"Ibuk, Ibuk, jangan tinggalin Sasa!" jerit Marisa, bocah berusia empat tahun di gendongan ayahnya.
Hati Maryati terasa remuk mendengar tangisan Marisa dan tatapan nanar sang suami. Tubuh gadis cilik itu terus meronta. Kedua tangan Marisa menggapai-gapai kaca jendela bus yang akan membawa Maryati dan rombongan ke Surabaya.
Ya, malam itu, Maryati bersama rombongan dari sebuah PJTKI, harus berangkat ke Surabaya. Bersama dua belas calon tenaga kerja wanita, mereka menuju ke Bandara Juanda.
Marisa terus menangis. Sementara ayah gadis kecil itu berusaha menenangkan sembari sesekali mengusap air mata di kulit pipinya yang kecoklatan.
Begitu juga, air mata Maryati membanjiri kedua belah pipi. Sayup terdengar suara Marisa yang masih menangis, ketika bus mulai bergerak pelan meninggalkan tempat parkir PJTKI. Maryati dan mungkin juga teman-teman senasib merasakan lara yang sama. Berat berpisah dengan anak, suami, dan keluarga di tanah air. Apalagi Maryati meninggalkan Marisa, putri semata wayangnya yang baru berusia empat tahun.
"Kita harus berani berkorban, Mbak. Ditungguin saja juga ndak cukup." Begitu ujar teman sebangku dalam bus, yang sudah beberapa tahun bekerja di Taiwan.
Wanita berusia mendekati paruh baya itu, antusias menceritakan tentang kesuksesannya menyekolahkan anak-anaknya sampai bangku kuliah. Bahkan ada salah satu anaknya yang menjadi anggota kepolisian. Sangat membanggakan tentunya.
Maryati mengangguk sembari berharap. "Nggih, Mbak. InshaAllah, saya bisa seperti Njenengan," ucapnya menanggapi.
Terbayang di pelupuk mata Maryati, kelak dia pulang dari Taiwan, rumahnya sudah bagus, punya usaha, dan berkecukupan materi. Memang dia harus berkorban untuk sementara waktu. Maryati tidak bisa berharap banyak pada gaji suaminya sebagai pesuruh di sekolah dasar, yang hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Maka dari itu, tekad Maryati sudah bulat meskipun harus berpisah dengan putrinya.
**
Prang!
"Apa lagi yang kamu pecahkan, Ria?" tanya seorang wanita cantik sembari mendekat.
Wanita itu melongo ketika melihat cangkir porselen mahal merek Italia itu pecah berantakan. Maryati pucat pasi dengan wajah menunduk dalam. Dia memilin jari-jarinya, kemudian bergerak mencari vacum cleaner.
"Ambil dulu pecahan kacanya, kalau semua masuk mesin, nanti mesinnya rusak! Cepat!" seru wanita itu dengan nada tinggi.
Maryati mengangguk kaku, kemudian mengambil kantong plastik dan memunguti pecahan kaca tersebut.
"Tue pu ci, Thai-thai," (maaf, Nyonya) ucap Maryati sangat lirih.
Wanita yang berdiri di sampingnya itu menggeleng-gelengkan kepala sembari berkacak pinggang. "Pekerjaan kamu bagus sebenarnya, tapi ceroboh, Ria. Saya tidak mau jika kamu melakukan kecerobohan pada ibu saya! Paham?" ucapnya masih dengan nada tinggi.
Maryati mengangguk. Dia melirik sekilas pada bosnya yang melangkah menjauh. Maryati menarik napas lega. Namun, beberapa detik kemudian, sang bos membalikkan langkah.
"Oh, ya, Ria. Saya akan ke Paris selama seminggu. Kamu jaga Ama baik-baik. Sebelum berangkat libur, kamu tunggu adikku datang dulu!" ucap wanita dengan dandanan elegan itu.
Maryati kembali mengangguk pelan. "Baik, Nyonya," jawabnya.
Setelah selesai membersihkan pecahan gelas, Maryati kembali ke kamar Nenek. Wanita itu memiringkan tubuh Nenek dan menepuk punggungnya. Selanjutnya, memindahkan Nenek dari brankar ke kursi roda dengan hati-hati.
