Bab 1

Hotel St. Regis, pukul dua siang.

Saat itu ada pemotretan majalah mingguan. Fayrin adalah modelnya kali ini. Sebenarnya, pemotretan ini akan memilih Mega bintang tiap minggunya sebagai model utama majalah ternama. Pemotretan bukan untuk meng-endorse barang-barang mahal, classy atau yang bernilai jutaan rupiah semisal tas atau baju branded. Ini hanya pemotretan untuk misi kemanusiaan (charity).

“Sebentar!” Fayrin mengangkat tangan, berdiri, mengibas gaun pengantinnya.

“Kenapa?” Fotografer bertanya. Menatap heran.

“Aku tidak suka model pria ini.”

“Apa?” Pria yang duduk di sebelah Fayrin membelalakkan matanya.

“Dengar, aku tidak suka dia. Model pria ini mesum, menyentuh pinggangku dan lain-lain. Dia memanfaatkan kesempatan untuk menyentuhku. Sudah sejak tadi aku menahan diri untuk tidak kesal dengan perilaku buruknya itu.” Fayrin meliriknya tak suka.

Memang, sepanjang satu jam mengambil ratusan gambar, tangan pria itu tidak bisa diam. Duduk di sofa ungu, tangannya hendak melingkar di pinggang ramping Fayrin. Atau kadang-kadang menyentuh bahu Fayrin yang tidak ditutupi kain. Mengusap lembut, bermaksud menggoda lawan potretnya saat itu. Fayrin risih. Seolah itu adalah pelecehan. Dirinya sudah menahan rasa tidak nyaman sejak tadi. Padahal Fayrin berharap bahwa pemotretan akan berlangsung normal-normal saja.

“Ngada-ngada. Baper amat jadi cewek!” Pria itu membantah. Tidak suka dituduh jelek.

Fayrin menahan geramannya. Menggertak gigi, gemelatuk beradu. Menatap serius muka pria tinggi itu. “Aku tidak ingin berfoto dengannya. Aku mau diganti model pria lain. Aku tidak suka dia!”

“Heh ….”

Fayrin meninggalkan lokasi pemotretan. Model pria menatap bingung, sementara fotografer memijit keningnya. Aduh, model perempuan itu suka betul membuat keputusan mendadak. Bahkan model pria yang tertuduh tidak bisa berkomentar apapun. Annya si manajer Fayrin sekaligus sepupunya yang baru saja menerima panggilan telepon, berpapasan dengan Fayrin di depan lobi hotel. Mengangkat gaun pengantin. Annya mencegah langkah Fayrin, segera menodong pertanyaan, menutup panggilan telepon.

“Kenapa kamu di sini? Pemotretan sudah selesai?”

“Aku sedang tidak suka membahas pekerjaan hari ini.”

“Kenapa?” Annya menatap wajah jutek talentanya itu.

“Aku sedang tidak mau bekerja dengan model mesum. Aku mau pulang.”

“Heh, jadwal kerja kamu hari ini masih padat. Mana bisa pulang cepat begini!” Annya mengingatkan. Fayrin mana peduli. Kalau dia tidak suka, maka dia akan pergi meninggalkan sesuatu yang tidak disukainya. Annya menatap arloji di tangan, satu jam baru berlangsung dalam pemotretan. “Ini kerjaan belum kelar juga. Nggak boleh pergi kalau pemotretan betulan selesai!”

Fayrin mendelik sebal. “Oke, aku nggak pergi. Tapi carikan model pria yang lain. Model yang lebih baik. Asal jangan si bajingan itu! Si sampah berengsek!”

“Memangnya kenapa dengan dia? Orang itu model Asia, pernah jadi juara 2nd underwear pria di Perancis. Model yang sudah pernah langgak-lenggok di panggung Paris fashion show. Sudah pas kalau kamu bisa satu frame dengannya. Jarang juga model internasional mau ikutan acara beginian.”

“Mau dia model internasional pemenang juara apapun itu, aku tidak peduli. Aku tidak menyukainya. Dia mesum. Aku mau modelnya diganti, atau tidak usah sekalian ambil tantangan ini, oke. Lagian, kita nggak dibayarkan? Terus kita juga nggak tandatangan kontrak apapun, kan? Jadi kita tidak akan didenda karena tidak melanjutkan pemotretan, karena kita tidak menerima hak kekayaan intelektual apapun dari acara ini!”

“Fayrin …, oke.” Annya mendesah gusar, menghela napas panjang. Hendak dibantah, tapi Fayrin suka memutuskan sesuatu semaunya saja tanpa memikirkan pendapat orang lain.

Percakapan mereka di lobi hotel, yang ada patung pemilik bangunan yang dipalangi pita merah, tanda jangan menyentuh patung itu, ditatap banyak pengunjung. Karena hotel bintang lima, paling beken di ibukota, sudah pasti banyak orang asing yang datang ke tempat ini. Lihatlah para bule berambut pirang itu, mereka menatap Fayrin bingung. Ada pengantin sedang berdebat dengan perempuan lainnya. Mereka berspekulasi. Beberapa ambil foto diam-diam. Sebab itu artis yang sedang naik daun. Salah satu filmnya trending satu di beberapa negara. Juga tahun lalu masuk nominasi Oscar.

“Sekarang kembali dulu ke tempat pemotretan, kita bahas soal pengganti model dengan fotografernya. Kita selesaikan masalah ini baik-baik.” Annya mendorong badan Fayrin, kembali ke lantai atas.

Sambil berjalan, Annya memikirkan siapa pula model pria yang mau dijadikan pasangan pengantin Fayrin hari ini. Paling tidak, besok. Kalau hari ini sudah jelas gagal. Fayrin sudah enggan melanjutkan pemotretan. Annya hafal jelas tingkah laku sepupunya itu. Kalau tidak suka, ya tidak suka. Fayrin tidak bisa dipaksa untuk urusan ini.

“Eh, aku punya ide!” Fayrin balik badan, menatap Annya. Mereka sedang berada di atas tangga berjalan.

“Apa?”

“Tiba-tiba aku kepikiran cowok itu. Kamu ingat kan, cowok seminggu lalu? Cowok manis dan menggemaskan itu? Nah, aku mau dia. Entah kenapa, aku ingin melihat dia lagi. Aku kira dia cocok jadi pengantin priaku dalam pemotretan ini.”

“What the …, gila kamu ya, Rin?” Annya melotot. “Cowok itu kan galak. Kamu kira mudah buat bertemu dia. Buset deh. Aku saja sampai nggak berani ketemu dia lagi gara-gara cerita kamu itu. Terus, pemotretan majalah ini juga brand mahal, oke. Bukan brand sebelah yang nggak punya embel-embel apapun. Di sini, semua modelnya bertaruh nama dan karir untuk bisa jadi talent sampul majalah. Dengan kamu ingin si cowok itu jadi pendamping kamu sebagai pengantin pria, kurasa itu mustahil. Bayangkan, orang-orang bahkan tidak kenal sama dia. Terus latar belakangnya. Memangnya kamu tahu kalau dia pesohor? Memangnya kamu tahu kalau dia salah satu publik figur yang punya pengaruh besar? Kamu kalau ditanya begitu pasti nggak bakal tahu.”

Fayrin angkat bahu. “Nggak mau tahu. Pokoknya aku mau dia. Memangnya ada aturan khusus kalau ikut acara ini kudu pakai jasa orang yang punya pengaruh besar? Memangnya kalau pakai namaku saja belum cukup buat menjadikan cowok itu pendampingku?”

“Aku nggak bakal bantu!” Annya melongos, buang muka. Seolah-olah bertindak tidak setuju.

“Aku bisa melakukannya sendiri.”

“Kamu nggak bakal bisa.”

“Kita lihat saja nanti!” Fayrin tersenyum menyeringai.

•••••

Kejadian sebulan lalu. Di kafe paling masyhur di Kemang, tempat nongkrong anak-anak muda Jakarta Selatan.

Di tempat inilah Fayrin bertemu dengan prianya. Pria pertama yang membuat Fayrin tergila-gila. Sebenarnya, pertemuan Fayrin dengan pemuda itu telah terjadi sebulan lalu karena sebuah insiden kecil. Ketika Fayrin tidak sengaja menumpahkan minuman ke badan Kiky. Kala itu Fayrin sedang marah pada salah satu penguntit yang diam-diam memotret dirinya. Terutama memotret bagian bawah Fayrin secara diam-diam. Fayrin kesal. Sehingga tidak pikir dua kali dia ingin menyiram stalker itu. Sayangnya, Kiky yang kena karena tidak sengaja lewat. Gara-gara takut foto tidak senonohnya dijual ke internet, itu yang membuat Fayrin berang.

“Minta maaf!”

Fayrin mengangkat bahunya. “Tidak akan.”

“Kamu menumpahkan minuman ke baju putihku. Minta maaf sekarang!” Kiky menegaskan dengan suara setengah meninggi.

Sayangnya, Fayrin masih tetap tidak mau mengatakan hal itu, biar kata sepele. Hanya dua patah kata. Kiky termasuk pria galak. Tatapan melototnya bisa membuat orang ketakutan. Tapi Fayrin tidak. Dia malah menantang.

“Buat apa aku bilang maaf? Kamu yang seharusnya bilang maaf karena orang yang aku kejar kabur. Kamu nggak lihat, orang-orang memerhatikan aku? Memangnya kamu nggak tahu siapa aku?”

Pengunjung kafe lainnya menatap nestapa. Beberapa diantaranya pasang kamera ponsel, merekam perdebatan dua muda-mudi. Satu aktris dan model ternama, Mega bintang, pesohor muda yang tengah naik daun dengan banyak membintangi serial box office negara-negara Asean. Satunya lagi pemuda galak, marah-marah, tapi terlihat enak dipandang. Wajahnya menyenangkan, tinggi, agak putih kecoklatan kulitnya. Rambut hitam pekat, selintas mirip idol Korea yang sedang digandrungi anak muda saat ini.

Bibirnya itu merah merekah. Pokoknya, Kiky macam anak berlian yang baru keluar dari pajangan. Saking bisa membuat orang jatuh cinta pada pandangan pertama, orang lain yang melihatnya bakal setuju kalau Kiky punya fitur wajah V yang tidak bosan untuk dilihat. Dalam arti sempit, Kiky punya sesuatu yang membuat orang melting dengan apapun yang ada pada tubuh itu, cara jalannya sampai suara seraknya yang menggoda. Wajah dan tubuh Kiky adalah perpaduan ketampanan dan kecantikan bangsa barat ke timur.

Pernah sekali, seorang dokter bedah plastik asal Korea Selatan berkomentar tentang wajah Kiky yang indah sewaktu satu kereta menuju ke Lebak bulus. Pria Korea berbahasa Indonesia agak lancar itu bilang kalau Kiky punya lisensi ketampanan dan kecantikan yang tidak bisa ditiru dokter bedah plastik dari belahan dunia manapun.

“Kamu pikir aku peduli siapa kamu?”

“Oh ya?” Fayrin mendelik.

“Minta maaf sekarang!” Kiky menegaskan lagi.

Fayrin tetap cuek. Jika saja ada Annya di sana, maka manajer Fayrin itu yang akan menangani masalah ini. Minta maaf berulang kali, maka perkara selesai. Beda dengan Fayrin, dia terlihat sombong.

“Begini saja. Aku beri uang, kamu beli baju baru yang sama seperti yang kamu pakai. Masalah kita beres, lalu kita tidak perlu berdebat.” Fayrin merogoh kocek tas, mengeluarkan uang yang dibungkus dalam plastik transparan, yang lazim dipakai buat membungkus santan, minuman es murah seharga dua ribu atau buat membungkus sayur. Tidak tanggung-tanggung, uang ratusan ribu itu dikepal, digulung, diikat dengan tali karet. Alamak, buat malu saja. Tapi bagi Fayrin itu teramat unik. “Isinya tiga juga. Cukuplah buat orang kecil seperti kamu beli baju baru. Sekarang kan, cari uang susah.”

Kiky mendesis sebal. Dikembalikannya lagi kepalan uang itu pada Fayrin agak kasar. “Aku tidak butuh. Dasar perempuan gila.”

“Apa katamu?”

“Perempuan gila yang nggak punya etika.” Kiky meledek. Fayrin menatap tajam, matanya melotot. Hendak protes, sayang sekali Kiky telah pergi. Tidak ingin berdebat lagi dengan Fayrin.

Bab 2

Seminggu berlalu setelah kejadian pertengkaran Fayrin dan Kiky di dalam kafe, di Kemang.

“Mbak Tyas, makan di luar nggak?”

“Bentar, lagi urusin laporan ini dulu.” Tyas menoleh singkat, lalu sibuk lagi dengan dokumen yang ada di depannya. Di depan teller bank itu juga. Sedang membahas keuangan.

Kiky mengangguk takzim, berusaha memaklumi. Namanya juga orang sibuk. Di sini, Tyas yang menawarkan Kiky untuk magang. Dari lima mahasiswa yang mengajukan permohonan magang, untungnya kesempatan datang pada pemuda itu.

“Permisi, mau tanya, manajer bank di mana ya?” Perempuan menghampiri meja teller bank yang dibatasi dengan kaca transparan putih. Ada lubang kecil untuk transaksi keluar-masuk dokumen, uang atau lainnya. Kiky menoleh, menatap perempuan muda dengan dress bunga-bunga. Pakai kacamata, topi pantai besar. Kulitnya putih bersih. Saat menurunkan sedikit kacamata besarnya dipangkal hidung, saat itu juga wajah Kiky jadi masam. Dia kenal betul dengan perempuan berengsek itu. Si laknat yang menyiramnya dengan jus jeruk waktu itu.

Jika ini bukan di bank, Kiky barangkali sudah mengabaikannya. Namun tidak etis jika tidak menjawab pertanyaan Fayrin. Masalahnya, di sini Kiky sebagai seorang karyawan biar kata hanya magang. Dia dituntut memahami SOP perusahaan, termasuk bertutur kata yang ramah. Masa Kiky kalah dengan satpam yang menjaga pintu keluar masuk di depan sana. Selalu tersenyum pada siapapun yang datang ke gedung keuangan ini.

“Ada tuh, tunggu saja.”

Fayrin mendengus. Huh, pria itu. Sama seperti Kiky, gadis ini juga masih ingat rupanya. Fayrin tidak akan lupa kejadian seminggu lalu. Dia dibilang gadis gila. Di depan banyak orang, coba?

“Bisa antarkan aku menemuinya?”

Kiky mendelik. “Maaf, ini jam istirahat, Bu! Menemui kepala manajer juga harus ada prosedurnya. Tunggu saat jam istirahat berakhir, baru boleh menemui beliau. Ibu ....”

“Sejak kapan aku menikah dengan Bapakmu?” Fayrin memotong kalimat. Tidak senang dipanggil ibu. Terasa seperti sedang dipanggil anaknya saja. Hei, Fayrin itu aset perusahaan tempat yang menaunginya di dunia entertainment ini. Orang-orang menghormati dia. Tidak seperti Kiky yang selalu membuat Fayrin kesal. Apalagi harus dipanggil ibu. Memangnya muka Fayrin setua itu untuk disebut seorang ibu?

Kiky mendesah gusar, tidak ingin berdebat. Apalagi setelah dibentak Fayrin dengan suara agak tinggi, Kiky memilih mengalah. Menahan amarahnya kali ini. “Oke, Nona. Saya mengerti.”

“Hanya itu?”

“Maunya bagaimana lagi?” Kiky kian kesal. Mukanya memerah. Tyas dan rekan kerjanya yang ada di samping Kiky, menatap heran dua orang itu. Ada apa dengan mereka?

“Kamu berhutang maaf padaku. Cepat katakan maaf untuk semua yang kamu lakukan padaku!”

Kiky mendecak sebal. “Dengar ya Nona yang terhormat. Di sini aku belum makan siang sama sekali, pertama. Kedua, aku sedang tidak ingin berdebat, oke. Ketiga, jangan menguras emosi, tenaga, pikiranku untuk marah saat ini. Jika tidak ada kepentingan, sebaiknya Nona pergi.”

“Ky, nggak boleh gitu.” Tyas menyahut. Tersenyum tipis pada Fayrin. Tyas tahu siapa dia, Fayrin adalah cucu konglomerat itu. Salah satu asetnya berada di bank ini. Di simpan dalam bentuk tabungan jangka panjang. Bisa dibilang, Fayrin adalah tamu penting. Mungkin Kiky tidak tahu, makanya Tyas merasa tidak enak hati karena adik sepupunya ini bersikap galak.

“Kamu nggak kenal siapa aku?”

“Anda bukan orang penting. Aku tidak peduli siapa kamu!” Kiky menjawab ketus.

“Ky, jangan bicara begitu.” Tyas menyahut lagi, mengode dengan tatapan tajam. Tapi Kiky tidak paham maksud kode yang Tyas lakukan.

“Mbak sebaiknya diam saja. Ini urusanku dengan perempuan sinting ini. Dia harus diajak bicara kasar supaya paham etika. Orang seperti ini biasanya cuma mengandalkan mulutnya yang cerewet buat berdebat. Aslinya, dia tidak paham sama sekali yang namanya penting beramah-tamah.”

Fayrin menelan ludah, wajahnya terlihat marah. Perempuan ini siap sekali menghajar Kiky. Satu-satunya orang yang berani merendahkannya. Namun dia berhasil menahannya. Kebetulan ketika melirik ke samping kiri, tidak jauh dari meja kerja teller bank, ada pintu. Tulisan di atasnya ruang manajer. Fayrin meninggalkan tempatnya berdiri.

Susah memang bicara dengan pria galak, nyebelin dan suka berdebat. Awas saja, Fayrin telah menandai Kiky sebagai pria paling buruk perilakunya. Kalau dia bertemu lagi dengan Kiky, mungkin Fayrin akan membalas perbuatannya hari ini dan seminggu lalu. Fayrin masih dendam padanya.

“Hei manajer!” Fayrin berseru lantang di bingkai pintu, membuka pintu ruangan lebar-lebar. Manajer bank terkejut bukan main, soalnya mendadak berteriak dengan nada tinggi.

Teh panas yang baru saja diseruput, dimuntahkan dan disemburkan. Sialan. Buat orang jantungan saja. Manajer bank menahan pedih di lidah. Mana panas. Kagetnya bukan kepalang. Tidak sopan sekali tamu yang datang siang ini.

“Fa—fayrin ....”

“Ya ..., ini aku,” kata Fayrin angkuh, mendesis ketus. Melangkah masuk ke dalam, duduk di sofa ruangan. Melipat satu kakinya di kaki lain, melepas kacamata besarnya. Padahal belum disuruh duduk sama sekali oleh si pemilik ruangan. Tapi begitulah Fayrin, cukup tahu saja kalau dia tidak butuh persetujuan untuk melakukan segala tindakannya.

Manajer bank duduk di sofa, menemani Fayrin di sana. Sebenarnya, pria tua dengan kepala agak plontos ini tidak pernah melihat Fayrin secara langsung seperti ini. Kecuali di teve. Di dalam film yang diperankannya. Dia salah satu penggemar Fayrin yang telah berusia uzur. Sebelumnya, tiga hari lalu, manajer Fayrin menghubungi kepala bank untuk bertemu. Membahas jumlah kekayaan kakeknya yang tertimbun di bank ini. Maksudnya, ada harta warisan yang seperempat ditabung di dalam bank ini.

Sisanya, kekayaan keluarga kakek disembunyikan di bank-bank luar negeri seperti Swiss, Singapura, British Virgin island dan lain-lain. Dikelola oleh keluarga, yakni ayahnya. Fayrin dapat sedikit informasi uang ini ketika kakek berada di rumah sakit, enam tahun lalu. Katanya, manajer bank tahu soal simpanan ini. Simpanan khusus buat Fayrin seorang yang tidak boleh diketahui siapapun selain mereka berdua.

“Buatkan teh untuk ....”

“Nggak perlu!” Fayrin menyahut, memotong kalimat.

Telepon genggam yang ada di tangan manajer menggantung di telinga. Detik berikutnya, telepon terputus. Diletakkan di atas meja kaca. Manajer tua itu menyandarkan punggung di sofa, lalu memulai pembicaraan ringan. Meski sebenarnya dia sudah gugup bisa melihat wajah super cantik aktris muda berbakat ini.

“Ini mau bahas yang mana dulu, Fayrin?”

“Soal kekayaan kakek!” Fayrin menegaskan. “Kakek bilang manajer tahu tabungannya di bank ini. Jadi aku ingin meminta rekapitulasi laporan keuangan beliau. Enam tahun lalu usiaku belum legal jadi penerima warisan. Sekarang aku datang karena usiaku sudah cukup untuk menerima warisan sesuai apa yang tertulis dalam surat wasiat.”

“U—uang itu?”

“Ya. Uang itu. Mau apa lagi?” Fayrin mengangguk takzim. “Aku ingin semua uang simpanan kakek masuk ke dalam rekeningku. Makanya aku datang ke sini, minta diurus apapun yang bersangkutan dengan harta warisannya. Nggak perlu bawa pengacara segala, kan?”

“S—soal itu, kami tidak bisa memindahkannya dalam waktu singkat. Paling tidak, seminggu. Karena ada beberapa rekonsiliasi bank, laporan pemindahan dana dan beberapa dokumen lain yang harus kami selesaikan.”

“Oke. Tidak masalah. Yang penting bisa dipindahkan.” Fayrin menatap kukunya yang tadi pagi di cat hijau tosca daripada memerhatikan gaya bicara bapak tua yang gemetaran.

Pak tua itu menelan ludah gugup. “Bisa kita foto berdua? Anakku ....”

“Permisi Pak. Ini laporannya sudah selesai.” Kiky masuk ke dalam ruangan manajer, tidak mengetuk pintu sama sekali. Pak tua itu mendesis kesal, Kiky mengganggu momen ini. Seharusnya tadi dia sudah berhasil mengambil satu foto bersama artis idola anaknya.

Biasanya Kiky memang begitu. Kadang saat pintu diketuk, Pak manajer tidak menyahut. Makanya Kiky main nyelonong masuk. Bukan karena Kiky tidak sopan dan tidak tahu tata Krama atau etika, cuma Pak manajernya saja yang suka menulikan panggilan.

“Sial. Ganggu saja.” Pak tua bergumam lirih.

Melihat Kiky ada di dalam ruangan ini, Fayrin menyeringai. Oh, dia punya sesuatu yang akan dibalaskan pada pemuda itu. Fayrin berdiri, meraih kacamata dan tasnya.

“Pembicaraan kita sudah jelas, Pak manajer. Aku akan menantikan kabar baiknya. Sampai bertemu lain hari.” Fayrin meninggalkan tempatnya duduk, berjalan mengarah ke pintu, ada Kiky di sana. Mereka berpapasan, Fayrin melirik wajah menggemaskan pemuda itu. Fayrin menyeringai lagi. Langkahnya tiba-tiba berhenti, pas di samping Kiky.

“Selera bank ini agaknya sedikit tidak bagus dalam merekrut karyawan magang.” Fayrin melirik ke Pak tua di belakangnya. “Ngomong-ngomong, aku tertarik foto bersama Anda. Sayangnya, waktu berdua kita terganggu ulah pria ini. Dia adalah perusak suasana terbaik.”

Kiky menahan kepalan tangan, sebal disindir. Apalagi di depan Pak manajer yang lagi mengaduh kesakitan. Kakinya terbentur sudut meja. Sakit sekali. Sampai harus dipegang dengkulnya.

“Oh iya, satu lagi. Pegawai ini kelihatan sedikit agak menggemaskan. Tapi sayang, dia agak galak dan cerewet.”

“Kamu menyindirku?” Kiky menjawab, berkomentar. Sejak tadi dia diam, hanya karena ingin mengalah di depan Pak manajer.

Fayrin menurunkan kacamatanya sampai pangkal hidung. Kemudian tertawa sumbang, memandang wajah imut pemuda di depannya ini. Kiky punya wajah kecil. Hidungnya juga cantik, agak berpunuk, terangkat tajam, ditambah ada satu tahi lalat samar. Duh, makin menambah aura yang cocok jadi simpanan om-om gadun. Bibir sedang Kiky merah merekah, rupanya dia bukan perokok aktif.

“Ayolah sayang, jangan bicara kasar begitu. Kamu terlalu sensitif.” Fayrin membisik pelan di telinga Kiky. Dua detik berikutnya, dia mendekatkan bibir ke dada bidang Kiky yang dibaluti kemeja putih bersih. Menempelkan cap bibir merahnya di pakaian itu. Demi Tuhan, bibir lembut Fayrin terlukis di baju putih itu. Fayrin membisik lagi di telinga Kiky seusai mengecup dadanya. “Itu balasan untuk kamu yang telah berani bicara bahasa kasar padaku.”

Bab 3

Pukul lima sore.

Fayrin mengemudi mobil sendirian di jalan besar ibukota, jalan protokol milik negara. Biasanya Annya yang menjadi sopir artis ini. Duduk diam di kursi belakang sambil membaca majalah. Fayrin seorang yang suka ketenangan.

Namun kali ini tidak ada Annya yang bersamanya. Pergi mengurus harta kekayaan kakek di bank cabang. Kala itu matahari nyaris tenggelam di ufuk barat, langit kota berwarna jingga. Jalan agak macet ketika menuju pulang ke rumah.

Fayrin tersenyum getir ketika ingat pria menggemaskan tadi. Walau sempat jengkel pada Kiky yang selalu membuatnya kesal, tapi Fayrin tidak bisa untuk tidak mengakui kalau Kiky pemuda yang menggemaskan. Pipinya enak untuk dicubit macam bayi. Rambutnya terlihat lembut dan halus, cocok buat diusap. Apalagi bau harumnya yang khas, alamak, Fayrin jadi bernafsu ingin membuat pria itu bertekuk lutut dihadapannya.

Tapi sore ini karma bakal dibayar tunai. Sebab mobil Fayrin mendadak oleng. Terpaksa dia mengurangi kecepatan kendaraan, menepikan mobilnya di pinggir jalan. Sekeluarnya dari tol dalam kota, Fayrin memilih lewat jalan umum. Sayangnya, jalan ini agaknya sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Fayrin mendesis kesal setelah melihat apa yang terjadi pada kendaraannya. Ya Tuhan, Fayrin sampai harus dibuat sakit kepala. Bisa-bisanya ban mobil bocor di jalan yang sepi, jauh dari bengkel.

“Oh ..., Astaga.” Fayrin mendesah lelah. Kekesalan sejak siang tadi terbawa sampai sore ini. Sudah berkali-kali perempuan itu menyebut nama Tuhan, mengutuk dirinya yang selalu sial. Tapi lebih sial lagi kalau berdebat dengan Kiky yang galak.

Fayrin memijit keningnya. Pening mendadak melanda. Saat ini Fayrin butuh Annya. Dalam situasi sulit apapun, Annya pasti bisa menyelesaikannya. Termasuk urusan ban bocor yang menurut perempuan itu hal sepele. Tapi bagi Fayrin yang terlahir sebagai anak Sultan sejak kecil adalah pekerjaan paling kotor, tidak mau menyentuh ban berdebu dengan berbagai alasan. Bodohnya Fayrin, pergi kali ini tidak membawa sepupu andalannya itu. Kalau begini kan yang repot dia sendiri.

Saking kesal, Fayrin menendang ban mobil pakai heels merah. Sayangnya, ban itu terbuat dari velg besi. Jelas dia akan mengaduh kesakitan. Lagian, orang tolol mana yang sudah tahu kalau velg ban itu keras, tapi malah ditendang macam menendang bola.

Fayrin mencoba mengatur emosinya, sesaat setelah rasa sakit itu menghilang. Oke, memang masih agak nyilu, tapi ini tidak akan menyelesaikan apapun. Fayrin ingin meminta bantuan siapapun itu, yang penting mobilnya bisa jalan lagi. Soal menghubungi orang-orang dari bengkel, Fayrin bahkan tidak tahu nomor layanan pelanggan mereka.

Fayrin melambaikan tangan, meminta bantuan pada mobil-mobil yang malang melintang lewat di jalan yang sama dengannya. Perempuan itu berdiri samping mobil. Setidaknya, ini opsi kedua yang dilakukan alih-alih mengeluh. Tetapi, faktanya tidak mudah membuat satu atau dua kendaraan mau menepikan mobil mereka dihadapan Fayrin.

Perempuan itu mendesah kesal. Mulai merutuk dan menuntut keadilan. “Tuhan, bisakah engkau berikan hambamu ini bantuan? Atau berbaik hatilah dengan mengirimkan aku satu malaikat tampan keluar dari kesulitan ini? Please, jangan uji lagi kesabaranku. Kau pasti masih mendengarkan aku, kan? Kau pasti masih menyayangi hambamu yang penuh dosa ini, kan? Jadi tolong, dengarkanlah permintaanku. Aku janji bakal jadi wanita yang berbudi luhur jika kau mengabulkan keinginanku ini. Malaikat penolongku tidak harus tampan. Jelek pun tidak apa-apa, asal dia bukan jodohku, oke!”

Fayrin mengangkat bahunya setelah itu. Apa? Sudah bicara begitu, memohon pada Tuhan minta dikabulkan keluhannya, bahkan Fayrin tidak melihat akan ada tanda-tanda jika ada yang bakal membantunya. Maka dari itu, Fayrin pernah sesumbar kalau Tuhan tidak pernah adil padanya. Kenapa Tuhan selalu menguji aktris cantik ini dengan cobaan aneh dan nyeleneh.

Di ujung jalan lurus, ada motor besar yang melintas. Di belakang mobil Fayrin. Perempuan ini menyungging tersenyum. Barangkali ini pertolongan yang datang untuknya, Fayrin mencoba melambaikan lagi tangannya. Urusan berhenti tidaknya kendaraan itu, dipikirkan belakangan.

Syukurlah, pemotor besar itu menghentikan si kuda besi, menepi di depan mobil Fayrin. Melepas helm, turun dari kendaraan. Tapi bantuan itu tidak sesuai harapan. Yang dikira akan menolongnya saat ini tidak sama seperti yang dibayangkannya. Justru Kiky yang ditemui. Muka Fayrin jadi mupeng. Tuhan telah mengabulkan doa Fayrin, minta didatangkan satu malaikat penolong yang tampan, berparas rupawan. Namun kenapa harus Kiky dari banyaknya umat manusia berkelamin pria?

Iya Kiky memang tampan, sesuai deskripsi imajinasi Fayrin. Tapi tidak bisakah Tuhan memberikan model malaikat penolong yang lain? Misalnya, aktor pemeran Titanic (1997) itu.

Ini kenapa malah yang datang pemuda dengan kemeja putih, ada cap bibir Fayrin di sana. Belum terhapus. Masih tertera jelas. Fayrin jadi sebal sendiri. Niat hati mempermalukan Kiky, tapi dia sendiri yang malu karena terlihat turun harga diri. Atau barangkali tidak punya harga diri sama sekali di depan pria ini.

“Mogok?”

Fayrin mengangguk, bibirnya menyungging tidak ramah. Raut wajah jadi masam. Saat ini, Fayrin hanya mau jaga citra baik dan tegas supaya tidak dikalahkan oleh Kiky. Mengingat, perdebatan sebelum-sebelumnya, Fayrin selalu kalah bicara.

“Ini bukan mogok, tapi bannya bocor.” Kiky memeriksa kendaraan, duduk di depan ban mobil yang mengempis. Fayrin tahu itu bannya bocor. Tapi anehnya dia malah iya-iya saja pas ditanya mobil mogok. “Kalau sudah begini, jangan diam saja. Telepon orang-orang bengkel, minta datang ke sini supaya cepat ditangani.”

Kiky masih sebel dengan Fayrin, sejujurnya. Tapi Kiky paling anti melihat orang lain kesusahan. Apalagi jika itu wanita. Kiky lemah. Karena Kiky punya ibu dan Mbak Tyas yang harus dihormati. Maka perempuan yang dilihatnya juga harus diperlakukan sama seperti ibu dan sepupunya itu. Perempuan bukan untuk dilecehkan, tapi harus dihormati.

Kiky melirik Fayrin. “Ada ban gantinya?” tanyanya.

Fayrin mengangguk, sebisa mungkin dia bersikap biasa saja meski hatinya sudah malu. Semburat merah berhias di pipi. Ini semua karena Kiky. Lelaki itu berhasil membuat Fayrin malu untuk pertama kalinya seumur hidup. “Di bagasi belakang. Cek sendiri!”

Wajah Fayrin meninggi, berlagak sombong. Tapi dapat desisan sebal dari bibir Kiky, sebab di saat seperti ini, perempuan itu masih saja sok menjaga citra tak mau mengalah. Kiky yakin, setelah ini dia takkan mengatakan terima kasih. Karena Kiky sudah hafal dengan perangai orang-orang sombong macam perempuan itu.

Kiky mengeluarkan ban serep, membawanya ke ban yang bocor beserta alat pembuka baut. Mengganti ban tanpa disuruh Fayrin. Kiky bisa mengganti ban, jelas jawabannya iya. Karena memasang ban tidaklah sulit. Kiky juga punya pengetahuan sedikit di bidang otomotif. Kiky sering mengganti suku cadang motor gedenya sendiri di bagasi rumah. Yang kadangkala dapat teguran dari ibunya karena oli mengotori lantai.

Sepanjang memerhatikan Kiky dengan tugas otomotifnya, Fayrin hanya diam. Melihat takzim dan seksama. Sesekali pria menggemaskan itu mengusap peluh di wajah. Beberapa saat setelahnya, pekerjaan Kiky beres. Ban ganti telah terpasang sempurna. Mobil itu siap untuk bergerak lagi.

“Selesai.”

“Berapa?” tanya Fayrin. Merespon cepat begitu Kiky menatapnya.

Kiky mengernyitkan dahi. “Apanya yang berapa?”

“Harga perbaikan mobilku!”

“Memangnya aku meminta imbalan?” Kiky masih menatap heran Fayrin si gadis angkuh sembari memasukkan semua peralatan obeng-obengan dan lainnya ke dalam kotak mekanik.

“Aku tahu kamu tidak meminta. Tapi aku menetapkan tarif untukmu. Berapa? Sepuluh juta, dua puluh juta atau ....”

“Tidak perlu!” Kiky memotong kalimat.

Kiky mengambil ballpoint dari tangan Fayrin yang sedang menuliskan sesuatu di secarik kertas. Bisa jadi cek kosong yang akan ditulis nominal. Hendak protes, tetapi tertahan. Melihat wajah serius Kiky sudah cukup menjelaskan kalau pemuda menggemaskan itu tidak akan mendengarkan keluhannya sama sekali.

“Tidak perlu bayar apapun. Aku tidak butuh uang sama sekali. Tapi kamu perlu mengembalikan kemeja putihku seperti sedia kala.” Kiky menyerahkan ballpoint ke Fayrin. Lalu melepaskan kemeja putihnya, kemudian diserahkan kepada Fayrin. Ada noda di baju putih bersih itu. Untung Kiky membawa hoodie yang disimpan di dalam tas. Dia memakai itu. Walau saat telanjang dada tadi, Fayrin sempat melihat bentuk tubuh si pemuda manis nan menggemaskan. Tipenya sekali bentuk tubuh indah itu.

Apalagi perutnya yang berbentuk. Alamak, makin indah sudah badan si pemuda jangkung. Tetapi, kesal tetap kesal. Sekagum apapun Fayrin pada Kiky, nyatanya kesal pada pemuda itu tidak akan berubah.

“Kamu kira aku pembantumu, hah?” Fayrin protes. Kiky melepaskan helm yang dipakai, baru saja akan menyalakan motornya, hendak pergi duluan meninggalkan Fayrin yang berseru lantang padanya.

“Aku tahunya bajuku kembali bersih, tidak ada noda bekas bibir dan kotor. Jalan Bougenville nomor tiga belas, komplek Magnolia residence. Itu alamat rumahku. Jika tidak bertemu denganku, titipkan saja pada orang rumah. Ingat, besok sore sudah harus aku terima. Tidak perlu berterimakasih, aku bisa memakluminya kalau bibir kamu nggak bisa bilang kata itu.”

Kiky menyalakan motornya lagi. Detik berikutnya, kendaraan itu melaju cepat, melesat, dalam sekejap mata lenyap dari pandangan Fayrin betulan. Fayrin masih berdiri mematung. Mulutnya mendadak kelu, tidak bisa bicara apapun.

Fayrin sadar kalau dia telah diinjak harga dirinya semena-mena oleh si pria menggemaskan itu. Kesal dilecehkan, Fayrin melampiaskan amarahnya dengan melempar kemeja putih Kiky ke jalan aspal. Diinjak-injak, menendang baju itu sampai keluar dari markah jalan. Anggaplah Fayrin sedang menginjak harga diri Kiky yang tidak turun ego.

Fayrin masuk mobil, menyalakan kendaraan. Mobil itu mulai melaju, tancap gas. Namun beberapa meter mobil berjalan, Fayrin menghentikan kendaraan, malah mundur lagi ke belakang. Keluar mobil hanya untuk memungut baju milik Kiky. Entah kenapa, Fayrin tidak bisa untuk membuang baju itu meski dia terlihat tidak peduli pada secarik kain yang telah lusuh.

“Oke. Baru kali ini ada seseorang yang berani menentangku, menginjak harga diriku dan tidak menghormatiku. Kita lihat, apakah kamu bisa mengalahkan aku kali ini. Aku akan buat hidupmu jauh lebih menderita dari apa yang aku rasakan sekarang.”

••••

Malamnya, Kiky baru tiba di rumah.

“Kiky pulang Pak, Bu!” kata Kiky berseru di depan pintu rumah. Melepaskan sepatu di sana. Dia mampir sebentar di tempat tongkrongan sebelum sampai di rumah, sore tadi. Satu jam lalu.

“Langsung ke dapur, Ky. Makan bareng Bapak, dia lagi makan.” Ibu menegur di ruang tengah.

Kiky menggeleng. “Masih kenyang, bu.”

“Kamu makan di luar?”

“Ya, bareng teman-teman.”

Kiky telah naik ke lantai atas menuju ke kamarnya. Ibunya duduk di meja makan, menemani Bapak.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED