Bab 1

Nur Walis Pelita dan Adhim Zein Ad-Din Hisyam adalah dua dari orang-orang yang hidupnya dipermainkan oleh semesta.

Apa jadinya kalau mereka dipertemukan dalam satu garis edar yang sama?

Mungkin, tidak hanya semesta, tapi seluruh isinya yang juga akan menertawakan keduanya.

"Tolong maafkan saya. Saya tahu apa yang saya lakukan pada kamu tidak termaafkan. Tapi saya mohon, biarkan saya sedikit menebus dosa saya. Kamu bisa menghukum saya dengan cara apa pun yang kamu mau. Saya juga rela masuk penjara asal kamu memaafkan saya. Tolong, izinkan saya mempertanggungjawabkan perbuatan saya." — Adhim Zein Ad-Din Hisyam.

"Rasanya sakit sekali, Kak. Rasanya saya seperti ingin mati. Saya sangat hancur pagi itu. Saya merasa saya sama sekali nggak berharga. Saya ingin mengakhiri hidup saya kalau saja saya nggak ingat Allah sangat membencinya. Saya ingin hilang dari dunia." — Nur Walis Pelita.

****

Cinta kadang tidak bisa kita lihat.

Cinta kadang tidak bisa kita dengar.

Namun, cinta ... selalu bisa kita rasa.

Sekalipun itu dalam bentuk luka.

****

Nur Walis Pelita begitu mencintai keluarganya. Papanya yang sangat penyayang, Mamanya yang lemah lembut, dan kakaknya yang penuh perhatian.

Pelita merasa, tidak ada orang yang lebih bahagia di dunia ini selain dirinya karena memiliki keluarga yang nyaris sempurna seperti keluarganya itu. Namun semuanya berubah dalam satu waktu.

Gadis itu masih duduk di bangku kelas dua SMA saat cintanya berubah menjadi luka, mengubah warna dunianya menjadi maya tak secerah sebelumnya.

Agaknya, peribahasa tiada gading yang tak retak adalah benar. Sesempurna apa pun keluarga yang dimiliki Pelita di matanya, sebahagia dan seharmonis apa pun mereka tadinya, semuanya bisa lenyap secepat kedipan mata saat salah satu badai kehidupan menerpa biduk keluarganya.

Sebuah badai kehidupan bernama kematian.

Suatu malam Mama Pelita tiba-tiba ditemukan dalam keadaan meninggal di mansion keluarganya. Pelita tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi sejak itu, semuanya tidak sama lagi.

Papanya yang penuh kasih sayang berubah menjadi seorang yang mudah marah. Seperti saat seorang pelayan atau pegawai melakukan sedikit kesalahan, maka tidak jarang, jika tidak dipecat, orang itu akan menerima kemarahan besar sang papa cukup lama, bahkan ada yang sampai berjam-jam hingga telinga siapa pun yang mendengar menjadi pengang.

Emosi Papanya tidak stabil. Jika Papanya itu mudah marah kepada orang lain, maka kepadanya dan kakaknya, Papa Pelita tidak pernah hangat lagi seperti sebelumnya. Ada jarak beribu-ribu kilo yang seolah membentang dan menjadi pemisah di antara mereka.

Seperti semuanya belum cukup, lima bulan setelah kepergian sang mama, Papanya tiba-tiba pulang dari sebuah perjalan bisnis membawa seorang perempuan yang hari itu dikenalkannya pada Pelita dan sang kakak sebagai istri baru.

Pelita sangat terkejut. Kakaknya yang tidak terima Papanya menikah lagi belum satu tahun setelah Mama mereka meninggal (bahkan belum setengahnya) dan tanpa bertanya atau meminta pendapat mereka terlebih dahulu marah besar dan berakhir dengan terjadinya pertengkaran.

Sejak itu perlahan Pelita mulai kehilangan sosok sang kakak juga perhatiannya.

Kakaknya sangat jarang berada di sisinya. Ia tidak pernah pulang ke rumah. Alasannya, kakak Pelita belum menerima pernikahan itu---mungkin tidak akan pernah. Ia juga benci dengan kehadiran ibu tiri. Sebab sang ibu tiri sendiri, wanita itu hanya berlaku baik saat di depan Papanya tapi tidak di belakangnya. Pelita juga semakin diselimuti kesedihan karena sikap Papanya yang semakin hari seolah semakin menjadi pribadi yang tidak Pelita kenal lagi.

Kematian ibunya menghancurkan hatinya dan pernikahan kedua dari Papanya mengubah dunianya.

Makna cinta bagi Pelita menjadi luka.

Dan dunianya benar-benar tidak lagi sama.

****

Bagi seorang Adhim Zein Ad-Din Hisyam, adiknya, Zulfa adalah segalanya.

Segalanya yang berarti apa pun isi dari dunia, pun, arti dari kata dunia itu sendiri.

Zulfa adalah kesayangannya. Mataharinya. Bunganya. Juga cintanya.

Ya, Adhim mencintai Zulfa. Lebih dari saudara dan kakak-kakak lain yang ada di dunia, cintanya pada sang adik sangat besar. Terlalu besar. Hingga seumpama salah satu di antara mereka dalam bahaya dan hanya satu orang yang bisa selamat tanpa kehilangan nyawa, Adhim akan memilih Zulfa untuk menjadi orang itu, tanpa sedikit pun ragu.

Adhim rela melakukan apa pun untuk keselamatan adik tercintanya, termasuk dengan menukar nyawanya. Hal yang sama juga berlaku demi kebahagiaan adiknya ditambah dengan semua yang juga bersangkutan dan berhubungan dengan Zulfa dan bahagianya.

Bisa dikatakan, hidup Adhim seolah berporos pada sang adik.

Zulfa. Zulfa. Dan Zulfa.

Mungkin Adhim sering bersikap menyebalkan di mata adiknya. Namun Zulfa tidak pernah tahu, jika sayangnya Adhim padanya lebih besar daripada kakak-kakak lain yang ada di dunia hingga Adhim rela melakukan segalanya untuk memastikan kebahagiaannya. Sebut saja dengan menaruh mata-mata di tempat manapun Zulfa berada, mencoba menjodohkan Zulfa dengan sahabat terbaik yang dimilikinya, juga selalu menjaganya dalam diam dan doa tanpa sepengetahuan siapa-siapa.

Semakin beranjak dewasa, Adhim kemudian sadar kalau rasa cintanya terlalu berlebihan pada adiknya, berlebihan dalam sudut pandang untuk ukuran 'seorang kakak'. Adhim sangat mencintai Zulfa hingga seumpama Zulfa bukan adiknya sendiri, Adhim pasti akan menikahinya karena besarnya rasa cinta yang ia miliki.

