Bab 1

Embun berlari-lari kencang mendatangi Rumah Sakit Haji Abdoel Majdid Batoe setelah mobil Departemen Sosial Republik Indonesia yang membawanya berhenti di tempat parkir rumah sakit. Ayah angkatnya dikabarkan tertabrak mobil. Sang Tumenggung, begitu biasa ayah angkatnya di panggil, memang sudah tua dan sakit-sakitan. Makanya Embun selalu khawatir kalau akan terjadi apa-apa dengan bepaknya di tengah jalan, apabila bepaknya harus berjalan berkilo-kilo meter dari Bukit Dua belas menuju desa setempat untuk menjual sedikit hasil panen.

Embun dan semua komunitas satu sukunya biasa disebut dengan panggilan Suku Anak Dalam atau SAD. Mereka semua tinggal di kawasan Bukit 12 dan taman bukit 30 di Kabupaten Bungo, Tebo, Sarolangun dan Batanghari. Mereka adalah suku bangsa minoritas yang hidup di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Diperkirakan populasi suku mereka semua berjumlah sekitar dua ratus ribu orang.

"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" Arjuna Wigunatra, Dokter internsip Instalasi Gawat Darurat menyapa ramah seorang gadis cantik berpenampilan etnik dan eksotis yang terlihat sedang berdiri kebingungan di depan ruang IGD.

"Pa—pagi Dokter. Saya ingin menjenguk bepak saya. Tadi kata salah seorang kerabat, bepak saya ada di IGD karena menjadi korban kecelakaan la—lalu lintas."

Embun berbicara dengan tergagap-gagap karena suaranya sudah bercampur dengan tangis yang sudah terkumpul di ujung tenggorokannya.

"Korban tabrakan lalu lintas? Apakah orang yang anda maksud adalah kepala suku primitif Suku Anak Dalam? Pak Tumenggung?"

Arjuna kaget saat gadis cantik ini mengatakan bahwa dia adalah anak dari kepala suku yang baru saja ia tolong tadi. Bagaimana mungkin gadis yang berpenampilan normal ini mempunyai seorang ayah yang wajah nya bagaikan langit dan bumi dengan gadis ini?

Kepala suku yang sedang sekarat itu berpenampilan begitu primitif dengan pakaian kusut dan banyak robeknya. Wajahnya seram dan tegang walau sedang dalam keadaan sekarat sekalipun. Kulitnya kasar, hitam dan gersang. Ia juga tidak menggunakan alas kaki dan berlumur lumpur.  Bergelang dan berkalung layaknya dukun dengan rambut yang kering rapuh serta kuku jari jemari yang panjang dan hitam. Sama sekali tidak cocok dengan kulit putih bening bersih gadis ini.

"I—iya itu be-- a—ayah saya. Tolong antarkan saya padanya. Na—nama saya Embun Pagi Nauljam." Saking cemasnya, untuk mengucapkan beberapa patah kata saja Embun kesulitan.

"Saya dokter Arjuna Wigunatra. Ayo saya antarkan anda kesana." Tanpa berpikir dua kali Embun langsung saja mengikuti langkah-langkah panjang sang dokter.

"Bepakkkk!!! Bepak kenapa ini?" Embun berteriak histeris saat melihat keadaan bepaknya yang sangat menyedihkan dengan berbagai macam selang dan alat bantu pernafasan. Bepaknya yang biasa kuat dan gagah tampak begitu lemah saat ini.

Di samping bepaknya tampak dua orang laki-laki kota yang berwajah sangat mirip namun berbeda generasi. Sepertinya mereka ini adalah ayah dan anak. Tetapi untuk apa mereka berdua ada disini? Lagi pula sejak kapan bepaknya mengenal orang-orang kota yang biasanya sombong seperti mereka-mereka ini?

"Em—embun. Ayo beri sa—salam pada suami dan ayah mertua mu?" Dengan nafas tersengal-sengal perintah bepaknya tetap tidak terbantahkan.

"Apa?!!! Su—suami? Kapan Embun menikah, Bepak?!" Embun kebingungan.

"Baru saja, N—nak. Beberapa menit yang lalu bepak telah menikahkan ka—kalian. Masalah do—dokumen dan surat nikah, besok akan diurus oleh P—pak kepala de—desa. Dengar Embun, se—setelah bepak pergi, Embun akan tinggal dengan suamimu ini. Ber—bakti lah pada suami mu. B-- bepak merasa waktu bepak sudah dekat untuk menyusul indukmu di sana. Se—lamat tinggal, putri—ku."

"Bepakkkkk?!!!!!!"

Itulah saat terakhir Embun menatap sosok bepak angkatnya, sang Tumenggung. Embun memang bukanlah anak kandungnya. Konon katanya kedua orang tua Embun adalah orang asing yang sedang berwisata ke daerah Bukut 12 ini. Malang bagi nasib kedua orang tuanya. Mereka di rampok dan semua harta benda mereka dirampas penjahat. Kedua orang tuanya meninggal dan hanya dia sendiri lah yang selamat. Waktu itu Embun baru berusia sembilan tahun.

Karena tinggal sebatang kara, akhirnya sang kepala suku pun membawa Embun untuk diasuhnya didalam hutan rimba. Ia memanggilnya dengan nama Embun Pagi. Nauljam adalah nama belakang ayahnya yang sempat berbicara sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Oleh kepala desa Embun dibuatkan akta lahir dan disekolahkan. Itulah makanya Embun berbeda dengan suku anak dalam lainnya. Embun bersekolah dan mengenyam pendidikan dibanding suku anak dalam lainnya.

Embun bersekolah sampai tamat SMU tahun lalu. Karena dikampung mereka belum ada universitas, Embun tidak dapat melanjutkannya pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu universitas. Padahal Embun sangat ingin kuliah dan membantu teman-teman sekampung rimbanya di bukit dua belas. Dia sangat ingin semua anak-anak sukunya menguasai calistung dan hidup normal seperti suku-suku lainnya. Bukannya mengisolasi diri seperti sekarang ini.

"Ayo Embun kita urus pemakaman ayah mu. Menurut kepala desa ayahmu sudah memeluk agama islam bukan?"

Gilang Aditama Perkasa menyentuh lembut punggung menantu dadakannya. Tadi padi dia dan Revan, putra tunggalnya, sedang meninjau kebun teh mereka saat tiba-tiba saja salah satu mobil truk pengangkut teh mereka mengalami rem blong dan nyaris saja menabraknya.

Untung saja ada Pak Tumenggung ini yang mendorongnya kesamping sehingga dia selamat. Tetapi malangnya malah bapak tua inilah yang sekarat.

Dan sebagai permintaan terakhir sang kepala suku adalah, Gilang harus menikahi putri angkat nya, karena apabila dia meninggal dunia, maka tidak ada lagi orang yang bisa menjaganya. Gilang sudah punya istri, mana mungkin dia berpoligami dengan gadis yang bahkan usianya nyaris separuh dari usia putranya sendiri. Oleh karena itulah dia memaksa Revan untuk menikahi Embun.

