Warning, 21+
Mengandung kekerasan dan adegan dewasa..
***
Ameera berlari sekuat tenaga saat suara sirine mobil polisi memecah jalanan.
Baru saja ia ikut tawuran dengan sekolah anak SMA lain, ia yang merupakan anak gadis sendiri tak peduli dengan yang lain, yang ia pikirkan menyelamatkan diri.
Ia segera memutar kunci motor gedhenya, lalu segera meninggalkan jalanan yang baru saja buat mereka melakukan kesenangan ala anak muda, yaitu tawuran.
Ameera mengendarai sepeda motor dengan ugal-ugalan. Seragam biru putihnya sudah kotor dan ada sedikit bercak darah. Oh iya Ameera ini baru saja lulus SMP yah, ia salah satu murid SMP yang ikut dalam tawuran kakak kelas tersebut, dan ia adalah dalang dari terjadinya tawuran, bahasa kerennya provokator.
***
Pagi Menyapa di Kota Jakarta,
baru seminggu Ameera kembali dari Amerika, ia sempat mogok dua tahun nggak sekolah, sehingga dirinya yang kini hampir usia 19 tahun, baru kelas 11.
"Kak, pakai mobil aja, kita bertiga sekolah barengan." usul Nizar di sela sarapan mereka,
"Ogah. Kakak males bareng kalian. Ingat ya jan sampai tau kalian itu adik-adik gue," ucap Ameera memicingkan mata menatap dua bocah kembar yang begitu sangat mirip. Tapi itu hanyalah gurauan semata.
"Gue juga ogah, punya kakak brandal," ejek Nizam, lalu ia melangkah pergi setelah meminum susu coklatnya.
Mereka berempat di rumah, kedua orang tuanya pergi sejak subuh tadi, sedangkan Queen ia ada tes tengah semester. Sehingga berangkat lebih dulu dengan supir.
"Adik laknat lu!" maki Ameera. Namun Nizam hanya senyum mengejek.
"Tunggu Zam, yaelah. Main ninggalin gue aja." protes Nizar.
"Cabut, kuyy." Ajak Nizam,
"Balapan sampai sekolah." Ameera tak mau kalah, ia menyampirkan tas sekolahnya lalu berlari menuju pintu keluar.
"Gaskeeun." sambut Nizar yang memang punya hobi yang sama.
Nizam hanya geleng-geleng kepala. Melihat kakak dan juga saudara kembarnya.
Menit kemudian, ketiganya sudah di atas badan sepeda motornya,
Ameera di atas sepeda motor warna merah, Nizar dengan sepeda motor warna hijau dan Nizam dengan sepeda motor warna hitam.
"Pak, bukain gerbang!" teriak Ameera, kepada satpam yang menjaga rumah. Satpamnya hanya mengangguk patuh. Ketiganya sudah membleyer sepeda mereka masing-masing. Begitu gerbang terbuka lebar, ketiganya melesat keluar gerbang, lalu menambah kecepatan saat roda sudah berputar di jalan raya.
Hari ini adalah hari pertama Ameera masuk sekolah di SMA barunya. Tentunya sekolah milik keluarga Narendra, sebab sekolah itu sudah di beli keluarga Narendra dari pemilik sebelumnya.
Ameera begitu tangkas dalam berkendara, membuat kedua adiknya tertinggal. Ameera menyalip ke kanan dan ke kiri, tak mempedulikan pengendara lain yang terganggu.
Sampai di perempatan trafic light, Ameera bisa melewati sebelum lampu berubah merah, Nizar memukul tangki sepeda motor dengan kasar, sebab ia terpaksa berhenti karena lampu kuning berubah jadi merah.
"Gila. Kakak dari dulu susah di kalahkan." gerutu Nizam.
"Kakak saja yang lagi beruntung," balas Nizar. Nizam tak menanggapinya, sebab lampu sudah berubah hijau, lalu mereka kembali melajukan sepeda motornya.
Ameera masih mengendarai dengan kecepatan di atas rata-rata, jarak sekolah yang biasa di tempuh perjalanan 25 menitpun, hanya ia tempuh dalam waktu 10 menit.
Ciit...
Suara decitan roda beradu dengan aspal memekik telinga, saat tiba-tiba rem mendadak membuat sepeda motor berhenti.
"Anjing!" Umpat Ameera, menatap sepeda motor gede warna hitam belok kiri tanpa menyalakan lampu sein. Untung Ameera bisa mengendalikan laju sepeda motornya, sehingga tak sampai menabrak. Sepeda motor hitam lengkap dengan si pengendarapun berhenti, si pengendara menoleh, tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. "Bisa bawa motor nggak sih, goblok!" bentak Ameera sekali lagi.
