“Kenapa kalian bisa sejahat itu padaku? padahal aku mencintai kalian berdua dengan sepenuh hati, Mom… Gerald…”
“Alana, kamu memang cantik dan sangat baik hati, tapi kamu bukan tipeku. Kamu sangat polos dan bodoh bisa mempercayai kata-kataku begitu saja. Tentu saja itu bukan salahku, kamu sendiri yang memberikannya padaku,” Gerald tersenyum padaku.
“Anak manis, kasihan sekali dirimu. Kau pikir kita akan bersenang-senang disini? sayang sekali aku sama sekali tidak punya niatan untuk melakukan itu denganmu. Itu karena Juan tidak memberiku uang untuk membeli tas terbaru, jadi salahkan saja dia. Jika dia memberiku uang mungkin ini tidak akan pernah terjadi padamu,” ibuku tiri pura-pura kasihan padaku.
“Kukira kamu menyayangiku, menganggapku sebagai anakmu sendiri. Tidak kusangka kamu sejahat ini dengan menjualku, aku akan memberitahu papa tentang kelakuanmu ini,” aku merasa kecewa, marah dan sedih karena wanita yang aku cintai seperti ibuku sendiri, ternyata hanya memasang topeng didepanku dan Papa. Dia hanya mengincar harta milik papa.
“Apa dia akan memercayai perkataanmu? Belakangan ini kamu selalu membuatnya marah dan kecewa karena kamu tidak mematuhinya, satu kata yang keluar dari mulutku dan dia akan memercayaiku tanpa ragu. Aku dimatanya adalah pasangan yang sempurna tanpa celah, berbeda dengan wanita yang sudah melahirkanmu,” ibu tiriku terlihat senang setelah menerima amplop dengan yang berisi sejumlah uang. Ia membagi beberapa gepok uang pada pada Gerald.
"Jadi kamu juga membohongi papa? jahat sekali, dia sangat mencintaimu. Kenapa kamu menjadi seperti ini, dulu kamu sangat baik padaku, memerhatikanku dan papa. Kenapa sekarang kamu berubah menjadi seperti ini..." aku menatap wajah ibu tiriku dengan kekecewaan.
"Ini adalah diriku yang sebenarnya Alana, untuk mendapatkan hati Juan dan juga kau, aku harus rela melakukan apa saja untuk mendapatkan hati dan kepercayaan kalian. Tapi ternyata tidak perlu waktu yang lama sampai kalian berdua berada dalam genggaman tanganku. Tinggal satu langkah lagi sampai dia menyerahkan semuanya padaku," wanita yang belum lama menjadi ibu tiriku ini terlihat begitu senang seolah dia memang menantikan ini.
"Papa bukan orang yang bodoh, dia tidak akan memberikan semuanya padamu. Dia pasti akan menyadari niat busukmu, lalu dia juga akan mencariku."
"Hahahahah... kita lihat saja nanti," balasnya.
“Aku akan membalas kalian berdua, lihat saja nanti. Aku akan membuat kalian jatuh sejatuh-jatuhnya dan tidak ada yang akan menolong kalian saat itu,” aku benar-benar marah sampai mataku terasa panas dan air mataku mengalir. Sumpahku akan membalas perlakuan mereka padaku suatu saat nanti.
“Lana, memangnya kamu mau membalasku dengan apa? Setelah masuk tempat itu, kamu tidak akan bisa keluar sama sekali. Aku harap kamu menikmati hidupmu yang sekarang, pasti akan banyak lelaki akan memilihmu dengan harga tinggi,” Gerald mengusap wajahku, sekarang aku merasa sangat jijik dengan sentuhannya padaku. Aku meludah tepat di wajahnya.
"Bangsat!" dia menjambak rambutku.
“Ayo pergi Gerald, urusan kita sudah selesai disini,” ibu tiriku mengajak Gerald pergi. “Kalian boleh pergi membawa dia, anak ini tidak ada hubungan apa pun denganku,” ujarnya pada beberapa lelaki bertubuh besar yang hendak membawaku entah kemana.
“Aku pergi dulu Alana, nikmatilah kehidupan barumu sekarang, pasti akan sangat menyenangkan untukmu,” dia menepuk kepalaku pelan sebelum pergi dengan wanita itu.
“Dasar bajingan, lihat saja nanti. Aku akan membalas perbuatan kalian padaku?!” teriakku pada mereka yang sama sekali tidak menanggapi amukanku.
“Lepaskan aku?! Jangan sentuh aku dengan tangan kotor kalian?! Lepas?! Lepas!” aku memberontak sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkeraman dua orang lelaki kekar disini kiri dan kananku.
“Kami sudah membayarmu dengan harga yang mahal, jadi lebih baik kamu menurut karena kami tidak ingin melukai kulit mulusmu," ujar salah satu dari orang-orang ini.
“Aku tidak pernah setuju untuk ini, lepaskan aku berengsek?! Jika kalian ingin wanita kenapa kalian tidak mengambil perempuan tadi saja?!” tamparan yang sangat keras membuat wajahku kebas dan telingaku sedikit berdeging. Aku juga bisa merasakan rasa darah dari dalam mulutku.
“Kamu sudah menjadi seorang budak dan tidak berhak meninggikan suaramu. Ikuti saja perintah kami jika kamu tidak mau aku menghajarmu lagi.”
***
“Apa jadwalku setelah ini Diaz? Jika tidak ada aku ingin pergi ke satu tempat,” ujarnya sambil menatap layar laptop dengan sangat serius.
“Hari ini kau bebas, tapi Jordy menghubungiku. Katanya ada hal yang harus dia bicarakan denganmu tentang orang itu,” jawab Diaz.
“Apa itu artinya dia sudah mendapatkan informasi yang aku inginkan dari orang itu?” dia berbicara tanpa menatap lawan bicaranya.
“Sepertinya begitu, itulah kenapa dia ingin segera bicara denganmu begitu kau selesai bekerja. Juga, mereka bilang Margareth melakukan ulah lagi disana,” Jeffrey menatap Diaz dengan dingin.
“Usir dia dari rumah itu. Aku sudah tidak membutuhkannya lagi, dia terlalu merepotkan. Begitu dia sudah keluar segera bereskan dia dengan sangat rapi,” ujarnya, dia kembali sibuk dengan laptopnya.
“Dia sudah melayanimu dengan sangat baik dalam beberapa bulan ini, sayang sekali padahal dia sangat mudah untuk dikendalikan,” Diaz mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang.
“Kamu bisa mengambilnya jika kamu mau Diaz.”
“Apa kamu bercanda Jeff? Dia memang sangat cantik, tubuhnya juga sangat indah. Tapi aku sangat tidak suka sikapnya yang sangat cerewet dan suka menuntut. Aku lebih suka yang menurut, apalagi diatas ranjang,” ujar Diaz sambil terkekeh.
“Itu akan sangat membosankan Diaz, aku ingin mencari seorang wanita yang sedikit liar sehingga aku harus menundukkannya sedikit,” Jeffrey tersenyum miring membayang sesuatu di kepalanya.
“Kau selalu mengubah tipe wanitamu, setiap waktu. Pantas saja banyak yang menunggumu memilih mereka, membuat mereka bertanya-tanya kapan kau akan membawa mereka ke ruanganmu,” sahut Diaz.
“Aku tidak bisa dengan sembarang wanita, hanya mereka yang menarik perhatianku bisa masuk kedalam rumahku, menikmati semua fasilitas didalamnya bahkan mereka juga mendapatkan uang. Hari ini aku akan ke tempat Frank, kamu tidak perlu ikut karena aku ingin pergi sendirian,” ucap Jeffrey pada asistennya itu.
