"Perkenalkan, ini adalah Esther, istriku. Perlakukan dia dengan baik dan jangan sampai ada yang menyakitinya karena hanya aku yang boleh melakukannya. Apa kalian mengerti?"
Felix, pria berusia 27 tahun ini baru saja memperkenalkan Esther di depan seluruh pelayan yang ada di kediamannya. Sebuah perkenalan yang membuat semua pelayan merasa kasihan pada Esther, sebab mereka sudah bisa menebak akan seperti apa nasib Esther di sini.
Esther hanya bisa terdiam saat Felix memperkenalkannya sebagai istri. Esther hanya bisa meremas gaunnya dengan begitu kuat agar tidak menangis di sini. Ini bukanlah pernikahan yang Esther inginkan. Diusianya yang baru menginjak 22 tahun, Esther memiliki banyak hal yang ingin ia lakukan, tapi sekarang ia harus berakhir sebagai istri Felix demi menyelamatkan ayahnya dari rencana jahat Felix yang ingin balas dendam atas kematian adiknya.
"Ini adalah malam pertama kita, jadi lebih baik kita segera pergi ke kamar pengantin." Felix kini meraih tangan Esther dan menyeretnya menuju ke lantai dua di kediamannya.
Felix membuka pintu dari kamar yang telah dihias dengan begitu cantik, kemudian mendorong Esther ke ranjang dengan sangat kasar. Felix kini ikut naik ke ranjang, ia berada di atas Esther dan meraih dagu Esther untuk ia cengkeram dengan begitu kuat.
"Kau tahu apa posisimu yang sebenarnya, 'kan? Kau adalah pelacurku, maka bersikap selayaknya pelacur dan layani aku dengan baik," tegas Felix yang di saat bersamaan semakin mencengkeram kuat dagu Esther.
Felix kini menyingkir dari atas Esther, kemudian berbaring di ranjang. "Lepaskan semua yang ada di tubuhmu, lalu layani aku. Jika kau tidak bisa membuatku merasa puas, maka aku akan menghukummu," ucap Felix setelahnya.
Esther lagi-lagi meremas gaunnya dengan begitu kuat. Esther tidak mau berakhir seperti ini, ia ketakutan, tapi di sisi lain ini adalah hukuman yang harus ia terima atas tindakannya 5 tahun yang lalu. Sebuah tindakan yang sangat Esther sesali karena membuatnya berakhir sebagai seorang pembunuh dan pasien rumah sakit jiwa.
"Kau akan melakukannya sendiri atau perlu bantuanku?" Felix tampak tidak sabar.
"Aku akan melakukan apa saja, asal jangan–" Kalimat Esther terhenti karena Felix yang tiba-tiba turun dari ranjang dan menarik rambutnya dengan begitu kuat. Tidak cukup sampai di sana, Felix kini memberikan tamparan keras pada Esther yang membuatnya jatuh tersungkur.
Melihat Esther yang tersungkur dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah tidak membuat Felix merasa kasihan. Felix justru kembali menarik rambut Esther dan memaksanya untuk kembali berdiri.
Karena Esther tidak mau membuka gaunnya sendiri, maka Felix kini membuka gaun Esther dengan paksa. Beberapa bagian dari gaun indah itu tampak rusak, tapi Felix tampak tidak peduli dengan hal itu. Setelah semua kain lepas dari tubuh Esther, Felix kini melepaskan dasi yang ia gunakan dan mengikat kedua tangan Esther dengan begitu kuat.
Felix menaikan kedua tangan Esther ke kepalanya, kemudian pandangannya menyebar untuk menatap setiap sisi dari tubuh Esther. Bahkan jika Felix membenci Esther dengan segenap hatinya, tapi ia tidak bisa bohong bahwa tubuh Esther sangat indah. Bibirnya yang ranum, kulit yang putih bersih, dan jangan lupakan dadanya yang memiliki ukuran yang sempurna untuknya.
"Felix, tolong jangan–" Kalimat Esther lagi-lagi terpotong, kali ini karena Felix kembali menamparnya dan memperparah luka pada sudut bibirnya.
"Felix katamu? Bicaralah dengan lebih sopan padaku. Panggilan aku tuan Felix! Sekali kau bicara tidak sopan padaku, maka aku akan kembali menamparmu," ucap Felix dengan tangannya yang mencengkeram dagu Esther.
