Las Vegas, Nevada, USA.
"Sepuluh ribu dollar."
"Dua puluh ribu dollar."
"Lima puluh ribu dollar."
"Seratus ribu dollar."
Suara seruan para pria hidung belang memenuhi pelelangan megah di sebuah kota yang terkenal sebagai 'Sin City'. Kota yang terkenal dengan kota yang dipenuhi dosa. Namun, sayangnya kota yang dipenuhi dosa itu, menjadi kota kesukaan semua orang.
Lampu remang-remang menjadi daya tarik di kala memasuki ruang pelelangan megah yang ada di Las Vegas. Para tamu undangan yang hadir diwajibkan memakai topeng. Lampu yang diperbolehkan menyorot adalah di panggung di mana-seorang gadis cantik berdiri menjadi bahan jual-beli para lelaki hidung belang.
Gadis itu sangat cantik. Dia memakai dress berwarna gold begitu seksi. Bra dan celana dalamnya nyaris terlihat. Bisa dikatakan gadis itu nyaris telanjang. Dia berdiri di dalam sangkar emas dengan kedua tangan yang di borgol, dan mata yang ditutup kencang oleh kain berwarna hitam.
Raut wajah gadis cantik itu sedikit memucat. Bibirnya bahkan sejak tadi bergetar ketakutan. Ruangan itu memiliki suhu yang sangat dingin karena AC central yang besar. Akan tetapi, meski menggunakan AC-nyatanya keringat sedikit membanjiri kening gadis cantik itu. Keringat yang pastinya disebabkan oleh rasa takut yang mendera.
Berdiri menjadi bahan tontonan para lelaki hidung belang, tentu membuat nyali gadis itu menciut. Kain hitam yang ada di matanya sudah basah, akibat air mata yang sejak tadi tak henti berlinang. Pergelangan tangan memerah karena sempat berontak di kala dirinya ingin dimasukan ke dalam sangkar emas.
"Ya, penawaran tertinggi ada dinilai seratus ribu dollar. Siapa lagi yang berani lebih mahal? Saya pastikan pembeli tidak akan kecewa," seru pembawa acara dengan senyuman licik di wajahnya.
"Seratus lima puluh ribu dollar." Pria paruh baya yang masih sangat tampan, mengajukan penawaran tertinggi. Meski tak lagi muda, tapi terlihat tubuhnya sangat gagah. Aura ketampanannya begitu menonjol.
Semua orang di sana berdecak kagum pada pria paruh baya itu, yang berani mengajukan penawaran tertinggi. Sang pembawa acara tersenyum licik di kala ada yang menawar lebih tinggi.
"Ah, saya lupa menambahkan. Gadis yang berada di dalam sangkar emas ini masih perawan. Saya pastikan kalian akan puas," ucap sang pembawa acara itu lagi.
Para pria hidung belang menyeringai sadis mendengar gadis yang berada di dalam sangkar emas itu, ternyata masih dalam keadaan perawan. Mata mereka sudah sejak tadi menatap lapar gadis berparas luar bisa cantik. Kulit putih mulus tanpa noda, berdiri di bawah sinar lampu, membuat gadis itu bagaikan Dewi. Tidak ada yang tak tergoda akan kecantikan gadis itu.
"Dua ratus ribu dollar." Pria paruh baya itu menambahkan nominal penawaran, agar demi gadis itu jatuh ke dalam pelukannya. Tampak mata pria paruh baya itu menatap lapar tubuh Luna yang sangat indah dan cantik.
Luna-gadis cantik-yang berada di dalam sangkar emas semakin bergetar ketakutan, di kala mendengar ada yang menawar keperawanannya dengan nominal fantastis. Dia tak tahu seperti apa wujud dari pria yang menawarnya. Dalam keadaan mata tertutup, dia hanya bisa menduga-duga dari suara yang dia dengar.
Air mata Luna kembali berlinang. Dia tidak pernah menginginkan ini! Dia tidak pernah mau menjual diri. Luna tak pernah ingin menjadi seorang pelacur yang berada di tengah-tengah pria hidung belang.
Keadaan telah mendesak Luna hingga berada di tempat terkutuk seperti ini. Gadis itu ingin berlari kencang, meninggalkan acara terkutuk ini. Akan tetapi, Luna tidak memiliki tenaga ataupun keberanian. Gadis itu terlalu lemah.
"Wah! Dua ratus ribu dollar! Ada yang lebih tinggi dari angka dua ratus ribu dollar?" seruan pembawa acara memenuhi keheningan ruang pelelangan megah itu.
Hening ... Tidak ada suara apa pun di ruang pelelangan megah itu. Menandakan bahwa tidak ada yang bisa menawar lebih tinggi dari angka dua ratus ribu dollar, yang telah ditawar oleh pria paruh baya itu.
Luna semakin takut! Dalam keadaan tangan terborgol dan mata terpejam, membuat gadis itu seakan ingin mati. Sejak tadi dia sudah tidak nyaman dengan pakaian yang dia pakai. Sayangnya, Luna tidak memiliki jalan untuk kembali. Gadis itu hanya bisa pasrah pada keadaan yang sekarang ada di hadapannya.
"Baiklah, saya rasa penawaran yang tertinggi jatuh pada nominal dua ratus ribu dollar. Untuk meresmikan. Saya akan menghitung mundur. Tiga ... dua ... sa-"
"Satu juta dollar." Seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan topeng hitam di mata, melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Pria berperawakan tampan itu baru saja masuk-dan menjadi pusat perhatian semua orang di sana.
Semua orang terkejut di kala ada yang menawar dengan angka satu juta dollar. Dua ratus ribu dollar saja untuk membeli keperawanan, sudah sangatlah mahal. Namun, ternyata ada yang berani lebih mahal berkali-kali lipat.
Sang pembawa acara terkejut. "Ada penawaran baru! Satu juta dollar. Ada yang berani lebih dari itu?"
Pria paruh baya itu tak terima ada yang mengalahkannya. "Satu juta lima ratus dollar!"
"Dua juta dollar!" Pria bertubuh tinggi gagah, tampak santai di kala menyebutkan nominal itu. Seolah uang hanyalah daun yang mudah sekali dicari olehnya.
"Kau-" Pria paruh baya terpancing emosi. Akan tetapi, dia tidak mungkin mencari keributan di acara pelelangan itu. Sebab, jika sampai dia membuat keributan, maka pasti pihak keamanan akan mengusir paksa dirinya.
"Dua juta lima ratus!" Pria paruh baya itu kembali menambah nominal, agar Luna jatuh ke tangannya. Dia sudah sejak tadi mengincar tubuh cantik dan seksi Luna.
Pria tampan dengan tubuh gagah itu hanya melukiskan senyuman angkuh, di kala ada yang mencoba mengalahkannya. "Tiga juta dollar," serunya tanpa gentar.
Luna terkejut di kala mendapatkan penawaran sampai tiga juta dollar. Nominal yang fantastis. Apakah dirinya semahal itu? Sungguh penawaran nominal tertinggi membuat bulu kuduknya merinding. Pria macam apa yang mampu membelinya sampai semahal itu?
"Beraninya kau!" Pria paruh baya itu terpancing emosi. Dia menggebrak keras meja tak terima, pada pria tampan yang berani menambah nominal fantastis. Emosinya sudah meledak. Dia yang tadi berusaha menahan amarah dalam dirinya, sekarang sudah tak bisa menahan.
Pria paruh baya itu maju dan hendak melayangkan pukulan pada pria tampan dan yang berhasil mengalahkannya. Namun, belum juga tangannya meninju wajah pria tampan itu-sudah ada seorang pengawal yang menahan pria paruh baya itu.
"Berani sekali kau mencari masalah denganku! Kau belum mengenal siapa aku!" bentak pria paruh baya itu penuh emosi. "Aku bisa menghancurkanmu! Jangan main-main denganku!"
Pria tampan itu tersenyum di balik topengnya yang tertutup rapat. "Simpan ancamanamu. Aku paling benci ada yang berani mengancamku."
"Kau-" Pria paruh baya itu kembali mencoba menyerang pria tampan itu. Akan tetapi, pengawal sudah langsung menyeret pria paruh baya itu keluar meninggalkan ruang pelelangan itu.
Suara teriakan pria paruh baya terdengar keras akibat berontak. Akan tetapi, dia kalah karena sudah ada tiga pengawal yang menyeretnya keluar dari ruang pelelangan secara paksa.
Ruang pelelangan menjadi hening tak bersuara apa pun. Para tamu undangan sekarang menatap sosok pria yang berani mengajukan penawaran paling mahal. Ya, pria tampan itu menjadi pusat perhatian semua orang di sana tanpa terkecuali.
Sang pembawa acara tersenyum. "Apa ada penawaran yang lebih tinggi?"
Tidak ada yang merespon pertanyaan sang pembawa acara. Pasalnya, pria tampan dan gagah itu mengajukan nominal fantastis. Bukan nominal sembarangan. Tentunya orang lain akan sangat berpikir ribuan kali untuk mengeluarkan nominal sebanyak itu.
"Baiklah, karena tidak ada yang mengajukan nominal lagi, maka pemenangnya adalah pria di ujung sana dengan penawaran tiga juta dollar." Pembawa acara berseru-seraya menunjuk sopan pria tampan dan gagah yang memakai topeng hitam.
Tampak Luna semakin memucat di kala dirinya jatuh pada pria hidung belang. Bibirnya terus bergetar ketakutan. Dia melepas keperawanannya dengan harga tiga juta dollar. Harga yang fantastis. Namun, hatinya terasa tercabik karena tak pernah mengira bahwa dirinya akan berada di dunia seperti ini.
***
"Tunggulah di sini." Pengawal mendorong Luna masuk ke dalam kamar hotel megah, yang sudah disiapkan oleh penyelenggara acara. Pengawal berbadan besar itu, memiliki aura bengis yang membuat Luna ketakutan.
Luna menangis sesenggukan. "Aku tidak menjual diriku. Tolong lepaskan aku."
Gadis itu berusaha menyentuh lengan sang pengawal, tapi sayangnya sang pengawal langsung mendorong kasar Luna-hingga membuatnya tersungkur di lantai kamar hotel yang megah itu.
"Jangan berontak! Bibimu sudah menjualmu pada kami! Jika kau tidak menurut, jangan salahkan kami melemparmu ke rumah pelacuran! Kau mau seperti itu?!" bentak sang pengawal-dan segera pergi meninggalkan Luna.
Luna menangis sesenggukan seraya memeluk lututnya. Rasa takut semakin menyelimuti dirinya. Gadis itu ingin sekali melarikan diri. Namun, cara seperti apa agar dirinya bisa melarikan diri.
Luna dijual oleh adik dari ayah kandungnya sendiri. Setelah kedua orang tuanya sudah pergi, dia dibesarkan oleh bibinya. Tetapi, dia tidak pernah mengira kalau bibinya sampai tega menjual dirinya hingga membuatnya merada di tempat terkutuk seperti ini.
