Bab 1

Kita semua memiliki sebuah cerita. Kita semua tidak pernah mengatakannya. Emily bagai merasakan kehampaan di tengah keramaian dunia. Tanpa tahu apa yang dirinya inginkan. Sejauh dirinya berlari dari kehidupannya di masa lalu, seakan kian membuatnya merasa lelah. Emily juga menginginkan kehidupan yang normal, layaknya orang-orang pada umumnya, merasakan yang dirasakan wanita lain.

Emily selalu memimpikan kehidupan yang bahagia bersama dengan seorang pria. Menghabiskan sisa umurnya bersama hingga ajal datang menjemput. Saling mencintai dan mampu menerima dirinya dengan masa lalunya yang kelam.

Emily tidak dapat memilih hadir di keluarga seperti apa. Ia memiliki sepasang orangtua dan seorang kakak bernama Cruz Watson. Ayahnya pernah menjadi seorang pengajar dengan prestasi yang hebat, hingga ia memutuskan untuk menghilang dari dunia akademisi, yang Emily sendiri juga tidak memahami alasan di balik itu. Yang Emily tahu, David Watson, ayahnya begitu menyayanginya. Melindunginya dari rasa sakit masa lalu.

Yang selalu menjadi pertanyaan dalam hidup Emily adalah sikap sang ibu, Mercy Watson. Ada rasa benci yang tersirat jelas pada sikapnya. Namun bagi Emily, biar bagaimanapun Mercy tetap ibunya, yang melahirkannya ke dunia. Sedangkan Cruz Watson, Emily merasa muak dan tak pernah ingin menyebut namanya lagi seumur hidupnya. Karena dia, awal kisahnya.

Dunia Emily kini hanya tenggelam dalam kesibukan. Bersukacita dalam gemerlapnya dunia modeling. Dari pargelaran satu ke pargelaran lainnya. Dari pesta ke pesta. Bertemu banyak orang. Berbenturan dengan persaingan. Yang terkadang hingga menghancurkan jalinan pertemanan. Emily tidak bisa memahami apa yang dirinya inginkan setelah kembali pulang.

Kesuksesan demi kesuksesan telah mampu ia raih meski dengan banyak pengorbanan. Emily harus menanggalkan semua yang ada di tubuhnya untuk sebuah bayaran yang layak. Ia butuh untuk hidup di tengah kejamnya kehidupan kota London yang terkenal mahal dan kompetitif. Selain semua alasan itu, ia melakukan hal itu untuk menuntaskan pendidikannya di bangku kuliah. Karena Emily berpendapat jika wanita masa kini tak dapat hanya bermodalkan paras cantik dan tubuh molek. Tapi juga otak yang cerdas.

Ketika Emily telah sampai pada titik itu. Ia merasa tetap kesepian. Ia tetap tidak mendapatkan yang bersemayam dalam hati dan dapat dirasakan bernama CINTA.

“Kau sedang ada masalah?” tanya Alec yang tiba-tiba muncul dari arah belakang, dalam sekejap mata semua lamunan dalam kepala Emily hancur berantakan.

“Tidak.” Emily mengatakannya sambil memasukan semua perlengkapan miliknya ke dalam sebuah tas. Emily memperbaiki posisi duduknya sementara Alec menunjukan beberapa foto hasil pemotretan sore ini. Keduanya bersisian sampai terdengar Emily yang meng-hela napas panjang sebelum menghembuskannya perlahan.

“Bye semua!” pekik Jerry seraya melambaikan tangan berpamitan. Memecah keheningan antara Emily dan Alec Dorantes. Jerry menghilang di balik pintu lift yang membawanya turun. Emily hanya membalasnya dengan lambaian tangan dan seulas senyum untuk kepergian pasangan fotonya hari itu.

“Bagaimana menurut mu?” Pertanyaan yang tidak langsung dijawab oleh Emily. Ia tampak terdiam sambil tetap menatap ke arah deretan foto yang dihasilkan Alec. Pria tampan dengan rambut blonde yang selalu tampak rapi. “Apa kau menyukai nya?”

“Oh Alec,” seloroh Emily sambil menoleh untuk menatap Alec yang ada di sampingnya. Keduanya bertatapan. “Aku selalu menyukai semua yang kau hasilkan bersama kameramu.”

“Begitukah?” Terdengar Alec yang tak yakin sampai Emily perlu untuk mengangguk. Alec memonyongkan bibirnya seakan tak yakin dengan dirinya sendiri.

“Yakin lah pada dirimu sendiri, Brother,” seloroh Emily sambil menepuk bahu Alec sebanyak dua kali dan tersenyum, meski Alec masih bergeming. “Apakah masih ada yang perlu aku lakukan?” tanya Emily yang terdengar lelah. Alec menatap Emily dengan tatapan curiga, sikap Emily ang tidak biasa usai pemotretan.

Alec meletakkan kamera nya di atas meja.

“Kau sedang ada masalah?” Kali ini Alec yang bertanya dengan wajah khawatir. Emily tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum masam, seirama dengan yang ia rasakan pada dirinya. Merasakan kebosanan yang tidak ia ketahui sebabnya. Emily merasa semua yang ia rasakan salah. “Entahlah. Semua terasa membosankan bagiku saat ini.”

Alec menyentuhkan ujung jarinya pada pipi Emily, membelai lembut menghantarkan ke lembutan dan rasa tenang seorang sahabat. “Berliburlah. Kau membutuhkannya. Sebelum pergelaran London fashion week lima minggu lagi.” Alec mengatakannya sebelum tersenyum pada Emily, menampilkan deretan gigi putihnya. Emily terdiam, menatap lurus ke dalam tas yang ada di hadapannya sebelum perlahan menatap sosok Alec yang masih berdiri disamping kanannya.

“Haruskah aku ikut?” tanya Emily.

Alis Alec naik sebelah secara spontan.

“Kau tidak bisa menolaknya, Em sayang. Kau sudah menandatangani kontraknya satu bulan yang lalu,” jawab Alec tenang.

Emily memejamkan mata, menghela napas dengan berat, sebelum manik matanya bertemu dengan manik mata Alec.

“Aku akan pulang dan tidur,” ujar Emily seraya meraih tas di hadapannya lalu beranjak meninggalkan kursi yang ia duduki.

“Baiklah kau membutuhkannya, Sayang. Tidurlah sepuasmu. Selamat bermimpi indah,” ujar Alec yang dilengkapi dengan senyuman menawan di wajah tampan nya. Emily hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Meninggalkannya di ruang studio.

Kesedihan dan kebahagiaan datang silih berganti bagai hantu gentayangan. Entah mengapa Emily merasakan hidupnya mulai terasa membosankan. Ada lelah yang bergelayut, ia merasakan tubuhnya butuh istirahat. Pikirnnya butuh ketenangan.

Emily masih berdiri di halte pemberhentian, menanti sebuah taksi yang tak kunjung tampak. Sementara malam kian larut. Jalanan mulai sepi, hanya satu dua buah mobil melintas. Cuaca malam kian dingin menggigit. Hening dan senyap. Berulang kali diri nya menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“Hi, Cantik,” goda seorang pria yang muncul secara tiba-tiba tepat di sampingnya.

Pria itu menatap Emily dengan perangai mencurigakan. Emily coba mengabaikan. Ia bergerak selangkah ke kanan sementara jantungnya terasa mulai berdegup hebat.

“Ingin aku antar?”

“Tidak, terima kasih,” kata Emily sopan sambil menyingkirkan tangan pria itu dari lengannya. Emily beranjak pergi untuk meninggalkan pria yang tak dikenalnya itu.

“Ayolah Cantik.” Pria itu berkata dengan lantang, membuat malam yang sepi kian terasa mencekam. Emily mengabaikannya dan terus berjalan sementara pria itu mengikutinya. Mereka mengekor di belakang langkah Emily. Dua orang pria yang Emily bisa duga jika mereka di bawah pengaruh alkohol. Aroma menyengat dari napas mereka.

“Sial,” desis Emily saat menyadari apa yang telah ia kenakan pada kakinya. Sepatu yang dikenakannya tidak tepat. Ia masih mengenakan heels. Tak ada pilihan lain selain memperlebar langkahnya dan pria itu menyusul dengan langkah yang tak kalah cepat. Tepat di belakang Emily, di antara napasnya yang memburu.

“Kau akan ke mana?” tanya pria itu meraih tangan Emily hingga membuat tas selempang melorot, pria itu mencengkeram Emily dengan kuat. Dengan usaha yang mencoba melepaskan diri dengan menyingkirkan cengkeraman pada lengannya, namun sia-sia hingga orang itu mendorong tubuhnya ke dinding. Seketika punggung Emily terasa panas.

“Tolong!!!” pekik Emily kencang yang berhasil loncat dari bibirnya.

Pria itu menghimpit tubuhnya, mencoba untuk menciumnya dengan menyurukkan kepalanya pada lipatan leher Emily yang terbuka. Dengan sekuat tenaga Emily mencoba menjauhkan diri dari tubuh pria itu. Dadanya terasa sesak, namun apa yang ia lakukan terasa kian menghimpit, usahanya sudah semampu yang ia bisa. Tubuh pria itu terasa lebih berat dari dugaannya.

“Tolong!!!” pekik Emily saat bibir pria itu mengenai kulit lehernya. Terjangan angin malam yang dingin terasa berbanding terbalik dengan panas kulit pria itu di permukaan kulit lehernya.

Emily tetap mencoba untuk melepaskan diri. Memberontak dengan sekuat tenaga. Tangan pria itu kokoh mencengkram tangan Emily dengan begitu kuat. Tubuh besarnya menghimpit hingga membuat tubuh Emily menempel dengan dinding.

“Lepaskan!!!” pekik Emily di sela napasnya yang berubah cepat.

Pria itu terus mendesakkan tubuhnya, menghimpit hingga terasa menyakitkan. Wajah pria itu tepat di leher Emily lagi. Panas terasa menerjang kulitnya yang bercampur dengan rasa jijik, perasaan takut dan amarah yang perlahan merambati tubuh Emily.

“Tolong!!!” pekik Emily sekali lagi dan lebih lantang di sisa keberaniannya. Emily tak mampu berpikir apa pun lagi, ia berada di titik tak berdaya.

“Dasar kau bajingan!!!” Suara hinaan yang datang tiba-tiba disusul dengan pukulan datang bersamaan setelahnya.

Terdengar suara BUUUK!!! Suara hantaman yang cukup keras. Emily merasakan napasnya tercekik sebelum dirinya terjatuh. Tubuhnya gemetar dan menempel pada dinding. Emily merasakan kepalanya berat, pusing seakan ingin meledak. Ia tak ingin melihat baku hantam yang terjadi di dekatnya. Antara pria bajingan itu dan sosok yang tak ia kenal yang tiba-tiba datang di antara kegelapan.

Emily mencoba merangkak untuk menjauh. Berpegang pada dinding, berusaha untuk bangkit, hingga bayang menyilaukan yang melintas di matanya, dan tiba-tiba gelap. Emily terkulai.

“Kepalaku... Ya Tuhan...” desis Emily sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.

Perlahan ia berusaha untuk membuka kelopak matanya. Terasa pening. Dunianya terasa berputar cepat di porosnya. Hidung Emily menangkap aroma wangi dari pengharum. Ia mencoba untuk mengingat meski saat ini ia berada di antara batas kesadarannya.

“Di mana aku?” tanyanya pelan nyaris berbisik sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya. Tak ada jawaban, selain keheningan sampai manik matanya mendapati dashboard dan menyadari saat ini ia berada di dalam sebuah mobil. Emily tersentak sementara dirinya merasakan nyeri disekujur tubuhnya.