"Oh maaf." jawab si pengendara saat menyadari kesalahannya, sebab ia lupa nyalain lampu sein saat berbelok.
Tanpa mempedulikan Si pengendara motor hitam, Ameera bergegas menyetarter sepedanya, sebab mesin sepeda motornya yang mati.
Namun yang terjadi sepeda motor tersebut, mati dan tak bisa di hidupkan kembali. Ia turun dari badan sepedanya, menendang sepeda motornya, sebab ia tahu kemungkinan motornya mogok, sebab sejak di tinggal di Amerika, sepeda itu tak ada yang menyentuh, sebab Ameera tak suka jika ada yang menyentuh barang miliknya. Dan baru kali ini ia memakainya setelah tadi pagi meminta tolong ke Ali untuk memanasi sepeda motornya, ingatkan siapa Ali? Semoga ingat ya, dia itu anak jalanan yan kemudian di jadikan adik angkat Rehan.
"Kenapa motormu, mogok?" Tanya si pengendara yang tadi hampir Ameera tabrak.
"Dah tau nanya lagi, gara-gara lu. Gue kalah balapan," Jawabnya judes, lalu terdengar suara pengendara motor, Ameera menatap dua motor yang beriringan, tentu saja ia kenal siapa sang pemilik sepeda motor tersebut.
Ia melambaikan tangan, membuat dua pengendara tersebut, berhenti.
"Gue nebeng." tanpa menunggu persetujuan dari sang adik, Ameera langsung naik ke belakang boncengan motor Nizam, Nizam pun tak banyak bertanya, ia kembali melajukan sepeda motornya.
"Bawa motor gue ke bengkel!" perintah Ameera, ia melemparkan kunci motor ke adiknya, Nizar.
"Ah, Kebiasaan!" gerutu sang adik.
"Biar aku aja yang bawa motor itu ke bengkel," ucap si pengendara motor hitam,
"Kak Arsya." Panggil Nizar, Lelaki yang di panggil Arsya mengangguk.
"Itu barusan kak Ameera loch." jawab Nizar, Arsya merasa tak bisa bernafas tiba-tiba. Gadis yang selama ini ia rindukan, sudah kembali dari Amerika.
"Kamu nggak bohong'kan, dik?" Tanya Arsya, Arsya kini kelas Tiga, Nizar menggeleng, Nizar tahu, hubungan keduanya sedang tak baik-baik saja.
"Kakak pangling sama sepeda merah kesayangan kak Ameera?" Tanya Nizar bingung,
"Ah iya. Gue lupa." jawabnya nyengir.
"Ya sudah biar kakak saja yang bawa ke bengkel," Ucapnya.
"Okey," jawab Nizar sambil mengacungkan jari jempol, bengkelnya tidak terlalu jauh dari jarak mereka saat ini, namun jika harus dorong motor gedhe, ia juga merasa kelelahan. Namun Arsya harus bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat tadi, ia yang sedikit mengantuk sebab semalam susah tidur, sehingga pas berbelok lupa tidak menyalakan lampu sein, hampir saja membuat Arsya dan Ameera celaka. Ia adalagh gadis yang sudah mencuri hatinya.
Di parkiran sekolah, Ameera turun dari boncengan adik kembarnya, ia membuka helmet dan menaruh di spion speda motor adiknya, membenarkan rambut panjangnya yang tergerai, lalu menguncir kuda, lalu ia melangkah meninggalkan adiknya, namun sebelumnya ia memukul kepala adiknya cukup keras.
"ASYU!" Maki Nizam, saking terkejutnya, Ameera malah terkekeh, tak peduli dengan umpatan adiknya. Ia berjalan santai mencari kelas IPA2, yang akan menjadi kelas untuk dirinya, namun sebelumnya ia harus mencari di mana ruang guru.
"Dek, ruang guru di mana?" Tanya Ameera, ia menoleh sebentar ke adiknya.
"Tunggu. Biar gue anter." Jawab Nizam, Ameera hanya mengulum senyumnya, saat Nizam sudah berada di sampingnya.
Ameera sengaja merangkul pundak adiknya, yang tingginya lebih sedikit darinya. Ia sengaja melakukan itu, sebab banyak mata yang menyoroti mereka, Ameera sengaja melakukan itu supaya di kira pacarnya, dan adiknya tidak di incer gadis lain di sekolah ini, ia tahu adiknya memang tampan banyak yang menyukai, ia mendapat urutan tertampan nomor satu di sekolah ini, yang nomor dua tentu Nizar.
Meskipun kembar identik, namun ada sedikit perbedaan yang membuat Nizam lebih tampan dari Nizar. Nizam juga di kenal ramah meskipun terkesan cuek, beda dengan Nizar yang petakilan. Tapi dia juga tergolong bersikap dingin, tidak ramah. Hobinya bolos, tapi otaknya yang cerdas, tetap saja tak ada nilai ujian di bawah sembilan puluh.
"Kak, tadi itu kak Arsya loh yang kakak maki," Ucap Nizan, mendengar nama Arsya ia terbatuk, tersedak ludahnya sendiri. "Kenapa?" tanya Nizam, penasaran.
"Serius loe nggak bohong, dik?" Tanya Ameera. Nizam hanya mengangguk, mengamati gurat wajah kakaknya yang tiba-tiba berubah, ia nampak sedang berfikir.
"Ini ruang gurunya, gue ke kelas dulu ya, kak?" Pamit Nizam, ia mencium pipi cubby kakaknya, memang sudah menjadi kebiasaan sih, kalau nggak adiknya dulu yang nyium, biasanya kakaknya.
"Belajar yang bener dek, jan pacaran." pesan Ameera. Nizam menoleh menyunggingkan senyum manisnya, lalu mengacungkan jari jempolnya.
"Ok. Kakakku yang cantik," jawab Nizam, lalu tubuhnya hilang di balik belokan, kelas 10 ada di lantai dua.
Dengan santai ia berjalan menyusuri koridor kelas, tatapannya lurus ke depan, wajah tampannya tanpa ekspresi, melangkah santai dengan memasukan tangannya ke saku celana.
"Ini Nizar atau Nizam?" goda salah satu teman sekelasnya, saat ia masuk ke dalam kelasnya, Nizam tersenyum, sedikit yang bisa mengenali dirinya dengan jelas, padahal bedanya si Nizam ada tahi lalat di pelipis kirinya.
"Nizam sih gue rasa," Gumam Irsyad.
"Nizar," tebak Rachel. Cowok tampan berkulit kuning dengan gigi sedikit tak rapi, namun kelihatan sangat manis.
"Huahahaha..!" Tawa anak dari belakang membuat Nizam menoleh, lalu dengan cuek ia duduk di bangku tempat duduknya. Tawa Galang, sudah di duga paling ia habis ngerjain temannya lagi, Galangkan emang usil bin jahil.
"Eh, Loe tadi boncengan sama siapa? sumpah cantik banget," tanya Galang ke Nizam.
"Tebak aja," jawab Nizam, cuek.
"Idih mana gue tau, gue'kan bukan peramal, Ruk. Dasar beruk." jawab Galang, ia menaruh tas di dalam laci meja tempat duduknya.
"Hari ini yang jatah tugas upacara kelas berapa?" Tanya Isryad.
"Kelas 11 IPS3 keknya," jawab Rachel.
"Zam, kakak mana?" Tanya Nizar dari ambang pintu,
"Di ruang guru," jawab Nizam, acuh.
"Oh. Eh gue nyontek tugas Fisika donk," bisik Nizar, ke telinga Nizam.
"Loe belum ngerjain?" Tanya Nizam,
Nizar menggeleng pasrah, " sejak kapan otak loe jadi o'on?" sindir Nizam.
"Baru ingat kalo ada PR," Jawabnya nyengir.
Tet.. teet... tet...
Bel tanda masuk sekolah berbunyi, semua anak mengambil topi, dan berhambur ke luar kelas, sebab hari ini ada upacara kenaikan bendera, rutinitas hari senin. Bukan Nizar kalau nggak bolos untuk mengikuti upacara, yang lain upacara dirinya melipir pergi ke kantin. Tak lupa ia menarik tangan Galang, di ajak sekongkol menghindari upacara.
"Awas loe kalo bilang Mommy sama Daddy," Nizar melotot ke arah Nizam, Nizam tak peduli, ia bukan tukang ngadu juga.
Nizar dan Galang mengitari bangunan untuk menuju kantin, iapun melewati gudang yang jarang sekali di kunjungi, namun keduanya seakan mendengar suara desahan dari dalam gudang tersebut, Bukan Nizar kalau tidak jahil, ia dengan sengaja mengintip dan mengambil ponsel dalam saku celananya, berniat akan merekam adegan panas mereka.
"Gila bro, suaranya seksi banget, bikin punya gue tegang aja," ucap Galang, ia mengelus celananya, nampak tonjolan di balik celana yang ia pakai.
"Anjirr, malah sange loe," maki Nizar.
"Gue normal, Nyet." Jawab Galang, tentu mereka bicara dengan berbisik, sebab ia tak ingin mengganggu adegan panas mereka.
Nizar mencoba mengintip lagi di balik jendela,
"Pagi-pagi udah bikin gerah," gerutunya,
Lalu matanya terbelalak saat tahu siapa dua manusia yang sedang di mabuk gairah. Tangan Nizar gemetar tidak menyangka apa yang ia lihat dengan mata kepala sendiri.