Sedikit gila? Memang. Cintanya pada Zulfa memang sampai kepada titik di mana Adhim ingin menjaga, memiliki, dan membahagiakannya sendiri. Itulah kenapa, demi menjaga kewarasannya, pada akhirnya Adhim memutuskan untuk pergi mengembara dalam arti yang sebenar-benarnya. Adhim memutuskan untuk pergi, menjauh dari adiknya dan mencoba mengendalikan perasaan 'berlebihan' yang dimilikinya.

Dari Kediri, gus muda itu pergi ke Bandung. Melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi yang sebelumnya bahkan tidak pernah ia minati sama sekali. Laki-laki itu sudah menyelesaikan pendidikan jenjang sekolah menengah atasnya di tahun sebelumnya. Namun karena tidak tertarik mengenyam bangku pendidikan formal lagi, ia memutuskan tidak melanjutkan studi ke perguruan tinggi meski Abah dan Uminya menghendaki.

Adhim memiliki jiwa bebas. Meski dirinya sayang dan menghormati kedua orang tuanya, laki-laki itu tidak sungkan menolak keinginan keduanya jika itu tidak sesuai dengan apa yang Adhim mau.

Lalu Adhim mengubah keputusannya itu di tahun berikutnya karena Zulfa yang membujuknya.

Adhim mencintai adiknya. Dan demi kebaikan semuanya, dirinya memang harus pergi sejauh-jauhnya.

Adhim harus menemukan arti yang lebih benar dari kata cinta. Cinta yang sebenar-benarnya cinta. Cinta sejatinya.

****

___

⚠️ Be wise❗

Rate: 18+

Mengandung kata-kata kasar, isu sensitif, kekerasan, dan adegan dewasa.

Sebaiknya follow dulu sebelum membaca! 🔥

Instagram dan TikTok: puputpelangiiYouTube: Puput Pelangi

Happy reading ....

Bab 2

I don't know how you are so familiar to me—or why it feels less like I am getting to know you and more as thought I am remembering who you are. How every smile, every whisper brings me closer to the impossible conclusion that I have known you before, I have loved you before—in another time, a different place—some other existence.

[ Aku tidak tahu bagaimana kamu begitu familier bagiku—atau mengapa aku merasa kurang mengenal kamu dan lebih seperti aku mengingat siapa kamu. Bagaimana setiap senyuman, setiap bisikan membawaku lebih dekat pada sebuah kesimpulan yang mustahil bahwa aku sudah mengenal kamu sebelumnya, aku sudah mencintai kamu sebelumnya—di lain waktu, tempat yang berbeda—pada beberapa keberadaan yang lain. ]

Pelita menghela napasnya pelan. Manik madunya menatap lurus pada layar laptop yang ada di depannya. Kursor yang ada di lembar dokumen word yang digarapnya berkedip di akhir paragraf.

Baru saja. Gadis cantik dengan celana kulot hitam, atasan blus putih tulang dengan pita cokelat muda melingkar di pergelangan tangan dan pashmina warna cokelat tua itu menyelesaikan satu bab ceritanya.

Ah, bukan satu bab, melainkan satu bab terakhir cerita. Pelita baru saja merampungkan satu judul cerita lagi, yang nanti di sore hari atau paling tidak besok pagi akan Pelita kirim pada Cecilia, editor yang diberikan penerbit untuk memproses cerita karangannya sebelum dicetak dalam bentuk buku peluk-able.

Who are You?

Entah novel ke berapa cerita yang satu itu. Yang jelas Pelita mengeksekusi ceritanya dengan sebuah kutipan mendalam tentang belahan jiwa berbahasa Inggris yang ditulis oleh Lang Leav, penyair dan penulis kontemporer asal Selandia Baru.

Gadis itu masih terpaku pada kutipan yang mencuat di layar plasma canggihnya.

Tidak peduli berapa kali ia membaca, kalimat 'How every smile, every whisper brings me closer to the impossible conclusion that I have known you before, I have loved you before—in another time, a different place—some other existence' selalu berhasil membuat Pelita merasakan semua bulu kuduknya yang remang berdiri.

Pelita terpaku untuk yang ke sekian kali.

Jujur saja, saat menulis cerita, Pelita kurang suka akhir yang bahagia di penutup ceritanya. Jika tidak sad ending, Pelita lebih suka menyuguhkan open ending di novelnya.

Hidup Pelita tidak bahagia, kenapa hidup karakter buatannya harus bahagia? Toh, di dunia ini tidak ada sesuatu yang benar-benar sempurna. Sebut saja dirinya sendiri, orang lain mungkin menilai kehidupannya sempurna dengan wajah cantik, kaya, terkenal, dan diinginkan banyak orang. Tapi itu hanya bagi orang yang melihatnya dari luarnya saja bukan?

Pelita sebenarnya merasa kosong. Hidupnya cukup berantakan baginya. Lalu di hatinya, ada lubang besar nan hitam yang menganga.

Gelap. Gadis itu kehilangan cahaya dan bahagia hanya mimpi semata dalam kamus hidupnya.

Itulah kenapa Pelita tidak suka membuat cerita yang berakhir bahagia.

Bukan. Bukan benci. Pelita jarang—nyaris tidak pernah—membuat cerita yang happy ending karena dirinya sendiri masih merasa sukar mendeskripsikan bahagia itu sendiri.

Tidak peduli seberapa banyak buku, jurnal, film atau riset yang dilahapnya, Pelita tidak menemukan makna yang benar untuk mendefinisikan bahagia dalam sudut pandangnya.

Untuk mendapatkan pemahaman yang sebenarnya, terkadang kita harus mengalami dan merasakannya sendiri bukan? Dan gadis ayu itu sudah bertahun-tahun lupa perasaan dari kata 'bahagia' itu. Pelita tentu pernah mengalaminya, namun waktu melahapnya dan tidak menyisakan sedikit pun untuknya.

Dalam KBBI V yang terinstall dalam ponselnya, bahagia berarti

1. n keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)

2. a beruntung; berbahagia.

Sedangkan dalam Tesaurus Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa yang juga dibacanya:

Bahagia a aman, baik, beruntung, cerah, ceria, enak, gembira, girang, lega, makmur, mujur, nikmat, senang, sentosa, suka cita, tenteram.

Belum lagi definisi bahagia yang berasal dari orang-orang.

Namun tetap, Pelita tidak bisa mendefinisikannya sendiri.

Ia merasa buta. Sebab sekali lagi bahagia adalah kata yang kelewat asing bagi Nur Walis Pelita.

Abstrak. Seperti mitos. Sesuatu yang tidak nyata. Semu dan maya.

Dan kalimat milik Lang Leav itu ... kalimat itu selalu berhasil menyihirnya.

Pelita jelas tidak pernah merasakan apa yang ditulis Lang Leav itu karena selama dua puluh tahun ia hidup, Pelita tidak pernah bertemu seseorang yang bisa disebutnya belahan jiwa. Pelita yakin ia tidak pernah bertemu dengan soul mate-nya.

Tapi kata-kata itu ... benar-benar menyedotnya dalam ruang waktu, di mana di dalamnya Pelita membatu seolah kehilangan daya dan kesadarannya. Ia terbuai dan menyangkut di sela-sela huruf antarkalimatnya.