“Kamu tahu apa yang harus dilakukan di pasar gelap, jangan pakai nama aslimu disana dan gunakan samara agar tidak ada yang mengenalimu,” imbuh Diaz dengan cerewet. Dia lalu menelepon seseorang lagi untuk membawakan pakaian untuk Jeffrey.
“Ini bukan pertama kalinya untukku, aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan. Kau tidak perlu menceramahi sesuatu yang sudah aku tahu dengan baik Diaz, aku sangat membenci itu,” dia melotot kearah asistennya itu.
“Aku hanya mengingatkanmu saja, tidak ada salahnya bukan, kalau begitu aku akan pergi ke Royale Palace untuk bermain sekaligus mengontrol orang-orang kita disana. Oh ya, aku juga meminjam mobil Porsche milikmu,” Diaz mengambil kunci mobil yang tergeletak begitu saja di meja.
“Kamu belum terbiasa menggunakannya, kenapa tidak memakai mobil yang sudah kuberikan padamu?” Jeffrey tampak waswas karena mobilnya itu baru saja dibeli beberapa hari yang lalu.
“Aku ingin mencoba hal yang baru, ada seorang wanita yang ingin aku dekati dan mencoba membuatnya terkesan padaku,” pria yang bernama Diaz itu melambaikan tangan sebelum pergi meninggalkan bos sekaligus sahabatnya pergi.
“Jangan sampai merusak mobilku, kau tidak akan sanggup untuk memperbaikinya?! Haish si berengsek itu,” Jeffrey melonggarkan dasinya lalu menyandarkan dirinya di kursi lalu mengambil rokok dari lacinya. Dia merasa lelah dengan kehidupan ganda yang dijalaninya sebagai CEO perusahaan dan anak seorang bos mafia yang menguasai beberapa perdagangan senjata, dan obat-obat terlarang. Bagaimana dia hidup itu sudah diatur sejak dia terlahir.
Aku benar-benar tidak sabar menunggu hari penting tiga hari lagi, Gerald akan melamarku tepat di hari kelulusanku. Momen yang sudah aku tunggu-tunggu. Ya, aku menunggu dengan sabar sampai aku mengubah statusku menjadi miliknya selamanya. Untungnya Dad sama sekali tidak menentang hubunganku dengannya berkat ibu tiriku. Dia yang meyakinkan Dad bahwa dua orang yang saling mencintai tidak boleh dipisahkan, Dia mengatakan pada Dad bagaimana jika aku menentang hubungan mereka berdua. Aku bersyukur mempunyai ibu tiri yang sangat baik.
“Alana, apa kamu sudah membeli dress baru untuk kelulusanmu nanti? Mau kita beli sama-sama?” tanya Nadine sambil menyelonong masuk kedalam kamarku.
“Apa aku harus membeli baru? Aku masih punya dress tahun lalu yang belum kupakai sama sekali,” ujarku sambil memerbaiki posisi dudukku yang kurang sopan. Nadine juga datang lalu duduk di kasurku.
“Bukankah Gerald juga akan melamarmu saat malam kelulusanmu nanti? Dia pasti akan memberikan kejutan untukmu, aku ingin kamu terlihat memesona di depan Gerald. Aku yakin ini akan menjadi momen yang indah untuk kalian berdua,” dia tersenyum padaku.
“Benarkah? Kalau begitu kamu mau menemaniku membeli pakaian baru?” Nadine mengangguk.
“Aku sudah siap untuk itu. ganti pakaianmu dulu aku tunggu di bawah.”
Aku segera berganti pakaian rumahanku dengan pakaian yang sedikit feminine dengan floral blouse dengan skinny jeans berwarna biru. Tidak lupa dengan sling bag warna putih dan cone heels warna krem.
Nadine ternyata mengajakku ke sebuah toko branded untuk mencari dress dan sepatu yang sesuai untuk acara lamaran nanti. Dia sangat sibuk memilihkan dress dan sepatu untukku, sementara aku melihat-lihat pakaian di rak lain.
