BAB 1
Dea menahan perih, tangan kiri dan kanan menekan perut, rasa sakit menusuk kini tak tertahankan. Membungkukkan pinggang untuk meredakan sakit, keringat dingin sudah membanjiri pelipis dan kening. Sakit seperti ini awalnya dianggap biasa saja, tapi lama kelamaan semakin sering terjadi. Obat ulu hati yang di belinya di apotek, hanya mampu meredakan sementara. Mencoba memberanikan diri pergi ke dokter praktek letaknya tidak jauh dari kantornya.
Antrian masih dua orang lagi sebelum namanya di panggil, dengan kesekian kalinya orang memandangnya aneh. Dea merubah posisi kanan, dan merubah sekian menit ke kiri lagi, begitu selanjutnya selama tiga puluh menit. Sampai saatnya, ibu tepat di sebelah kirinya menepuk bahunya.
"Sakit banget perutnya embak?".
Dea mengangguk, masih bertahan dengan posisi membungkuk. Suasana ruangan serba putih, kini mulai sepi.
"Sakit apa embak?" Tanyanya lagi.
Dea menggeleng, jika saja ia sudah tau tidak mungkin ia ke dokter peraktek ini untuk memeriksanya.
"Belum tau bu, kalau pun saya tahu saya tidak mungkin periksa kesini, saya pasti akan langsung ke dokter ahlinya".
"Iya juga sih" sahut ibu itu, Dea tidak mengetahui nama ibu itu sebenarnya dan baginya tidak begitu penting untuk berkenalan, karena menahan rasa sakit sudah menguras energi dan tenaganya.
Tepukan bahu di sebelah kirinya terjadi lagi. Dea menoleh otomatis ke arah ibu yang menegurnya tadi.
"Ada apa lagi bu".
"Nama embak Dea Diandra ya?".
Dea mengerutkan dahi tidak percaya bahwa ibu itu mengetahui nama lengkapnya.
"Ibu tau dari mana nama lengkap saya?" Mulai menaruh rasa curiga , masalahnya ia tidak pernah menyebutkan namanya kepada sembarangan orang yang tidak dikenal.
"Itu di panggil sama perawatnya" tunjuk ibu itu ke arah perawat di meja counter.
Dea baru menyadari dan mencoba berdiri, tidak lupa menyengir, memberikan senyum terbaiknya.
"Makasih ya bu, saya duluan ya".
Dea berjalan kearah perawat, dan duduk di depan perawat yang terlihat ramah menyambutnya. Ramahnya tidak kalah dengan teller di Bank yang sering di kunjunginya.
"Nama ibu, Dea Diandra silahkan masuk, mari saya antar" ucapnya ramah dan lembut.
Dea mengikutinya dari belakang, menuju pintu berwarna putih. Pintu terbuka suasana di dalam sungguh mencekam. Dea akui, ia tidak suka suasana yang berbau medis seperti ini, apapun namanya klinik dan rumah sakit tetap terlihat horor.
Dea mengamati tiap tata letak ruangan yang di susun sangat rapi dan bersih. Dea duduk tepat di depan meja kosong tidak berpenghuni. Suara pintu dari belakang terbuka, Dea menoleh ke belakang.
Pria berjas putih, dengan rambut pendek yang sedikit dibiarkan berantakkan, tubuh atletis, kulit sawo matang, bagian dagunya terlihat di tumbuhi bulu-bulu halus yang sepertinya sengaja dibiarkan tumbuh. Jika di pandang ia lebih cocok berprofesi sebagai host di acara My Trip My Adventure yang sering di tontonnya setiap minggu.
Dea memposisikan duduknya kembali. Entah kenapa rasa sakit perutnya berkurang hanya memandang dokter itu. Name tag tertera huruf vokal Dr. Raka Pratama Sp.PD.
Dokter itu tersenyum ramah, memamerkan deretan gigi putihnya. Dea menelan ludah, mencoba tidak gerogi.
"Sore Ibu Dea Diandra" ucapnya ramah, suaranya sedikit berat khas laki-laki.
"Sore juga Dok" jawab Dea dengan suara pelan.
"Keluhan ibu apa?" Tanyanya lagi.
"Hemm dokter, jangan panggil ibu dong, soalnya saya belum menikah" ucap Dea.
Sumpah demi bumi dan langit , ia bukan mempromosikan setatus dirinya yang masih lajang, kesannya seperti ingin memikat dokter ganteng di hadapannya, tetapi hanya tidak enak di panggil ibu, cukup di kantor saja ia di panggil ibu oleh anak buahnya, kesannya seperti memiliki anak dua.
"Maaf jadi sebaiknya, saya panggil embak Dea saja".
"Itu lebih baik dok".
Dokter Raka tersenyum ke arahnya. "Apa keluhan embak Dea?".
Dea kembali menahan perutnya dengan tangan, ia baru sadar bahwa rasa sakitnya kembali datang.
"Perut saya sakit banget dok" ucap Dea.
"Sudah berapa lama?"Tanyanya lagi.
"Sudah hampir dua bulan ini dok, saya pikir sakit perut biasa, tapi belakangan ini hampir setiap hari sakitnya kumat".
Dokter Raka berdiri, memegang dahi dan lehernya dengan kedua jarinya. Sepertinya ia sudah mencurigai sakit yang di deritanya.
"Boleh berbaring, saya akan memeriksa anda" ucapnya serius.
Dea menuruti dokter raka, dan berbaring di tempat tidur persegi panjang khusus untuk memeriksa pasien. Dokter Raka mulai dengan stetoskopnya, memeriksa lidahnya dan terakhir menepuk perutnya.
"Saya sakit apa dok" ucap Dea penasaran.
"Hasil saya menunjukkan anda terkena usus buntu, sebaiknya segera di lakukan operasi, karena sudah cukup parah, jika dibiarkan akan berakibat fatal".
Dea masih terdiam dan kini menyadari "apa !!! Saya usus buntu dok? Operasi?" Dea syhock apa yang di dengarnya.
Air mata tidak bisa di bendung lagi, ia lebih baik mengulang mata kuliah statistika satu tahuan dari pada ia harus mendengar operasi. Tidak bisa membayangkan bagian tubuhnya di sayat dengan pisau bedah.
"Hikz...hikz...hikz saya tidak mau operasi dok" air matanya mulai jatuh di pipinya, ingusnya mulai berair, Dea mengelap dengan tangan kanannya, untung saja ia mengenakan jas hitamnya.
"Jangan menangis, ini hanya operasi kecil kok, peralatan juga sudah canggih, tidak bakalan ada bekas sayatan operasi nantinya" dokter Raka mulai menenangkannya.
"Ta...pi saya takut dok, saya tidak bisa" ucap Dea sesugukan di banjiri air matanya.
Dokter Raka memberinya tisu, Dea mengambilnya dan mengelap air matanya.
"Saya takut dok".
"Jangan takut, saya akan memberikan yang terbaik".
Dea masih menangis menjadi jadi, dokter Raka membiarkan Dea melepas tangisnya sampai reda.
"Dokter, orang tua saya tidak ada, saya sendiri disini, gimana saya akan menjalani ini? saya tidak ingin membuat mereka khawatir dok, saya tidak ingin mati muda, saya masih belum bisa membahagiakan orang tua saya, saya belum memberikan mereka kebahagiaan, saya juga belum pergi ke Budapest" Dea mulai menangis lagi, pikirannya mulai kacau, masih sempat ia memikirkan Budapest kota romantis yang ingin di kunjunginya.
Dokter Raka menarik nafas, baru pertama kalinya ia menemukan pasien seperti ini. "Yakin lah, operasi ini tidak menyebabkan anda mati, saya yakin itu" ucap Raka.
"Orang tua anda kemana sebenarnya?" Tanya Raka penasaran.
"Orang tua saya honeymoon ke Paris selama sebulan, baru saja mereka pergi kemarin dok, saya tidak ingin mengganggu kebahagian mereka, dokter jangan memberitahu kedua orang tua saya tentang penyakit saya ini, saya takut mereka khawatir, biar saya saja merasakan sakit yang saya derita" ucap Dea masih dengan tangisnya, wajahnya memerah dan matanya bengkak menahan tangis.
"Iya saya tidak memberitahu mereka, mungkin teman , saudara, yang bisa kami beritahu? Untuk menjadi wali anda?".
Dea menggelengkan wajah, "sebaiknya jangan dok, cukup dokter saja yang tahu"ucapnya pelan. Dea bangun, di bantu dokter Raka, Dea dapat mencium harum tubuh Raka yang khas dan menenangkan.
"Dokter..."
"Ia embak Dea".
"Bisakah dokter saja yang mengoperasi saya" pinta Dea.
Dokter Raka tersenyum mendengar permintaan Dea, dan mengangguk.
"Saya yang akan mengoperasi anda" ucapnya, sambil memberikan surat rujukan.
"Seharusnya saat ini anda langsung di rujuk ke rumah sakit, karena besok pagi saya akan menjadwalkan operasinya".
Dea cukup lama terdiam, secepat itukah dia harus dilarikan ke rumah sakit. Ia masih takut dengan nasibnya.
"Dokter jujur saya masih takut".
"Jangan takut, saya akan menjaga anda selama operasi berlangsung, saya akan mempertanggung jawabkan semuanya".
Dea merasa lega mendengar kata-kata dokter Raka barusan.
"Dok, bisa tidak mengantar saya kerumah terlebih dahulu, mengambil perlengkapan saya, sebelum ke rumah sakit".
Dan lagi lagi dokter Raka mengangguk demi tanggung jawab dokter kepada pasien.
"Makasih ya dok".
"Ia sama-sama".
"Oiya dok, saya panggil mas Raka boleh?".
Dan Dokter Raka pun mengangguk. Dea tersipu malu meminta dirinya untuk memanggil dokter Raka dengan sebutan Mas Raka.
****
BAB 2
Dea berjalan pelan, membuka knop pintu, menghela nafas panjang, menatap miris ruangan berwarna putih dengan gorden berwarna biru suasana ruangan begitu kontras. Dea meletak tas di tempat tidur. Kepala mulai pusing, efek menangis terlalu lama. Menatap pria berjas putih di hadapannya, dan wajahnya masih terlihat segar.
"Makasih ya mas, sudah ngantarin".
"Iya sama-sama, Itu sudah tugas saya sebagai seorang dokter".
"Kesannya saya ngerepotin mas". Dea merebahkan badannya di kasur.
"Besok operasinya jam 10.00 pagi, jadi mulai sekarang kamu di anjurkan berpuasa, sampai operasi berlangsung".
"Iya mas" ucapnya pelan, hampir tidak terdengar.
Raka cukup lama terdiam, menatap pilu wanita berparas cantik di hadapannya, alis terukir sempurna alami, mata hitam yang indah, hidung kecil mancung, bibir tipisnya, menggoda untuk di cicipi. Entah kenapa wanita di hadapannya sedikit berlebihan. Menangis semenjak ia bertemu di klinik prakteknya dan sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Dua kotak tisu sudah habis dalam beberapa jam.
"Mas saya takut" ucap Dea kesekian kalinya. Raka sudah puluhan kali mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Dea. Raka hanya mendiaminya, memilih duduk di tepi ranjang.
"Mas, boleh tanya?".
"Mau tanya apa?".
"Mas umurnya berapa?".
"Enam tahun lebih tua dari kamu".
Dea, mengerutkan dahi, berpikir keras, enam tua dari dirinya? Berarti Raka sudah mengetahui umurnya. Dea melirik sela-sela jari Raka, tidak ada cincin bertahtah disana. Dea merasa lega, masih ada kesempatan untuk dirinya. Dea merutuki pikirannya, dirinya kenapa ia mempermasalahkan cincin?.
Wanita mana yang tidak menginginkan menjadi calon pendamping hidup Raka? Raka calon suami masa depan yang benefit dan potensial. Pinter, jelas ia seorang dokter, ganteng, keren , cukup bangga jika di bawa ke acara pernikahan, dan tak kalah penting tanggung jawab. Mungkin ia sekarang tidak percaya, ia sudah jatuh cinta kepada laki-laki di hadapanya ini.
"Mas tau dari mana umur saya?".
"Dari data pasien tadi, umur kamu 25 tahun bukan?".
Dea mengangguk, berpikir jika umurnya di tambah enam, berarti umur dokter Raka 31 tahun. Di umur yang ke 31 tahun sudah cukup matang untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Demi apapun sikap tenang dokter Raka, membuatnya tenang.
"Mas , boleh minta satu permohonan sebelum saya di operasi besok?" Ucap Dea pelan.
Raka menatap serius, memasukan tanganya di saku jas putihnya "Apa permohonan kamu?".
"Sebenarnya saya malu mengatakannya mas".
"Malu? Kenapa harus malu?".
Dea merubah posisi tidurnya menyamping, agar lebih dekat, mencium aroma tubuh Raka yang menenangkan.
"Saya ingin mas mencium saya sebelum operasi besok".
Cium? Permohonan macam apa itu? Raka terperangah, tidak habis pikir apa yang ada di dalam otak wanita di hadapannya ini. Sungguh jika ingin menciumnya, sudah ia lakukan dari tadi, bahkan ingin melepas seluruh pakaian yang ia kenakan. Wanita di hadapanya ini otaknya telah diracuni pikiran mesum dan kotor, sangat menggoda imannya.
Menyandang Image pria tenang dan cool bertahun-tahun runtuh seketika. Oh Tuhan, tolong rubah pola pikir wanita di hadapannya ini, meminta cium kepada laki-laki yang baru di kenalnya.
"Yakin? Itu permintaan kamu?" Raka memastikan sekali lagi.
Dea mengangguk, "iya".
"Alasanya?".
"Karna saya ingin tenang untuk terakhir kalinya, saya takut tidak bisa bangun lagi pasca operasi nanti, saya ingin dokter melakukannya, hidup dan matiku sekarang ada di tangan dokter".
Raka mengusap kepala Dea dengan lembut, mencoba menenangkannya. Sudah berkali-kali ia mengatakan usus buntu hanya operasi kecil, setelah operasi ia pasti akan sembuh dari penyakitnya. Wanita di hadapanya ini seakan ia terserang penyakit cencer stadium akhir.
"Sudah jangan menangis lagi, saya akan mengabulkan permintaanmu".
Raka menangkup wajah Dea, merapikan anak-anak rambut yang menutupi mata. Saling menatap, tidak ada saling menghindar. Raka menundukkan wajah, mencium kening Dea cukup lama. Raka melepaskan kening masih bertemu, deru nafas terasa di permukaan wajah, menatap wajah pucat yang masih terlihat cantik.
"Makasih mas".
Raka mengelus dagu Dea, membelai bibir ranum dengan jari jempolnya. Dan kali ini ia lepas kendali, entah siapa yang memulai, bibirnya sudah memanggut bibir tipis ini. Rasanya sangat manis, lebih manis apa yang ada dalam pikirannya, hanya kecupan kecil, yang menenangkan. Kecupan kecil itu tidak ingin berhenti. Dengan susah payah, Raka menghentikan aksinya, ia takut lepas kendali.
"Tidurlah".
Raka dengan cepat meninggalkan ruangan, tanpa memandang wanita yang baru saja di ciumnya, sementara Dea memandang heran terhadapnya.
***
"Dok, siapa tadi? Pacar baru ya?" Tanya suster Mila, posisinya tepat di meja counter. Sepertinya gosip tentang dirinya sudah menyebar di rumah sakit ini.
"Bukan, itu pasien saya".
"Kok mesra amat dok? Ngaku deh, pasti gebetan baru ya".
"Saya sudah bilang dia, pasien saya yang akan operasi besok".
"Iya deh maaf jangan marah, kapan menikah dok sama dokter Ana?".
Raka melipat tanganya di dada, "secepatnya".
"Amin, semoga cepet menikah ya dok, tapi pasien dokter tadi cantik juga, masih seger di banding dokter Ana".
"Dari pada gosip yang tidak jelas, sebaiknya kerjakan pekerjaan suster".
Raka dengan cepat meninggalkan suster Mila, emang dasar suster-suster disini senang bergosip.
Mengingat dokter Ana, Anatasia adalah pacar yang satu tahun ini di dipacarinya, kini sedang mengenyam pendidikan spesialis Anak di Melbourne. Raka akan menjaga hati untuknya. Ia berjanji akan menikahi Ana jika telah menyelesaikan kuliahnya. Ana wanita dewasa, cantik, dan pintar. Hanya Ana yang mampu mencuri hatinya. Kesekian kalinya Raka mengubah posisi tidur, matanya sulit terpejam, lagi-lagi memikirkan ciuman, yang berefek maha dahsyat.
***
Raka menatap Dea, ia baru saja keluar dari wc. Wajah tanpa polesan make up ia masih terlihat manis. Ia tersenyum dengan kedatangan dirinya.
"Mas, sudah lama disini?".
"Baru kok".
Dea membaringkan tubuhnya kembali.
"Sudah siap?".
"Siap apa mas?".
"Siap di operasi".
"Owh itu, saya pasrah aja mas, mas kok belum siap-siap?".
"Saya hanya ingin memastikan kamu terlebih dahulu".
"Iya mas, saya sudah siap kok".
Selang berapa lama dua orang perawat datang.
"Selamat pagi ibu Dea, selamat pagi juga dokter Raka" ucap suster Mila.
"Selamat pagi juga suster".
"Gimana, masih sakit perutnya?" Tanya suster Mila.
"Sudah tidak sakit lagi suster".
"Pasti berkat dokter Raka".
Dea mengangguk, "ah,suster bisa aja".
Raka berdehem mencoba menegur suster Mila yang mulai, menciptakan susana panas.
"Sudah siap ibu Dea".
"Sudah sus".
Dea berbaring di ranjang yang telah di siapkan. Menatap Raka, Raka membalas tatapannya. Dea menyentuh jarinya seperti ada aliran listrik masuk didirinya.
"Mas, selama saya tidak sadarkan diri, jangan pernah meninggalkan saya".
Raka menatap cukup lama, membalas menggenggam jarinya.
"Iya, saya tidak akan meninggalkanmu"
***
BAB 3
Sudah seminggu Dea terbaring di rumah sakit, pagi ini Dea merapikan diri untuk segera pulang. Semenjak pasca operasi, ia tidak pernah melihat dokter Raka, suster Mila lah yang mengurusnya setiap hari. Sebenarnya ia kecewa karena tidak melihat dokter Raka.
"Makasih ya sus, sudah merawat saya selama disini".
"Itu sudah tugas saya sebagai perawat embak ".
"Oiya, masalah dokter Raka, kenapa ia tidak pernah melihat saya kembali pasca operasi?".
"Dokter Raka, mungkin lagi sibuk embak, maklum jadwal operasinya padat, embak datang saja kerumahnya".
"Tapi kan bisa lihat saya sebentar sus, walau jadwalnya super padat, tapi boleh deh minta alamat dokter Raka".
"Embak Dea Rindu sama dokter Raka".
Dea mengangguk , "iya, rindu banget".
"Embak Dea punya hubungan khusus sama dokter Raka?".
"Tidak ada sih, tapi dokter Raka nyium saya sebelum operasi berlangsung".
"Apa!!! Cium dimana embak?".
"Di bibir".
"Gimana rasanya embak?".
"Rasanya, gitu deh".
"Enak?".
Dea mengangguk, "ih suster, saya kan malu di tanyain gitu".
"Embak suka ya sama dokter Raka".
Dea mengangguk kembali, "kayaknya sih gitu".
"Kalo cinta, ya di kejar embak, kejar sampai titik darah penghabisan".
"Tapi saya takut, kalau saya tidak suka bagaimana?".
"Pasti dia suka juga sama embaknya, buktinya dokter Raka nyium embak" ucap suster Mila, lalu melipat selimut di hadapannya.
"Iya sih, yaudah saya siap-siap pulang dulu ya sus, oiya alamat dokter Raka" ucap Dea menggantung.
Suster Mila mengambil kertas dan pulpen "Bentar embak, saya tulis di kertas ya, alamat rumah dan apartemennya".
"Makasih ya sus, mari saya pulang dulu".
"Iya embak hati-hati".
Siapa sangka, berawal dari tanya jawab yang singkat, dalam waktu dua jam, seisi rumah sakit gempar dengan pernyataan "dokter Raka menyium pasiennya sendiri".
***
Dea menatap secarik kertas berisi alamat lengkap dokter Raka. Mengetuk stir mobil, masih mempertimbangkan arah mana harus di tujunya. Tanpa pikir panjang Dea menuju alamat tertera di kertas.
Ternyata cukup gampang mencari alamat rumah dokter Raka. Rumahnya tepat di komplek perumahan mewah. Dea menepikan mobilnya tepat di depan rumah bercat putih. Pagar rumah terbuka, Dea memajukan mobilnya masuk ke dalam. Dea melangkah masuk, Dea menekan bel. Tidak perlu menunggu lama, pintu terbuka, di hadapannya wanita separuh baya menyambutnya. Dea tersenyum ramah.
"Siang tante, ini betul rumah dokter Raka?".
"Iya betul, tapi siapa ya?".
"Saya calon istri Raka tante".
Terperangah menatap Dea "Benarkah? Calon istri Raka? Maksud kamu, Raka Pratama anak saya?"
"Iya tante" Dea memasang senyum terbaiknya.
"Ayo silahkan masuk, kok Raka enggak ada cerita sama tente, punya calon istri cantik seperti kamu" ucap Anisa penuh semangat.
"Mungkin Mas Raka malu tante, makanya saya inisiatif sendiri".
Busyet dah, sepertinya aktingnya tidak di ragukan lagi.
"Heran sudah tua kayak begitu masih malu-malu, justru tante senang kamu kesini".
Dea masuk, mengikuti langkah Anisa kedalam rumah.
"Papa.... Papa.... sini deh, calon menantu kita datang" Anisa menghampiri Sigit suaminya.
Pria separuh baya datang dari arah belakang, menaruh handuk kecil di bahunya, "ada apa ma? Calon mantu?".
Pria separuh baya itu memandang Dea dari atas sampai ke bawah. Untung saja ia berpakaian sopan.
"Kamu calon istri Raka?" Tanya Sigit tepat di hadapan Dea.
"Iya om".
"Wah, ma kita sebentar lagi akan punya cucu" Sigit tersenyum penuh bahagia.
"Iya pa, sebentar lagi kita punya cucu, mama senang deh, Mama sudah enggak sabar pa, pengen gendong cucu".
"Siapa nama kamu nak?".
"Saya Dea Diandra tante, panggil saja Dea".
"Kami orang tuanya Raka, panggil saja mama dan papa".
"Mas Rakanya dimana ya ma?" Dea menaruh tasnya di meja.
"Bukannya mas Raka kerja tadi, maklum jadwal operasinya banyak" ucap Anisa.
"Iya ma, mungkin mas nya sibuk, sehingga lupa ngasih tahu".
"Biasa Raka, tidak pulang kerumah, langsung pulang ke apartemenya, maklum jarak rumah dan tempat kerja jauh".
"Owh gitu ma, nanti saya akan kesana".
"Oiya mama mau masak, kamu mau bantu mama di dapur, biasa anak muda sekarang males masak".
"Saya suka masak kok ma".
Suka masak??? Itu pernyataan yang paling absurd yang pernah Dea katakan. Seumur hidupnya tidak pernah sekalipun memegang sodet dan teflon. Jauh sekali dengan expetasinya.
"Benarkah?".
"Yuk ma kita masak, papa kayaknya sudah laper".
Dalam sekejap, Dea mulai mencuri hati orang tua Raka. Walau tidak bisa masak, setidaknya ia tahu bahan-bahan yang ada di hadapannya, mulai berbagi cerita dengan calon mertua.
"Dea kerja dimana?".
"Saya tidak kerja ma, tapi buka usaha kecil kecilan".
"Usaha apa emangnya".
"Saya punya usaha sejenis tabungan, simpan pinjam, gadai barang berharga, sejenis CU gitu ma".
"Wah hebat itu".
"Biasa aja ma, nyibukin diri aja, dari pada nganggur dirumah" ucap Dea sambil memotong bawang bombay.
"Kapan kalian akan menikah?".
"Saya terserah mas saja ma" ucap Dea asal.
"Mama, pengen secepatnya bertemu orang tua kamu".
"Iya ma, saya berharap juga gitu".
Busyet dah, akting Dea tidak di ragukan lagi, mulus tanpa hambatan. Sepertinya ia akan lolos casting di hollywood bersama Emma Robert.
***
Raka membersihkan tangan dan jari-jari di wastafel, menatap pantulan bayangan di cermin. Wajahnya cukup lelah. Ia butuh tidur, dan sup buatan mama agar besok kembali fit lagi.
Dion menepuk bahunya, "Hay, bro sudah break up sama Ana?".
Raka mengerutkan dahi, mengambil tisu di depannya, "maksudnya?" Raka tidak mengerti.
"Katanya, kamu sudah punya gebetan baru, pasien kamu operasi kemaren, cantik, mulus, binggo bro?".
"Hahahah, Dion Itu hanya pasien".
"Pasien, tapi nyosor juga".
"Hah???" Raka mengerutkan dahi.
"Tidak usah pasang tampang bego deh, rumah sakit dan seisinya sudah menyebar".
"Beneran saya tidak ngerti" Raka menggulung lengan kemeja sampai ke siku.
"Kamu mencium pasien bernama Dea Diandra".
Oh May God, Raka melangkah meninggalkan Dion. Bodohnya lagi ia tidak menyadari gosip murahan seperti itu sudah menyebar begitu cepat. Raka berjalan cepat mencari keberadaan suster Mila. Ia yakin Mila lah dalang dari semua ini.
***
Raka butuh asupan nutrisi, sebaiknya ia pulang kerumah orang tuanya saja. Pikirannya mulai kacau, pernyataan Mila, membuatku terperangah tidak percaya, Mila hanya bercerita sebenarnya, ia mengetahui cerita tersebut dari pasien bernama Dea Diandra. Dea Diandra, wanita yang baru di kenalnya telah merusak hidupnya seketika. Hidupnya tidak sedamai dahulu.
Raka tidak percaya apa yang ada di hadapinya, wanita itu sedang bercengkrama kepada wanita yang paling di sayanginya di dunia jni. Ia seperti mengangkat beban berat, mengusap wajah, dan memilih menghindar melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Raka, sini, coba lihat mama dan Dea masak kesukaan kamu".
Raka berhenti, membalik tubuhnya menatap Dea, Dea tersenyum. Sepertinya keberadaannya mulai terganggu, sudah cukup ia telah menghancurkan Image di tempat kerjanya, dan sekarang keluarganya.
"Hay, mas Raka" ucapnya.
Raka mendekat, "saya ingin ngomong sesuatu sama kamu".
Dea mengikuti langkah Raka, menuju taman belakang rumahnya. Tepatnya di balkon belakang, sambil memandang kolam ikan mas. Raka membawanya jauh dari keberadaan orang tuanya. Sebuah dinding terhalang, Raka melipat tangannya di dada, emosinya benar-benar sedang di uji oleh bocah satu ini.
"Kenapa kamu ada disini? apa mau kamu sebenarnya?" ucap Raka geram.
Dea tersenyum, ia menatap Raka gemas, dalam keadaan marah sekalipun laki-laki dihadapannya ini tetap terlihat tampan,
"Saya ingin ketemu mas".
"Saya tidak ingin kamu ada disini paham!!! Cepat kamu pulang, tempat kamu bukan disini".
Dea menelan air ludah, di tatapanya Raka yang sedang murka. Jika ada api panas berkobar, ia harus menghadapi dengan air yang dingin.
"Mas pasti capek, mas mandi dulu gimana? Nanti saya akan menjawab semua pertanyaan mas" Dea memberi saran.
"Saya tidak ingin bertele-tele, jawab sekarang".
"Saya tidak mau, saya maunya mas mandi dulu".
Raka mulai jengah,pilihan yang tepat, seharusnya ia perlu mandi, meredakan amarahnya.
"Oke".
***