Walaupun pada mulanya putranya itu menolak mentah-mentah usulnya, tetapi begitu mengetahui jika dia tidak menikahi Embun, maka ayahnya lah yang akan menikahinya, Revan pun akhirnya menyerah. Dia tidak mungkin menyakiti hati ibunya yang begitu mencintai ayahnya. Begitu pun sebaliknya. Maka terpaksalah dia yang mengalah. Menikahi gadis primitif Suku Anak Dalam yang tidak berpendidikan ini.

"Sejak tahun 2017, ada sekitar 181 warga suku kami yang sudah memeluk agama resmi. Baik itu Islam mau pun Nasrani. Prosesi pengucapan dua kalimat syahadat tersebut dipimpin langsung oleh Bapak walikota jambi. Sampai saat ini kami masih mendapat bimbingan dan pendampingan agama dari pemuka tokoh masyarakat setempat, Pak. Kalau saya boleh tahu, ada sebenarnya yang telah terjadi dengan bepak saya? Mengapa bepak saya bisa tertabrak mobil."

Tanya Embun bingung. Setahunya bepaknya tadi pamit karena ingin menjual jagung hasil panennya. Gilang Aditama menghela nafas panjang. Ia sangat merasa bersalah telah menyebabkan kematian orang lain walaupun itu bukanlah kemauannya. Tetapi tetap saja, semua itu terjadi karena andil dirinya.

"Ayah kamu tadi menolong saya yang hampir saja tertabrak truk karena remnya blong. Tapi akibat ya, seperti ini. Ayahmu menikahkan kamu dengan anak saya agar kamu ada yang menjaga dan melindungi kamu, Embun. Saya minta maaf ya? Tapi saya berjanji mulai hari ini Revan, suami kamu yang akan menjaga dan melindungi kamu menggantikan ayahmu. Mengerti Embun?" Bujuk Gilang. Embun tahu, jodoh, maut, rezeki memang Tuhanlah yang sudah mengaturnya. Ia tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Hanya saja, ia sangat sedih harus kehilangan bepaknya dengan cara yang setragis ini. Air matanya rasanya tidak bisa berhenti mengalir karena sedih.

"Kamu jangan menangis terus country girl. Berisik banget tahu! Apakah kamu tahu, kalau semua yang hidup pasti akan mati juga pada akhirnya. Cuma waktunya saja yang kita tidak tahu kapan terjadinya. Mengerti kamu? Sekarang tutup mulut besarmu itu. Diam?!!"

Revan memelototi Embun. Embun yang melihat Revan merasa terganggu pun berusaha untuk membekap mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara. Tetapi air matanya malah semakin deras mengalir. Dalam diam ia mengikuti langkah kaki Gilang dan Revan serta petugas rumah sakit yang saat ini sedang mendorong brankar bepaknya menuju keruang jenazah. Mereka sedang menunggu Surat Keterangan Kematian yang sedang di lakukan oleh dokter SMF Forensik dan juga mobil ambulance yang akan membawa jenazah pulang untuk dimakamkan.

Sepanjang proses pengurusan resmi surat-surat yang dibutuhkan untuk membawa pulang jenazah, Embun terus menerus menangis. Dada sekalnya yang cuma ditutupi oleh kemben merah sejengkal tampak berombak-ombak menahan sedu-sedannya. Embun tidak tahu kalau semua laki-laki yang saat ini ada di ruang jenazah mulai menatapinya dengan mulut berliur. Termasuk juga dengan dokter Arjuna Wigunatra, Dokter SMF Forensik dan juga dua prtugas bagian jenazah rumah sakit. Mereka semua tampak kesulitan untuk mengalihkan pandangannya dari tubuh sekal Embun. Dan Revan menyadari semua itu. Tanpa banyak bicara dia segera melepaskan jas mahalnya dan memakaikannya dengan cepat ke tubuh Embun.

"Kenapa baju pengusahanya di pakaikan pada saya? Abang kepanasan?"

Embun bingung saat Revan memakaikan jas yang disebut Embun dengan baju pengusaha itu ke tubuhnya.

"Pakai saja dan diam. Duduk disini."

Revan menarik Embun yang sebelumnya duduk diantara dokter Arjuna dan dua petugas rumah sakit kearah sisi kirinya. Gilang Aditama tersenyum simpul. Walau pun katanya tidak suka, rupanya putranya cemburu juga melihat istrinya dipandang bulat-bulat oleh para laki-laki di ruangan jenazah ini. Mudah-mudahan ini adalah awal yang baik bagi rumah tangga anaknya kedepannya. Aaminnn.

==================

Embun kebingungan saat pertama sekali harus menaiki pesawat terbang. Dia takut membayangkan dirinya harus masuk kedalam perut burung sebesar itu dan melayang-layang di udara.

Dia sampai tidak memperhatikan orang-orang yang memperhatikan penampilannya di bandara yang lain dari yang lain. Embun tetap menggunakan kemben merah yang hanya menutupi bagian dada sampai tengah perut datarnya. Bawahannya hanya berupa kain tenun yang biasa di pakai para wanita di kampungnya. Rambutnya di sanggul keatas dengan beberapa tusuk konde yang menghiasi rambut hitamnya. Ia juga membawa buntalan kain yang berisi pakaian-pakain dan beberapa barang-barang kebutuhannya. Embun lebih mirip artis yang sedang shooting film drama kolosal di banding dengan seorang anak kepala Suku Anak Dalam.

Embun tidak menyadari tatapan penasaran dari orang-orang yang hilir mudik dibandara. Tetapi Gilang dan Revan amat sangat menyadarinya. Memang gadis primitif ini susah sekali di beri pengertian agar berpakaian yang lebih sopan jika ingin bepergian. Begini ini nih kalau orang tidak makan bangku sekolahan. Tidak tahu istilah dimana bumi berpijak, di situ langit di junjung.

"Hei Kamu. Pakai jas ini!" Untuk kali kedua Revan memberikan jasnya pada Embun. Dia tidak mau orang-orang pada khilap nafsu berjamaah melihat istri primitifnya ini.

"Untuk apa saya harus memakai kembali baju pengusaha ini? Panas. Saya tidak butuh." Embun mengembalikan jas Revan dan menaruhnya kembali pada pangkuan Revan.

"Kalau saya bilang pakai, itu artinya kamu pakai. Mengerti?!!"

"Iya. Tapi apa alasannya? Ada sebab ada akibat bukan? Saya cuma ingin ta—"

"Pakai saja. Jangan banyak tanya tentang hal-hal yang tidak penting. Tapi kalau kamu memaksa baiklah. Saya ingin kamu memakai jas itu, agar kamu tidak di perkosa massal oleh orang-orang. Faham?"

"Mengapa mereka ingin memperkosa Saya?"

"Karena mereka tergoda oleh tubuh kamu yang terbuka seperti ini di depan umum."

"Kalau begitu mengapa kemarin ada berita pemerkosaan di televisi desa? Padahal perempuan di perkosa itu memakai pakaian yang tertutup sampai ke lehernya? Itu kan berarti bukan salah pakaian wanitanya, tetapi pemikiran individu yang melihatnya.

Kami yang Abang katakan sebagai suku primitif yang tidak berpendidikan dan tidak mengenal etika, bahkan setiap hari melihat orang telanjang. Tetapi mereka semua tidak di perkosa kan?

Sementara orang-orang ini yang katanya lebih manusiawi dan berbudi luhur, bisa langsung ingin bersenggama hanya karena melihat kulit tubuh yang sedikit terbuka. Sebenarnya yang masih primitif itu siapa sekarang? Suku kami atau manusia modern seperti Abang, atau malah hasrat murni kebinatangan kaum laki-laki itu sendiri?"

Embun bertanya sesuai dengan kapasitas pendidikannya yang hanya sampai SMU, dan dengan pemilihan bahasa yang terbatas. Dia tidak pandai untuk menggunakan bahasa indonesia yang halus.

"Dasar country girl. Diam dan tutup mulutmu sekarang!!!"

Revan sang negosiator ulung bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana istri primitifnya tanpa mempermalukan kaumnya sendiri. Kalau saja dia mau menjawab jujur, Embun memang benar. Salahkan saja pikiran mereka yang bahkan bernafsu melihat wanita yang memakai pakaian dari karung goni dan tertutup hingga ke leher nya. Salahkan saja hormon testoteron mereka.

Sementara Embun yang memang trauma setiap mendengar suara bentakan keras langsung menutup mulutnya dan menjauh. Entah mengapa setiap mendengar suara bentakan keras yang penuh dengan amarah, Embun seperti mengalami dejavu. Seolah-olah pernah mengalami nya, tetapi dimana dan kapan. Dia tidak ingat sama sekali.

"Revaaannn. Kamu mau kemana sih?" Tiba-tiba seorang gadis cantik yang berpakaian kurang bahan memeluk Revan dengan erat begitu saja.

Mampusss!!! Ini adalah Clara, salah seorang partner ONS nya. Revan tidak enak karena ada ayahnya yang duduk tidak jauh dari tempatnya dan Embun dalam posisi duduk yang berjajar. Kalau cuma Embun sih masa bodoh!

"Saya mau pulang ke Jakarta, Cla. Eh sudah mau waktunya untuk berangkat. Ayo Yah, Embun." Revan tahu Clara tidak akan berani macam-macam karena keberadaan ayahnya di sampingnya. Makanya ia santai saja lenggang kangkung sambil membawa koper sedangnya dan meninggalkan partner ONS nya di belakangnya.

Revan berjalan bersama dengan ayahnya didepan dan meninggalkan Embun yang sedang ketakutan berjalan pelan sendirian dibelakang mereka.

Embun merasa tangannya semakin lama semakin dingin saja. Keringat juga semakin lama semakin bermanik di kening dan telapak tangannya. Perutnya bahkan menjadi mual secara tiba-tiba. Ya Allah, dia ketakutan dengan tangan yang mulai gemetaran sekarang.

"Kamu kenapa? Baru pertama sekali naik pesawat?"

Embun menengadahkan wajahnya yang pucat pasi dan menatap kebingungan pada sesosok wajah yang rasa-rasanya sering di lihatnya di televisi. Pria ramah ini sekarang malah berjalan disampingnya dan mensejajari langkahnya.

"Iya. Sa—Saya takut kalau pe—pesawat nya jatuh dan meledak." Sambil berjalan pelan Embun pun melontarkan kekhawatirannya pada orang yang terlihat familiar itu.

"Tidak apa-apa. Pesawat yang akan kita tumpangi adalah pesawat Boeing 777-300ER yang terbaik di kelasnya. Jadi tenang saja. Semua akan baik-baik saja. Tetapi kalau kamu masih takut juga, nanti di dalam pesawat kamu boleh memegang tangan Saya sepanjang perjalanan. Kenal kan nama

saya Sergio Brata Kesuma. Kalau kamu?"

"Embun Pagi Nauljam."

Bab 2

"Hei country girl, kamu ini jalannya lambat sekali seperti keong. Cepat sedikit atau kamu mau ketinggalan pesawat hah?"

Revan meneriaki istri primitifnya yang kini sudah mendapat seorang kenalan baru. Memang bener-bener kebangetan ini orang. Baru ditinggal sebentar saja sudah kegenitan. Wait... wait... sepertinya dia familiar dengan sosok yang sedang berbicara dengan Embun itu.

Sial! Itu kan Sergio Brata Kesuma. Kakak Luna Brata Kesuma, mantan tunangannya? Sepertinya Sergio juga akan pulang ke Jakarta. Karena ia menenteng sebuah koper kecil di tangan kanannya, seperti juga dirinya. Revan menarik nafas panjang. Bisa disindir habis- habisan dia oleh Sergio kalau setelah meninggalkan adiknya yang model papan atas, malah dapatnya gadis primitif no educated seperti Embun ini.

"Lho Pak Gilang dan Revan. Apa kabar? Wah kebetulan sekali ya kita bisa bertemu di sini. Sedang meninjau perkebunan teh atau sawit ini?" Sergio memindahkan kopernya ke sisi sebelah kiri agar tidak menghalangi perbincangannya. Ia juga menyalami Gilang dan Revan sambil berkata," Kalau boleh tahu, adik manis ini siapa ya?"

Sergio Brata Kesuma tersenyum macho seraya menunjuk Embun dengan dagunya. Keingintahuan tampak nyata dalam netra gelapnya.

"Oh Embun ini adalah i—"

"Asisten rumah tangga kami yang baru. Kebetulan saat meninjau perkebunan teh kemarin, bocah ini minta dicarikan pekerjaan. Jadi ya kami bawa saja pulang ke rumah. Sekalian ibu juga sedang butuh asisten rumah tangga tambahan."

Revan langsung saja memotong kata-kata ayahnya yang hampir saja menjatuhkan pasarannya. Harga dirinya bisa langsung terjun bebas saat Sergio tahu kalau istrinya adalah seorang gadis anak kepala Suku Anak Dalam alias orang rimba. Suku yang paling terkebelakang di Indonesia. Bahkan Revan yakin, membaca dan menulis pun istri primitifnya ini tidak bisa.

"Oh Asisten Rumah Tangga? Wah nggak salah nih Van, cakep-cakep begini dijadiin ART?"

Sergio sekali lagi memandangi penampilan Embun menyeluruh dari kepala sampai ke ujung kakinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Cantik kalau primitif dan no educated untuk apa juga kan? Nggak worth it sama sekali. Orang cantik but no brain or no behavior nggak akan pernah terlihat menarik di mata gue."

Revan menjawab datar. Gilang Aditama Perkasa menarik nafas panjang. Kasihan melihat menantunya dihina dengan kata-kata sekejam itu oleh anak laki-lakinya sendiri. Gilang tahu, andai saja Embun mengerti kalimat yang sengaja diucapkan oleh Revan dalam bahasa inggris itu, pasti Embun akan menjadi sangat sedih. Sikap putranya ini memang sungguh kelewatan. Tetapi mau bagaimana lagi, dia sendiri juga bersalah karena memaksa putranya untuk menikahi orang yang bahkan belum pernah di lihatnya.

"Lo emang nggak berubah ya? Selalu memandang orang berdasarkan pendidikannya. Setelah melepas adek gue dan Ibell malah dikawinin Arkan, itu mulut tambah tajem aja. Hahahaaha..."

