Suara alarm berbunyi. Di kamar yang cukup luas, bernuansa ungu seorang gadis menggeliat di balik selimutnya yang berwarna senada dengan kamar serta furniture lainnya. Semua serba ungu.
Tangan putih bersihnya berusaha meraih jam weker yang terletak di atas nakas tepat di samping tempat tidurnya,mematikan alarm tersebut. Mengumpulkan separuh nyawanya, mengucek kedua matanya agar penglihatannya bisa kembali normal.
Tak hanya itu, gadis itu kemudian mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi seperti yang biasa ia lakukan sebelum sebelumnya. Itulah kebiasaan wanita itu ketika bangun tidur.
Tanpa mengeluarkan suara, gadis itu beranjak ke bathroom, membersihkan diri kemudian mengambil air wudhu untuk menjalankan ibadah.
Selepas kegiatannya, ia melangkahkan kaki keluar kamar, menuruni anak tangga, menuju ke halaman rumahnya yang cukup luas. Berjalan pagi sambil menghirup udara sejuk nan segar.
"Kimmy!"
Ya, gadis itu bernama Kimmy Jordan. Seorang gadis cantik berusia 22thn, sedang menempuh pendidikan ilmu kedokteran. Setelah mendapatkan gelar S.Ked, ia masih harus menjalankan program pendidikan profesi atau koas.
Saat namanya disebut, gadis itu berbalik ke sumber suara. Suara yang sangat merdu di telinga.
"Iya ma. Ada apa?" Berjalan menuju ke sang mama.
"Bantuin mama dulu sayang, mindahin pot itu." Kiran adalah salah satu wanita gemar memelihara bunga, terutama bunga mawar dan bunga aglonema.
"Ma, perasaan baru tiga hari yang lalu para pot itu dipindahkan. Kenapa pindah tempat lagi?" Kimmy tak habis pikir dengan aktivitas yang menurutnya sangat membosankan itu.
"Disana pencahayaannya nggak bagus Kimkim sayang. Jadi harus pindah tempat lagi, biar bunganya sehat. Udah sini cepat, jangan banyak tanya." Tanpa memberikan waktu Kimmy berbicara, Kiran menarik tangan putrinya.
"Pencahayaan? Kayak mau ambil gambar aja ma," sahut wanita beriris hitam pekat itu.
"Jangan banyak komentar deh! Cepat bantu mama angkat."
Dengan mulut berkomat kamit Kimmy memindahkan satu persatu pot yang cukup besar dengan jumlah yang tak sedikit.
Saat semuanya telah selesai Kimmy menepuk kedua tangannya yang cukup berdebu. "Udah Ma. Kimmy harus mandi. Mau ke Rs nih!"
"Oke. Pergi mandi sana nanti kamu telat lagi." Mengibaskan kedua tangannya tanpa melihat putrinya.
Sebelum melarikan diri, Kimmy mencium pipi Kiran dan mencubit pipi Kiran hingga membuat wanita paruh baya itu berteriak. "Dasar bocah!" Namun ia tetap tersenyum.
*****
"Kimmy, sarapan dulu sayang!" teriak Kiran memanggil putri kesayanganya.
Dengan langkah terburu-buru Kimmy menuruni anak tangga, ransel yang ukurannya cukup kecil melekat di punggungnya.
"Pagi Pa, pagi Ma." Sapanya tersenyum.
"Pagi anaknya Papi. Are you okay?" Bukan tanpa tujuan pertanyaan itu terlontar dari bibir Jordan selaku ayah yang juga berprofesi sama dengan Kimmy, sebab semalam mereka sempat bersitegang.
"Hmm, i'am okay Pi." Meraih roti tawar lalu mengolesnya dengan selai coklat seperti biasanya.
"Baguslah! Habiskan sarapanmu."
Kimmy mengangguk tanpa menjawab, lalu meneguk susu coklat hangat yang di depannya.
Saat semuanya selesai Kimmy berpamitan kepada kedua orang tuanya lalu melangkah ke garasi mengambil mobil putihnya.
.
"Pagi Kim!" sapa teman sejawatnya saat mereka berpapasan di parkiran Rumah sakit.
"Hey, pagi Inggit."
"Laporan sudah selesai?" Kimmy mensejajarkan langkahnya dengan gadis cantik bak model itu, masuk Rs menuju ke ruangan mereka.