Ia langsung menarik ponselnya, dan menyimpannya di saku celana, Galang yang melihatnya tak mengerti. Melihat Nizar yang tiba-tiba jadi pendiam.
Ia langsung melangkah pergi meninggalkan Galang sendiri,
"Tungguin gue, Nyet. Loe main tinggalin gue aja," gerutunya, mengikuti langkah Nizar yang semakin menjauh.
Keduanya masuk ke toilet pria,
"Ish.. Loe juga sange 'kan ya, makanya buru-buru ke toilet," ledek Galang. Namun Nizar hanya diam. Tak menanggapi. Nizar menatap bayangannya dalam cermin, lalu membasuh mukanya,
"Siapa, yang lagi enak-enak?" Tanya Galang. Nizar masih diam. Menormalkan pikirannya, Ia hanya tak nyangka, jika ternyata yang sedang bercinta di dalam sana adalah pak gurunya dengan siswi kelas 12.
"Mana gue liat. Loe berhasil merekam adegan mereka'kan?" tanya Galang. Nizar hanya menggeleng, lalu melipir keluar dari toilet. Dan berjalan menuju kantin sekolah.
Sampai di kantin
"Buk, rokoknya satu. Sama kopi hitam tanpa gula ya," Ucap Nizar saat dirinya sampai di kantin. Lalu ia memilih duduk di pojok, yang di sana ternyata sudah ada beberapa murid yang juga sembunyi, tidak ikut upacara.
"Aku es teh saja buk, Otakku lagi panas gegara denger orang mendesah." ucap Galang, absurd. Nizar dengan sengaja menampol kepalanya, bukannya marah dia malah nyengir saja.
Yang Nizar lihat, pak guru fisikanya sedang bercinta dengan salah satu murid kelas 12. Dan murid itu adalah yang menjadi inceran banyak siswa di sekolah ini, sebab gadis tersebut nampak kelihatan pendiam, cantik dan manis, namun siapa sangka Nizar malah melihatnya sedang bercinta dengan gurunya sendiri.
Nizar menyelipkan sebatang rokok di bibirnya, lalu membakar ujung rokok tersebut, menyesap dalam, lalu kepulan asappun keluar dari hidung dan mulutnya, pandangannya menerawang ke depan.
Seandainya kejadian ini di ketahui Daddy nya, sudah pasti mereka berdua bakal di keluarkan dari sekolah ini. Ada rasa kesal namun juga ada rasa kasihan,
Tiba-tiba ponsel yang ada di saku celananya bergetar, panggilan dari kakaknya.
"Duh mampus gue!" Gumamnya, sudah pasti dapat omel kakaknya.
"Minggat kemana loe?" Tanya sang kakak dengan kesal, di ujung telepon.
"Males kak, panas." jawab Nizar memberi alasan.
"Ikut upacara atau kakak aduin Daddy,"
"No kakak, Please. I was not feeling well." jawabnya, tentu saja berdusta.
"Lima menit tidak datang, Loe bakal tau apa akibatnya," ancam kakaknya,
"Ok. Gue kesana! Dasar kakak brengsek!" Makinya.
Nizar tanpa kata. Langsung berdiri dari tempat duduknya, lalu ia membuang sembarangan rokok yang sisa setengah batang dan menginjaknya kasar.
"Gue balik ke lapangan. Kakak gue ngomel." Pamitnya, beberapa anak yang juga ada di sana menatap Nizar penasaran, mereka adalah kakak kelasnya, dan cuma Nizar dan Galang yang masih tergolong siswa baru yang sudah berani bolos.
"Apa loe liat-liat?" Sentak Nizar dengan melotot, wajah imutnya nampak galak, ia menatap beberapa anak yang juga bolos.
"Bangsad, anak baru udah belagu," balas Alfin ketua geng dari kelompok anak tukang bolos, Nizar tak peduli, ia mengacungkan jari tengahnya ke arah mereka, 'Fuck'.
"Bajingan, siapa sih dia. Gayanya songong." Gerutunya. Ia tak terima.
"Anak kelas 10, Pangeran di kelasnya," Balas salah satu siswa tukang bolos.
"Dia kembar 'kan?" Tanya Tyo.
"Iya. Kembarannya lebih pendiem," jawab Azka.
"Pulang sekolah kita hadang mereka. Gue mau bikin perhitungan," ucap Alfin.
"Siap, Boss!" Jawab anak buahnya serentak.
Nizar langsung masuk ke barisan peserta upacara, ia tak mempedulikan Galang yang mengumpat di belakangnya. Sebab acara bolosnya gagal,
***
Semua siswa masuk ke dalam kelasnya masing-masing, Beda lagi dengan Ameera, ia menunggu guru kelasnya yang akan memperkenalkan dirinya sebagai murid baru.
