Bab. 1
Ada bisikan lembut..
" Adiba sayang, kita sudah sampai di mall. bangunlah.."
"Ya, Syden ".
Nyamannya menggeliat,
"cantikmu Adiba kalau bangun tidur , matamu berkedip-kedip seperti anak kecil ".
Keluar dari mobil , syden langsung memeluk bahuku . Pelan-pelan kulepaskan pelukan Syden , tak kuhiraukan Syden yang keheranan dengan sikapku . Jalan berdampingan saja sudah bagus , aku juga tidak mengharuskan Syden selalu memeluk bahuku tiap jalan ke mall. Baru saja masuk mall , bau harum menyeruak masuk ke dalam hidung tapi sudah ada yang berbisik..
" Aku mau peluk kamu , Adiba tapi kenapa kamu tolak ?. Kamu mau semua laki mengagumi kecantikanmu , mentang-mentang kamu makin cantik di masa kehamilanmu ini ".
Langsung kuhentikan langkahku tapi tetap saja ada yang melanjutkan bisikan ..
" Aku ini suamimu , bangga punya istri hamil yang cantik tapi kamu malu dipeluk suamimu yang jelek ini , Adiba ".
Aku masih tetap diam tidak mau melawan meskipun mendengar bisikan Syden karena aku sadar diri kalau aku hamil dan mau memberikan rasa nyaman pada janin di rahimku . Masih terdengar bisikan ...
" Lihatlah.. kamu selalu menjadi pusat perhatian dimanapun kamu berada meskipun kamu hamil . Bangga kamu Adiba jadi perempuan cantik ".
Langsung kulihat wajah Syden yang berdiri tegak di sampingku , sambil menekan rasa kesalku.. aku tetap tersenyum sambil menyentuh pipi Syden ...
" Pulang saja , yuk ".
Kubalikkan badan berjalan ke luar pintu , Syden langsung memeluk bahuku..
" Adiba , ayo kita belanja sekalian makan siang ".
Kutatap wajah Syden , tetap sambil berusaha tersenyum , aku menggeleng ...
" Adiba dan si mungil mau pulang , kalau syden mau di mall ini... Tidak apa-apa biar Adiba pulang naik taxi saja ".
Kutatap melangkah sambil mengelus-elus perutku , syden langsung memelukku sambil berbisik ..
" Maafkan aku, Adiba sayang . Aku cemburu kamu menjadi pusat perhatian semua orang dan kamu berjalan sendiri mengabaikan aku suamimu ".
Aku melepaskan diri dari pelukan Syden , tetap sambil tersenyum..
" Adiba sekarang mau pulang . Bolehkah , Syden ?".
" Tapi kita belum makan siang dan belum belanja perlengkapan bayi buat anak kita , Adiba sayang ".
Aku tetap menggelengkan kepala .
" Silahkan Syden makan siang dan beli perlengkapan bayi , Adiba tetap mau pulang ".
Syden menatapku ..
" Maafkan aku , Adiba sayang . Aku mau kita makan siang bersama "
" Adiba makan di rumah saja , kalau Syden mau makan di mall ini .. Adiba tungguin saja ".
" Aku mau sekarang kita makan siang bersama si mungil ini , Adiba sayang ".
Syden mengelus-elus perutku , kusingkirkan tangannya dari perutku.
Malas mulutku berdebat dengan laki Russia yang sedang bersamaku.
Syden benar-benar keras kepala , kalau sudah maunya pasti sulit dicegah . Kulihat Syden mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
" Aku mau telpon orang tuamu dan beritahu beliau berdua kalau kamu menolak makan siang bersamaku padahal kita resmi suami istri dan kamu sedang mengandung anakku . Bagaimana , Adiba sayang ?".
Aku tetap diam lihat Syden yang menelpon abu ummu , kudengarkan saja syden melapor ke abu ummu langsung Syden memberikan ponselnya padaku , kudengar suara lembut keibuan Ummu .