"Sedikit lagi!"
"Sama, aku juga."
Pembicaraan itu mengalir seputar tugas tugas mereka di RS tersebut. Sembari membalas sapaan sesama teman sejawat ataupun teman lainnya yang berbeda profesi.
Kimmy dan Inggit melakukan kegiatan rutin mereka setelah sampai di Rs. Kembali bergelut dengan laporan setelah semua kegiatan rutinitasnya terlaksana. Dengan jemarinya yang masih memegang pena Kimmy mengingat kembali percakapannya dengan kedua orang tuanya semalam.
Flashback On
"Kim, ada yang ingin kami bicarakan sayang!" pinta Kiran.
Jordan dan Kiran saling pandang, bermaksud saling mendorong dengan tatapan. Papi yang ngomong. Mami yang ngomong. Seperti itulah kira-kira.
Kimmy mengerutkan keningnya saat kedua orang itu hanya diam dan saling menatap.
"Katanya papi sama mami mau ngomong. Kenapa jadi pandang pandang gitu?"
Eh?!
Kiran berdehem, pada akhirnya dia yang harus membuka suara.
"Sayang, apa kamu keberatan kalau kami menjodohkanmu?"
Kimmy tersentak, terlihat dari ekspresi wajahnya dan alisnya yang hitam itu berkedut. Namun dengan cepat wanita itu mengubah mimik wajahnya kembali normal.
"Dijodohkan dengan siapa?"
"Dengan anak sahabat Papi, Sayang." Kali ini Jordan yang ikut menimpali percakapan itu. "Papi sudah sangat lama kenal dengan beliau. Kebetulan saat itu dia melihat kamu dan sempat bertegur sapa denganmu waktu acara nikahan direktur Rumah Sakit. Dia langsung menyukaimu dan kemarin dia minta Papi untuk menjodohkan kamu dengan putranya."
Kimmy terdiam, otaknya kembali memutar peristiwa dimasa itu.
Ah aku ingat!
"Sebenarnya mami sama papi sangat setuju, Sayang. Karena kami sudah mengenal beliau jadi kami tidak ragu jika nantinya kamu menikah dengan putra mereka. Mereka sangat baik dan juga ramah."
Belum tentu anak mereka sebaik orang tuanya!
"Tapi kami tidak memaksa kamu untuk menerima perjodohan ini, Sayang."
Melihat raut wajah orang tuanya sangat berharap, Kimmy merasa tidak enak hati mematahkan keinginan orang tuanya. Terlebih lagi dia tidak punya alasan tetap untuk menolak. Pacar aja tak punya, mau pakai alasan apa coba! Telak.
Meski kata tak memaksa terlontar dari bibir kedua orang tuanya, namun Kimmy menyadari jika orang tuanya sangat berharap ia menerima perjodohan itu.
Menarik napas dalam. Ya Allah semoga ini yang terbaik. Aku tak ingin membuat mereka kecewa.
"Kamu bisa lihat fotonya dulu kok. Laki-laki itu sangat tampan, dia adalah seorang pengusaha dibidang kuliner." Kiran yang sudah memegang foto itu menghentikan gerakan tangannya saat ingin menyodorkan selembar kertas foto itu.
"Tidak usah Ma. Kalau Mami bilang pria itu tampan berarti memang tampan, tidak perlu diragukan lagi. Biar jadi kejutan saja saat kami bertemu." Tersenyum kecil, keputusan pun telah ditetapkan Kimmy setelah berperang batin dengan dirinya sendiri.
"Jadi itu artinya, kamu?" Jordan menelisik putrinya.
"Iya Pi, Kimmy terima. Kimmy yakin, jika itu pilihan Papi dan Mami pasti itu terbaik untuk Kimmy." Beranjak duduk di perantara kedua orang tuanya, lalu memeluk mereka.
Aku tidak ingin mengecewakan kalian.
"Terima kasih, Sayang." Kimmy dan Jordan mencium masing masing pipi Kimmy yang terjangkau dari bibir mereka. Tertawa bahagia dengan keputusan sang putri tanpa harus melalui drama yang menegangkan.
Flashback Off
"Kim … Kim …." Menggoyangkan bahu Kimmy, namun wanita itu belum menyadarinya.
"Kimmy Jordan."
"Iya dokter. Tekanan darahnya 120/80." Suaranya semakin melemah saat menyadari siapa di depannya.
Inggit tertawa mendengar ucapan Kimmy.
"Inggit ih! Iseng banget sih!" Kimmy mencubit pelan lengan Inggit.
"Habis kamu melamun sih. Dipanggil dari tadi nggak sadar sadar. Apa yang kamu lamunin? Fokus benar!"
"Lagi merenungi nasibku." Wajah menyedihkan ditampilkan wanita itu lalu merebahkan kepalanya di meja.
"Memangnya nasibmu kenapa?" Inggit heran.
Mengangkat kembali kepalanya. "Nasibku malang, karena harus satu tim dengan kamu, yang super bawel, tukang makan, tukang gosip, suka stalking Ig Dr.Aidil, ehmmptt …." Ucapan Kimmy terjedah saat Inggit membekap mulutnya.
"Jangan kencang-kencang ngomongnya, nanti ada yang dengar," bisik keras Inggit. Wajahnya bersemu merah.
"Cie blushing!" Jari telunjuk Kimmy berada tepat di depan wajah Inggit. Senyum jenakanya membuat Inggit tambah merona sekaligus kesal.
"Ih apaan sih!" Inggit menjauh dari Kimmy, kembali ke tempat duduknya.
"Cie, malu-malu."
"Diam nggak?"
"Cie cie. Jatuh cinta."
"Kimkim, nyebelin ih!"
"Biarin ih!"
Kimmy sejenak terhibur dengan kelakuan Inggit. Namun didalam hatinya juga sedang berkecamuk. Perjalanan hidup seperti apa yang akan dilaluinya nanti? Apakah semuanya berjalan lancar? Apakah kisah cintanya akan berjalan mulus, bebas tanpa hambatan? Semoga saja!
Di Sebuah cafe bernuansa milenial, letaknya tak jauh dari Rumah Sakit A, terlihat tiga wanita cantik sedang duduk di meja paling pojok. Minuman boba kesukaannya telah tersedia didepan mereka.
Kimmy menyedot minuman itu untuk melegakan tenggorokan sebelum memulai pembicaraan yang sepertinya akan cukup serius. Kedua sahabatnya yakni Aurora dan Rebecca pun melakukan hal yang sama, sembari menggigit pelan pipet itu, menatap Kimmy, menunggu gadis itu membuka suara.
"Aku di jodohkan!" Gerakan tangan kedua wanita di depannya terhenti saat mendengar ucapan Kimmy secara tiba-tiba dan tanpa aba-aba.
"Terus?" timpal Rebecca. Mendorong pelan gelas di depannya, melipat kedua tangannya di meja. Mode Serius.
"Yah … Aku menerimanya!" Kimmy bersandar di kursi. Terdengar hembusan nafas berat.
"Apa kamu yakin?" Kali ini istri sang Penguasa yang bersuara.
"Entah!" Mengangkat kedua bahunya, ekspresi pasrahnya membuat kedua sahabatnya saling pandang. "Aku tidak sanggup menolaknya. Aku tidak ingin mengecewakan Mami dan Papi." Mengutarakan jika Itulah hasil keputusan mendadak yang diambilnya.
"Kalau itu sudah menjadi keputusanmu, kami hanya bisa mendukungmu." Rebecca tersenyum ke sahabatnya itu, di balas juga dengan senyuman tipis oleh Kimmy.
"Aku juga tak punya alasan untuk menolaknya." Wanita itu cemberut.
"Jomblo sih!" ledek Rebecca lalu tertawa.
"Kayak nggak pernah jomblo aja!" cibir Kimmy. "Apa kamu?" kesalnya saat melihat Aurora juga ikut menertawakannya.
"Eh, aku no komen." Melakukan gerakan mengunci mulutnya.
"Kamu sudah pernah bertemu dengannya?" Rebecca memulai kembali setelah sesaat terdiam karena pelayan cafe datang menyajikan camilan yang telah mereka pesan.
Kimmy menggelengkan kepalanya. "Bahkan aku tidak tahu, wujud dan bentuk pria itu seperti apa!" Dia pikir barang.
Aurora dan Rebecca membuka mulut menatap si dokter itu tak percaya. Bisa-bisanya ia langsung menerima perjodohan itu tanpa tahu, pria itu siapa, tampangnya seperti apa?
"Kamu langsung menerima perjodohan itu tanpa pernah melihat wajahnya? Minimallah foto gitu?" Aurora mencomot kentang goreng pesanannya.
"Hmm ... Aku lihat juga tidak akan merubah segalanya kan?"
"Tapi kan ... Aduh gimana sih ngomongnya." Aurora menggaruk pelipisnya.
"Apa kamu tidak penasaran dengan wujudnya! Baguslah kalau memang tampan seperti artis hollywood atau cute seperti oppa oppa korea? Kalau jelek bagaimana?" sahut Rebecca.
"Hmm, masih bagus kalau setampan Suamiku." Aurora menampilkan senyum manisnya sembari membayangkan wajah suaminya.
"Huu…." Kimmy melempar kentang goreng ke wajah Aurora. "Pamer!"
Aurora tergelak. "Ya memang Suamiku tampan kan. Ada roti sobeknya lagi, banyak!" Menopang wajahnya dengan kedua tangannya, jari jemarinya yang mungil mengetuk pipinya yang mulus tanpa pori-pori.
Rebecca menjajalkan beberapa kentang goreng di mulut Aurora hingga membuat wanita itu terkejut. "Pamer aja terus. Nggak usah ngomongin roti sobek, aku kan jadi kangen sama roti sobekku." Rebecca melakukan hal yang sama seperti dengan Aurora tadi.
Sama aja!
Kimmy memutar bola matanya malas, lalu tangannya meraih nugget ayam yang telah dipesannya, mencocolkan ke saos tomat campur mayones lalu memasukkan ke dalam mulut dengan mata menatap tajam kedua sahabatnya yang dengan tidak tahu malunya membayangkan roti sobek.
Membuat orang iri aja!
'Mereka malah pamer roti sobek suaminya! Tapi btw, apa nanti calon suamiku itu juga maco yah? Kira-kira punya roti sobek juga nggak yah?' batin Kimmy.
Pada akhirnya dokter cantik itu pun menerka nerka, seperti apa kiranya wujud pria yang dijodohkan dengannya itu? Apakah tampan? Apakah maco? Apakah, apakah, dan banyak apakah telah mengisi kepalanya!
*****
Rumah Sakit A
Kimmy lari terburu-buru, setelah memastikan mobilnya terkunci dengan baik. Beberapa buku di tangannya cukup membuat wanita itu kerepotan. Saat sibuk memperbaiki buku itu di tangannya agar tidak jatuh, ia tidak melihat jika ada orang didepannya. Terjadilah adegan dimana Kimmy menabrak orang itu, hingga hampir membuat wanita itu terjatuh seandainya saja orang yang ditabraknya tidak meraih pinggangnya dan menahannya.
Tampan sekali! Pantas saja Inggit tergila-gila padanya.
Setelah cukup lama saling menatap, Kimmy yang tersadar terlebih dahulu langsung memperbaiki posisinya kembali, berdiri tegak, merapikan tasnya yang hampir terjatuh dan rambutnya yang cukup berantakan. Memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Untung nggak ada orang! Bisa jadi bahan ghibah lagi jika ada orang yang melihat.
"Ini bukunya!" Menyodorkan buku di depan Kimmy yang terlihat tidak fokus. Bahkan Kimmy tidak menyadari saat orang itu memungut bukunya yang sudah tergeletak di lantai.
"Eh iya. Terima kasih." Menerima buku itu sambil merutuki dirinya dalam hati.
Astaga, kenapa aku jadi melamun sih!
"Maaf Dokter. Saya tidak hati-hati, jadinya saya menabrak anda." Menundukkan kepala hormat kepada salah satu Dokter yang cukup terkenal di Rumah Sakit ini.
"Tidak papa Dr.Kimmy. Tapi kamu baik baik saja kan?" Tersenyum tipis.
Benar-benar tampan, perhatian lagi. Aku yakin seandainya Inggit di posisiku saat ini, sudah dipastikan dia akan pingsan.
Eh tunggu, kenapa dia bisa tahu namaku?
"Eh, ia baik Dokter, tadi saya terburu-buru." Tersenyum malu "Takut terlambat." Kimmy tak berani menatap pria didepannya.
Akhirnya bisa berhadapan langsung dengannya. Dia bahkan lebih cantik ketika dilihat lebih dekat.
"Oh ya sudah. Silahkan!" Mundur satu langkah membuka jalan, lalu mempersilahkan Kimmy.
"Sekali lagi maaf yah Dokter." Membungkukkan badannya. "Saya duluan. Permisi!" Kimmy mengambil langkah seribu tanpa menoleh kebelakang, sedangkan pria yang ditinggalkan masih berdiam diri menatap punggung wanita yang baru saja berlalu, hingga wanita itu sudah tak terlihat barulah pria itu mengambil langkah.
Semoga bisa lebih dekat dengannya!
"Dari Mana aja sih neng, baru sampai?" ujar Inggit saat Kimmy sudah masuk di ruangan mereka, dengan nafas yang tersengal-sengal.
Belum menjawab, Kimmy sibuk mengatur pernafasannya agar kembali normal.
"Kamu mau tahu nggak, tadi aku tabrakan sama siapa?" Tak memperdulikan pertanyaan Inggit sebelumnya. Ia sudah tidak sabar membuat temannya itu iri setengah mampus. Kalau perlu mampus sekalian! Tertawa jahat.
"Sama siapa memangnya?"
"Tebak!"
"Aku lagi nggak punya waktu main tebak-tebakkan Kimkim. Banyak tugas!"
"Ish, nggak seru. Ya udah deh karena aku baik, aku bilang deh."
"Mau sebut nama aja kok repot banget sih! Cepat! Memang siapa sih?" desaknya masih duduk di posisi duduknya. Memutar-mutar kursinya.
"Jangan pingsan yah!"
Inggit mengerutkan keningnya.
"Aku menabrak Dr.Aidil."
"Apa?" Berteriak dengan kencang seraya berdiri. Membulatkan matanya seiring dengan bulatan di bibirnya.
"Astaga Inggit, bisa tidak suaramu nggak usah terlalu kencang. Gendang telingaku rasanya hampir hancur mendengar suaramu itu," protes Kimmy dengan tangan menutup kedua telinga seraya meringis.
"Tunggu, tunggu." Inggit duduk kembali, bersandar di kursi merebahkan kepalanya seraya menutup mata. "Aku pingsan dulu!"
"Gila! Ada orang pingsan melapor dulu." Menepuk keningnya. Ternyata temannya itu otaknya sedikit bergeser. Namun lucunya ketika bersama, otaknya juga ikut bergeser.
Langit telah terlihat berubah warna. Matahari telah kembali ke tempat peraduannya dan kini telah digantikan oleh sang rembulan.
Kimmy melepas jas putihnya, lalu menggantungnya. Meletakkan stetoskop yang selalu menggantung di lehernya ke tempat semula. Duduk di kursinya lalu meneguk air mineral dari botol cantik miliknya.
"Huft … capek!" Menghembuskan nafas kasar. "Butuh yang segar-segar." Melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Belum pulang, Kim?" tanya Inggit yang sementara memasukkan barangnya ke dalam tas jinjing miliknya.
"Bentar lagi, Say."
"Ya udah, kalau gitu aku duluan yah. Aku mau pulang berendam air hangat, lalu tidur cantik," ujarnya tersenyum. Ingin rasanya ia langsung sampai di rumahnya saat ini juga. Merebahkan tubuh yang sudah seharian beraktifitas.
"Oke. Hati-hati yah!" Melambaikan tangannya saat temannya itu mengambil langkah keluar ruangan.
"Aku juga mau pulang. Lapar!" Merapikan mejanya, mengembalikkan semua ke posisi seperti semula, seperti biasanya.
Klik…
Kimmy masuk ke dalam mobil kesayangannya. Namun ketidakberuntungan sedang menghampirinya, mobil itu tiba-tiba saja enggan menyala. Beberapa kali Kimmy memutar mutar kunci mobil tersebut tetap saja tidak bisa.
"Yah kok nggak mau sih!" kesal. Memukul pelan stir mobil itu.
"Padahal kan si putih ini rajin periksa, kenapa mogok," tambahnya semakin kesal. "Coba lagi." Kembali memutar kunci mobil itu, menekan pedal gas namun nihil.
Menghela nafas panjang. Mengambil hpnya lalu menelpon bengkel langganannya untuk memeriksa mobilnya. Sembari menunggu, Kimmy bersandar di jok mobil. Memejamkan matanya, mengatur pernafasannya.