Bu Amel masuk ke dalam kelas 11 IPA2, di ikuti Ameera yang mengekor dari belakang.
"Selamat pagi anak-anak, Hari ini kita kedatangan teman baru, pindahan dari SMA di Los Angeles." Ucap Bu Amel di depan para siswanya. Bu Amel adalah wali kelasnya. "Ameera, silakan perkenalan,"
"Baik Bu," Jawab Ameera, sopan. Ia berlaku sopan sebab tahu. Bu Amel guru yang ramah dan baik, meskipun baru pertama kali bertemu. "Halo, Namaku Ameera Khanza Narendra, kalian bisa panggil saya Ameera. Aku asli dari Indonesia, tapi empat tahun tinggal di Amerika, dan aku harap kalian mau berteman denganku," Ucap Ameera dengan lembut. Banyak yang mengagumi kecantikannya, rambut panjang bergelombang ia warnai dengan warna biru sebagian, matanya tajam, tatapannya mematikan. Senyumnya mahal jadi dia pas kenalan ya datar-datar aja, tanpa ekspresi.
"OK. Ameera. Kamu boleh duduk di samping,." suara bu Amel menggantung, ia bingung mau mempersilakan Ameera duduk di mana, sebab sudah tak ada bangku kosong kecuali di sebelah bocah yang kelihatan culun dengan kacamata tebal, juga tatanan rambut yang di belah tengah,
"Sebelah saya aja, Bu. Heh, lu minggir. Gue mau duduk sama Ameera," Usir Nio, Raka yang merasa di usirpun memicingkan mata, tak suka.
"Saya duduk di sana aja, Bu," Ucap Ameera, menunjuk bangku kosong sebelah si cupu.
"Oh iya, boleh, dia juga selalu duduk sendirian," Jawab Bu Amel, yang tentunya paham, jika si Culun itu selalu saja di bully.
Dengan langkah pasti Ameera berjalan menuju bangku sebelah si Angga, Yah namanya adalah Angga.
Sebelum duduk ia mengamati wajah Angga, menelisik. Lalu ia tersenyum miring. Ia tahu sebenarnya Angga itu cukup tampan, tapi sepertinya ia tak mau menunjukan ketampanannya, sehingga menutupi dengan kacamata tebalnya.
"Hai, nama loe siapa?" Ameera, mengulurkan tangan. Ia memperkenalkan diri kepada Angga, mendongak menatap Ameera, ia ragu namun pada akhirnya ia mau menyambut uluran tangan Ameera.
"A...aku Angga, Erlangga Nasution," Jawab Angga.
Di tangan kirinya, ia melihat Angga yang sepertinya sedang meremas kertas, ia menaruh kertas di laci, tanpa sepengetahuan dirinya, Ameera membuka kertas yang sudah lecek. Ameera terbelalak membacanya, ada coretan pesan dari kertas tersebut,
'Kerjain PR gue, ato loe pulang nanti, hanya pakai celana dalam saja'
begitulah isi pesannya.
"Loe sering banget di kerjain orang?" tanya Ameera, Angga menoleh sedikit tekejut, saat menyadari kertas itu sudah berada di tangan Ameera,
"Tidak apa-apa," Jawabnya singkat.
"Dan loe diam saja, tidak melawan?" Tanya Ameera, geram. Malah ia yang merasa kesal sendiri. Angga hanya mengangguk. "Jangan mau loe di jadikan kacung, selama ada gue di sini. Loe bakal aman," lanjut Ameera. Tapi sepertinya Angga tak peduli, menganggap omongan Ameera hanya angin lalu, ia sudah terbiasa mengerjakan PR anak lain, dengan imbalan uang jajan dan tidak di gangguin. Yang penting ia tidak di gangguin saja sudah merasa tenang.
Selepas pelajaran, di istirahat jam ke dua, Ameera ke kantin, ia yang memang belum tahu letak kantinnya, ia menarik lengan baju Angga,
"Kantin. Gue traktir," pinta Ameera. Angga menggeleng, bukannya tak mau menolak, tapi ia harus mengerjakan tugas murid lain. Melihat Angga yang menolaknya dan ia malah membuka sebuah buku, Ameera menarik buku tersebut, ia tahu ini tugas milik anak kelas sebelah, ada nama Prasetyo di sana. "Mau gue robek ini buku, ato loe ke kantin ama gue?" Tanya Ameera membuat pilihan. Angga menarik nafas panjang, lalu membuang dengan kasar.
"Ba.. baiklah, Gue ikut," jawabnya, biasa aja.
Sebenarnya di balik kacamata Angga, dia adalah anak yang manis, imut dan cukup tampan, tapi entah kenapa ia malah memilih berpura-pura menjadi orang lemah.
Di kantin,
"Bakso dua buk." pinta Ameera. "Loe minumnya apa?" Tanya Ameera,
"Terserah," Jawab Angga tak peduli. "Orange jus dua," katanya. Tidak lama menunggu dua mangkok bakso dan dua gelas jus jeruk, sudah siap di atas nampan. Ameera jalan lebih dulu, ia tahu menjadi sorotan, tapi ia cuek tak peduli. Dari sejak masuk ke kelas, Ameera lebih suka ngobrol sama Angga, di banding dengan yang lain.
"Ja.. jangan duduk di situ," Ucap Angga tiba-tiba saat Ameera akan menjatuhkan pantatnya di kursi kantin.
"Itu tempat duduk kakak kelas, yang tidak boleh di duduki orang lain," terang Angga.
"Lah emang siapa dia," kesal Ameera, namun Ameera tetap cuek. Ia tetap duduk di bangku tersebut, ia mengambil saos , sambal dan kecap, menuangnya ke mangkok bergantian. Lalu mengaduknya, ia risih dengan tatapan pengunjung kantin lainya, seakan menatap penasaran tapi juga seperti tatapan jijik saat melihat Ameera dengan Angga.
"Siapa yang suruh kalian nempati tempat duduk gue,?" sentak suara perempuan dengan galak. Ada tiga gadis juga di belakangnya.
Angga langsung berdiri, ia menarik lengan Ameera yang sepertinya tak terganggu dengan omelan kakak kelas tersebut.
"Ra, yok pindah duduk," Ajak Angga, takut-takut.
"Ogah," jawab Ameera santai,
"Bagsad kau!" maki gadis cantik namun nampak kecantikannya karena polesan make up. Ia menyiram jus jeruk ke mangkok bakso Ameera. Ameera melotot, ia paling tak suka ketika makan ada yang gangguin. Ameera segera berdiri. Menatap nyalang wajah kakak kelas yang mengganggu aktifitas makannya. Namun gadis yang mengganggunya seakan menantangnya, ia kembali mengambil jus jeruk milik Angga, lalu ia dengan sengaja menyiramkan ke baju seragan Ameera Ameera. Bukan Ameera kalau hanya diam saja. Ia memiringkan senyumnya, lalu Ia mengambil bakso yang bercampur dengan jus jeruk dan menuangkan di kepala gadis tersebut,
"Makan Nich bakso dan jus jeruknya," kesal Ameera, bakso pedas itupun tumpah membasahi rambut dan juga mata si gadis, Ameera tersenyum miring, sedangkan gadis itu mengibaskan tangannya sebab rasa pedas yang masuk ke matanya, lalu Ameera mendorong tubuhnya.
"Bangsad, duuh mata gue sakit." keluhnya
"Jangan pernah ganggu makan gue, ingat itu!" Ameera mengingatkan.
"Brengsek, lu tunggu pembalasan gue!" Gadis itu teriak, kesal. Ia mengucek-ucek matanya,
"Loe tak apa, Dir?" tanya salah satu temanya,
"Perih mata gue. Anjing!" umpatnya.
Ameera tak peduli ia segera beranjak dari kantin, ia melihat kedua adiknya yang baru akan masuk kantin. Melihat kegaduhan yang barusan ia buat dengan kakak kelasnya, Ameera tak ingin Nizar tahu, ia langsung merangkul pundak adiknya.
"Ke mushola. Shalat dzuhur dulu," ajaknya.
"Kita barusan sudah, kak." jawab Nizam,
"Ya udah anterin gue, gue nggak tahu mushola di mana," Ameera memberi alasan.
Di rangkul dan di tarik paksa oleh kakaknya membuat dua cowok imut itu hanya pasrah, mengikuti apa yang di mau kakaknya.
Ameera menoleh sebentar ke belakang, menatap empat gadis yang salah satunya mukanya nampak jelek sebab di penuhi kuah bakso, dan ia pun mengacungkan jari tengahnya, dengan senyum miring, seakan menantang.
"Brengsek tuh cewek, loe belum tahu saja siapa Dira," gumam Luna,
Dira itu gadis sombong, anak orang kaya. Merasa cantik dan kaya, lalu ia semena-mena jika dengan orang yang tidak di sukai.
Nizam baru menyadari, baju seragam kakaknya yang nampak basah dengan warna kuning. Membuat bra yang Ameera pakai kelihatan jelas,
"Seragam kakak kenapa?" tanya Nizam,
"Ketumpahan jus saat minum," jawabnya asal.
"Masa' sampai basah kek githu,?" tentu saja Nizar tak percaya,
Menyadari warna branya jadi kelihatan, Ameera menutup dadanya dengan kedua tangannya yang menyilang.
"Gue ke toilet dulu," pamitnya,
"Gue ambilin seragam olah raga, kakak ganti pake itu aja." ucap Nizam, perhatian. Ameera hanya mengangguk. Nizar mengikuti Ameera yang berjalan menuju toilet, ia tak pedulikan sorotan mata penasaran anak-anak yang berpapasan dengannya.
Nizar berjalan santai, melewati koridor kelas. Ia mengikuti langkah kakaknya menuju toilet.
Jam terakhir pelajaran setelah istirahat kedua di mulai, jam terakhir di kelas 10 IPA1 adalah fisika.
"Selamat siang anak-anak? Bagaimana PR kemarin sudah di kerjakan?" Tanya Pak Farid, selaku guru mata pelajaran fisika.
"Maaf pak, saya nggak mengerjakan," jawab Nizar tanpa ekspresi. Pak Farid tahu, Nizar adalah putra dari pemilik sekolah, namun hanya di ketahui oleh guru-guru saja. Beliaupun mengerutkan kening,
"Kenapa tidak mengerjakan PR?" Tanya Pak Farid,
"Hhmm.. Anu pak, kemarin saya lupa, kalau buku fisika saya ketinggalan di gudang. Pas ngerjain di sana. Tadi pagi pas saya mau ambil, malah ada suara aneh githu pak, kek gini suaranya 'uuhh.. aah... hhmmm' githu pak, saya takut pak mungkin karena gudangnya jarang di pakai, jadi mungkin ada hantunya, jadi saya tidak jadi ambil buku itu. Apakah saya mau di hukum?" Tanya Nizar, panjang lebar, tentu saja membuat teman sekelasnya bingung, sedangkan pak Farid wajahnya nampak pias.
"Ka.. kamu, bagaimana bisa ke gudang,?" tanya Pak Farid, sedikit tergagap.
"Yaelaah Bapak. Udah di bilangin, buku saya ketinggalan di sana," Jawabnya santai. Tentu saja Nizam tak percaya dengan alasan itu.
"Bukan, maksud bapak kenapa buku itu ada di gudang?" tanya Pak Farid, ia nampak sedikit ketakutan.
"Keknya ada yang sengaja nyembunyiin di sana deh," jawabnya santai,
"Yang bener yang mana? ketinggalan atau ada yang nyembunyiin?" Tanya Irsyad,
"Au ah, gue juga lupa," Jawab Nizar, yang membuat teman sekelasnya merasa heran. Nizam dan Galang pun curiga, tapi mereka lebih memilih menahan untuk tak bertanya. "Jadi gimana, pak? apakah saya mau di hukum?" Tanya Nizar, dengan senyum miring, nampak ada ejekan di wajah imutnya.
"Hm, udah lupain, hari ini saya maafkan," Jawa pak Farid, membuang muka, Tentu ia takut jika aksinya dengan siswa kelas 12 itu di ketahui keluarga Narendra, sang pemilik yayasan, bisa tamat riwayatnya.
"Saya nggak salah loch pak, saya juga nggak pernah minta maaf tuh, kalau mau di hukum-hukum saja," Seakan Nizar memberi kode ancaman.
"Sudah ya anak-anak. Kita lanjutkan saja pelajaran," pak Farid mengalihkan perhatian.
"Ckckck... Baiknya kasih tau Daddy nggak ya," Gumamnya. Tentu di dengar semua orang. Membuat pak Farid melotot menatap Nizar, sedangkan Nizam yang duduk di sampingnya merasa curiga dengan kode-kode yang Nizar ungkapkan ke pak Farid.
Nizar tanpa kata ia berdiri, lalu tanpa kata beranjak pergi dari kelas.
"Woi, mau kemana?" Tanya Galang
"Gue mo ke gudang. Kali aja itu suara uh ah uh masih kedengeran, Gue mau nangkap tuch setan," Jawabnya asal.
"Itu bukan suara setan, anjirr! itu suara loe kawinin anak orang," ledek Galang, tentu saja membuat satu kelas gaduh, mendengar ke absurd-an Galang. Mereka semua tertawa.
"Gue masih perjaka asal loe tahu, gue masih bisa jaga keWARASan gue," timpal Nizar, di ambang pintu. Lalu ia melangkah dengan santai ke luar kelas.
Melihat Pak Farid ia sudah nggak ada mood untuk belajar, ia mungkin akan melaporkan perbuatan bejat guru fisikanya, Ia tak ingin sekolah milik keluarganya citranya menjadi buruk, jika ada guru yang berlaku tak baik di sekolahnya. Apalagi yang ia tiduri adalah anak yang cukup berprestasi dan kelihatannya saja pendiam dan sopan, eh taunya. Memang kita tak bisa nebak isi buku hanya dengan covernya saja. Nizar memilih ke kantin, ia yang tadi sudah kelaparan tidak jadi makan, sebab nemani kakaknya.
