Perjuangan Manika
[Assalamu'alaikum, Yas, aku dan Ayuni sudah sampai di bandara, lagi nunggu hasil swab,] tulis manika melalui pesan di ponselnya untuk Tyas Sahabatnya.
[Walaikum salam, syukurlah, karantina di hotel apa?] balas Tyas.
[Vela boutique hotel 84-86 Morrison Hill Road - Wan Chai, Kalau Ayuni di hotel best western - Causeway bay] balas Manika.
[Oh ya udah nggak apa, masih deket dari Wan Chai ke Causeway bay. Selamat datang di Hongkong, semoga kalian betah sampai habis kontrak, berdoa saja bosnya baik.] Kembali Tyas membalas
[Terima kasih ya Yas, untuk semua bantuanmu, kami bisa sampai di sini semua karena kamu.] Kembali Manika membalas.
Karena tak ada balasan lagi, Manika memasukan ponselnya kedalam tas. Pandangannya menyapu ke penjuru ruangan, dilihatnya teman-teman seperjuangan, yang duduk berjauhan satu dengan yang lainnya, karena harus jaga jarak.
Manika masih tidak percaya, kalau saat ini sudah berada di Hongkong. Ia sangat bersyukur pesawat Singapore airlines yang membawanya mendarat dengan selamat.
Butuh perjuangan untuk bisa sampai di Negeri ini, apa lagi musim pendemi. Tidak hanya peraturan ketat yang harus di taati oleh semua orang, termasuk Manika. Namun perjuangannya mendapat ijin dari bapaknya itulah yang paling sulit.
"Bapak tidak ikhlas kalau kamu ke luar Negeri, Nduk," kata Bayu Prastowo pada Manika suatu hari, ketika sang anak meminta ijinnya.
"Nika janji, Pak, tidak akan lupa diri seperti …." Belum selesai bicara, Bayu memotong kata-kata Manika.
"Cukup, Nduk, pokoknya Bapak tidak mengijinkan titik!" Bayu segera berlalu, meninggalkan Manika yang terdiam mematung.
Manika tak berani membantah. Karena rasa sayangnya pada sang bapak. Semenjak ibunya pamit ke luar Negeri, bertahun-tahun tak ada kabar beritanya, bapaknyalah yang membesarkan dirinya.
Usia Manika baru tujuh tahun, ketika sang ibu pamit ke luar Negeri. Tak disangka kepergian Larasati tak pernah kembali, jangankan kirim uang kabar pun tak pernah. Bayu dan Manika masih berharap suatu saat dia akan kembali pulang.
Tahun berganti, hingga Manika lulus SMA, Larasati tetap tak ada kabar beritanya. Bayu bertahan dengan kesetiaannya. Walau keluarga sang istri sudah berkali-kali menyuruhnya untuk menikah lagi, ia tetap bergeming.
Setelah lulus SMA itulah Manika minta ijin pada bapaknya untuk ke luar Negeri tepatnya ke Hongkong. Dengan tujuan mencari ibunya selain bekerja Namun tidak mendapat ijin dari bapaknya.
Akhirnya Manika kuliah menuruti kemauan sang bapak, walau hanya D1. Ia tak ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya. Karena tak ingin sang bapak bekerja keras untuk membiayainya. Ia memilih untuk bekerja. Hingga pada suatu hari, Manika tak sengaja mendengar percakapan bapak dan temannya.
"Yu, sebaiknya kau talak saja istrimu," ucap Sandi, salah satu teman Bayu, yang baru pulang dari Hongkong.
"Kenapa?" tanya Bayu.
"Laras istrimu, hidup bebas di Hongkong," ucap Sandi.
"Maksudmu, bebas bagaimana? Kamu ketemu sama istriku?" tanya Bayu kembali.
"Iya."
"Bagaimana ceritanya?"
"Laras di sana, hidup bebas. Dengan laki-laki lain, aku lihat sendiri. Untung saja dia tak mengenaliku. Perlu kamu tahu, istrimu itu sering ganti pasangan. Mungkin itu yang membuatnya tak pernah berkirim kabar padamu. Dia terlena dan menikmati hidupnya," tutur Sandi panjang lebar.
Sandi mengambil ponselnya, memperlihatkan foto-foto Larasati pada Bayu. Meskipun penampilan sang istri bak model, dengan pakaian minim dan seksi. Tapi Bayu masih mengenalinnya.
"Sekarang percaya?" tanya sandi.
Bayu terdiam tak tahu harus berkata apa. Sandi adalah sahabatnya tak mungkin ia berbohong, apa lagi ada bukti foto istrinya, yang nampak masih muda dan bahagia.
"Siang malam aku memikirkannya. selama lebih dari lima belas tahun. Aku pikir, dia mengalami nasib buruk ternyata …. " Bayu tak mampu meneruskan kata-katanya. Hatinya hancur, kesetiaan dan penantiannya sia-sia. Ia tak menyangka, wanita yang sangat ia cintai. Kini telah toreh kan luka.
"Sudahlah, Yu, lupakan dia! Tak pantas orang seperti, Laras, kau tunggu. Setahun dua tahun masih bisa dimaklumi, lah ini sudah belasan tahun, Yu!"
Sandi terus berusaha menyadarkan sahabatnya. Agar tak lagi berharap pada istrinya yang lupa diri, di Negeri orang.
Bayu menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan. Mencoba menahan mengurangi sesak yang menghimpit dadanya.Tanpa sepengetahuannya, sang putri mendengar semuanya.
Hati Manika lebih hancur mendengar kabar tentang ibunya. Sakit sekali rasanya. Ia dan bapaknya berdoa siang malam. Selalu memikirkan keselamatan sang ibu di negeri orang. Ternyata yang dipikirkan lupa diri menikmati hidupnya dengan bebas. Tak ingat anak dan suami.
Ada kebencian menyusup dalam hati Manika. Kerinduan bertahun-tahun menguap, menyisakan amarah terpendam. 'Ya Allah, maafkan hamba, kalau di hati ini tumbuh rasa benci, pada orang yang telah melahirkanku' batinnya berkata.
Manika menelepon sahabatnya, Tyas, yang sedang bekerja di Hongkong semenjak lulus SMA. Menceritakan kepedihan hatinya, dan mengutarakan keinginannya. Ingin bekerja sekaligus mencari ibunya.
Karena sudah tahu sang bapak tak mungkin mengizinkan, Manika pun mencari ide. Yaitu menyuruh bapaknya menikah. Gadis itu berpikir keras, agar izin dari bapaknya ia dapatkan.
Dengan bantuan Tyas, akhirnya Manika menemukan sosok yang pantas untuk pendamping bapaknya, yaitu Mustika. Tak lain kakak sepupu Tyas.
Berbagai upaya Manika merayu bapaknya untuk menikahi Mustika. Sementara Tyas pun merayu sang, kakak sepupu, untuk menerima Bayu.
Akhirnya Bayu mau menikah dengan Mustika. Kendati pada awalnya tak saling suka. Namun lambat laun cinta hadir di antara mereka. Manika pun sangat bahagia.
Manika membulatkan tekatnya, untuk pergi ke Hongkong. Berkat bantuan Tyas. Manika berdua dengan Ayuni sahabatnya. mendapatkan pekerjaan.
Tinggal satu langkah lagi izin dari bapaknya. Walau awalnya menentang namun akhirnya Bayu mengalah karena melihat kesungguhan putrinya. Dengan syarat harus selalu memberi kabar, dalam kondisi apa pun.
Manika sangat berterima kasih pada ibu sambungnya yang turut serta meyakinkan bapaknya hingga izin itu diperolehnya.
"Nik, ayo jalan! malah bengong." panggilan Ayuni membuyarkan lamunan Manika. Mereka berjalan sesuai petunjuk dari para petugas bandara. Dengan tetap menjaga jarak.
Setelah melalui imigrasi dan mengambil bagasi mereka di arahkan menaiki kereta menuju satu ruangan. Dari sana mereka akan diantar ke hotel masing-masing yang telah di booking oleh sang majikan. Manika dan Ayuni naik mobil yang sama karena hotel mereka berdekatan.
Sepanjang perjalanan dari bandara menuju hotel. Yang terlihat gedung-gedung yang menjulang tinggi baik perkantoran, mau pun apartemen, dari yang biasa sampai yang terlihat mewah.
Pegawai yang khusus mengantar setiap pendatang, dari luar Negeri memberitahu. Sesaat lagi tiba di vela boutique hotel. Manika pun bersiap-siap. Setelah mengucap salam perpisahan dengan Ayuni. akhirnya sampailah tepat di depan pintu Hotel.
Pegawai hotel yang menyambut kedatangan Manika. Mengantarnya ke tempat resepsionis. Setelah mendapat kunci kamar. Ia di antar sampai masuk lift. Pegawai hotel berpesan, lebih tepatnya memperingatkan. Agar selama dalam lift tidak menyentuh apapun. Tombol sudah di pencet di angka sembilan.
Sampai di lantai sembilan Manika mencari kamar no 12, Akhirnya sampai di kamar hotel yang nyaman dengan pemandangan menghadap jalan raya. Ramai lalu lintas, juga banyak para pejalan kaki.
Menjalani karantina selama 21 hari hanya makan tidur, nonton televisi dan ngobrol lewat telepon. Untungnya Wi-fi gratis sinyal selalu kuat. Setiap pagi Manika tetap berolah raga agar badan tetap sehat.
Bagaimana kisah Manika selanjutnya? Ikuti terus ya. Jangan lupa beri dukungan.
Bersambung.
Part 2 Libur Pertama
Pada hari minggu Tyas mengirim makanan berupa jajanan dan buah, yang di titipkan pada penjaga pintu hotel, dan pegawai hotel yang mengantar sampai depan pintu kamar. Selama di karantina selalu dalam pantauan dari departemen kesehatan. Setiap orang memakai gelang khusus. Bila berani keluar dari kamar maka akan berurusan dengan hukum, juga kena denda.
Demi sebuah tujuan, yaitu ingin mencari keberadaan sang ibu, Manika sudah siap menghadapi. Berbagai kemungkinan, yang akan terjadi nanti. 21 hari karantina di hotel. Dianggapnya sebagai liburan. Sedang dimanjakan, sebelum mulai bekerja.
Manika selalu menelepon bapaknya, karena tak ingin membuatnya khawatir. Betapa bahagianya ketika ibu sambungnya mengabarkan kalau saat ini sedang hamil. Ia berjanji pada diri sendiri untuk membahagiakan keluarganya.
Kini Manika mulai bekerja di sebuah apartmen Belair Garden di daerah Shatin New Territories. Daerah yang cukup nyaman, tidak bising, juga tidak sepi. Akses transportasi pun mudah.
Bekarja pada sepasang suami istri dengan dua orang anak usia tujuh dan sembilan tahun. Sedikit demi sedikit Manika belajar bahasa daerah Hongkong, beruntung karena ada anak-anak membuatnya cepat bisa berkomunikasi.
Baru lima hari kerja di suruh libur. Peraturan di Hongkong, setiap pekerja dapat libur tiap hari minggu dan tanggal merah. Karena belum dapat gaji sang majikan memberi pinjaman uang untuk berlibur.
Manika di jemput sahabatnya Tyas, yang sudah bersama Ayuni. Bertiga jalan-jalan menikmati hari libur. Manika belum mulai pencarian ibunya, ia ingin lebih dulu mengetahui seluk beluk, dari daerah satu ke daerah lainnya.
Banyak rencana yang sudah Manika susun dan ia bertekad akan mewujudkan semuanya dengan berusaha sungguh-sungguh. Namun ia tetap melibatkan yang mahakuasa, di setiap langkah dengan doa.
Manika, Tyas dan Ayuni baru saja keluar dari Masjid Jami kowloon, setelah melaksanakan sholat dhuhur. Tyas mengajak mereka, jalan-jalan ke taman belakang Masjid.
Namun baru saja mereka hendak memasuki taman. Terlihat kerumunan orang, dan juga banyak polisi. Karena penasaran, Tyas bertanya pada orang yang kebetulan lewat.
"Maaf Mbak, itu ada apa yah kok banyak polisi?" tanya Tyas.
"Ada orang berantem, terus ada korban di tusuk perutnya ngeri, Mbak, mending jangan kesana!" jawab orang tersebut.
"Mbak, tahu korbannya orang mana?" tanya Tyas penasaran.
"Katanya sih orang indonesia perempuan. Denger-senger karena selingkuh, cemburu gitu. Kurang paham juga saya, nggak kenal soalnya," ucap orang itu lagi.
"Ya udah makasih ya, Mbak." Ucap Tyas, orang itu pun melangkah pergi.
Tyas mengajak Manika dan Ayuni pergi dari tempat itu. Mereka menuju Stasiun Tsim Sha Tsui. Ketika baru mau masuk, seseorang yang sedang bicara di telepon melewati mereka.
"Pokoknya kamu kesini! Aku tunggu di pintu keluar A, Laras sudah di bawa ke rumah sakit. Iya Larasati." Ucap seorang perempuan cantik. yang langsung menutup panggilan teleponnya.
Manika, Tyas, dan Ayuni saling berpandangan. Untuk beberapa saat, mereka memikirkan hal yang sama. Gegas Tyas mendekati perempuan cantik itu. Yang masih berdiri di tempatnya.
"Maaf, Mbak, boleh tanya, Larasati, itu orang mana yah?" tanya Tyas penasaran. Ia yakin orang itu sedang membicarakan, si korban penusukan.
"Maksud Mbak, Larasati yang di bawa ke rumah sakit," jawab perempuan itu.
"Iya, orang mana ya dia? Apa dia yang korban penusukan di taman belakang masjid?" ucap Tyas kembali bertanya.
"Iya, dia yang tadi berantem dan di tusuk. Kalau nggak salah dari Jawa Tengah, tapi kurang tahu daerah mana. Soalnya aku juga baru kenal dua minggu yang lalu," ucap perempuan itu. "Memangnya Mbak, kenal dengannya?" Perempuan itu balik bertanya.
"Aku, lagi nyari temenku. Kebetulan namanya, Larasati. Soalnya udah lama hilang kontrak sama dia," tutur Tyas.
"Oh gitu, gini aja, nanti tanya temenku aja. Dia yang udah kenal lama. Orangnya lagi menuju kesini, tunggu aja." Selesai bicara pada Tyas perempuan itu mengambil ponselnya yang berdering. dan berjalan menjauh.
Tyas dan Ayuni, saling berpandangan, dan secara bersamaan melihat kearah Manika yang sedang terdiam. Mereka tahu apa yang sedang dirasakan sahabatnya.
"Nik, kita berdoa saja. Semoga itu bukan ibumu. Nama Larasati kan banyak," hibur Ayuni.
"Iya, Nik, nanti kita tanya temennya orang itu. Cari tahu dulu, berpikir yang baik-baik saja, ok!" Tyas menimpali.
Manika hanya terdiam tidak menanggapi ucapan dari kedua sahabatnya. Berbagai rasa berkecamuk dalam dada. Tak mampu ia luapkan. Entah mengapa tak ada khawatir di hatinya, jika orang itu adalah ibunya.
Tyas yang melihat perempuan tadi sudah bertemu temannya. Bergegas mengajak kedua sahabatnya untuk mengikutinya. Orang itu pun melihat kearah mereka, yang sedang berjalan mendekat.
"Hai, Mbak, kenalin aku Tyas, dan ini kedua sahabatku Ayu dan Ika," ucap Tyas ramah.
"Oh iya tadi kita belum kenalan yah, aku Mirah, dan temenku ini Dewi," ucap perempuan cantik tadi. Ternyata bernama Mirah.
"Ini loh, Mbak Dewi, mereka yang aku bilang tadi," tutur Mirah.
"Larasati temenku itu, orang Semarang," tutur perempuan bernama Dewi yang tak kalah cantik dari Mirah. Penampilan mereka bak artis sinetron.
"Oh Semarang, kira'in, Banjarnegara, ok Mbak terima kasih infonya. Kalau gitu kami pamit yah." Selesai bicara Tyas mengajak Manika dan Ayuni keluar dari stasiun. Tidak jadi naik kereta bawah tanah. Tapi membawa kedua sahabatnya menuju dermaga kapal.
"Kalian berdua merasa nggak sih, kalau perempuan yang namanya Dewi itu, sepertinya nggak jujur?" ucap Ayuni yang sedari tadi diam.
"Ya taulah, makanya aku pun bohong. Kalau Larasati yang kita cari dari Banjarnegara," tutur Tyas.
"Apakah mungkin, itu beneran Ibuku," gumam Manika lirih.
"Ya belum tentu, Nik, nanti kita juga akan tahu. Kalau bener mereka bohong, akan terkuak identitas, Larasati, itu dari mana. Inget pemilik nama itu bukan cuma ibumu. Pihak KJRI kantor perwakilan kita. Pasti akan dihubungi oleh kepolisian, sudah jangan berpikir yang nggak baik," tutur Tyas panjang lebar.
Manika kembali terdiam. Ia mencoba melupakan sejenak tentang ibunya. Mengikuti langkah Tyas dan Ayuni, sambil melihat pemandangan, agar hatinya yang sedang galau, sedikit tenang. Sepanjang jalan menuju dermaga, yang terlihat bangunan gedung megah nan indah. Benar-benar kota yang sangat moderen. Jauh berbeda dengan kota kelahirannya.
Mereka berjalan sambil sesekali mengambil gambar, photo bersama, di harbour city. Pusat perbelanjaan besar dan elit. Tak lupa singgah di tempat tugu jam berada dekat dermaga. Yang menjadi salah satu ikon daerah Tsim Sha Tsui - Kowloon.
Puas berphoto, mereka menaiki kapal menuju Kota Central. Sesampanya di dermaga Central, mereka berjalan menyeberangi jembatan layang. Ayuni dan Manika benar-benar kagum, melihat pemandangan perkotaan super moderen gedung-gedung tinggi menjulang ada di mana-mana. Sangat indah membuat takjub.
Tyas memberitahu pada kedua sahabatnya. Kalau Kota Central adalah tempatnya warga negara Philippina berkumpul menikmati hari libur. Sementara tempat kumpulnya warga Indonesia, berada di Causeway bay. Walau sekarang sudah menyebar hampir seluruh wilayah Hongkong. Karena saking banyaknya.
Ikuti perjalanan Manika mencari ibunya yah. Jangan lupa tinggalkan komen, kritik dan saran. Terima kasih.
Bersambung.
Part 3 Berkesan
Manika dan Ayuni benar-benar heran, sepanjang jalan melihat banyak sekali warga dari negara Philippina yang sedang berlibur.
Tyas mengajak mereka naik tram listrik, kendaraan yang menjadi salah satu ikon kota Hongkong peninggalan inggris, yang hanya ada di pusat Kota. Selain unik jauh dekat ongkosnya sama, sangat murah yaitu dua dolar enam puluh sen. Tidak heran kalau selalu penuh dengan penumpang, apa lagi hari minggu.
Lagi-lagi Manika dan Ayuni, dimanja dengan pemandangan indah, kali ini kanan kiri gedung yang rapat, di bawahnya pertokoan, dari Central melewati Admiralty, Wan Chai, dan akhirnya mereka sampai di Causeway bay.
Turun dari Tram atau teng-teng, begitu warga menyebutnya. Mereka bertiga menuju salah satu rumah makan Indonesia, untuk makan siang, walau sudah terlambat sebenarnya. Ayuni dan Manika dibuat tercengang begitu banyaknya teman-teman seperjuangan berada di Causeway bay, hingga untuk jalan saja sulit. Terutama di jalan Sugar street, yang padat sampai berdesakan.
Mereka berdua heran, karena saat ini musim pandemi, tapi di Hongkong bisa berdesakan seperti yang terlihat. Tyas menjelaskan kalau saat ini sudah ada kelonggaran, yang penting tetap pakai masker.
Akhirnya mereka mendapat tempat duduk, dan siap memesan makanan. Ayuni pesan nasi bebek goreng dan lalapan, Tyas nasi iga bakar, sementara Manika memilih sate campur plus nasi tentunya.
Tak lama kemudian pesanan pun datang, mereka makan saling bertukar lauk, kebiasaan dulu ketika di kampung terbawa sampai ke Hongkong. Ketika sedang menikmati hidangan makan siang dengan lahap, terdengar dari meja sebelah, yang sedang membicarakan kejadian penusukan terhadap perempuan bernama Larasati.
"Kamu di sana waktu kejadian?" tanya salah satu orang itu.
"Iya, tapi waktu si Laras belum di tusuk," kata yang lain.
"Lah terus yang liat siapa?" tanya yang lainnya.
"Siapa lagi kalau bukan teman deketnya si Laras, untung aku pergi tepat waktu, kalau nggak, bisa di kantor polisi aku saat ini,"
"Syukurlah kamu nggak terlibat, aku kan udah bilang, jangan bergaul terlalu dekat sama mereka. Laras itu bukan orang baik, dia itu nggak peduli biar sudah punya cowok, masih tetep kurang. Mungkin dia itu maniak seks kali," tutur salah satu dari mereka.
Manika yang sedang makan, langsung berhenti. Tyas dan Ayuni tentu saja tahu apa penyebabnya. Tyas menyentuh tangan sahabatnya yang sedang galau.
"Habiskan dulu makannya, nanti kita cari tahu, sama-sama yah!" bujuk Tyas pada Manika.
"Iya, Nik, janganlah berprasangka buruk," bisik Ayuni lirih.
Manika tak menjawab. Namun ia kembali memaksakan diri menghabiskan makanannya. Karena terbiasa sedari kecil di ajari bapaknya untuk tidak membuang makanan. Di luar sana masih banyak orang yang kelaparan. Begitu kata sang bapak.
Empat orang di meja sebelah. Yang tadi membicarakan Laras siap-siap untuk keluar. Tyas yang sudah selesai makan langsung mengikuti mereka. Sampai di luar ia bertanya pada salah satu orang tersebut.
"Mbak, maaf boleh tanya?" ucap Tyas.
"Ya, ada apa yah?" ucap salah satu orang itu.
"Itu, tadi aku denger Mbak berempat ngomongin tentang Laras, boleh tahu nggak, dia aslinya mana?" tanya Tyas.
"Mbak, kenal dengannya?" mereka balik bertanya.
"Justru itu, aku lagi nyari temenku, sekampung yang hilang kontak, namanya Larasati dari Banjarnegara, siapa tau kan orang itu tetanggaku," tutur Tyas.
"Ooh gitu, tapi yang kita bicarakan bukan tetangganya Mbak, orang dia dari Cilacap," pungkas orang itu lalu mereka pun pergi.
Tinggallah Tyas yang mematung di tempatnya. Tak tahu apa yang harus ia lakukan. Jawaban orang itu membuatnya syok. Ternyata perempuan yang bernama Laras, yang menjadi korban penusukan, berasal dari Cilacap. Mungkinkah itu ibunya Manika. Walau bisa saja orang lain yang kebetulan nama dan asalnya sama.
Untuk beberapa saat Tyas masih termenung, hingga tak menyadari. Kedua sahabatnya sudah berada di dekatnya. Memerhatikan dirinya dengan perubahannya yang nampak gelisah.
"Gimana, Yas, dapat informasi apa dari mereka tadi?" tanya Ayuni membuyarkan lamunan Tyas. Belum sempat menjawab, Manika sudah bersuara.
"Sudahlah, nggak usah di pikir. Dia Ibuku atau bukan, aku nggak peduli. Mendingan sekarang kita jalan yuk, katanya mau ngajak ke kantor KJRI." Manika menggandeng tangan Tyas, mereka pun berjalan menuju tempat yang sudah di janjikan.
Tyas mengerti, ada luka di hati Manika. ia tak ingin menambah rasa sakitnya. Namun ia akan tetap mencari tahu tentang Larasati yang kini berada di rumah sakit.
Hari libur pertama buat Manika dan Ayuni cukup berkesan. Meskipun agak sedikit terganggu, dengan berita tentang Larasati. Yang belum tahu kejelasannya. Namun mereka mencoba untuk tidak memikirkan hal itu.
Setelah singgah sebentar di kantor perwakilan RI, mereka bertiga berjalan-jalan di pusat perbelanjaan times square. Setelah itu tak lupa mampir ke masjid ammar, daerah Wan Chai, yang lokasinya tak terlalu jauh, dari Causeway bay, untuk menunaikan sholat ashar.
"Nanti, kalian, bisa pulang sendiri, atau aku antar?" tanya Tyas, pada Manika dan Ayuni, setelah mereka keluar dari masjid.
"Kami, pulang sendiri saja. Insya Allah, bisalah, kalau nggak tahu kan bisa nanya orang, lagian, orang Indonesia bertebaran di mana-mana ada," jawab Ayuni.
"Beneran nih nggak kuantar?"
"Iya, kita bukan anak kecil, tenang aja, kalau nggak tahu tinggal nelpon si boss, beres kan," jawab Manika.
"Ya udah kita jalan-jalan lagi yuk, masih ada waktu!" ajak Tyas. Mereka pun kembali berjalan melewati pasar, pertokoan, menikmati sore yang cerah.
Waktu semakin beranjak, Manika dan Ayuni akhirnya pamit pada Tyas, karena hari pertama libur, tak ingin pulang terlalu malam. Berdua mereka naik MTR (kereta) dari causeway bay pindah di stasiun Admiralty, mereka pun berpisah di kowloon tong.
Manika melanjutkan perjalanan, dengan berpindah kereta lagi, ia bersyukur karena ada beberapa, sesama orang indonesia yang sama tujuannya. Akhirnya sampai di stasiun Sha Tin.
Bersama teman baru yang ketemu di dalam kereta, menuju terminal. Kurang lebih sepuluh menit naik bus sampai di bawah apartmen tempat tinggalnya, setelah mengucapkan terima kasih, Manika pun turun dari bus.
Kepulangan Manika di sambut kedua anak majikan, mereka bertanya padanya, dari mana saja. Namun belum sempat menjawab, majikan perempuan menyuruhnya langsung mandi, karena habis bepergian. Manika pun memahami dan bergegas masuk ke kamarnya.
Selesai mandi, Manika pun mengerjakan kewajibannya yaitu shalat, ia sangat bersyukur karena memiliki kamar sendiri, sehingga bisa bebas melakukan kegiatan beribadah. Kedua anak majikan sudah di beri pengertian oleh orang tuanya, untuk tidak memasuki kamar Manika tanpa seijinnya.
Manika keluar dari kamar, menuju ke dapur barang kali ada piring kotor yang perlu di cuci, meskipun libur bebas dari tugas, ia pikir tak mengapa mengerjakannya, tapi ternyata dapur terlihat bersih. Ia pun mengira kalau sang majikan sekeluarga habis makan di luar.
Segera Manika keluar dari dapur, tiba-tiba kedua anak majikan langsung menarik tangannya mengajaknya bermain, ia pun mengikuti kedua bocah itu ke kamar mereka.
Di lain tempat, Tyas yang masih berada di luar, bertemu dengan salah satu temannya, untuk mencari tahu tentang ibunya Manika.
Setelah menghubungi orang-orang yang ia kenal, yang tergabung dalam organisasi, baik keagamaan mau pun ketenagakerjaan. Namun belum juga mendapatkan informasi, tentang Larasati si korban penusukan.
"Yas, kamu kok pengin tau banget, si korban penusukan yang di Tsim Sha Tsui itu. Emang siapa sih dia?" Sari teman Tyas bertanya dengan penasaran.
Bersambung.