“Kau sudah sadar?”

Suara yang tiba-tiba muncul saat seseoang membuka pintu mobil dan spontan Emily melonjak kaget. Ia mencoba meraih apa pun untuk melindungi dirinya. Napasnya memburu sambil menatap lurus ke pria di hadapannya. Tatapan yang menyalang dan tajam. Pria itu duduk di balik kemudi. Pria berperawakan besar dengan seringai wajah yang tak mampu Emily terjemahkan.

“Kau siapa? Apa yang kau inginkan?” tanya Emily beruntun dengan emosi tertahan dan suara yang tersekat. Pria itu menatapnya dengan tatapan lurus dan menghujam, tapi terasa lembut. Emily menarik napas, mencoba mengembalikan kendali dirinya. Suaranya terdengar bergetar. Ada takut yang terselip.

“Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini seorang diri?” tanya pria itu yang ditujukan padanya. Pertanyaan terdengar penuh penekanan. Mata Emily melebar sementara suara pria itu terdengar parau.

Emily merasa napasnya tertahan, ada jeda sebelum dirinya menjawab.

“Aku. Aku...” Kalimat Emily menggantung sampai bayangan gelap pria jahat itu melintasi kembali di dalam kepalanya. Keduanya terdiam beberapa saat. Keheningan yang kembali menyelinap.

“Pria itu ingin berbuat tidak baik denganmu.”

Emily masih bergeming. “Dan itu hal yang wajar, karena pakaianmu sangat mengundang, Nona,” seloroh pria itu dengan tatapan sinis dan senyum miring. Emily tidak mengenal pria yang kini ada di hadapannya.

Emily menundukkan kepala untuk mengamati pakaian yang sedang ia kenakan. Napasnya terasa tersedak saat menyadari yang dikatakan pria itu benar dengan penilaian nya. Seharusnya ia mengganti pakaiannya dengan t-shirt dan jins serta sepatu kets, bukan dengan pakaian seperti yang ia kenakan saat ini. Rok mini dengan sepasang sepatu heels.

“Ini...” Emily tertunduk memandangi tubuh bagian atasnya. Kelopak matanya kian melebar, dan tenggorokan nya terasa kering hingga tak dapat mengatakan apa pun. Emily mengenakan jaket yang tidak ia kenali.

“Kenapa?” tanya pria itu lagi yang membuat Emily mengangkat wajahnya untuk menatap. “Aku tak ingin kau sakit karena pakaian seksi mu itu.” Pria itu seakan mampu membaca isi kepala Emily. Pria itu masih tetap dengan seringai-nya.

“Ini... Ini jaket milikmu?” tanya Emily yang dijawab dengan anggukkan oleh pria itu sebelum ia menghidupkan mesin mobilnya. Emily mencoba untuk melepaskan jaket yang ia kenakan di saat roda mobil yang mulai berputar sebelum meninggalkan trotoar jalan.

“Lebih baik kau gunakan sabuk pengamanmu, daripada melepaskan jaketmu,” ujar pria itu sinis dengan lirikan tajam dari sudut matanya.

“Tapi--”

Pria itu menatap sambil lalu sebelum menatap lurus ke depan, di balik kemudi, tatapan tajam yang membuat napas Emily terasa tersekat, tersedak di tenggorokan sebelum pria itu kembali bertanya, “Katakan di mana alamat rumahmu?”

Pertanyaan yang membuat Emily terdiam, menatapnya beberapa detik, membiarkan jeda untuk berpikir.

“Aku...” Otak Emily langsung berputar, rasa curiga menyusup masuk dalam dirinya. Emily membiarkan kalimatnya menggantung dan melayangkan tatapan matanya keluar jendela mobil yang mulai beranjak. Tanpa mengatakan apa pun, mencoba mengatur dirinya agar duduk lebih nyaman di jok mobil mahal yang ia duduki. Jalanan tampak gelap, namun kehidupan masih terus berjalan. Kota yang terasa tidak pernah tidur.

Emily kembali meng-hela napas panjang, mencoba untuk melirik pria di balik kemudi. Ia tampak tenang. Tak menunjukan sosok yang memiliki niat jahat. Hanya ada keheningan di antara keduanya. Tanpa kata-kata apa pun.

“Aku--”

“Kau akan segera sampai satu blok lagi,” selaknya.

Mata Emily kembali membulat sebelum melihat sekeliling, keluar kaca jendela, dan apa yang pria itu katakan benar. Mobil telah melaju jauh.

“Kau--” Suara Emily kembali tersekat dengan kelopak mata yang kian melebar karena terkejut. Terdengar tarikan napas yang disusul hembusan napas keras.

“Aku mencari identitas dirimu di dalam tas, saat kau pingsan,” katanya memotong kalimat Emily bersamaan dengan dencit ban mobil yang berhenti, injakan pada pedal rem di kaki pria itu. “Yup. Kau sudah sampai, Miss.” Ia mengatakannya dengan santai. Pria itu menggeser sedikit posisi duduknya untuk berhadapan langsung dengan Emily sementara Emily masih terperangah dan menatap pria itu dengan curiga. Pandangan matanya menilai namun pria itu tak tersinggung, ia tersenyum mencibir.

“Kenapa?” tanyanya kali ini seraya menatap Emily dengan seringai dan tatapan mengejek.

“Kau…”

Mata Emily memicing dengan alis terangkat sebelah.

“Sudah, turun sana. Kau sudah sampai dengan selamat,” ucapnya bersamaan dengan suara klik dari suara pintu yang dibuka otomatis. Emily menelan ludah, lalu menghela napas dalam dan menghembuskan-nya dengan kasar disusul dengan melirik-nya sambil mendengus. “Terima kasih untuk tumpangannya, Sir,” kata Emily seraya mengambil tas milik-nya dan membuka pintu mobil lalu menutupnya dengan keras hingga terdengar suara bantingan pintu di belakang langkahnya.

Emily memutuskan untuk tidak menoleh, perasaannya bercampur dengan rasa kesal.

Emily menyeruput teh panas dalam mug yang ia genggam sambil menatap keluar jendela kamar apartemen-nya. Tampak kegelapan yang terhampar di hadapannya, langit tak berbintang, bulan bergelantung rendah. Jarum jam menunjukan pukul satu malam dan hari telah berganti. Matanya tak juga merasakan kantuk. Ia terus terjaga, bahkan bayangan pria yang menyerangnya beberapa jam lalu kembali melintasi kepalanya, terasa segar dalam ingatan hingga dadanya terasa sakit hingga ke punggung, dan nyeri.

“Ya Tuhan, nyaris terulang,” desis Emily seorang diri dengan perasaan frustrasi.

Emily beranjak menuju ranjangnya, meletakkan mug di nakas samping ranjang tidur. Menyibakkan selimut sebelum ia membaringkan tubuh lelahnya. Menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Mata hijaunya menatap langit-langit kamar yang tak lagi putih di beberapa bagian akibat kebocoran dari penghuni lain di lantai atas.

“Pria itu ingin berbuat tidak baik denganmu. Dan itu wajar, pakaianmu sangat mengundang.”

Kalimat itu melintasi kepala Emily lagi dan lengkap dengan ekspresi menyebalkan pria itu.

“Aku tak ingin kau sakit karena pakaian seksi mu itu.”

Bayangan pria itu menarik bibirnya yang Emily rasakan bagai cibiran yang ditujukan padanya. Pria itu jelas-jelas menyindir dirinya di balik suara beratnya.

“Lebih baik kau gunakan sabuk pengamanmu, daripada melepaskan jaketmu.”

Kalimat terakhir yang terngiang di telinga Emily.

“Hmmm, sial,” Emily mendengus, memiringkan tubuhnya. “Benar-benar menyebalkan. Dasar pria mata keranjang,” desis Emily geram dan langsung menarik selimutnya.

***

Bab 2

Dunia benar-benar berputar cepat. Hari telah berganti, Emily merasa hari demi hari berlalu tanpa ia sadari. Semua seakan berlari dengan cepatnya. Emily dengan kesibukan di setiap harinya. Beberapa hari telah berlalu tanpa terasa. Bumi masih berputar di porosnya hingga musim telah berganti. Terasa hangat sehangat hatinya pagi ini.

Emily beranjak dari apartemennya dengan jadwal hari yang padat, rasanya sudah tidak terbayangkan lagi baginya bagaimana ia akan melalui harinya. Hanya sepotong sandwich yang dapat ia temukan di lemari es untuk dipanaskan ulang.

“Hi,” sapa seorang anak kecil yang cantik dengan mata bulat menatap Emily, membuatnya lepas dari lamunan. Emily terkejut dan berusaha untuk tersenyum, membalas senyuman tulus gadis kecil itu. Mereka berpapasan di anak tangga, saat akan menuruni anak tangga.

“Hi,” balas Emily dengan sopan dan sedikit lambaian tangan. Emily menampilkan senyum sebaik yang ia bisa. Ia langsung berjalan menuruni tangga menuju pintu keluar dan tak lama kemudian sebuah taksi terlihat menepi, tanpa berpikir lagi Emily langsung membuka pintu belakang kemudian taksi melaju menembus hari yang masih sangat pagi.

“Selamat pagi, Anna,” sapa seorang pria sambil berlalu masuk ke sebuah ruangan.

“Selamat pagi, Sir,” balas sang sekretaris. Wanita cantik tinggi semampai dengan tampilan rambut di cepol, riasan wajah sederhana.

Terdengar pintu menutup di belakang langkahnya. Melaju ke meja kerja yang menampakkan tumpukan dokumen yang menggunung. Pekerjaan yang sudah menanti, dokumen yang nyaris memenuhi meja kerjanya. Beberapa detik berlalu sebelum sebuah ketukan di pintu, terdengar sebanyak tiga kali.

“Ya masuk,” ujarnya dengan tatapan mata yang tetap tertuju pada dokumen di hadapannya. Pria itu tampak serius, tak terpengaruh dengan suara tumit sepatu yang mengetuk-getuk lantai, langkah yang berjalan mendekat.

“Ini kopinya, Sir.” Secangkir kopi hitam yang masih mengepul diletakan di atas meja. Lengkap dengan sebungkus kecil gula rendah kalori dan sendok teh serta selembar tisu.

“Terima kasih, Anna,” ucap pria itu sambil mengangkat wajahnya sebentar sebelum kembali pada dokumen di tangannya.

“Oiya, Mr. Davis. Seseorang mencari Anda kemarin. Beberapa kali menelepon dan menanyakan Anda.” Sang sekretaris menjelaskan panjang lebar dan berhasil membuat pandangan mata pria itu beralih.

“Siapa namanya?” tanya Ethan sambil memindahkan dokumen di tangannya sebelum meraih cangkir kopi di hadapannya.

Anna tak langsung menjawab, ia mencoba mengingat.

“Tidak menyebutkan namanya. Dia ingin berbicara langsung dengan Anda, Sir,” jawab Anna. Keduanya saling menatap satu sama lain. Ethan menganggukan kepala pelan lalu menyesap kopi di cangkir yang ada di hadapannya.

“Ada yang bisa saya lakukan untuk Anda lagi, Sir?”

Pertanyaan yang meluncur saat Ethan selesai menyesap kopi-nya. Ethan menoleh untuk menatap Anna yang menjulang di seberang mejanya. Anna tersenyum manis seperti biasa.

“Tidak untuk saat ini, Anna,” ujar Ethan dari tepian atas cangkir-nya. “Kau bisa kembali ke mejamu. Terima kasih,” imbuh Ethan ramah dengan seulas senyum. Anna Brown, sang sekretaris beranjak pergi, meninggalkan sang tuan di balik meja kerjanya.

Waktu berlalu, detik demi detik. Tik tok tik tok.

Ethan Davis. Seorang pria tampan, pekerja keras, mandiri dan sukses dalam bisnis yang dijalaninya. Bisnis dibidang keamanan. Ethan dan timnya banyak mendapatkan proyek yang berhubungan dengan keamanan, mulai dari kepentingan pribadi layaknya pesohor dunia hingga keamanan negara. Bisnis yang tak mudah, berliku dan banyak pengorbanan yang harus dipertaruhkan. Pembuktian bagi orang-orang yang memandangnya sebelah mata.

Saat ini yang menguras semua pikiran dan perhatian Ethan adalah proyek mengamankan penyelenggaraan Notting Hill Carnival yang tersisa beberapa bulan lagi. Semua sudah dipersiapkan. Memastikan semua teknologi keamanan berjalan baik.

Di balik ketampanan wajah dan tubuhnya yang atletis, tak banyak yang tahu jati diri di balik pria yang digilai banyak wanita. Ethan Davis pernah masuk dalam kategori pria tampan di sebuah majalah, kisah asmara yang tidak pernah terkuak. Mereka hanya tahu, Ethan seorang pria playboy. Berganti-ganti pasangan. Kehidupan yang mewah bergelimang harta. Tapi tak ada yang akan mengira dan percaya apa yang sebenarnya ia rasakan, ia pendam dan yang ia inginkan.

“DAVID WATSON,” desis Ethan saat mendapati sebuah dokumen di antara tumpukan di atas mejanya. Ia tampak mengernyitkan dahi sambil menatap dokumen di tangannya. Rasa penasaran membuat tangannya menyambar dokumen itu. Nama yang terasa asing baginya.

Ethan memisahkan dokumen itu dari dokumen lainnya, membukanya dan mulai membacanya dengan seksama. Tiap baris tak ada yang terlewatkan. Pikirannya melayang, jauh menembus batas. Dokumen yang diterimanya saat ini, yang sedang digenggamnya menjelaskannya banyak hal. Ada banyak yang harus ia pelajari hingga ada banyak tanya yang mengusik.

“Emily Watson. Hmmm...baiklah,” ucapnya pelan penuh keyakinan.

Segurat wajah melintasi ingatannya. Senyum yang mengembang seraya menatap foto di hadapannya. Bagai glester dingin yang membekukan dirinya. Ethan beranjak dari duduk, berjalan menghampiri sang sekretaris. Anna langsung berdiri saat sosok Ethan berjalan mendekat.

“Anna, bisa kau bantu sambungkan aku ke nomor ini?” pinta Ethan sambil memberikan secarik kertas berisi deretan angka yang ditulis tangan. Anna menerima potongan kertas itu tanpa membantah.

“Baik, Sir,” ucap Anna menerima tugas yang didapatnya.

Ethan mengangguk sambil tersenyum dan kembali ke ruangannya.

Teh hangat yang Emily tuang ke dalam mug yang ia genggam cukup mampu menghangatkan dirinya, usai terpapar angin dari blower sepanjang pengambilan gambar hari ini. Seorang diri ia duduk di sebuah kursi, ia telah membersihkan wajahnya dari serangkaian polesan kosmetik yang menyiksa bagi kulitnya. Sementara menanti hasil kerjanya hari ini, hanya duduk sambil memperhatikan orang-orang di sekeliling yang masih tampak sibuk. Emily mencoba untuk membuat dirinya santai. Menikmati hari-hari sibuknya.

“Hi, Cantik,” sapa Alec yang muncul dari dalam sebuah ruangan. Suara Alec yang mengejutkan membuat Emily terperanjat kaget dengan napas yang nyaris tersedak, dan mata membulat mendapati Alec menjulang di hadapannya. “Kau---” ujar Emily dengan ekspresi tegang. Alec tampak bingung, mengernyitkan kening menatap sahabat cantiknya. Untuk kedua kalinya Emily bersikap tak biasa.

“Kau kenapa?” tanya Alec sambil meraih sebuah kursi untuk didudukinya yang tak jauh dari keberadaan Emily. Jeda sesaat saat Emily meng-hela napas panjang. Bayangan beberapa malam lalu seakan melintasi kepalanya kembali.

Sekali lagi Emily menyeruput tehnya, hingga merasakan kehangatan menjalar di sepanjang tenggorokan nya. Terasa menenangkan, meletupkan setiap saraf di tubuhnya sementara ia mencoba untuk menyingkirkan bayangan di kepalanya yang menyelinap masuk.

“Kau sangat mengagetkanku,” kata Emily dengan nada protes.

Alec terkekeh setelahnya. “Maafkan aku.”

Emily mengangguk sambil tersenyum. Mencoba menepis keterkejutan pada dirinya, sebelum keduanya saling menatap sampai pandangan mata Emily mendapati sebuah kamera di tangan Alec dengan tali yang menggantung di lehernya. Emily memperbaiki posisi duduknya lalu mencondongkan tubuhnya untuk mendekat pada Alec.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Emily penasaran, melirik Alec yang ada di sampingnya. Tampak Alec tersenyum puas meski ia belum mengatakan apa pun, dan itu membuat Emily menatap dengan menilai sampai ia bersuara. “Sangat mengagumkan. Kau terlihat seksi, Baby girl.”

“Alec.” Emily mendengus dan saling melirik jail sebelum Emily mendorong bahunya dengan bahu Alec, kemudian keduanya tertawa bersama untuk beberapa detik.

“Ok. Saatnya untuk serius. Kau bisa lihat hasilnya, Em sayang.”

Alec menunjukan hasil kerjanya kali ini. Ada serratus lima puluh foto yang Emily hasilkan hari ini. Satu persatu Alec menjelaskannya secara detail, mulai dari kekurangan dan kelebihan dari setiap foto yang berhasil dihasilkan. Emily menyimak sebaik biasanya. Komentar demi komentar yang meluncur dari Alec usai pemotretan sungguh amat sangat Emily perlukan. Alec lah yang telah mengubah seorang Emily Watson di depan kamera. Emily merasa hidup di antara teriakan Alec selama sesi.

“Aku rasa mereka akan bingung memilihnya,” celoteh Alec bersamaan saat Emily meletakan mug di tangannya. Menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan sebelum Emily kembali menatap Alec dan mendapati tatapan-nya yang menilai untuknya.

“Kau kenapa?” tanya Alec penasaran. Ia mengamati Emily dengan seksama, hingga membuat Emily merasa Alec sedang mencoba mencari hal yang mungkin saja ia sembunyikan darinya. Emily tersenyum masam ke arah Alec sambil menjawab pendek, “Tidak apa-apa.”

Emily meraih tas miliknya, memasukkan semua peralatan miliknya kembali ke tempat semula. Tak lupa untuk mengganti sepatu yang dikenakannya. Emily menanggalkan sepatu heels berganti dengan sepatu kets yang membuatnya merasa nyaman dan aman lebih tepatnya. Emily tak akan melakukan kesalahan yang sama, itu yang ia pikirkan sekarang.

“Kau akan langsung pulang?” Pertanyaan Alec yang membuat Emily menoleh lalu ia menggelengkan kepala sambil beranjak dari duduk untuk meraih tas miliknya. Emily menjulang di hadapan Alec sebelum ia ikut beranjak dari kursinya.

“Tidak, aku akan mampir ke supermarket terlebih dahulu. Kulkasku sudah kosong,” ujar Emily sambil tersenyum.

“Kau ingin aku mengantar mu?” tanya Alec menawarkan diri. Emily sungguh suka terhadap Alec, perlakuannya selama ini sungguh manis. Emily menepuk bahu Alec sambil tersenyum semanis yang ia bisa. “Tidak perlu teman. Kau pasti sedang sibuk. Aku akan meneleponmu nanti. Bye, Alec sayang,” kata Emily sambil mengecup pipi Alec.

“Take care, Darling,” balas Alec disusul dengan pelukan hangat dan Alec mengecup kedua belah pipi Emily sebelum ia beranjak pergi dan menghilang di balik lift.

“Ben, aku ingin kau yang pegang kendali untuk proyek Notting Hill Carnival.” Ethan mengatakannya dengan tegas, membuat mata Ben melebar secara spontan. Seakan kedua bola matanya akan meloncat keluar.

“Saya? Maksud Anda, Sir?” tanya Ben yang terdengar bingung. Pria tegap dengan setelan jas hitam yang membalut kemeja putihnya. Ethan hanya menatapnya lurus, tersenyum melihat kebingungan Ben. Mereka duduk berhadapan. Ethan tampak tenang, sesekali ia memainkan pulpen yang terselip di antara jarinya.

“Ada proyek lain yang lebih membutuhkanku. Yang perlu kau lakukan hanyalah memastikan semua berjalan baik sesuai dengan jadwal. Aku hanya perlu update darimu.” Ethan coba menjelaskan dengan bahasa sederhana untuk mudah dipahami.

“Tapi… Mr. Davis...” Ben tampak ragu, jelas terdengar dari suaranya dan kalimatnya yang menggantung. Ethan mengangkat tangan kanannya ke hadapan Ben untuk menghentikan argumentasi yang akan Ben katakan, membuat raut wajah Ethan berubah dingin.

“Aku tak menerima penolakan. Aku memutuskan hal ini karena aku tahu kau mampu, Ben,” ucap Ethan tegas. Lebih tegas dari sebelumnya.

“Tapi Sir--”

“Tidak ada tapi-tapian kau mengerti,” selak Ethan cepat dan jelas.

Rahang Ethan menegang dengan tatapan lurus. Hening untuk beberapa saat dengan kebisuan Ben. “Kau bisa hubungi Sophia untuk proyek ini,” sambung Ethan setelah terdiam. Ben hanya mengangguk tanpa membantah. “Ini file terakhir yang bisa kau pelajari mengenai proyek Notting Hill Carnival.”

Ethan memberikan sebuah file kepada Ben. File yang cukup tebal.

“Aku yakin kau mampu, Ben.” Ethan mengemukakan penilaian-nya. “Aku tidak akan pergi. Jika ada yang kau tidak mengerti, kau boleh bertanya langsung padaku,” ucap Ethan menambahkan. Ben menerima file itu, mengangguk cepat dan mendapati tatapan Ethan yang menyiratkan kepercayaan pada dirinya.

“Saya...Saya berterima kasih untuk kepercayaan ini, Sir,” kata Ben dengan ekspresi tak yakin akan dirinya.

“Sudahlah Ben. Aku sudah mengatakan hal ini kepada Sophia. Dan besok kalian akan menghadiri pertemuan dengan pihak kota.”

Ben sekali lagi terbelalak kaget. Ethan hanya tersenyum dengan reaksi Ben.

“Manfaatkan kesempatan ini, Ben.” pesan Ethan sambil menepuk bahu Ben mantap, seakan menyalurkan energi semangat.

Emily tidak mengira jika pekerjaan rumahnya begitu banyak. Kesibukan telah membuat diri-nya mengacuhkan isi apartemennya. Begitu banyak pakaian kotor, lemari es yang juga kosong. Menggunungnya piring kotor. Ia harus menyelesaikan semua ini sendirian.

Emily mencoba menghidupkan kompor untuk merebus makaroni. Mengocok adonan bolu spons, berbarengan dengan mesin cuci yang sedang menggiling pakaian-pakaian milik-nya.

Semua bumbu sudah ia persiapkan. Kopi panas pun sudah tersedia. Andai ia bisa menjadi lebih dari satu. Astaga, pikiran konyol yang melintasi isi kepala seorang Emily Watson. Setelah adonan mengembang, ia masukan dalam oven berbentuk lingkaran.

Sambil menanti masakannya matang, Emily beranjak ke arah jendela, duduk di atas sofa sambil menatap senja yang memerah. Angin berhembus pelan menerpa wajahnya dari jendela yang dibiarkan terbuka. Terasa hangat yang menyusup sebelum dering telepon terdengar memecah keheningan diri-nya yang larut dalam lamunan. Dengan sigap Emily menyambar ponsel miliknya yang terus menderu.

“Hallo,” sapa Emily membuka percakapan.

“Hallo, Sayang. Ini Ayah,” jawaban dari ujung ponsel-nya.

Emily terperangah, terkejut hingga hanya mampu menutup mulutnya. Menatap layar ponsel-nya, nomor yang berbeda, ia terduduk tegak di atas sofa.

“Ayah? Oh Tuhan, betapa aku merindukanmu, Ayah,” kata Emily dengan suara gembira dan penuh antusias. Ia tak menyangka akan mendengar suara sang ayah.

“Bagaimana kabarmu, Sayang?” Pertanyaan yang membuat Emily menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan keras lalu menelan ludah.

“Aku baik-baik saja Ayah. Bagaimana denganmu?” tanya Emily sebelum terdengar sang ayah yang tiba-tiba terbatuk-batuk tiada henti. Terdengar seperti rasa gatal yang menggelitik. Menerjang kerongkongan hingga terdengar napas yang sesak, seketika Emily dibekap rasa cemas.

“Ayah, apa kau sakit?” tanya Emily khawatir. Ayah-nya tak menjawab, ia masih terbatuk-batuk. Jantung Emily berdegup kencang. Ada rasa takut mendesir di dalam benaknya. Ia terduduk tegang di sofa.

“Ayah tidak apa-apa, Sayang.”

David Watson, pria berusia enam puluh tahun pada akhirnya menjawab pertanyaan dari Emily, meski terdengar di sela napasnya yang masih tak beraturan. Emily bahkan merasa ikut sesak. “Tapi ayah-- “

“Tidak, Nak,” sela David menghentikan kecemasan Emily.

“Ayah baik-baik saja. Hanya kelelahan saja,” imbuh David. Segumpal kebohongan seorang ayah yang tak ingin membuat buah hatinya cemas dan sedih. Emily hanya menelan ludah. Mencoba untuk memahami kondisi sang ayah.

“Kau yakin, Ayah? Batukmu tidak membuatku percaya dengan perkataanmu, Ayah,” ujar Emily terus terang tanpa ada yang ia sembunyikan. Napasnya terdengar lebih tenang sebelum ayahnya terkekeh pelan. David mengerti maksud sang putri. Emily, putri yang ia didik dengan kasih sayang, dan penuh empati.

“Aku merindukanmu, Nak,” ucap David usai tarikan napas dan Emily membalasnya.

“Aku juga, Ayah. Aku sangat merindukanmu.”

***

Bab 3

Galeri Hoxton memiliki lokasi yang sempurna di jantung pusat teknologi, seni, desain, dan perbelanjaan East Central London. Ini adalah dalam jarak berjalan kaki singkat dari LSO St.Lukes, The Barbican Centre dan Clerkenwell.

Pagelaran foto yang terselenggara malam itu terasa memikat dengan karya-karya seniman terkenal. Dan betapa membanggakan-nya bagi seorang Alec Dorantes, karyanya dapat bersanding dengan karya seniman hebat.

Alec dengan percaya diri memamerkan hasil bidikannya pada Emily Watson. Bagi Alec totalitas Emily membuatnya terlihat berbeda dari model lainnya yang pernah menjadi objek kamera Alec. Bagi Emily rasanya luar biasa, ia tak pernah membayangkan jika foto dirinya akan dilihat banyak orang.

“Sang penari,” desis seorang pria yang suaranya tertangkap telinga Emily.

Emily berputar di atas tumit sepatunya, mencari asal suara, tak ada yang ia yakini sebagai pemilik suara sebelum ia menoleh ke belakang dari balik bahunya yang terbuka. Emily mengenakan gaun terusan dengan belahan gaun yang memamerkan kemulusan kulit pahanya.

Seorang pria berdiri di hadapan foto yang memamerkan sosok Emily. Foto dirinya yang terpampang tepat di salah satu sisi dinding ruang pameran. Pria itu menatap dengan lurus dan terlihat mengagumi pemandangan yang dilihatnya yang membuat Emily bertanya-tanya dalam benaknya, bermunculan banyak tanya saat seorang pria memandangi foto seorang wanita tanpa sehelai benang di tubuhnya. Apa yang ada di kepala pria itu?

“Pria berengsek,” gumam Emily dalam pikirannya saat menatap pria itu dari samping. Membuat Emily gagal mengenali pria itu. Tampilan yang rapi dan berkelas. Emily juga mendapati sosok Alec, ia muncul dan berdiri bersebelahan dengan pria yang ia amati sedari tadi sebelum posisi mereka membelakangi Emily.

“Alec… dia dan pria itu…” Emily berjalan beberapa langkah mendekat tanpa ingin bergabung. Rasa penasaran menggelitik dalam dirinya.

“Aku akan ambil semua foto-foto ini.” Suara itu membuat Emily terbelalak. Ia tak yakin dengan yang didengarnya. “Anda yakin, Sir?” Alec bertanya dengan suara yang sama tak yakinnya dan pria itu terlihat mengangguk. Alec mengedarkan pandangan matanya dan mendapati Emily yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya. Alec hanya tersenyum dengan wajah yang jelas tampak bahagia.

“Baiklah, saya akan proses segera. Terima kasih untuk partisipasinya. Selamat malam,” ucap Alec sebelum meninggalkan pria itu dan Emily langsung membalikan posisi berdirinya, memunggungi Alec. Emily tak ingin terlihat. Memasang telinga untuk bisa mendengar langkah lebar mendekati yang ia yakin milik Alec. Suara sol sepatu di atas lantai marmer. Emily tetap tenang seakan tak terjadi apa pun, meski pun degup jantungnya mulai merambat naik, ia menghela napas dalam, lalu menghembuskan perlahan sampai Alec meraih bahunya.

“Pria itu membeli semua gambarmu, cantik,” bisik Alec mirip desis ular.

Mata indah Emily membulat saat Alec tersenyum bahagia lalu Emily menoleh ke samping dan keduanya berhadap-hadapan. Alec tersenyum puas, membuat Emily menatapnya curiga, sebelum ia ikut tersenyum. Tampak bahagia terpancar jelas di wajah Alec.

“Tak sia-sia kerjaku, kan?” ledek Emily sambil mengerlingkan sebelah matanya yang indah. Alec tersenyum dengan bibir sedikit terangkat. Ia melirik pria pembeli foto-fotonya dari balik bahu Alec. Pria itu masih berdiri di sana. Memandangi foto lainnya. Emily kembali menatap Alec yang berdiri tepat di hadapannya.

“Aku yakin pria itu hyper seks,” desis Emily sambil senyum-senyum.

“Sssttt...” desis Alec dengan jari telunjuk di depan bibirnya. Emily terkejut dan keningnya mengernyit sambil menatap Alec dengan curiga sampai Alec meraih lengannya untuk mendekatkan kepalanya di samping kepala Emily.

“Kau tahu siapa pria itu?” desis Alec kian pelan, Emily melirik dari sudut matanya sebelum menggelengkan kepala cepat. Lebih tepatnya Emily tak peduli siapa pun pria itu.

“Aku tak tahu, dan tak ingin tahu,” timpal Emily sambil berbalik, melepaskan tangan Alec sebelum matanya terbelalak mendapati apa yang ia lihat. Sosok yang teramat ia kenal. Langkahnya berhenti. “Oh my God, Jack,” desis Emily dengan mata membulat.

Dengan gerakan cepat Emily berbalik untuk beranjak pergi, berputar di atas tumit sepatunya sebelum melangkah dengan lebar.

“Aku harus pergi,” ujar Emily cepat sambil meninggalkan tempatnya dan juga Alec. Meninggalkan sahabatnya dengan terperangah.

“Em!” pekik Alec dan Emily mengabaikannya. Emily langsung berlari ke arah pintu belakang, dan selang se-detik teriakan terdengar, dan kali ini bukan dari Alec. “Em!!!” pekik Jack dari pintu masuk. Suara Jack memekik ke seluruh ruangan membuat beberapa pasang mata menoleh mencari asal suara. Ruangan yang berubah gaduh.

Emily terus berlari melewati semua ruangan hingga menuju pintu keluar seiring detak jantungnya yang berubah cepat secara perlahan dan membuat napasnya terasa sesak. Berlari dan terus berlari, hanya itu yang terbesit dalam pikiran Emily saat itu. Ia mencoba mengatur napas di sela kakinya yang berlari dengan sepatu bertumit.

Dengan ketergesa-gesaan-nya bahkan ia nyaris menabrak seorang tamu lainnya saat ia berusaha melewati pintu keluar, tubuh Emily nyaris terhuyung mencari keseimbangan, ia mematung sambil berpegang pada dinding, dan rintik hujan menyambut dirinya saat ia berhasil membuka pintu belakang gedung galeri.

“Oh Tuhan,” desis Emily dengan napas terengah-engah.

“Em!!!” teriak Jack dari dalam.

Emily menoleh sebentar hingga suara yang memekik dan bayangan masa lalu yang kembali berpendar membuat Emily menoleh dengan napasnya yang naik turun. Tenggorokan-nya mulai terasa panas. Ia menatap kakinya yang memerah lalu menoleh ke belakang sekali lagi, terdengar suara orang yang berlari. Derap kaki yang berhamburan.

“Tak ada pilihan lain,” kata Emily pada dirinya sendiri. Ia melepaskan sepatu yang dikenakannya dan meninggalkannya begitu saja secara sembarangan sebelum ia kembali berlari dalam balutan gaun hitam. Menarik gaunnya sedikit ke atas, memudahkan kakinya untuk melangkah. Emily coba menjaga keseimbangan tubuhnya di antara licinnya aspal jalanan. Terus berlari dan terus berlari semampu kakinya.

“Masuklah. Cepat!” Perintah seseorang dari dalam mobil.

Sebuah mobil mewah SUV hitam yang muncul tiba-tiba, berhenti tak jauh dari arah Emily berlari. Mata indah Emily terbelalak. Sesosok pria di balik kemudi yang menurunkan kaca mobilnya. Selintas lalu bayangan semburat wajah, Emily mencoba mengingat wajah pria di dalam mobil. Pria itu melambaikan tangannya untuk memintanya segera masuk ke dalam mobil.

“Ayo cepat, pria itu mengejarmu!” perintahnya dengan suara lantang.

“Em!” teriak Jack.

Emily menoleh ke belakang, sebelum berlari mendekat ke arah mobil. Pintu terbuka lebar di hadapannya sementara Jack kian mendekat. Tak ada waktu untuk berpikir, Emily langsung memasuki mobil dan selang beberapa detik mobil pun meluncur cepat seraya pintu yang tertutup dengan hentakan keras.

“Em! Sial!” Jack memekik dan masih terdengar hingga ke telinga Emily yang tergopoh-gopoh. Napasnya naik turun dengan cepat dan peluh telah membasahi keningnya. Emily mencoba untuk mengatur napas meski terasa berat.

“Aku rasa kau sudah aman.” ucap pria di balik kemudi.

Emily melirik-nya sebelum keduanya bertatapan dan ia memalingkan wajahnya ke depan. Emily masih berusaha untuk bisa bernapas. Hanya tersisa se-bait kata, PRIA YANG SAMA.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Escape

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED