M.Arie Rifaldi yang kujumpai hari ini, masih banyak senyum seperti biasanya. Senyumnya selalu mengembang membuat para wanita klepek-klepek. Aku jadi heran. Bagaimana Arie sebagai formen sektor 11 belum memiliki pendamping di sisinya? Sedangkan dirinya itu tidak memiliki kekurangan satu pun selain banyak orang yang menyukainya. Jatuh cinta? Tentu saja. Namun aku bisa apa? Kehidupanku hanyalah orang yang tidak memiliki apa-apa. Ketahuilah bahwa aku memiliki banyak hutang, tidak memiliki rumah, kuliah belum lulus, dan ibu yang harus aku biayai sendiri. Terlambat untuk mencintainya saking diriku begitu malu bila dihadapkan oleh kenyataan yang begitu berat ini.
Kemarin lusa, ketika aku dimintai olehnya menjadi cutting di salah satu pabrik XX. Aku sangatlah senang sekaligus menangisi diriku yang masih belum bisa sempurna menjadi bagian dari cutting. Bersamaan dengan ketidaksempurnaanku ini, aku banyak diomelin oleh para senior karena diriku masih belum sempurna menjaga cutting. Keinginan besarku agar bisa menguasai talenta semua itu harus dihadapkan oleh banyak ujian dengan ke-irian teman-temanku. Sebelum alarm kue itu berbunyi, aku menyortir kue yang tadinnya tidak bisa menjadi bisa. Hanya saja, ketika alarm kue itu berbunyi dan kuenya mengalami kemautan yang tidak tertolonglah, membuat diriku ketar-ketir. Haruskah aku berlari? Aku takut kalau diriku terkena Surat Peringatan dari pabrik akibat diriku yang tidak bisa cutting kue dengan sempurna sebagaimana para senior itu. Tidak, aku bukan tidak suka belajar hal yang baru, tapi aku takut mendapatkan surat peringatan itu dibandingkan hanya diomelin saja. Aku takut hal itu akan terjadi padaku.
"Udah dari tadi aku ngeliat kamu jagain cutting sampai terlihat was-was seperti lihat pemilik pabrik saja. Kenapa tidak dibuat nyaman saja?" Aku terlonjak kaget. Suara itu benar-benar membuat jantungku berdebar-debar.
"Ya pak. Namanya juga kalau dilihatin," kataku lalu cepat menyortir kuenya kembali.
"Langsung jujur, deh. Kamu keberatan kalau dimintai cutting?" Aku menghela napas. Sudah ketahuan. "Kalau aku bilang aku keberatan, bapak bakal marah?" Alih-alih rentetan omelan, yang kudapatkan malah senyum manisnya dia. Pria yang lebih muda di hadapanku ini mulai mengikis jarak. Tangan hangatnya mengelus suraiku penuh tanda tanya. Apakah dia melakukannya karena cinta? Ataukah sebatas atasan maupun bawahan?
Kemudian dia berkata, "Tidak perlu khawatir. Namanya juga belajar." Kata-kata itu yang kutunggu selama ini terucap dengan fasih melalui bibir ranumnya itu. Kata-kata yang menjadikanku sebagai pengisi semangatku ketika moodku turun drastis melihat mantan yang sudah menikahi teman paling kupercayai itu.
Namun, sayangnya aku sangat bodoh. Dari dulu aku tidak pernah mendapatkan cinta yang berbalas bila aku menyukainya terlebih dahulu. Berbeda bila pria yang menyukaiku, akan aku terima dengan standarku. Aku tak pernah memedulikan semua tentangnya. Aku terlalu gengsi mengakui kalau cintaku kepada Arie ialah kasih sayang ataukah hanya sekedar pelampiasan demi melupakan mantan. Dan kuakui, aku keterlaluan.
"Baik pak. Terima kasih atas ucapannya." Itu ucapku sebelum akhirnya aku menyudahi diriku menjadi cutting dan kembali bekerja sebagai helper packaging lagi.