" Adiba anak cantik kesayangan abu ummu , Syden suamimu mengatakan kamu menolak makan siang . Ingat nak ... Seorang istri harus melayani suaminya dengan baik apalagi kamu sedang hamil . Ayo Adiba jangan keras melawan suami yang berniat baik mengajakmu makan siang bersama , ingatlah ada anak titipan Alloh di rahimmu , Adiba anakku ".
"Iya , ummu ".
Kukembalikan ponsel ke tangan Syden langsung ponsel dimatikan , dimasukkan kedalam saku celananya lagi . Kubiarkan Syden memeluk bahuku daripada nanti mengadu lagi ke ummu . Syden tertawa girang , bercerita tentang hal-hal yang dianggpnya lucu tapi tetap kuabaikan ceritanya , terserah mau cerita apa ... Malas aku mendengarnya .
" Kita makan di sini saja , Adiba sayang ".
Syden menunjuk restoran di depan , kami masuk ke restoran dan duduk di dekat pintu masuk . Seorang pelayan membawa daftar menu makanan memberikan pada kami.
Malas aku memilih menu makanan , kuberikan daftar menu makanan ke tangan Syden.
" Syden saja yang pilih menu makanan , Adiba malas pilih . Cepatlah pilih , kasihan pelayannya lama berdiri menunggu ".
Syden melihatku , memilih beberapa menu makanan minuman . Kulirik pelayannya tersenyum mengambil daftar menu makanan kemudian berlalu meninggalkan kami.
" Adiba sayang , aneh sekali sikapmu . Ada masalah apa ?".
Belum sempat kujawab pertanyaan Syden , tiba-tiba ada yang menyapa ..
" Mr. Syden.. ".
Kami menoleh ke asal suara yang menyapa ternyata sepasang suami istri yang tersenyum ramah . Syden langsung berdiri dari tempat duduknya..
" Mr . Xavier ... Mari gabung bersama kami ".
Suami istri itu berjalan mendekati kami .
" Kenalkan ini Adiba istriku , dia sedang hamil anak pertama kami ".
Aku berdiri , tersenyum pada mereka .
" Cantik sekali istrimu meskipun hamil , Mr. Syden . "
Kami berempat duduk , Syden memanggil pelayan yang berdiri di dekat meja kasir . Setelah menulis pesanan makanan , pelayan tersebut berlalu meninggalkan meja kami .
" Mrs . Syden kenalkan ini Carmen istri saya ".
Kami bercakap-cakap sambil menunggu makanan minuman yang kami pesan . Alhamdulillah , tak lama kemudian 2 pelayan datang membawa pesanan makanan minuman . kubisikkan pada pelayan..
" Tolong bungkuskan seperti ini untuk nanti kami bawa pulang ".
Pelayan tersenyum ramah sambil mengangguk . Kami berempat asyik makan . Selesai makan kami masih berbincang-bincang . Ponsel Syden berdering , terdengar syden menjawab telpon ..
" Ya , bu .. sebentar lagi kami pulang ".
Syden menutup ponselnya sambil berkata ....
" Adiba istriku ini kesayangan ibuku sejak kami belum menikah sampai sekarang , apalagi sekarang dia hamil cucu pertama buat ibuku dan almarhum ayahku . Makin besar perhatian dan sayangnya ibuku padanya ".
Mrs. Xavier tersenyum , menyentuh pipiku ...
" Merampok hati suami itu mudah tapi merampok hati mertua itu sulit . "
Kami tertawa mendengar ucapan Mrs. Xavier .
" Mrs. Xavier , Adiba belum merampok hati ibuku tapi ibuku sudah memberikan hatinya pada Adiba . Ibuku tadi menelponku hanya
menanyakan kenapa Adiba belum pulang. Mrs. Xavier , ibuku lebih menyayangi Adiba daripada menyayangiku ".
Mr dan Mrs . Xavier tertawa terbahak-bahak. Aku hanya tersenyum , dengan lirih kujawab..
" Ibu saya jauh di Pakistan , otomatis saya selalu dekat dengan ibunya Syden yang tulus menganggap saya sebagai anak daripada sebagai menantu karena beliau tak punya anak perempuan ".
Mrs Xavier memelukku ..
" Anda benar-benar lembut , pantaslah jika ibu mertua menyayangi anda , Mrs . Syden ".
" Terima kasih , Mrs. Xavier ".
Syden berdiri ...
" Aku ke kasir dulu ".
Setelah membayar di kasir , Syden kembali ke meja kami . Mr dan Mrs. Xavier berpamitan .
" Terima kasih atas makan siang ini , selanjutnya besok jam 7 malam kalian harus makan malam di rumah kami . ".
Mrs . Xavier mengelus-elus perutku.
" Aku mau memasakkan makanan lezat untuk si kecil ini juga ".
"Terima kasih atas ketulusan anda , Mrs. Xavier ."
Kami berempat berjalan keluar dari restoran . Syden mencium keningku ..
" Kita belanja perlengkapan bayi , Adiba sayang ".
" Adiba mau istirahat di rumah , lelah seharian jalan , Syden ."
Mrs Xavier mengelus-elus perutku.
" Mr . Syden , saya dulu pernah keguguran waktu hamil 5 bulan karena terlalu banyak aktifitas, kecapekan , kurang istirahat . Ada baiknya Mrs. Syden jangan kecapekan , Mr. Syden ".
Syden terkejut..
" Iya , Mrs. Xavier . Kami tunda dulu belanja perlengkapan bayi "
Bab.2
Syden menuntunku masuk ke dalam mobil . Ponselku berbunyi , rupanya ummu telpon langsung ponsel kuberikan ke Syden.
" Ummu telpon mau bicara dengan Syden . Terimalah ".
Syden keheranan menerima ponselku .
" Kenapa kamu tidak bicara dengan ummu ?.
Langsung ponsel kuambil dari tangan Syden , kumatikan ... Masukkan ponsel ke tas
. Kubuka pintu mobil, pindah ke belakang , langsung kurebahkan tubuhku sambil mengelus-elus perutku. Syden masih keheranan memperhatikanku .
" Anakku ... Seharian ini kita berjalan - jalan ke kantor , makan di mall . Capek kaki dan pinggul ibu tapi tak apa bergeraklah terus di rahim ibu ".
Tidak kuperdulikan tatapan Syden. Aku tersenyum merasakan gerakan janin di perutku .
" Makin terasa gerakanmu di perut ibu ini. Yuk kita tidur, nak ".
Aku tersenyum membayangkan janinku bergerak - gerak di rahimku. Dengan lirih aku bersholawat sambil mengelus-elus perutku, aku dikejutkan dengan tangan lain yang ikut mengelus-elus perutku , spontan mataku terbelalak terbuka .
" Astagfirullah Al adziimmm , Syden makin suka kagetkan Adiba padahal hampir saja Adiba tertidur . Kan sudah Adiba beritahu kalau Adiba kaget langsung perut terasa ada yang menarik .. ngilu rasanya ".
Kusingkirkan tangannya, aku bangun duduk .
" Sulitnya Adiba mau tidur sebentar saja, tidak boleh ".
Pelan-pelan Syden menjawab ...
" Dari tadi aku perhatikan kamu asyik dengan perut hamilmu . Aku juga mau ikut-ikut mengelus-elus perutmu , Adiba sayang ,"
Sebetulnya kasihan juga lihat ekspresi wajah Syden tapi buat apa aku kasihan ?. Bukankah syden bisa mengelus-elus perut perempuan simpanannya yang hamil daripada perutku istri sahnya . Setelah aku melahirkan pasti aku minta cerai pada Syden .
" Jangan menatapku seperti itu . Maafkan aku sudah membuatmu tak bisa tidur , Adiba sayang ".
Aku diam menatap Syden . Selama ini aku benar-benar percaya syden selalu jujur padaku tapi nyatanya Syden menyembunyikan rahasia dariku .
" Adiba .. Adiba .. "
" Ya , Syden "
" Kalau kamu tidak bisa tidur di belakang , pindahlah duduk depan sini , Adiba sayang ".
Dengan terpaksa pindah ke depan duduk di sebelah Syden. Kubuka kaca jendela mobil , tak terasa sudah hampir jam 4 sore . Sejuknya Khimki di sore hari , kusandarkan dudukku .
" Adiba apa kamu mencintaiku ?".
Pertanyaan kamuflase , malas mulutku menjawab . Kalau benar semua kasak kusuk yang tersebar di kantor Syden , pasti aku minta cerai setelah melahirkan . Tidak ada yang namanya berselingkuh di keluargaku , rumah tangga abu Ummu , rumah tangga eama Hanifah dan eamm Hassan , rumah tangga Aisyah dan Alif.... Semuanya aman dari perselingkuhan . Aku pun tidak berselingkuh tapi kalau aku dapat bukti Syden berselingkuh pasti aku minta diceraikan . Menjadi janda bukan hal yang najis .
" Aku bertanya tapi kamu malah asyik melamun , Adiba sayang ".
" Kalau kamu sudah tahu jawabannya , tak perlu bertanya . Ok , syden ".
Syden menoleh kepadaku ..
" Nada suaramu selalu lembut dan pelan tapi kadang tajam kata-katamu , Adiba sayang ".
Kutarik tanganku dari remasan tangan Syden.
" Kalau nyetir itu dengan 2 tangan , jangan 1 tangan biar tidak tabrakan mobil , Syden ".
" Tidak apa-apa kalau tabrakan mobil , kita mati sekalian , Adiba sayang ".
" Pastinya Adiba dan si mungil yang mati , Syden tetap hidup. Ngebut saja sekalian , tabrak itu mobil di depan ".
Mobil berhenti di depan rumah , kulihat Aisyah bersama ibunya Syden dan Rowena duduk di halaman depan rumah.
" Assalam Mualaykum, semuanya ".
"Waalaykum salam , Adiba darimana saja ? . berangkat jam 8 pagi , pulang jam 4 sore . Syden apa kamu lupa kalau istrimu hamil harus istirahat ?. "
Aku diam saja mendengar bicaranya ibunya Syden .
" Adiba mandilah , sholat , istirahat . Jangan lupa minum vitamin dari dokter Laila ".
" Iya , bu ".
Aku masuk ke dalam rumah .. mandi , sholat , tidur .Seharian berpergian memang melelahkan . Terasa lapar , mau turun dari tempat tidur tapi ada tangan yang merengkuh kuat tubuhku ... Ternyata Syden tidur di sebelahku sambil merengkuh kuat tubuhku .
Pelan-pelan kulepaskan diri dari pelukan Syden, turun dari ranjang , keluar kamar langsung ke dapur. Lapar benar-benar lapar sekali , tanpa buang-buang waktu langsung kubuka kulkas. Alhamdulillah, ada makroni panggang dan fruit cake langsung saja kumasukkan ke microwave.
"Lagi-lagi kamu tinggalkan aku sendirian di ranjang, Adiba sayang".
Terkejut juga mendengar suara Syden, tanpa menoleh kujawab...
"Adiba lapar, mau makan ".
Syden mendekatiku sambil berbisik...
"Seharusnya kamu bangunkan aku biar aku yang siapkan makanan buatmu dan anak kita yang di perutkumu , Adiba sayang ".
Kubuka microwave,
"Adiba dan si mungil tidak mau merepotkan orang lain, Syden ".
Syden memelukku dari belakang..
" Aku suamimu, aku bukan orang lain, Adiba sayang ".
Yaa Alloh, romantisnya laki Russia ini selalu membuatku melambung tinggi dan bahagia sekali .. tapi sejak kudengar berita hangat yang berhembus di kantor Syden... Hilanglah bahagiaku . Apa benar Syden menghamili perempuan simpanannya ?. Kalimat pertanyaan itu yang selalu menari-nari di pikiranku. Kalau aku menanyakan kebenaran berita itu pasti Syden marah di kantornya tapi kalau aku diam tidak bertanya... Makin tenggelam aku dalam rasa curigaku.
" Kamu mau makan sambil melamun, Adiba sayang ?".
" Adiba mau makan , tolong lepaskan Adiba dari pelukanmu, Syden".
Syden masih saja memelukku erat. Aku benar-benar menahan emosiku dengan menekan nada suaraku serendah mungkin.
" Syden, sakit perut Adiba kalau Syden peluk terlalu erat. Kasihan si mungil di perut Adiba ikut tertekan kena tangan Syden".
Syden mencium pipiku sambil melepaskan pelukannya.
" Sombong , jual mahal sekali istriku yang hamil 5 bulan ini . Seharian ini menolak di peluk, di gandeng , di cium."
"Itulah resikonya kalau punya istri hamil, syden mau kopi hitam kurma dan kebab ?".
"Mau sekali , Adiba sayang ".
Aku berjalan keluar dapur membawa segelas es susu strawberry , sepiring berisi makroni panggang dan fruit cake..
" Bikin saja sendiri. Itu ada kopi hitam kurma dan kebab".
" Aku kira kamu buatkan untukku, Adiba".
Kuhentikan langkahku, menoleh ke Syden.
" Apa Syden lupa kalau Adiba hamil anak pertama ?. Adiba prioritaskan kehamilan ini daripada hal-hal yang tidak penting ".
Syden tertawa.
" Kamu benar-benar makin cantik tapi drastis judesmu, Adiba sayang. "
Tak kuhiraukan ucapan Syden, lebih baik aku fokus makan buat si mungil. Kuelus-elus perutku ...
" Lapar ya, nak. Kita makan tapi doa sebelum makan dulu ya. "
Kuucapkan doa sebelum makan sambil mengelus-elus perutku.
" Nanti selesai makan, ibu mau membaca Al Qur'an agar dirimu nyaman di rahim ibu, anakku ".
Syden menarik kursi , duduk disebelahku sambil memiringkan badannya dan bertopang dagu melihatku.
" Menyenangkan sekali melihat istriku yang sedang hamil lagi makan. Aku mau menyuapiku, Adiba sayang ".
Kuhentikan makanku ,bangkit dari kursi dan... Kubuang semua ke keranjang sampah. Kutinggalkan syden yang melongo melihatku
Bab.3
Kucium kedua pipi ibunya Syden.
" Selamat pagi, cantiknya ibu hari ini ".
Dengan senyum mengembang, ibunya Syden mengelus-elus perutku..
" Selamat pagi Adiba , selamat pagi juga buat cucunya ibu yang di dalam perutmu ini "
Aisyah menghampiriku , ikut mengelus-elus perutku.
" Tak sabar menunggu kelahiran keponakan baru ini.. 4 bulan lagi ".
Aku tertawa bahagia ,
" Kalian berdua tak tahu betapa bahagianya Adiba karena si mungil ini mulai beraksi denyutan, sepertinya si mungil bergaya mau nunjukkan dirinya makin bertumbuh besar di rahim Adiba ini ".
Syden keluar dari kamar tidur langsung ikut bergabung di ruang makan , mulai protesnya di pagi hari.
" Adiba, kamu perbolehkan ibuku dan Aisyah adikmu mengelus-elus perutmu tapi kamu melarangku mengelus-elus perutmu ".
Ibu dan Aisyah melongo mendengar ucapan Syden, langsung kujawab...
" Tangan Syden itu besar dan kasar kalau mengelus-elus perut Adiba, kasihan si mungil. ".
Syden menatapku tajam.
" Aku tidak kasar mengelus-elus perutmu , itu anakku yang di rahimmu , Adiba".
Ehmmmm ... Syden mulai marah tapi apa peduliku ?.
"Sstttt... Dilarang protes , Syden suamiku. Nanti si mungil berisik dengar protesnya Syden ".
Ibu dan Aisyah tertawa , kusodorkan secangkir kopi hitam kurma di hadapan Syden.
" Jangan terlalu suka bicara itu anakku yang di rahimmu karena semua orang tahu Adiba hamil denganmu bukan dengan laki lain, Syden".
Serempak .... Aisyah, syden dan ibunya diam menatapku . Aku rasa bicaraku barusan tidak ada apa-apanya dibandingkan isu santer di kantor Syden. Kugigit roti bakar sambil mengelus-elus perutku..
" Makanlah, nak. Ibu mau dirimu sehat dan bahagia sejak di rahim ibumu ini ".
Masih tak kuperdulikan tatapan mereka bertiga, apa peduliku . Syden tersenyum , tangannya terulur hendak mengelus-elus perutku langsung kutepis tangannya.
"Bukankah Adiba tidak mau Syden mengelus-elus perut Adiba ini ".
Sekejap mimik wajah Syden berubah marah.
"Apa maksudmu, Adiba ?. Mulai kemarin sikapmu aneh memusuhiku".
Dengan tenang mulutku menjawab...
" Syden, Adiba selalu menjaga si mungil dengan baik di rahim Adiba dan kenapa kamu bersuara keras ?. Apa tidak terpikirkan kalau si mungil bisa mendengar suara bentakanmu ?. Mana jiwa kebapakanmu ?".
Syden makin tajam menatapku, makin tenang sikapku dan dengan lirih kukatakan ..
" Ini kehamilan pertama Adiba. Dokter Laila pun menjelaskan adanya peningkatan hormon kehamilan di dalam tubuh Adiba yang menyebabkan Adiba bisa berubah secara fisik maupun emosional. Syden malah bersikap menantang Adiba bertengkar".
Ibunya Syden langsung bersuara ...
" Syden anakku, jangan kasari Adiba istrimu yang sedang hamil. Perempuan hamil itu sensitif menuruti kemauan janinnya karena ikatan batin antara ibu dan anak makin terjalin kuat. Syden sebagai ayah harus sabar karena sikap dan sifat janin mulai terbentuk dan dominan ".
Syden menoleh ke ibunya...
" Benarkah, bu ?".
Ibunya Syden tertawa sambil mengulurkan kedua tangannya, Syden pun tenggelam dalam pelukan kasih sayang ibunya.
" Dulu ibu hamil kamu itu ibu marah sekali kalau ayahmu dekati ibu dan tanpa ibu sadari sikap ibu menjadi keras tapi setelah ibu melahirkanmu, ibu kembali ke sikap asli ibu ".
"Benarkah, Bu ?".
"Ya, Syden anakku. Ayahmu sendiri bicara sikap ibu selama hamil itu menunjukkan watak dan sikap janin yang di rahim ibu. Lihat sekarang kamu berwatak keras ".
Ibunya Syden tertawa.
"Syden anakku, sudah kentara sekali watak dan sikap anak kalian itu keras dan rewel seperti watakmu. Masih kamu marahi Adiba istrimu yang susah payah hamil ? ".
Syden tertawa..
"Aku baru tahu, bu. "
" Nanti kamu pasti lebih tertawa kalau melihat anak perempuan kecil wataknya mirip watakmu, syden anakku ".
Syden makin tertawa terbahak-bahak..
"Pasti lucu sekali ya, Bu. ".
Dengan santai kujawab..
" Bu, syden itu suka bicara Adiba sekarang hamil ini makin cantik dan judes , nanti kalau anak ini lahir pasti cantik dan judes ya, Bu ".
Ibu tertawa sambil mengangguk, syden langsung menghampiriku dan berbisik...
" Kamu dan anakku ini sama-sama judes dan cantik, Adiba sayang".
Langsung kugigit lengan Syden..
" Jangan elus- elus- perut Adiba ?. Enak kan lengannya digigit , mau lagi ?".
Syden tertawa keras.
" Bu, Adiba gigit lenganku. "
Ibu dan Aisyah tertawa .
Ibunya Syden langsung menunjuk jam dinding..
"Sudah jam berapa belum ke kantor, syden anakku ?".
" Aku malas ke kantor, mau dekat Adiba , Bu".
"Kamu hanya mengganggu Adiba istrimu yang sedang hamil, kasihan istrimu. Sudah pergilah ke kantor sekarang ".
Syden tertawa keras, menunjukku...
" Lihat bu, judesnya tatapan Adiba hanya padaku saja, tapi cantik ... Pipinya merah ".
" Sudahlah Syden anakku, jangan ganggu Adiba istrimu ".
Syden melangkah masuk ke kamar mengambil laptopnya , keluar kamar lalu mencium kening ibunya.
" Aku kerja dulu, bu . Assalam Mualaykum".
"Waalaykum salam , anakku ".
Kubawakan bekal kopi hitam kurma di termos kecil dan kebab irisan daging unta .
" Adiba bawakan bekal tapi kalau Syden tak suka, buang saja ke sampah" .
Syden langsung tersenyum memandangku..
" Aku sekarang tahu kamu dan anak kita itu sama-sama judes dan cantik. Aku tak marah lagi, Adiba ".
Kuhentikan langkahku. Yaa Alloh, aku mau tahu apa benar desas-desus Syden suamiku menghamili perempuan simpanannya yang sedang hamil seperti aku istri sahnya Syden. Aku tidak cemburu tapi aku hanya ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya.
" Kenapa kamu melamun , Adiba ?.
"Tidak ada yang kulamunkan , Syden ".
Kuantar Syden sampai masuk mobilnya, kucium tangan kanannya . Syden berusaha mencium keningku tapi aku mundur.
"Adiba kenapa kamu menolak aku mencium keningmu ?".
"Kamu sudah terlambat ke kantor. Bawalah ini bekalmu , Syden".
Syden menatapku tajam.
"Aku mencintaimu, Adiba. Assalam Mualaykum".
"Waalaykum salam".
Syden makin tajam menatapku. Mobil Syden berlalu, kulihat orang di seberang jalan memakai jaket dan topi menutupi wajahnya. Orang itu mengeluarkan kertas dari saku jaketnya , membuka lebar kertas yang ditaruh di dadanya, kubaca tulisan dengan huruf-huruf besar .
WAKTUNYA KITA BERMAIN
Masya Alloh, seluruh tubuhku gemetar ketakutan, entah kenapa kakiku susah kuajak melangkah masuk ke dalam rumah, kuamati dengan seksama orang misterius yang berdiri di seberang jalan itu perutnya seperti perutku. Celana panjang dan jaket yang dikenakannya tak bisa menutupi .. orang itu hamil. Selama ini aku mengira orang yang menerorku itu orang laki ternyata peneror itu orang perempuan hamil.
"Adiba cantik .... Kenapa masih di luar ?".
Suara teriakan ibunya Syden membuat orang yang menerorku cepat-cepat masuk kedalam mobil yang di parkir di dekatnya . Astagfirullah Al adziim ... Mobil itu. Aku ingat itu mobil yang menguntit mobil Syden waktu bulan lalu Syden mengajakku ke mall.
"Ukthy Adiba , ayo masuk...jangan melamun di situ. Waktunya minum vitamin dari dokter Laila"
"Ya, Aisyah".
Kulihat Aisyah bersama dengan ibunya Syden sudah ada di depan pintu depan. Aku melangkah masuk bersama mereka berdua ke dalam rumah. Cepat-cepat kukunci pintu ruang tamu.