Suara pintu kamar terbuka. Gadis itu perlahan mengalihkan pandangannya-menatap sosok pria bertubuh tinggi tegap-yang melangkah masuk ke dalam kamar hotelnya. Lampu kamar tak dihidupkan semua, membuat Luna tak terlalu jelas melihat wajah pria yang baru saja masuk. Akan tetapi, meskipun lampu kamar tidak dihidupkan semua, gadis itu mentafsir bahwa pria yang baru saja datang-memiliki paras yang sangat tampan.
Luna menelan salivanya susah payah sambil menangis. "T-Tuan, t-terima kasih sudah membeli saya ... T-tapi saya bukan pelacur. S-saya tidak menjual diri saya."
Pria gagah dan tampan itu melangkah menghampiri Luna. Dia membuka topengnya dan berkata dingin, "Jika kau tidak menjual dirimu, kenapa kau menjadi bahan untuk dijual?"
Luna memberanikan diri menatap sosok pria yang ada di hadapannya. Benar saja, gadis itu terpaku melihat sosok pria di hadapannya. Walau lampu tak sepenuhnya menyala tapi tetap pria itu memiliki paras yang sangat tampan.
"T-Tuan, a-aku mohon lepaskan aku." Luna bingung untuk menjelaskan. Gadis itu takut kalau dirinya menjelaskan, malah akan menjadi masalah. Lebih baik dia meminta belas kasihan pria di hadapannya ini untuk melepasnya.
"Jika aku melepasmu, maka aku mengalami kerugian tiga juta dollar. Itu bukan uang kecil. Kau pikir aku mau kehilangan uangku?!" Pria itu berdesis tajam di depan Luna.
Air mata Luna tak henti bercucuran. Gadis itu pun tak memiliki uang sebanyak itu. "T-Tuan, a-aku pasti akan mengganti uangmu."
Pria itu menarik dagu Luna, dan menatap mata gadis itu yang memerah. "Aku tidak ingin uangku kembali. Aku sudah membelimu. Itu artinya, malam ini kau menjadi milikku."
Luna berusaha berontak dari kungkungan pria itu. Namun, tindakan berontaknya hanyalah percuma. Dia tidak akan pernah bisa pergi. Sekeras apa pun dia berusaha, tetap saja dia akan kalah.
Luna tak bisa melakukan apa pun. Hal yang bisa dilakukannya hanyalah pasrah. Dia sudah yakin sekeras apa pun dia memohon pada pria yang ada di hadapannya ini, tetap tidak akan pernah bisa membuat dirinya bebas.
Pria itu membelai pipi Luna sedikit keras, menyeka air mata gadis itu. "Simpan air matamu. Aku tidak suka malam ini kau melayaniku dalam keadaan menangis."
Bibir Luna bergetar di kala jemari pria itu mulai membelai bibirnya. Aroma parfume maskulin menyeruak ke indra penciumannya, membuatnya seakan menjadi mati tak berdaya sedikit pun.
Air mata Luna mulai terhenti. Gadis itu sangat takut pada pria yang membelinya. Di balik wajah tampan pria itu-terdapat aura dingin, bengis, dan kejam. Itu yang membuat Luna tak bisa berkutik.
"Siapa namamu?" bisik pria itu serak.
Luna menggigit bibir bawahnya. "L-Luna ... n-namaku Luna."
Pria tampan itu membenamkan bibirnya ke bibir Luna, dan melumat bibir gadis itu liar. Tampak mata Luna melebar di kala pria itu mencium bibirnya. Ciuman pertamanya telah dirampas oleh pria yang sama sekali tidak pernah dia kenal.
"Apa kau belum pernah berciuman sebelumnya?" bisik pria itu di depan bibir Luna. Dia menebak bahwa Luna belum pernah berciuman. Sebab, terbukti gadis itu masih sangat amatiran-tak mampu membalas ciumannya.
Luna mengangguk bagaikan kucing kecil merespon ucapan pria yang membelinya.
Pria itu menyeringai melihat respon Luna. Detik selanjutnya, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Luna, mengecupi daun telinga gadis itu, seraya memberikan jilatan, hingga membuat tubuh Luna bergetar merasakan sengatan.
"Aku berjanji akan melakukannya dengan pelan, Luna."
Tubuh Luna meremang merasakan jemari pria itu menelusuri bahu telanjangnya. Bisikan seraknya membuat bulu kuduknya semakin merinding. Berkali-kali Luna menengguk ludahnya berat dan susah payah.
Darah seakan berhenti di kepala gadis itu. Tenggorokannya seakan tercekat. Lidahnya kelu, tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Sentuhan yang diberikan oleh pria itu membuat seluruh organ dalam dirinya seakan meronta-ronta.
Pria mengecupi lembut bahu telanjang Luna. "Relaks, Luna. Aku akan membuat kenangan di pertama kali kau berhubungan seks."
Wajah Luna memucat menegang, menatap pria itu yang tangannya mulai menjamah kedua payudaranya dengan buas. Sentuhan itu memberikan sensasi sengatan listrik di tubuh gadis itu. Dia sedikit meringis bercampur dengan desahan merdu.
Pria itu dengan mudah menarik dress yang dipakai Luna, melempar ke sembarangan arah. Mata pria itu berkilat menatap tubuh Luna yang kini hanya memakai g-strings berwarna hitam. Sangat seksi dan menggoda!
Luna menutup kedua payudaranya yang kini menatap pusat perhatian pria itu. Tubuhnya bergetar ketakutan. Dia ingin menangis. Namun, sekuat mungkin dia menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Singkirkan tanganmu. Tubuhmu ini milikku, Luna." Pria itu menyingkirkan kedua tangan Luna yang menutupi payudara gadis itu.
Luna pasrah. Dia hanya membuang wajahnya di kala pria itu menatap lapar dua payudara yang berukuran padat dan menantang. Dada sintalnya serta putingnya yang berwarna merah mud aitu, membuat pria itu tak bisa menahan.
"Fuck, hargamu sangat pantas. Kau memiliki tubuh yang indah, Luna." Pria itu membelai puting payudara Luna.
"Ah!" Desahan lembut lolos di bibir Luna. Gadis itu kini menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan desahan.
Pria itu menundukkan kepalanya, memasukan puting payudara Luna ke dalam mulutnya, mengisap sedikit kasar seperti bayi yang kelaparan. Tampak dada gadis itu tercondong ke depan di kala pria itu mengisap putingnyanya dengan buas.
Lidahnya membelai ujung puting payudara Luna hingga membuat sekujur tubuh Luna merasakan sengatan kuat. Pria itu menyukai bermain-main sebelum pada puncaknya. Dia kini memberikan gigitan kecil di ujung puting payudara Luna.
"Ah!" Erang Luna meringis kesakitan.
Luna mendesah tak karuan, tak bisa lagi menahan, dia menatap dari cermin pria yang membelinya itu mencumbu kedua payudaranya dengan liar. Kewanitaannya berkedut akibat cumbuan dahsyat pria itu. Erangan bercampur rintihan yang lolos di bibirnya membuat pria itu mencumbu payudaranya dengan semakin liar dan penuh nafsu.
Pria itu melepaskan cumbuannya, dan menatap wajah Luna yang memerah. "Kau menyukainya, hm?" bisiknya.
Pipi Luna bersemu merah mendengar ucapan pria itu. Sialnya, tubuhnya malah merespon setiap sentuhan yang diberikan oleh pria itu. Pun dia sadar bahwa dia tidak bisa sama sekali berontak.
Pria itu mulai menanggalkan pakaiannya di depan Luna, melempar kemejanya ke sembarangan arah. Tampak Luna menjadi salah tingkah ketakutan. Gadis itu melihat jelas tubuh gagah pria yang membelinya. Tato yang ada di tubuh pria itu menyempurnakan fisik yang dimiliki pria itu.
Pria itu mengangkat tubuh Luna, membaringkan ke ranjang. Dia mulai melepaskan ikat pinggangnya, dan melepaskan kancing celana-menanggalkan celananya. Tepat di kala celana terlepas-raut wajah Luna semakin memucat panik-melihat kejantanan pria itu yang berada di balik celana dalamnya begitu besar dan keras.
Meskipun celana dalam pria itu belum terlepas, tapi imajinasi Luna sudah membayangkan bahwa kejantanan pria itu pasti sangat besar, panjang, dan keras. Astaga! Luna semakin ketakutan!
Luna memundurkan tubuhnya hingga terbentur di kepala ranjang. Matanya kini menatap pria itu dengan tatapan penuh permohonan dan berharap bahwa pria itu iba padanya.
"T-Tuan ... a-aku mohon jangan." Luna mengiba penuh permohonan.
Pria itu tak memedulikan permintaan Luna. Dia menarik kasar kedua kaki gadis itu, melucuti g-strings yang dipakainya dan melumat liar bibir Luna dan memainkan jarinya ke titik sensitive gadis itu. Tubuh Luna bergetar merasakan jemari pria itu bermain di titik sensitive-nya.
"Ah...." Luna mengerang nikat seraya memejamkan mata di kala merasakan nikmatnya jemari pria itu membelai titik sensitive-nya.
"See? Kau merasakan kenikmatan. I know you it, you will like it," bisik pria itu serak di depan bibir Luna.
Luna menggeleng menatap iba pria itu agar melepaskannya. Tubuhnya sudah tidak memiliki tenaga apa pun untuk berontak.
Pria itu melucuti celana dalamnya, lalu Luna memejamkan mata di kala pria itu melucuti celana dalamnya. Ya, Luna melihat kejantanan pria itu berdiri tegak dan besar-membuatnya merinding ketakutan.
Pria itu menindih tubuh Luna melumat liar bibir gadis itu sambil berbisik, "Tutuplah matamu. Tapi setelah ini aku akan membuatmu membuka mata bahkan menjerit."
Pria itu membuka lebar kedua paha Luna-dan menyatukan miliknya ke dalam liang sempit gadis itu dengan satu kali hentakan keras. Terlihat mata Luna melebar bersamaan dengan bibir yang melebar akibat meloloskan jeritan.
"Ah!" Luna menjerit di kala pria itu memasukinya dengan kasar. Dia merasakan tubuh bagian bawahnya seakan dirobek secara paksa. Rintihan perih bercampur di sela-sela jeritan itu.
Pria itu menyeringai melihat Luna yang menjerit kesakitan. Tanpa belas kasih, pria itu menghunjam Luna dengan tempo yang keras dan liar. Dia sama sekali tidak memedulikan teriakan Luna yang meringis kesakitan.
Sudut mata Luna mengeluarkan air mata. Gadis itu memeluk erat punggung kekar pria itu. Dia sudah tidak lagi bisa berontak. Dia pasrah di bawah jerat oleh pria yang membeli keperawanannya.
"Ah-" Luna semakin memeluk erat punggung kekar pria itu di kala merasakan hunjaman yang diberikan pria itu mulai terasa nikmat. Meskipun rasa sakitnya masih ada, tapi tidak memungkiri bahwa Luna merasakan kenikmatan tiada tara.
"Fuck, Luna! Kau sempit sekali!" Pria itu menggeram merasakan nikmatnya miliknya dijepit oleh milik Luna. Dia terus menghunjam dengan tempo pelan, sedang, dan berakhir dengan keras-hingga membuat Luna semakin meloloskan jeritan.
***
Draco menyesap wine di tangannya. Pria itu berdiri di area balkon kamar. Tatapannya sedikit melihat Luna yang terbaring di ranjang. Dia yakin pasti Luna merasakan kelelahan luar biasa akibat ulahnya.
Suara dering ponsel terdengar. Draco mengambil ponselnya dan melihat ke layar terpampang nma asistennya. Pria itu malas menjawab telepon dari sang asisten, namun dia menyadari ada misi yang belum diselesaikan. Akhrinya, dia memutuskan untuk menjawab panggilan telepon itu.
"Ada apa?" tanya Draco dingin dan tegas kala panggilan terhubung.
"Tuan Draco, maaf mengganggu Anda. Saya hanya ingin mengingatkan, besok jam sepuluh pagi, Anda harus menyerahkan gadis yang Anda beli. Karena waktu yang diberikan sampai jam sepuluh pagi," ujar sang asisten dari seberang sana.
"Aku menolak keinginan mereka. Gadis itu akan bersamaku sampai aku merasa bosan."
"T-Tuan, A-Anda tidak bisa seperti itu. Penyelenggara acara-"
"Persetan dengan segala aturan! Kau urus semuanya! Aku tidak suka diatur! Tambahkan uang pada mereka satu juta dollar! Jika mereka menolak, maka mereka akan berurusan denganku!"
"T-Tapi, Tuan ... bukankah misi Anda sudah selesai?"
"Belum sepenuhnya selesai! Misiku masih akan terus berjalan sampai aku benar-benar mengalahkan tua bangka itu! Sudahlah, kau jangan banyak bicara! Cukup kau patuhi saja apa yang aku perintahkan!"
Draco menutup panggilan telepon secara sepihak. Lantas, pria itu melangkah menuju Luna yang masih terlelap. Draco Riordan-pria tampan itu memiliki misi khusus kenapa mengikuti acara pelelangan-yang sampai membuatnya berakhir bertemu dengan sosok gadis polos dan lugu.
Draco duduk di tepi ranjang, melihat Luna menggeliat seperti tengah bermimpi. Selimut yang turun menunjukan dua payudara sintal gadis itu-membuat Draco tak sabar ingin mencicipi payudara gadis itu lagi.
Draco menunduk dan mengisap bergantian puting payudara Luna dan sontak membuat Luna terbangun akibat rangsangan itu. Gadis itu nampak terkejut dan berusaha menghindar di kala melihat pria yang membelinya kembali mencumbunya untuk kesekian kalinya.
"T-Tuan-" Dengan mata yang sembab, Luna menatap Draco dengan tatapan penuh permohonan.
Draco tak peduli dengan wajah memelas Luna. Pria itu menyibak selimut, menindih tubuh gadis itu-dan melumat bibirnya. "Aku menginginkanmu. Buka lebar pahamu, Luna," titahnya tanpa ingin dibantahkan.
Luna menggeleng tegas dengan mata yang memerah akibat air mata terbendung di sana. Tapi semua itu percuma! Draco tidak memikirkan tentang Luna yang menatap penuh permohonan pada dirinya.
"Kau gadis nakal, Luna. Kau berani tidak patuh padaku," bisik Draco mulai kesal.
Luna terisak. "T-Tuan, a-ku mohon, akh-"
Luna menjerit di kala Draco langsung memasuki kejantanannya ke dalam liang sempit gadis itu. Tanpa memiliki belas kasih sedikit pun, Draco menghunjam dengan tempo keras dan liar.
"Sakit?" bisik Draco di depan bibir Luna.
Luna mengangguk dan terisak. "S-sakit..."
Draco terkekeh rendah. "Kau ingin aku pelan, hm?"
Luna kembali mengangguk dengan air mata yang masih berlinang.
"Memohonlah padaku," bisik Draco lagi.
Luna menggigit bibir bawahnya dan berkata. "A-aku mohon lakukan dengan pelan."
Draco tersenyum penuh kemenangan mendengar ucapan Luna. Detik selanjutnya, pria itu melumat lembut bibir Luna-dan menghunjam gadis itu dengan pelan sesuai yang dinginkan gadis itu.
Rasa sakit mulai tergantikan dengan kenikmatan. Air mata Luna telah mengering. Gadis itu memeluk erat punggung Draco-pasrah di kala pria itu menghunjamnya. Sekeras apa pun berontak tetap saja Luna sadar bahwa dia telah kalah.
Mata Luna mengerjap beberapa kali. Tubuh gadis itu terasa sangat remuk. Perlahan, di kala matanya sudah terbuka lebar-tatapannya mengendar ke sekitar-di mana dirinya berada di sebuah kamar hotel yang megah.
Luna termenung diam melihat kamar hotel megah itu. Sebuah kamar yang tak akan pernah mungkin bisa dia datangi seumur hidupnya. Gadis itu dibesarkan di keluarga yang sangat sederhana. Tidak akan mungkin, dia mampu berada di hotel semegah ini.
Dalam hitungan detik, ingatan Luna langsung teringat tentang kejadian tadi malam. Raut wajah gadis itu berubah menegang dan terkejut. Rasa takut menghantamnya menembus hingga ke jantungnya-menimbulkan kesesakan.