Tring!
Handphone berdenting. Sambil memijat kaki Nenek dengan sebelah tangan, Maryati me-scroll sosial media. Dia sempat mengomentari unggahan foto teman satu PT di akun tersebut.
Bersamaan dengan itu, sebuah pesan masuk dari aplikasi hijau.
[ "Marya, hari Minggu jadi libur, kan? Sudah dapat izin dari bos?"] tanya Lina.
Maryati tersenyum sendiri lalu membalas pesan.
[ "Jadi dong, Mak Lampir ke Paris seminggu. Aku bilang sama dia, kalau nemuin suami yang baru datang dari Indo,"] balasnya sembari tersenyum sumringah.
Maryati hanya senyum-senyum ketika Lina kembali memberondongnya dengan godaan. Pipinya memanas mengingat nama Agung, laki-laki yang beberapa bulan ini menjadi tempatnya berkeluh kesah. Agung sangat pengertian.
Laki-laki yang bekerja di sebuah pabrik di kota Taichung, Taiwan itu, selalu menghiburnya ketika dia mengalami kesulitan. Tidak bosan, Agung memotivasi Maryati ketika wanita itu merindukan Marisa. Pertemuan Maryati dan Agung tanpa sengaja, ketika mereka sama-sama melakukan medical check-up rutin, enam bulan lalu.
**
"Mas, sudah. Jangan minum lagi."
Agung mendengus tidak suka. Laki-laki itu berusaha meraih kembali sisa minuman yang berada di dalam botol. Maryati menggeleng tegas. Dia memegangi bahu laki-laki itu.
"Kalau kamu masih minum, aku pulang sekarang!" ancam wanita itu.
Maryati segera melepaskan tangannya dari bahu Agung. Agung tidak tinggal diam. Dia segera menarik tubuh Maryati dan memeluknya.
"Jangan pergi, Ya, jangan pergi. Iya, sudah, aku nggak akan minum lagi," rayu laki-laki itu.
Ganti Maryati yang mendengus. "Awas, kalau kebanyakan minum. Kamu itu hari Senin kerja, Mas. Kebanyakan minum nanti nggak bisa kerja," sungutnya.
Agung mengangguk. Dia merangkul bahu Maryati, kemudian mereka berdua keluar dari ruangan yang masih ramai dengan hingar bingar suara karaoke itu.
"Mas, ngapain kita ke sini?" tanya Maryati sembari mendongak menatap tulisan "hotel" di atas mereka.
Agung tersenyum dan mengusap kepala wanita di sampingnya itu. "Memangnya, kamu mau tidur di mana, Ya? Besok kan masih libur. Kita tidur dulu di situ, besok siang kita jalan-jalan. Katanya kamu mau ke jembatan kaca," ucap laki-laki itu pelan.
Maryati tersenyum dan mengangguk. Dia melingkarkan tangan di lengan Agung dan mengikuti laki-laki itu menuju ke resepsionis. Kamar hotel paling murah menjadi pilihan keduanya.
Maryati memindai seluruh penjuru kamar hotel. Hm, tidaklah buruk untuk harga 700 NT, pikirnya. Wanita itu merebahkan tubuhnya yang penat ke tempat tidur.
Selama satu bulan penuh dia bekerja sebagai perawat lansia. Untuk jangka waktu tiga tahun kontrak pertama. Tidak jarang, Maryati harus begadang semalam suntuk karena Ama (Nenek) tidak mau tidur. Terkadang pula, Maryati menghabiskan waktunya di rumah sakit ketika Ama dirawat inap. Tentu sangat melelahkan bagi wanita itu. Maryati memejamkan mata menikmati "kebebasannya".
Maryati mengerjap pelan ketika Agung telah memeluknya. Laki-laki itu hanya mengenakan handuk hotel. Rambutnya yang dicat kepirangan sedikit basah.
"Mas, aku mandi dulu," ucap Maryati lirih sambil mengusap pipi mulus Agung.
Agung menggeleng pelan. "Nggak usah Ya, aku mandi karena tadi minum. Ayolah, aku sudah nggak sabar nungguin kamu," bisiknya mulai merayu.