"Maafkan saya, Tuan Felix. Tolong ... ahhkk! Sakit ...." Esther mengerang kesakitan karena Felix tiba-tiba memasukan dua jarinya ke dalam lubang Esther yang masih kering.
Felix tersenyum melihat Esther yang kesakitan. Felix mulai menggerakan jarinya dengan gerakan cepat yang membuat Esther semakin kesakitan. "Kenapa? Apakah ini sangat sakit?" tanya Felix tepat di telinga Esther.
"Tolong hentikan, Tuan," mohon Esther dengan suara lirihnya. Esther sungguh tidak merasakan kenikmatan yang dikatakan oleh banyak orang.
Felix menghentikan aksinya kali ini, tapi bukan berarti karena ia kasihan pada Esther. Felix melepaskan semua pakaiannya, kemudian memasukan miliknya yang telah menegang ke dalam mulut Esther. Felix menekan kepala Esther agar miliknya bisa masuk dengan lebih dalam tanpa peduli pada Esther yang tampak kesulitan karena milik Felix menyentuh tenggorokannya.
"Kau benar-benar pelacur rendahan!" ucap Felix sembari tertawa dan terus memaju mundurkan miliknya sembari menekan kepala Esther.
Esther mencoba menghentikan Felix karena ia merasa sangat tersiksa dengan tindakan kasarnya, tapi tidak banyak yang bisa Esther lakukan dalam keadaan kedua tangan yang terikat. Felix bisa dengan mudah meraih tangannya dan menghentikannya.
Felix kini mengeluarkan miliknya dari mulut Esther, kemudian kembali memasukan jarinya ke dalam milik Esther. Walau miliknya sudah terasa cukup basah, tapi Esther masih merasakan sakit karena Felix bermain dengan kasar.
Jika wanita lain menganggap malam pertama adalah masa yang mendebarkan, maka Esther menganggap ini adalah hari paling menakutkan dalam hidupnya. Felix tidak hanya memainkan jarinya dengan kasar, tapi Felix menjadi lebih kasar ketika memasukan miliknya.
Felix masuk dalam sekali hentakan, sementara tangannya berada tepat di leher Esther. Felix sesekali mencekik leher Esther, kemudian tersenyum saat melihat Esther yang mulai kesulitan bernapas. Felix juga mencium bibir Esther dengan begitu kasar bahkan sampai menggigitnya dan berakhir terluka.
"Akhh!" Desahan panjang Felix menggema ketika ia akhirnya mencapai puncak kenikmatannya. Felix keluar di dalam mulut Esther dan terus menekan kepala Esther sampai ia menelan habis semua cairan yang dimuntahkan di dalam sana.
***
Ketika bangun di pagi hari, Esther tampak menatap pantulan wajahnya di cermin yang ada di dalam kamar mandi. Ada luka di sudut bibirnya, tepat di bibir bagian bawahnya, serta masih ada tanda merah di pipinya bekas tamparan Felix semalam. Pergelangan tangan Esther juga tampak memerah karena begitu kuatnya ikatan Felix semalam.
Tidak hanya luka, tapi Esther juga merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama perih di daerah intimnya karena Felix melakukan penetrasi berkali-kali dan semuanya selalu kasar. Esther sampai kesulitan berjalan karena rasa sakit dan perih di bawah sana.
Esther mengikat tali bathrobe yang ia gunakan sembari menangis. Esther mencoba untuk kuat karena ini adalah hukumannya, tapi ia tetap tidak bisa menerima perlakuan Felix padanya. Kalau saja bisa, maka Esther akan kembali ke masa lalu, kemudian ia tidak akan menghadiri pesta, tidak minum terlalu banyak, dan berakhir membunuh Fiona–adik Felix.
"Maafkan aku, Fiona. Aku sungguh tidak sengaja melakukannya." Tubuh Esther kini merosot ke lantai dan tangisannya menjadi semakin kencang.
Tidak lama, Esther dibuat kaget oleh pintu kamar mandi yang tiba-tiba terbuka dan ia memang lupa mengunci pintu tadi. Kini, Esther melihat Felix yang masuk dengan membawa pisau yang tampak begitu mirip dengan pisau yang membuat Fiona kehilangan nyawanya. Esther seketika berdiri dan bergerak mundur karena merasa takut pada Felix.
"Tuan Felix, apa yang–" Kalimat Esther tertahan karena ujung pisau di tangan Felix telah menyentuh lehernya. Esther tidak bisa mundur lagi karena tubuhnya sudah bersentuhan dengan wastafel.
"Katakan, bagaimana caramu membunuh Fiona? Kau selalu mengatakan tidak ingat bahkan menyangkalnya, tapi kau mengingatnya, 'kan?" ucap Felix yang terus menekan ujung pisaunya ke leher Esther.
"Saya sungguh tidak mengingatnya. Saya tidak mengingat kejadian malam itu." Esther menangis di depan Felix. Esther juga mulai merasakan sakit karena ujung pisau itu mulai melukai kulitnya.
"Dasar pelacur rendahan. Kau mati saja!" Felix mengangkat pisaunya dan menikam leher Esther.
"Jangan bunuh aku!" Esther berteriak kencang, lalu membuka matanya.
Kini, Esther menyadari kalau ia baru saja bermimpi tentang Felix yang mencoba membunuhnya. Esther langsung duduk di ranjang dan mencoba mengatur napasnya. Pandangan Esther kini mengarah ke arah cermin dan melihat kalau kondisi tubuhnya tidak berbeda dengan di dalam mimpinya, bahkan rasa sakit bagian intimnya juga sama.
Esther mendengar suara pintu yang terbuka dan ia melihat Felix yang keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Walau tadi ia hanya bermimpi, tapi Esther merasa kalau Felix bisa saja melakukan hal yang sama padanya. Ada dendam yang membara dalam diri Felix yang bisa meledak kapan saja.
Felix yang menyadari kalau Esther selalu menatapnya, kini tampak mendekati Esther, lalu mencengkeram dagunya dengan kuat. "Apa yang kau lihat?" ucapnya.
"Sakit, Felix. Tolong lepaskan," mohon Esther, tapi ia malah memdapatkan tamparan keras dari Felix.
"Sudah kubilang, 'kan? Bicara dengan sopan padaku! Apa kau belum mengerti juga?" ujar Felix setelah menampar wajah Esther.
"Maafkan saya." Esther bicara dengan suara yang bergetar dan ia menundukan kepalanya di depan Felix.
Felix kembali mencengkeram dagu Esther dan membuat Esther menatap ke arahnya. "Bagus sekali, tapi ingatlah jika segala hal yang terjadi di rumah ini sampai terdengar ke telinga orang lain karena perbuatanmu, maka aku akan benar-benar menghancurkan seluruh keluargamu karena mereka harus menebus semua dosamu." Cengkeraman Felix menjadi lebih kencang saat ia mengancam Esther.
"Bersiap-siaplah karena kita harus mengunjungi suatu tempat hari ini. Kau pasti akan menyukai tempat itu." Felix melepaskan dagu Esther dan setelahnya mulai bersiap-siap sembari sesekali melirik ke arah Esther.
Esther merasa sangat takut sekarang, sebab Felix tidak mungkin sungguh membawanya ke tempat ia sukai. Lalu, ke mana Felix akan membawanya?
***
Untuk menutupi memar di wajahnya, maka Esther keluar dengan memakai riasan wajah dan mencoba berjalan dengan normal karena akan sangat memalukan jika orang lain tahu apa yang terjadi padanya semalam.
Saat ini, Esther sudah ada di dalam mobil Felix yang ia sendiri tidak yakin ini akan membawanya ke mana. Felix yang mengemudi di sebelah Esther tidak mengatakan apa-apa sejak tadi. Sampai akhirnya mobil Felix memasuki sebuah kawasan yang tidak asing bagi Esther bahkan meninggalkan trauma yang mendalam untuknya, yaitu sebuah rumah sakit jiwa tempat ia dirawat selama satu tahun lamanya.
"Kenapa kita datang ke sini?" tanya Esther yang tampak ketakutan. Esther berpikir kalau Felix akan memasukannya ke tempat ini dan itu membuatnya semakin takut.
"Kenapa kau begitu takut? Bukankah seharusya kau senang karena aku membawamu ke tempat yang meninggalkan banyak kenangan untukmu? Bukankah tempat ini yang membuatmu lepas dari hukuman?" Felix tersenyum pada Esther, tapi itu sama sekali tidak terlihat seperti senyuman yang baik.
Felix sedang membuat Esther mengingat ketika ia dinyatakan memiliki gangguan kejiwaan yang membuatnya tidak bisa dipenjara dan dijatuhi hukuman yang seharusnya. Felix yakin kalau itu adalah cara Devan–ayah Esther untuk menjauhkan Esther dari hukuman, sebab ia mencari tahu segala hal tentang Esther dan tidak pernah ada catatan yang menunjukan bahwa Esther menerima perawatan untuk masalah kejiwaannya.
Namun, Felix cukup terkejut mengetahui bahwa Devan mengambil langkah tidak biasa seperti itu. Mungkin Devan tidak benar-benar menyayangi Esther atau itu juga mungkin hukuman Devan untuk Esther. Apa pun itu Felix hanya ingin membuat mental Esther benar-benar hancur dan membuatnya menjadi gila sungguhan.
"Saya tidak bisa masuk ke sana. Saya ingin pulang. Tolong bawa saya pulang," mohon Esther.
Felix kini turun dari mobil, lalu membuka pintu mobil untuk Esther dan memaksanya untuk keluar. Felix tidak peduli berapa kali Esther menolak, ia tidak akan pernah melepaskan Esther. Felix kini menarik Esther untuk masuk ke dalam gedung rumah sakit jiwa tempatnya dulu dirawat.
Beberapa perawat dan dokter yang ada di rumah sakit ini melihat Felix yang menarik Esther dengan paksa, tapi mereka tidak melakukan apa-apa bahkan terkesan seperti mengabaikan sikap kasar Felix pada Esther.
Felix membawa Esther ke ruangan yang menjadi tempat beristirahatnya selama ia dirawat dulu. Esther didorong sampai terjatuh begitu ponselnya diambil paksa dari dalam tasnya dan setelahnya Felix keluar, kemudian mengunci pintu.
"Buka pintunya! Keluarkan aku dari sini!" Teriakan Esther terdengar begitu jelas yang membuat Felix harus memakai airpods agar tidak mendengar teriakan Esther sembari berjalan menjauhi ruangan itu.
"Biarkan dia tetap di sana sampai aku kembali." Felix sempat bicara pada salah satu perawat yang ia temui di lorong rumah sakit dan perawat itu mengangguk pelan sebagai isyarat bahwa ia akan mematuhi semua perintah Felix.
Sementara di dalam, Esther terus menangis sembari menggedor pintu dan memanggil nama Felix berulang kali. Esther begitu histeris karena ingatan tentang perlakuan buruk yang ia terima di ruangan ini kembali terlintas begitu jelas dalam benaknya. Orang-orang menyebut ini adalah rumah sakit terbaik, tapi Esther tidak mendapatkan perlakuan baik yang dibicarakan oleh orang lain atau pihak rumah sakit.
Awalnya, Esther diberitahu oleh ayahnya bahwa dengan masuk ke rumah sakit jiwa adalah satu-satunya cara untuk menghindari hukuman berat karena telah membunuh Fiona. Esther diberitahu bahwa ia bisa beraktivitas normal di sini, sebab masuk ke rumah sakit jiwa hanyalah sebuah sandiwara.
Esther seharusnya berada di rumah sakit jiwa hanya untuk dua bulan saja, lalu setelahnya pergi ke luar negeri. Lalu, keadaan mulai berubah hanya dalam waktu tiga minggu saja, yaitu Esther mulai mendapatkan perlakuan tidak baik di sini, tapi ayahnya tidak percaya saat Esther beritahu dan pihak rumah sakit justru menunjukan sebuah video rekaman CCTV ketika Esther bertingkah aneh dan ingin menyerang seorang perawat tanpa sebab. Sementara Esther tidak ingat kapan ia melakukan hal itu.
Sejak hari itu, Esther tahu bahwa ayahnya menganggapnya sungguh memiliki gangguan mental yang membuatnya harus hidup di sini selama satu tahun lamanya. Sampai detik ini, Esther tidak pernah ingat bahwa dirinya nyampir menyerang perawat tanpa sebab, tapi rekaman seperti itu muncul berulang kali yang membuatnya meragukan kewarasannya sendiri.
"Tolong keluarkan aku dari sini! Seseorang mencoba membunuhku. Tolong selamatkan aku." Tenaga Esther mulai melemah karena terus berteriak dan berusaha membuka pintu yang terkunci. Tubuh Esther merosot ke lantai, ia duduk dan bersandar pada pintu sembari memeluk kedua kakinya dengan begitu erat.
"Ayah, aku tidak gila. Mereka sungguh ingin membunuhku." Suara Esther terdengar begitu lirih. Semakin Esther menatap seisi ruangan ini, ia menjadi semakin ketakutan, tapi tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tidak akan ada seseorang yang datang untuk menyelamatkannya.
***
Felix yang saat ini ada di dalam mobilnya yang terhenti karena lampu merah tampak menatap sebuah iPad yang memperlihatkan video Esther yang terlihat begitu ketakutan karena terkunci di ruangan tempatnya dirawat dulu. Felix memang menempatkan kamera tersembunyi di sana agar bisa melihat secara langsung bagaimana keadaan Esther selama dikurung.
"Kenapa dia begitu takut? Bukankah tempat itu seharusnya biasa saja untuknya? Itu adalah tempat pelariannya. Apa dia mengalami gangguan jiwa karena terlalu lama di sana?" gumam Felix, tapi ia tidak merasa kasihan dan malah senang melihat Esther yang seperti ini.
Di tempat lain, tepatnya di kediaman Devan, Daniel yang merupakan saudara tiri Esther yang lebih tua satu tahun dari Esther tampak sedang bersiap-siap karena ini akan menjadi hari pertamanya mulai bekerja di kantor. Ini seharusnya menjadi hari yang penuh dengan kegembiraan, sebab bisa menjadi awal yang baik baginya untuk mewarisi semua aset perusahaan, tapi Daniel tidak merasa bahagia karena pikirannya terganggu oleh pernikahan Esther.
Pintu kamar Daniel kini tampak terbuka, lalu seorang wanita dengan rambut lurus sebahu masuk dengan senyuman yang penuh kegembiraan. Inilah Jane–ibu Daniel dan Jessica yang merupakan adik kandung Daniel yang baru menginjak usia 17 tahun. Jane menikah dengan Devan saat Esther masih berusia dua tahun karena ibu Esther meninggal saat ia berusia satu tahun. Lalu, Jane memiliki Jessica yang merupakan anaknya bersama Devan.
"Kau terlihat sangat tampan," puji Jane dan Daniel tampak tersenyum kecil.
"Kesempatanmu kini telah terbuka lebar karena para pemegang saham tidak mungkin memilih seorang pembunuh serta mantan pasien rumah sakit jiwa sebagai CEO selanjutnya. Esther telah tersingkir dari daftar," ucap Jane lagi dan kebahagiaan tergambar jelas di wajahnya.
"Sekarang, tidak ada yang percaya padamu lagi. Kau tahu kenapa? Karena kau sudah tidak waras. Kau adalah wanita gila yang membunuh temannya sendiri karena takut tersaingi. Kau pantas untuk mati!" Seorang wanita dengan seragam perawat memperlihatkan senyuman jahatnya di depan Esther sembari menodongkan sebuah pisau ke arahnya.
Esther yang saat ini berada di ranjang dengan kedua tangan yang terikat dan menyatu pada ranjang itu terus meronta untuk membebaskan dirinya. Esther tidak bisa berteriak meminta tolong karena mulutnya yang tertutup lakban.
Ketika perawat itu semakin mendekat padanya, Esther melihat ada seorang pria masuk ke ruangannya, lalu mengunci pintu. Pria itu naik ke atas tubuh Esther, lalu mencengkeram dagunya dengan begitu kuat. Di saat bersamaan, Esther merasakan tubuhnya mulai disentuh oleh pria yang ada di atasnya. Sementara bibir pria itu kini mulai mencium pipi Esther, kemudian beralih ke lehernya.
"Ayah, tolong selamatkan aku. Ayah!" Teriakan Esther menggema dan ia baru saja terbangun dari mimpi buruk keduanya hari ini.
Esther menatap sekelilingnya dan ia masih ada di tempat yang sama setelah Felix meninggalkannya. Esther terduduk dan melirik makanan yang ada di dekatnya, tapi itu terlihat seperti makanan untuk binatang. Esther tidak tahu sejak kapan makanan itu ada di sini karena ia sempat tidur setelah terus menangis.
Pandangan Esther kini mengarah ke arah jendela yang dilapisi oleh teralis besi dan sinar matahari sudah tidak terlihat lagi. Hari sudah mulai malam dan Esther masih terjebak di tempat ini. Esther menangis lagi dan kembali menggedor pintu untuk meminta di keluarkan, tapi ia tidak mendengar suara siapa pun dari luar. Tempat ini sangat sunyi seolah hanya ia di sini.
Sementara di tempat lain, Felix yang telah selesai dengan hari melelahkannya di kantor, kini terlihat pergi ke sebuah tempat hiburan malam untuk melakukan pesta bersama para wanita cantik yang ada di sana. Felix minum dengan penuh kegembiraan dengan seorang wanita berpakaian seksi duduk di pangkuannya. Felix juga sesekali menari bahkan mencium wanita yang terlihat mendekatinya.
Seperti inilah pelarian Felix karena ia merasa kesepian setelah orang tuanya berpisah saat ia berusia tujuh tahun. Felix ingat kalau penyebab keluarganya hancur adalah karena masalah ekonomi. Lalu, Felix dibawa pergi oleh ayahnya, meninggalkan ibu dan adiknya–Fiona yang saat itu baru berusia dua tahun.
Sejak saat itu, Felix tidak pernah lagi mendengar kabar ibu dan adiknya, apa lagi ayahnya menikah dengan atasan di kantornya, lalu ia dibawa pindah ke Amerika karena ayah serta ibu sambungnya memulai bisnis di sana yang membuatnya semakin jauh dari ibu dan adiknya.
Empat tahun yang lalu, ayah dan ibu sambung Felix mengalami kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa mereka. Felix begitu terpukul karena kejadian itu, sebab ia sudah menganggap ibu sambungnya seperti ibu kandungnya karena ia mendapatkan kasih sayang yang sama bahkan kadang lebih dari ibu kandungnya.
Rasa kesepian itu membuat Felix mulai mencari tahu tentang keberadaan adik serta ibunya. Butuh waktu yang lama sampai ia mendapatkan informasi, tapi informasi yang Felix dapatkan sangat buruk, yaitu pembunuhan terhadap adiknya dan ibunya meninggal bunuh dirii hanya sebulan setelah kepergian Fiona.
Felix merasa sangat bersalah setelah mengetahui hal itu karena ia terlalu nyaman dengan keluarga barunya sehingga melupakan ibu dan adiknya, apa lagi setelah mendatangi rumah yang ditinggali oleh ibu dan adiknya, lalu Felix menemukan catatan milik Fiona tentang betapa besar mimpinya untuk menjadi seorang pemain cello terkenal. Fiona juga menuliskan untuk menemukan sosok kakak yang telah pergi darinya karena tahu bahwa ibunya sangat merindukan putranya.
Mulai saat itu, Felix bersumpah akan membalas dendam untuk ibu serta adiknya dan inilah hasilnya. Felix senang karena sejauh ini rencananya berjalan dengan lancar, tapi kesepian dan rasa bersalahnya tidak akan pernah bisa hilang. Kedua rasa bersalah itu akan bersama Felix untuk seumur hidupnya.
Walau Felix tertawa dan terlihat bahagia saat ini, tapi itu bukanlah perasaan yang benar-benar ia rasakan saat ini. Felix kini duduk di sebuah sofa panjang, kemudian menyalakan rokok dan setelahnya tampak melamun sembari menatap tiga wanita yang sedang melakukan tarian erotis untuk menghibur para pelanggan.
Di sisi lain, Daniel terlihat baru saja datang bersama tiga teman laki-lakinya dan ini adalah pertemuan pertama mereka setelah Daniel kembali dari luar negeri. Daniel sudah memesan meja, jadi bisa langsung mendapatkan tempat duduk, tapi pandangan Daniel kini mengarah pada Felix yang tampak duduk santai dan ada seorang wanita di sebelahnya.
"Bukankah itu suami adikmu?" ucap salah satu teman Daniel yang juga menyadari keberadaan Felix.
"Dia baru menikah, lalu kenapa dia di sini? Bahkan ada wanita di sebelahnya," ucap yang lain.
"Tunggu sebentar." Daniel kembali berdiri, kemudian mendekati Felix.
Melihat Daniel tiba-tiba muncul di depannya tidak membuat Felix kaget atau khawatir. Felix masih menikmati rokoknya dengan satu tangan ada di pinggang wanita yang duduk di sebelahnya.
"Apa yang Kakak lakukan di sini? Bagaimana dengan Esther?" tanya Daniel, tapi ia malah melihat Felix tersenyum dengan raut wajah yang terlihat tenang.
"Apa pria sudah menikah tidak boleh mencari hiburan? Lagi pula, aku tidak membawa wanita ini pulang dan Esther baik-baik saja di rumah. Jadi, apa masalahnya?" ucap Felix.
"Apa?" Daniel begitu terkejut mendengar jawaban dari Felix.
Felix menghela napas, lalu berdiri di depan Daniel. "Kau akan memahami hal ini nanti." Felix bicara sembari menepuk pundak Daniel dan tersenyum padanya.
"Namun, Kakak dan Esther baru menikah. Bagaimana bisa hal ini terjadi? Apa Esther mengetahui hal ini?" tanya Daniel lagi.
"Tentu saja dia tahu, tapi kenapa kau bersikap berlebihan seperti ini? Apa rumor yang aku dengar benar adanya? Apa kau menyukai Esther sebagai wanita bukan sebagai adikmu?" Felix memperlebar senyumannya pada Daniel.
"Tolong jangan menyebarkan rumor tidak benar seperti itu! Esther adalah adikku, lalu apa aku salah jika aku khawatir padanya?" balas Daniel.
Daniel mencoba untuk tetap tenang, tapi tatapan matanya telah menunjukkan semuanya sehingga membuat Felix tertawa pelan. Kisah cinta yang menyedihkan, pikir Felix. Tidak ada yang lebih buruk dari cinta yang terhalang hubungan persaudaraan.
"Maafkan aku. Aku pasti terlalu banyak minum sampai bicara omong kosong. Aku akan pulang sekarang karena Esther pasti sudah menungguku. Sampai jumpa lagi." Felix pun pergi meninggalkan Daniel yang masih terdiam di tempatnya.
"Apa yang terjadi padanya?" gumam Daniel.
Sejak Esther memperkenalkan Felix sebagai calon suaminya, Daniel memang tidak terlalu mengenal siapa Felix bahkan terkejut mengetahui Esther yang terkenal pendiam tiba-tiba memperkenalkan calon suaminya. Saat itu, Daniel mengira kalau Esther mungkin sudah menjalin hubungan dengan Felix untuk waktu yang lama, tapi menunggu waktu yang tepat untuk mengunkapkannya pada keluarga. Namun, bagaimana bisa Esther mencintai pria seperti Felix?
***
Felix kini kembali ke rumah sakit jiwa setelah meninggalkan Esther selama belasan jam dan hanya mengawasinya lewat sebuah kamera tersembunyi. Felix tahu kalau Esther tidak menyentuh makanan atau minuman yang disediakan untuknya dan hal itu membuatnya sangat marah.
Felix merebut kunci dari orang yang mengawasi Esther, lalu membuka pintu dan mendapati Esther terbaring di lantai dari ruangan yang kini tampak gelap. Felix menendang kaki Esther beberapa kali untuk membuatnya bangun, tapi tidak terlihat ada pergerakan dari Esther.
"Apa yang terjadi padanya? Bukankah dia seharusnya hanya tidur?" gumam Felix. Merasa ada yang tidak beres membuat Felix akhirnya meminta wanita tadi untuk menyalakan lampu, lalu ia berjongkok untuk melihat keadaan Esther.
"Esther!" Felix kini meninggikan nada suaranya sembari menepuk pipi Esther dengan pelan, tapi Esther tetap tidak bangun juga.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Felix pada wanita yang berdiri di belakangnya.
"Saya tidak tahu, tapi saya mendengar dia menjadi histeris lagi setelah Anda memberikan perintah agar lampu dimatikan, lalu setelahnya keadaan menjadi hening dan saya kira itu karena dia tidur." Wanita ini menjawab dengan perasaan yang takut. Tugasnya hanya mengawasi Esther, tapi apa yang sekarang terjadi pada Esther?