"Eh, ciye .... Happy ending nih ceritanya. Syukur deh, pembacamu nggak akan ada yang kecewa kali ini."

Arina yang membawa segelas thai tea di tangan kanannya mendatangi meja Pelita dan berceletuk tepat di samping telinga gadis itu sambil mencondongkan tubuh ke layar laptop Pelita, membaca beberapa kalimat terakhir yang ada di layar itu sebelum menarik sebuah kursi kayu yang ada di samping Pelita dan mendudukkan diri di sana.

Pelita melirik temannya itu sekilas kemudian menghela napas lirih. Ia kembali fokus pada layar laptop lalu membubuhkan kata 'SELESAI' di bawah tulisan terakhirnya lantas menyimpan perubahan terakhir di dokumen word itu dan menutup aplikasi Microsoft Word-nya.

Jam di pergelangan tangannya masih menunjukkan pukul 08.03 pagi.

Sekali lagi Pelita menatap Arina yang kini sudah asyik memainkan ponsel sembari menyesap minumannya kemudian meraih cangkir teh miliknya sendiri.

Menyesap teh hijau hangat yang sudah tidak hangat lagi itu dalam diam, Pelita menutup laptop silver yang baru dimatikannya. Sama seperti Arina, gadis itu menyalakan ponselnya yang semula ditaruhnya di atas meja dan mulai men-scroll aplikasi perpesanan.

June Aldrian Adams:

Jangan lupa pulang kuliah nanti ada jadwal pemotretan.

Bibir Pelita sedikit melengkung ke atas membaca chat yang datang dari manajernya itu.

Nur Walis Pelita:

Oke.

Gadis itu segera mematikan ponselnya setelah menjawab pesan June, tanpa melirik timbunan pesan lain yang menyentuh angka puluhan bernomorkan asing di ponselnya sedikit pun lalu meneguk habis teh hijaunya. Biasa, nomor asing yang mencoba mengganggunya—mengajaknya berkenalan dan sebagainya.

"Oh ya, Bang June mana, Lit? Tumben pagi-pagi gini kok nggak ada sama kamu?" tanya Arina sembari mengedarkan pandang ke sekeliling kafe, mencari-cari sosok tinggi jangkung yang biasa dipanggilnya Bang June.

Omong-omong soal June. Laki-laki bertubuh tegap dengan wajah aristokrat sedikit kebule-bulean itu adalah tetangga Pelita ketika gadis itu masih tinggal di Jakarta bersama keluarganya dulu. Mereka teman sejak kecil. Tidak terlalu dekat aku Pelita, namun setahu Arina dari bagaimana laki-laki itu bersikap dan memperlakukan Pelita, Arina seratus persen yakin jika laki-laki blasteran darah Indonesia dan Australia itu memandang Pelita lebih dari seorang teman, bahkan lebih dari seorang sahabat atau saudara.

Dari Jakarta, June rela meninggalkan kehidupan dan seluruh teman-temannya yang ada di ibu kota itu demi mengikuti Pelita yang pindah ke Bandung beberapa tahun lalu. Ia bahkan meninggalkan UI, perguruan tinggi negeri yang mayoritas diinginkan oleh pemuda mana pun dan pindah ke universitas swasta yang menjadi tempat kuliah Pelita. Padahal saat itu, June sudah berada di semester lima bangku perkuliahan, namun ia pindah seolah itu bukan merupakan hal yang besar. Lalu sekarang sebagai kakak tingkat, June belum juga mengumpulkan skripsinya yang jika meruntut waktu, semenjak tahun lalu laki-laki itu seharusnya lulus.

June berotak cemerlang. Jika tidak, bagaimana mungkin laki-laki itu sempat berkuliah di UI?! Selain dosen pembimbing skripsinya, dosen-dosen lainnya sudah banyak yang bertanya kapan June mau merampungkan skripsi miliknya. Namun alih-alih mengatakan segera, laki-laki itu selalu menjawabnya hanya dengan senyuman cerah miliknya setiap ada orang yang menanyakan itu.

Meski June tidak mau mengaku, Arina tahu June melakukan itu agar bisa lebih lama lagi berada di samping Pelita. Sebab saat June mendapatkan gelar sarjananya, laki-laki itu harus kembali ke Jakarta untuk meneruskan perusahaan keluarganya jika tidak melanjutkan pendidikannya lagi ke luar negeri.

June ingin selalu ada di samping Pelita, itulah kenapa laki-laki itu bersedia menjadi manajer sekaligus bodyguard gadis itu tanpa mau dibayar sepeser pun—hal yang membuat Pelita merasa tidak senang tentu saja karena ia mempekerjakan seseorang yang tidak ingin digaji.

Namun nyatanya June memang bekerja bukan untuk uang. Sama seperti Pelita, June juga seseorang yang berasal dari kalangan yang finansialnya tidak bisa diremehkan sembarangan.

Jika Pelita bekerja menjadi model untuk bersenang-senang, maka June bekerja sebagai manajernya adalah agar ia selalu berada di samping gadis itu. Menjaganya.

Singkatnya June bekerja untuk rasa cintanya.

Jika Arina menjadi Pelita, sudah dipastikan sejak awal ia akan menerima cinta laki-laki itu dan tidak akan menyia-nyiakannya. Di mata Arina sangat jarang ada laki-laki yang bisa seperti June—mencintai dengan tulus dan seolah tanpa cela.

Selain berasal dari keluarga konglomerat terpandang yang memiliki salah satu perusahan besar dengan catatan bersih, June memiliki tubuh kekar yang sama bagusnya dengan otak. Sama-sama sexy jika menurut Arina.

Iya, mungkin Pelita tidak mempertimbangkan itu sama seperti Pelita yang tidak melihat wajah bak pahatan sempurna milik June dan kekayaan yang dimiliki laki-laki itu karena Pelita juga sama-sama rupawan dan kayanya. Tapi cinta tulusnya? Dari mana Pelita bisa mendapatkan laki-laki lain seperti June?

Arina sungguh tidak habis pikir kenapa Pelita tidak menerima laki-laki itu.

Apa alasannya?

Perbedaan agama?

Jika iya Arina sama sekali tidak paham dengan jalan pikiran Pelita. Toh, sudah banyak artis dan public figure dalam negeri yang menjalin hubungan bahkan menikah beda agama!

Oke, baiklah, mungkin pernikahan terlalu jauh jika dibahas sekarang. Tapi, tidak masalah kan seharusnya jika Pelita dan June hanya berpacaran untuk sekarang? Mereka benar-benar pasangan sempurna di mata Arina. Kenapa Pelita tidak melihatnya?

Arina menghela napas berat karena semua pemikirannya itu. Ia tidak ingin menjadi semakin gila.

"Mungkin lagi nyebat di tempat lain. Di sini kan tempat bebas asap. Nggak usah dicariin, nanti juga datang-datang sendiri," balas Pelita sembari tersenyum kecil melihat tingkah temannya.

