Bibir Jasmine menyatu dengan bibir Xavier. Mereka saling melumat penuh kelembutan dan hasrat yang membara. Degup jantung keduanya begitu kencang, begitu terasa kala tubuh mereka saling berdekatan. Tangan Xavier meremas pelan pinggang Jasmine, memeluknya posesif, seolah tak ingin kehilangan gadis itu.
Tak hanya diam, Jasmine pun mengalungkan tangannya ke leher Xavier. Dia memperdalam ciumannya. Percikan-percikan perasaan yang tak mampu tertahan. Jasmine begitu mendamba sentuhan Xavier yang memabukkan. Membuat tubuhnya bergejolak. Bahkan rasanya Jasmine tidak ingin melepas bibir Xavier yang tengah menjelajahi bibir ranumnya.
“Bibirmu selalu luar biasa, Jasmine. Manis. Rasanya manis. Aku selalu menyukainya,” bisik serak Xavier tepat di depan bibir Jasmine.
Jasmine tersenyum sambil mengelus rahang Xavier. “Bibirmu juga luar biasa, Sayang. Aku menyukainya.”
Xavier menatap Jasmine dengan tatapan lembut, membelai pipi Jasmine. “Aku harus pulang.”
“Kau mau pulang?” Alis Jasmine terangkat, menatap kekasihnya sedikit bingung. “Kau tidak menginap di sini?”
“No, Sayang. Aku tidak bisa. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan,” jawab Xavier sembari mengecup kening Jasmine.
Ya, sudah tiga bulan ini hidup Jasmine benar-benar berwarna. Menjalin hubungan dengan Xavier Coldwell membuatnya sangat bahagia. Berawal berkenalan dari aplikasi kencan, akhirnya mereka memutuskan menjadi sepasang kekasih.
Bagi seorang Jasmine Stevanie Welsh, Xavier Coldwell adalah pelengkap hidupnya. Pria itu selalu membuat Jasmine nyaman. Bahkan pria itu pun selalu mampu membuat Jasmine jatuh hati setiap detiknya. Selama tiga bulan kehidupan mereka sudah seperti suami istri. Ranjang adalah tempat di mana mereka melepas rindu.
Jasmine tidak pernah menyesal menyerahkan dirinya seutuhnya untuk Xavier. Karena dia tahu Xavier adalah pria yang tepat. Jasmine yakin, Xavier begitu mencintainya seperti dirinya yang juga begitu mencintai Xavier.
“Kau ingin pergi ke mana, Sayang?” Jasmine memeluk lengan Xavier, dia tampak enggan membiarkan Xavier pergi.
“Ada urusan pekerjaan,” jawab Xavier sembari mengecup bibir Jasmine. “Kau tidurlah. Ini sudah malam.”
Jasmine mendesah pelan. Tak dipungkiri, dia tidak ingin Xavier pergi. Namun Jasmine pun tidak ingin egois. Hingga terpaksa akhirnya Jasmine menganggukkan kepalanya menuruti keinginan Xavier yang tidak menginap di apartemennya.
“Tapi janji kau harus menghubungi aku kalau sudah di rumah nanti,” pinta Jasmine dengan nada memaksa.
“Tenang saja, aku akan menghubungimu nanti.” Xavier mengecup lembut bibir Jasmine. “Aku pulang dulu.”
“Hati-hati, Xavier,” balas Jasmine hangat.
Xavier mengangguk. Lalu dia melangkah meninggalkan Jasmine yang masih bergeming di tempatnya. Sesaat embusan napas kasar Jasmine terdengar. Raut wajah gadis itu menatap kecewa punggung Xavier yang mulai lenyap dari pandangannya.
Saat sudah lebih dari satu jam Xavier pergi, Jasmine masih belum mendapatkan pesan dari Xavier. Raut wajahnya menjadi kesal. Ingin rasanya dia menghubungi kekasihnya itu, namun Jasmine memilih mengurungkan niatnya. Mungkin Xavier sedang sibuk. Itu yang ada di dalam benak Jasmine.