Revan tertawa saat mengingat bahwa Revan sebenarnya melepaskan Luna demi untuk mengejar Ibell. Namun apa daya, Ibell malah memilih si sangar Arkan. Embun menyimak percakapan mereka berdua dalam diam. Suaminya ini petualang cinta rupanya. Sambil berdiri dan menunggu Revan kembali berbincang-bincang ringan dengan Sergio sebelum mereka naik pesawat, Embun memandang sekeliling bandara dengan takjub. Dia belum pernah kevtempat yang seramai ini seumur hidupnya. Disaat ia sedang memandang kesibukan aktifitas bandara sebuah suara maskulin menyapanya.

"Hello, excuse me. I am Michael. Do you speak English, Miss?"

Tiba-tiba saja seorang pria tinggi besar berkebangsaan asing, bertanya dalam bahasa inggris pada Embun. Melihat pakaian tradisional yang dikenakan oleh Embun, mungkin membuatnya mengira bahwa Embun adalah seorang guide yang sedang menjemput turis asing di bandara.

"Yes, I do. I'm Embun Pagi Nauljam. What can I do for you, Sir?"

Embun menjawab dalam bahasa inggris yang fasih dengan aksen british yang lembut mengalun. Tiga kepala menoleh kaget. Tidak disangka gadis primitif ini bisa berbahasa inggris dengan aksen yang halus pula. Aksen British dan bukan aksen American yang kasar dan pasaran.

"I am sorry for interrupt you. I am a tourist from Birmingham. I want to go around and I think I need a partner. Do you want to be my guide?"

"Yes, of course. I know this place very well. There's no problem if I accompany you while explaining many things of this beautiful place. But—"

"But she has to go now!"

Tanpa banyak bicara lagi Revan langsung saja menarik tangan Embun kasar dan menjauhi si Bule yang terlihat kebingungan mendengar jawaban bertolak belakang antara Embun dan Revan. Akhirnya si Bule memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua yang dianggapnya sebagai sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Sementara Revan dengan setengah menyeret Embun membawa sang gadis ke sudut ruangan ke dekat tolitet. Revan memindai ayahnya dan Sergio juga mengekori langkah mereka, sambil menyeret koper masing-masing. Namun jarak mereka sedikit jauh di belakang. Sepertinya mereka sengaja untuk memberikan mereka privacy.

"Kamu ini sudah gila ya mau menjadi guide sementara orang asing tadi? Sementara lima belas menit lagi kita akan take off  eh terbang maksud saya?"

Revan merasa lama-lama dia bisa terkena tekanan darah tinggi menghadapi tingkah abege labil ini. Jika dulu Ibell adalah abege yang lembut dan penurut, abege primitif yang satu ini pembangkang dan bermulut tajam. Desibel suaranya memang selalu pelan. Tetapi matanya tampak begitu menantang. Sial sekali nasibnya harus beristrikan seorang gadis aneh bin ajaib seperti ini.

"Saya memutuskan untuk tidak jadi mencari pekerjaan di tempat Abang. Saya takut keadaan saya yang seperti ini tidak sesuai dengan kualifikasi ibu Abang terhadap seorang ART. Jadi saya kembalikan saja kertas boleh terbang ini dan—"

"Tutup mulut besar kamu dan sekarang ikut saya!"

Revan kini separuh menarik dan separuh menyeret Embun di tangan kanan, dan koper ditangan kiri, menunju ke check in desk. Dari sudut mata Revan melihat ayahnya dan Sergio juga mengikuti langkahnya untuk melakukan check in.

Di tengah antrian check in Revan berpikir, sepertinya hidupnya akan rumit bila membawa istri primitifnya ini pulang ke apartemennya. Soalnya para wanita ONS nya kadang suka mendatanginya dan bersenang-senang di sana.  Dia harus sesegera mungkin mencarikan tempat tinggal lain untuk istri dadakannya itu.

Setelah melewati proses check in, mereka semua berjalan menuju gate 6 dan kembali duduk menunggu pengumuman untuk take off. Sepertinya Sergio juga satu pesawat dengan mereka. Tidak lama kemudian, suara merdu petugas bandara mengintruksikan agar mereka segera masuk ke dalam pesawat. Embun kembali mengekori Revan dan Gilang untuk naik ke atas menunggu giliran naik ke dalam pesawat. Setelah pramugari memeriksa boarding pas dan merobek separuh tiketnya, Embun masuk ke dalam pesawat dan memeriksa kursi sesuai nomor tempat duduknya seperti yang sudah diajarkan oleh Revan. Embun juga menaruh buntalan kainnya di atas kepalanya, yaitu di laci-laci pesawat seperti yang di lakukan oleh penumpang-penumpang yang lainnya.

Selama di dalam pesawat Embun saling meremas tangannya sendiri. Dia sering melihat di televisinya pak kepala desa, orang-orang yang naik pesawat terbang tampak biasa-biasa saja. Tetapi dia yang pertama sekali naik pesawat begini, jantungnya malah jedag jedug tidak karuan, seperti ingin melompat keluar saja.

Apalagi saat ia tadi merasakan bahwa pesawatnya mulai menungkik naik dan rumah-rumah serta semua yang menyertainya terlihat semakin mengecil di bawahnya.

Embun takut sekali. Dia kemudian memejamkan matanya rapat-rapat dan tidak berani melihat ke arah jendela pesawat. Untung saja ada Sergio yang entah mengapa bisa duduk di sisi kirinya setelah berbisik-bisik sebentar dengan bapak yang tadi duduk di sampingnya. Sergio tiba-tiba menyelipkan tangan besarnya. Dia terus menggenggam tangannya selama Embun gelisah dan tidak tenang. Lambat laun rasa hangat yang berasal tangan besarnya bisa sedikit meredakan ketegangannya. Embun pun perlahan-lahan mulai merasa rileks. Ia bisa menikmati perjalanannya sekarang.

"Kamu sejak kapan bisa berbahasa inggris sebagus itu, Mbun?" Sergio yang merasa kalau Embun sudah bisa menikmati perjalanannya mulai mengajaknya berbincang-bincang ringan.

"Saya tidak tahu, Pak. Tidak ingat tepatnya. Hanya saja pada saat saya SD dulu, ada beberapa orang turis yang datang ke desa kami. Saat mereka berbicara, entah mengapa saya mengerti dan bahkan bisa menjawabnya. Sejak saat itu kalau ada turis yang datang, maka kepala desa selalu memanggil saya sebagai penerjemah."

"Kamu bisa berbahasa apa saja selain inggris?" tanya Sergio lagi.

"Jerman, Prancis dan Italia."

"Wow!"

"Wie heiβen Sie?" Sergio mengetest kemampuan bahasa jerman Embun.

"Ich heiβe Embun Pagi. Und Sie?" Embun tersenyum manis mengikuti permainan Sergio.

"Ich bin Sergio." Sergio pun dengan jenaka menyebutkan namanya. Seolah-olah mereka baru berkenalan untuk pertama kalinya.

"Vous habitez ou?"

Sergio kini mengetest dalam bahasa Prancis. Sergio menanyakan alamat rumahnya. Yang benar saja! Hahahaa...

"J'habite rue Bukit 12."  Tetapi Embun tetap menjawabnya. Rumahnya di hutan rimba di bukit 12 sana. Tidak ada nama jalan, gang atau nomor rumah di sana. Apalagi kode pos ahahahaha.

"Ciao signorina, buongiorno."

Tiba-tiba saja penumpang yang duduk di seberang Embun, menyapa dalam bahasa Italia. Sepertinya dia tadi ikut mendengarkan pembicaraan Embun dan Sergio. Makanya dia tahu bahwa Embun bisa berbahasa Italia.

"Ciao, buongiorno," balas Embun ramah. Senang sekali rasanya saat ada orang yang menyapa ramah setelah sepagian dia dicemberuti dan dibentak-bentak suami sendiri.

"Come ti chiami ?"

Orang asing itu menanyakan namanya.

"Mi chiamo Embun Pagi, e tu?"

Embun balas menanyakan nama laki-laki ramah yang kira-kira seusia dengan suaminya itu.

"Mi chiamo Paolo, da dove vieni ?"

Laki-laki yang bernama Paolo itu menanyakan darimana Embun berasal.

"Vengo da Indonesia. Quan—"

"Jangan suka pamer. Karena orang yang suka pamer itu biasanya justru adalah orang yang tidak punya apa-apa. Semakin seseorang suka pamer, sebenarnya semakin terlihatlah kalau dia itu sedang meminta pengakuan. Pengen dianggap ada dan hebat. Padahal cuma sebegitu saja kemampuannya. Peribahasanya adalah bagaikan katak di dalam tempurung."

Revan menyindir pedas Embun dari arah belakang kursi pesawatnya.

"Memotong pembicaraan orang lain itu juga tidak mencerminkan sikap seseorang yang mengaku educated dan beretika, Bang. Maaf kalau sikap saya yang menegur Abang ini terkesan rude dan tidak educated.

Kami menganut faham Dimano biawak terjun di situ anjing tertulung. Yang artinya di mana kita berbuat salah, di situ ada hukum adat yang dipakai. Harap dimaklumi karena saya ini berasal dari suku yang paling terkebelakang negeri ini, dan masih berpedoman pada seloko-seloko adat."

Embun menegur Revan dengan nada lembut-lembut nusuk. Embun tidak bisa marah secara frontal. Dia terbiasa mengalah, makanya Anak Dewa lah yang dulu selalu melindunginya dari kejahilan dan kenakalan teman-teman sepermainannya. Mengingat Anak Dewa membuat Embun jadi sedih. Kisah lama yang memilukan. Kasih tak sampai karena hubungan mereka yang terhalang oleh adat istiadat.

"Pribahasa yang tidak cocok lagi digunakan di masa kini. Hidup itu berjalan maju, bukan mundur. Itulah gunanya manusia belajar dan melakukan banyak inovasi-inovasi. Kamu malah berpedoman pada zaman batu. Country girl!"

Revan kembali menyepelekan semua ajaran dan ujaran hidup yang telah didoktrinkan padanya sedari kecil oleh sang Temenggung. Embun diam. Revan tidak tahu bahwa di Bukit Dua belas itu terdapat 13 temenggung yang menanggung jawabi anggota masing-masing yang dilindungi nya. Ia memang dididik untuk patuh dan setia orang para temenggung-temenggung hebat itu.

Mereka memiliki tumenggung Ngamal, Meladang, Nyenong, Maritua, Melayau Tua, Girang, Celitai, Melimun, Tebo, Ngadap, Jelitai, Betaring dan Bepayung. Ayahnya adalah temenggung Ngadap yang artinya sudah lebih modern dan mengenal agama, tidak primitif lagi. Tetapi menjelaskan pada manusia yang mengaku modern seperti Revan ini, Embun malah merasa tidak ada gunanya. Seperti titian galling tenggung negeri, yang artinya tidak ke sana tidak ke mari, alias sia sia saja.

===================

"Lho kalian membawa siapa ini?" Bu Gayatri Aditama Perkasa kesenangan saat ada seorang gadis yang dibawa pulang oleh suami dan anaknya.

"Ini menantu kita, Bu. Embun pagi namanya."

"Hah? Menantu? Kok ibu tidak diberi tahu? Kalau Ibu tahu pasti Ibu akan menyusul ke Jambi sana. Ya sudah tidak apa-apa. Yang penting sudah sah kan? Ayo masuk dulu, Nak. Astaga kita sekarang sudah punya mantu ya, Mas? Sebentar lagi pasti kita akan punya cucu. Duh ibu udah nggak sabar pengen gendong cucu!!"

Bu Gayatri senang sekali akhirnya anak laki-lakinya menikah juga. Dia sangat stress kalau melihat kelakuan anak tunggalnya yang doyan pacaran semalam alias ONS tapi tidak kunjung mau menikah. Kerjanya menumpuk dosa dan maksiat saja. Makanya Bu Gayatri sangat senang kalau Revan akhirnya menikah juga. Dia tidak pernah mempermasalahkan masalah babat, bibit, bebet dan bobot menantunya. Asalkan seiman dan baik akhlaknya, itu sudah cukup. Hal-hal yang lain bisa di pelajari kemudian.

"Selamat sore, Bu. Nama saya Embun Pagi Nauljam, menantu ibu. Mohon bimbingannya." Embun menyalami ibu mertuanya dengan takzim dan penuh hormat.

"Saya Gayatri, ibu mertuamu. Semoga kamu betah divsini ya, Embun?" Gayatri senang sekali karena akhirnya ia punya menantu juga. Mana cantik dan sopan lagi orangnya.

"Revan, bawa istrimu ke kamar. Biar Embun beristirahat dan membersihkan tubuh dulu. Kamu juga, kita semua sama-sama capek."

Gilang menatap Revan tajam yang Revan ketahui sebagai kata lain dari jangan membantah. Dengan apa boleh buat dan ogah-ogahan akhirnya Revan membawa orang asing masuk kedalam kamar sekaligus kehidupannya juga.

"Ayo Embun, kita istirahat dulu, country girl." Revan mengucapkan kata country girlnya dengan berbisik, sehingga kedua orang tuanya tidak mendengar julukan yang dia berikan pada istri primitifnya.

Dalam diam Embun berjalan kaku separuh takut di samping Revan. Selain dengan Anak Dewa dan Macan Rimba, Embun tidak pernah dekat apalagi berdua duaan dengan laki-laki lain lagi.

"Kamu mandi dulu sana. Jangan lama-lama. Saya juga butuh membersihkan diri. Lagian orang primitif macam kamu apa masih butuh mandi?"

Embun tidak menyahutinya. Dia hanya membongkar buntalan kainnya dan mengambil baju ganti, sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi. Revan membaringkan tubuhnya yang penat di ranjang empuknya. Setelah memejamkan matanya sejenak Revan pun ketiduran.

Revan terbangun saat hidungnya mencium bau asap yang cukup tebal. Heran, ditengah perumahan mewah seperti ini kenapa masih ada warga yang membakar sampah ya? Setahu Revan itu dilarang di kompleks perumahan mereka.

Mata Revan yang masih separuh terbuka langsung membelalak seketika saat melihat asap tebal itu ternyata berasal dari taman belakang rumahnya. Astaga! Ada kebakaran rupanya! Revan langsung berlari kencang menuju lokasi asap tebal itu berasal.

Revan ternganga hingga rahangnya nyaris lepas, seketika saat melihat darimana sumber asap tebal itu berasal. Di kebun bekakang rumahnya, istri primitifnya sedang memanggang ikan di tengah tumpukan dahan-dahan kering seolah-olah dia sedang berada di hutan belantara. Cobaan apalagi ini ya Tuhan!