Arina langsung memasang ekspresi menyelidik menatap Pelita, "Aku nanya apa, kamu jawabnya apa." Gadis itu mencebik. "Eh! Tapi sejak kapan Bang June ngerokok? Kok aku nggak pernah lihat? Kamu apain, Lit?! Astagaaa. Pasti ada apa-apa nih sampek orang yang peduli banget sama kesehatan seperti Bang June ngerokok."

Pelita hanya tersenyum simpul.

Arina dengan mulut embernya.

Bang June ngerokok udah dari dulu, Rin. Cuma memang jarang. Kamu aja yang nggak tahu, batinnya.

"Ya udah deh, lupain!" kata Arina sambil mendengkus. "Tanya soal Bang June ke kamu tuh sering unfaedah-nya daripada berfaedah! Nanti sore jadi kan pemotretannya? Awas aja kalau kamu batalin jadwal lagi sesuka kamu. Iya, kamu nggak masalah kalau kita nggak dapet duit atau bahkan mesti bayar ganti rugi. Holkay mah bebas. Bang June juga! Tapi buat aku ... ya ampun, big problem banget! Mana udah akhir bulan lagi. Emang nasibnya anak rantauan deh ke mana-mana selalu merasa terdiskriminasi." Arina memungkasi kalimat panjangnya dengan mengusap kedua belah pipinya yang tidak basah oleh air mata. Pura-pura menangis.

Pelita mendecih menatap gadis bersurai kecokelatan yang ada di depannya itu. "Yang ngasih gaji ke kamu siapa? Lebay deh!" ujarnya.

Dari pura-pura menangis, Arina langsung membulatkan mata tidak terima. "Ya ... coba kamu bayangin aja sendiri, gimana jadi aku yang selalu dapet masalah tiap kamu batalin jadwal terus menghilang seenaknya. Bang June mah nggak pernah dihubungi sama pihak pengontrak. Aku, Lit, yang selalu kena semprot! Panas tahu nggak nih telinga setiap kali pihak pengontrak kamu marah-marah. Mana isi kebun binatang dibawa semua lagi."

Pelita hanya tersenyum melihat Arina yang masih nyerocos di depannya.

"Kadang aku merasa, kalau aku udah salah ambil keputusan waktu mau-maunya kerja sama kamu. Posisi asisten pribadi. Tapi kerjaan makan ati tiap hari."

Pelita menahan senyum sambil mengernyitkan dahi.

"Maksudku ... bisa stress aku lama-lama lihat kamu dengan mudahnya buang-buang uang buat ganti rugi pembatalan kontrak belakangan ini. Padahal tinggal pose di depan kamera aja apa susahnya sih? Wajah kamu tuh cantik mau diapa-apain. Buktinya ya, orang-orang agensi yang pernah kamu kecewain masiiih aja ngubungin kita buat ngajakin kerja sama."

Pelita manggut-manggut. "Oh ..., jadi kamu capek kerja sama aku? Ya udah, nggak papa. Tinggal berhenti aja nggak masalah kok."

"Eh, eh, eh! Bukan gituu ...." Arina berubah panik. "Aku sekarang tuh cuman curhat. Bukan sebagai asisten pribadi kamu. Tapi sebagai temen kamu, Pelita. Masa gitu aja kamu nggak ngerti sih? Kamu kan penulis! Harusnya lebih tanggap dan mudah paham sama apa yang aku maksud dong!"

Pelita mendengkuskan tawa, "Iya, iya, Arina .... Belakangan ini bukannya aku mau nggak bertanggung-jawab sama kontrak pemotretan yang udah aku ambil. Ya, kamu tahu sendiri, Mbak Cecil lagi nyuruh aku revisi sambil benerin ending novel baruku."

Arina melirik laptop Pelita yang tergeletak di atas meja. "Yang barusan itu?"

"Hm." Pelita mengangguk.

"Yang happy ending itu?"

Pelita mengangguk lagi.

Arina langsung tersenyum lebar. "Tumben banget kamu, Lit? Pake acara disuruh Mbak Cecil juga! Ada apa nih? Pantesan Bang June kemarin-kemarin kelihatan bete' terus. Pasti karena kamu cuwekin belakangan ini. Ha ha ha."

Pelita mengedikkan bahunya.

Sebenarnya ada banyak pertanyaan Arina yang belum Pelita jawab. Namun, karena Arina terus berbicara dan membahas topik lain, Pelita hanya bisa membalas beberapa pertanyaan saja dari keseluruhannya.

Arina itu cerewet! Jadi saat sedang kumat begini, Pelita lebih suka diam mendengarkan Arina berbicara hingga ocehan gadis itu selesai.

"Masa depan imajinasi pembaca kamu bakal cerah nih kalau kamu mau sering-sering bikin ending happy! Ya udah. Kamu batalin aja semua kontrak pemotretan kamu. Kemarin masih ada satu judul novel yang masih kamu revisi kan? Udah selesai belum? Kalau belum nggak pa-pa, aku ngasistenin kamu ngetik atau apa gitu deh, ha ha ha. Toh, kamu pernah bilang kalau kamu merasa lebih hidup saat lagi nulis kan? Modeling bisa nanti-nanti setelah novel terbaru kamu yang satu lagi kelar revisi."

Setelah berbicara panjang-lebar, Arina melipat kedua tangannya rapi di atas meja sembari menunjukkan cengiran kudanya di depan Pelita.

Sebentar Pelita mengerutkan dahinya. "Biar apa nih?" tawanya. "Biar kamu nggak kena omel pihak pengontrak? Atau, biar kamu bisa baca ceritaku yang happy end? Rin ..., satu hal yang nggak boleh kamu lupakan, selain menulis, modeling itu juga duniaku. Aku nggak akan pernah ninggalin salah satunya dan milih ngerjain satunya aja." Gadis itu kemudian bangkit dari tempat duduknya.

Membereskan meja dan memasukkan laptop ke dalam ransel kulit miliknya, Pelita melihat jam tangan cantik yang melingkar di pergelangan tangan kiri. "Kamu udah sarapan belum?" tanyanya sembari mengalihkan pandangan lagi pada Arina.

Arina menganggukkan kepala. "Udah tadi. Tenang aja," balasnya sembari mengacungan jempol.

"Ya udah," balas Pelita kemudian mencangklongkan ransel ke bahu. "Aku mau ke perpus dulu. Ada sesuatu yang mau kucari. Duluan, ya!" ucapnya kemudian mengayunkan langkah menuju pintu masuk kafe.

Bang Haris—begitu Pelita memanggil pemilik kafe—adalah teman June. Setiap hari, baik Pelita, June maupun Arina sering mampir ke kafe yang lokasinya tidak jauh dari kampus itu untuk sekadar minum atau ngobrol-ngobrol. Itulah kenapa, daripada di dalam kafe, Pelita, June atau Arina sama-sama bisa lebih leluasa menjangkau tempat paling belakang kafe untuk duduk.

Ruang serupa teras yang cukup luas dengan beberapa meja dan kursi yang ditata rapi itu hanya biasa dijangkau oleh Haris dan teman-temannya. Karena June adalah teman Haris, maka secara tidak langsung Pelita dan Arina juga. Selain lebih enak karena berada di luar ruangan, tidak banyak pelanggan yang menempati ruangan itu sehingga siapa pun pasti lebih suka duduk di sana.

Untuk kembali ke area kampus, Pelita harus masuk ke dalam kafe sebelum keluar dari pintu depan kafe karena ruangan terbuka yang ditempatinya tidak memiliki pintu keluar sama sekali. Tembok berbahan batako memagari sekelilingnya.

"Eh, tunggu tunggu!" tukas Arina yang membuat Pelita menghentikan langkahnya dan kembali menoleh.

"Kenapa? Mau bareng ke kampus juga?" tanya Pelita.

"Enggak." Arina menggeleng. "Aku mau ketemu orang dulu di sini," lanjutnya.

"Lalu?" tanya Pelita masih menatap Arina.

"Soal tantangannya Mbak Cecil untuk membuat novel bergenre spiritual, gimana? Aku beneran kepo, Lit. Kamu terima?"

Pelita terpaku selama beberapa lama.

Arina pun meletakkan gelas thai tea yang sebelumnya ada di genggaman tangannya karena baru ia minum ke atas meja kembali, menunggu jawaban Pelita.

Pelita kembali menatap Arina sembari mengembangkan senyum cerah. "Kita lihat aja nanti!" tukasnya lantas melanjutkan langkah ke dalam kafe.

Gadis itu Nur Walis Pelita. Seorang yang biasa dipanggil dengan nama Pelita. Mahasiswa semester lima, penulis, juga model.

Gadis muda dengan lubang hitam besar yang menganga di hatinya.

Semua orang mungkin melihat kehidupan Pelita sebagai kehidupan sempurna dengan wajah cantik, menarik, kaya, juga terkenal.

Namun tidak ada yang paham, jika di balik wajah cantik dan senyum cerah itu, ada luka yang terus menggerogoti jiwanya layaknya sembilu. Sebelum pertemuan itu. []

Bab 3

Kubakar cintaku

Dalam hening nafas-Mu

Perlahan lagu menyayat

Nasibku yang penat

Kubakar cintaku

Dalam sampai sunyi-Mu

Agar lindap, agar tatap

Dari hujung merapat

Rinduku terbang

Menembus penyap bayang

Rinduku burung malam

Menangkap cahaya: rahasia bintang-bintang

Kucabik mega, kucabik suara-suara

Betapa berat Kau di sukma

Agar Hati, agar sauh di pantai

Sampai juga di getar ini

_

"Woi!"

Tubuh seorang laki-laki dengan surai hitam dan panjang tersentak sesaat setelah seseorang menepuk keras pundaknya.

"Lihat apaan?" tanya seseorang yang baru saja mengejutkan laki-laki bersurai panjang itu.

Seorang lelaki bertubuh jangkung atletis dengan potongan rambut cepak. Tato berbentuk jangkar mencuat di lengan kanan laki-laki berambut cepak itu yang hanya mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam. Di lehernya, melingkar kalung rantai yang di ujungnya berbandulkan cincin berbahan lempengan besi tipis sepanjang tiga sentimeter---bahan yang sama sekai tak senilai dengan rantai kalungnya yang terbuat dari emas murni berwarna putih.

Sedangkan laki-laki berambut panjang sendiri---yang bisa juga disebut gondrong, ia mengenakan setelan celana jins biru tua dengan atasan kaos abu-abu yang di bagian luarnya dilapisi kemeja levis warna hijau army yang melekat sempurna di tubuh kekar tak kalah atletisnya. Kancing-kancing kemeja levis yang ia kenakan tidak dikancingkan sama sekali. Rambut panjang bergelombangnya dibiarkan tergerai begitu saja sepanjang bahu.

Mendengar pertanyaan dari temannya yang baru datang itu, laki-laki berambut gondrong langsung mematikan layar ponsel yang sedang ditatapnya.

Terdengar siulan pendek setelahnya. Laki-laki berambut cepak dengan tato yang menjadi sumber dari suara siulan itu.

"Cantik banget. Siapa? Cewek lo?" tanya laki-laki berambut cepak merujuk pada sebuah foto perempuan berjilbab yang sempat ia lihat pada layar ponsel lelaki berambut gondrong sebelum temannya itu mematikan ponselnya.

Yang ditanyai hanya mengembangkan senyum simpul. "Bukan. Adek gue," jawabnya pendek lantas memasukkan ponsel ke dalam kantung celana jins yang ia kenakan.

Laki-laki berambut cepak memasang senyum lebar lalu mengambil tempat untuk duduk di samping laki-laki berambut gondrong itu, di sebuah bangku kayu panjang yang ada di pinggiran taman universitas.

"Gila gilaa! Cantik banget adek lo. Jadi, itu adek lo?! Kenalin ke gue napa?"

Laki-laki berambut gondrong menanggapinya dengan dengkusan tawa, kemudian menjawab, "Nggak ada. Ngenalin adek gue ke playboy kelas kakap kayak lo itu, sama aja ngasih buaya makanan," katanya santai.

"Ha ha ha ha." Laki-laki berambut cepak langsung tertawa kencang. "Nggak lah, Bang. Kalau sama adek lo insaf gue," jawabnya menatap lawan bicara. "Mana berani gue macem-macem kalau abangnya orang paling disegani seantero jalanan Kota Bandung. Udahlah, kenalin ke gue aja oke?!"

Laki-laki berambut gondrong mencebikkan mulut. "Lo terlambat," ujarnya sembari tersenyum di salah satu sudut bibir. "Adek gue udah nikah seminggu yang lalu."

Tercipta jeda setelah itu.

"Hah? Beneran?! Yah ...." Laki-laki berambut cepak mendesah kecewa. "Kecolongan start dong gue!" serunya memasang wajah terluka yang membuat laki-laki berambut gondrong melepaskan kekehannya. "Sama siapa? Baru aja gue mau insaf jadi playboy buat adek lo. Memantaskan diri gitu. Ternyata gue kalah cepet sama orang lain."

Laki-laki berambut gondrong masih menampilkan senyum tipisnya. "Sama siapanya adek gue nikah nggak penting buat lo tahu. Tapi soal insaf jadi playboy? Tobat mainin cewek itu jangan karena lo merasa udah nemu orang yang tepat untuk lo seriusin, Do," ujarnya menjeda. "Berhenti main-main itu mulai sekarang! Inget umur! Inget karma juga. Jangan sampai kelakuan lo nurun ke anak lo nanti. Iya kalau anak lo cowok, kalau cewek terus dia ketemu cowok yang kelakuannya sebelas-dua belas sama bapaknya gimana? Lo mau anak lo dimainin orang?"

Laki-laki berambut cepak segera membulatkan matanya. "Iya enggak lah. Kalau gue punya anak cewek terus ada cowok yang berani mainin anak gue, habis tuh cowok gue hajar! Enak aja anak gue dibuat mainan." Si rambut cepak menggerutu kesal.

Laki-laki berambut gondrong semakin melebarkan senyumannya. "Nah, itu lo tahu," katanya sembari menepuk pelan pundak lelaki berambut cepak yang duduk di samping kirinya itu. "Jadi saran gue, berhenti mainin cewek, Do! Cewek-cewek yang pernah lo mainin perasaannya, orang tuanya pasti nggak terima atas apa yang udah lo perbuat. Ya, kayak lo tadi. Masih untung sampai sekarang nggak ada bapak-bapak, abang, paman atau mungkin adek dari cewek yang pernah lo mainin yang datang bawa golok buat ngajar lo."

Laki-laki berambut cepak langsung nyengir, "Omongan lo, Bang! Bikin gue takut aja!" katanya. "Ya enggak lah, nggak bakal ada karena selama ini cewek-cewek itu sendiri yang nyodorin dirinya ke gue. Mereka tahu reputasi gue kayak apa. Tapi apa? Mereka sendiri yang nekat deketin bahkan nembak gue terang-terangan. Sebagai orang yang peduli perasaan perempuan, ya gue terima lah! Siapa tau kan, ada yang cocok sama gue? Jadi saat nggak ada yang cocok, bukan salah gue kalau mereka kemudian merasa kecewa saat gue tinggalin." Laki-laki itu mengungkapkan argumentasinya tanpa dosa.

Sudah menjadi rahasia umum memang, jika laki-laki berambut cepak dengan tato di lengan itu terkenal sebagai seseorang yang kurang serius dalam menjalin hubungan.

Casanova, begitulah ia terkenal di kalangan komunitasnya. Alasannya dia ingin mencari kecocokan sambil menjalani hubungan. Namun hanya beberapa minggu berjalan, hubungan itu pasti kandas karena dirinya yang merasa kurang atau tidak cocok lagi. Sudah tidak bisa dihitung jari berapa banyak perempuan yang pernah ia pacari.

"Susah berurusan sama orang kayak lo, Do. Jadi perempuan yang lo mau yang seperti apa? Perempuan yang seperti apa yang lo cari?"

Laki-laki berambut cepak mengerjapkan matanya sekali, lantas meringis, "Gue mau yang seperti adek lo," jawabnya.

Laki-laki berambut gondrong langsung menggelengkan kepala, tersenyum kemudian mengeluarkan decakan tak habis pikir. "Sayangnya, perempuan seperti adek gue nggak bakal mau sama orang kayak lo, Do," katanya. "Kalaupun perempuan seperti dia ada yang mau, perempuan itu pasti lagi khilaf saat itu. Lo pernah denger nggak? Jodoh itu cerminan dari diri lo sendiri. Kalau sekarang lo kurang bener, jangan harap lo bakal ketemu jodoh yang bener."

"Ha ha ha. Hadooh. Iye, iye, Pak Kiai ...," sahut laki-laki berambut cepak dengan nada jenaka. "Gue sadar diri .... Gue emang nggak bakal mungkin berjodoh sama cewek sebaik adek lo itu. Cantik. Nutup aurat. Salihah. Dan, oh, anak kiai lagi! Gue sampai lupa kalau temen gue ini anaknya kiai. Adeknya jelas anaknya kiai juga lah. Gue sadar diri banget, Bang. Tapi seenggaknya, gue mau perempuan yang bener buat jadi pasangan gue. Ibu itu sekolah pertama buat anaknya. Gimana jadinya anak gue nanti kalau bapak sama ibunya sama-sama modelan blangsak kayak gue? Jadi gue mau perempuan baik-baik yang nanti bakal jadi pasangan gue."

Laki-laki berambut gondrong hanya mengulas senyum tipis.

Pemikiran seperti itulah yang kurang disadari kebanyakan orang. Mereka menginginkan pasangan yang sempurna, tampan atau cantik, baik, salih atau salihah, tapi mereka tidak melihat dirinya sendiri.

Mereka mematok tipe ideal untuk dirinya tapi tidak melihat dirinya sendiri apakah sudah layak atau tidak menjadi tipe ideal bagi orang lain. Dalam al-Qur'an sudah disebutkan:

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) ...." (Qur'an Surat An-Nur Ayat 26).

"Btw, jadi adek lo beneran udah kawin ya, Bang?"

Laki-laki berambut gondrong langsung mencurengkan alis, "Kawin?" tanyanya. "Nikah, Do. Nikah dulu, baru kawin!"

"He he he. Iya. Itu maksud gue. Jadi, adek lo beneran udah nikah?"

"Hm." Laki-laki berambut gondrong mengangguk.

"Terus, lo-nya kapan?"

Laki-laki berambut gondrong langsung terdiam. Ia kemudian kembali menoleh kepada temannya, "Emang kenapa nanya-nanya?"

Laki-laki berambut cepak mengedikkan bahunya. "Ya, siapa tahu aja kan? Gue pernah denger, kalau nggak salah, anak kiai itu biasanya nikah muda, Bang. Terlebih yang cewek. Kayak adek lo tadi. Kelihatan kalau masih muda. Gue tebak masih delapan belas-sembilan belas tahunan, ya?"

Laki-laki berambut gondrong diam saja.

"Lo sendiri, nggak mau nikah nyusul adek lo?" lanjut laki-laki berambut cepak.

Laki-laki berambut gondrong hanya tersenyum. "Enggak," jawabnya.

"Lah, kenapa?" tanya laki-laki berambut cepak lagi. "Lo tahu nggak, Bang. Di kampus, ada banyak cewek yang diam-diam suka sama lo. Belum lagi anak-anak klub motor. Lo aja yang nggak peka."

Laki-laki berambut gondrong hanya tersenyum menanggapinya. "Nggak ada .... Ngaco lo!"

Laki-laki berambut cepak langsung menegakkan duduknya. "Beneran gue, Bang. Suer deh!" serunya. "Menurut sudut pandang seorang ahlinya cewek dan cinta, Aldo Jefrico," ujarnya lagi sembari menepuk dadanya dua kali, "Daripada cewek-cewek yang suka ke gue, cewek yang suka lo lebih banyak, Bang. Lo-nya aja yang nggak peka dan nggak pernah sadar."

Laki-laki berambut gondrong mencebikkan mulut. "Maksud lo gimana?" kemudian tanyanya.

Laki-laki berambut cepak yang bernama lengkapkan Aldo Jefrico itu menghela napas, "Maksud gue, kalau lo mau, cewek yang mau jadi pacar lo, bahkan mungkin, jadi istri lo itu banyak. Coba lo tunjuk aja satu, gue jamin cewek itu langsung mau."

Laki-laki berambut gondrong terkekeh menanggapi. "Lo berlebihan, Do! Masa segampang itu mau nikahin anak orang," ucapnya kemudian kembali tertawa.

Aldo hanya menatap lamat laki-laki berambut gondrong yang ada di sampingnya. "Gue ngomong kenyataannya padahal," gumamnya lantas ikut tertawa.

Untuk beberapa saat, keduanya sama-sama tertawa.

Saat sudah puas, Aldo kembali bersuara lagi, "Percaya sama gue, Bang. Kalau lo mau, lo bisa jadi Casanova paling legendaris sepanjang sejarah fakultas kita," katanya dengan nada tenang dan bersungguh-sungguh.

Laki-laki berambut gondrong menghela napasnya menatap Aldo. "Biar bisa nyaingin lo?" tanyanya dengan nada gurauan.

"Ha ha. Salah satunya," balas Aldo. "Mumpung kita masih muda, Bang. Buat apa lagi kalau nggak buat seneng-seneng dan cari banyak pengalaman."

Mendengar itu laki-laki berambut gondrong kembali menghela napas lalu menggeleng, "Terserah lo," ucapnya. "Sebagai teman dan orang yang setahun lebih tua dari lo, gue udah selalu ngingetin lo, Do. Kalau lo mau insaf, bagus, lebih baik cepetan insaf! Lo nggak mungkin hidup seperti ini terus sampai tua."

"Iye, iye," sahut Aldo kemudian menyengir seperti sebelumnya. "Eh, Bang. Btw, adek lo yang cantik itu siapa namanya?"

Laki-laki berambut gondrong langsung mengernyitkan dahinya. "Kenapa lo tanya-tanya nama adek gue?" tanyanya sembari memicingkan mata tajam.

"He he. Ya kepo aja gue sama nama adek sohib gue sendiri. Emang salah? Mau gue gebet juga kan, udah nggak mungkin, udah punya suami."

Laki-laki berambut gondrong terkekeh lagi. "Zulfa. Nama adek gue Zulfa," katanya begitu berhenti tertawa.

Aldo manggut-manggut mendengarnya. "Zulfa ...," ulangnya seolah memproses nama itu agar terpatri kuat dalam ingatannya yang sebenarnya cukup sulit untuk mengingat-ingat nama perempuan. Buktinya, coba tanyakan saja nama-nama mantannya, sembilan puluh persen laki-laki itu tidak bisa mengingatnya---khas seorang Casanova. "Bagus, Bang, namanya," komentar Aldo setelah beberapa lama.

"Emang lo tahu artinya apa?"

Aldo langsung menatap sengit. "Ya tahu lah. Gini-gini, gue pernah mahir belajar bahasa Arab waktu masuk pesantren meski bertahan cuma setengah tahun. Lo tahu cerita gue."

Laki-laki berambut gondrong manggut sembari tersenyum menatap tato berukurang sedang yang terlukis di lengan teman kuliahannya itu. "Kalau gitu apa artinya?" tanyanya.

Aldo memejamkan matanya sebentar kemudian menghela napas. "Zulfa. Yang jelas Zulfa itu nama dari bahasa Arab. Kayak nama lo. Adhim. Bahasa Arab juga kan?!" katanya begitu membuka pejaman mata kembali. "Setahu gue, Zulfa itu artinya kedudukan, derajat, dekat sama taman. Dalam bahasa Arab sendiri berarti kedudukan yang dekat. Jadi kalau ada cewek namanya gitu, berarti orang tuanya yang kasih nama berharap anaknya jadi cewek yang bijaksana, jujur, ramah, dan menyenangkan."

Laki-laki berambut gondrong yang belakangan baru diketahui bernama Adhim itu pun mengangguk-angguk kecil sembari tetap memasang senyumannya. "Pinter juga lo nafsirin nama," pujinya.

Aldo langsung tersenyum sombong sembari membusungkan dada. "Aldo ...," ucapnya bangga.

Adhim pun kembali tertawa. Ia menggeleng-gelengkan kepala setelahnya.

Zulfa ...

Bagi Adhim, laki-laki dengan rambut gondrong yang merupakan putra salah seorang kiai ternama di daerah Jawa Timur itu, menyebut dan mendengar nama Zulfa, adiknya, sama saja membiarkan dirinya kembali diliputi gelombang rindu.

Sebuah gelombang rindu yang begitu menggebu. Sebab sebanyak ia mencintai adiknya, sebanyak itu pula laki-laki itu merindukannya.

Namun, karena rasa cintanya itulah yang menjadi alasan bagi Adhim menjauh. Pergi dalam pengembaraan yang entah di mana ujungnya dan sampai berapa lama untuk mengenyahkan perasaan berlebihannya pada sang adik. Dan mungkin, menemukan cinta sejatinya sendiri.

"Bang," panggil Aldo setelah membiarkan keheningan menguasai udara di sekitar mereka dalam beberapa menit.

Adhim kembali menoleh dan menatapnya. 'Kenapa?' tanya laki-laki itu lewat kernyitan di dahi dan sebelah alis hitamnya yang terangkat.

"Lo belum jawab pertanyaan gue yang tadi."

Tercipta jeda.

"Yang mana?" Adhim kembali mengeluarkan suaranya.

"Alasan kenapa lo belum nikah. Atau lebih tepatnya, alasan kenapa lo menolak nikah."

Keduanya terdiam lagi.

"Maaf sebelumnya." Aldo yang kembali memecah sunyi di antara mereka. "Bukannya gue lancang, Bang. Tapi gue pernah nggak sengaja dengar percakapan lo sama Umi lo waktu kalian video call-an di tempat lo. Lo tahu kan, meski gue orang Sunda gue lebih bisa bahasa Jawa daripada Sunda? Ya, meski di bahasa Jawa, jujur, menurut gue masih agak sulit sih karena di setiap daerah ada banyak kata dan pengartian yang beda. Tapi di situ, gue denger percakapan kalian yang intinya Umi lo mau lo segera nikah."

Adhim hanya menyimak ucapan Aldo dalam diam.

"Gue kepo, Bang. Orang seperti lo, apa alasannya menolak nikah?" Aldo menunjukkan wajah penasarannya dengan dahi berkerut. "Oke. Iya. Mungkin lo belum siap atau emang lagi mau nyari yang cocok dulu kayak gue, ha ha. Ya, meski dengan cara yang berbeda sih. Atau bisa juga lo punya alasan yang lain. Tapi selama gue kenal lo, sekali pun gue nggak pernah lihat lo deket sama cewek, Bang. Apalagi punya hubungan. Lo ... nggak pernah jatuh cinta?" tanya Aldo setelah jeda. "Gue lihat lo selalu bersikap biasa ke semua cewek, cenderung dingin malahan sampai cewek-cewek yang berusaha deket sama lo mundur sendiri karena merasa segan," lanjutnya lagi.

Adhim hanya mengangkat sebelah alisnya sebelum menjawab santai, "Anggap aja, jawaban gue sama seperti yang lo bilang tadi, Do. Gue belum siap."

Aldo terdiam. "Yakin karena itu?" tanyanya setelah beberapa lama. "Gue kok ngerasa lo punya jawaban lain ya, Bang? Kayak ... lo udah punya seseorang yang lo cintai, di tempat lo di Kediri misalnya, tapi lo nggak bisa bareng sama orang itu karena suatu alasan."

Adhim ganti yang terdiam.

"Karena seumpama lo bisa sama dia, lo pasti udah mengiyakan permintaan Umi lo untuk nikah dan nikahin orang itu." Aldo melanjutkan hipotesisnya.

Adhim tidak mampu berkata-kata.

Tidak mungkin kan, dia mengatakan kebenarannya tentang cintanya yang begitu besar kepada adiknya?

"Kenapa lo jadi kayak Umi gue sih? Ngebet banget mau lihat gue nikah?" serunya mencoba mengalihkan pembicaraan lantas tertawa. "Urus tuh diri lo sendiri, Do! Anak orang jangan lo mainin aja perasaannya!"

Aldo hanya mencebikkan mulut mendengarnya lalu tersenyum kecut.

"Jadi, tujuan lo ketemu gue sekarang apa?" tanya Adhim kemudian.

Mendengar pertanyaan Adhim, Aldo yang tadi memasang wajah sepat langsung memasang senyumnya lagi. "Ikut gue yuk, Bang!" ajaknya.

Adhim pun hanya mampu memicingkan matanya sedikit melihat perubahan di wajah temannya itu. "Ke mana?" tanyanya tanpa minat.

"Ketemu cewek. Nggak jauh kok, di kafenya si Haris."

Adhim semakin memicingkan mata mendengarnya. "Siapa lagi kali ini? Najla, yang kemaren itu? Atau udah ganti lagi?" tanyanya. "Tumben banget lo ketemu cewek ngajak gue?"

Aldo menggelengkan kepalanya. "Bukan Najla," jawabnya. "Gue nggak pernah jalan sama dia, Bang. Dia deketin gue karena dia suka sama lo asal lo tahu!"

Adhim hanya mengernyitkan dahinya lagi mendengar itu.

Seorang Aldo Jefrico, salah satu Casanova di kampus mereka yang tidak diragukan lagi reputasinya sebagai playboy kelas kakap, suka bergunta-ganti pasangan setidaknya seminggu sekali atau tiga bulan sekali paling lama, didekati seorang cewek karena cewek itu menyukainya? Adhim sama sekali tidak percaya mendengarnya.

"Ayolah, Bang! Udah jam delapan nih! Gue ada kelas setengah jam lagi," kata Aldo yang tiba-tiba sudah berdiri dari duduknya setelah melirik jam di pergelangan tangan.

"Hm." Mau tidak mau Adhim pun akhirnya berdiri juga dan menuruti ajakan temannya itu.

Setelah mencangklongkan tas punggungnya ke sebelah lengan, Adhim langsung melangkah di belakang Aldo yang sudah lebih dulu berjalan di depannya, kemudian menyejajari langkahnya.

Butuh menempuh jarak sekitar seratus meteran bagi dirinya dan Aldo untuk sampai di depan sebuah kafe bergaya kekinian yang dimiliki oleh Haris, kenalan mereka yang juga berkuliah di universitas swasta tempat mereka mengenyam bangku pendidikan tinggi. Ketiganya satu angkatan, masih sama fakultas dan hanya berbeda jurusan saja.

Tidak sampai satu menit, dengan langkah-langkah panjangnya, Adhim dan Aldo pun sudah sampai di depan kafe.

"Gue tunggu di sini aja ya," kata Adhim yang langsung mendapat gelengan dari Aldo.

"Gue ngajak lo buat nemenin gue, Bang," protesnya.

Adhim memasang senyum miringnya. "Tumben banget lo bersikap nggak kayak biasanya gini," katanya lantas melempar pandang ke bagian dalam kafe yang bisa dilihat dari luar karena dindingnya terbuat dari bahan kaca.

"Oh, karena ada Najla?" tanya Adhim saat mata elangnya menangkap sosok seorang gadis berkulit putih yang terlihat duduk manis di tengah ruangan kafe.

Ada banyak gadis lain yang mengelilingi meja yang diduduki gadis dengan rambut panjang tergerai yang hari ini mengenakan dress kuning gading selutut tanpa lengan itu. Make up tipis melapisi wajah cantiknya.

"Eh." Aldo terkejut mendengarnya. "Ya enggak lah! Masa karena satu cewek gue jadi kayak gini," balasnya cepat.

Terlalu cepat hingga Adhim yang melihatnya semakin melebarkan senyumannya.

"Lo suka sama dia?" tebak Adhim yang membuat Aldo langsung menampilkan gelengan dengan wajah datar.

"Enggak," balas Aldo lantas membuang muka. "Ya udah lah, Bang. Kalo lo nggak mau nemenin gue masuk nggak pa-pa, gue bisa sendiri. Tapi satu yang harus lo tahu, gue ngajak lo ikut sama gue bukan karena ada Najla," ujarnya kembali menatap wajah Adhim lantas mengayunkan langkah untuk masuk ke dalam kafe seorang diri.

Adhim hanya mengedikkan bahu lalu tertawa pendek melihat kepergian temannya itu.

Saat manik kopinya melihat ada tempat duduk kosong yang juga diletakkan pada bagian luar kafe, Adhim memutuskan diri untuk duduk di sana. Namun sebelum mengayunkan tungkainya, laki-laki berambut gondrong tergerai itu menyadari ada salah satu tali sepatunya yang terlepas. Adhim pun segera menunduk untuk membenarkan tali sepatunya yang lepas itu.

Kling! Kling!

Saat itu Adhim tidak tahu, tepat saat dirinya menunduk untuk membenarkan tali sepatunya, dari dalam kafe keluar seorang gadis dengan wajah yang sangat dikenalinya.

Tepat satu detik setelah bunyi kling kling yang dihasilkan sebuah lonceng kecil yang diletakkan di atas pintu kafe terdengar.

Seorang gadis dengan wajah yang mirip Zulfa. Gadis muda yang usianya kira-kira tiga atau empat tahun lebih muda darinya.

Dia ... Nur Walis Pelita.

Adhim tidak tahu saat gadis itu muncul di depannya bahkan melewatinya.

Karena sibuk mengikat tali sepatunya, gus muda itu tidak menyadari presensi seseorang yang ke depannya akan menjungkir-balikkan kehidupannya.

Baik Adhim dan Pelita. Keduanya sama-sama melewatkan persinggungan pertamanya. []

_

Catatan:

Puisi yang ada di awal chapter berjudul "Kubakar Cintaku" karya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang termuat dalam bungarampai Langit Biru, Laut Biru (Pustaka Jaya, 1977).

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED