku mengambil barang-barangku," pinta Sephi dengan suara lemah. "Baiklah, tetapi cepat," balas bibi. Sephi mengambil barang-barang pentingnya dan beberapa kenangan dari orang tuanya, termasuk ponsel usangnya, sambil berusaha menahan air mata. "Ke mana lagi aku harus pergi?" gumam Sephi dengan suara lirih.
Tak lama kemudian sephi turun ke bawah dan berpamitan pada keluarga bibinya. dia tidak ingin mendapat omelan dan kata-kata kasar lagi dari kakak sepupu dan bibinya.
Dengan langkah berat, Sephi mengucapkan selamat tinggal pada keluarga bibinya. dia merasa bingung tentang arah yang harus dia tempuh sekarang. Takdir sepertinya tidak pernah berpihak padanya, dia selalu diperlakukan dengan kejam oleh keluarga bibinya. Dan sekarang, dia diusir karena dituduh mencuri kalung milik Yuli.
Tidak hanya itu, kekasih yang selama ini menjadi sandarannya juga mengkhianatinya. Lebih menyakitkan lagi, kekasihnya berselingkuh dengan kakak sepupunya sendiri. Seperti ditimpa bencana, hatinya dipenuhi kesedihan karena tidak ada lagi orang yang berada di sisinya saat ini.
Sephi, setelah peristiwa yang mengguncangnya, memilih untuk beristirahat di kedai es tepi jalan. Segelas es jeruk dia pesan untuk menyegarkan diri. Di keheningan kedai, Sephi merenung, "Dari mana sebaiknya aku melanjutkan perjalanan?". dia melihat keramaian Berlin, orang-orang sibuk berlalu-lalang. Pikirannya melayang ke masa depan yang penuh ketidakpastian.
Setelah cukup lama, Sephi membayar esnya dengan hati berat. dia merasa perlu melanjutkan perjalanan. Dengan tekad kuat, dia mencari tempat kos atau kontrakan kecil. dia ingin memulai lembaran baru dan menemukan kedamaian. "Duit tabunganku cuma 2 juta, cukup tidak ya?". Sephi cemas. Akhirnya, dia menemukan tempat tinggal murah dan layak.
"Ini kuncinya, nona. Semoga betah di sini, biar ibu juga punya teman," kata pemilik rumah sewa sambil bercanda dengan Sephi.
"Makasih banyak, bu."
"kalau ada masalah, bilang saja ya," tambah ibu itu. Sephi tersenyum senang karena menemukan tempat tinggal dan pemilik yang ramah.
Sephi masuk ke dalam dan mulai membersihkan dan merapikan barang-barangnya.
"Hufft..." Sephi menghela napas lega setelah selesai
"Aku harus semangat lagi, cari kerja biar bisa bertahan," gumam Sephi, memberi semangat pada dirinya sendiri. Meski sedih, Sephi berusaha tetap kuat dan berjuang. Sephi sudah terbiasa dengan perlakuan buruk seperti itu. Sekarang, dia ingin membuktikan bahwa bisa.
Sephi bertekad untuk memperbaiki nasibnya agar lebih baik. Baru saja dia merebahkan diri di kasur, ponselnya berbunyi, ada pesan masuk.
Tiing...
Sephi mengambil ponsel dan membaca pesan tersebut perlahan.
"Wow, bagus sangat! Kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Aku harus berusaha keras." Wajah Sephi langsung berbinar dan semangat kembali. Kesedihan tadi terlupakan saat melihat pesan masuk di ponselnya. Pesan itu berisi panggilan untuk wawancara. Sephi sudah mengirim surat lamaran ke perusahaan ternama beberapa hari yang lalu setelah melihat pengumuman lowongan pekerjaan. Keberuntungan sepertinya berpihak padanya sekarang, dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Di kediaman Yuli, malam itu diwarnai keceriaan pasca kepergian Sephi. Tawa dan kelezatan hidangan mengisi ruang makan, tanpa sepatah kata pun tentang nasib Sephi di luar sana.
"Bagaimana kabar Sephi sekarang?" tanya Yuli di sela-sela tawa mereka.
"Lupakan dia, dia hanya benalu," sahut ibu Yuli ketus.
"Benar sekali," timpal ayah Yuli. "Dia tak pantas menjadi bagian dari keluarga ini."
"Aku tak ingin memiliki keponakan seperti dia," sindir ibu Yuli dengan nada penuh kebencian.
Suasana ceria berubah mencekam. Sang ayah mengerutkan kening, mengamati kegeraman di wajah istri dan putrinya.
"Kalian membenci Sephi?" tanyanya serius.
"Tentu!" jawab ibu Yuli tajam. "Kau juga, kan?"
Yuli menimpali, "Aku tak menyukainya. Dia selalu lebih unggul dan mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk Andre. Dan sekarang, aku bahagia bersamanya."
Di balik senyuman Sephi yang tak henti, tersembunyi rasa penasaran yang menggerogoti hatinya. Entah apa yang membuat orang-orang di sekitarnya begitu membencinya. Sephi tak pernah merasa merepotkan mereka, bahkan selalu berusaha membantu sebisa mungkin.
Namun, kebencian mereka seperti tembok tebal yang tak tertembus. Sephi tak pernah mengerti alasan di baliknya, hanya bisa merasakan luka dan kekecewaan yang menusuk kalbu.
Sephi menepis rasa sedih yang menggerogoti hatinya. Hari ini, dia memiliki tujuan yang lebih penting yaitu untuk wawancara kerja besok pagi. Kesempatan emas untuk mengubah nasibnya tak ingin dia sia-siakan. Dia menarik napas dalam-dalam, memantapkan tekadnya untuk melangkah maju dengan penuh optimisme.
"Aku akan berusaha semampuku. Semoga berhasil," gumam Sephi sambil melipat baju yang baru saja disetrika. Kegigihannya tak tergoyahkan. "Ini kesempatan emas buatku masuk ke perusahaan terbesar itu," lanjutnya dengan penuh semangat.
Sephi tak mau lengah. Dia ingin memberikan performa terbaiknya di wawancara besok. "Sebaiknya aku tidur. tidak mau terlambat besok," pikir Sephi. Dia pun menuju kasur dan terlelap dengan mimpi indah tentang masa depannya yang cerah.
Keesokan paginya, Sephi bangun dengan penuh semangat. Dia telah mempersiapkan diri dengan matang. Pakaiannya rapi, berkas-berkasnya lengkap, dan mentalnya siap tempur. Dia tak sabar untuk menunjukkan kemampuannya dan meraih mimpinya.
Dengan penuh percaya diri, Sephi melangkah menuju gedung perusahaan. Dia siap untuk menaklukkan wawancara dan membuka lembaran baru dalam hidupnya.