Bab 3

What the hell? Apa yang kamu lakukan, country girl? Kamu mau membakar rumah saya hah? Kamu pikir ini hutan?

Uhukk uhukkk uhukkk...

Revan tersedak oleh asap tebal ciptaan Embun, yang berasal dari tungku pemanggang ikan ciptaannya. Melihat kedatangan Revan, Embun yang sedang berjongkok sambil mengipasi ikan panggangnya buru-buru berdiri. Ia juga dengan segera meletakkan kipas koran serba gunanya dan menghampiri Revan.

"Tadi sebelum ibu dan ayah pergi, mereka berpesan agar saya memasak ikan yang ada di dalam kotak pendingin eh lemari es. Makanya jadi sa—saya masak ikan ini pakai api."

Embun berusaha menjelaskan dengan kepala yang terus tertunduk. Ia juga merasa semakin ketakutan dengan suara-suara keras dan bentakan Revan yang terus saja memaki-makinya. Penampilan baru bangun tidur Revan dengan rambut berantakan dan bertelanjang dada terasa semakin mengintimidasinya.

"Kan ada kompor gas, ada pemanggang elektrik juga. Dasar orang hutan! Makanya kalau nggak tahu itu, ya nanya! Itu punya mulut buat apa juga hah?"

Revan semakin merasa emosi saja terhadap gadis primitif yang seperti berasal dari zaman batu ini. Dia berencana untuk segera balik ke apartemennya secepatnya. Bisa gila dia lama-lama kalau terus saja menghadapi tingkah absurd gadis udik ini. Biar saja istri primitifnya ini tinggal di rumah ini bersama dengan kedua orang tuanya. Toh yang memaksanya menikah mereka juga. Biar mereka saja yang merasakan betapa sialnya punya menantu primitif dari suku pedalaman pula.

"Ta—tadi Abang kan tidur. Jadi sa—saya nggak berani membangunkan Abang. Nanti Abang marah lagi."

Embun menjawab pelan sambil tetap menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia sungguh-sungguh tidak betah tinggal di rumah ini. Dia merasa serba salah. Kalau dia diam saja tidak melakukan apa-apa, dia takut dianggap pemalas. Tapi kalau dia bekerja ya begini inilah jadinya. Bersalahan semuanya. Embun bingung dia harus bagaimana lagi agar Revan tidak terus-terusan memarahinya.

"Kamu diam dibsitu. Saya akan segera mengambil air dan akan mencoba untuk memadamkan apinya." Selagi Revan akan mengambil air untuk memadamkan api, Embun buru-buru mengambil piring yang memang telah ia siapkan sebagai wadah untuk menaruh ikan yang sudah matang. Ia berinisiatif untuk menyelamatkan ikan-ikan yang sudah susah payah dipanggangnya itu sebelum disiram air oleh Revan.

Revan yang tengah berjalan kearah kamar mandi dan bermaksud untuk mengambil seember air, kembali memaki kesal saat melihat apa yang telah dilakukan oleh istri primitifnya itu di kamar mandi. Embun merendam seluruh baju kotor mereka kedalam bath tub! Embun menjadikan bath tub kamar mandinya sebagai ember untuk merendam pakaian kotor! Oh nooo!

"Embun!" Lolongan suara Revan nyaris membuat tangan Embun terpanggang api saking kagetnya.

Apa lagi lah salah awak kali ini? Tak da jeda pun seharian ini kena marah. Embun membathin.

"Iya Bang, sebentar." Embun buru-buru mematikan tungku perapiannya dengan cara menggosok-gosokkan bara pada tumpukan abu bakar hingga padam. Barulah dia berdiri dan bergegas menghampiri Revan yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan wajah sehitam tungku perapiannya tadi. Satu, dua, tiga!

"Kamu ini memang bodohnya tidak terbatas ya? Itu bath tub buat berendam dan merelaksasi tubuh yang lelah. Bukan untuk merendam cucian kotor. Paham kamu?" Revan meremas rambutnya sendiri saking gusarnya. Ia sudah kehabisan perbendaharaan kata untuk memarahi Embun.

"Memang benarlah kalau Albert Einstein mengatakan kalau kebodohan itu tidak terbatas! Saya bahkan sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa agar kamu bisa bersikap sedikit lebih manusiawi dan beretika."

Revan berjalan menghampiri bath tub, mengambil sebagian baju kotor yang ada dalam rendaman dan melemparkannya begitu saja ke wajah Embun. Wajah dan sebagian pakaian Embun pun menjadi basah seketika.

"Saya tidak mau tahu. Kembalikan keadaan kamar mandi saya seperti sedia kala. Satu hal lagi, mulai detik ini kamu tidak usah lagi menyentuh apalagi mencuci pakaian-pakaian saya. Biar Bik Popon saja yang mencucinya seperti biasanya. Mengerti? Sekarang bereskan semua kekacauan yang sudah kamu ciptakan ini!" Revan segera berlalu dari hadapan Embun setelah meneriakkan beberapa perintah.

Embun memejamkan mata melihat kemarahan Revan yang seperti sudah mencapai ubun-ubunnya. Tanpa banyak bicara lagi Embun pun segera mengerjakan semua perintah Revan dalam diam.

Bepak, Embun ingin pulang ke kampung saja. Embun sungguh tidak betah di sini. Kata bepak orang kota itu lebih beretika dan manusiawi. Tidak seperti kita yang primitif. Tetapi yang Embun lihat, mereka bahkan tidak bisa memanusiawikan seorang manusia dengan benar. Embun ingin kembali ke kampung bukit 12 saja.

===================

"Wahhh... ternyata kalau ikan di panggang alami begini enak sekali ya, Yah? Manis, gurih dan masih ada bau asap-asapnya juga. Enak banget lho  Mbun. Kamu jago masak rupanya ya, Nak?"

Gayatri mengelus sayang puncak kepala menantunya. Saat ini mereka sekeluarga sedang makan malam hasil masakan Embun. Dia memang sengaja memuji-muji Embun separuh bangga karena memang masakannya enak, dan separuhnya lagi sebagai upaya untuk menghibur menantu lugunya itu akibat ledakan kemarahan Revan.

Sewaktu pulang dari berbelanja bulanan tadi, mereka mendapati Embun dimaki-maki oleh Revan yang sepertinya terpeleset karena Embun mengepel dengan air yang sangat banyak. Sebagian kaus putih Revan basah dan berbercak karena air kotor bekas mengepel lantai. Keadaan menantunya malah lebih parah lagi. Wajah, rambut dan pakaiannya basah semua. Sewaktu Gayatri menanyakannya, Embun hanya mengatakan kalau ia terpeleset di kamar mandi, makanya sebagian pakaiannya basah semua. Menantunya itu tampak sangat sedih dan tertekan. Makanya sekarang Gayatri dan Gilang berusaha untuk membuatnya sedikit gembira dengan cara menghargai kerja kerasnya.

"Tapi ingat, lain kali kalau mau memanggang atau memasak apapun pakai kompor gas aja ya, sayang? Tadi sudah bisa menggunakannya kan? Terus kalau butuh apa-apa minta tolong pada Bik Iyem atau Bik Popon aja ya, Nak?"

