Ini hidupku, menjadi single Mom dengan satu anak memang bukan hal yang bisa dibanggakan, usiaku masih 26 tahun. namaku Leira Cassavano, bagi orang Chicago, amerika serikat. Umur 26 adalah hal yang masih muda untuk mengurus seorang putra. Tapi tak apa, aku tidak pernah memikirkan apapun yang orang lain katakan, bagiku putraku adalah duniaku.
Dunia dimana hanya ada aku dan dia, orang lain hanya orang lain, tidak ada hubungan apapun dengan kehidupanku. Aku tidak masalah ketika para teman kuliahku menanyakan bagaimana kehidupan putraku, dan aku dengan bangga selalu berkata.
'Dia putraku, anak yang hebat, cerdas, kuat dan mandiri, dia adalah my galaxy. My World and my heart, aku sangat mencintainya dan tidak ada kata penyesalan saat putraku lahir kedunia ini.'
Aku menikah di usia dua puluh tahun. Bercerai setelah usia kandunganku berjalan tiga bulan, pernikahan yang terjadi karena tidak pernah ada kata aku mencintaimu dari mulutnya, pernikahan itu murni karena sebuah perjodohan, dan bercerai setelah kerjasama itu hancur.
Mungkin karena terlalu percaya diri dan yakin jika perasaan akan terbalaskan, aku memilih untuk setuju, lalu berakhir dengan hal di luar kendaliku, pria itu berselingkuh dan bahkan secara terang-terangan mengatakan jika tak ada cinta untukku, dia bilang terpaksa menikahiku dan memilih kabur dengan segala usaha yang dilakukan untuk membuat kerjasama itu hancur.
Dan aku?
Tentu saja hancur, menerima sebuah takdir dimana rasa cinta itu tidak pernah terbalaskan, di bulan-bulan kehamilan-ku sulit untuk dikatakan hal biasa, beberapa kali aku hampir membuat putraku pergi dalam kata lain mencoba membunuhnya.
Aku pikir kehadirannya akan sangat menggangguku, membuatku akan teringat sosok ayahnya dan aku takut semua rasa amarah itu akan terlampiaskan padanya, namun semua ini hilang.
Ketika aku menyaksikan sepasang kekasih yang harus kehilangan bayinya karena pertengkaran di tengah jalan, sang ibu lalai melupakan kereta bayi yang terjun ke jalan karena terlepas, sampai akhirnya sebuah mobil menabrak kereta bayi itu dan menghilang hawa yang tidak bersalah.
Aku menangis, sangat kencang, menyaksikan kejadian itu secara nyata dan karena itulah aku putuskan untuk merawatnya dengan baik, karena bagaimanapun bayi dalam kandunganku tidak pernah salah. hanya aku dan pernikahan itu yang salah.
Putraku hadir untuk membuatku menjadi sosok kuat. Dan menjadikan hidupku lebih berarti dari apapun, aku hanya ingin hidupnya selalu dikatakan cukup dan melihatnya tumbuh dari kasih sayang.
Aku menentukan namanya sesuai dengan margaku, yaitu Cassavano. Karena dia lahir ketika musim semi dan ketika aku akhirnya memiliki pekerjaan tetap aku memutuskan memberikan namanya Kevin Cassavano.
Entahlah aku suka nama itu, dan saat pertama kali memeluknya setelah berjuang melahirkannya, ketika aku mengajaknya bicara saat putraku menggenggam jariku.
"Kevin Cassavano, itu namamu sayang. Jadilah putra Mom yang baik, ingatlah jika kamu lahir karena Mom begitu mencintaimu." ucapku.
Dalam kekaguman dan rasa ingin menangis bahagia. Saat pertama kali aku melihat Kevin tersenyum ketika aku mengatakan hal itu padanya, seakan dia mengerti dan memahaminya.
Dan kini, putraku sudah akan menginjak enam tahun, Kevin sangat menyukai menggambar. Dia juga aktif dalam kegiatan piano, Leira tidak pernah memaksa putra untuk menyukai sesuatu, Kevin sendiri yang ingin mempelajari itu semua disaat seusia lebih banyak menangis meminta sesuatu.
"Mom!"
"Mommy! Bangun!" tangan mungil kecil itu menepuk halus pipi sang Ibu, dia berusaha membangunkan sang Ibu yang tertidur di sofa tepatnya di ruang tamu, bukankah aku sudah mengatakan jika putraku sudah seperti kakakku? Lihatlah sekarang, dia benar-benar hebat.
"Mommy!! Aku harus pergi ke sekolah." ucap Kevin lagi, dia mencubit pipi sang Ibu untuk segera bangun dan menyiapkan kebutuhan dirinya.
Leira mulai terusik, dia membuka paksa kedua matanya, tersenyum melihat sang putra sedang berdiri di hadapannya dengan piyama lucunya. Leira menggerakkan tubuhnya untuk bangun dan mendudukkan Kevin di pangkuannya.
"Kevin, putra Mom sudah bangun, maaf Mom bangun telat. Kevin ingin sekolah?" tanya Leira, dia merapikan rambut putranya sedikit berantakkan. Rambut Kevin begitu mengikuti ayahnya sedikit keriting dan mudah sekali bervolume.
"Mom, selalu seperti itu, akhir-akhir ini lebih sering tidur di sofa dan bangun telat. Jangan seperti itu! Kevin tidak suka, nanti Mommy bisa sakit." ucap Kevin, dia menatap sang ibu. Mengecup kedua kelopak mata Leira dengan sayang.
"Mom, janji tidak akan melakukan itu, sekarang Kevin mau memaafkan Mom?"
Kevin mengangguk, dia memeluk tubuh sang ibu dengan sangat erat dan bahkan tidak malu untuk mengecup kening sang Ibu. "Kevin maafkan, tapi nanti sore Mommy harus mengajak Kevin ketaman bermain! Janji?"
Kevin mengangkat jari kelingkingnya sebagai satu bukti untuk perjanjian yang diajukannya pada sang Ibu. Leira tersenyum, dia juga melakukan hal yang sama seperti Kevin lalu melingkar jari kelingking mereka dengan erat.
"Mommy sangat menyayangi Kevin, sekarang ayo kita bersiap untuk ke sekolah."
Kevin mengangguk mengerti, dia turun dari pangkuan sang Ibu dan menarik Leira untuk mengikuti langkah kecilnya.
Yang di katakan Kevin memang benar, semejak Leira pindah ke pinggiran kota chicago, dirinya harus sedikit mengambil waktu lebih awal, karena kantornya berada di sekitar sini dan putranya yang bersekolah tidak jauh, membuat Leira terkadang harus tidur lebih larut karena sebagian tugasnya dikerjakan di rumah.
Leira bekerja disalah satu perusahaan penerbit yang berada dibawah naungan Editor Media CT. Atau Group CT. Leira bekerja sebagai desain cover novel dan terkadang dia juga ikut ambil bagian revisi naskah.
Pekerjaan yang cukup ringan dan tidak membebani kehidupannya, Leira juga masih memiliki seorang Ibu yang akan menjemput Kevin saat jam sekolahnya sudah selesai. Leira memang tidak tinggal satu rumah dengan Ibunya tapi hubungan mereka masih terjalin dengan sangat baik, bahkan setelah Leira menceraikan pria itu.
Mungkin karena sudah memasuki musim semi, di mana lebih banyak penulis menerbitkan bukunya, Leira juga ikut harus merasakan sibuknya, apalagi lebih banyak penulis meminta dirinya untuk membuatkan cover untuk mereka dan menanyakan revisi yang harus mereka lakukan sebelum sepenuhnya menyerahkan naskahnya.
Mungkin Leira tidak seperti yang lain, sebagian seorang editor lebih banyak menekan penulis untuk membuat cerita yang menjadi tren terkini tapi Leira lebih banyak memberikan masukkan dan lebih mengatakan untuk menjadi diri sendiri ketika menulis sebuah cerita.
Leira duduk di kursi dengan setumpuk naskah di hadapannya, tidak terhitung berapa jumlah lembaran itu dan kapan akan segera terselesai.
"Leira? Kau sudah datang?" tanya salah satu wanita yang duduk bersebrangan dengan Leira.
Leira tersenyum, sambil melepaskan cardigannya dan menjawab dengan cepat. "Ya, seperti biasa, aku selalu ketinggalan bus dan berakhir dengan naik taksi."
"kau hebat bisa memiliki putra yang pintar, aku lupa memberitahu, tadi Tuan Hansa mencarimu."
Leira langsung segera bangun, mengambil dokumen yang semalam baru saja dia selesaikan dan segera menuju ruangan manager Tuan Hansa. Mengetuk pintu sebelum melangkah masuk ke dalam, dan ketika masuk ke dalam tatapan Leira tidak sengaja mengarah pada pria yang duduk di sofa.
Tapi secepat itu dia mengabaikannya, Leira segera mendekati kedua orang lebih tepatnya kearah pak Hansa.
"Tuan Hansa, aku sudah menyelesaikannya." ucap Leira, dia meletakkan dokumen di hadapan kedua pria itu, Leira tidak bisa berbohong jika tatapan pria yang duduk di seberang Tuan Hansa membuatnya tidak nyaman.
"terimakasih Leira, kau bisa kembali." ucap Tuan Hansa, dia mengambil dokumen itu dan memberikan pada pria dihadapannya.
Leira tersenyum dan menunduk hormat pada kedua pria itu dan segera pergi dari ruangan Tuan Hansa.
"siapa nama gadis itu?" tanya pria yang duduk disamping Tuan Hansa setelah Leira pergi beberapa menit, dia tidak tahu akan langsung tertarik, ini pertama kalinya dirinya bertemu dengan seorang wanita yang mengabaikan ketampanan dirinya.
"Leira Cassavano, dia salah satu karyawan terbaik kali." ucap Tuan Hansa, matanya sibuk memeriksa dokumen yang baru saja Leira serahkan, wanita itu memang sangat hebat dalam urusan pekerjaan.
Pria itu hanya diam, dalam diamnya dia mengingat wajah itu dan namanya.
Beberapa jam berlalu.
Leira berjalan keluar dari Media CT. Kakinya segera berlari saat waktunya untuk segera menghabiskan waktu bersama putranya, Leira sudah berjanji pada Kevin. Jadi tidak ada hal yang bisa membuat Leira tetap berada di kantor, apalagi Kevin adalah segalanya, sekeras apapun Leira bekerja, dia tidak pernah bisa menolak permintaan putranya.
Leira menaiki bus setelah menunggu selama lima menit, dia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan pada sang Ibu, menanyakan apakah Kevin sudah makan atau sekarang apa yang sedang putranya lakukan.
Leira mendapatkan email jika dirinya akan ikut tim Tuan Han dengan beberapa orang, mereka semua akan berangkat ke kantor Grup Media CT., untuk memberikan laporan setiap bulan, melakukan presentasi dalam banyak hal entah itu laporan laba dan rugi dalam penjualan setiap hari atau perminggu yang dijadikan satu dalam hitungan bulan.
Ini pertama kalinya Leira kesana, dia tidak pernah terpilih telah dua tahun bekerja di Media CT. Ini merupakan peluang untuknya bisa masuk ke dalam Grup Media CT. apalagi disana segalanya lebih terfasilitasi, dan salah satu tentu saja gaji yang lebih besar.
Bukan karena gaji Leira untuk sekarang tidak cukup, hanya saja jika ada kesempatan itu. Dirinya akan lebih bisa menunjang masa depannya Kevin lebih matang lagi, menabung untuk kedepannya.
Leira segera turun setelah sampai di tujuannya, dia menelepon ibunya selama perjalanan menuju ke rumah sang Ibu. Leira tersenyum bahagia, rasa lelah bekerja hilang begitu saja, melihat sosok kecil sedang melambaikan tangan ke arahnya, menyambut kedatangannya.
Leira berlari, memeluk tubuh putranya dan memberikan kecupan sayang di area wajah Kevin.
"Mom! Kevin baru selesai makan!" tangan mungil itu mendorong halus wajah sang Ibu, bukan tidak menyukai tapi dirinya baru saja selesai makan dan mungkin belum sempat membersihkannya sisa makanannya.
"Mom sangat merindukanmu."
"Kevin mengatakan, akhir-akhir ini kau lebih sering tertidur di ruang tamu, bukankah aku sudah mengatakan jangan bekerja terlalu keras?"
kini yang ikut memarahi adalah sang Ibu, wanita paruh baya itu memang memiliki karakter yang keras, namun dialah yang membantu Leira melewati masa sulitnya. Mendukung dalam setiap keputusannya, walau terkadang dia sukai berbicara hal lain.
"jadi putera Mom, sudah pandai melapor? Siapa yang mengajarimu?" Leira melepaskan pelukannya, berjongkok untuk sejajar dengan tinggi putranya, dan sesekali mencubit pipi gemasnya.
"Leira, apakah pria itu sudah berhenti mengirimkan uang padamu?" tanya sang Ibu, membuat Leira sebenarnya sangat malas membahas pria itu, mati-matian Leira mengabaikan pria itu walau setiap hari dirinya pasti akan melihatnya.
"Ibu, aku tidak mau menerima apapun darinya, Kevin putraku dan aku ingin sepenuhnya Kevin hidup karenaku." Leira menerima paper bag yang berisi seragam Kevin, menggenggam tangan putranya dan berpamitan dengan sang Ibu.
"Ibu, aku menyayangimu, jaga diri baik-baik, sampai jumpa." ucap Leira, dia melambaikan tangannya sebelum pergi.
"Kevin juga, sampai bertemu lagi Ibu." ucap Kevin sambil melambaikan tangan mungilnya, putranya ini sangat lucu, dia tidak pernah mau memanggil sang nenek dengan sebutan itu, baginya neneknya adalah Ibu.
"Kevin, Mom sudah mengajarkan untuk berhenti memanggil Ibu? Panggil nenek, okey?" ucap Leira ketika dia menuntun dirinya dan Kevin untuk berjalan menuju halte di depan jalan.
"Mom saja memanggil Ibu, masa Kevin tidak boleh!"
Leira hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Kevin terlihat gembira saat Leira mengajaknya sebuah taman yang tidak jauh dari apartemen mereka, putranya tidak pernah sekalipun membuat Leira merasa hancur, bahkan Kevin adalah kekuatan untuknya terus mensyukuri hidup.
Bahwa tuhan masih adil, memberikan dirinya satu hal berharga.
"Hari ini, Kevin menggambar apa?" tanya Leira, keduanya sedang duduk dibangku taman dengan cup ice cream coklat. Melihat banyak orang tua yang mengajak anaknya bermain disana.
Kevin meletakkan Cup Ice cream di sisi bangku yang kosong, membuka resleting tasnya dan mengeluarkan buku gambar miliknya, membuka satu persatu halaman dan berhenti pada sebuah gambar selama di sekolah tadi.
"Kevin menggambar di tempat dimana Kevin dan Mom bisa melihat matahari terbenam." ucap Kevin, itu benar. Ada Leira dan Kevin seperti di pantai sambil menunggu matahari terbenam.
Leira tersenyum, terkadang dirinya bertanya-tanya, apakah Kevin tidak rindu bertemu dengan ayahnya, sebagian besar dalam buku itu hanya ada mereka berdua, seakan tidak ada tempat untuk orang lain, Leira mengelus lembut rambut sang putra.
"Mom suka, Kevin ingin melihat pantai?"
Kevin melipat buku miliknya, menatap kearah sang Ibu penuh harapan, dengan senang dan polosnya Kevin mengangguk, mengatakan dengan semangat.
"tentu saja, Kevin ingin kesana bersama Mom."
"Mom, akan mengajak Kevin, saat liburan musim semi."
Kevin terkejut, dia terlihat sangat senang sampai tidak bisa menyembunyikan gigi putihnya dan sisi Ice cream di area mulutnya. "Mom harus janji!"
Leira mencubit pipi putranya, mengacak-acak surai coklat itu. "Tentu saja, apapun untuk Kevin-ku"
_______
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, setelah menidurkan Kevin, Leira harus kembali pada pekerjaannya, semua ini harus selesai minggu depan sebelum waktu pencetakkan, belum lagi Leira tidak ada waktu untuk membaca presentasi besok, dia berharap besok hanya duduk di antara temannya yang ikut pergi ke Grup Media CT.
Suara ponselnya terus berdering, tertulis jelas nama yang ingin sekali dirinya hindari, Leira tidak pernah bisa berpikir baik jika pria itu terus mengganggu dirinya, padahal saat Leira memohon untuk sebuah kepastian, pria itu malah pergi begitu saja.
Sekarang? Setelah tahu jika Leira hamil anaknya, saat itu juga dunia Leira kembali di ganggu, dia tidak mau apapun dari pria itu, bahkan tidak pernah berharap jika pria itu kembali, walau mungkin dirinya sudah berubah. Tetap saja hatinya sudah tertutup rapat untuk siapapun.
Leira membuang nafas panjang, mencoba untuk fokus dan kembali pada kegiatan awalnya, dia tidak boleh goyah dan tidak boleh lemah, dia sudah sampai di titik ini dan Kevin adalah titik terakhir, jadi Leira hanya perlu mengatakan pada dirinya.
Kau bisa dan abaikan segalanya.
Butuh enam tahun untuk bangkit dan bisa pada keberhasilan ini adalah hal panjang untuk Leira, walau bayang pria itu masih ada karena Kevin begitu mirip dengannya, bahkan tidak ada cela untuk mirip dengan dirinya, Kevin seperti versi lain dari pria itu.
Tapi tetap mencoba untuk mengabaikan bayangan kisah cinta yang begitu menyakitkan, dirinya tidak pernah bisa merasakan apa itu indahnya sebuah pernikahan, rasanya seperti setiap hari harus menelan pil pahit.
Tidak! Kevin adalah dirinya! dia tidak mirip pria itu!
Leira memukul kepalanya, menyadarkan dirinya dari pemikiran itu, dan tangannya mulai merevisi setumpuk lembaran naskah.
Kegiatan itu terus berlanjut sampai jam sudah menunjukan pukul satu malam, Leira masih sibuk mencoret bagian yang kurang dan menulisnya di bagian atas, dua jam digunakan untuk merevisi satu novel.
Suara dering bell membuat dirinya menghentikan kegiatannya. Membuat Leira harus membuka pintu pada tamu yang berkunjung di malam hari ini, bukan ini sudah termasuk dini hari.
"Ya, ada yang bi---," Kalimat itu terhenti, mengambang di udara saat Leira menatap tidak percaya pada pria di hadapannya, membuat dirinya ingin sekali menutup kembali pintu itu.
"Leira--"
Leira menolak tegas saat pria itu melangkah ingin masuk, dia tidak akan membiarkan pria itu masuk ke dalam kehidupannya, apalagi menyentuh Kevin.
"jika anda tidak mau diusir olehku, aku akan memanggil petugas keamanan untuk melakukannya." ucap Leira, sebisa mungkin menunjukkan wajah tegas, padahal hatinya begitu lemah melihatnya, pria yang sudah lama tidak dirinya lihat sedekat ini, dan secara langsung.
"Leira--aku--"
"Pergi! Kau tidak izinkan untuk menyampaikan apapun!" Leira meninggikan suaranya, menahan air matanya. Kenapa? Suara itu begitu menggoncangkan hatinya dan juga pikirannya.
"aku akan pergi, Leira. Tapi di waktu lain, kamu tidak akan bisa menghindar lagi." ucap pria itu, dia tidak ingin membuat keributan apapun, dirinya nekat kesana karena Leira terus mengabaikannya.
Leira menutup pintu untuk tanpa mengatakan apapun, mencoba untuk tidak memperdulikan apa yang pria itu katakan dan mencoba untuk lebih kuat lagi.
"Mom? Apa terjadi sesuatu?" Kevin, pria kecil itu berdiri di ujung pintu kamarnya, sambil mengusap matanya yang masih mengantuk.
Leira menghapus air matanya, berusaha menutupi apa yang terjadi dan melangkah mendekati putranya. "Kevin kenapa bangun sayang? Kevin ingin minum?"
Kevin mengangguk, tangannya mengusap lehernya memberitahu jika memang dirinya haus.
"baiklah, Mom akan mengambilnya."
Leira kembali setelah mengambil segelas air, memberikan pada putranya dan mengajaknya kembali ke kamarnya.
"Kevin ingin tidur dengan Mom."
Leira tersenyum dan mengangguk. "ayo kita kembali tidur."
Keesokan paginya.
Aktivitas rutin, tentu Leira terlebih dahulu mengantar sang putra ke sekolahnya, Leira hanya sebatas mengantar Kevin sampai bus sekolah menjemputnya, kebetulan kantor Grup Media CT. Tidak jauh dan Leira bisa sedikit merasa tenang.
Seharusnya dia berangkat dengan tim-nya namun karena Leira tidak punya waktu, itulah kenapa dirinya memutuskan untuk sendiri kesana. Dia sudah mempelajari agenda hari ini, Leira bangun pagi kali ini, dia meluangkan waktu untuk membuat bekal Kevin dan mencatat kebutuhan yang mulai menipis. Harus segera dibeli.
Dan kebetulan Leira akan menerima gaji bulannya akhir pekan ini, itu berarti libur musim semi Leira ada waktu untuk mengajak Kevin berlibur ke pantai. Sudah lama juga Leira tidak kesana, terakhir saat merayakan pernikahannya dan reuni angkatan universitas.
Setelah itu, hidupnya sepenuhnya untuk Kevin, Leira sangat jarang bertemu dengan teman masa SMA-nya lagi, biasanya di akhir pekan mereka akan melakukan sebuah rencana dimana mereka berkumpul.
Leira merapikan pakaian Kevin, ketika Bus sekolah akan segera datang, melihat putranya yang sangat tampan. “Ingat sebelum Nenek menjemput Kevin, jangan pernah ikut dengan siapapun oke? Kevin bisa menghubungi Mom jika Nenek tidak ada.”
Kevin mengangguk, melambaikan tangannya setelah bus sekolah berhenti di tempat mereka, Kevin langsung dibimbing oleh pak guru yang menjemputnya.
Leira tersenyum, melambaikan tangannya ketika bus membawa putranya, sebenarnya Leira begitu mencemaskan putra setiap saat, dia harus mandiri di usia-nya, belum lagi kekhawatiran terjadi sesuatu padanya. Karena Leira tidak bisa menjemputnya dan hanya bisa menghantar.
“Ya. Aku akan segera sampai, sedang dalam perjalanan.”
Leira berlari menghentikan taksi yang melintas, ponsel masih menempel di telinganya, beruntung karena Tuan Han begitu baik memberitahu jika Tim mereka akan segera sampai.
Heels peach yang Leira kenakan melangkah masuk kedalam gedung pencakar langit, wajah kagum dan terpikat dengan desain interior yang belum pernah dia lihat dimanapun, bagian depan dipamerkan beberapa buku penulis hebat di masanya, lalu label bertuliskan ‘Group Media CT’ terlihat jelas. Semua karyawan berlalu-lalang di lobi utama lantai dasar. Seragam mereka juga cukup unik.
Saat Leira menatap ke atas, dirinya kembali dibuat kagum, siapa yang menyangka jika ketika melihat keatas pemandangan langit terlihat jelas, dan Leira yakin jika diatas sana adalah taman. Tempat ruang terbuka untuk menghirup udara segar.
Surga untuk para editor, revisi, dan penulis. Lihatlah bagaimana setiap lantai seperti terdapat rak tumpukan buku, seperti mengunjungi Cafe book. Karena di lantai Leira berada ada beberapa Cafe dan restoran cepat saji.
Leira berjalan setelah menemukan rekan kerja mereka duduk di sofa yang memang disediakan disana. Dengan senang menerima Ice Americano pemberian Tuan Hansa.
“Terimakasih Tuan Hansa.”
“Apa kau sudah membaca semuanya? Hari ini kau yang akan menggantikan Mira untuk presentasi kali ini.” ucap Tuan Hansa.
Leira tersedak, menatap tidak percaya. Matanya mencari temannya dan ternyata Mira tidak ada di antara tim-nya, Leira menjadi tidak bersemangat, dia hanya membaca tapi tidak menghafalnya. “Ta–tapi, Tuan Hansa. Aku—”
“bukankah kau sudah sering Leira, ini bukan pertama kalinya kau berbicara didepan orang lain” ucap Tuan Hansa, pria itu memang pengertian, namun dia tidak suka penolakan. Dan suka mengambil keputusan terburu-buru.
“Ya—Tapi, ini berbeda. Aku tidak yakin akan berjalan dengan baik.”ucap Leira, dia mulai merasa panik, tangannya tidak bisa diam untuk tidak gemetar, Leira merasa punggung mulai berkeringat.
“Grup Media CT, akan merekrut salah satu dari lain untuk dipindahkan disini, ini bisa menjadi peluang untukmu, Leira.”
Leira terdiam, dia mengambil proposal di dalam tasnya, membuka lembaran demi lembaran, sebisa mungkin memahami dengan kondisi menegang, jika ini adalah peluang untuk masa depan Kevin, Leira tidak akan takut untuk melangkah maju.
Dua puluh lima menit Tim dari Media CT. Menunggu sampai Tuan Greyson datang.
Leira masih sibuk membaca proposal ditangannya, jika tidak ditegur oleh Tuan Hansa, Leira tidak akan menyadari jika pemilik Grup Media CT. Berada di hadapan mereka, diusia Leira tidak begitu berarti untuk mengagumi ketampanan seseorang, hanya ada Kevin.
Sulit untuk menerima pria lain.
Tim-nya membungkuk hormat dalam pertemuan itu, Leira berdiri paling belakang. Tapi itu malah menambah ketegangan saat tatapannya mengarah pada pria itu. Sorotan matanya begitu soft namun lain dengan wajahnya yang begitu datar tanpa ekspresi.
Refleks Leira menunduk, kembali membaca proposal itu. Leira tidak bisa mengatasi paniknya, dan tidak bisa berbohong jika telinganya begitu merah. Itu reaksi ketika Leira gugup, marah dan malu.
Setelah berbincang-bincang, tidak lama tim-nya dibawah pada lantai Delapan. Mereka tidak bisa berada dalam satu lift yang massa, karena Leira paling belakang, dia malah berakhir dengan karyawan Grup Media CT. Tidak apa hanya karyawan tidak ada sang Ceo.
Leira lupa mengikat rambutnya, kebiasaan terbawa sampai sana. Saat tangannya menggenggam sesuatu pasti Leira akan meminta orang disebelahnya untuk memegangnya dan tanpa rasa bersalah, dirinya akan mengikat rambutnya.
Leira terpaku, dia baru saja melakukan hal bodoh itu, bagaimana dia tidak menyadari jika orang disampingnya adalah Tuan Greyson. “Maaf, ak—aku tidak menyadari jika—,”
“Tak apa, aku menyukainya.” ucap pria itu.
Leira menatap tidak percaya, menelan air liurnya dan sedikit menggeser posisinya, ucapan pria itu mengundang negatif dalam pikirannya, bagaimana bisa pria itu berkata hal yang masih asing untuk dikatakan pada orang baru. Leira menggelengkan kepalanya, dan mengelus tubuhnya yang merasa merinding.
“Akh!!” tubuhnya terbentur pada lift, dikurung dengan tubuh besar yang menariknya saat lift terbuka, Leira tidak percaya dengan apa yang pria itu lakukan, ini sudah terlalu keterlaluan, walau pria itu memiliki kekuasaan disini, tapi Leira tidak akan membiarkan pria itu melakukan sesuatu.
“Anda tidak sopan Tuan! Lepaskan!” Leira memberontak, tangannya dicekal di sisinya, dia memang tidak sebanding dengan pria itu, bukan berarti dia tidak mau melawan.
“Diam!”
Sontak Leira terkejut, menatap pria yang semakin menghimpit dirinya disana, padahal lift sudah meninggalkan lantai delapan. “Ini pelecehan Tuan, disini juga ada CCTV. Aku bisa menggugat anda!”
“Leira .. Itu namamu bukan? Tolong dengarkan, aku tidak ingin melecehkan mu, tapi kamu harus lebih hati-hati, pakaian belakangmu sobek dan tidak baik dilihat orang lain.” ucap Sean, pria itu melepaskan cekalnya, memang caranya salah tapi, entah kenapa dirinya tidak tahan jika membiarkan gadis itu menampilkan tubuh belakangnya terekspos.
Leira menatap ke arah belakang punggungnya dari lift, bagaimana dirinya tidak menyadari itu, cukup besar bagian yang robek, sampai memperlihatkan punggung dan tali bra miliknya, dengan malu Leira menutupnya sebisa mungkin.
Sean dengan sigap melepaskan jas miliknya, memakainya pada gadis itu dan menekan tombol lantai delapan, dia berdiri di depan tubuh Leira.
Dan wanita itu, hanya terdiam. Leira sudah berkata kasar, tapi wajar jika dia berkata seperti itu, cara pria itu melakukannya salah, padahal dia bisa mengatakannya, tidak perlu sampai melakukan kontak fisik dengannya.
Leira merasa tegang itu hilang, menatap punggung lebar itu dengan kemeja putihnya, menggambarkan betapa tampan pria itu dan jangan lupakan tinggi badannya. Leira saja tingginya hanya sebatas bahunya.
Ingatlah, kau seorang ibu! Bukan lagi gadis yang bisa terpesona pada pria tampan!
Leira menyadarkan dirinya pada posisinya saat ini, bagaimanapun. Leira tidak punya waktu untuk memikirkan pria, membuatnya melupakan pria itu saja membuang waktu yang begitu lama, sekarang? Leira hanya ingin Kevin bahagia.
Kakinya mengikuti langkah pria itu setelah lift terbuka, Leira menatap tim-nya yang sudah duduk manis disana, kakinya menjadi lemas. Bagaimana dia menjelaskan nanti, dirinya masih merasa malu ketika Jas Tuan Greyson ada di tubuhnya.
Sean duduk di tempat di sisi kanan Leira, dengan wajah datar dan sikap pendiamnya, pria itu memerintahkan gadis di depan untuk segera memulai presentasi itu.
“Lakukan Nona Liera.”
Leira mengangguk, layar proyektor sudah menampilkan proposal untuk perkembangan selama satu bulan ini, dengan hela nafas dan senyum tipis Leira mulai menatap ke seluruh orang yang berada di ruang rapat.
“Sebelumnya biar aku memperkenalkan diri, namaku Liera Cassavano, Aku bagaikan revisi naskah dari Media CT. Disini aku akan menyampaikan jika. perkembangan selama satu bulan ini dibandingkan dengan beberapa bulan sebelum, memiliki kenaikan yang sangat baik, semua ini berjalan dengan baik atas bergabungnya Writer Tuan William. Dan—”
Leira menjelaskan slide demi slide dengan ketegangan antara dia begitu muak bertemu dengan pria yang tadi dia sebutkan dan Tuan Greyson yang terus mengajukan banyak sekali pertanyaan.
Rapat berakhir di waktu jam makan siang.
Tim-nya bersorak bangga pada Leira atas presentasi yang sangat baik di atas meja makan direstoran mewah, dan pujian-pun tidak ragu disampaikan oleh beberapa orang dari Grup Media CT.
Saat ini Leira berada di lantai paling atas, dia meninggalkan tim-nya untuk makan siang bersama mereka karena ulah William yang menariknya untuk berbicara, inilah yang selalu Leira hindari.
Memang sangat sulit karena keduanya merupakan naungan yang sama, padahal saat Leira dan William saat menikah pria itu bekerja di bidang pemodelan tapi sekarang, setelah bercerai pria itu menjadi seorang penulis.
Itulah alasan kenapa Leira tidak pernah bisa jauh darinya, walau dua tahun menghilang. William selalu berhasil menemukan dirinya.
“katakan apa yang ingin kamu sampaikan?”
William menatap kearah Leira, mantan istrinya. Dia begitu ingin menjelaskan semuanya dan berharap Leira percaya. “bagaimana kabar putraku?”
“Kevin bukan putramu! Dia putraku.”
William tersenyum, setelah beberapa tahun dirinya mencoba melepaskan segala permasalahan, walau hingga saat ini hatinya belum memiliki perasaan apapun, namun ikatan seorang ayah dalam dirinya begitu tinggi.
Bagaimanapun anak itu hadir karena ada dirinya.
“Jadi namanya Kevin, Leira bisakah kita kembali bersama? Aku yakin Kevin membutuhkan sosok ayah, kita sudah melewati masa keegoisan. Kita sudah dewasa, bisakah kau menerimaku kembali?”
Leira tahu, Kevin begitu menginginkan sebuah pertemuan antara dirinya dengan ayah kandungnya, seusia Kevin tentu saja butuh sosok ayah di sampingnya, tapi? Pria itu bahkan tidak mau mengakui Kevin saat usianya masih dalam kandungan, sekarang? Pria itu bahkan meminta suatu hal yang Leira kubur sejak lama.
“sejak Kevin tumbuh di rahimku dan lahir, sampai kini dia tumbuh menjadi anak yang mandiri, aku yakin Kevin tidak pernah ingin bertemu ayahnya.”
Leira mulai melangkah menuju ke lift, dia membalik badannya untuk menyampaikan satu kata lagi. “Apakah kau kembali karena ingin mengambil warisan orang tuamu melalui Kevin? Ingatlah gadis yang kau bodohi tidak terjebak dilubang yang sama.”
Dan Leira kembali meninggalkan sikap tegasnya pada pria itu, membuat pertahanan dalam melupakan luka itu semakin kuat, Leira tidak akan lelah dengan semua kata-kata manis pria itu, dan begitu membenci setiap kutipan puisi dalam setiap Novel pria itu.