Tangan Agung mengusap rambut Maryati dan semakin bergerak turun. Tidak hanya itu, Agung mulai menciumi Maryati. Wanita berwajah cantik yang menyita hari-harinya.
Di bawahnya Maryati tidak menolak. Dia membalas apa yang dilakukan Agung sehingga keduanya sama-sama tanpa busana. Malam itu, kedua insan di mabuk cinta itu semakin larut dalam hubungan terlarang.
Nafsu telah mengalahkan logika dan iman. Maryati lupa akan fitrahnya sebagai seorang istri. Dia lupa akan keberadaan Irwan dan Marisa yang setia menunggu hanya untuk sekadar membalas pesan singkat.
Yang ada di mata Maryati sekarang hanyalah sosok Agung. Laki-laki yang datang menawarkan cinta dan kehangatan di tengah kesepian.
***
Indonesia….
Di sebuah rumah bangunan sederhana yang terbuat dari batu bata. Irwan tampak gelisah. Berkali-kali dia menyentuh dahi sang putri.
Irwan mengambil termometer dan menempelkan di ketiak Marisa. Gadis kecil itu meringkuk memeluk boneka lusuh kesayangannya. Bibirnya kering, kedua matanya terpejam rapat.
"Ayah … Ayah…" Marisa terus mengigau.
Irwan kembali mengusap dahi Marisa, lalu mengambil termometer. Suhu badan Marisa lumayan tinggi.
"Astaghfirullah, Nak. Badanmu panas banget, Nduk."
Laki-laki itu bangkit dan mondar-mandir di kamar sederhana itu. Dia melirik jam dinding. Sudah lewat tengah malam. Di tempat tidur, Marisa kembali mengigau. Kali ini memanggil nama ibunya.
"Ayah, Ibu kapan pulang?" tanyanya parau.
"Sabar ya, Nak. Ibu cari duit buat beliin Marisa boneka barbie dan rumahnya. Ayo, kita ke rumah Bu Bidan!"
Irwan segera menggendong gadis kecilnya. Tepat di depan pintu, dia bertemu Sumi, ibunya. Sumi menatap heran pada anak dan cucunya itu.
"Lho, malam-malam mau ke mana, Wan?" tanyanya bingung.
"Sasa panas, Bu. Aku harus ke rumah Bu Arum!" jawabnya sembari mengeratkan kain jarik untuk menggendong Marisa.
Sumi mendekat dan mengusap kepala cucunya itu. "Panas sekali, Wan. Pantas saja tadi sore dia nggak mau maem. Kamu sudah kasih tahu Marya?" tanya perempuan paruh baya itu.
Irwan menggeleng lemah. Sudah dua hari ini dirinya tidak bisa menghubungi Maryati. Terakhir Maryati mengirim pesan singkat, mengabarkan jika dia berada di Paris ikut bosnya.
"Mar, nggak bisa ditelepon, Bu. Kemarin lusa dia bilang ikut bosnya ke Paris ke rumah anaknya Nenek, gitu katanya," jawab laki-laki berwajah manis itu.
Sumi mengangguk samar. Dia bisa memaklumi, menantunya itu pasti sibuk karena mengurus lansia. Apalagi mereka berada jauh dari Taiwan.
"Yowes, mungkin memang nggak bisa buka HP di sana, Wan. Ayo, Ibuk ikut ke rumah Bu Arum. Tapi enak nggak yo, Le?" tanya Sumi sedikit ragu.
"Enak nggak enak, Bu. Marisa harus dapat obat. Aku takut, Bu."
Sumi kembali mengangguk. Dia mengusap pelan punggung tegap sang anak. Sumi menatap pada Marisa yang menempelkan pipi di dada ayahnya. Sekali lagi, Sumi mengusap kepala cucunya dengan tatapan sedih.
*
"Ah, Mas, sudah. Aku capek," keluh Maryati memelas.
Kedua lengannya melingkari bahu Agung. Agung kembali menciumi wajah sang pujaan hati. Sementara tangannya kembali bergerilya di tubuh polos Maryati.
Tidak ada pilihan bagi Maryati, dia kembali melayani Agung. Wanita itu berkali-kali memekik akan permainan Agung. Malam ini mereka ingin menghabiskan waktu bersama di atas tempat tidur kamar hotel sederhana itu.
Setelah puas, Agung menjatuhkan tubuh di samping Maryati. Lengan kekarnya memeluk erat tubuh sang kekasih.
"Terima kasih, ya, Sayang," ucap Agung sambil mengusap pipi Maryati.
"Mas nggak boleh ya, begini sama yang lain!" ucap Maryati manja.
Agung terkekeh pelan. "Ya, nggaklah. Aku ingin nanti setelah pulang kita nikah, Ya. Kamu cepat urus perceraianmu. Jangan mau digantung terus," ucapnya.
Maryati mengangguk samar. Wanita itu memejamkan mata di dada lembab Agung. Kedua matanya terpejam rapat. Bayangan wajah Irwan dengan senyumnya yang manis, sifatnya yang sabar dan kelucuan Marisa mengobrak-abrik hati Maryati.
"Maafkan aku, Mas Wan," ucap Maryati dalam hati. "Aku mencintai Mas Agung, tapi aku juga nggak tega meninggalkan kamu, Mas," lanjutnya.
Maryati mendongak menatap Agung. Dia melingkarkan tangannya di bahu Agung, memeluk laki-laki yang telah tertidur karena kelelahan itu.
Wajah Agung memang bersih dan terawat, berbeda dengan Irwan yang sering terkena sinar matahari. Agung sudah empat tahun bekerja di Taiwan. Laki-laki itu sering mengutarakan keinginannya menikahi Maryati setelah pulang ke Indonesia dua tahun lagi.
Maryati tersenyum. Membayangkan jika dirinya menikah dengan Agung. Tentu saja dia harus meminta cerai dengan Irwan terlebih dahulu. Namun, membayangkan wajah kecewa Irwan, Maryati menjadi dilema.
Selama satu tahun bekerja di Taiwan, Maryati sering mengirimkan uang untuk Marisa. Namun, dia sering menghindari komunikasi dengan Irwan menggunakan banyak alasan.
*
"Mas Irwan, tolong hari ini ambilkan pupuk organik, ya," pinta seorang guru pada Irwan yang tengah menyiapkan teh.
"Nggih, Pak. Pupuk sama apa?" tanya Irwan.
Pak Andi, guru olahraga itu tampak mengecek catatan di kertas. Sekolah memang tengah mengadakan aksi tanam pohon sebagai kegiatan anak-anak di hari Sabtu setelah olahraga. Ini adalah bagian dari program outdoor learning supaya anak-anak tidak bosan dengan pelajaran di dalam kelas.
Pak Andi mendapatkan tugas tambahan mengurus dan membimbing anak-anak didiknya, sesuai dengan keputusan rapat sekolah. Rencananya, Pak Andi akan dibantu dua orang guru lainnya.
"Em, enaknya ditambah bunga apa ya, Mas? Depan kantor itu kan rindang dan rumputnya nggak subur. Kata Pak Kepsek, rumputnya bisa diganti dengan bunga. Apa Mas Irwan punya ide?" tanya Pak Andi pada Irwan.
Irwan mengangguk-angguk. Laki-laki itu memang memiliki hobi berkebun. Irwan paham betul tentang beberapa jenis tanaman dan bunga sesuai fungsinya.
"Kalau menurut saya, sih, ditanami bunga nyonya benges saja, Pak. Sama bunga menur. Itu bunganya awet, pohonnya juga nggak mati-mati malah terus berkembang," jelas Irwan sambil membuka aplikasi Mbah Google untuk menunjukkan pada Pak Andi, tanaman yang dimaksud.
Pak Andi mengangguk-angguk setuju. Dia hanya terkekeh mengingat nama unik yang disebutkan oleh Irwan. Bunga fuschia yang dimaksud bunga nyonya benges.
Setelah selesai menyiapkan kopi dan teh untuk para guru, Irwan melajukan motor sederhananya ke toko pertanian milik Pak Haji Dahlan.
"Assalamualaikum, Mas. Minta pupuk organik dua karung, sama bibit bunga, ada?" tanya laki-laki itu pada pegawai toko.