Gayatri kembali memberi nasehat secara halus kepada Embun. Embun mengangguk sambil berdiri dan mengisi air minum Revan yang telah kosong. Sebenarnya Embun ini gadis yang baik dan berbakti sekali. Sedari tadi dia sibuk melayani Revan sampai makanannya sendiri saja sendiri masih penuh. Mengambilkan nasi, lauk pauk dan juga mengisi gelas dengan air putih yang telah habis. Gadis ini walau berasal dari daerah primitif, tapi tindak tanduknya sangat sopan dan berbudaya. Revan yang tadi habis memaki-maki Embun yang dituduhnya mau membakar rumah, malah memakan ikan yang di panggang oleh Embun tadi paling banyak.

"Embun, ada yang ingin Ayah tanyakan padamu. Tetapi Ayah harap kamu menjawab dengan jujur ya?"

Gilang menatap mata menantunya lurus-lurus. Ia Berharap mendapat jawaban yang jujur. Saat ini mereka telah selesai makan malam dan piring-piring kotor telah dibawa ke dapur oleh Bik Asih dan Bik Popon. Gilang memang sengaja menahan Embun sebentar di meja makan untuk sedikit bertanya tentang masalah pribadinya. Walaupun tampak bingung, tetapi Embun mengangguk juga.

"Anak Dewa itu siapa?"

Tubuh Embun langsung kaku seketika. Tiga orang yang sedang duduk di meja makan itu seketika tahu bahwa nama yang disebutkan Gilang tadi pasti sangat berpengaruh dalam hidupnya.

"Kalau ditanya orang tua itu, jawab. Tapi yang jujur jawabnya. Mertua kan bisa dikategorikan sebagai pengganti orang tua kamu juga. Mengerti?"

Revan kembali menyerang Embun. Gilang dan Gayatri saling bertukar tatap. Mereka tahu, dibalik kata-kata pedas Revan sebenarnya tersirat keingintahuan yang kental di sana. Putranya sebenarnya sedang penasaran setengah mati dengan jawaban menantu polosnya.

"Anak Dewa itu kekasih saya."

Tiga orang menatap kaget pada kata-kata lugas Embun. Mereka termangu saat mendengar jawaban selugas dan sejujur itu. Menantunya memang beda. Berani mengakui kekasihnya di hadapan suami dan kedua mertuanya. Luar biasa.

"Kamu sudah punya suami bagaimana mungkin masih berani mengakui mempunyai seorang kekasih?"

Revan mendelik. Kesal akan jawaban yang diterimanya. Bayangkan, istinya mengakui punya seorang kekasih di hadapannya. Suami sahnya! Istri macam apa itu coba?

"Abang saja tadi memperkenalkan saya sebagai seorang Asisten Rumah Tangga pada Pak Sergio. Suami macam apa itu?"

Embun menjawab pelan, tetapi sanggup membuat suasana senyap seketika sebelum ibu mertuanya mengeluarkan tanduknya.

"Apa ibu pernah mengajarimu untuk merendahkan, menghina apalagi tidak mengakui bagian dari keluargamu sendiri Revan Aditama Perkasa? Ibu malu melihat sikap kamu yang seperti ini. Ibu merasa sudah gagal menjadi seorang ibu!"

Gayatri menatap Revan dengan mata membara. Putranya ini memang sudah benar-benar kelewatan.

"Revan minta maaf, Bu."

"Kenapa kamu minta maafnya sama Ibu? Minta maafnya sama istri kamu dong?!!"

"Maaf." Dengan setengah hati Revan meminta maaf pada Embun dari seberang meja. Embun cuma menganggukkan kepalanya saja.

"Keberatan tidak kalau Embun menceritakan bagaimana asal muasal  hubungan antara Embun dengan Anak Dewa ini? Karena setelah mendengar cerita versi Embun nanti, barulah Ayah akan mengambil sikap."

Gilang mulai melakukan interogasi persuasif pada menantunya. Embun terdiam sejenak. Ia seperti mulai berusaha mengumpulkan ingatannya sebelum akhirnya bersuara.

"Anak Dewa adalah anak kandung bepak dan induk," sahut Embun pelan.

"Kamu menyebut ibumu sendiri dengan sebutan induk? Memangnya ibumu itu hewan?" Revan memandang Embun dengan ngeri.

"Anak rimba seperti kami memang menyebut induk pada ibu dan bepak pada ayah. Itu adalah panggilan kebiasaan bukan suatu penghinaan," pungkas Embun. Ia sekarang saling menjalin jemari sebelum kembali melanjutkan pembicaraan.

"Anak Dewa itu anak kemuten. Yang artinya anak rimba yang modern. Setamat SMU, Anak Dewa kuliah di Jambi untuk melanjutkan pendidikannya. Anak Dewa bekerja paruh waktu di kota untuk membiayai kuliahnya sendiri. Setelah Anak Dewa sukses dan mempunyai kebun sawit sendiri, dia mengatakan akan melamar saya kalau usia saya sudah cukup dewasa. Pada waktu itu saya masih berusia empat belas tahun dan Anak Dewa dua puluh empat tahun.

Karena kekerabatan Orang Rimba adalah bersifat matrilinear yang sama dengan sistem kekerabatan Minangkabau yang uxorilokal, maka Orang Rimba menganggap hubungan endogami atau keluarga inti yang di dalamnya mencakup saudara seperut atau saudara kandung, anak angkat atau hubungan dengan orang lain yang satu darah itu dianggap tabu atau incest.

Maka walaupun saya dan Anak Dewa jelas tidak mempunyai pertalian darah sedikit pun, tetap saja hubungan kami dianggap tabu dan melanggar adat.

Oleh karena itu saat Anak Dewa berkeras ingin menikahi saya, dia diusir dari kampung oleh para Temenggung, setelah terlebih dulu disidang oleh Menti. Yaitu orang yang bertugas untuk menyidang para pelanggar hukum adat, dan disetujui oleh Mangku atau orang yang menimbang keputusan dalam sidang adat.

Anak Dewa tidak diperbolehkan kembali lagi ke Bukit Dua Belas kecuali bepaknya atau ayah kami sudah melangun atau meninggal.

Bulan lalu Anak Dewa sudah menghubungi kepala desa untuk membawa saya pulang ke rumah barunya. Anak Dewa berniat menikahi saya di sana walau tanpa persetujuan ayah kami. Karena menurut Anak Dewa saat ini saya sudah dewasa. Tetapi ya kejadian selanjutnya kan Ayah sudah tahu, sampai saya bisa berada di sini."

Embun merasa plong setelah menjelaskan hal yang selama ini dia takutkan. Tanpa sepengetahuan bepaknya dan semua kerabat kesukuannya, diam-diam sebenarnya Embun tetap menjalin komunikasi melalui perantara bapak kepala desa yang selama ini menjadi kaki tangannya Anak Dewa.

Embun yakin saat ini pasti Anak Dewa sedang kebingungan karena tidak mendapatinya di Bukit Dua Belas. Embun takut Anak Dewa akan mengamuk saat dia tahu kalau dia sekarang sudah menjadi istri orang. Dengan penuh rasa ingin tahu, Embun menanyakan hal yang sebenarnya sedari tadi sangat ingin ia tanyakan.