“Apa aku boleh memilih pakaian lain juga selain dress? Sepertinya keluaran terbaru sudah ada dan aku sangat ingin membelinya,” sahutku sambil sibuk memilih pakaian baru.
“Beli saja apa yang kamu inginkan, Juan sudah memberikan uang untukmu membeli pakaian. Sepertinya tidak ada dress yang cocok untuk disini, kita pergi ke tempat lain saja, bagaimana?” wajahnya terlihat tidak puas.
“Aku akan membayar dulu ini dulu sebelum pergi ke toko lain, memangnya kenapa dengan dress itu?” aku ingin tahu dress seperti apa yang dilihat Nadine sampai dia merasa tidak puas. “Ini cukup bagus, aku menyukainya,” Nadine menggelengkan kepalanya.
“Ini terlalu polos, mungkin jika anak remaja yang memakainya tidak masalah. Kamu sudah dewasa sekarang, terlebih ini adalah acara lamaranmu. Aku ingin membuat momen yang tidak bisa kalian lupakan,” ujarnya sambil menatapku.
“Baiklah, aku serahkan masalah dress padamu,” aku mengambil belanjaanku yang sudah dibayarkan.
“Aku tidak akan membuatmu kecewa dengan dress pilihanku. Lihat saja aku akan membuat pandangan Gerald hanya terpaku padaku bukan pada yang lainnya,” aku tertawa dengan malu-malu.
“Aish Nadine, jangan seperti itu. Kamu membuatku merasa malu membayangkannya,” Nadine hanya tersenyum sambil menatapku dengan lekat.
“Aku akan membuat itu benar-benar tidak akan terlupakan untukmu,” gumamnya pelan.
“Hm? Kamu mengatakan sesuatu padaku Nadine?” tanya Alana sambil berbalik.
“Tidak, ayo kita masuk ke toko di sebelah sana,” ajaknya padaku dengan senyum lebar di wajahnya.
***
“Jadi kamu benar-benar tidak bisa menemaniku Dad? Gerald akan melamarku tapi kamu malah pergi, apa pekerjaanmu itu lebih penting dari pada aku anakmu sendiri?” suasana makan malam menjadi kacau karena Dad merusak moodku.
“Setidaknya aku bisa melihatmu saat kelulusan nanti. Ini sangat mendadak dan juga mendesak, aku harus segera menyelesaikan masalahnya sebelum memengaruhi bisnisku yang lain. Lagipula ada Nadine yang mewakiliku dan menemanimu,” kulihat Dad juga merasa sedih karena tidak bisa menyaksikan Gerald melamarku, tapi dia tidak punya pilihan lain. Terjadi masalah dengan bisnis yang sedang digelutinya.
“Tidak bisakah kamu pergi besoknya setelah lamaran itu? rasanya tidak sempurna jika kamu tidak ada Dad,” aku berusaha membujuk Dad.
“Aku juga sangat ingin mendampingimu Lana, percayalah. Tapi jika aku tidak menyelesaikan masalah bisnisku disana, semua yang sudah aku bangun bertahun-tahun dengan ibumu dulu akan jatuh. Aku hanya mencoba mempertahankan semuanya yang kita miliki,” sahut dad, wajahnya terlihat sangat bingung.
“Nadine, bisakah kamu bujuk Dad agar dia tidak pergi…” rengekku pada ibu tiriku.
“Lana, kumohon jangan mempersulit Dad. Dia bukan tidak ingin datang, Juan pasti sangat ingin menemani dan menyaksikan lamaranmu tapi pekerjaannya juga sangat mendesak. Apa yang dia lakukan sekarang adalah untuk masa depanmu juga, jadi kuharap kamu bisa mengerti dia,” Nadine mengusap tanganku dengan lembut.
“Aku berjanji akan mengurus semuanya dari awal sampai akhir pada saat pernikahanmu, Dad akan berada di sisimu sampai semuanya selesai. Dad benar-benar menyesal Lana,” wajah Dad terlihat begitu kusut. Aku sepertinya terlalu banyak membebani pikirannya.
“Baiklah, tapi aku ingin kamu memberiku tas dan sepatu baru dari brand yang aku sukai. Dad juga harus menepati janji untuk mengurus pernikahanku dengan Gerald, pokoknya semua yang Dad janjikan padaku harus Dad penuhi,” pintaku dengan sedikit menekan Dad.
“Tentu sayangku, Dad akan menebusnya dengan memberikan apa yang kamu inginkan,” ujarnya dengan tersenyum lembut.
“Aku akan membenci Dad jika Dad melanggar janji dengan alasan pekerjaan lagi seperti sekarang. Aku tidak akan berbicara dan menatap wajah Dad lagi,” ancamku.
“Apa kamu serius Alana? Kamu tidak akan berbicara dengannya lagi?” Nadine tampak terkejut mendengar ancamanku pada Dad.
“Dia tidak akan benar-benar serius honey, memangnya dia bisa melakukan apa tanpa aku. Dia anak perempuan manja yang sangat bergantung padaku,” ucap Dad sambil tertawa pelan.
“Lihat saja nanti Dad, setelah lulus aku akan mencari pekerjaan dan tidak akan bergantung lagi padamu atau suamiku nanti. Aku akan membuktikan kalau aku bukan sekedar anak manja yang hanya bisa meminta uang pada ayahnya atau suaminya,” ungkapku dengan berapi-api.
“Itu bagus jika kamu menemukan pekerjaan yang kamu sukai, tapi jangan lupa suamimu juga harus bekerja untuk membiayai hidupmu, memenuhi kebutuhanmu bukan malah sebaliknya. Aku akan membawamu kembali ke rumah ini jika dia tidak bersikap layaknya seorang suami,” Dad memberiku penegasan bahwa dia tidak bermain-main dengan ucapannya.
“Dad, apa kamu lupa dia bekerja di perusahaan eletronik terbesar? Gajinya juga juga pasti bisa untuk memenuhi kebutuhan hidupku bahkan bisa lebih dari itu. Tenang saja, Gerald tidak akan membiarkanku kekurangan sedikit pun karena dia sangat mencintaiku,” balasku dengan penuh percaya diri.
“Benar sekali, itulah kenapa merestui kalian berdua karena aku tahu Gerald akan mengurus dan memerhatikanmu dengan baik. Aku yakin kalian berdua memang diciptakan satu sama lain,” aku tersenyum senang pada Nadine, dia selalu membelaku jika berhubungan dengan Gerald.
“Jangan selalu membela dia honey, dia akan menjadi gadis yang keras kepala jika kamu terus melakukan itu. Aku khawatir dia akan berada dalam kesulitan suatu saat nanti karena kekeras kepalaannya itu,” Dad menatap cemas padaku.
“Kamu selalu memperlakukan aku seperti anak kecil Dad, aku ini sudah dua puluh tiga tahun dan akan segera menikah. Jadi kuharap kamu memperlakukanku seperti orang dewasa.”
Setelah makan malam bersama dengan Dad dan Nadine, aku meninggalkan kedua orang itu agar mereka memiliki waktu berdua saja. Aku naik ke kamarku yang berada di lantai dua lalu mengambil ponselku, mengecek apakah ada pesan atau telepon yang masuk ketika aku sedang berada di bawah. Gerald sama sekali tidak menghubungiku, mungkin dia sibuk. Aku akan mencoba untuk meneleponnya duluan daripada harus menunggu.
Dia sama sekali tidak mengangkat telepon dariku, apa dia benar-benar sibuk sampai lupa tidak mengabariku hari ini. Aku akan menelepon sekali lagi, jika dia tidak mengangkat teleponku kali ini aku akan menyerah dan tidak akan mengganggunya. Biasanya sesibuk apa pun dia, dia selalu menyempatkan diri untuk menerima teleponku walau hanya lima menit saja.
“Hallo?” suara seorang wanita menjawab telepon Gerald.
“Siapa kamu?! Kenapa kamu memegang telepon Gerald?! Dimana dia?!” aku benar-benar sangat marah karena yang mengangkat teleponku adalah seorang wanita yang tidak kukenal.
“Dia sedang sibuk, kuharap kamu tidak mengganggunya dulu,” dia mematikan teleponku secara sepihak.
Apa-apaan dia, siapa wanita itu? aku kembali menelepon Gerald, aku akan terus meneleponnya sampai dia mengangkat telepon dariku. Dering kelima, telepon itu akhirnya diangkat.
“Siapa wanita tadi Gerald? Kenapa dia yang mengangkat teleponmu?” cecarku begitu mendengar suara Gerald yang mengangkat teleponku.
“Lana, dia rekan kerjaku. Kami sedang lembur, aku sedang keluarr mengambil barang jadi tidak tahu kamu meneleponku. Ada apa? aku tidak bisa berlama-lama karena harus segera selesai,” ujarnya dengan terburu-buru.
“Kamu belum menghubungiku sama sekali hari ini, kupikir kamu melupakanku,” ucapku dengan sedikit manja.
“Ahh, maaf Lana…aku harus menutup teleponnya dulu.” Gerald mematikan teleponnya tanpa ragu. Apa dia begitu sibuk sampai menghela napas yang menurutku terdengar sedikit aneh? Tidak biasanya dia bersikap seperti ini padaku.
“Lana, aku boleh masuk?” suara Nadine memanggilku.
“Masuk saja, aku tidak mengunci pintunya,” jawabku.
“Aku ingin menunjukan gaun lamaran yang sudah aku pilih untukmu,” ujarnya sambil tersenyum lalu memamerkan gaun itu padaku.
“Kenapa harus gaun seperti ini?!”
“Kenapa gaun yang seperti ini?” aku terbelalak menatap gaun yang disodorkan Nadine padaku. Backless dress warna abu-abu muda dengan tali spageti di bagian belakang, belahan dada yang terlalu rendah juga sepertinya ini terlalu pendek.
“Bagus bukan… ini sangat cocok dengan kalung yang diberikan oleh Juan saat kamu berulang tahun beberapa bulan yang lalu. Aku yakin Gerald akan terkesima melihatmu,” Nadine menarik tanganku untuk berdiri lalu mengepaskan gaun itu di badanku. “Ukurannya juga sangat pas.”
“Nadine, sepertinya dress ini terlalu berlebihan…terlalu terbuka,” aku merasa seperti menjadi wanita rendahan yang menjual keindahan tubuhnya. Bukannya aku tidak suka, aku sangat suka memakai rok mini, aku juga punya baju yang memamerkan bahuku yang indah. Tapi ini, belahan dadanya begitu rendah juga punggungku yang terbuka sampai pinggang.
“Sudah waktunya kamu keluar dari zona nyamanmu dalam berpakaiannya Lana. Selera pakaianmu memang selalu terlihat begitu elegan dan berkelas, tapi sesekali berpakaian seksi seperti ini juga tidak masalah bukan? kamu sudah dewasa dan sebentar lagi akan menjadi seorang nyonya Thomlinson,” ujarnya.
“Tapi…dress ini…” aku memasang wajah tidak suka. Seumur hidupku, aku tidak pernah memakai dress seperti ini. Terlalu terbuka dan sangat memamerkan kulit dan lekuk tubuh.
“Alana, jangan terlihat seperti itu, kamu benar-benar tidak menghargaiku jika melihar dress pilihanku dengan tatapan tidak suka. Aku sudah memilih yang terbaik untukmu, aku akan sedih jika kamu benar-benar tidak menyukainya,” Nadine benar-benar terlihat sedih ketika aku menunjukan ekspresi tidak suka ku pada gaun ini.
“Bukan seperti itu…aku hanya tidak terbiasa dengan dress seperti ini. Kamu tahu aku tidak pernah sekali pun memakai pakaian yang begitu terbuka,” aku berusaha menjelaskannya pada Nadine agar dia tidak terluka dengan sikapku.
“Aku janji ini pertama dan terakhir kalinya kamu memakai dress seperti ini, aku ingin melakukan hal yang terbaik untuk hari lamaranmu dengan Gerald. Apa kamu ingin aku membelikan dress lain lagi? kita masih memiliki waktu untuk mencari dress yang kamu inginkan,” ujarnya dengan solusi lain.
“Tidak apa-apa, aku akan memakai ini saja karena kamu sudah susah payah mencari dress untukku. Aku hanya akan memakai ini satu kali saat acara lamaranku saja, kuharap kamu tidak keberatan dengan keputusanku ini,” pungkasku pada ibu tiriku yang langsung mengubah ekspresinya dari sedih menjadi senang.
“Aku sama sekali tidak keberatan, Alana, justru aku malah senang karena kamu mau memakai dress yang aku belikan untukmu. Maaf, aku sama sekali tidak melibatkanmu untuk memilihnya, aku hanya ingin yang terbaik untukmu dan Gerald,” Nadine memeluk tubuhku erat kemudian melepasnya.
“Nadine, emm maksudku Mom…maaf aku terkadang memanggilmu dengan nama langsung,” aku merasa bersalah karena selalu menyebut namanya langsung padahal dia sudah menikah dengan Dad.
“Tidak apa-apa, panggil aku sesukamu saja. Aku tidak mau memaksamu memanggilku dengan sebutan Mom. Ada apa? ada sepertinya ada yang ingin kamu bicarakan denganku,” entah kenapa aku merasa dia selalu bisa membaca pikiranku. Apa terlihat sekali di wajahku sampai dia bisa menebaknya dengan benar.
“Gerald, hari ini dia sama sekali tidak mengabariku, tidak ada telepon atau satu pesan apa pun darinya. Barusan aku meneleponnya, tapi yang mengangkat teleponku adalah seorang wanita,” ungkapku pada Nadine. Aku mengajaknya untuk duduk di kasurku agar mengobrol lebih nyaman lagi.
“Dia mungkin sedang sibuk, jangan terlalu berpikiran buruk tentangnya Lana. Itu tidak baik untuk hubunganmu dengannya, dia akan melamarmu bukan? itu artinya dia mencintaimu, kamu tidak perlu meragukannya lagi,” Nadine menasihatiku untuk tidak memiliki pikiran buruk pada pasanganku sendiri.
“Aku tahu, tapi ini tidak biasanya dia seperti ini. Dia tidak pernah mengabaikanku satu hari pun, sesibuk apa pun dia selalu memberiku kabar dengan mengirimiku pesan singkat. Lalu dia juga selalu menerima teleponku dan berbicara meskipun kurang dari lima menit. Tidak pernah dia mengabaikanku seperti ini, ditambah lagi seorang wanita yang mengangkat teleponnya. Aku takut dia berpaling dariku.”
Aku merasa cemas jika dia benar-benar berpaling dariku dan wanita itu ternyata jauh lebih cantik, lebih menarik sehingga Gerald akan mencampakkanku dan memilih untuk bersama wanita itu. Padahal aku jauh lebih cantik dan memiliki segalanya, aku tidak suka jika dia melirik wanita lain.
“Cemburu itu memang hal yang biasa dalam menjalin sebuah hubungan, tapi jangan terlalu berlebihan. Aku yakin dia hanya sibuk bekerja dan juga sibuk mempersiapkan kejutan untuk lamaranmu nanti. Jika dia mulai bertingkah macam-macam padamu atau bahkan menyakiti hatimu, aku akan memarahinya untukmu,” Nadine mengelus kepalaku, menenangkan hatiku yang sedang kacau.
“Tapi perasaanku sangat tidak tenang, seperti akan terjadi sesuatu yang buruk padaku atau mungkin sesuatu yang sangat menyedihkan. Bagaimana jika dia benar-benar selingkuh dariku? Dia diam-diam memiliki wanita lain selain aku?” aku menatap cemas pada Nadine, sebaliknya dia malah terlihat biasa-biasa saja.
“Sudahlah, kita tunggu saja sampai besok. Jangan terlalu mencemaskan hal yang belum pasti terjadi, jika sampai besok dia tidak menghubungimu, aku akan membuatnya datang padamu. Hm? Bagaimana?” aku mengangguk pelan padanya meskipun hatiku masih ingin menghubungi Gerald dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Istirahatlah dulu, tidak perlu memikirkan apa pun tentang Gerald dan hal-hal negatif tentangnya. Itu hanya akan membuatmu lelah secara mental dan bisa membuat hubungan kalian berdua menjadi buruk. Aku akan selalu ada untukmu, mendukungmu. Akan kuhajar dan membuatnya kembali padamu jika dia benar-benar melirik wanita lain. Good night, Alana.”
Begitu Nadine sudah keluar dari kamarku, aku berbaring di tempat tidurku sambil melihat-lihat fotoku dengan Gerald yang ada di ponsel. Semua ini adalah foto-foto lama saat dia berusaha mendekatiku dulu, lalu ketika kami mulai berkencan. Setelah itu, kami jarang berfoto bersama lagi entah karena apa. Satu tahun ini pun tidak ada foto baruku dengannya. Saat itu kami memilih untuk menghabiskan waktu bersama tanpa ingin diganggu apa pun dan siapa pun sehingga mematikan ponsel ketika berkencan.
'Hubungi aku jika kamu tidak sibuk. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.'
Aku mengirimkan pesan padanya, kuperhatikan selama satu menit hanya centang dua berwarna abu-abu. Dia sama sekali tidak membaca pesanku, mungkin dia memang benar-benar sibuk.
***
“Apa kamu bodoh?! Bukankah aku sudah bilang untuk tidak membuat kecurigaan sekecil apa pun padanya? dia bisa saja nekat dan mencari tahu apa yang terjadi. Tolong jangan rusak rencanaku,” Nadine berbicara dengan marah pada seseorang yang dia telepon.
“Aku tidak akan mengulanginya lagi, wanita itu sudah aku marahi karena sudah berani menyentuh barang pribadiku. Bagaimana dia sekarang?”
“Aku sudah membujuknya, bersyukurlah dia begitu bodoh dan mau menurutiku kata-kataku begitu saja. Semua persiapan sudah selesai? Apa kamu sudah menghubungi tempat itu?”
“Ya, aku sudah menghubungi mereka. Tapi…”
“Tapi apa?!” desak Nadine dengan tidak sabar.
“Orang itu bilang dia tidak bisa datang sesuai dengan yang kita rencanakan. Kita harus mengatur hari lain dan aku juga tidak bisa berpura-pura seperti itu saat tidak ada mereka. Bagaimana menurutmu?”
“Bagaimana dengan hari besoknya lagi? jika terlalu lama menundanya aku takut dia akan kembali curiga. Kita mundur satu hari saja katakan itu pada August,”
“Akan aku usahakan…”
“Jangan hanya diusahakan, tapi kamu harus segera mendapatkan kesepakatan itu dengannya. Aku akan mengurusnya sampai semuanya selesai, jangan lupa untuk menghubunginya atau kau tidak akan mendapatkan bagianmu.”
“Baiklah, baiklah… kamu memang selalu tegas dan kejam dalam urusan ini.”
“Kumatikan teleponnya. Segera hubungi aku jika ada sesuatu yang terjadi.”