“Lebih baik aku tidur saja.” Jasmine kini memilih membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia menarik selimut, menutupi tubuhnya itu. Rasa kantuk mulai menyerang. Nanti pagi pasti Xavier akan memberikan pesan ‘Good Morning’ padanya seperti kebiasaan sang kekasihnya itu.
***
Bunyi alarm di ponsel membuat Jasmine perlahan mulai membuka kedua matanya. Gadis itu itu mengerjapkan mata berberapa kali dan menggeliat kala sinar matahari menembus jendala kamarnya, menyentuh wajahnya.
“Ah, ini sudah pagi,” gumam Jasmine seraya mengambil ponselnya, menatap ke layar—waktu menunjukkan pukul delapan pagi.
Jasmine mulai membuka pesan masuk memastikan pesan dari Xavier. Namun, seketika raut wajah Jasmine berubah kala tidak ada satu pun pesan masuk dari Xavier. Tampak Jasmine menjadi bingung. Tidak biasanya Xavier tidak meninggalkan pesannya.
Jasmine terdiam sejenak. Di detik selanjutnya, dia menghubungi nomor Xavier. Satu, dua, hingga tiga kali dia memanggil tidak ada satu pun jawaban dari sang kekasih. Jasmine mendecakkan lidahnya kesal. Ini yang dia paling benci. Dia tidak suka kalau Xavier tidak menjawab teleponnya.
Jasmine mengatur napasnya. Berusaha meredakan rasa kesalnya. Gadis itu berpikir positive. Mungkin tadi malam Xavier sudah tidur. Itu yang ada di dalam benak Jasmine.
“Aku masak saja hari ini untuknya. Sebelum berangkat kuliah nanti, aku akan mengantarkan ke apartemen Xavier,” gumam Jasmine pelan.
Jasmine Stevanie adalah mahasiswa tingkat akhir. Dia tinggal sendiri di apartemen pribadi miliknya. Sebenarnya keluarganya pun masih tinggal di London, hanya saja Jasmine lebih nyaman untuk tinggal sendiri.
Jasmine melangkah menuju dapur memasak makanan yang Xavier sukai. Meski masih kesal, tetapi Jasmine berusaha untuk mengerti Xavier. Dia tahu, kekasihnya itu selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Tak berselang lama ketika makanan yang dibuat oleh Jasmine sudah matang, dan telah diletakkan ke dalam kotak makan—Jasmine segera bersiap-siap untuk pergi ke kampus serta mengantar makanan yang dia buat untuk Xavier.
Sekitar tiga puluh menit Jasmine selesai bersiap-siap—dia langsung menuju ke luar apartemen mencari taksi yang sering lewat di depan lobby apartemennya.
“Nah itu dia taksi.” Jasmine mengangkat tangannya menghentikan taksi. Tepat di saat taksi sudah berhenti di hadapannya; Jasmine segera masuk ke dalam taksi dan menunjukkan alamat apartemen milik Xavier yang terletak di wilayah pusat kota London.
Sepanjang jalan entah kenapa hati Jasmine merasa tidak tenang. Seperti ada yang mengganjal pikirannya. Bahkan sekelebat pikiran buruk pun menyerbu dirinya. Lagi dan lagi, Jasmine menepis segala pikiran negative yang muncul.
Saat tiba di lobby apartemen pribadi milik Xavier, Jasmine segera membayar tarif taksi dan langsung menuju lantai dua puluh delapan—lantai di mana unit apartemen Xavier berada. Sebelumnya Jasmine pernah ke apartemen Xavier, walau baru hanya satu kali.
Saat Jasmine tiba di depan unit apartemen Xavier—dia langsung menekan bel apartemen miliki kekasihnya itu.
“Xavier, ini aku, Sayang,” panggil Jasmine lembut.
“Xavier?” Jasmine kembali memanggil Xavier, tapi masih belum ada juga jawaban. Andai saja dirinya tahu password apartemen Xavier, sudah pasti Jasmine akan langsung masuk.
Ceklek!
Pintu terbuka. Wajah Jasmine langsung sumringah bahagia.
“Xav—”
Perkataan Jasmine terpotong kala melihat seorang wanita paruh baya berpenampilan pakaian pelayan yang membuka pintu untuknya.
“Selamat pagi, Nona. Maaf Anda mencari siapa?” tanya sang pelayan dengan sopan pada Jasmine.
“Pagi, apa Xavier ada di dalam?” Jasmine bertanya dengan lembut.
“Maaf, Nona. Apa Anda temannya Tuan Xavier?” tanya sang pelayan lagi.
“Aku kekasih Xavier,” jawab Jasmine yang membuat raut wajah sang pelayan terlihat bingung.
“Nona kekasih Tuan Xavier?” ulang sang pelayan memastikan.
Jasmine mengangguk. “Iya, aku pacarnya. Xavier ada di mana?”
Sang pelayan tak mengerti. “Nona, tadi malam Tuan Xavier telah berangkat. Apa Nona tidak diberi tahu kalau Tuan Xavier tidak lagi tinggal di London?”
Jasmine terkejut. “Xavier tidak lagi tinggal di London?”
“Benar, Nona. Tapi saya tidak tahu ke mana Tuan Xavier pindah. Yang saya tahu, Tuan Xavier tidak lagi tinggal di sini,” jawab sang pelayan.
“Itu tidak mungkin!” Jasmine menggelengkan kepalanya tegas. Dengan cepat, Jasmine mengeluarkan ponselnya, berusaha menghubungi nomor Xavier. Satu, dua, hingga sepuluh kali gadis itu menghubungi nomor Xavier tetap tidak ada jawaban.
“Nona, tenangkan diri Anda.” Sang pelayan menjadi bingung kala melihat wajah panik Jasmine.
“Xavier tidak mungkin pergi begitu saja. Dia tidak mungkin meninggalkanku!” seru Jasmine dengan mata yang mulai berlinang air mata. Dia kembali berusaha menhubungi nomor Xavier, dan sayangnya hasil tetap sama. Tidak ada jawaban dari Xavier.
“Katakan padaku di mana Xavier!” Jasmine menatap tajam sang pelayan.
“Nona, Tuan Xavier sudah meninggalkan London sejak tadi malam. Beliau telah memutuskan meninggalkan kota London. Untuk kepindahannya, Tuan Xavier memang tidak memberitahukan pada saya, Nona,” ujar sang pelayan membuat Jasmine menangis keras.
Tubuh Jasmine melemah dan nyaris ambruk. Dalam benaknya mengingat tadi malam hubungannya baik-baik saja. Namun sekarang? Jasmine di hadapkan dengan kenyataan Xavier Coldwell meninggalkannya tanpa satu pun pesan.
Jasmine bersimpuh di lantai. Dia menangis keras. “Xavier, kau … jahat!”
~Empat tahun kemudian~
Seorang wanita cantik melangkah dengan anggun kala turun dari podium. Suara tepuk tangan memenuhi ballroom hotel yang megah itu. Dia Jasmine Stevanie Welsh—seorang wanita sukses yang berhasil menjadi Direktur Pemasaran & Penjualan di sebuah perusahaan kosmetik terbesar di Inggris.
Dalam empat tahun terakhir Jasmine sukses membawa laba perusahaan yang besar. Cantik, pintar, dan karir yang cemerlang. Akibat tingkat penjulan yang tinggi, Jasmine langsung mendapatkan posisi penting di perusahaan. Tidak tanggung-tanggung, dalam waktu hanya empat tahun, Jasmine nyatanya mampu menjadikan dirinya berada di posisi top management.
“Jasmine! Selamat kau sekarang sudah menjabat sebagai Direktur Pemasaran & Penjualan. Aku benar-benar bangga padamu,” ucap Ivy—teman dekat Jasmine di kantor. Tatapannya menatap kagum Jasmine yang sejak tadi terus berjabat tangan dengan banyak staff.
“Selamat juga untukmu. Sekarang kau sudah menjadi Manager Pemasaran & Penjualan. Aku bangga padamu,” balas Jasmine hangat. Ivy adalah teman dekat Jasmine di kantor. Mereka sama-sama menjabat di sales and marketing division. Selain menjadi teman dekat, Jasmine pun menjadi rekan kerja yang baik bagi Jasmine.
Ivy tersenyum lembut dan hangat. “Apa rencanamu hari ini? Apa kau akan langsung pulang ke rumah?”
“Sebenarnya aku ingin sekali mengajakmu keluar malam ini merayakan kenaikan jabatan kita berdua. Tapi hari ini kakakku yang tinggal di New York pulang ke London. Jadi mau tidak mau aku harus menyambut kedatangannya,” ujar Jasmine seraya menyesap orange juice yang baru saja diantarkan oleh pelayan hotel.
Ivy menganggukan kepalanya. “Baiklah kalau begitu, besok siang saja kita merayakannya. Bagaimana?”
“Alright. Aku setuju,” jawab Jasmine dengan senyuman di wajahnya.
Suara dering ponsel terdengar, membuat percakapan Jasmine dan Ivy terhenti. Jasmine mengalihkan pandangannya, melihat ponsel miliknya yang tak henti berdering itu.
Jasmine mengambil ponselnya dan melihat ke layar—wanita itu langsung mendecakkan lidahnya kesal melihat nomor Mila—ibunya yang menghubunginya. Padahal satu jam lalu ibunya itu sudah menghubungi dirinya agar pulang lebih awal, tapi tetap saja sekarang ibunya kembali menghubunginya lagi.
“Ivy, sorry. Aku harus menjawab telepon. Ibuku menghubungiku,” ucap Jasmine dengan nada sedikit tidak enak pada Ivy.
“It’s okay, Jas. Take your time. Aku juga ingin ke toilet sebentar,” balas Ivy.
Kemudian ketika Ivy sudah pergi, Jasmine segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya untuk menerima panggilan itu. Sebelum akhirnya menempelkan ke telinganya.
“Iya, Mom?” jawab Jasmine saat panggilan terhubung.
“Sayang, kau di mana? Apa kau masih lama pulang ke rumah? Kakakmu sudah tiba di bandara. Dia datang ke sini dengan kekasihnya. Kau juga bawa Bernard, ya, jangan lupa,” ujar Mila dari seberang sana.
Jasmine mendesah pelan. “Tidak bisa, Mom. Bernard terbang ke Dubai. Tadi pagi baru aja dia berangkat.”
“Yah, kenapa kau tidak bilang pada Mommy kalau Bernard tidak ada di London?”
“Aku juga baru tahu tadi pagi. Dia pergi mendadak. Ada pekerjaan yang tidak bisa tertunda.”
“Kalian berdua terlalu sibuk dengan pekerjaan, sampai kalian lupa dengan kehidupan kalian berdua. Kalian sudah menjalin hubungan hampir satu tahun, tapi kenapa belum juga memutuskan menikah?”
“Mom, aku menjalin hubungan dengan Bernard baru enam bulan. Kenapa kau bilang sudah hampir satu tahun.”
Jasmine mendengkus kesal dengan raut wajah sangat sangat jengkel. Bernard Green—pria keturunan Inggris-Amerika itu adalah pria yang menjalin hubungan dengan Jasmine enam bulan terakhir.
Sebelumnya Jasmine tidak mau menjalin hubungan dengan siapa pun. Namun, karena paksaan keluarga dan dia pun mengingat sudah lama dirinya tak membuka hati untuk seorang pria, akhirnya Jasmine memutuskan untuk menerima Bernard—pria yang Jasmine anggap sangat cocok dengannya.
Tentu sangat cocok. Bernard Green adalah direktur utama di salah satu perusahaan minyak dan gas terbesar di Dubai. Mapan, tampan, baik, dan mengerti akan kesibukan Jasmine membuat Jasmine akhirnya menjatuhkan pilihannya pada Bernard.
Hanya saja, sang ibu selalu saja memaksa Jasmine untuk menikah. Padahal usianya masih baru memasuki 24 tahun. Bagi Jasmine masih sangat muda untuk menikah. Wanita itu lebih tertarik menikah di usia 30 tahun. Lain halnya dengan sang ibu yang menginginkan dirinya menikah sebelum memasuki usia 30 tahun.
“Mommy tidak peduli. Mommy ingin segera mendengar kau akan menikah.”
“Nanti, Mom. Biar saja Jelena dulu yang menikah. Sudah, ya, Mom. Aku mau tutup dulu. Aku akan pulang sebentar lagi. Bye, Mom.”
Tanpa menunggu balasan, Jasmine langsung menutup panggilan itu sepihak. Telinganya panas jika mendengar ibunya itu terus-terusan memaksanya menikah. Padahal, kakaknya sendiri sudah memasuki usia 26 tahun. Harusnya ibunya itu mengejar kakaknya saja. Tidak perlu dirinya yang ikut diburu-buru dalam menikah.
Jasmine menghela napas dalam. Tiba-tiba sekelebat ingatan muncul dalam benaknya. Ingatan dirinya tentang satu orang yang tak pernah pergi dari hatinya. Hanya saja, Jasmine memilih berdamai dengan kenyataan. Dia pun terus belajar mengubur perasaannya dalam-dalam. Karena mencintainya hanya akan membuat luka yang selama ini membaik kembali merasakan perih.
“Lebih baik aku pulang.” Jasmine melangkah meninggalkan ballroom hotel. Sebelum beranjak pergi, dia pun berpamitan dengan para staff dan juga atasannya.
***
Siang itu panas begitu terik. Jasmine yang baru saja turun dari mobil langsung menyipitkan matanya. Cuasa sedang tak bersahabat. Tampak para pelayan yang menyapa Jasmine yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
“Selamat siang, Nona Jasmine,” sapa sang pelayan dengan sopan.
“Siang. Apa kakakku sudah datang?” tanya Jasmine.
“Sudah, Nona. Nona Jelena bersama kekasihnya sudah datang. Sekarang mereka ada di ruang keluarga bersama dengan kedua orang tua Nona,” ujar sang pelayan memberitahu.
Jasmine menganggukan kepalanya. “Aku akan ke sana dulu. Terima kasih.”
Sang pelayan menundukkan kepalanya kala Jasmine melangkah masuk ke dalam rumah. Tampak wajah Jasmine yang terlihat bahagia mendengar Jelena sudah tiba.
“Mom? Dad? Jelena?” Jasmine melangkah masuk ke dalam ruang keluarga. Senyuman hangat terlukis melihat kedua orang tuanya dan juga kakaknya tengah berkumpul.
“Jasmine. Kau sudah pulang?” Jelena langsung memeluk erat Jasmine, bergantian dengan ayah dan ibu mereka.
“Selamat atas jabatan barumu, Nak. Daddy bangga padamu.” Johan—sang ayah—menepuk pelan bahu Jasmine. Tatapannya menatap bangga putri bungsunya itu.
“Mommy juga bangga padamu. Di usia yang muda, kau berhasil menduduki jabatan direktur.” Mila mengelus pipi Jasmine.
“Jasmine, aku tidak mampu berkata-kata lagi. Kau memang luar biasa. Aku saja yakin, tidak mungkin mampu berada di posisimu,” kata Jelena dengan hangat.
Jasmine tersenyum. “Terima kasih. Ya sudah, ayo kita duduk. Kakiku lelah terlau lama berdiri.”
Semua orang mengangguk. Kemudian, mereka duduk di sofa empuk yang ada di sana. Para pelayan pun sudah menyajikan makanan di meja tepat di hadapan mereka.
“Jasmine, kakakmu akan segera bertunangan dengan kekasihnya,” ujar Mila dengan riang.
“Really?” Jasmine menoleh pada Jelena.
Jelena menganggukan kepalanya. “Iya, Jasmine. Aku dan kekasihku memutuskan untuk bertunangan tahun ini.”
Jasmine tersenyum. “Great. Aku senang mendengarnya. Sekarang di mana pacarmu? Kenapa aku tidak melihatnya?”
“Tadi dia sedang menerima telepon. Harusnya dia—”
“Maaf aku lama.”
Suara bariton memasuki ruang keluarga dan langsung memotong ucapan Jelena. Kini semua orang yang ada di sana mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu.
Seketika senyuman di wajah Jasmine memudar. Tatapannya menatap terkejut sosok pria yang melangkah mendekat. Dunia Jasmine seolah akan runtuh. Tubuhnya lemah. Dia menatap tak percaya dengan sosok pria yang di hadapannya.
Dalam diam, pria itu pun terkejut melihat Jasmine. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Sebuah tatapan yang bagaikan tersesat di dalam hutan dan tak bisa untuk kembali. Keduanya hanyut dalam tatapan itu. Suasana ruang keluarga menjadi hening. Seolah hanya ada kedua insan yang saling bertatap dalam.
“Xavier.”
Jasmine bergumam pelan menyebut nama pria yang empat tahun ini tak lagi dia sebut. Nama yang mati-matian selalu Jasmine hindari. Mata Jasmine nyaris berembun. Jika saja, tidak ada orang di ruang keluarga itu mungkin dia akan berteriak, dan memaki pria yang ada di hadapannya ini.
Tapi tidak! Jasmine memilih untuk diam seraya menatap nanar pria yang ada di hadapannya. Tatapan tersirat penuh luka yang mendalam. Bagaikan sebuah pisau yang menancap ke jantungnya. Napas Jasmine rasanya ingin berhenti.
Xavier Coldwell—menatap Jasmine dengan tatapan nyaris tak percaya. Namun, terlihat jelas tatapan Xavier tersirat penuh arti yang sulit untuk diungkapkan. Pria itu menatap Jasmine seperti tersesat di tengah hutan yang luas dan gelap. Jika siang hari hutan menunjukkan keindahan, lain halnya dengan malam hari— membuat hutan itu layaknya gelap, dan kesunyian yang tak berkawan.
Sejenak, Xavier dan Jasmine masih saling menatap dalam satu sama lain. Tatapan yang seakan menimbulkan sebuah percikan api. Manik mata cokelat Jasmine mengisyaratkan kebencian yang mendalam pada Xavier. Lain halnya dengan Xavier yang seakan begitu menyelami keindahan manik mata Jasmine. Mereka beradu pandang cukup lama. Sampai mereka berdua lupa kalau di ruangan itu tak hanya mereka berdua.
“Apa kalian saling mengenal?” Suara Jelena berhasil menyadarkan Jasmine bahwa dirinya terlalu lama menatap Xavier. Tatapan Jelena menatap Jasmine dengan begitu lekat dan bingung.
“Ah, tidak. Aku tidak mengenalnya. Hanya saja wajah pria itu seperti tidak asing. Tapi setelah aku lihat dengan benar, aku tidak mengenalnya. Maaf.” Jasmine mengalihkan pandangannya, membuang wajahnya tak mau lagi menatap Xavier.
Jelena menganggukkan kepalanya. “Xavier, kemari,” pintanya pada Xavier yang masih berdiri di ambang pintu untuk duduk di sampingnya.
Xavier sedikit mengembuskan napas panjang. Pria itu melangkah mendekat pada Jelena, menuruti keinginan wanita itu. Meski tatapannya masih mencuri-curi melihat wajah Jasmine, tapi pria itu segera duduk di samping Jelena.
“Apa kau tadi sibuk, Xavier?” tanya Johan seraya menatap Xavier.
“Tadi asistenku melaporkan beberapa project kerja sama perusahaanku di New York, Paman,” jawab Xavier dengan nada datar, tapi tetap terdengar sopan.
Johan mengangguk-anggukkan kepalanya, merespon ucapan Xavier.
“Jelena, ayo kenalkan Xavier pada adikmu. Pasti adikmu tidak sabar,” ujar Mila dengan senyuman di wajahnya pada Jelena.
“Oh, astaga. Aku sampai lupa memperkenalkan Xavier,” kata Jelena yang kini memeluk erat lengan Xavier dan segera menatap Jasmine. “Jasmine, kenalkan ini Xavier, kekasihku. Tahun ini kami akan bertunangan.”
Bagai tersambar petir, tubuh Jasmine seakan ingin ambruk. Seperti bumi yang berhenti berputar pada porosnya. Dia merasakan hatinya hancur lebur. Sepasang iris mata cokelatnya menunjukkan sebuah kekecewaan yang begitu mendalam.
Tatapan nanar. Pedih. Terluka. Melebur menjadi satu. Napas Jasmine seakan ingin berhenti. Tenggorokan tercekat. Air mata nyaris menggenangi pupil matanya. Beruntung, Jasmine mampu mengatasi dirinya.
“Selamat. Aku turut bahagia.” Hanya itu kalimat yang bisa Jasmine ucapkan saat ini. Demi berusaha menenangkan dirinya, dia mengambil teh hangat yang diantarkan pelayan dan mulai menyesap teh itu.
Sejak tadi Xavier masih diam, menatap Jasmine dengan tatapan penuh arti. Dalam diam, pria itu bisa melihat jelas kepedihan di wajah Jasmine. Hati pria itu mulai bergemuruh. Semua perasaan yang sulit terungkapkan.
“Jasmine, kau lihat kakakmu tahun ini akan bertunangan. Kapan kau menyusul?” tanya Mila dengan tak sabar.
Jasmine berusaha tersenyum anggun di balik hatinya yang hancur. “Sekarang ini aku ingin fokus pada karirku. Belum terpikir pada pernikahan.”
“Kenapa belum terpikir dengan pernikahan? Usiamu sudah cukup untuk menikah?” Suara Xavier tiba-tiba bertanya pada Jasmine tanpa dosa. Pria itu seakan bertanya layaknya kakak ipar yang menginterogasi adik iparnya sendiri.
Jasmine terdiam sejenak kala mendengar pertanyaan Xavier. Mati-matian wanita itu mengumpulkan semua keberanian dalam dirinya agar mampu menjawab. Sepasang iris mata Jasmine tak bisa berbohong kalau dia begitu hancur. Akan tetapi, nyatanya dia tetap berusaha untuk tersenyum di hadapan banyak orang.
“Menikah bukan prioritas utamaku. Paling tidak aku harus mempersiapkan masa depanku sendiri. Karena di luar sana banyak wanita yang ditinggal begitu saja oleh suaminya. Terlalu banyak wanita lemah di dunia ini. Mereka tidak mampu berjuang berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Itu kenapa saat ini aku lebih fokus pada pekerjaanku. Aku belum terpikir untuk pernikahan.” Jasmine menjawab dengan nada yang anggun dan bijaksana.
Kata-kata Jasmine sukses membuat Xander diam. Pria itu diam bukan karena tidak bisa menjawab, melainkan kata-kata itu seolah menusuknya, membuat dirinya sangatlah tersudut.
“Jasmine, kau tidak bisa seperti itu.” Mila tak suka putrinya berpikir demikian.
“Sudah, tidak apa-apa, Sayang. Lagi pula Jasmine berhak menentukan pilihannya. Jasmine juga masih muda. Dia baru saja naik jabatan. Wajar saja kalau fokus dia adalah karir.” Johan segera memotong ucapan sang istri.
Mila mendesah pasrah. Tak bisa lagi membantah, akhirnya wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu, tak mau memperdebatkan tentang masalah pernikahan pada putri bungsunya.
“Xavier, adikku baru saja naik jabatan. Dia menjadi Direktur Marketing di perusahaan kosmetik terbesar. Dia berhasil membawa nama perusahaannya sebagai salah satu perusahaan kosmetik dengan laba tertinggi tahun ini,” ujar Jelena membanggakan adiknya pada sang kekasih.
Xavier mengangguk ikut bangga. “Selamat, Jasmine.”
“Thanks,” jawab Jasmine dengan nada datar dan dingin. Jika sejak tadi Xavier menatapnya, lain halnya dengan Jasmine yang enggan menatap Xavier. Wanita itu memilih membuang wajahnya, seolah tak mengenal Xavier.
“Ya sudah, Daddy dan Mommy tinggal dulu sebentar, ya. Kami ingin membahas beberapa tamu yang nanti diundang di pesta pertunangan nanti,” kata Mila dengan raut wajah yang begitu riang bahagia.
“Iya, Mom,” jawab Jelena dengan senyuman di wajahnya.
Johan dan Mila pun segera meninggalkan ruang keluarga. Selain berdiskusi tentang tamu undangan di rencana pesta pertunangan Xavier dan Jelena—mereka juga tak ingin mengganggu anak muda yang tengah berkumpul itu.
“Jasmine, bagaimana kabar Bernard? Sebelum kau pulang, Mom bercerita kalau Bernard sedang ada di Dubiai?” tanya Jelena kala kedua orang tuanya pergi.
“Kabar Bernard baik. Pagi ini dia baru saja terbang ke sana,” jawab Jasmine datar.
“Nanti jangan lupa sampaikan salamku untuknya, ya? Tadi aku pikir dia ikut ke sini,” kata Jelena seraya menatap sang adik.
Jasmine hanya menganggukkan kepalanya merespon ucapan Jelena. Namun, dia tak menyadari kalau sepasang iris mata cokelat Xavier tak lepas menatapnya. Bahkan kala Jelena menanyakan tentang ‘Bernard’ membuat Xavier menatap Jasmine begitu lekat dan dalam.
Suara dering ponsel berbunyi membuat semua orang melihat pada ponsel milik Jelena yang tak henti berdering itu. Jelena mengambil ponselnya dan menatap ke Xavier dan Jasmine bergantian.
“Aku harus merus menjawab teleponku dulu. Aku tinggal sebentar, ya?” ucap Jelena yang segera meninggalkan Xavier dan Jasmine. Dia langsung pergi begitu saja, tak menunggu respon dari Xavier atau pun Jasmine.
Saat ini di ruang keluarga yang besar itu hanya tersisa Xavier dan Jasmine. Xavier yang tak lepas menatap Jasmine, sedangkan Jasmine yang selalu membuang wajahnya, enggan menatap Xavier.
Jasmine mengembuskan napas panjang. “Aku harus masuk ke kamar. Kau tunggulah di sini. Kakakku akan segera kembali,” ucapnya yang langsung bangkit berdiri. Namun, sayangnya langkahnya terhenti kala Xavier berada di hadapannya. Pria itu memiliki tubuh tinggi dan tegap. Menghadang Jasmine agar tak pergi.
“Minggir, Xavier!” seru Jasmine tegas.
“Kita harus bicara, Jasmine.” Xavier mencengkram kuat lengan Jasmine.
“Bicara? Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan!” Jasmine menghunuskan tatapan tajamnya pada Xavier.
“Jasmine—”
“Stop! Tidak ada yang perlu dijelaskan, Xavier! Apa yang terjadi pada masa lalu adalah kebodohanku yang memercayaimu. Jadi lupakan saja.” Jasmine menyentak kasar tangan Xavier yang mulai mengendurkan cengkeraman lengannya.
Xavier terdiam sejenak mendengar ucapan Jasmine. “Maaf.” Hanya kata ini yang lolos dari mulut Xavier. Tanpa dosa, pria itu menatap Jasmine seakan dirinya tak bersalah.
Jasmine melangkah mundur. Dia tersenyum patah. Sebuah senyuman yang tak lagi sempurna. Terlebih kala Xavier mengucapkan kata ‘Maaf’ membuat hati Jasmine seakan tercabik.
“Kau tidak perlu minta maaf. Aku sama sekali tidak lagi mengingat apa pun. Jadilah orang asing di hadapanku, Xavier Coldwell. Meski kau akan menjadi calon suami kakakku, anggaplah aku tidak ada. Karena di masa depan, aku tidak akan pernah sudi mengenalmu.”
Nada bicara Jasmine bergetar kala mengatakan itu. Matanya berembun, menahan air mata agar tak berlinang. Detik selanjutnya, dia berlari pergi meninggalkan Xavier yang masih bergeming dari tempatnya. Sepasang iris mata cokelat gelap pria itu terus menatap punggung Jasmine yang mulai lenyap dari pandangannya.