Iya. Aku selalu menahan perasaanku setelah melihat seseorang yang aku cintai karena diriku seorang wanita. Namun yang kulakukan di hari-hari berikutnya ialah tidak menarik perhatian darinya, tapi dia selalu memperhatikan aku yang membuat teman-temanku iri kalau Foreman bernama Arie selalu mendekatiku dan menyuruhku. Bagaimana, aku terlalu kaku bukan?
Di hari berikutnya, aku sempat termenung sebelum berangkat kerja ke pabrik. Bagaimana tidak? Aku kepikiran bila Foremanku tengah dihasut oleh teman-temanku. Aku senang, kalau Foremanku selalu bersikap lembut kepadaku, tapi ada saat kekhawatiran tak mendasar itu muncul dari pikiranku. Ketika jadwal kerjaku dipindahkan ke sektor lain, apakah benar-benar karena off? Ataukah Foremanku terkena hasutan teman-temanku? Ataukah agar diriku bisa belajar menjadi multitalent?
Ketika ibuku menghampiriku yang sedang banyak pikiran hari ini, senyumku memudar.
"Ngapain mikirin lelaki yang belum tentu berjodoh, bukan? Kalau dia sudah menjadi jodohmu tidak perlu ada yang dikhawatirkan, sekalipun Foremanmu mendapatkan banyak hasutan. Atau kalau sudah waktunya, pasti akan dipertemukan dalam pelaminan. Tidak ada tempat yang lebih indah selain bergantung kepada Allah yang telah menciptakan semua manusia berpasang-pasangan!"
Belum sempat ibuku mendengarkan keluh kesahku, tapi ibu sudah mengetahui isi hatiku yang benar-benar menohok sekali. Setelah itu, perjalanan ke tempat kerjaku penuh dengan ketenangan, tapi di dalam hatiku yang paling dalam, aku bersedih. Tak apa jika kalian menganggapku wanita yang lemah bagaikan gelas-gelas kaca.
Mencapai setengah perjalanan, langkahku tiba-tiba berhenti. Saat itu aku merasa insecure. Apakah aku bisa bertemu jodohku di usiaku yang ke dua puluh empat ini? Akankah Foreman Arie menyukaiku yang tidak memiliki apa-apa ini? Ataukah aku haru menjadi wanita nakal yang menggoda pria agar segala urusan duniaku selesai?
Aku ingin melunasi hutangku, aku ingin memiliki rumah dan dilamar oleh pria yang menyayangiku setulus hati. Namun, diriku terlalu rapuh untuk berharap banyak begitu. Tidak juga, sih. Karena ketika aku melangkahkan kakiku lagi ke pabrik, aku berharap semoga langkahku ini menghapus dosaku yang bagaikan butiran pasir tak terhitung ini. Dan akhirnya kuputuskan untuk berharap kepada Allah yang menciptakan aku untuk menyelesaikan segala masalahku.
Tujuan pertamaku tentu saja melunasi hutangku. Itu sedikit dengan kebohongan. Aku berbohong kepada ibuku kalau uang gajiku dipotong oleh pabrik, padahal aku pakai demi membayar hutang. Sesuai dugaanku, awalnya ibuku tak mempercayainya, tapi aku menggunakan alasan yang masuk akal hingga ibuku mempercayai diriku. Niatnya diriku, ingin menggunakan uang gaji Novel bukan uang dari pabrik, tapi apalah daya uang gajiku di Novel ditahan dengan alasan yang tak masuk diakal, membuat diriku harus berbohong. Tentu saja, hatiku selalu gelisah kalau memikirkan kebohongan itu, aku merasa makin tak pantas menemukan jodoh, apalagi menyukai Foremanku di Pabrik XX itu. Namun, aku bisa apa kalau tidak menggunakan gaji dari hasil kerjaku? Soalnya, tak ada seorang pun yang mau membantuku.
Setelah siang datang, Foremanku mulai memintaku agar menjadi cutting lagi demi mengganti Karina yang sedang sakit. Sejujurnya aku sangat suka kalau dimintai cutting oleh Foremanku, tapi kemampuanku masih belum cukup karena seniornya membatasi hal-hal yang membuat diriku belum bisa sepenuhnya. Tapi rasa insecureku mengalahkan segalanya. Sejujurnya aku lelah bila melihat wajah teman-temanku yang tak suka kepadaku bila diriku berada di posisi cutting, tapi ada kesempatan itu tidak mungkin aku tolak, bukan?
Maka dari itu ketika aku telah selesai menjadi Cutting, aku langsung mencuci tanganku yang banyak bekas kuenya, padahal sudah menggunakan sapu tangan plastik. Rasanya ada kebahagiaan tersendiri saat aku berada di posisi cutting, karena aku tidak mengantuk, maupun debaran jantungku yang terus-menerus berdebar tak karuan. Aku benar-benar merasakan namanya hidup belajar dari kata 'penasaran.'
Namun kuakui, rasa bahagiaku mulai luntur lagi, saat aku dialihkan ke sektor lain. Jadi kehidupanku benar-benar diuji saat aku berada di posisi atas hingga posisiku berada paling bawah. Kalian tahu? Aku ikut sedih, senang bagaikan gado-gado yang mengaduk-aduk perasaanku menjadi satu. Satu-satunya yang membuat diriku bertahan ialah didukung oleh Ibuku sendiri dan semangat dari Foremanku.
Caranya Foremanku yang berbicara, sungguh menenangkan dan menyenangkan hati. Siapa yang tak merasa hangat melihat Foreman Arieku kalau begitu?
Sudah petang. Aku kembali berjalan kaki menuju kosanku. Tak aku sadari kalau Foremanku sudah menungguku. Tentu saja, hal itu membuatku senang akibat Foremanku mengajak diriku jalan. Aku mencubit pipiku, takutnya hanyalah mimpi. Tenyata, saat diriku merasakan sakit di bagian wajahku, aku merasa ini ialah nyata. Apakah Allah mengabulkan doaku?
Iya, kadang kuperhatikan dia memang tampan. Entahlah, aku pikir Foremanku memiliki maksud lain denganku, aku tidak boleh berharap terlalu banyak. Takutnya, diriku akan kecewa akan kenyataan sebagaimana mantanku yang membuat namauku buruk di hadapan semua orang dan menikahi temanku yang sudah menghianati diriku.
Lalu aku berjalan berdua dengannya bersama menggunakan motor. Banyak mata yang menatap tajam kepadaku. Tentu saja, Foreman Arie ialah incaran para gadis di Pabrik XX itu, tapi nyatanya dia malah berdekatan denganku. Kulihat dirinya ingin berkata tentang diriku, tapi dia belum memulai pembicaraan. Haruskah aku bersikap agresif? Ataukah bersikap menjadi gadis acuh?
Sudah hampir sampai dengan kosanku, tapi dia tidak berkata apapun kepadaku, membuat diriku sedikit kecewa. Apakah dia berkarakter yang diam-diam PDKT? Ataukah hasil dari perkataan mantan untuk menyakiti hatiku kedua kalinya?
Aku tidak tahu apa jawabannya, tapi aku berterima kasih kepadanya karena telah mengantarkan diriku ke kosan. Sampai akhirnya aku menatap Foremanku dengan kebingungan sekaligus beribu pertanyaan muncul dalam benakku. Namun, aku tidak berceloteh saat itu juga. Dia memberikan aku sebuah surat yang isinya pun aku tidak tahu, lalu aku menerima surat itu. Sedangkan dia pamit pulang kepadaku dengan penuh senyuman manis di wajahnya. Hatiku benar-benar cenat-cenut. Jadi saat dia pergi, aku membuka isi suratnya.
Sepucuk surat itu berisi...
"Kita berdua memiliki pasang mata yang selalu mengawasi setiap saat. Begitu pula, saat aku menatap tajam wajahmu yang membuat diriku tak sadarkan diri kalau aku memimpikan bersamamu dengan ciuman penuh gairah. Seandainya saja bukanlah mimpi, maukah kau mencoba ciuman gairah itu kepadaku?"
Aku terlonjak kaget akibat Foremanku berkata demikian. Selama ini, dia menatapku hanya ingin berciuman denganku, bukankah ini hal yang tak wajar apabila dilakukan oleh atasan dengan bawahan. Namun, diriku yang penasaran soal ciuman itu kadang memikirkannya setiap saat.
Malam itu, aku segera menyimpan surat dari Foremanku itu. Aku benar-benar kepikiran kalau diriku berciuman dengan Foreman, apa jadinya ya?
Aku pun merebahkan badanku yang terasa remuk redam. Kantuknya seketika sirna akibat kata-kata Foreman yang terngiang-ngiang dalam kepalaku. Meluluhkan rasa nyeri hati akibat disakiti mantan ditemui Foreman yang aku cintai selama ini. Sosok Arie menjadi penawar duka lara. Mengobati rindu seorang lelaki dengan perempuan yang saling jatuh hati. Akankah rasa penasaran Foremanku hanya sekedar napsu ataukah cinta yang aku dambakan selama ini?
Suara handphone Ghina berbunyi dan membangunkan Ghina dari lamunan. Banyak chat dari pesan tak dikenalnya yang membuat Ghina pun membuka seluruh pesannya. Demikian saat Ghina membukanya, dia merasa tak mempercayai dengan apa yang ia lihat. Terdapat sebuah pesan dari Aarie berupa untaian kata-kata yang begitu menghanyutkan jiwanya Ghina.
"Kau begitu manis saat tersenyum, mengundang jiwa-jiwa puitisku hadir untukmu. Dari Arie yang menyukai senyuman termanismu."
"Perjuangan mendapatkan hati acuh sepertimu ialah hal yang paling tepat untukku."
Ghina berdecak kagum dengan isi pesan yang dikirimkan Arie. Dalam hati Ghina berpikir "Andai puisi ini hadir bukan sebatas penasaran, tapi kasih sayang yang sesungguhnya dari dia."
Buru-buru Ghina menepis perasaannya dan menjawab seadaanya agar dia tidak baper.
"Coba tebak bapak sedang bermain dengan kata penasaran, bukan cinta yang sesungguhnya, kan?" tanya Ghina.
"Tidak, saya ingin menebak
erasaan anda kepada saya." Arie menjawab perkataan yang terduga membuat Ghina kepikiran.
Tak lama Ghina pun membiarkan pesan itu tidak dibalas dan duduk sambil membuka laptopnya untuk menepis perasaanya pada Foremannya. Ada rasa gembira yang terlintas di hatinya Ghina saat Arie memutuskan untuk menjemput maupun mengirim pesan yang tak terduga kepadanya. Arie yang tak mendaoatkan balasan pun mencoba menelpon Ghina. Kontan Ghina lagi-lagi dibuat terkejut dengan panggilan antusias dari Foreman Arie kepadanya. Mau tak mau Ghina pun mengangkat panggilan dari Foreman Arie itu.
"Ghina, kenapa kamu tidak membalas pesanku?" tanya Arie kepada Ghina, yang memperlihatkan raut wajah kecewa saat Ghina baru menyadari sorot manatanya Foreman itu. Dia menatap tak percaya dengan sosok wajah itu. Lagi-lagi dia mencoba memasang tembok kepada Arie agar hatinya tidak mudah luluh saat bersama lelaki yang ia sukai, takutnya ia seperti mantannya bernama Kris itu.
Siapa yang tak kenal dengan Ghina, gadis tinggi semampai, berkulit hitam manis, mantannya Kris, dan terkenal kalau dia satu-satunya yang kuliah sambil bekerja di pabrik itu. Sebagai wanita yang selalu menampilkan sisi acuh terhadap pria yang ditemuinya sekalipun, Ghina selalu menjadi pusat perhatian dengan dirinya yang kuliah dan pekerjaannya yang selalu dipanggil Foreman Arie sekalipun. Hal itu, membuat iri para teman-temannya kepada dirinya. Maka dari itu, mereka selalu saja berbuat ulah kepadanya dengan perkataan yang tak mendasar, rumor yang dilebih-lebihkan oleh mantan sekaligus mantan teman yang menghianatinya. Mereka pintar sekali memutarbalikkan fakta yang membuat Ghina ingin memblacklist semua pria yang ada di pabrik itu, agar dririnya tidak direndahkan lagi maupun menerima lamaran dari lelaki yang bekerja di pabrik itu.
Tak dipungkiri, Ghina terlalu takut traumanya muncul kembali dengan kesakitan dengan orang-orang yang mencintainya itu pergi dari hadapannya. Itulah yang dia pikirkan setiap harinya. Cemoohan dari pabrik itu yang acap kali membuat Ghina tidak enak hati dan ingin menghentikan bulian dan kesembongan mereka. Tetapi untuk apa, dia sadar bahwa posisinya hanya sebagai helper packaging di salah satu pabrik bagian produksi, tak mungkin akan dihargai, apalagi didengarkan. Untuk itulah, dia mencoba menghindari Foreman Arie dalam kehidupannya, walau dia mencintainya.
"Maafkan saya pak, soalnya bapak tuh atasan saya, jadi saya tidak enak hati bila bapak terus-terusan mengirimkan pesan yang membuat orang salah paham," jawab Ghina sembari memposisikan dirinya duduk di kasur dan handpohonenya dibiarkan berdiri di samping laptopnya yang hidup.
Betapa terkejutnya Arie. Niat ingin menyambungkan perasaannya menjadi satu disambut dengan lontaran kata-kata penolakan yang senantiasa membuat Ghina terlihat sekali insecurenya.
Hati Arie pun sedikit menggelitik nuraninya, menenangkan di alam bawah sadarnya kalau Ghina mungkin saja harus didekati secara perlahan agar dia membuka hatinya. Itulah pikiran Arie saat ini. Ada wanita yang bisa menerima cinta dari pria itu dengan mudah, dan ada yang menembok hatinya agar tidak mudah didekati.
Setelah Arie memikirkan hal itu, Arie pun bertanya lagi kepada Ghina.
"Apakah kau tahu kalau dirimu ialah satu-satunya wanita yang menolakku dibandingkan mengagumiku, sekalipun diriku ialah atasanmu sebagai Foreman."
"Atasan kalau masalah pribadi itu berbeda dengan keprofesionalismenya bekerja, jadi sekalipun bapak adalah atasan saya, bukan berarti saya harus menerimanya, bukan?" jawab Ghina, disambut dengan senyuman dari Arie kalau wanita yang dihadapannya ialah wanita yang tepat bila bersanding dengannya.
"Perjuangan untuk mendapatkanmu tidaklah mudah, wanita sepertimu akan selalu memasang tembok yang utuh, tapi tak dipungkiri kalau tembok utuh itu bisa saja bocor karena hati wanita akan luluh. Seberapa lamanya itu, aku akan mencoba memastikan kata-kataku bukanlah hanya bualan semata."
"Mungkin saja akan luluh apabila bapak menggunakan pengorbanan yang bapak berikan kepada wanita yang bapak cintai, tapi bukan wanita sepertiku yang harus menerima cintanya bapak."
"Menemui orang tuamu akan aku lakukan agar kau dapat memastikan perkataanku ialah benar adanya, Begitu pula, dengan memastikan perasaanmu sebelum kita berdua menuju ke pelaminan yang sesungguhnya."
Ghina mengangguk pertanda mengerti. Dan sesaat kemudian Ghina mencoba mengakhiri percakapannya dengan Foreman Arie, dia menggunakan alasan sibuk menyelesaikan skripsinya.
"Maaf percakapan saya dengan bapak, harus saya akhiri hari ini, menimbang saya memiliki keperluan untuk mengerjakan skripsi, jadi bapak bisa menutup telponnya kalau bapak tidak memiliki urusan pekerjaan dengan saya lagi dibandingkan membahas masalah pribadi saya, sekian dan terima kasih."
Perkataan tegas Ghina pun mampu membuat kobaran jiwa mudanya Arie kembali hadir. Seorang wanita yang merupakan bawahan itu benar-benar mengakhiri percakapannya dengan tegas.
Malam telah datang, serangkaian kata-kata Arie terngiang-ngiang di benaknya Ghina. Ada rasa ingin menerimanya, tapi dia takut terluka. Bagi Ghina, seorang wanita yang telah terluka, takkan mampu melupakan rasa sakitnya di masa lalu berbeda dengan pria yang hanya mengandalkan logika dibandingkan perasaan pribadinya sendiri. Wanita bukan hanya bisa pandai bicara, tapi di lubuk hatinya membutuhkan rasa kasih dan sayang dari seorang pria. Namun kenyataannya, kasih sayang seorang pria dapat didapati bila sudah berhubungan intim. Sayangnya, Ghina tak melakukan hal itu setelah sekian lama dia berhubungan dengan banyak pria, sehingga putus cintanya hanya sementara, tidak sampai dirinya berujung dalam pernikahan yang Ghina inginkan.
Banyak yang mencibir atau menganggap rendah prinsipnya Ghina. Namun dia tetap dengan prinsipnya, menjalin cinta tanpa harus menggunakan berhubungan intim sebelum menikah. Ghina berusaha memutuskan menjadi pribadi yang terbaik, meski dirinya tidak memiliki apa-apa saat ini, bukan berarti Allah tidak menolongnya, tapi di balik ujian selalu ada kemudahan, bukan?
Memberikan nasihat kepada orang lain pastilah tidak didengar, tapi menjalinya dengan kehidupan kita bukanlah tidak mungkin untuk dilaksanakan, walaupun tak seorang pun yang memandang Ghina sempurna, tapi dia berusaha mencoba mengatasinya tahap demi tahap.
"Tidak perlu, saya bisa jalan sendiri."
"Tidak ada kata penolakan, ini perintah saya," ucap Arie, dia mengenggam tangannya Ghina dengan paksa, lalu menuntunnya ke motornya yang terparkir di depan kosannya Ghina hingga dia pun menurut akibat sorot matanya Arie benar-benar memaksa. Ghina yang tak ingin mengundang perhatian lebih dalam dari kosannya pun akhirnya menurut saja.
"Kau akan senang bila bersamaku, Ghina. Hidupmu akan didampingi oleh orang yang tulus menyayangimu, tidak sepertimu saat ini yang selalu menyendiri setiap saat." Suara Arie tak Ghina abaikan begitu saja, tapi dia terus membantahnya.
"Semua pria akan berkata seperti itu saat mereka berdua menjalin hubungan, tapi setelah tahu kebenarannya maupun rasa penasarannya telah terjawab habis, pria itu akan segera meninggalkan seorang wanita yang lagi sayang-sayangnya itu." Sementara Ghina memandang ke arah samping, dia tak berharap kalau Foreman Arie memperhatikannya seperti ini, matanya pun berkaca-kaca. Namun, dengan sengaja Ghina terus saja menyembunyikan perasaan sedihnya karena sudah dilukai oleh banyak pria yang menjanjikan perkataan manis. Sayangnya, menimbulkan luka terdalam.
"Arie sudah tidak tahu lagi, Ghina. Kalau perasaanmu itu ternyata lebih parah dari yang aku duga. Kalau kau menerima perasaanku saat ini, aku pastikan langsung menikahimu karena aku sudah siap secara lahir dan batin."
Ghina terdiam mendengarkan perkataan Arie yang terfokus kalau dirinya ingin mengakhiri percakapan pribadinya dengan Arie itu. Dia ingin segera sampai ke tempat tujuan saat ini.
"Ayo bicaralah, Ghina." Arie mendesak.
"Saya hanya ingin tahu seberapa besar kesungguhan bapak dalam menyukai saya, bila bapak tidak sabar, maka bapak bisa cari kandidat wanita lain yang banyak memperhatikan bapak saat ini."
Ghina tak ingin berdebat di awal masuk kerja lagi. Lagipula, Foreman Arie pun takkan bersungguh-sungguh mengejarnya sebagaimana mantannya bernama Kris dulu.
***
Keesokan harinya, setelah sektor 11 dihentikan akibat tidak adanya RPH di pabrik itu hingga Arie dengan Ghina harus berpisah sementara. Hanya saja, Arie secara khusus menjadwalkan Ghina agar bisa bersamanya di Sektor 8.
"Saya akan menjadwalkan Ghina di Sektor 8," ucap Arie kepada admin yang menyusunkan sebuah jadwal para pegawai produksinya.
Sesuatu yang tak terduga pun menghampiri mereka.
"Saya tidak setuju, alangkah baiknya bila Ghina berada di Sektor 9 dengan jadwal yang telah saya buat," timpal Asep, selaku foreman Sektor 11. Dia adalah foreman paling tua hingga mereka berdua pun berdebat.
"Alasan bapak kenapa memindahkan Ghina ke Sektor 9?" tanya Arie. Dia sebenarnya tak ingin berdebat dengan foreman paling seniornya itu.
"Ghina harus banyak belajar, dia juga gesit saat bekerja, jadi lebih baik di Sektor 9 agar dia bisa mengembangkan kemampuannya saat ini. Kalau di Sektor 8, dia tidak mungkin hanya bisa menjalankan satu kerjaan dalam packing mesinnya saja, bukan?" jawab Asep yang benar-benar masuk akal, membuat Arie pun mengalah kepada Asep.
"Niatnya biar bisa bertemu dan bersama dengan Ghina lebih dekat, ternyata selalu ada penghalang memisahkan kita berdua," batin Arie.
Dia hanya menatap Ghina secara kejauhan saat ini, akibat kemarin Ghina mencoba menjauh darinya. Sehabis Ghina diantar olehnya, dia masih teringat dengan perkataan Ghina saat itu.
"Maafkan saya pak, tapi kalau bapak dekat dengan saya, pastinya akan ada rumor yang buruk tentang saya maupun bapak, apalagi bapak tahu sendiri kalau mantan saya bekerja di tempat yang sama."
"Bukannya, mantanmu itu hanyalah bawahan saya, dia takkan berani dengan saya karena saya yang membawa mantanmu agar bisa bekerja di bagian Mixer," jawab Arie, dia tak mau kalah dengan Ghina karena dia benar-benar sayang dengan Ghina pada pandangan pertama.
"Saya pamit." Ghina beranjak pergi, tapi tangannya Arie tak terlepas dari Ghina.
"Saya kan belum selesai bicara denganmu," jawab Arie.
"Bapak bisa bicara di lain hari saja, karena tak enak bila berbicara di tempat kerja." Ghina menunduk, kemudian dia segera pergi dari hadapan Arie yang mematung kepadanya itu.
Tak peduli lagi Arie pada bulan, pada angin, dan mereka yang riuh di atas pohon. Arie hanyut dalam pikiran Ghina. Rasa cinta Arie kepada Ghina selalu ditolak beberapa kali. Begitu banyak wanita yang mencintainya. Baru kali ini, dia selalu ditolak terus-menerus. Berjalan dalam gelap kehampaan cinta ataukah rasa kekosongan akibat ambisi diterimanya cinta dengan seorang wanita lebih besar. Apa saja yang Ghina mau, Arie dapat melakukannya. Namun, Ghina selalu menolaknya dengan halus. Dalihnya selalu sama.
"Kita berdua hanya sebatas atasan maupun bawahan."
Perkataan itulah yang selalu terngian-ngiang dalam pikirannya saat ini. Semua wanita menginginkan cintanya Arie, bahkan para wanita yang ingin bersamanya selalu rela merendahkan harga dirinya, tapi Ghina berbeda.
Arie masih terus bekerja dengan pikirannya yang terus-menerus melayang. Tubuhnya bekerja, tapi hatinya memikirkan ke yang lain. Suara mesin menggerayangi Arie kalaupun mesin itu terus berjalan, dia menatap mantannya Ghina yang bernama Kris itu.
Arie terus menatap Kris dengan pikiran mengejek.
"Apa bagusnya dia? Kenapa orang sepertinya bisa membuat Ghina jatuh cinta kepadanya?"
"Aku tampan, aku juga foreman, dan aku lebih baik dari dia."
Perkataan yang ia ucapkan dalam hati terus memuji dirinya sendiri tanpa memperhatikan kalau hati tidak bisa mudah terlepaskan dari kata Move On. Sementara banyaknya orang yang bekerja di pabrik itu terdengar riuh di hadapan Arie. Dia pun berjalan menghampiri Ghina yang beda sektor itu dengan dalih meminta pergantiannya sementara waktu kepada Foremannya Asep. Arie mendapati Ghina yang sedang bekerja secara serius, ternyata Arie sudah sejauh ini menyukai Ghina dari jauh sampai dirinya meminta untuk bergantian sebentar.
Waktu berjalan seiring napas mengalir di tubuh ini. Arie pun memutuskan kembali dirinya bekerja di sektor yang seharusnya untuk beberapa hari ini saja. Itulah kira-kira yang Arie pikirkan saat ini.
Sudah pagi hari lagi. Lebih tepatnya, mereka bekerja saat shift malam dan pulang keesokan paginya. Arie kembali mengantar Ghina dengan sepeda motornya menuju kosannya Ghina. Hari itu, Aarie benar-benar menjemput Ghina. Tentu saja, awalnya Ghina menolak jemputan itu, tapi Arie begitu gigih ingin menjemputnya. Ghina pun menurut. Jadi, Ghina tak ingin berdebat dengan hal yang tak pasti bersama Foreman Arie itu. Sudah jam 7 pagi. Itu waktunya mereka akan tidur di rumahnya masing-masing setelah bergadang sepanjang malam di shift pabrik itu. Aarie terus memperhatikan wajahnya Ghina. Sampai akhirnya mata Ghina pun menataonya bingung.
Dia membawakan minum untuk Arie karena dia telah menjemputnya sampai ke Kosan, lalu Arie menghampiri Ghina dengan menyudutkannya di tembok.
Ghina gelisah. Arie di hadapannya benar-benar akan menerkamnya bila diperhatikan secara dekat. Dipeluknya Ghina mendadak yang masih mematung itu.
"Ghina...Aaku benar-benar ingin menerkammu saat ini di atas ranjang, lalu aku ingin mendengarkan desahanmu yang membuat aku meremang. Namun, kau selalu menjauh dariku. Dari sekian banyak wanita yang mencintaiku, hanya kaulah yang menolakku. Aku tidak tahu, apakah ini akibat dari reaksi penolakanmu? Ataukah aku benar-benar menyayangimu? Bisakah dirimu membuat aku memastikannya?" Suara Arie saat itu benar-benar terdengar khawatir akan cinta yang bisa saja hilang dalam sekejap.
"Tidak pak, perasaanmu itu pastinya salah. Bapak lebih baik cari wanita lain untuk memastikannya."
"Ghina," panggil Arie yang menyadarkan aku dari kemerindingan Arie yang semakin dekat hingga aku tidak bisa kabur dari penyudutan dengan tubuhnya Arie yang berbadan besar itu.
Degg...