Bulir air mata Luna berlinang jatuh membasahi pipinya. Dia tidak pernah mengira kalau dirinya akan melepas keperawanannya pada sosok pria asing yang tak pernah dia kenal dalam hidupnya. Luna meremas selimutnya terisak sesenggukan.
Perlahan, Luna memberanikan diri untuk menoleh ke samping di kala dia sudah berhasil menenangkan dirinya sendiri. Tatapannya menatap ranjang kosong yang ada di sampingnya. Pria yang membelinya sudah pergi. Namun, ke mana pria itu pergi? Apa pria itu langsung pergi begitu saja? Jika iya, maka setidaknya dia lega bisa terlepas dari pria yang membelinya.
"Nona?" Suara seorang pelayan melangkah masuk ke dalam kamar.
Luna sedikit terkejut melihat pelayan datang. Gadis itu segera menarik selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Meskipun pelayan yang datang adalah perempuan, tapi tetap dia sangatlah malu.
"I-iya?" Luna menjawab gugup sang pelayan.
"Nona, Tuan Draco Riordan meminta Anda untuk membersihkan tubuh Anda. Beliau sedang berada di luar sebentar. Beliau akan kembali masuk ke sini. Beliau minta saat sudah masuk ke kamar, Anda sudah siap," jawab sang pelayan memberi tahu.
Luna menggigit bibir bawahnya. "T-Tuan Draco Riordan?"
"Iya, Nona. Tuan Draco Riordan adalah nama panjang dari Tuan Riordan, yang tadi malam bersama dengan Anda," jawab sang pelayan sopan. "Nona, bersiaplah. Tuan Riordan tidak suka menunggu lama."
Luna terdiam sebentar dengan wajah bingung dan takut. "T-tapi, a-aku hanya menemani Tuan Riordan satu malam saja."
Sang pelayan menjadi gelisah dan cemas mendengar jawaban Luna. "Nona, saya mohon turuti saja permintaan Tuan Riordan. Jangan membantah. Tuan Riordan membenci orang-orang yang membantahnya."
"T-Tapi-"
"Nona, saya mohon lakukan yang Tuan Draco Riordan inginkan. Beliau akan sangat marah, jika Anda tidak patuh padanya," jawab sang pelayan sopan. "Baiklah, saya harus pergi. Segera bersihkan tubuh Anda, Nona." Pelayan itu mengingatkan Luna-lalu melangkah pergi meninggalkan gadis itu.
Diamnya Luna menunjukkan bahwa gadis itu sangat bingung. Dia tak mengerti kenapa pria yang membelinya memintanya untuk bersiap-siap? Bukankah kesepakatan bahwa pria yang membelinya hanya untuk satu malam saja? Luna ingin sekali langsung pergi, karena tugasnya sudah selesai. Akan tetapi, dia tidak akan mungkin bisa pergi begitu saja.
Luna menyeka air matanya. Menangis sekeras apa pun tidak akan mengubah kehidupannya. Akhirnya, gadis itu perlahan mulai bangkit berdiri, dan melangkah sangat pelan menuju kamar mandi. Dia merasakan sakit luar biasa pada organ intimnya. Namun, dia berusaha menahan rasa sakit itu dengan susah payah.
Tak selang lama, ketika Luna selesai mandi, gadis itu mengganti pakaiannya dengan dress yang sudah disiapkan. Dress berwarna kuning dengan model tali spaghetti itu membalut tubuhnya dengan sangat indah.
Pintu kamar terbuka. Luna mengalihkan pandangannya ke arah pintu-menatap pria yang membelinya kini menghampirinya. Gadis itu menelan salivanya susah payah. Tadi malam lampu sedikit gelap, meski wajah pria itu tetap terlihat tampan dikegelapan, tetap saja sekarang jauh lebih terlihat.
Ya, Luna tak mengira kalau pria yang membelinya memiliki paras yang sangat tampan dan gagah. Di balik aura dingin dan ketegasan, tapi pria itu memiliki fisik sempurna layaknya pahatan patung Dewa Yunani.
"T-Tuan..." Luna menunduk tak berani menatap Draco.
Draco menatap dingin Luna. "Angkat wajahmu jika sedang berbicara denganku."
Luna meneguk ludahnya berat.
"Angkat wajahmu." Nada bicara Draco satu oktaf lebih tinggi di sini.
Luna bergetar ketakutan, dan mulai memberanikan diri menatap Draco.
Draco melangkah mendekat, mengikis jarak di antaranya dan Luna. "Dress ini cocok di tubuhmu." Pria itu menarik dagu Luna, menatap iris mata indah gadis itu.
Luna salah tingkah dan semakin takut di kala wajah Draco, begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan bibir mereka pun sangat dekat. Hanya satu kali gerakan yang ditimbulkan oleh Luna-sudah pasti bibirnya akan menempel di bibir Draco.
"T-Tuan, k-kau ingin mengajakku pergi ke mana?" tanya Luna memberanikan diri, dengan tatapan rapuh. Luna sudah lelah. Dia ingin sekali pergi dari semua penderitaan ini. Andai saja bisa, lebih baik dia tak lagi hidup di dunia ini.
Draco membelai kasar pipi Luna. "Ke suatu tempat, yang pasti orang di sini tidak akan bisa menemukanmu."
Bahu Luna bergetar ketakutan. "T-tapi, k-kau hanya membeliku untuk satu malam saja. K-kau tidak bisa membawaku pergi ke manapun."
Ini sudah benar-benar gila! Dalam peraturan, siapa pun pria yang membeli keperawanan Luna, maka itu artinya hanya untuk satu malam. Selain itu, pria yang membelinya dilarang untuk membawanya pergi. Luna tahu ini, karena dia mendengar percakapan bibinya dengan penyelenggara acara terkutuk itu.
Draco tersenyum miring mendengar jawaban dari Luna. "Sayangnya, aturan itu tidak berlaku untukku, Luna."
Luna terperanjat terkejut. "A-apa maksudmu?"
Draco membelai bibir Luna dan berbisik serak, "Kau cukup patuhi apa yang aku minta. Jika tidak, maka kau tidak akan pernah mendapatkan bagian uangmu."
"Aku tidak membutuhkan uang!" sentak Luna mulai berani, di balik tatapan takut.
Kening Draco mengerut. "Jika kau tidak membutuhkan uang, kenapa kau harus menjual dirimu? Bukankah itu sama saja, kau dengan pelacur?"
Mata Luna berkaca-kaca mendapatkan penghinaan dari Draco. "A-aku bukan pelacur! Sudahku katakan, aku bukan pelacur!"
Luna seperti masuk ke dalam jurang api. Gadis itu tidak akan pernah mungkin melakukan tindakan serendah itu. Meski lahir dari keluarga sederhana, tapi Luna lebih baik mati kelaparan dari pada menjual keperawanannya.
Draco tetap melukiskan senyuman di wajahnya. Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Luna dan berbisik tajam, "Persetan dengan semua alasanmu. Kau tetap harus patuh padaku. Aku membenci orang yang berani melawanku, Luna."
Raut wajah Luna semakin memucat ketakutan mendengar ancaman tak main-main, dari Draco Riordan. Apakah dirinya berada di mimpi buruk? Jika, iya dia ingin segera terbangun dari mimpi buruknya ini.
***
New York, USA.
Pesawat mendarat di sebuah landasan yang sepi. Tidak ada pesawat lain. Itu disebabkan landasan ini khusus untuk pesawat pribadi yang mendarat, sedangkan pesawat komersial tidak diperbolehkan untuk mendarat di sana.
Bibir dan mata Luna melebar di kala dirinya sudah berpindah kota. Sepanjang perjalanan di dalam pesawat, hatinya dilingkupi rasa cemas luar biasa. Sejak tadi, gadis itu tidak bisa berkutik, karena melarikan diri adalah hal yang tak mungkin.
"Sampai kapan kau terus duduk?! Kita sudah sampai! Turun sekarang!" seru Draco memberikan perintah.
Luna menggigit bibir bawahnya. "T-Tuan, kita di mana?"
"Jangan banyak bertanya, Luna!" seru Draco tak suka dibantah.
Napas Luna seakan sesak. "A-aku tidak tahu cara melepas tali ini di tubuhku," ucapnya pelan seraya meremas seat-belt yang terpasang di tubuhnya.
Draco mengembuskan napas kesal mendengar jawaban Luna. Tadi pun di kala naik pesawat-gadis itu tidak tahu cara memakai seat-belt. Sekarang cara melepas pun tidak tahu. Kesabaran Draco benar-benar diuji oleh gadis itu.
Draco menundukkan kepalanya, melepaskan seat-belt yang terpasang di tubuh Luna. Detik selanjutnya, dia menggenggam tangan Luna-melangkah turun dari pesawat. Tampak raut wajah Luna berubah terkejut di kala Draco menggenggam tangannya.
Kaki Luna lemas ketika Draco menarik paksa tangannya. Keseimbangan tubuh gadis itu benar-benar tidak terjaga. Dia nyaris terjatuh di undakan tangga turun pesawat. Untungnya, Draco menangkap tubuh mungil gadis itu. Jika tidak, sudah pasti Luna akan tersungkur jatuh.
Draco berdecak menatap jengkel Luna yang tidak hati-hati. Dia hendak ingin memarahi gadis itu, tapi karena Luna menunduk di dadanya-membuatnya mengurungkan niat untuk marah.
Luna bagaikan kucing kecil yang meminta perlindungan di kala meringkuk di pelukannya. Itu yang membuat Draco tak jadi marah. Detik selanjutnya, pria itu menggendong Luna dengan gaya bridal-dan melangkah masuk ke dalam mobil.
Luna memekik terkejut ketika Draco menggendongnya. Aroma parfume maskulin di tubuh pria itu membuat sekujur tubuhnya seakan berdesir. Keterkejutannya hanya sebentar saja. Gadis itu memutuskan patuh di dalam pelukan Draco.
***
Sebuah penthouse mewah di Kawasan Manhattan membuat Luna terperanjat penuh kekaguman. Gadis itu masuk ke dalam penthouse itu bersama dengan Draco. Tatanan mewah dan desain elegan membuat Luna tak henti berdecak kagum.
Luna baru pertama kali menginjakkan kakinya di sebuah penthouse mewah. Dia belum pernah berada di sebuah rumah semewah yang dia datangi. Gadis itu yakin seribu persen bahwa barang-barang di penthouse ini berharga sangat fantastis.
"Tuan..." Pelayan menyapa sopan Luna dan Draco yang baru saja tiba.
"Antar Luna ke kamarnya," ucap Draco dingin dan datar.
Pelayan mengangguk sopan dan menatap Luna. "Nona, mari saya antar ke kamar Anda."
Luna menggigit bibir bawahnya bingung. Gadis itu bingung luar biasa. Akan tetapi, dia sadar bahwa dirinya tidak bisa berkutik sedikit pun. Hal yang bisa dia lakukan adalah pasrah. Dia terjebak di dalam jurang api. Luna menurut mengikuti sang pelayan menuju kamar, sedangkan Draco memilih untuk menuju ruang kerjanya.
"Nona, ini kamar Anda." Pelayan menunjukkan kamar Luna.
Luna mengendarkan pandangannya, menatap kamarnya yang sangat indah dan megah. Desain kamar itu memiliki sentuhan yang luar biasa menakjubkan. Sungguh, bibir Luna sampai menganga akibat keterkejutannya.
"I-ini kamarku?" tanya Luna pelan dan hati-hati memastikan pada sang pelayan.
Pelayan mengangguk. "Benar, Nona. Ini kamar Anda."
Luna menggigit bibir bawahnya. Gadis itu sama sekali tidak mengira akan mendapatkan kamar sebagus ini. Begitu banyak pertanyaan muncul di kepalanya, tapi dia bingung harus bertanya pada siapa.
"Saya permisi, Nona." Pelayan itu hendak ingin pergi, tetapi Luna segera mencegahnya.
"Tunggu," cegah Luna seraya menatap sang pelayan dengan penuh permohonan.
Sang pelayan menatap Luna. "Iya, Nona? Apa Anda membutuhkan bantuan?"
Luna meneguk salivanya. "I-iya, a-aku membutuhkan bantuan. Bisakah kau membantuku?" tanyanya pelan dengan nada bergetar ketakutan.
Sang pelayan menatap Luna dengan tatapan sopan. "Hal apa yang Anda butuhkan, Nona? Jika saya bisa, pasti saya akan membantu Anda."
Luna membalas tatapan sang pelayan. "A-aku ingin pergi dari sini. Bisakah kau menyelamatkanku? A-aku mohon, selamatkan aku. Aku ingin pergi dari sini."
Sang pelayan terdiam mendengar permintaan Luna. "Nona, Anda datang ke sini bersama dengan Tuan Riordan. Tentu saya tidak mungkin bisa membantu Anda pergi sendiri. Saya bisa mendapatkan masalah. Jika Anda ingin pergi, Anda bicarakan ini pada Tuan Riordan. Saya permisi, Nona." Pelayan itu segera pergi dari hadapan Luna.
Luna mendesah gelisah ketika sang pelayan pergi. Gadis itu duduk di pinggir ranjang dengan wajah yang terselimuti kekhawatiran serta rasa takut yang menggrogoti dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Luna seraya meremas-remas kedua tangan yang saling menaut.
***
Asap rokok mengepul ke udara. Aroma khas tembakau dan alkohol begitu kental di ruangan di mana Draco berada. Pria tampan itu berdiri sambil melihat gedung-gedung pencakar langit dari balik ruang kerja di penthouse-nya.
Aura wajah dingin dengan sorot mata tajam, menunjukkan perasaan benci yang tidak bisa mengurai. Kebencian dan rasa marah dalam dirinya, seolah bagaikan bara api yang menyulut sekujur tubuhnya.
"Tuan..." Nigel-Asisten pribadi Draco-melangkah menghampiri Draco.
"Ada apa?" Draco tetap memunggungi sang asisten. Tatapannya fokus melihat dari balik jendela.
Nigel menatap Draco sopan. "Tuan, maaf jika saya lancang, tapi sampai kapan Anda membiarkan Nona Luna berada di sini? Maksud saya, kapan Anda membebaskan beliau?" tanyanya sopan.
Sampai detik ini, Nigel tak mengerti dengan keinginan Tuannya. Padahal di acara pelelangan itu sudah jelas, bahwa Draco hanya bisa bersama dengan Luna di satu malam saja. Tidak lebih dari itu. Namun malah Tuannya itu menentang segala aturan.
"Luna akan berada di sini, karena aku masih menginginkannya," jawab Draco dingin dan tegas.
Nigel menatap Draco dengan tatapan serius dan sopan. "Tuan, tapi pihak penyelenggara tidak mengizinkan Anda membawa Nona Luna pergi. Mereka memang menerima tambahan uang satu juta dollar yang Anda tawarkan, tapi mereka hanya memberikan waktu satu minggu pada Anda. Jika lebih dari itu, maka mereka akan mengajukan tuntutan."
Draco tersenyum sinis mendengar nasihat dari asistennya. "Mereka tidak akan berani menuntutku! Jika mereka berani, maka aku akan membuat mereka membusuk di dalam penjara. Jangan bangunkan singa yang sedang tidur pulas!"
Nigel menunduk di kala mendapatkan jawaban seperti itu dari Tuannya. Dia sudah tidak bisa berkutik lagi. Karena kalau sudah Tuannya mengambil keputusan, maka itu adalah final yang tak bisa diganggu gugat sama sekali.
Draco melangkah menghampiri Nigel dengan aura wajah yang menunjukkan ketegasannya. "Aku akan membuang Luna, ketika aku sudah bosan dengannya! Sekarang kau tidak perlu lagi menanyakan sampai kapan aku mengurung Luna di sini. Kau mengerti apa yang aku katakan, Nigel?!"
Nigel menelan salivanya susah payah. "I-iya, Tuan. S-saya mengerti."
"Pergilah! Jangan ganggu aku!" usir Draco meminta Nigel pergi.
Nigel segera pamit undur diri dari hadapan tuannya itu.
Draco menatap lurus ke depan, dengan sorot mata tajam dan tegas seraya melukiskan senyuman tipis. "Gadis itu masih sangat menarik di mataku. Aku tidak mungkin membuang mainan yang masih bagus untuk digunakan."