Malam telah larut, dari arah kamar mandi sebuah rumah mewah terlihat Zero, sedang mencuci tangan dan wajahnya yang berlumuran darah di washtafel.
Perlahan kedua tangan serta wajahnya mulai bersih, dan darah-darah tadi mengalir keujung washtafel hingga hilang sama sekali.
Entah kemana darah dari korbannya tadi mengalir selanjutnya.
“Mau sampai kapan? Mau sampai kapan lo kayak gini?!!!” Ucapnya sembari berkaca dan melihat wajahnya disana.
“Arghhhh!!! “ Serunya lagi sambil
memukul cermin hingga retak dan membuat darah mengalir deras dari tangannya.
Tiba – tiba terdengar sirine mobil polisi, gadis berambut panjang ini dengan sigap memakai topeng dan sarung tangannya kembali. Ia melangkah cepat bahkan setengah berlari menuju pintu belakang dan meninggalkan seorang pengusaha kaya yang
sudah tak bernyawa. Serta dua sandera digudang yaitu anak dan istri korban.
Kini Zero sudah jauh meninggalkan rumah tersebut. Dan kini lagi, lagi, dan lagi, Ia lolos dari kejaran polisi.
* * *
Matahari bersinar cukup terik siang ini, tapi itu tak membuat gadis manis berambut panjang dengan kulit putih pucatnya itu duduk di kursi taman sambil menyesap sepuntung rokok.
Pohon mangga yang cukup besar yang berada di area taman kampus ini, sudah lebih dari cukup menyelamatkannya dari sengatan matahari siang ini.
Tapi, tentu saja itu tak menyelamatkannya dari setiap pasang mata yang kini sedang melihat aneh kearahnya sambil mencibir.
Awalnya Ia santai saja dengan keadaan ini, karena ini bukan kali pertama itu terjadi. Tapi lama kelamaan ia mulai risih dengan semuanya. Perempuan bermata tajam yang terkenal kasar dimata anak-anak kampus ini mulai ambil sikap.
"Eh ... Lo ngomongin gue??" Tanyanya menghampiri salah satu mahasiswa yang juga berada ditaman, yang memang sedari tadi mencibir kearahnya.
Cowok berkacamata yang sedang bersama dua temannya yang lain ini mulai gugup, karena mengingat dia tak akan segan-segan pada siapapun yang mengganggu ketenangannya.
Dia juga tak pernah terlihat ramah pada siapapun. Bahkan Ia juga tak pernah berbicara santun pada dosen-dosennya. Dia adalah Arista Lucy. She's real a badgirl.
"Ng-Nggak, gue nggak ngomongin lo kok," jawabnya gugup.
"Jangan bohong lo!!" Bentak Arista sembari menarik kerah baju cowok tersebut.
"Serius Ta, kita nggak ngomongin lo, " ucap cowok berkacamata ini semakin terlihat cemas.
"Ahh ... basi lo !!!" Bentaknya kian keras, dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
Arista tengah bersiap mendaratkan bogem mentah kearah wajah cowok berkacamata yang ia anggap sudah mengganggu ketenangannya itu.
"Arista !!! Berhenti !!!" Teriak Kania sahabat karibnya dari kejauhan dan kini berjalan mendekat kearahnya. Teriakan itu sukses membuat Arista mengurungkan niatnya.
"Inget !! sekali lagi lo ganggu ketenangan gue, gue pasti'in lo bakal nyesel seumur hidup. PAHAM LO !!" Bisik Arista dengan kata-kata kasarnya pada cowok berkacamata tadi.
"Ta ... lo apa – apa 'an sih? Lepasin nggak?" Pinta Kania dan Arista mau tak mau menurut.
"Gue mau ngomong sama lo," ucap Kania sembari menarik lengan Arista. Lalu menyeretnya pergi begitu saja.
***
"Ngapain kita kesini???? " Tanya Arista dengan wajah heran, karena Kania menyeretnya penuh paksaan tadi hanya untuk ke toilet. Tempat ini jelas bukan tempat ternyaman untuk ngobrol.
Kania bukannya menjawab, Ia lebih memilih mencipratkan air ke wajah Arista, dengan air keran yang baru saja Ia ambil.
"Nia ... !" Arista tampak kaget bercampur kesal.
"Itu tujuan kita kesini?"
"Apa?" Arista masih tak mengerti dengan maksud dan arah pembicaraan sahabatnya itu.
"Ta, lo sadar nggak sih apa yang udah lo lakuin?"
Arista hanya memasang tampang tak peduli sembari mengeringkan wajahnya dengan tissue. Ini pasti masih soal sikap Arista saat di taman tadi. Huft ... Kania kadang terlalu cerewet.
"Lo tahu, lo bisa aja beneran di drop out dari kampus karena sikap kasar loe."
"Maksud Lo?"
"Tadi gue nggak sengaja ngedengarin pembicaraan dosen-dosen tentang lo. Lo kemungkinan bakal di DO kalau sikap kasar lo masih belum bisa berubah sampai bulan depan," terang Kania dengan raut wajah serius. Sangat serius.
"Gue nggak peduli. Lagian gue berani jamin palingan itu cuma gertak sambel doank," tutur Arista dengan sangat tenang sembari mengambil satu puntung rokok dan mulai ingin membakarnya.
"Ta, Ayolah. Dengerin gue sekali ini aja!!!" Kania mengambil paksa rokok tadi dari Arista, hingga membuat sahabatnya mengkerutkan dahi.
"Mereka nggak bakal bersikap lembut lagi sama lo. Dan ini, sampai kapan lo kayak gini. Lo nggak merhatiin kesehatan lo?" sambung Kania lagi sambil menunjukkan rokok yang tadi dia rebut tepat di depan muka Arista.
"Come on Ta, lo harus berubah dari sekarang. Nggak usah kasar lagi, dan berhenti ngerokok. Lo bisa kan lembutan dikit. Lo itu cewek, feminin dikit kek." Kania masih saja mengoceh.
"Oh ... jadi maksud lo, gue harus pake rok, highheels trus pake bando kayak lo ini, iya???" Terka Arista karena Kania memang sosok cewek feminin, berbanding terbalik dengan Arista yang tomboy dan urakan.
"Ya ... bisa dibilang gitu sih. Tapi kalau lo nggak mau feminim dikit, paling nggak lo tu bisa lembut dan ramah dikitlah sama orang"
"Gitu ya??? " Tanya Arista dengan nada mengejek.
Iya!" Jawab Kania ketus karena sikap tak peduli Arista.
Namun Kania beruntung karena Arista tak pernah bersikap dingin apalagi kasar padanya. Sikapnya yang dingin yang selalu ia tunjukkan pada orang lain, tak pernah terlihat saat dia bersama sahabatnya.
" Udah Ah, gue nggak betah lama – lama di toilet, gue cabut dulu." Arista mulai melangkah keluar. Agak malas melanjutkan topik obrolan yang saban hari hampir sama itu.
"Tunggu dulu"
"Apa lagi sih Nia???"
"Mana rokok lo?"
"Lo mau ngapain minta rokok gue?" tanya Arista dengan muka kecut
"Sini'in nggak rokok lo"
"Iya ... iya ... nih." Arista memberikan satu kotak rokok miliknya pada Kania.
"Yang lainnya mana?" Tanya Kania lagi.
"Udah nggak ada."
"Lo jangan bohong, Ta. I know who you are Arista Lucy."
"Iya ... nih. Ini yang terakhir. Puas lo!" Ale memberikan 2 puntung rokok yang ada di dalam saku kemejanya.
"Bagus. Ya udah yuk kita keluar."
Arista menghela nafas sejenak dengan tujuan agar emosinya cepat memudar. Dia memang jauh lebih sabar menghadapi sikap Kania dibanding menghadapi orang lain yang membuatnya selalu temperamen tinggi.
Itu karena Arista sudah menganggap Kania sebagai saudaranya sendiri. Setelah kepergian Ibunya dan menghilangnya sang Ayah serta Alfi saudaranya 7 tahun lalu, Arista tak punya siapa – siapa lagi selain Kania sahabat karibnya yang selalu menemani.
Drrttt ... drttt ...
Ponsel Arista yang bersemayam di dalam saku jeans belelnya, bergetar. Arista merogoh saku, lalu mendapati satu panggilan masuk dari nomor pribadi terpampang di layar datar ponsel miliknya.
"Private number? Lagi?" tanya Kania yang ternyata ikutan melirik ponsel Arista. "Perasaan, lo sering banget dapat telepon dari private number, Ta. Lo beneran nggak tahu itu siapa?"
"Iya lah. Nggak penting juga." Sahut Arista santai. Teramat santai untuk seseorang yang gampang emosian dengan hal sepele.
"Tapi ... bukannya, lo orang yang gampang risih ya? Emang lo nggak sebel di teleponin orang iseng kek begitu? Mana pake private number pulak."
“Biarinlah. Toh nggak pernah gue angkat juga.”
"Saran gue sih ya, mending lo ganti nomor deh." Kania masih saja nyerocos. Yup ... as always.
"Hm ... gue pikirin nantilah," sahut Arista. Bukan berarti dia setuju, dia hanya tak ingin mendengar ocehan Kania yang tak berkesudahan itu.
Bukan apa-apa, sejak Kania tahu, kalau ponsel Arista sering mendapat panggilan telepon dari nomor tak di kenal seperti ini, Kania adalah orang yang paling cerewet dan paling berpikiran aneh-aneh.
Bahkan, dia pernah bilang kalau orang yang terus menelepon dengan private number itu, mungkin saja pengagum rahasia Arista yang sangat obsessed tapi juga pengecut.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Arista mungkin tak mengenal siapa yang meneleponnya, tapi dia cukup tahu apa yang harus dia lakukan saat telepon dengan private number itu masuk ke ponselnya.
Itu artinya, ada pekerjaan untuknya.
* * *
"Aristaaaa .... " Teriak Kania pagi ini mengagetkan Arista yang sedang asyik tidur-tiduran dikursi taman kampus.
"Ta, bangun." Perintah Kania saat kini, Ia sudah berada di hadapan Arista.
Dengan sangat terpaksa gadis ini bangun. Melihat kini ada space kosong, Kania langsung memilih duduk di sampingnya.
"Ngapain sih lo teriak pagi – pagi ??" Arista melayangkan protes. Pasalnya, dia sungguh sedang sangat mengantuk karena semalam dia baru bisa tidur tepat di jam 3 pagi..
"Ini ada berita tentang Zero lagi. Dia beraksi lagi semalam. Korbannya kali ini, Anak pengusaha yang tempo hari kena skandal main serong sama istri orang, Ta."
Arista hanya diam, memilih fokus mendegarkan daripada menyela ucapan Kania yang selalu antusias dan berapi-api jika muncul berita tentang Zero.
"Gila ... jumlah korbannya udah fantastis banget menurut gue, Ta. Padahal dia baru muncul sekitar 3 tahun lalu. Woah ... nih orang benaran udah psiko sih."
"Psiko? Tapi bukannya, dia juga ngebunuh orang yang punya track record jelek ya? Bukannya itu malah bagus, itung-itung ngeringanin kerjaan polisi."
Kania yang mendengar jawaban yang cukup di luar nalar itu, reflek memandangi wajah Arista. "Ckckck ... lo sekalinya mau komentar bikin gue merinding tahu nggak."
"Kenapa? Gue cuman menyampaikan perspektif gue tentang kasus yang selalu bikin lo heboh sendiri itu."
"Iya juga sih. Tapi kayak nggak mungkin aja, motifnya ngebunuh cuman karena orang itu punya track record jelek."
" ... "
"Feeling gue sih, dia punya dendam sama orang-orang itu. Lihat aja, dia selalu ninggalin mawar hitam di TKP. Tujuannya, pasti buat nakut-nakutin target dia selanjutnya."
Arista menghembuskan nafas kasar,"Orang-orang itu cuman jadi batu loncatan dia buat nemuin targetnya. Makanya, dia ninggalin mawar hitam di TKP."
"Ha?" Kania terlihat cengo kali ini. Entah karena dia tak mengerti atau karena dia kaget mendengar pernyataan Arista barusan.
Pasalnya, Arista terkesan sangat mengenal siapa sosok perempuan di balik topeng hitam itu,
"Udahlah Nia, masalah ini tu udah ada yang mikirin. Jadi ... Lo nggak usah repot-repot dan banyak menduga-duga kayak gitu," ucap Arista lagi yang sebenarnya sudah malas mendengar semua ocehan Kania perihal Zero.
"Tapikan ... Ta, gue tu jadi dongkol sendiri sama si Zero Zero ini. Susah amat gitu ditangkapnya, udah kayak belut aja licin banget."
"Udah ah, gue cabut dulu." Arista berniat beranjak pergi karena Kania tampaknya masih ogah mengganti topik. Membosankan sekali.
"Mau kemana?? Bukannya kita masih ada 1 kelas lagi??"
"Ada urusan sedikit, lagian gue lagi males masuk kelas."
"Arista ... !" Sepasang mata Kania langsung melotot, setelah mendengar sahabatnya itu ingin bolos kelas. Masalahnya, Arista sudah terlalu sering melakukan itu.
"Apa? Mau ngomel-ngomel lagi? Ntar cepat tua lo. Mau lo keriput duluan sebelum married sama Prince Rama lo itu?"
"Ihhh ... nggak mau lah." Kania mencebik sambil memegangi wajahnya. Khawatir kalau apa yang di katakan Arista sungguh kejadian.
Arista hanya terkekeh melihatnya. " Udah Ah, mau lo larang kayak gimanapun gue tetap mau cabut. Bye...."
Arista kini berlalu pergi, meninggalkan Kania yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya yang paling susah diatur itu.
* * *
Hari mulai menjelang sore, Arista terlihat tak karuan menggeledah seluruh isi lemari yang ada dikontrakannya.
Dengan muka pucat dan keringat dingin serta mata yang agak merah, tak ubahnya seperti orang yang sedang sakau. Arista mencari sesuatu yang ia butuhkan kesana kemari.
Keadaan kamar yang pada awalnya rapi. Hanya dalam waktu 10 menit berubah berantakan tak ubahnya seperti kapal pecah.
"Arghhh ...!" Pekik Ale kesal. "Di mana barangnya?!"
Saat ia mulai kesal dan kebingungan, Kania tiba-tiba muncul dan menghampirinya. Entah sejak kapan, Kania sudah berada di rumahnya.
"Ta, lo nyari'in ini???" Tanya Kania dan menunjukkan 1 botol pil yang ia temukan dikamar Arista. "Tadinya, gue ke sini cuman mau mastiin lo buat berhenti ngerokok. Tapi, ternyata gue malah nemuin sesuatu yang jauh lebih parah."
"Kania, balikin itu ke gue," ucap Ale dengan tubuh gemetar seperti orang menggigil kedinginan.
"Nggak." Jawab Kania tegas.
"Le ... lo bilang, lo nggak bakal ngedrugs lagi. Tapi nyatanya apa?? Lo bohong sama gue," tutur Kania kesal dengan mata berkaca-kaca.
Ketimbang perasaan marah, rasa prihatin dengan kehidupan sahabatnya yang perlahan hancur berantakan itu, justru lebih mendominasi.
"Please ... Nia, balikin. Gue bener-bener lagi butuh itu sekarang," mohon Arista dengan amat sangat.
"Nggak ... kalau gue balikin ini sama lo. Lo nggak bakal bisa berhenti!" Tegas Kania lagi tanpa kompromi.
"Nia, please!"
"Baru aja 1 minggu yang lalu, lo janji sama gue kalau lo nggak bakal ngedrugs lagi. Tapi nyatanya apa? Lo masih make Le, lo masih sama kayak yang dulu," ucap Kania lagi dengan linangan air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Nia ... gue mohon balikin itu sama gue. Please," kata Arista lagi dengan nada berat, dan tubuh kian menggigil.
"GUE BILANG NGGAK!!" Satu bentakan keras terlontar begitu saja dari mulut Kania. Dia jelas tak ingin Arista semakin hancur.
"Nia ... please!"
"Ini semua gue lakuin demi kebaikan lo, Ta." Suara Kania terdengar gemetar lantaran dia masih tak kuasa menahan tangisannya.
Arista mendadak terkekeh, "Kebaikan gue? Kebaikan seperti apa? Hidup gue udah hancur. Udah nggak ada yang bisa diperbaikin lagi."
" .... "
"Dan ... buat apa? Buat apa lagi lo peduli sama kehidupan gue? Bukannya, dari awal lo udah tahu, sebesar apapun kepedulian lo, nggak ada yang bisa ngobatin luka masa lalu yang pernah gue alamin."
" ... "
"Lo cuman ngebuang waktu loe jadi sia-sia karena terlalu peduli sama gue."
"Itu karena gue temen lo, Ta. Gue sahabat lo. Apapun yang gue lakuin, gue cuman mau yang terbaik buat lo."
"Lo emang sahabat gue. Tapi lo nggak berhak ngatur kehidupan gue!" Bentak Arista sambil mendorong tubuh Kania, hingga sukses membuat gadis itu mundur beberapa langkah.
"Ta, gue-."
"Gue bukan boneka lo, yang bisa lo atur, dan lo bawa kemana aja sesuka hati lo!" Bentak Ale kian keras.
Kania sempat kaget mendengar Arista membentaknya, bahkan dengan tatapan penuh amarah seperti itu.
Selama mereka bersahabat, baru kali ini Kania melihat Arista marah sebesar itu padanya. Entah itu karena pengaruh obat – obat terlarang itu atau karena Arista merasa gerah lantaran selalu di hujani nasehat oleh Kania.
"Sekarang balikin pil itu sama gue." Arista merampas botol pil tadi dari tangan Kania
Sementara Kania? Dia masih terpaku di tempat. Mulutnya masih membisu. Mungkin dia shock melihat sikap kasar Arista barusan.
"Mulai sekarang lo jangan pernah ganggu hidup gue lagi." Ucap Ale setelah Ia berhasil menelan pil yang merusak pikiran dan tingkah lakunya itu.
"Oh ... gitu? Tanya Kania dengan rasa tak percaya. "Ok, Fine. Gue ikutin apa mau lo. Gue nggak bakal peduli lagi sama lo. Gue kecewa sama loe, Ta." Tutur Kania dengan mata berkaca – kaca.
Kania pergi dengan rasa kecewanya. Sementara itu, Arista hanya diam terpaku disisi tempat tidurnya.
Perlahan bulir – bulir air mata yang bening itu jatuh membasahi pipinya. Terlihat ia sangat menyesali apa yang sudah Ia lakukan.
Apa yang udah lo lakuin, Ta?
***
Keesokan harinya dikampus, Arista berusaha mencari Kania untuk minta maaf. Setelah dicari kesana kemari ternyata Kania sedang berada di kantin.
Namun Arista mendapati pemandangan tak mengenakkan. Kania kini sedang di ganggu oleh 3 orang pemuda bertato. Dari tampang sangar dan kelakuannya yang sangat tidak sopan terlihat jelas kalau ketiganya bukan mahasiswa di sini.
"Eh ... lo temennya Arista Kan?" tanya salah seorang dari lelaki itu dengan raut wajah serius.
"Kalian siapa?" Tanya Kania terlihat ketakutan.
"Kita mau nagih utang sama dia. Sekarang dimana dia?"
"Gue nggak tahu," sahut Kania jujur.
"Bos, nih cewek cakep juga. Gimana kalau dia kita bawa ke markas sebagai jaminan cewek nggak tahu diri itu," usul salah satu pria bertato ini namun terlihat agak cungkring itu dengan senyum licik.
"Benar juga, lo ikut kita." Paksa mereka lalu menggenggam erat pergelangan tangan Kania.
"Kania!" Arista yang sedari tadi memperhatikan dari koridor mulai terlihat panik.
Saat ketiga pemuda sangar itu mulai keterlaluan dan bertindak tidak sopan, Arista ingin menghampiri. Tapi ... baru saja kakinya melangkah, tiba-tiba Rama, kekasih Kania datang menyelamatkan Kania.
Arista mengurungkan niatnya. Walau sejujurnya, dia sangat ingin menghajar orang-orang itu. Arista mencoba menahan diri dan memilih jadi penonton. Ia sadar, jika ia kesana sekarang Rama hanya akan melampiaskan semuanya pada Arista.
Arista paham betul, kalau Rama tak pernah menyukai Kania berteman dengan dirinya. Salah satu alasannya, ya karena apa yang terjadi sekarang.
Kehidupan Arista terlalu berantakan, hingga dia harus terus terlibat dengan para preman-preman itu.
Dengan mata kepalanya sendiri, Arista melihat perkelahian antara Rama dan tiga orang tadi. Keadaan kantin seketika riuh dengan suara histeris orang-orang yang kaget melihat adegan baku hantam bak film action itu.
Bahkan, tak ada satupun yang berniat membantu Rama lantaran diliputi perasaan takut. Melihat Rama mulai kewalahan menghadapi ketiganya, Arista memutuskan untuk turun tangan Ia tak ingin Rama dan Kania lebih celaka lagi jika Ia hanya terus diam jadi penonton.
Walau hanya berdua akhirnya mereka berhasil membuat para pria bertato itu menyerah dan meninggalkan kantin. Namun dengan hasil wajah babak belur.
"Nia, kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Rama sambil mengusap darah dari sudut bibirnya dengan ibu jarinya.
"Nggak, aku nggak apa-apa . Kalau kamu gimana?" Raut wajah Kania masih terlihat panik. Terlebih lagi mendapati wajah kekasihnya yang agak lebam di area matanya.
"Aku baik-baik aja kok. Kamu tenang aja," sahut Rama mencoba menenangkan.
Ia kemudian datang menghampiri Arista yang tengah bersiap meninggalkan kantin dengan hidung berdarah dan wajah penuh memar.
"Lo liatkan? Gara-gara lo, Kania hampir aja celaka." Tuding Rama dengan tatapan tak bersahabat.
Arista memilih diam, dan sama sekali tak berusaha untuk menyanggah itu. Menurutnya, itu adalah sebuah kebenaran.
"Rama udahlah ini semua nggak ada hubungannya sama Arista."
"Tolong jaga Kania baik-baik," ucap Arista dan kemudian berlalu pergi.
Melihat apa yang terjadi hari ini, sepertinya memang lebih baik mereka tidak berhubungan lagi. Arista tak ingin keberadaannya turut menghancurkan kehidupan sahabatnya yang tidak bersalah sama sekali.
***
Kania hanya bisa meringis memandangi luka di sudut bibir Rama yang sedang dia obati. Kania yakin, walau itu cuman luka kecil, namun rasanya pasti sangat perih.
Kania mencoba membubuhkan antiseptik dengan bantuan kapas ke arah luka Rama. Walau Kania sudah melakukannya dengan sangat hati-hati, Ia bisa mendengar ringisan Rama sesekali.
"Pasti sakit ya?" tanya Rama terdengar agak aneh menurut Kania. Harusnya Kania kan yang bertanya seperti itu?
"Ha? Bukannya aku ya yang harus ngomong kayak gitu? Kan kamu yang luka."
"Maksud aku, soal Arista."
"Arista?"
Rama mengangguk,"He-em. Pasti rasanya sakit banget, ngeliat sahabat kamu yang udah mati-matian coba kamu nasehatin ini dan itu, tapi dia tetap keras kepala."
"Dia jauh lebih terluka di banding Aku, Ram." Raut wajah Kania seketika berubah sendu.
" .... "
"Hidup yang dia jalanin, jauh lebih berat. Aku bersyukur, dia masih mau bertahan sampe sekarang."
" .... "
"Ya ... walaupun dia terus nyoba buat mengacaukan hidupnya sendiri. Seenggaknya, dia nggak berpikiran buat mengakhiri hidupnya seperti beberapa tahun lalu."
"Nggak peduli hidupnya sekacau apa. Dan seberapa parah luka yang dia dapat dari masa lalu. Dia tetap nggak punya hak buat mengacaukan hidup kamu juga," ucap Rama dengan nada tegas.
"Ram, Arista tu nggak kayak gitu."
"Nggak kayak gitu?" tanya Rama menatap Kania dengan tatapan tak percaya. "Kamu mau kejadian di kantin tadi keulang lagi? Kalau aja aku telat datang, aku nggak tahu mereka bakal ngelakuin hal jahat apa sama kamu," sambung Rama lagi sambil geleng-geleng kepala. Tak sanggup membayangkan hal buruk yang mungkin akan menimpa kekasihnya itu.
" .... "
"Kamu pasti jauh lebih tahu, seberapa buruk pergaulan Arista di luar sana Kania. Jadi please, buka mata kamu. Berhenti memaklumi semua kesalahan yang dia lakuin cuman karena dia punya luka di masa lalu."
"Rama, aku tahu kamu khawatir. Tapi-."
"Pokoknya, aku nggak mau kamu terlibat sama dia lagi. Apa yang kamu lakuin selama ini, itu udah lebih dari cukup. Salah dianya sendiri yang batu, dan nggak mau dengarin orang lain," sela Rama kian mempertegas keinginannya, agar Kania menjauhi Arista.
Kania tak lagi membantah kali ini. Dia hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tahu persis seberapa besar kekhawatiran Rama pada dirinya, tapi di satu sisi dia juga tak bisa mengabaikan sahabatnya.
Arista tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya Kania yang selama ini bersamanya. Lantas, jika Kania juga meninggalkannya, apa yang akan terjadi dengan kehidupan gadis itu?
Ahhh ... Kania tak sanggup membayangkannya.
***
Hari mulai sore, Ale melangkah gontai memasuki gang kecil tempat kontrakannya berada. Tatapannya lurus kedepan, langkah kakinya pelan seperti tak kuasa melangkah.
Satu puntung rokok nyaris habis ia hisap sepanjang perjalanannya tadi. Namun, setibanya ia didepan kontrakan, Ia disambut oleh kehadiran tiga preman yang datang kekampusnya tadi.
Ck ... tindakan mereka sangat mudah sekali di tebak.
"Ngapain lo semua ada disini? Tanya Arista sembari membuang puntung rokoknya.
"Mau nagih utang lagi?? Gue udah bayar semua utang gue sama bos lo pulang dari kampus. Jadi lo bertiga jangan pernah ganggu gue dan teman-teman gue lagi. Enek gue ngeliat tampang lo semua," ujarnya dengan sinis.
Ketiganya masih diam dengan tatapan datar. Entah apa lagi tujuan mereka menemui Arista. Sepertinya, mereka telat mendapat update informasi dari Bos besarnya.
"Gue mau istirahat mending lo bertiga pulang, sebelum emosi gue naik," titah Arista lagi sembari mengarahkan anak kunci ke arah pintu. Berniat masuk ke rumah.
Namun, belum juga pintu dibuka. Arista tiba-tiba di bekap dengan sapu tangan dari belakang oleh salah satu dari mereka.
Arista mencoba memberontak, tapi obat bius yang terhirup olehnya kini membuatnya lemah tak berdaya. Hingga akhirnya tak sadarkan diri.
***