"Jadi ceritanya aku pulang pake taksi online nih?" ujarnya entah kepada siapa. Baru saja ingin memesan taksi, suara ketukan terdengar di jendela mobil itu.
Sempat terkejut saat melihat siapa yang mengetuk. Kimmy akhirnya menurunkan kaca mobilnya, lalu menatap seorang pria itu yang sudah membungkukkan kepalanya agar bisa melihat Kimmy.
"Apa mobilnya mogok?" pria itu bertanya dengan wajah datar.
"Iya Dokter." Tersenyum kikuk.
"Biar saya bantu periksa." Menawarkan bantuan. Sebab sedikit banyak dokter .Aidil tahu tentang otomotif.
Kimmy melambaikan tangan di depan wajahnya sebagai tanda penolakan, lalu keluar mobil. Bicara di dalam mobil Kimmy merasa tidak sopan. "Nggak usah repot repot dokter. Kebetulan saya sudah menelpon bengkel langganan saya."
"Oh gitu. Ya sudah kalau begitu, bagaimana kalau saya antar pulang, ini sudah malam."
Kesempatan untuk bisa lebih dekat dengannya. Aidil.
"Saya bisa naik taksi dokter. Saya nggak enak ngerepotin, Dokter," tolak Kimmy. Malu rasanya jika harus berdua didalam mobil dengan orang yang baru ia kenal. Meski mereka kerja ditempat yang sama, namun baru hari ini Kimmy bicara langsung dengan salah satu dokter yang menjadi incaran para petugas yang lainnya.
"Nggak kok. Sama sekali nggak ngerepotin." Tersenyum tulus.
Aku malah senang kalau kita bisa berduaan. Biar aku bisa mengenalmu lebih dekat. Aidil.
Aduh, gimana nih? Kimmy.
Aidil memiringkan wajahnya, menatap lekat wanita yang dikaguminya. Sedangkan wanita yang di tatapnya tak menyadari sebab ia sibuk melamun. Aidil tersenyum, lalu menjentikkan jarinya ke depan wajah Kimmy hingga wanita itu terkejut.
"Eh ..." Tersenyum kikuk.
"Bagaimana?" Pria itu kembali bertanya. Ia tak bisa melepas kesempatan ini.
"Oh ya udah deh! Tapi bisa kita tunggu dulu orang yang akan menjemput mobil saya?"
"Tentu saja. Kita duduk disana saja."
Kimmy pasrah. Sebab ia tidak enak hati untuk menolak tawaran dokter tamoan tersebut. Apalagi Kimmy cukup yakin pria didepannya ini tidak akan macam-macam. Sebab Kimmy kerap kali mendengar Papinya memuji kebaikan dokter yang menjadi panutan beberapa dokter di tempat mereka bekerja.
Setelah beberapa menit berselang kini Kimmy sudah berada dalam mobil bersama dokter Aidil. Canggung, itulah suasana yang terjadi saat ini. Aidil yang sangat senang bisa berdua wanita idamannya pun kini dilanda gugup. Hingga keduanya pun tak bersuara.
Aku bahkan lebih gugup sekarang dibandingkan di ruang operasi. Aidil.
Hey siapapun. Keluarkan aku dari situasi canggung ini. Kimmy.
Keheningan itu seketika terganggu dengan suara yang berasal dari perut Kimmy. Aidil langsung menatap Kimmy sekilas lalu pandangannya kembali ke depan. Bisa gawat kalau dia fokus menatap wanita itu, bisa bisa mobil ini hancur melebur.
Kimmy tersenyum malu.
Akhh … Aku ingin menenggelamkan diriku sekarang di sungai amazon. Kimmy
"Kamu belum makan malam?"
Perut … kau mempermalukanku.
"Be-belum. Maaf, Dokter." Melirik sekilas dokter Aidil untuk memastikan bagaimana ekspresi dokter itu. Namun yang dilihat hanya ekspresi biasa.
Apa tadi dia menertawakanku yah?
"Kenapa minta maaf. Sangat wajar jika kamu lapar di jam segini. Kita ke resto dulu yah, kebetulan saya juga lapar." Tersenyum namun pandangannya tetap fokus ke depan.
Apa? Ini semua gara-gara kamu perut.
"Ta--tapi, Dok."
"Restonya tak jauh kok dari sini." Sela Aidil. Karena ia tahu, pasti wanita di sebelahnya ini akan menolak lagi.
"Ba-baiklah. Makasih sebelumnya, Dokter. Hari ini saya banyak merepotkan dokter Aidil."
Aku pikir dia tidak tahu namaku. Heheh. Aidil.
"Santai saja."
Bagaimana aku bisa santai. Kita bahkan tidak sedekat itu untuk bisa makan bersama, berdua lagi! Kimmy.
Kimmy rasanya ingin segera mengakhiri pertemuan ini. Mengingat ia dan dokter Aidil sebelumnya tidak saling mengenal. Bagaimana bisa dalam waktu sehari, ia selalu saja bertemu pria ini. Bahkan tadi di Rumah Sakit mereka beberapa kali berjumpa pada saat melakukan pemeriksaan. Dan sekarang orang menolongnya pun adalah pria ini.
Sesampai di resto.
"Kamu mau dimana? Atau kamu mau private room?" Bertanya, sebab ia ingin Kimmy merasa nyaman bersama dengannya. Bukan malah seperti terpaksa.
"Tidak usah dokter. Kita duduk disana saja." Menunjuk kursi kosong yang terlihat di pojokan, tepat di dekat lemari pembatas antar ruangan yang lainnya.
"Baiklah."
Saat mereka telah duduk, terlihat pelayan dengan tergesa gesa mendekat ke meja itu.
"Maaf bos." Menundukkan kepala hormat. "Apa bos mau saya antar ke private room?" tanya pelayan itu hati-hati. Ia bahkan sudah keringat dingin. Kimmy pun hanya diam memperhatikan interaksi itu?
Bos? Kimmy.
"Tidak usah. Dia lebih nyaman disini." Menunjuk Kimmy dengan pandangannya. "Mana menunya." Menadahkan tangannya.
"Oh iya, maaf. Ini bos." Menyerahkan buku menu dari tangannya.
"Kamu yang pesan dulu." Menyimpan buku itu ke depan Kimmy.
Kimmy mengangguk lalu mengambil buku menu itu. Membukanya dengan perlahan.
Kenapa sedari tadi dia itu bicara seolah olah kita itu akrab. Bodoh ah, aku lapar. Kimmy.
Makan apa yah? Kimmy.
Setelah beberapa detik, akhirnya pilihan Kimmy jatuh pada kedunia perseafoodtan. Begitu pun juga dengan Aidil.
"Bagaimana kabar Om Jordan dan Tante Kiran?" Mencoba keluar dari situasi canggung. Aidil mencoba untuk mengakrabkan diri dengan dokter cantik di depannya ini. Menatap lekat wanita itu dengan penuh kelembutan. Tatapan seseorang yang mendamba namun tak disadari oleh Kimmy.
"Mereka alhamdulillah sehat dok. Dokter kenal di mana dengan orang tua saya?"
"Kebetulan orang tua kita berteman. Dan saya juga sering ketemu beliau saat ada acara pertemuan di Rs ataupun acara seminar."
Kimmy mengangguk beroh ria. Membuat Aidil merasa gemas sendiri.
"Eh Dok. Tadi pelayan itu memanggil anda bos. Apa restoran milik dokter?" Rasa keingintahuannya akhirnya mengalahkan rasa malunya. Apalagi ketika melihat dokter Aidil yang begitu santai bicara dengannya membuat ia berani bertanya.
"Iya. Kebetulan selain jadi dokter saya juga mencoba keberuntungan di bidang usaha kuliner." Lagi lagi pria itu tersenyum tipis membuat kadar ketampanannya meningkat dan itu tak dipungkiri oleh Kimmy.
"Wah dokter hebat yah, bisa merangkap pekerjaan begitu," puji Kimmy secara tidak sengaja. Senyuman di bibir pria itu pun semakin melebar saat mendengar pujian yang terlontar dari bibirnya.
"Aku di bantu juga sama adikku."
Percakapan itu pun terus mengalir sembari menikmati makanan pesanan mereka. Bahkan mereka sudah tidak terlihat canggung seperti semula.
Sedangkan seseorang di kejauhan sana menggigit bantal, saat melihat pesan yang masuk di ponselnya.
Orang itu adalah inggit. Kimmy sengaja mengambil gambar dokter Aidil secara diam-diam untuk membuat wanita itu iri. Dan benar tebakan Kimmy. Wanita itu sekarang sudah seperti cacing kepanasan saking irinya.