"Soto betawi satu, lemon tea satu," ucap Nizar, ia sudah di kantin. Di kantin hanya ada beberapa anak yang masih menikmati makan siangnya, sebab ada kelas yang memundurkan istirahatnya karena ada ulangan harian.
Nizar membawa semangkuk soto betawi dan lemon tea, ia berjalan menuju tempat duduk di pojokan. Ia nampak tak peduli, tatapan kakak kelas yang juga masih asyik makan sambil ngobrol di kantin.
"Gila ya, tadi si Dira bisa di bully sama adik kelas yang baru pindah dari Amerika itu." Salah seorang siswa sedang asyik ngobrol, mendengar adik kelas pindahan dari Amerika Nizar langsung paham, yang ia maksud adalah kakaknya.
"Salah sendiri, orang lagi enak makan pakai acara nuangin jus jeruk ke baksonya, udah githu nyiram seragamnya pakai jus jeruk," gadis berambut pendek menimpali.
"Gila, andai saja gue liat langsung, mau ketawa gue liat muka sombongnya Dira yang jadi jelek karena di siram bakso, Hauahahahaha...!!!" Tawa seseorang yang duduk di sebelah gadis berambut pendek,
"Gue salut sama si adik kelas, pen gue kasih hadiah githu. Coz baru kali ini ada yang berani ngelawan Dira, huahahahaha...!"
Nizar tersenyum, ia tahu siapa Dira, gadis kelas 12 IPS2 yang suka semena-mena. Kakaknya di lawan, sumpah nggak bakal menang, kakaknya memang cantik, namun kelihatan tomboy dan wajahnya selalu kelihatan galak. Nizar menghabiskan sotonya dan ia menyesap pelan lemon tea, lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia menuju ke ibu kantin.
"Buk, soto satu, lemon tea satu, sekalian itu lima anak yang duduk di sana gue bayarin, berapa buk?" Tanya Nizar,
"Hhmm..." Ibu kantin diam, ia nampak berpikir.
"Yaudah buk, ini aja. Gue cabut dulu. Bye!" pamitnya, matanya mengedipkan satu mata ke ibu kantin. Ia menyerahkan tiga lembar pecahan warna merah
"Mas ini kelebihan loch," Jawab bu kantin,
"Udah buat ibu aja sisanya," ucapnya, langsung kabur.
Tidak lama kemudian lima gadis yang baru selesai makan sebab sambil ngerumpi menuju ibu kantin, berniat mau membayar makanan mereka.
"Udah di bayarin sama Masnya yang barusan keluar," Ucap ibu kantin, saat kelima anak itu membuka dompet masing-masing. Semua anak melongo, tidak tahu siapa yang di maksud,
"Siapa buk?" Tanya si gadis rambut pendek,
"Ehm.. Kalau di lihat dari seragamnya, kelas 10. Tapi saya lupa namanya, Hhmm siapa ya,?" ibu kantin malah balik bertanya,
"Yeee. Mana kita tahu," balas gadis cantik yang nampak sedikit sipit matanya.
"Apa si kembar itu, ya?" tanya Helen, ia nampaknya tadi melihat Nizar duduk membelakanginya.
"Siapa?" Tanya Yesi.
"Ntar gue tanya Papi," jawab Helen, ia sedikit mengenal Si kembar. Sebab Papinya menjalin hubungan kerja dengannya.
"kok tanya Papi?" Yesi heran,
"Iya, mungkin dia tadi liat gue, jadi kita di traktir karena merasa kenal ama gue," jawab Helen, kePDan.
"Hilih..!" Yesi menonyor kepala Helen, Helen yang di tonyorpun hanya nyengir,
lalu kelima anak itu, kembali masuk ke kelas mereka.
***
Malam itu Nizar tak dapat tidur, pandangannya tertuju ke platfon kamar yang bercat ungu muda, ia menimang-nimang. Antara membicarakan video yang ia rekam, atau memmbiarkannya. Ah membuat kepala Nizar pusing. Swear deh, kepalanya sudah terkontiminasi tadi pagi oleh hal yang belum waktunya ia lihat. Iapun memilih keluar kamar, menuju kamar kakaknya, namun sebelumnya ia mengirim pesan singkat ke kakaknya.
"{udah tidur belum, kak?}" send Kak Amir,
Nampak tanda centang dua, namun masih berwarna abu. Namun tidak ada semenit langsung centang buru, dan ada balasan.
"{blm}" hanya tiga huruf yang kakaknya kirim.
"{gue ke sana}" send Kak Amir. Tanpa nunggu balasan, ia keluar kamarnya, dan menuju kamar pojok, sebab kamar kakaknya ada di pojok, sedangkan kamar Nizar ada di pojok dekat tangga, dan kamar Nizam ada di tengah kamar Nizar dan Ameera.