"Maaf, Paman. Aku ingin membicarakan sesuatu kepada Paman," desis seorang pemuda kepada Pamannya.
Pemuda itu adalah Fengying Lie, dan pria paruh baya yang ada di hadapannya adalah pamannya bernama Tau Chun Lie, adik kandung mendiang ayah Fengying—Tau Miao Lie.
"Mau bicara tentang apa, Fengying? Katakan saja!" sahut pria paruh baya itu, menatap tajam wajah keponakannya.
"Aku hendak meminta izin kepada Paman," jawab Fengying. "Aku harap Paman memberikan izin kepadaku untuk melakukan perjalanan jauh menuju kerajaan Nusa," sambungnya penuh harap.
Pria paruh baya itu tampak ragu untuk memberikan izin kepada keponakannya. Karena ia khawatir jika terjadi sesuatu pada diri Fengying yang masih belum memiliki pengalaman luas.
"Apa yang hendak kau cari di sana, Fengying?" tanya Tau Chun Lie menatap wajah keponakannya yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
"Aku berkeinginan untuk berkelana, mencari perguruan silat di sana. Sebagaimana yang telah Paman ceritakan kepadaku, bahwa para pendekar di negri Nusa banyak yang memiliki ilmu tenaga dalam yang hebat," jawab Fengying meluruskan dua bola matanya ke wajah Tau Chun Lie.
Fengying memiliki ketertarikan untuk berangkat berkelana ke negri Nusa, berdasarkan apa yang pernah diceritakan oleh pamannya itu. Tau Chun Lie pernah berkata bahwa di negri Nusa terdapat banyak para pendekar sakti yang memiliki tingkat kepandaian ilmu kanuragan yang sangat tinggi. Hal tersebut, menjadikan Fengying tertarik untuk datang ke negri tersebut.
"Bukannya Paman tidak mau mengizinkanmu berkelana jauh. Namun, Paman khawatir kau mendapatkan kesulitan dalam perjalananmu."
Fengying menarik napas dalam-dalam, ia terdiam sejenak. Dalam batinnya berkata, "Kenapa pamanku tidak mengizinkan aku untuk berkelana? Apakah dia ragu dengan kemampuanku?"
Fengying meluruskan dua bola matanya ke wajah pria paruh baya itu. Lalu, ia berkata lagi, "Kenapa Paman tidak mengizinkan aku untuk pergi berkelana ke sana? Apa alasannya Paman?" tanya Pandu.
"Paman khawatir terhadap dirimu, Fengying," jawab Tau Chun Lie sambil tersenyum lebar.
Fengying mengerutkan kening menatap tajam wajah pamannya. Lalu berkata, "Dulu bukannya Paman sendiri yang pernah bilang, kalau aku ingin menjadi seorang pendekar yang sakti, aku harus memiliki pengalaman luas?"
"Apa yang kau katakan itu memang benar. Tapi kau masih perlu memperdalam ilmu bela diri terlebih dahulu sebelum berangkat berkelana ke negri sebrang," jawab Tau Chun Lie sambil menarik napas dalam-dalam. Kemudian, ia berkata lagi, "Negri Nusa bukanlah negri sembarangan. Di sana banyak para pendekar sakti yang sewaktu-waktu akan menjajal kemampuanmu."
"Lantas, bagaimana jika aku tetap ingin pergi ke sana, Paman?"
"Belum saatnya untukmu pergi!" pungkas Tau Chun Lie, bangkit dan langsung berlalu dari hadapan Fengying.
Fengying tidak dapat berkata apa-apa lagi, ia hanya diam dan tidak berani melakukan protes terhadap keputusan pamannya.
"Paman memang belum mempercayai kemampuanku. Sepertinya, dia sangat khawatir jika aku tidak dapat menjaga diri," desis Fengying sambil memandangi langkah pamannya yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah.
Meskipun demikian, Fengying tetap ngotot dengan keinginannya. Ia memutuskan untuk berangkat secara diam-diam tanpa pamit lagi kepada pamannya.
"Aku harus tetap berangkat ke negri Nusa, agar aku mendapatkan pengalaman seperti yang aku inginkan," kata Fengying dalam hati.
Fengying nekat akan berangkat ke negri Nusa, meskipun keputusannya itu bertentangan dengan kehendak pamannya yang secara jelas sudah melarang dirinya.
Malam harinya, ketika Tau Chun Lie sudah terlelap tidur. Secara diam-diam, Fengying sudah bersiap-siap untuk berangkat dari rumah pamannya itu, ia benar-benar nekat, meskipun keinginannya ditentang oleh sang paman.
"Aku harus berangkat malam ini. Maafkan aku, Paman," desis Fengying bangkit dari tempat tidurnya, ia langsung meraih pedang dan beberapa helai pakaian lalu membungkusnya dengan kain.
Kemudian melangkah mengendap-endap keluar dari rumah tersebut. Setelah berada di luar rumah, ia langsung berlari menembus gelapnya malam.
Sejatinya, Fengying merasa sangat bersalah terhadap pamannya yang selama ini sudah merawat dirinya. Namun, keinginannya yang kuat mengharuskan dia berontak dan tidak mematuhi apa yang dilarang oleh Tau Chun Lie.
* * *
Pagi harinya....
"Fengying! Bangun, Nak. Hari sudah siang!" teriak Tau Chun Lie di balik pintu kamar keponakannya itu.
"Fengying, lekas bangun!"
Namun, setelah beberapa kali memanggil Fengying. Tak ada sahutan sekalipun dari dalam kamar tersebut, sehingga Tau Chun Lie pun mulai curiga.
"Jangan-jangan, Fengying tidak ada di dalam kamarnya," desis pria paruh baya itu.
Karena penasaran, Tau Chun Lie langsung mendorong pintu kamar Fengying.
"Benar sekali dugaanku, ternyata Fengying sudah tidak ada di kamarnya. Jangan-jangan dia nekat berangkat ke negri Nusa?" desis Tau Chun Lie bertanya-tanya.
Ia sangat khawatir dengan keselamatan keponakannya itu. Namun, hal tersebut sudah menjadi pilihan Fengying, Tau Chun Lie hanya pasrah dan berdoa agar keponakannya itu diberi keselamatan dalam perjalanan.
* * *
Ketika Fengying sudah tiba di pesisir selatan wilayah kekaisaran Waifu. Ia langsung beristirahat sejenak di tepi pantai tersebut.
"Semoga ada nelayan yang baik hati yang mau memberikan tumpangan untukku," desis Fengying penuh harap.
Beberapa saat kemudian, Fengying didatangi oleh dua orang pria bertubuh kekar, entah siapa mereka? Fengying pun tidak mengenali dua orang pria itu.
"Hai, Anak muda! Sedang apa kau di sini?" tanya salah seorang dari mereka menatap sinis ke arah Fengying.
Fengying langsung bangkit, kemudian menjawab pertanyaan dari orang itu, "Aku sedang beristirahat." Suara Fengying sedikit membentak. Sehingga kedua orang itu tampak tersinggung mendengarnya.
"Lancang sekali kau ini, berani-beraninya membentak kami!"
Fengying tersenyum sinis memandangi wajah dua orang pria yang berdiri di hadapannya. Ia sadar bahwa kedua orang itu pasti memiliki niat jahat terhadap dirinya.
Secara mengejutkan, salah satu dari dua orang pria itu langsung melakukan pemukulan terhadap Fengying. Sehingga Fengying jatuh tersungkur, dan mengalami sedikit luka di pergelangan tangan dan keningnya.
"Bedebah! Kenapa kau memukulku?" bentak Fengying langsung bangkit.
"Kau sudah lancang, Anak muda. Serahkan pedangmu! Jika tidak, tentu kau akan kami binasakan!" ancam pria yang baru saja memukul Fengying.
Tanpa banyak bicara lagi, pria tersebut kembali memukul kepala Fengying. Hingga menyebabkan, Fengying jatuh lagi. Fengying berusaha bangkit kembali, namun dua orang pria itu tidak membiarkan Fengying berdiri tegak. Salah satu dari mereka kembali menyambut dengan sebuah pukulan keras.
Namun, Fengying sangat gesit dalam melakukan pergerakan. Sehingga dirinya berhasil menghindari pukulan tersebut. Demikianlah, Fengying mulai tersulut emosi, ia langsung mengayunkan kaki kirinya hingga menyentuh perut salah seorang lawannya.
"Aku harap kalian tidak meneruskan perbuatan kalian ini!" bentak Fengying. "Aku tidak menghendaki pertarungan ini berlanjut," tambahnya langsung berlari meninggalkan kedua orang tersebut.
* * *
Namun, kedua orang itu langsung mengejar Fengying yang berusaha menghindari mereka. Hingga pada akhirnya, Fengying pun terdesak di ujung pantai tersebut.
"Aku tidak dapat lari lagi," kata Fengying dalam hati.
Ia sudah tidak dapat lari ke mana-mana lagi, di belakangnya terdapat sebuah sungai besar yang alirannya langsung mengarah ke laut lepas. Di pinggiran sungai tersebut banyak ditumbuhi tanaman liar dan terdapat banyak batu karang yang terjal menghalangi langkah Fengying.
"Hentikan, Anak muda!" seru salah seorang dari mereka.
Dua orang pria bertubuh kekar terus berlari mendekati Fengying yang tengah mencari jalan untuk lari menghindari kepungan dua orang penjahat itu.
"Hai, Anak muda! Mau kabur ke mana lagi kau?" bentak pria yang satunya lagi. "Sudah tidak ada lagi jalan bagimu untuk menghindari kami," sambungnya dengan suara yang semakin keras.
"Aku tidak mau berurusan dengan kalian. Sebaiknya kalian pergi dari hadapanku!" seru Fengying.
Fengying sudah tidak dapat berlari lagi, karena di ujung pantai itu terdapat tebing menjulang tinggi yang berbatasan langsung dengan hutan belantara di ujung pulau Jo Xien.
Dalam keadaan terdesak seperti itu, tentu sangat menyulitkan Fengying. Ia sudah tidak bisa lari ke mana-mana lagi.
"Aku tidak mungkin bisa menaiki tebing ini," desis Fengying tampak putus asa.
Setelah berada di hadapan Fengying, kedua orang itu langsung menghentikan langkah. Kemudian mereka mentertawakan Fengying yang tengah kebingungan mencari jalan kabur.
"Kau tidak mungkin bisa selamat dari kami!" seru penjahat itu.
"Serahkan saja pedangmu itu! Jika kau masih menginginkan untuk hidup!" ancam pria yang satunya lagi sambil melangkah ke arah Fengying yang sudah dalam keadaan pasrah.
"Aku tidak akan menyerah. Kalian langkahi dulu mayatku jika menginginkan pedang ini!" tantang Fengying penuh keterpaksaan.
Sudah tidak ada jalan lain lagi baginya selain berontak dan melakukan perlawanan terhadap dua orang penjahat tersebut.
"Besar sekali nyalimu, Anak muda!" bentak salah seorang dari mereka. Kemudian tertawa lepas, "Hahaha!"
Sikap mereka tampak sombong, dan sangat menyepelekan kemampuan Fengying.
Fengying menjadi semakin gusar, ia merasa dipandang rendah oleh dua orang penjahat itu.
"Majulah! Hadapi aku jika kalian menginginkan pedang ini!" tantang Fengying. "Aku harap kalian mau bertarung denganku satu lawan satu!" sambungnya nekat memberanikan diri untuk menghadapi kedua penjahat itu.
"Baiklah kalau memang seperti itu. Ayo maju!" jawab salah seorang di antara dua penjahat itu, menantap tajam sambil melangkah mendekati Fengying.
"Semoga Dewa melindungiku," kata Fengying dalam hati.
Fengying langsung melangkah maju, dan berhadap-hadapan dengan orang tersebut. Seakan-akan, dirinya mampu menghadapi penjahat itu. Sejatinya, ia hanya bermodalkan keberanian dan nekat saja.
Fengying belum terlalu mahir dalam ilmu bela diri. Namun, karena terdesak, ia pun menjadi berani untuk menghadapi kedua penjahat tersebut, tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi.
Beberapa saat kemudian, salah seorang dari kedua penjahat itu, mulai melancarkan serangannya. Ia menghantam tubuh Fengying dengan pukulan yang sangat keras. Sehingga Fengying terjatuh, Fengying masih harus banyak belajar lagi dalam olah kanuragan. Ia tidak dapat mengantisipasi pergerakan lawannya, sehingga dengan sangat mudah lawannya melakukan serangan terhadap dirinya.
"Kau tidak mungkin dapat mengalahkan kami, Anak muda. Ayo, keluarkan kemampuanmu!" tantang penjahat itu bersikap sombong.
"Jangan sombong kalian! Aku tidak mungkin menyerah begitu saja, aku masih sanggup menghadapi kalian!" bentak Fengying.
Fengying langsung bangkit sambil memegangi bahu kirinya. Sejatinya, ia merasakan sakit akibat pukulan keras dari lawannya. Akan tetapi, Fengying tidak mau menyerah begitu saja.
"Bedebah! Rupanya kau ini memang menginginkan mati di tangan kami, Anak muda!" bentak pria bertubuh kekar yang ada di hadapan Fengying.
Orang itu kembali melakukan serangan, kali ini ia hendak menghajar perut Fengying dengan pukulan yang sangat keras.
Namun, Fengying berhasil mengelak dari serangan pria tersebut, dan balas memukul kepala orang itu hingga jatuh tersungkur di hadapannya.
Kawannya tidak tinggal diam melihat pemandangan seperti itu. Ia pun segera maju dengan melancarkan serangan yang cukup deras ke arah Fengying.
Fengying semakin terdesak oleh tekanan orang tersebut. Pukulan bertubi-tubi hinggap di kepalanya, hingga menyebabkan Fengying jatuh lagi, kepalanya membentur batu karang.
Fengying mengerang kesakitan, darah segar mulai mengalir dari kepalanya hingga membanjiri wajahnya. Seketika, pandangannya pun mulai redup terhalang derasnya darah yang mengalir menutupi penglihatannya.
"Aku sudah mengingatkanmu, bahwa kami bukanlah lawan yang sepadan bagimu, Anak muda."
"Habisi saja anak muda itu!" seru kawannya yang tadi terjatuh kena pukulan dari Fengying.
"Baiklah, akan kubuat pingsan saja anak muda ini. Setelah itu, kita ambil saja pedangnya!" sahut pria yang mengenakan ikat kepala putih.
Dengan serta-merta, ia langsung mengayunkan kaki kanannya, kemudian menendang keras kepala Fengying hingga menyebabkan pemuda itu tak sadarkan diri tersungkur dengan luka yang sangat parah di bagian kepala dan bahunya.
Kedua orang penjahat itu tertawa lepas merayakan kemenangan mereka yang sudah berhasil membuat Fengying tak sadarkan diri.
"Ambil pedangnya! Jika ada uang di dalam sakunya kau ambil sekalian!"
Kawannya langsung melangkah menghampiri Fengying yang sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri, tergeletak di atas pasir pantai. Kemudian, orang itu membungkuk hendak mengambil pedang yang menyanggul di punggung Fengying.
Belum sempat meraih pedang yang menyanggul di punggung pemuda naas itu. Tiba-tiba saja, datang sebuah serangan mendadak tanpa wujud nyata, sehingga orang itu pun jatuh bergelimpangan.
Penjahat yang satunya lagi tampak bingung ketika melihat kawannya jatuh tiba-tiba.
"Kenapa kau terjatuh, Tong Yie?"
"Entahlah, aku pun tidak tahu. Ada yang memukul kepalaku secara tiba-tiba," jawab Tong Yie sambil meringis menahan rasa sakit.
Kawannya langsung membantu Tong Yie untuk bangkit. "Aneh sekali, apa yang terjadi denganmu?" tanya pria berikat kepala putih itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Tong Yie.
"Entahlah, sepertinya ada kekuatan gaib yang melindungi anak muda ini."
"Sebaiknya kita pergi saja dari tempat ini!"
"Aku pikir memang seperti itu. Kita harus segera meninggalkan tempat ini, sebelum makhluk gaib yang melindungi anak muda itu membunuh kita!" sahut Tong Yie tampak ketakutan dan panik.
Dengan demikian, kedua orang tersebut langsung meninggalkan tempat itu. Mereka tampak ketakutan, menganggap bahwa ada makhluk gaib yang melindungi Fengying.
Fengying dibiarkan begitu saja, tubuhnya tergeletak di atas pasir. Kepalanya terluka parah akibat benturan keras mengenai batu karang yang ada di tepi pantai tersebut.
Setelah dua orang penjahat itu berlalu dari hadapan Fengying. Tiba-tiba saja, muncul sesosok makhluk menyeramkan. Wajahnya merah, bertaring, dan memiliki tanduk di atas kening menjulur ke depan.
"Kasihan anak muda ini, Tapi sayang sekali, aku tidak mungkin bisa membawanya," desis makhluk tersebut memandangi Fengying yang tergeletak di hadapannya. "Pedangnya itu memiliki kekuatan tinggi, jika aku menyentuh tubuh anak muda ini. Maka tubuhku akan hangus terbakar. Semoga ada manusia yang baik yang datang ke tempat ini, dan mau menolong anak muda ini," sambungnya.
* * *
Makhluk itu tampak bingung, ia terus memandangi tubuh Fengying yang tergeletak. Namun, ia tidak dapat berbuat apa-apa karena takut dengan pedang yang menyanggul di punggung Fengying.
Pedang tersebut, merupakan pedang pusaka peninggalan Tau Miao Lie yang diwariskan kepada Fengying. Pedang tersebut terbuat dari batu meteor yang sangat ditakuti oleh makhluk-makhluk gaib.
Lama kelamaan, makhluk itu pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Fengying dalam kondisi seperti itu. Karena tubuhnya sudah terasa panas ketika pedang itu memancarkan sinar dan menyebarkan aura negatif baginya.
"Aku tidak dapat bertahan lama di tempat ini," desis makhluk menyeramkan itu, ia mulai merasakan adanya hawa panas yang keluar dari pedang milik Fengying.
"Maafkan aku anak muda. Aku tak dapat berbuat apa-apa terhadapmu," desisnya langsung menghilang dari tempat tersebut.
* * *
Satu hari kemudian, Fengying ditemukan oleh dua orang anak muda yang tinggal di sebuah desa tidak jauh dari pantai tersebut.
Mereka menemukan Fengying dalam kondisi mengenaskan, kepala dan bahunya terluka parah dipenuhi noda darah. Sebagian wajahnya tertutup darah yang sudah hampir mengering bercampur pasir pantai.
Dua pemuda itu adalah Yuan Shao dan Fak Tau. Mereka tampak kaget melihat tubuh Fengying yang tergeletak di atas pasir pantai tersebut, kedua pemuda itu mengira jika Fengying sudah dalam keadaan meninggal.
"Siapa dia? Apakah dia sudah mati?" tanya Yuan Shao kepada Fak Tau.
"Sepertinya dia itu seorang pendekar," jawab Fak Tau terus memandangi tubuh Fengying yang tergeletak. "Aku rasa orang itu memang sudah mati," sambungnya lirih.
Yuan Shao tampak penasaran sekali dengan kondisi Fengying. Lantas, ia pun melangkah menghampiri Fengying yang tergeletak tidak berdaya.
Yuan Shao langsung memeriksa denyut nadi Fengying, dan meletakkan jarinya di atas mulut Fengying untuk meyakinkan apakah Fengying sudah mati atau masih hidup.
"Dia masih hidup, sebaiknya kita bawa saja ke rumah!" desis Yuan Shao berpaling ke arah Fak Tau yang berdiri di belakangnya.
Fak Tau hanya mengangguk, kemudian mereka langsung membopong tubuh Fengying untuk dibawa langsung ke tempat tinggal mereka yang ada di perkampungan nelayan tidak jauh dari lokasi ditemukannya Fengying.
Setibanya di perkampungan, warga tampak kaget melihat kedua pemuda itu yang membawa orang dalam kondisi tak sadarkan diri yang wajahnya penuh dengan noda darah.
"Siapa yang kalian bawa itu?" tanya seorang pria paruh baya kepada Yuan Shao dan Fak Tau.
"Entahlah, Paman. Kami menemukan dia dalam kondisi pingsan di tepi pantai yang ada di ujung sana," jawab Fak Tau lirih.
Pria paruh baya itu adalah Cuen, dia merupakan paman Yuan Shao dan Fak Tau. Mereka adalah penduduk asli desa tersebut.
"Ayo, langsung masukkan ke dalam saja!" perintah Cuen turut membantu membopong Fengying.
"Sebaiknya kalian bubar, jangan berkerumun! Kami akan mengobati orang ini!" seru Yuan Shao kepada warga yang berkerumun di depan rumahnya.
"Baik, Yuan. Semoga pemuda itu baik-baik saja!" sahut salah seorang warga.
Yuan Shao, Fak Tau, dan pamannya langsung membawa Fengying ke dalam rumah tempat tinggal mereka. Tubuh Fengying langsung dibaringkan di atas lantai tanah yang hanya beralaskan tikar saja.
"Tubuh orang ini sangat berat sekali," desis pria paruh baya itu. "Sepertinya orang ini sudah satu malam berada di tepi muara itu," sambungnya sambil meletakkan telapak tangannya di atas kening Fengying.
"Aku rasa memang seperti itu, Paman," sahut Fak Tau.
Kemudian, ia melepaskan tali pedang yang menyanggul di punggung Fengying, dan meletakkan pedang tersebut di samping pembaringan Fengying.
"Dari penampilannya, pemuda ini seperti seorang pendekar pengelana," imbuh pria paruh baya itu sambil mengamati wajah Fengying yang dipenuhi noda darah yang sudah mengering bercampur pasir putih.
"Pedang miliknya sangat istimewa," desis Yuan Shao menyentuh pedang pusaka milik Fengying.
Alangkah kagetnya Yuan Shao ketika tangannya menempel di bagian selongsong pedang tersebut. Ada rasa panas dan getaran yang sangat dahsyat yang ia rasakan, sehingga darahnya seperti tersedot oleh kekuatan gaib dari pedang itu.
"Hai, Yuan Shao! Jangan gegabah kau, pedang itu memiliki energi negatif jika dipegang orang lain!" bentak pria paruh baya itu.
"Iya, Paman. Aku merasakan getaran yang sangat hebat ketika tanganku menyentuh pedang ini," sahut Yuan Shao mundur beberapa langkah.
"Sebaiknya kita bersihkan dulu noda darah di wajah pemuda ini. Setelah itu, langsung berikan obat, aku akan membuat ramuan dulu!" perintah Cuen kepada Yuan Shao dan Fak Tau.
"Baik, Paman," jawab kedua pemuda itu serentak.
Dengan demikian, Yuan Shao dan Fak Tau langsung merobek pakaian yang melekat di tubuh Fengying, mereka langsung membersihkan noda darah di wajah dan kepala Fengying.
Sementara itu, Cuen yang merupakan paman dari kedua pemuda tersebut, langsung berlalu menuju ke ruang dapur hendak mengolah ramuan tradisional untuk mengobati luka Fengying.
Beberapa saat kemudian, pria paruh baya itu sudah kembali ke ruang tengah. Yuan Shao dan Fak Tau baru saja selesai membersihkan tubuh Fengying dan mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih milik Yuan Shao.
"Balurkan ramuan obat ini ke bagian lukanya! Setelah itu, balut dengan kain bersih!" perintah Cuen kepada kedua keponakannya.
Fak Tau langsung meraih cawan yang berisi ramuan obat dari tangan pria paruh baya itu. Kemudian langsung membalurkan tumbukkan dedaunan tersebut ke bagian luka Fengying, dan langsung membalutnya dengan sobekan kain bersih.
"Naas sekali nasib pemuda ini," desis Cuen memandangi wajah Fengying yang masih dalam kondisi tak sadarkan diri. "Kira-kira, siapakah orang yang sudah tega menganiaya pemuda ini?" sambungnya berpaling ke arah Fak Tau dan Yuan Shao.
"Entahlah, Paman. Kami menemukan orang ini sudah dalam kondisi terluka parah di ujung muara pantai Lom Ing Hue," jawab Fak Tau.
"Paman curiga dengan anak buah Lau Tie, karena mereka adalah orang-orang yang gemar mengganggu ketentraman warga. Apalagi kalau ada pendatang singgah di desa ini," desis pria paruh baya itu mulai menduga-duga.
"Apakah Paman Cuen tahu tempat mereka?" timpal Yuan Shao menatap wajah pamannya.
"Maksudmu markas Lau Tie?"
"Benar, Paman." Yuan Shao menyahut.
Cuen tersenyum, kemudian menjawab, "Untuk apa kau tanya itu? Apakah kau mau ke sana untuk menghajar mereka?" Cuen balas bertanya sambil tersenyum-senyum.
"Tidak, Paman. Aku hanya menanyakan saja, siapa tahu—" jawab Yuan Shao terpotong oleh suara rintihan Fengying yang baru sadar dari pingsannya.
Ia pun menghentikan perbincangan tersebut, dan segera berpaling ke arah Fengying yang sudah siuman.
"Aku di mana? Kenapa kepalaku sakit sekali?" tanya Fengying sambil memegangi kepalanya yang terbalut kain putih.
Fengying berusaha bangkit. Namun, Cuen mencegahnya, "Jangan banyak bergerak dulu, Anak muda! Lukamu masih belum kering!"
Fengying kembali merebahkan tubuhnya. Dua bola matanya terus bergulir mengamati tiga orang asing yang ada di hadapannya itu. Lantas, ia pun bertanya, "Kalian siapa? Aku ada di mana?"
* * *