Terlihat seorang pria dengan balutan jas keluar dari mobil mercy berwarna putih mulai melangkahkan kakinya memasuki sebuah restoran besar .Pria itu mencari-cari sosok gadis yang akan ditemuinya hari ini ,tatapannya mulai terhenti kearah wanita yang sedang teduduk manis sambil menatap kearah layar hpnya .
" Maaf saya membuat kamu menunggu lama"
Suara itu membuat wanita itu menegakkan kepalanya menatap kearah pria yang baru saja menghampirinya .
Wanita yang sangat terlihat feminim itu kemudian mulai berdiri dari posisi duduknya dan mulai mensejajarkan dirinya dengan Joan yang masih berdiri ia kemudian mengulurkan tangannya dan dibalas pula uluran tangan oleh Joan .
" Senang bertemu dengan anda pak Joan" Ucap Liza yang membuat Joan tersenyum kecil.
"Sepertinya lebih baik jika kita memakai bahasa informal dan jika boleh tolong panggil saya kakak saja "
Liza mengangguk setuju " Oke kak Joan ,Ya sudah silahkan duduk ada beberapa hal yang harus saya bicarakan dengan kakak "
Joan kemudian menuruti perintah Liza dan mulai mengikuti Liza yang sudah mulai kembali duduk .
Sedetik keheningan mulai terjadi ketika Joan mulai menatap Liza dengan tatapan yang tak dapat diartikan , seolah tahu apa yang dirasakan oleh Joan Liza kemudian mulai membuka suaranya memecah keheningan .
" Sebelumnya saya minta maaf jika saya sangat lancang meminta ini kepada kakak , tapi saya tak punya pilihan lain selain berharap kepada kakak " Ucap Liza yang membuat Joan kebingungan dan menyipitkan matanya .
" Apa kamu sangat berharap saya menikahi kamu dan membantu perusahaan keluarga kamu Liza ? "
Liza menggeleng pelan " Bukan kak , justru saya ingin bertemu karena saya ingin meminta kakak untuk menolak perjodohan ini .Saya sangat tahu kak jika saya yang menolak perjodohan ini pernikahan ini akan tetap dilaksanakan , namun jika kak Joan yang menolak langsung maka pernikahan ini takkan terjadi kak" Ucap Liza yang membuat Joan menatapnya kecewa .
" Jujur saja saya kecewa karena kamu mengatakan hal ini pada pertemuan pertama kita , tadinya saya kesini karena ingin mengenal kamu lebih jauh .Dan untuk masalah penolakan perjodohan sepertinya saya tak akan membantu kamu karena saya juga punya alasan tersendiri yang membuat saya harus secepatnya menikahimu "Joan mulai mentajamkan tatapannya dan mendatarkan ekspresinya .
Liza mulai naik pitam melihat tatapan arogan pria dihadapannya itu " SAYA SUDAH PUNYA PACAR KAK "Liza mulai meninggikan suaranya dan menekankan pengucapan katanya .
" Hanya pacar kan , belum jadi suami .Saya tak akan membantu kamu dengan sebuah alibi yang sederhana itu "jawab Joan dengan santai.
" Apa kak Joan masih tetap dalam pendirian kakak untuk menikahi saya ?"
Joan mengangguk "Iya"
"Apa kak Joan tidak keberatan jika saya pada akhirnya menikahi kakak tanpa rasa cinta?"
Joan menggeleng pelan " Pernikahan bukan selamanya tentang cinta bisa saja karena nafsu ataupun rasa kesepian dalam diri seseorang yang sangat ingin dilepaskan "
Liza membuang napas panjang " Saya harap kak Joan tidak termasuk dua -duanya"
" Entah saya tak bisa memprediksi kedua hal itu , jika melihat wanita secantik dirimu tentu saja saya pasti akan masuk dalam kategori orang yang menikahimu karena nafsu ,namun disisi lain saya juga merupakan orang yang kesepian karena saya sangat sibuk dengan pekerjaan "
Liza tersenyum sinis mendengar ucapan jujur yang baru saja diutarakan oleh Joan .
" Saya tak menyangka bahwa seorang CEO yang terlihat berwibawa sepertimu ternyata merupakan seorang pria mata keranjang"
" Saya juga tak menyangka kalo seorang aktris yang dikenal oleh media sangat baik ternyata mempunyai mulut yang kasar , sepertinya saya harus mengajari kamu sopan santun sebelum kamu menjadi istri saya LIZA NATHALIA HOPE" Joan mulai menekankan setiap kata diakhir ucapannya itu .
Liza bergidik ngeri, ia menarik napasnya panjang lalu meminum segelas jus jeruk dingin untuk meredakan emosinya yang akan segera meledak .
Melihat kelakuan Liza , Joan tersenyum penuh kemenangan " Ayah saya sangat ingin segera memiliki seorang cucu saya harap kita berdua dapat memilikinya dalam waktu dekat "
Liza tertawa mengejek " hahahaha ,sepertinya haluanmu itu terlalu tinggi Kak Joan Arkan Rivenno sampai kapanpun saya tidak mungkin memiliki anak darimu .Sekalipun saya terpaksa harus menikah denganmu ,saya tidak akan pernah mau mengandung anak darimu "
" Pada kenyataannya apa yang tidak kau inginkan bisa jadi itu yang kau dapatkan , jangan sampai kamu menyesal disuatu hari nanti saat sudah memiliki anak dariku" Ancam Joan yang membuat Liza tak bergeming.
***
Setelah meninggalkan restoran tempat pertemuannya dengan Joan , Liza kini sudah berada ditempat parkiran apartemennya.Suasana malam yang mencekam membuatnya bergidik ngeri ,tak biasanya parkiran apartemennya itu sepi begini .Yang membuat Liza takut bukanlah hantu melainkan suara langkah seseorang yang seperti sedang mengikutinya .
Liza melangkah dengan cepat ,bahkan berlari setengah cepat menaiki lift menuju akses apartemennya.Liza sedikit merasa tenang setelah memasuki lift itu ia berpikir orang itu tak akan mengikutinya lagi .
Lift itu akhirnya mulai berhenti dilantai 30 tempat apartemen Liza berada , Liza mulai bernapas lega seraya membuka pintu apartemennya namun tak disangka seseorang langsung menyerangnya dari belakang .Orang itu memaksa Liza untuk masuk kedalam apartemennya, kemudian ia membekap mulut Liza hingga ia tidak mampu mengeluarkan suara apapun .
Orang itu masih membekap Liza sampai memasuki kamar milik gadis itu,kemudian ia mengunci pintu kamar Liza dan mulai menyalurkan hasratnya yang tak lagi terkendali .
Liza dapat melihat dengan jelas bahwa pria yang ada dihadapannya itu adalah Joan , ia yang merasa ketakutan memohon pada Joan .Namun Joan tak menggubris perkataan gadis itu ,ia justru mematikan lampu kamar itu sehingga membuat suasana menjadi semakin gelap .
Berbagai perlawanan dilakukan Liza demi mempertahankan harga dirinya .Ruangan apartemennya yang kedap suara membuat teriakan dan rintihan Liza tidak kedengaran sekali oleh para tetangganya .
Hingga pada akhirnya tubuh kecil Liza berhasil ditindih oleh tubuh kekar pria itu,pakaian yang menutupi tubuhnya sudah berserakan dilantai.
Joan berusaha mencium titik-titik sensitif gadis itu, Liza yang sudah mulai kehabisan tenaga hanya bisa pasrah saat sesuatu keras masuk kedalam celah sempitnya.Sesuatu yang sangat dijaganya seumur hidup saat ini akan direnggut oleh pria yang sama sekali tak dicintainya itu.
Airmata mengiringi rintihan Liza saat pria itu terus menerus memaksakan penyalurannya ditubuh Liza, dia sangat kesakitan saat suatu lapisan yang lembut didalamnya dirobek paksa oleh benda tumpul yang besar.
Joan tampak berhenti sejenak saat menyadari wanita yang tengah dipaksanya ini masih perawan . Dia tak menyangka ini merupakan pengalaman pertama seorang aktris sekaligus model cantik itu .Seketika perasaan bersalah dan bahagia menyelimuti nya. Tapi hawa nafsu mengalahkan akal sehatnya, dia semakin menggebu untuk menyalurkan hasratnya.
Setelah 2 jam berlalu Joan perlahan -lahan melepaskan dirinya dari tubuh Liza .Berkali - kali dia melepaskan benihnya dirahim wanita itu , saat ini gadis itu tampak sangat kelelahan , matanya terpejam dengan napas yang tersenggal- senggal.
Joan mencium lembut kening liza ,ada perasaan sayang yang menyelimutinya, untuk pertama kalinya dia merasakan jantungnya berdebar saat bersama seorang wanita .
" Maafkan aku Liza"gumamnya dan satu tetes air mata lolos dari pelupuk matanya, menyirami gadis itu.Ia pun kemudian membaringkan tubuhnya disamping Liza.
Liza hanya bisa menutup matanya enggan untuk menatap ataupun berbicara dengan pria yang ada disampingnya itu .Hatinya terlalu sakit menerima perlakuan pria brengsek itu , ia mulai berjanji pada dirinya bahwa ia tak akan pernah mencintai Joan walaupun pria itu merupakan pria yang satu - satunya tersisa dimuka bumi ini.
Kring.....
Dering alarm jam membangunkan wanita yang sedang tertidur pulas disamping pria bertubuh kekar itu , Liza mulai membuka matanya dan kembali mengingat kejadian malang yang menimpanya malam itu .Air matanya kembali terjatuh ia merasakan kepedihan menyayati hatinya .
Tak ingin larut dalam suasana itu Liza langsung membangunkan tubuhnya dari kasur meninggalkan Joan yang masih tertidur .Liza mulai bergegas menuju kamar mandi yang terletak didalam kamarnya untuk membersihkan diri .
Tak cukup 15 menit Liza sudah melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dan langsung menuju kearah walk in closetnya yang berada disamping kamarnya .
Disisi lain Joan yang baru saja terbangun dari tidurnya langsung mencari - cari keberadaan perempuan yang telah ditidurinya malam itu .
Karena tak mendapatkan tanda -tanda keberadaan Liza diruangan itu , Joan akhirnya mengenakan kimono berwarna putih terlebih dahulu untuk menutupi tubuhnya yang telanjang ia kemudian melangkahkan kakinya menelusuri seluruh ruangan yang berada di
apartemen itu .
Pencarian Joan pun terhenti saat ia melihat Liza yang sudah cantik mengenakan dress berwarna hitam diruangan walk in closetnya .
Joan mulai menghampiri Liza yang masih menatapnya dengan tatapan tajam .Joan tahu persis apa yang dirasakan oleh Liza saat ini , wanita manapun pasti tak akan pernah memaafkan pria yang merebut masa depannya dengan paksa .
Dengan memberanikan diri Joan semakin mendekatkan tubuhnya dengan tubuh wanita yang memiliki tinggi 168 cm itu .Joan dengan cepat menarik tubuh wanita itu kedalam pelukannya , pria itu mulai merasakan tubuh wanita itu mulai bergetar diiringi Isak tangis .
" Maafkan saya Liza , saya sudah benar benar melewati batas" Bisik Joan namun tak digubris oleh Liza , wanita itu masih terdiam mematung tanpa mengucapkan sepatah katapun .
Joan semakin mengeratkan pelukannya ,karena wanita itu enggan membalas pelukan hangat yang diberikan olehnya .
Berbeda dengan Liza , kini ia mulai melepaskan tubuhnya dan mulai menjaga jaraknya dari tubuh Joan, perlahan Ia mulai menghapus air mata yang membasahi pipi mulusnya .Liza menatap Joan dengan tajam kali ini ia benar benar tak bisa menahan amarahnya menghadapi pria brengsek yang telah merenggut hal yang selama ini ia jaga .
Plak ...
Satu tamparan mendarat keras dipipi kiri Joan yang membuat pria itu refleks merintih kesakitan seraya memegangi pipi kirinya yang terasa perih itu .
Amarah Joan pun ikut memuncak karena sikap kasar wanita yang ada dihadapannya itu , Joan pun menatap Liza dengan tatapan yang tak kalah tajam , sedetik amarah Joan seketika hilang bersamaan dengan air mata Liza yang kembali mengalir membasahi kedua pipinya .Joan dapat melihat jelas bibir wanita itu bergetar dengan Isak tangis yang semakin keras dibandingkan sebelumnya.
" Liza saya akan berjanji akan menikahimu , jadi tolong berhentilah menangis seolah saya akan meninggalkanmu tanpa rasa tanggung jawab !" Perintah Joan yang membuat Liza menampilkan senyum sinisnya .
" Apa kamu kira dengan menikahiku akan menyelesaikan segalanya ?" Tanya Liza yang dibalas anggukan Joan .
Liza menggeleng tak mengerti lagi dengan pria yang ada dihadapannya ini " Tak peduli seberapa kayanya keluargamu , saya tak akan pernah sudi menikahi pria brengsek sepertimu .Sampah seperti dirimu bahkan tak layak untuk didaur ulang sekalipun " Ucap Liza yang membuat Joan malah menampilkan senyum smirknya .
" Lalu bagaimana denganmu Liza , masa depanmu telah kurenggut sepenuhnya .Entah siapapun pria yang kau cintai dimasa mendatang .Apakah kau pikir pria itu akan siap menerima kenyataan tentang dirimu ? " Ancam Joan yang membuat Liza memolototkan mata indahnya.
Joan tersenyum penuh kemenangan karena wanita yang sedang ia lawan itu kalah telak , pria itu memang paling handal dalam hal mengancam seseorang .
Melihat ekspresi puas yang dilontarkan Joan ,Liza akhirnya angkat bicara dan tak ingin dianggap kehabisan kata- kata .
" Sekali lagi saya akan menegaskan padamu , bahwa saya tak akan pernah menikahimu jadi tolong tolaklah pernikahan ini dihadapan kedua keluarga kita , anggap saja sebagai kompensasi atas apa yang telah kau lakukan terhadapku setelah ini kita tak akan pernah mempunyai urusan apapun .Saya akan melepaskanmu tanpa meminta pertanggung jawaban apapun , mengenai pria yang saya cintai itu tak ada urusannya denganmu karena pria yang akan saya nikahi dimasa depan nanti adalah orang yang bisa menerima saya dengan apa adanya " Ucap Liza yang membuat Joan tak berkutik dibuatnya .
***
Wanita bertubuh jangkung dengan anggunnya mulai memasuki mansion milik keluarga Rivenno .Wanita bermata monolid itu mulai membungkukkan tubuhnya memberikan hormat kepada kedua orang tuanya yang sudah setia menunggu kedatangan putra dan putrinya itu .
" Maaf pah mah , kali ini jadwal Sarah full banget makanya Sarah datangnya gak bisa tepat waktu " Ucap Sarah seraya mulai mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi makan yang berada disebelah mamahnya .
Ansel Carlos Rivenno hanya bisa tersenyum tipis mendengar ucapan dari putri sulungnya itu .
" Iya gak papa sayang , mamah dan papah ngerti kok kalo jadwal kamu padat banget " jawab Auristella Rivenno seraya mulai mengelus rambut putrinya yang tergerai indah itu .
Sarah hanya bisa tersenyum tipis melihat kelakuan manis mamahnya itu , jujur saja ia sangat merindukan masa-masa kecilnya saat ia masih tinggal bersama kedua orang tuanya serta adik laki-lakinya di mansion mewah itu .
Berbeda dengan sekarang Sarah dan Joan justru harus tinggal berjauhan dengan kedua orang tuanya itu karena harus mengurusi setiap perusahaan keluarga yang berdiri dibidangnya masing -masing.Lokasi perusahaannya pun berbeda- beda , Sarah yang bertanggung jawab sebagai CEO perusahaan Angkasa pura yang membuat ia harus menghabiskan harinya untuk mengelola pengusahaan bandar udara .Berbeda dengan adiknya Joan yang bertanggung jawab sebagai CEO perusahaan IT terbesar dan paling berpengaruh didunia membuat ia harus menghabiskan hari - harinya untuk duduk didepan komputer dan melakukan penerbangan keluar negeri untuk mencapai kesepakatan bisnis .
" Maaf Joan telat datengnya " Ucap Joan memecah keheningan yang terjadi diruangan itu .
Ansel mulai tersenyum bahagia melihat kedatangan putra bungsunya itu , ia kemudian merangkul Joan dengan gembira yang membuat Sarah geram dibuatnya .Bagaimana tidak ? Jelas jelas papahnya itu memperlakukan mereka dengan berbeda , Jika tadi kedatangan Sarah dihiraukan bagaikan angin lewat namun kali ini kedatangan Joan justru dianggap papahnya bagaikan oksigen yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia .
Sarah menatap tajam kearah Joan , yang membuat Joan bergidik ngeri melihat tatapan mematikan dari perempuan yang berumur dua tahun lebih tua darinya itu .
Joan mulai memberanikan diri untuk mendudukkan tubuhnya disamping Sarah yang masih setia dengan tatapannya itu .
Melihat tingkah arogan kakaknya itu , Joan pun mulai memicingkan matanya seraya menampilkan senyum simpulnya .
" Malem ini Lo cantik banget kak , andai aja Darren datang pasti dia bakal muji Lo habis -habisan " Gombal Joan yang membuat kedua orang tuanya tertawa, sementara yang digombal malah memalingkan wajahnya .
Darren , mendengar nama tunangannya itu membuat nafsu makan Sarah seketika hilang begitu saja .Sarah bukannya tidak mencintai pria itu , justru pria itulah yang membuatnya merasa tak pernah dicintai .Sarah berkali -kali memergoki Darren bersama wanita lain ketika ia berlibur di Amerika dan yang paling parahnya pria itu mengencani wanita yang berbeda setiap Sarah memergokinya .
Sarah sebenernya ingin mengatakan hal ini kepada keluarganya dan segera membatalkan acara pernikahan yang akan digelar setelah kepulangan Darren dari Kanada , namun ia tidak ingin merasa disalahkan atas pilihannya.Dulu Sarah lah yang memacari dan memperkenalkan Darren kepada keluarganya , bahkan keluarga Rivenno juga sudah banyak membantu keluarga Darren mengatasi masalah krisis perusahaan yang membuat keluarganya hampir mengalami kebangkrutan.
Karena merasa terlalu banyak berkorban untuk kekasihnya itu , akhirnya Sarah memilih untuk tetap diam dan berpura -pura tidak terjadi apapun didepan keluarganya maupun didepan Darren .
Sarah kini mulai merilekskan pikiran serta perasaannya dan beralih menatap Joan yang sedang menyantap makanannya dengan lahap .
" Apa Liza menerima perjodohan ini ? " Tanya Sarah yang membuat Joan tersedak , ia pun memberikan segelas air minum kepada adiknya itu dan menunggu Joan meneguk air minumnya .
Setelah merasa tenggorokannya sudah membaik kini Joan akhinya angkat bicara .
" Masalah nolak atau nerima perjodohan , keputusan itu berada ditangan gue .Wanita itu gak punya hak untuk ngambil putusan apapun" Ujar Joan yang membuat Sarah kebingungan dibuatnya .
" Gak bisa gitu dong sayang , keputusan bakalan diambil dari dua belah pihak " Imbuh Auris yang membuat Joan tersenyum kikuk.
" Ucapan mamah kamu bener Joan , kita gak bisa memaksakan kehendak Liza hanya karena kita lebih kaya darinya " Ucap Ansel membenarkan perkataan istrinya itu .
Joan akhirnya terdiam seribu bahasa, bukan karena ucapan dari kedua orang tuanya namun karena ucapan Liza yang mengatakan bahwa dirinya memiliki kekasih kembali menghantui pikirannya .
Joan merebahkan tubuhnya disebuah kasur besar yang berada di griya tawang miliknya , perjalanan yang memakan waktu sekitar 3 jam dari letak mansion kedua orang tuanya membuat ia merasa kelelahan.
Joan mulai menatap langit - langit kamarnya , saat ini pikirannya hanya dipenuhi dengan keputusan - keputusan yang harus ia ambil dipertemuan dua keluarga Rivenno dan Hope yang akan dilaksanakan besok malam .
Jujur saja dirinya sudah merasa mencintai wanita itu sejak pertama kali bertemu , namun disisi lain Joan harus menepati janjinya pada Liza yang menolak perjodohan sebagai kompensasi yang harus ia berikan atas perbuatan yang telah ia lakukan.
" Arghhh , sialan mengapa gue harus ngelakuin perbuatan yang tak manusiawi itu " Teriak Joan seraya mengacak rambutnya Frustasi .
" Ada apa bos ?" Tanya seorang pria berjas yang baru saja memasuki kamar bosnya itu, napas pria itu terlihat tersenggal- senggal dikarenakan lari maraton memasuki kamar Joan saat mendengar teriakan bosnya .
Joan menatap sekretarisnya itu dengan tatapan yang tak dapat diartikan .Joan kemudian berusaha untuk terlihat tenang didepan sekretarisnya yang bernama Dafa itu .
" Gak ada apa - apa kok Daf " Jawab Joan dengan santai .
Dafa menatap bos sekaligus teman SMA-nya itu dengan tatapan memprihatinkan .Melihat penampilan Joan yang kacau balau membuat ia berasumsi bahwa pria yang ada dihadapannya itu sedang menghadapi suatu masalah .
" Joan kali ini gue nanya serius sama Lo sebagai teman bukan sebagai sekretaris , jadi tolong jelasin sama gue ada apa sampai jambul khatulistiwa Lo itu sampai Lo acakkin kek gitu ? " Tanya Dafa yang langsung membuat Joan mau tak mau harus menjelaskan kebenarannya .
Joan akhirnya mulai bangkit dari tempat tidurnya dan beralih kesebuah sofa melingkar yang berada diruang tamu diikuti dengan Dafa.
Keduanya mulai duduk bersebrangan , Dafa mulai menuangkan segelas air minum dan memberikannya kepada Joan agar pria itu merasa sedikit tenang .
Joan dengan cepat meneguk air itu sampai habis dan kembali meletakkan gelas kosong itu dimeja yang berada didepannya .Ia terlihat menghela nafas panjang sebelum menceritakan segalanya pada Dafa .
" Daf Lo tau kan gue bakal dijodohin ?" Tanya Joan yang dibalas anggukan oleh Dafa .
" Terus apa masalahnya , apa ceweknya kurang cantik atau kurang seksi di mata Lo ? " Tanya Dafa dengan polosnya yang membuat ia dapat satu tabokan dari Joan .
"Daf bisa gak Lo kurang - kurangin ke mesuman Lo itu jijik gue dengernya " Ucap Joan dengan ekspresi kesalnya .
Dafa hanya tersenyum tanpa rasa bersalah
" Apa cewek itu cantik bos ? " Tanya Dafa dibalas anggukan oleh Joan .
" Cewek itu Liza Nathalia Hope " Ucap Joan to the point .
Mendengar perkataan Joan , Dafa langsung membulatkan mata tak percaya dengan perkataan pria yang ada dihadapannya ini .
Dafa mengeleng - gelengkan kepalanya tak percaya " Lo kagak lagi ngehalu kan Bos, bagaimana bisa seorang Liza yang cantik nan seksi itu dijodohin sama Lo ? "
Joan menganggukkan kepalanya menyakinkan. Dafa hanya bisa memijat pelipisnya yang terasa pening .
" Gue gak pernah kepikiran kalo nama belakang Liza itu sama dengan nama keluarga Hope , gue gak nyangka kalo Liza adalah putri dari keluarga itu " Jelas Dafa yang bisa dimengerti oleh Joan Karena identitas Liza sebagai putri dari keluarga konglomerat Hope memang dirahasiakan dari publik .
" Terus lo bakal nerima perjodohan ini bos ? Tanya Dafa dengan memasang ekspresi cemburunya .
Joan terdiam sesaat , ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu dikepalanya .
" Bos " Panggil Dafa membuyarkan lamunan Joan .
" Gue juga belum tahu keputusan apa yang harus gue ambil Daf , perasaan gue mengatakan kalo gue mencintai wanita itu namun disisi lain gue harus nepatin janji gue "
Dafa mengernyitkan dahinya " Janji ? "
" Gue berjanji sama Liza untuk menolak perjodohan ini " Jawab Joan tanpa basa - basi.
" Joan , Lo itu bodoh atau gimana sih .Apa Liza gak sesuai dengan kriteria wanita impian Lo atau Lo butuh wanita yang kekayaannya melebihi kekayaan keluarga kalian gitu ? " Kesabaran Dafa mulai habis , jujur saja saat ini ia benar - benar ingin memukul wajah tampan yang ada dihadapannya itu .
" Daf jujur aja gue udah suka sama Liza sejak pertama kali ketemu dan saat itu juga gue sadar kalo perasaan itu gak pernah muncul terhadap wanita manapun " Jawab Joan tanpa menyembunyikan fakta .
Dafa membuang napasnya kasar " Lah terus sekarang apa permasalahannya Joan Arkan Rivenno , Lo juga udah suka kan sama tuh cewe , jadi lebih baik Lo langsung halalin aja Liza secepetnya keburu Lo ngelakuin sesuatu yang kagak sesuai norma dan hukum sebelum kalian nikah ,kan kalo gitu bakal ribet urusannya "
Mendengar perkataan sekretarisnya itu , ketakutan Joan kembali menghantui pikirannya .Andai saja dia tidak melakukannya pada malam itu , keputusannya tentang menerima perjodohannya dengan Liza akan ia ungkapkan kepada semua orang .Namun keadaan sekarang justru terbalik ia tidak bisa menerima maupun menolak perjodohan itu .
***
Liza tersenyum manis saat melihat pria yang baru saja membuka apartemennya .
" Surprise " Teriak Liza seraya memeluk pria itu .
Pria bertubuh jangkung itu menampilkan ekspresi bahagianya saat melihat kedatangan Liza yang datang tanpa mengabarinya .
Pria bernama Dilan Alexi itu semakin mengeratkan pelukan keduanya .
" Pelukannya pengen sampai kapan lan ? " Sindir Liza yang membuat Dilan segera melepaskan pelukannya .
" Yaudah gue lepasin deh Li " Dilan memasang wajah kecewanya .
" Ih jangan cemberut gitu , ntar wajah gantengnya luntur lagi " Liza mengelus pelan pipi Dilan .
Dilan tersenyum simpul menampilkan lesung pipinya , ia kemudian menarik tubuh Liza memasuki ruang apartemennya .
Saat sudah memasuki ruangan Dilan meminta Liza untuk duduk di sofa kemudian Liza menurutinya.
" Li, Lo tunggu bentar yah gue bikinin minuman dulu " ucap Dilan .
Liza hanya bisa mengangguk pasrah melihat Dilan yang melenggang pergi menuju arah dapur .
Dilan memang selalu memperlakukan Liza dengan baik , ia tidak seperti pria lain yang acuh kepada wanitanya .Hal itulah yang membuat Liza nyaman saat berada disisinya .
Pria itu benar - benar jauh berbeda dari pria lain , Status keluarga Dilan yang dahulunya kekurangan ekonomi membuat Dilan tumbuh menjadi seorang anak yang mandiri dan pekerja keras .Profesi ayah Dilan yang hanya bekerja sebagai petani membuat ia mau tak mau harus mencari pekerjaan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya dan saat itulah Dilan terjun kedunia hiburan sebagai seorang aktor serta menjadi model internasional karena visualnya yang sempurna.
Liza dan Dilan memang memiliki profesi yang sama , hanya saja Liza yang terlahir dari keluarga kaya sementara Dilan yang terlahir di keluarga kurang berkecukupan .Hal itulah yang menjadi pertimbangan bagi keduanya untuk mempublikasikan hubungan mereka dipublik , mereka takut akan komentar- komentar yang akan dilontarkan orang lain diluaran sana termasuk kedua orang tua Liza yang gila akan status .
" Lo kenapa ngelamun Li ? " Suara pria yang baru saja datang dengan membawa nampan itu membuyarkan lamunan Liza .
Liza menoleh kearah sumber suara, ia kemudian berdiri dari posisi duduknya dan mengambil nampan yang dibawa Dilan dan menyimpannya diatas meja .
" Lan , gue udah bilang kan kalo Lo gak boleh kecapen " Ucap Liza memperingatkan Dilan agar penyakitnya tak kambuh .
Dilan hanya terkikik " penyakit gue gak akan menyebabkan kematian , Lo mah serius banget li" Ucap Dilan dengan santainya seraya menyeruput jus mangga yang telah dibuatnya.
" Iya gue juga tau kok penyakit Lo gak mematikan , tapi efeknya justru bisa ngerusak kulit Lo lan " Ucap Liza mengingatkan .
" Lo tenang aja Li , belakangan ini gue jarang stress atau kelelahan soalnya ngeliat wajah cantik Lo Mulu sih " Gombal Dilan yang membuat Liza memasang tatapan kesal .
" Lan , gue mohon sama Lo jangan pernah nyepelein penyakit Lo ini gue takut suatu saat bakal nimbulin efek yang lain " Ucap Liza menjelaskan kekhwatirannya tentang penyakit Cholinergic Urticaria yang ditelah diderita Dilan semenjak masa debutnya .
Terakhir Kali penyakit Dilan kambuh adalah ketika dia syuting dari pagi hingga malam untuk film barunya bersama Liza , tubuhnya yang kelelahan membuat seluruh tubuhnya memerah dan muncul ruam serta suhu tubuh yang tinggi .Saking khawatirnya, Liza bahkan sampai membawa Dilan ke Amerika untuk mendapatkan perawatan terbaik disana .
Liza berdiri dari posisi duduknya dan dengan cepat memeluk Dilan yang masih duduk diposisinya .
" Lan janji yah sama gue jangan pernah sakit lagi , walaupun gue gak ada disamping Lo ,gue harap Lo tetap ngejaga kesehatan Lo ! " Perintah Liza yang membuat Dilan seketika keheranan mendengar titah wanita yang sedang memeluknya itu .
Dilan berdiri dari posisi duduknya seraya mengeratkan pelukannya , ia mengelus lembut puncak kepala wanita itu .
" Li gue bersukur banget punya cewek yang baik dan perhatian banget sama gue dan keluarga gue .Tapi gue mohon sama Lo Li , hilangin ketakutan Lo yang berlebihan itu ! .Ucapan Lo yang kek gini yang buat gue ngerasa kalo justru Lo lah yang bakal ninggalin gue " Bisik Dilan tepat ditelinga Liza .
Liza mulai menitikkan air matanya saat mendengar kalimat terakhir Joan , tersirat kebenaran didalam Kalimat itu .
Andai saja Dilan tahu apa yang terjadi kepada Liza saat ini , mungkin pria itu enggan untuk menerimanya ataupun hanya sekedar menolehnya pun pasti tak Sudi.
" Maafin gue lan" Batin Liza .
Liza tak ingin larut dalam kesedihannya dan membuat Dilan curiga melihat kelakuannya , ia kemudian dengan cepat melepaskan pelukannya dan menjaga jaraknya dari Dilan .
Liza kembali menduduki sofa yang tadi ia duduki , untuk menghilangkan kesedihannya ia beralih mencicipi kue dan cemilan pedas lainnya yang telah siapkan oleh Dilan .
Dilan hanya menatap Liza yang sedang makan dengan tatapan heran , sikapnya yang berbeda hari ini membuat ia ingin melontarkan sejuta pertanyaan yang muncul dibenaknya .
Namun Dilan hanya ingin mencari aman saja , ia tak ingin mengetahui suatu hal yang akan membuatnya menderita. Lebih baik mengubur dalam - dalam suatu kebenaran jika itu memang menyakitkan .
" Kedua orang tua gue pengen banget ketemu sama Lo Li " Ucap Dilan mengalihkan perhatian Liza .
" Belakangan ini jadwal gue penuh Lan , kalo keburu besok gue bakal usahain untuk temuin mereka .Kita udah lama gak ketemu , gue udah rindu banget sama mereka " Liza mulai menampilkan senyuman gembiranya .
Liza dan kedua orang tua Dilan memang sudah sangat akrab .Liza memang selalu menemui kediaman keluarga Dilan yang membutuhkan waktu 3 jam dari tempatnya.Jika Liza ingin menemui mereka tentu saja ia harus memiliki waktu luang sebab jika Liza sudah berada dirumah itu rasanya sangat nyaman hingga ia enggan pulang dan selalu menginap selama berhari - hari .Bukan karena rumahnya yang mewah , tapi karena kehangatan yang meletak pada keluarga itu .Ayah, ibu , dan adik perempuan Dilan memang sangat baik kepada Liza membuat Liza seolah - olah merasa bahwa mereka adalah keluarganya bukan Keluarga kekasihnya .