"Beli, Mas, jangan minta. Yang boleh diminta itu Mbak Ajeng," canda pegawai itu sembari melirik ke dalam.
"Huust, Mbak Ajeng masih kuliah. Kalau kamu gombalin, nanti dipecat Pak Haji, kapok kamu!" sahut Irwan.
Pegawai toko itu tertawa. Dia melirik menggoda ke arah Irwan. "Bukan buat aku, Mas. Tapi buat Mas Irwan," bisiknya.
"Ngawur kamu. Aku sudah punya istri. Ya, sudah, cepat ambilkan!"
"Istrinya kan pergi, di sana nggak tentu setia, Mas. Kebanyakan TKW itu di sini punya suami, di sana punya suami lho, Mas. Ingat, nggak? Banyak kasus yang suami di luar, istri di rumah, sama-sama selingkuh terus rumah bagus harga ratusan juta dirobohin buldoser?"
Irwan terdiam. Raut wajah laki-laki itu mendadak berubah. Ah, tidak! Mungkin orang lain banyak yang seperti itu. Tetapi tidak untuk Maryati, istrinya. Dia istri yang setia dan baik.
Ucapan pegawai Pak Haji Dahlan menyita pikiran Irwan selama perjalanan pulang dari toko. Irwan terus-menerus meyakinkan diri bahwa tidak semua TKW seperti yang dikatakan pegawai toko tadi.
"Maaf, Pak. Bibit bunganya kosong. Mau diganti bunga apa, ya?" tanya Irwan sambil menyodorkan kertas bon.
"Di rumah sampeyan nggak ada, Mas, bunga itu?" tanya Bu Guru Lili.
"A-ada, Bu. Tapi bukan bibit seperti di toko. Sudah tumbuh. Beberapa pot!" jawab Irwan pelan.
"Nah, beli saja punya kamu, Mas. Nanti, Mas Irwan bisa kembangin lagi. Bagaimana? Nanti, tolong Mas Irwan yang tanamin, sekalian ajari anak-anak!" cetus Pak Kepsek yang langsung diangguki oleh guru lainnya.
Irwan terdiam tidak percaya. Dia baru menyadari, bunga-bunga yang dia kembang-biakkan dan rawat itu bisa menghasilkan uang jajan untuk Marisa.
Irwan kembali melajukan motornya ke rumah hendak mengambil beberapa pot bunga. Namun, sebelum itu, dia meminta izin untuk menjemput Marisa di Sekolah Taman Kanak-Kanak.
"Nggak nyangka, kalau yang dulu polos, begitu bau uang dollar jadi berubah."
"Hm, wes biasa, Yu. Waktu aku jadi TKW juga sering lihat begitu, banyak kok yang berubah. Di Indonesia alim, kalem, di sana kalau lagi libur kayak penyanyi dangdut konser penampilannya. Ya, meskipun masih banyak yang bener!"
Gunjingan para ibu-ibu yang menunggu anaknya di depan gerbang sekolah TK itu, langsung terhenti begitu melihat Irwan. Mereka berbisik-bisik sembari menatap miris pada laki-laki muda itu.
"Mas Irwan, apa sudah lihat foto istrimu di Facebook?" tanya salah satu ibu keceplosan.
***
Irwan mengernyit. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh salah satu ibu itu. Irwan tidak pernah menggunakan sosial media. Laki-laki itu hanya memiliki aplikasi pesan singkat untuk berkomunikasi dengan istri dan para guru.
"Ndak punya Facebook, Bu. Ndak suka," jawab Irwan sambil mendekat.
"Ini coba lihat, Mas. Ini istrimu, kan?" tanya ibu itu sembari menyodorkan handphone dengan layar masih menyala.
Dengan ragu, Irwan mengambil benda pipih merek China itu. Irwan mengamati foto-foto dalam unggahan Facebook. Maryati, istrinya, berfoto bersama beberapa teman. Akun itu juga menge-tag semua akun orang yang berada di foto itu.
Dalam foto itu, tiga orang wanita dan tiga orang laki-laki. Pertama hanya foto makan biasa di warung Indonesia. Lalu, foto-foto mereka berlibur di jembatan kaca. Yang lebih mencengangkan, Maryati selalu dekat dengan seorang laki-laki.
Irwan sedikit menyingkir setelah meminta izin meminjam handphone ibu tadi. Irwan meng-klik beberapa akun yang ditag.
Sampailah pada akun dengan nama samaran. Dada Irwan terasa panas dan nyeri melihat unggahan di akun tersebut. Maryati, istrinya, bergandengan tangan, saling merangkul mesra dengan laki-laki berambut kepirangan.
["Kangen kamu, sampai ketemu bulan depan, ya, Sayangnya aku."]
Itu adalah bunyi caption unggahan foto terakhir istrinya. Irwan menarik napas panjang, lalu menghembuskan pelan. Hatinya terasa begitu sakit. Maryati yang dia rindukan, ternyata tidak ikut bosnya ke Paris. Akan tetapi, berlibur bersama teman-temannya, bahkan berfoto mesra dengan laki-laki lain.
"Terima kasih, Bu. Saya pulang dulu, Sasa sudah keluar," ucap Irwan sembari mengembalikan handphone.
Sepanjang perjalanan dari sekolah, Irwan terus-menerus tidak ingin mempercayai. Namun, foto-foto dan kata-kata di komentar keduanya telah membuktikan, kini istrinya bukanlah Maryati yang dulu.
Marisa berceloteh polos. Dia bercerita banyak hal tentang teman-teman sekolahnya yang memiliki boneka barbie baru. Irwan mengusap kepala putrinya dengan hati teremas sakit.
"Ayah, kok bunganya ditaruh karung? Mau dibuang, ya?" tanya Marisa polos sambil memperhatikan sang ayah.
"Ndak, Sayang. Alhamdulillah, lima pot bunga nyonya benges dan empat pot bunga menur, dibeli Pak Kepala Sekolah."
"Oooh, terus, kita nggak punya bunga lagi dong, Yah?"
Irwan menghentikan aktivitas. Dia mengulurkan tangan mengusap kepala putrinya dan tersenyum samar.
"Nanti Ayah beli pot lagi, terus Ayah kembang-biakkan lagi itu. Sama beli bibit bunga lain. Kamu mau ikut Ayah apa di rumah Mas Fadil?" tanya Irwan.
Mata bulat Marissa langsung berbinar. "Mau ikut Ayah saja. Mas Fadil mainannya mobilan, Sasa nggak dikasih pinjam!" jawabnya polos.
Irwan kembali tersenyum dan menggendong putrinya. Dia cium kedua belah pipi gembil bocah berwajah cantik itu. Air mata Irwan mengambang. Dibohongi istri rasanya menyayat hati. Namun, lebih menyayat melihat putrinya tidak bisa memiliki mainan seperti teman-temannya.
Irwan tidak langsung ke toko Pak Haji Dahlan. Laki-laki itu justru membelokkan motornya ke toko mainan. Dia bersyukur, mendapatkan uang ganti dari 9 pot bunga. Dengan uang itu, Irwan bisa membeli boneka barbie untuk Marisa dan membeli sedikit bibit bunga.
*
Maryati membuka handphone dan membaca sederet pesan dari Irwan, suaminya. Dada Maryati berdesir hebat. Tidak hanya pesan dari laki-laki itu, tetapi foto-fotonya bersama Agung juga dikirim oleh Irwan.
Maryati tahu betul, suaminya itu tidak menyukai sosial media. Maryati tidak menyangka jika foto-foto yang diunggah Lina ternyata bisa menyebar sampai pada suaminya.
["Jawab yang jujur, Dik. Benar kan itu kamu? Lalu siapa laki-laki itu?"]
["Kenapa kamu harus berbohong, Mar. Kamu tahu, Sasa badannya panas, mengigau semalaman, manggil kamu. Aku pikir kamu memang di Paris nggak bisa buka handphone. Tapi kamu berlibur bersama teman-teman kamu dan laki-laki itu."]
Kalimat-kalimat cecaran dari Irwan, membuat dada Maryati semakin sesak. Dia menangis tersedu. Tetapi dia tidak bisa mundur lagi. Hubungannya dengan Agung telah terlampau jauh. Dia juga mencintai laki-laki itu.
["Itu teman biasa, Mas. Kami memang berlibur, itu foto bulan kemarin, Mas. Kami nggak ada hubungan apa-apa."]
Maryati berpindah tempat duduk. Dia melirik Ama yang tidur pulas di atas brankar. Dengan air mata mengalir dia berusaha menjelaskan pada Irwan.
"Aku memang nggak gaul, Dik. Aku juga nggak modis seperti teman-teman kamu di sana. Aku sudah melarang kamu pergi, tapi kamu bersikeras. Ini yang aku khawatirkan. Kamu nggak bisa jaga dirimu!" ucap Irwan kecewa dari seberang sana.
Mendengar ucapan Irwan, Maryati menjadi emosi. "Oh, jadi kalau aku berdiam di rumah, ngurus Sasa, semua akan cukup, Mas? Kamu bisa membelikan aku baju-baju seperti yang aku pakai sekarang? Kamu bisa membelikan aku bedak dan lipstik bermerek? Nggak, kan? Bukannya berterima kasih, malah nyalahin. Ngaca dong, Mas, jadi suami!" ucapnya lantang.
Irwan memejamkan mata. Tidak pernah sebelumnya Maryati berkata seperti itu. Apalagi mengungkit perihal nafkah. Meskipun gajinya kecil, Irwan selalu memberikan sebagian besar uang gaji itu untuk Maryati.
Irwan juga menabung sedikit demi sedikit. Bahkan jika ada yang menyuruhnya bekerja di waktu luar jam sekolah, dia tidak pernah menolaknya.
"Iya, Dik, iya. Maaf, aku nggak bisa mencukupi kebutuhan kamu seperti yang kamu inginkan, Mar. Aku mohon, kamu ingatlah sama Sasa. Seringlah berkomunikasi dengannya, ya. Ya, sudah, kamu istirahat, sudah malam. Jaga kesehatan kamu, Dik. Kami tunggu kamu. Kami sayang kam–"
"Hm, iya!"
Klik!
Maryati tidak ingin mendengar lagi ucapan memelas Irwan. Dia terdiam sembari memeluk bantal. Ada rasa sesal dan kesal. Kesal karena Irwan tidak bisa mencukupi kebutuhan yang dia inginkan. Sesal karena dia dipertemukan dengan laki-laki yang menurutnya pasif seperti Riza Irwandi sebagai jodohnya.
"Kenapa kita nggak dipertemukan lebih cepat sih, Mas?" protes Maryati sembari menatap foto Agung di galeri handphone.
Kini, galeri handphone Maryati telah banyak berisi foto-foto dirinya dengan Agung. Dia hanya menyisakan foto Marisa. Bahkan Maryati telah menghapus foto-foto Irwan di situ.
Maryati gelisah, dia menatap jam dinding yang sudah merangkak larut. Wanita itu mencoba mengetik pesan singkat pada Lina, temannya berkeluh kesah.
Pesan masuk dari Lina.
["Kalau menurutku sih, Ya, daripada kamu tersiksa terus, lebih baik minta kejelasan sama Agung. Kalau sudah nggak ada rasa sama suami juga ngapain kamu bertahan, nyiksa diri itu namanya. Kita kan perempuan bisa cari uang, Marya!"]
["Kalau Mas Agung sih, berkali-kali sudah bilang ngajak nikah, Lin. Tapi aku takut kalau Sasa akan benci aku, Lin,"] balas Maryati kembali galau.
["Ya, sudah. Sampai kapan kamu akan nyiksa diri. Kalau Agung bilang gitu, ya, mending sama Agung lah, dia di sini sudah empat tahun, Ya. Pasti sudah mapan. Kamu mau sampai kapan kerja terus? Soal Sasa, nanti kan bisa dibicarakan. Anak itu akan tetap nyari ibunya, kok. Buktinya anakku. Dulu nggak mau ikut aku. Giliran aku sudah banyak uang, dikit-dikit nelpon. Gitu deh, anak."]
Lina terus mengompori. Maryati mengangguk-angguk sendiri. Iya, benar. Dia sekarang bisa membeli apa yang dia mau, tidak seperti dulu. Jadi, untuk apa menyiksa diri?
* * *