"Apakah Anak Dewa sudah kembali ke kampung dan mencari saya di sana, Pak?"

Embun mulai menduga-duga, dari mana Pak Gilang bisa mengetahui tentang kisah Anak Dewa. Gilang menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Embun.

"Lebih dari itu, Nak. Kata kepala desa yang tadi menelepon ayah, Anak Dewa sudah mengacak acak bukit Dua Belas sampai ke bukit Tiga Puluh untuk mencarimu. Bapak kepala desa tidak berani mengatakan kalau kamu saat ini sudah menjadi istri Revan dan tinggal di sini. Kalau ayah boleh tahu siapa nama asli dari Anak Dewa, Embun?"

Gilang merasa harus memastikan sesuatu. Gilang tahu bahwa tradisi suku anak dalam tidak boleh menyebutkan nama asli. Nama panggilan di rimba dan di luar rimba itu berbeda. Dia mencurigai sesuatu dan hanya ingin memastikannya.

"Rangkayo Depati."

"Ternyata memang dia orangnya. Apakah orang ini yang kamu sebut-sebut sebagai Anak Dewa, Embun?"

Gilang menunjukkan sebuah photo. Embun kaget karena di photo itu Anak Dewa bahkan sedang memeluknya. Photo itu diambil dua bulan lalu oleh sahabat Anak Dewa, yaitu Macan Rimba. Embun pun mengangguk dengan gembira.

"Bang Revan. Pacar saya sudah datang. Ayo kita cerai saja. Abang bahagia, saya juga bahagia. Jadi tidak ada yang tersakiti di sini. Ayah kenal dengan Anak Dewa? Boleh Embun meminjam telepon kecil Ayah?" Embun begitu gembira saat mengetahui kalau pacarnya telah mencarinya. Akhirnya, ia bisa terlepas dari keluarga Aditama Perkasa juga. Alhamdullilah.

"Tidak ada telepon-teleponan. Sekarang masuk ke kamar. Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu."

Revan menarik tangan istri primitifnya yang sedang duduk dikursi ke arah kamar. Dia sangat malu karena Embun langsung meminta cerai padanya karena ingin bersama dengan mantan kekasihnya. Ya Mantan! Karena setelah mereka berdua menikah, itu artinya wanita atau pria di luar mereka berdua sudah harus disebut mantan bukan? Revan membuka pintu kamar dan mendudukan Embun di sudut ranjang.

"Dengar ya country girl, perceraian adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah. Bahkan Allah mengancamnya dengan tidak memberikan surga pada wanita yang meminta cerai pada suaminya. Ini selaras dengan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, seorang istri yang mudah meminta cerai kepada suaminya hanya karena permasalahan sepele, maka dia tidak akan mencium bau surga.

Ini berdasarkan HR Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Artinya, istri yang dengan mudah meminta cerai kepada suaminya dikhawatirkan tidak akan masuk surga bersama suaminya yang saleh. Kamu mengerti, Embun?"

Revan menatap wajah Embun yang seketika tampak pucat dan sedikit ketakutan. Takut masuk neraka juga istri primitif nya ini.

"Memangnya Abang suami yang saleh apa? Perasaan nggak kan? Malah Abang itu senang sangat menzholimi saya. Nengejek saya bahkan membuat saya bersedih. Yang mana bagian diri Abang yang saleh?"

Embun tampak berusaha berpikir keras, namun tidak juga mendapat jawabannya. Revan yang sedari tadi berdiri sekarang ikut duduk di tepi pembaringan.

"Ya saleh menurut kamu pribadi dengan saleh menurut Allah beda versi tentunya. Sudah, kamu tidak usah kebanyakan mikir." Revan kemudian berdiri. Ia membuka sisi lemari dan mengelurkan satu kaus oblong berwarna hitam. Ia juga dengan santai mengganti kausnya begitu saja di depan Embun, yang seketika memalingkan wajahnya.

"Saya mau keluar dulu ada urusan. Kamu baik-baik dirumah ya, country girl? Jangan mulai membakar apapun lagi dan jangan ke mana-mana. Nanti nyasar. Ingat itu?"

===================

Revan masih sibuk menghitung-hitung cost untuk pembangunan apartemen yang baru saja ia menangkan tendernya  saat sahabat gokilnya Bara Bramasta menelepon.

"Van, gue minjem cewek ONS lo dong. Kepala gue lagi mumet ini gara-gara kalah tender sama perusahaan kompetitor gue. Makanya gue butuh pelampiasan. Gue minjem apartemen lo juga ya buat ena ena. Apartemen gue lagi dijajah sama nyokap gue."

"Eh sianying. Lo mau maksiat nyari hotel dong. Nggak modal amat ngotorin apartement gue. Lo mau cewek yang mana? Gue nggak pernah ONS dengan orang yang sama. Soalnya gue takut ntar mereka pada baperan."

"Si Clara yang bohay deh. Gue nggak tau nomor ponselnya. Lo tolongin atur supaya ntar satu jam lagi gue ke apartemen lo, and tuh cewek udah ada di sana."

"Gue nggak mau nelepon cewek yang udah pernah gue pake. Kalo lo mau nih ada yang mau gue pake tapi nggak jadi karena tetiba nggak napsu gue. Inget cuma sekali ini aja gue minjemin apartemen gue buat lo ya? Kampret bener berasa jadi germo lanang gue!

"Lo emang sahabat sejati gue. Satu jam lagi gue ke apartemen lo ya? Cipok dikit ah! Muachh. Hahaha

"Eh sianying. Jijik gue dengernya. Cuih! Puih!"

Revan menyumpah-nyumpah jijik karena mau dicipok Bara.

Tetapi akibat dari kesibukannya yang menumpuk, Revan lupa pada janjinya untuk menelepon cewek ONS untuk Bara. Dan Revan tidak tahu, akibat keteledorannya itu bencana besar akan melanda.

===================

"Embun, ibu mau belanja bahan-bahan makanan untuk ngisi kulkas Revan dulu ya, Nak. Tiga lantai di atas apartemen ini. Embun mau ikut?"

Gayatri yang ditemani oleh Embun  tiba-tiba saja menyidak apartemen Revan pada hari Sabtu sore. Gayatri memang selalu menyidak apartemen putra tunggalnya untuk melihat stock makanan di lemari es putranya. Ia jugalah yang selalu mengisi makanan maupun buah-buahan yang sehat untuk putranya. Karena kalau mengharap Revan yang berbelanja, maka matahari pasti telah terbit dari barat dan tenggelam di timur. Alias tidak mungkin.

"Tidak usah, Bu. Embun melanjutkan mengganti kain alas tidur Bang Revan aja. Tanggung Bu," sahut Embun sambil terus membuka sarung bantal bermotif catur Revan.

"Kain alas tidur itu namanya sprei sayang. Diingat-ingat ya?"

Gayatri menepuk pelan bahu menantu nya. Dengan penuh kesabaran ia selalu membimbing menantunya agar bisa semakin berbaur dengan dunia modern.

Sepeninggal ibu mertuanya, Embun masih terus saja berbenah ini dan itu, sehingga apartemen Revan tampak rapi dan bersih.

Ceklek!

"Halo cantik. Kamu ini pesanannya Revan ya?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Dua Sisi

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED