Bab 1

"Kapan kau akan pergi dari rumah ini?" teriak Amee, ibu Hellena.

Hellena yang mendengar teriakan ibunya hanya bersikap acuh. Ia sudah terbiasa dengan ucapan ibunya yang selalu menyakiti hatinya.

"Ibu mau aku pergi kapan? Setiap aku pergi pasti ibu menangis memintaku untuk pulang." Hellena sudah merasa muak dengan ibunya.

"Kali ini aku tidak akan memintamu untuk pulang. Di sini kau hanya menyusahkan saja, bekerja tapi tidak pernah memberikanku uang!" Amee mulai emosi kepada Hellena, ia terlihat sangat marah dari wajahnya yang kian memerah.

"Berapa banyak lagi yang ibu minta? Bu ... uangku habis untuk membayar cicilan mobil." Kali ini kesabaran Hellena sudah habis.

Amee terdiam karena ucapan Hellena, dulu ia yang meminta Hellena untuk membeli mobil baru. Amee sangat malu ketika para tetangga memandang sebelah mata atas kondisi ekonominya, terlebih setelah suaminya, ayah Hellena meninggal.

“Ibu … aku tida ingin memakai mobil tua milik ayah lagi. Aku malu karena teman-temanku selalu mengejek.” Ismir berdiri di ambang pintu kamarnya, ia mengadu kepada ibunya yang sedang bicara dengan Hellena.

Amee menatap Hellena. “Berikan mobilmu kepada Ismir, kau bisa menggunakan mobil ayah.” Kali ini suara Amee melembut.

“Suruh Ismir membeli mobil sendiri. Anak tidak tahu diri!” Hellena keluar dari rumah dengan emosi yang sudah berada di ujung kepalanya.

“Dasar kau anak tidak tahu diuntung, sudah aku besarkan dengan baik malah kau selalu membuat malu keluarga!” teriak Amee dengan suara lantang.

Hellena menghela nafas panjang agar emosinya mereda. Kini ujung matanya mulai lembab, ia selalu bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah dia benar anak kandung Amee atau anak pungut.

Sesampainya di area parkir mobil komplek rumahnya, Hellena menunduk. “Ayo Hellena, kau harus semangat dan segera keluar dari rumah neraka itu, gumam Hellena pada dirinya sendiri.

Hellena bekerja disebuah perusahaan perjalanan wisata. Ia menyukai pekerjaan yang bebas dan mengunjungi tempat baru baginya. Hellena keluar dari mobilnya dan kaki jenjangnya melangkah memasuki kantor.

Senyuman Hellena terus mengembang seraya menyapa teman-teman kerjanya. Wajahnya tidak pernah terukir raut kesedihan, bahkan sebagian orang menganggap bahwa hidup Hellena baik-baik saja.

Baru saja Hellena duduk di kursi kerjanya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. “Elle, apa kau tahu, jika kita memiliki bos baru? Dia masih sangat muda dan tampan.” Keisha si biang gosip mulai berkomat kamit menyebarkan gosip terbaru di telinga Hellena.

Hellena menoleh dan memutar kursinya agar bisa berhadapan dengan sahabatnya itu. “Oh ya? Apa kau sudah bertemu dengan pangeran tampan itu? Apakah tubuhnya atletis dan kekar?” Hellena selalu menambahkan minyak disetiap gosip yang Keisha sampaikan kepadanya.

Keisha bersandar dengan lesu di kursinya. “Sayangnya aku belum bertemu dengan pangeran tampan itu.”

Raut wajah Hellena ikut masam, ia sangat pintar berekspresi untuk menyesuaikan kondisi lawan bicaranya. “Sayang sekali, aku jadi penasaran dari mana kau mendapat kabar kalau bos baru itu sangat tampan.”

Semangat Keisha kembali memuncak untuk menceritakan lebih banyak lagi. “Aku dapat kabat itu dari sekertaris pak bos kita yang sudah tua itu.”

Hellena nampak berpikir dan tiba-tiba matanya membulat menatap Keisha. “Key, jangan-jangan bos baru itu sama tuanya dengan pak bos dan dia botak, pendek dan gemuk seperti permen lollipop.”

Keisha geram dengan ucapan Hellena, ia memukul ringan pundak Hellena. “Sialan, kau menghancurkan imajinasi indahku!”

Tawa Hellena terdengar sangat ringan, ia puas menggoda Keisha hingga kesal. “Kau mendengar kabar dari sekertaris jutek itu dan kau percaya?”

Sebelum Keisha menjawab pertanyaan Hellena, terdengar suara seorang wanita dari belakang Hellena.

“Siapa yang kau bilang jutek?” ucap wanita itu dengan nada sedikit kesal.

Hellena terbelalak menatap Keisha, ia memutar kursinya ke arah sumber suara.

“Hai Kinan, kami sedang membicarakan kucing yang tempo hari kami temukan dan sekarang kami merawatnya. Sekarang kucing itu sudah seperti asisten kami yang selalu ikut ke mana kita pergi.” Hellena tersenyum polos tanpa bersalah.

Kinan tersenyum sinis kepada Hellena, ia paham bahwa Hellena hanya sedang mencari alasan. Meskipun Kinan sangat marah dan membenci Hellena, namun ia mengingat kinerja Hellena sangat baik dan merupakan salah satu karyawan terbaik.

Hellena memberikan pengaruh yang besar kepada perusahaan yang berdampak pada kesejahteraan semua karyawan. Itu mengapa Kinan tidak bisa menyinggung Hellena sembarangan.

"Aku ingin menyampaikan kepada kalian semua kalau malam ini kita semua diundang untuk hadir ke acara penyambutan bos baru. Semua harus datang jam delapan malam di aula kantor." Kinan berseru dengan suara sangat keras, agar semua karyawan mendengar pengumuman yang ia sampaikan.

Setelah memberikan pengumuman, Kinan pergi dari ruang karyawan. Matanya menatap Hellena dengan sinis sebelum langkahnya semakin menjauh.

Keisha memukul ringan punggung Hellena. "Kau gila! kenapa kau ingin mencari masalah dengan Kinan?"

Hellena menatap sekilas sahabatnya itu. "Aku meredam masalah, kau tidak lihat tatapan matanya barusan? Benar yang aku bilang, kan? Dia seperti kucing. Kucing liar mencari mangsa." Hellena terkekeh melihat ekspresi Keisha yang ketakutan.

Disaat Hellena sedang sibuk bekerja, suara denting ponselnya berbunyi, menandakan bahwa ada pesan masuk.

"Kak, aku sudah di loby kantormu, aku ingin menukar mobil. Cepat, aku akan terlambat masuk kelas jika kau lelet."

Isi pesan Ismir membuat suasana hati Hellena kembali kacau, ia mngeratkan tangannya dan beranjak dari kursi untuk mendatangi adiknya itu. Dengan kesal Hellena menarik tangan adiknya, membawa pergi Ismir ke area parkir.

"Apa-apan kamu ini? Datang dan bersikap seenaknya sendiri!" Hellena geram dengan sikap Ismir.

"Sudah, jangan banyak mengoceh kak, nanti kecantikanmu hilang. Sekarang berikan kunci mobilmu dan ini kunci mobil milik ayah." Ismir meletakkan kunci mobil di telapak tangan Hellena.

"Jika kau menerima kunci mobil ini, maka semua cicilan mobil jadi tanggung jawabmu." Hellena mengulurkan kunci mobil kepada Ismir dengan enggan.

Ismir menyambar kunci itu dengan tidak sabar. "Itu akan menjadi urusan kakak dan ibu nanti. Aku pergi dulu, sudah terlambat."

Mulut Hellena mengatup erat, ia masih tidak percaya dengan sikap adiknya yang tidak menghormati Hellena sebagai kakaknya. Ia termenung menatap Ismir yang membawa mobilnya dan melesat pergi tanpa memperdulikan dirinya.

Dengan langkah lesu Hellena kembali ke kantornya. Tanpa ia sadari seorang pria sedang menatapnya penasaran. Pria yang mendapat banyak berita tentang kinerja luar biasa Hellena membuatnya ingin memberitahukan semua tentang Hellena.

Pria tersebut juga menatap Ismir pergi membawa mobil, ia mengernyitkan dahinya. Dugaan-dugaan datang di kepala pria itu tanpa henti, namun ia hanya diam dan tidak melakukan tindakan apapun karena ia ingin mencari tahu tentang Hellena lebih jauh.

Wajah Hellena tampak masam, ia tidak bisa mengendalikan ekspresinya lagi. Hellena duduk dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Berkali-kali suara hela nafas panjang terdengar dari Hellena, membuat Keisha menatap Hellena berulang kali.

Keisha tidak ingin menanyakan apapun kepada Hellena, ia paham ada sesuatu yang membuatnya sangat kesal. Meskipun Keisha tahu tentang masalah yang dialami oleh Hellena, tapi ia lebih memilih tidak ikut campur, bagaimanapun juga itu adalah masalah keluarga, dan Keisha cukup tahu diri tidak ingin terlibat di dalamnya.

Keisha berinisiatif membantu sahabatnya itu, ia membuka sosial media dan mencari apartemen kecil dengan harga sewa yang murah. Cukup lama Keisha menatap layar ponselnya, dan pada akhirnya ia menemukan apa yang ia cari.

Bab 2

Keisha membawa Hellena ke sebuah bangunan berlantai tujuh, Keisha menunjukkan sebuah apartemen untuk Hellena. Tanpa sepengetahuan Hellena ternyata Keisha sudah membayar uang sewa selama satu tahun.

Sesampainya di sana Keisha dan Hellena melihat isi apartemen, menyusuri seluruh ruangan yang sudah terisi dengan beberapa perabotan rumah.

“Kau mau pindah ke sini?” tanya Hellena yang tengah membuka pintu kaca balkon apartemen.

Keisha terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. “Ini rumah baru untukmu. Aku sudah membayar uang sewanya selama satu tahun. Kau bisa mengembalikan ketika kau punya uang.”

Hellena terperanga mendengar pernyataan yang keluar dari bibir sahabatnya itu. “Kau sudah gila?” menatap Keisha penuh tanya.

Keisha terbahak, ia memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa, setelahnya ia mengusap air mata yang terselip di ujung mata coklatnya.

“Aku tahu selama ini kau menyembunyikan sakit hatimu di balik senyumanmu. Aku juga tahu bahwa kau ingin pergi dari rumah.” Keisha duduk di sofa yang memang sudah ada di dalam apartemen itu.

Hellena menghela nafas berat. “Aku ingin menceritakan semua kepadamu, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana.” Ia menatap Keisha dengan mata sendu, menyiratkan kesedihan.

“Kau boleh menceritakan kepadaku kapan saja kalau kau sudah siap. Jangan dipaksa.” Ia bangkit dari sofa dan menepuk lembut pundak Hellena.

Hellena hanya bisa bergeming, suaranya tercekat. Ia menahan air matanya hingga merasakan lehernya tercekik, terlihat sangat jelas di mata Keisha bahwa sahabatnya itu menahan diri agar air matanya tidak jatuh.

Setelah Hellena melihat tempat tinggal barunya, ia bergegas pulang dan mengemasi pakaian serta barang-barangnya.

Sayup-sayup terdengar suara Amee yang sedang menerima telepon di dalam kamar. Hellena berniat untuk pergi secara diam-diam, ia tidak ingin berpamitan kepada ibunya.

Tentu saja niat Hellena gagal karena Amee masuk ke kamar Hellena tanpa mengetuk pintu.

“Mau kemana kau?” tanya Amee sambil berkacak pinggang.

Hellena tidak menoleh ke sumber suara, ia terus menata pakaiannya dengan tergesa. “Pergi dari rumah ini.”

Amee membulatkan matanya, menatap Hellena dengan sorotan amarah. “Jadi kau ingin pergi dan meninggalkan ibu serta adikmu? Hidup tanpa memikirkan kami di sini?” bentak Amee.

“Bukan kah ibu yang memintaku pergi dari rumah? Apa ibu lupa dengan ucapan ibu tadi pagi?” Hellena menjawab dengan tenang, tanpa melihat ke arah ibunya.

“Beraninya kamu bersikap seenaknya saja!” Kali ini emosi Amee tidak bisa terbendung lagi. Ia menarik rambut Hellena dengan kasar sehingga kepala Hellena sedikit mendongak.

Dengan kasar Hellena menepis tangan Amee sehingga Amee melepaskan rambut panjangnya. Kepala Hellena berdenyut kesakitan karena rambutnya telah ditarik oleh ibunya sendiri.

“Cukup! Sekarang aku mau tanya. Apakah aku bukan anak kandungmu?!” Hellena sedikit meninggikan suaranya, matanya mulai memanas.

“Bicaramu semakin tidak karuan, aku perlu memeriksamu ke dokter.” Amee pergi meninggalkan Hellena tanpa jawaban pasti.

Tanpa membuang watu lebih lama lagi, Hellena segera mengemas dan membawa dua buah koper keluar dari kamarnya.

Ia tidak melihat Amee di ruang tamu maupun di ruang keluarga. Hellena keluar dari rumah itu membawa sakit hati yang selama ini ia rasakan atas perlakuan ibu dan adiknya itu. Derai air mata jatuh begitu saja, menemani perjalanannya menuju tempat tinggal baru Hellena.

Tidak butuh waktu lama ia sampai di apartemen dan membuka pintu. Hening dan sepi, seperti hati Hellena saat ini. Ia meletakkan koper di samping sofa, menatap ke seluruh ruangan.

Ada perasaan lega yang masuk di hati Hellena. Pergi dari rumah yang penuh kenangan indah bersama mendiang ayahnya, namun setelah itu suasana rumah menjadi neraka untuk Hellena.

Hellena duduk di sofa, matanya masih meneteskan air mata kepedihan. “Ibu, kenapa kau melakukan ini kepadaku? Apa salahku? Kenapa kau menyiksaku seperti ini? Bisakah kau mengerti aku sedikit saja?” Ia mengusap kepalanya dengan lembut, sakit bekas tarikan ibunya masih terasa nyata.

Pertanyaan itu yang ingin Hellena tanyakan kepada ibunya sejak lama, namun disaat ia ingin menanyakan semua itu ia tahu pasti Amee akan marah dan memukulnya, sehingga Hellena hanya menyimpannya dalam hati.

Hellena mengusap air matanya dengan kasar, ia mengeluarkan sebungkus rokok dari mantel yang ia kenakan. Menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam.

Hanya ini yang bisa Hellena lakukan sebagai penghibur hatinya.

Ia berjalan menuju dapur, melihat dapur yang masih kosong tidak ada perabotan apapun. Hellena menghela nafas sebelum ia menyambar kunci mobil dan pergi untuk mencari makan malam dan secangkir kopi.

Suasana malam di Istanbul tentu saja sangat ramai, mereka pergi bersama teman, keluarga, atau kekasih. Sedangkan Hellena hanya pergi seorang diri menuju sebuah cafe yang tidak jauh dari tepi laut Marmara.

Ia memasuki sebuah cafe dengan bangunan kecil berdinding batu bata tanpa pelapis, ornamen khas Turki menghiasi bangunan itu. Hellena memesan dua buah kebab daging domba dan secangkir kopi.

Karena larangan merokok di dalam café, Hellena memilih untuk duduk di luar yang sudah disediakan beberapa meja serta kursi.

Tidak lama kemudian pesanannya datang dan ia melahap makan malamnya dengan tenang. Tidak jauh dari tempat Hellena duduk, terlihat sepasang mata pria yang sedang menatap dirinya tanpa berkedip.

Seulas senyum terbit di bibir pria itu. Mencuri pandang setiap ada kesempatan, entah mengapa pria itu merasakan ketertarikan dengan wanita yang bahkan ia tidak tahu siapa namanya.

Hellena tidak menyadari bahwa ia sedang diperhatikan oleh seorang pria tampan dari kejauhan, tentu saja Hellena terlalu sibuk memikirkan kejadian yang baru saja ia alami dan tidak memperhatikan sekelilingnya.

Setelah perasaan Hellena membaik, ia kembali ke apartemen.

“Untung saja besok libur. Aku bisa mulai membereskan semua.” Hellena melihat dua koper di hadapannya.

Malam hari di kota Istanbul, Turki. Angin dingin masuk melalui celah jendela. Hellena yang sudah berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya. Rasa rindu akan senyuman dan kasih sayang ibunya yang dulu hadir di hatinya.

Tanpa terasa air matanya jatuh dan membasahi bantal yang ia gunakan untuk menopang kepalanya. Berulang kali Hellena menghela nafas untuk menenangkan perasaannya.

Ia melihat ponselnya dan membuka galeri foto. Foto kebersamaan mereka yang dulu begitu sangat indah sebelum ayahnya pergi meninggalkan mereka.

“Ayah, aku harus bagaimana menghadapi semua ini? Aku rindu ayah dan rindu kita yang dulu,” ucap Hellena sambil melihat foto sang ayah di ponselnya.

Malam semakin larut, entah berapa banyak air mata Hellena jatuh malam ini. Ia kelelahan dan tertidur masih dengan sisa isakan tangis.

Ia berjanji kepada dirinya sendiri hanya malam ini Hellena menangis dan esok tidak akan ada lagi air mata yang jatuh.

Bab 3

Hellena bangun lebih awal, ia mulai membongkar koper yang semalam ia bawa. Memasukkan pakaiannya ke dalam lemari di dalam kamar dan menata ulang letak tempat tidur agar terlihat lebih nyaman dan luas.

Suara bel apartemen berbunyi, Hellena segera berjalan menuju pintu dan membuka pintu. Senyum Keisha menjadi salam pertemuan mereka.

“Kenapa kau baru memberitahu aku tadi pagi kalau kau sudah pindah semalam?” Keisha membawa kantung kertas yang berisi sarapan.

Ia melangkah menuju dapur yang masih terlihat sangat kosong, dan menatap dengan nelangsa.

“Aku sudah tidak bisa menunda lagi, karena kondisi rumah sudah tidak baik.” Hellena duduk dan membuka koper yang masih tersisa berisikan barang-barang pribadinya.

Keisha memberikan kotak berisi makanan kepada Hellena. “Makan dulu, setelah itu kita membeli perlengkapan yang kau butuhkan.”

Mereka menyantap sarapan dengan diam. Hellena mau tidak mau memikirkan barang apa saja yang ia butuhkan. Setelah mereka menghabiskan sarapan, Keisha mengambil pena dan juga kertas yang ada di atas meja.

“Ayo kita buat daftar belanjaan, agar kita tidak kalap berbelanja.” Keisha sudah siap untuk menulis kebutuhan Hellena.

Dengan cepat Hellena menyebutkan perlengkapan dengan sangat teliti, sambil berkeliling ke seluruh ruangan untuk memastikan apa yang ia butuhkan. Tidak butuh waktu lama mereka membuat daftar belanja.

“Kita pergi sekarang?” tanya Hellena sambil memakai tas slempang kecil miliknya dan juga mantel untuk menutupi tubuhnya dari udara dingin di luar sana.

Dua wanita itu pergi ke sebuah supermarket serba ada yang tidak jauh dari apartemen, tentu saja mereka lebih memilih jalan kaki untuk pergi ke sana, selain dekat mereka juga harus menghemat uang bensin.

Kota Istanbul sangat dingin pagi ini, Hellena berkali-kali mengeratkan mantelnya, menjaga agar badannya tetap hangat. Terlihat supermarket yang ia tuju tidak begitu ramai seperti biasa. Mereka segera mencari apa yang sudah tertulis di daftar belanja dan secepatnya pergi dari sana.

“Ugh ini sangat berat,” keluh Keisha sambil menjinjing kantong belanja berukuran besar dan terlihat penuh.

“Badan berisi, tapi tenaga tidak punya. Berikan padaku, kau bisa membawa yang ini,” goda Hellena sambil menyerahkan kantong berukuran sedang kepada Keisha.

Keisha terkekeh. “Kau kan wanita jadi-jadian. Bentuknya saja wanita tapi tenagamu seperti seorang pria Tangguh.”

“Jika aku pria apa kau mau menjadi pacarku?” Hellena mengedipkan sebelah matanya.

“Tentu saja aku mau, kau akan menjadi pria yang bertanggung jawab dan romantic, sepertinya.” Ucapan Keisha penuh dengan keyakinan.

“Tapi aku mana mungkin mau menjadi pacarmu, karena kau terlalu manja dan cerewet.” Hellena terbahak, ia sangat puas bisa menggoda sahabatnya yang belum memiliki kekasih itu.

Keisha berdecak sebal. “Belum apa-apa aku sudah sakit hati duluan.”

Ketika mereka sedang bergurau di tengah perjalanan mereka, Hellena tanpa sadar menabrak seorang pria. Barang-barang yang sedang Hellena bawa jatuh berserakan di trotoar jalan.

“Maaf aku tidak sengaja,” ucap Hellena tanpa melihat pria yang sudah ia tabrak. Ia memungut barang belanjaannya dan memasukkan lagi ke dalam kantung.

Pria itu membantu Hellena untuk mengambil barang belanjaan. “Tidak apa-apa, aku juga kurang berhati-hati karena sedang menelpon.”

Suara pria itu sangat lembut membuat Hellena penasaran. Ia mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa pria itu.

‘Tampan, pagi-pagi sudah melihat pria tampan,’ batin Hellena.

“Terima kasih sudah membantu.” Ia bangkit dan membopong kembali kantung belanjaan itu.

“Mau aku bantu bawakan?” tawar pria itu dengan wajah sungkan dan tidak tega melihat seorang wanita membawa barang seberat itu.

Hellena menggelengkan kepalanya. “Terima kasih untuk tawarannya, kami sudah sampai.”

Ia menatap bangunan apartemen yang hanya tinggal dua meter dari tempat mereka berdiri.

“Oh kalian tiggal di sini?” tanya pria tampan itu dengan menatap bangunan apartemen.

Hellena mengangguk sebagai jawabannya. “Kalau begitu kami permisi dulu, maaf sudah menabrak mu.”

Keisha dan Hellena melanjutkan perjalanannya menuju apartemen. Hellena meletakkan kantung belanjanya di samping pintu, ia menepuk-nepuk pundaknya yang sedikit kaku dan pegal.

Keisha langsung menuju ke dapur dan membuat dua gelas cokelat panas untuk meredakan dingin selepas belanja tadi.

“Lena, kenapa kamu tidak tanya siapa pria tadi? Dia tampan dan badannya tegap, kekar dan juga sangat sexy.” Keisha menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, seolah sedang menerawang apa yang ada di balik tembok.

Hellena tersenyum tipis, sejujurnya ia ingin menanyakan nama pria itu, namun tentu saja itu bukan gaya Hellena.

“Kenapa bukan kamu saja yang tanya tadi?” tanya Hellena.

“Aku sibuk memandang wajahnya dia yang tampan,” jawab Keisha sambil menghela nafas.

Hellena membuka pintu kaca yang memisahkan ruangan dengan balkon, ia menatap ke bawah balkon sambil menggenggam coklat panas.

“Hey pria yang tadi aku tabrak, siapa namamu? Sahabatku menyukaimu!” teriak Hellena.

Keisha memukul pundak sahabatnya dengan sedikit keras. “Kau wanita bar-bar. Aku malu!” Wajahnya mulai memerah.

Hellena masih menundukkan kepalanya, menatap ke trotoar depan bangunan apartemennya. Tangannya menunjuk ke arah Keisha sambil berbisik. “Ini, iya dia suka kamu.”

Keisha semakin geram dengan ulah Hellena, ia menundukkan kepalanya dan melihat ke arah trotoar yg sepi tidak ada satu orangpun di sana.

Kali ini Keisha benar-benar kesal dengan ulah sahabatnya. “Lenaaaa… kau sangat usil!” geram Keisha sambil meremas lengan Hellena.

Tentu saja Hellena hanya terbahak melihat sahabatnya yang berhasil ia goda. Entah mengapa Hellena sangat suka menggoda Keisha terlebih jika itu perihal pria.

Meskipun sering kali Hellena menggoda Keisha, wanita itu tidak pernah marah kepadanya.

“Tenang, akan aku cari tahu siapa dia untuk dirimu.” Hellena mencubit gemas hidung Keisha.

Keisha tidak yakin dengan ucapan Hellena, ia juga tidak mau sampai Hellena tahu jika dirinya berhubungan dengan seorang pria, karena ia tahu akan menjadi bulan-bulanan sahabatnya itu.

“Tidak perlu repot-repot. Belum tentu dia menyukaiku, justru dia terlihat tertarik kepadamu. Kau tidak lihat tadi? Dia menatapmu tanpa menghiraukan diriku.” Keisha berdecak kesal.

Hellena terbahak, ia tidak sadar dengan hal itu. “Mungkin kalau kamu yang menabrak dia, dia akan menatapmu dan mengabaikan ku. Semua kemungkinan itu bisa terjadi, kan?”

Keisha hanya diam dan menyesap cokelat panasnya. Ia sudah tidak ingin memperpanjang urusan mengenai pria asing yang mereka temui tadi pagi.

Setelah menghabiskan setengah gelas cokelat panas, Hellena dan Keisha mulai membereskan apartemen itu.

Ruangan yang tidak terlalu besar namun jauh lebih nyaman dari pada Hellena harus tinggal bersama ibunya.

Mereka selesai membereskan semua tepat di jam makan siang. Karena perlengkapan masak dan bahan makanan sudah mereka beli, Hellena memutuskan untuk memasak makanan sederhana. Sedangkan Keisha yang kelelahan hanya menunggu di atas sofa dan melihat televisi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED