Bab 1

Terbangun dari tidur panjang semalam dalam keadaan rambut panjang hitam acak-acakan mirip rambut Tarjan, kelopak mata sulit terbuka, dan menguap beberapa kali. Matanya menyipit saat diliriknya jam di dinding, menunjukkan hampir jam tujuh lewat lima menit. Mengerjap-ngerjapkan mata berharap apa yang barusan ia lihat hanyalah sebuah kesalahan, membulatkan mata, mulut terbuka lebar tak percaya, namun jam di dinding tidak berubah sama sekali.

"MATI DEH GUE!" teriak gadis itu, bangkit dari tempat tidur secepatnya lari ke dalam kamar mandi.

Hari pertama Kayla masuk ke sekolah SMAN 81 JAKARTA, kelas XI ia murid pindahan dari Cikarang. Nama lengkapnya Kayla Prawijaya. Ibunya sedang merintis sebuah usaha di Jakarta Selatan. Meski ia sendiri tidak menginginkan pindah secara terpaksa, hanya memiliki satu anggota keluarga yang saat ini bersamanya. Ibu yang sangat ia sayangi.

Keluar dari balik pintu kamar. Tampak rapi mengenakan seragam putih abu-abu. Menuju meja makan, menyambar roti lapis berisi selai kacang yang sudah disediakan untuknya, mengunyah dan menelan secepat mungkin, melihat segelas susu putih, meneguk sampai habis tak tersisa. Ibunya berangkat kerja sebelum ia bangun dari tidurnya, inilah rutinitas sehari-hari menyiapkan segalanya sendirian.

Tulang punggung keluarga hanyalah ibunya, ia harus memahami situasi dan kondisi saat ini.

***

Lari menuju samping jalan raya, kebetulan angkot sedang berhenti mengangkut penumpang. Ia secepatnya masuk ke dalam angkot, beberapa menit kemudian sampai di depan gerbang sekolah turun dari angkot tak lupa juga membayar. Kaki Kayla bergemetaran, melihat tidak ada siapa pun yang di dekat gerbang. Satpan mulai menarik ujung pagar gerbang itu. Lari... lari, kedua tangannya menahan pagar. Tersenyum datar tampak terlihat raut wajah yang memelas. Terpaksa kali ini Satpan memperbolehkannya masuk, menuju ruang kelas XI IPA.

Mengintip dari jendela kelas, memutar bola matanya menengok ke kiri dan ke kanan ruang kelas.

'Selamet! Guru belum masuk kelas.' batinnya di dalam hati.

Baru saja menghembuskan napas lega seseorang menepuk pundaknya dari belakang, ia mematung detak jantung berdebar was-was. Menarik napas perlahan-lahan dan menghembuskan dengan keras, memberanikan diri menengok ke belakang.

Tiga detik.

"Eh, ada bapak," kata Kayla memaksakan seculas senyuman ramah.

Mengulurkan telapak tangan kanan, wajahnya kembali tersenyum datar, guru yang berdiri di depan pintu menyambut tangan gadis itu. Mencium punggung tangan gurunya.

"Anak baru?" tanyanya datar.

"I-iya Pak," jawabnya manggut-manggut.

Tanpa basa-basi pak Selamet masuk ke dalam kelas, diikuti langkah kakinya dari belakang.

Semua siswa yang di dalam kelas menatap ke satu arah, bukan gurunya yang mereka tatap. Tetapi seorang gadis berkulit kuning langsat, mata hitam, hidung apa adanya, berambut hitam panjang lebat yang menggendong tas ransel biru cerah. Pak Selamet berkumis putih tebal, rambut pada bagian kepalanya sebagian besar telah menghilang alias botak, menjatuhkan bokongnya di bangku. Menatap tajam ke arah depan.

Satu kelas langsung menunduk patuh, sudah paham jika pak Selamet menatap mereka seperti itu. Ia guru Mtk yang paling ditakuti semua siswa di sekolah, termasuk ke dalam guru killer karena peraturannya yang begitu menyiksa, mencekam dan hukuman yang sangat berat bila melanggar.

"Perkenalkan dirimu." suruh pak Selamet menatap siswa baru yang berada pada sampingnya.

"Perkenalkan nama saya... " terdiam cukup lama sambil menunduk nervous.

Tiba-tiba seseorang lari ke dalam kelas terhenti berdiri tepat di sampingnya.

"Mexsi Megantara."

Menghentikan rasa nervous gadis yang sedang kebingungan menatap lelaki itu. Ia memakai kacamata hitam, memakai masker hitam, sembari menggandeng tas ransel berwarna biru gelap sebelah kiri bahu.

Kayla melanjutkan ucapannya yang terhenti tadi, "Kayla Prawijaya."

Kayla menatap lelaki yang berdiri di sampingnya dengan tatapan serius.

Pak Selamet berdiri, mereka mengarahkan pandangannya pada sang guru.

"Lepas kacamata dan masker sekarang juga!" bentaknya menatap tajam ke arah lelaki itu.

Saat Mexsi melepas masker lalu kacamata tersenyum tipis. Semua wanita di dalam kelas itu terpaku menatapnya, bahkan salah satu gadis yang sedang mengantuk berat, kepalanya hampir tumbang jatuh kepentok meja. Tiba-tiba matanya melek hampir keluar dari tempatnya. Bagaimana tidak? badannya yang kekar, berbadan tinggi, berkulit putih, matanya hitam kecoklatan saat tersenyum membuat para kaum hawa meleleh.

Namun ada sesuatu yang mengganggu...

Kayla mengerutkan kening. Kenapa? Siapa? Mengapa wajahnya tak terlihat asing. Tidak, Kayla tidak yakin betul ia tak pernah bertemu lelaki itu sebelumnya. Tetapi, ada sesuatu yang enggan baginya. Bertanya-tanya di dalam hati.

Lelaki itu tidak memandang siapa gadis yang saat ini berdiri di sampingnya, hanya menatap ke depan lurus-lurus.

"Subhanallah, ganteng banget!" jerit salah satu siswa dari sudut kiri tengah.

Sampai seseorang yang akan pindah kelas, demi menghindar dari pak Selamet.

"Astagfirullah Aladzim, gue gak jadi pindah kelas."

Kembali terdengar jeritan dari berbagai arah. Seketika kelas yang tadinya hening, kini menjadi sangat berisik. Tidak menghiraukan bahwa ak Selamet sedang mendengarkan ucapan mereka.

"Cari tempat duduk yang kosong sana!" perkataan pak Selamet membuat seisi kelas terdiam. Pada hal terdengar biasa saja, mungkin terbiasa dengan hawa mencengkram. Mereka segera sadar, sedari tadi membuat keributan sendiri.

"Jangan memakai kacamata, ditambah masker hitam lagi! Mau sekolah apa maling?"

Semua siswa cekikikan kecil. Tanpa menjawab perkataannya, Mexsi melangkahkan kaki panjangnya mencari tempat duduk yang kosong, melewati para kaum hawa santai. Membuat mereka saling memberi tatapan sebuah isyarat. Salah satu di antara mereka ingin Mexsi duduk di sebelahnya, mendorong teman sebangku sampai dia berdiri hampir jatuh, mengkedipkan mata genit. Teman yang di sampingnya pun tidak mau kalah, mendorong teman yang sedang sibuk cari perhatian, saling tak terima mereka langsung dorong-mendorong akhirnya terjatuh bersama.

Seisi kelas tertawa sangat geli, lagi-lagi suasana kembali menjadi berisik. Pak Selamet kembali menggeram, menggebrak papan tulis menggunakan penggaris panjang dua meter berbahan kayu kecoklatan. Mereka kembali terdiam setelah mendapat kode keras dari gurunya yang super sadis itu.

Mexsi melengos tatapannya terlihat tajam duduk di bangku paling belakang dibaris kedua dari samping. Kayla menengok ke berbagai arah bahkan sudut ruangan tidak ada satu bangku pun yang kosong di sana, kecuali... meja lelaki tadi yang datang secara mendadak. Terpaksa memberanikan diri duduk bersebelahan dengannya.

Daripada ambil risiko tidak mendapatkan tempat duduk? Kayla menaruh tasnya pada bagian bawah samping kanan kaki.

Mexsi Megantara ia salah satu murid pindahan dari Negara Singapura, alasan pindah dari sana karena seorang gadis tak henti-hentinya terus mengganggunya. 'Si Toa Berjalan,' itulah nama panggilan terbaik pada musuh bebuyutannya, bertengkar dari usia sebelas tahun.

Aneh... ia dengan gadis yang amat sangat dibenci, selalu satu sekolah. Terlebih satu kelas lagi dan lagi, hingga sekarang. Mendengar jika gadis itu sengaja mengikuti Mexsi, daripada ambil pusing lebih baik menghindar sampai rela pindah sekolah ke Indonesia.

Sebelum Mexsi tahu nama gadis itu, mereka sudah saling benci. Setiap ada guru yang mengabsen kehadiran siswa sebelum menyebutkan nama orang yang membuat hari-hari terasa di neraka, mengeluarkan headset, untuk menyumpal telinganya tampak jelas tidak ingin tahu siapa namanya. Toa adalah satu-satunya nama panggilan yang terbaik baginya untuk diucapkan.

Tak lupa juga membawa kapas, sebagai cadangan jika lupa membawa perihal yang pertama, atau lebih parahnya lagi ngumpet dipojokan sambil menutup rapat kedua telinga tampak orang yang mendengar nama 'Malaikat Maut' yang akan mencabut nyawanya. Sebelum masuk ke dalam kelas ia menerobos masuk, sebelum Satpan menutup rapat pagar tadi sesudah Kayla.

Alih-alih mencuri-curi pandang, Kayla menatap wajah lelaki yang terlihat sibuk.

Mengeluarkan headset, kapas. Pikir Mexsi sudah terbebas dari Toa, tak memerlukannya lagi. Mengambil plastik keresek di kolong meja berinisiatif membuang sampah beserta masa lalunya, mengambil buku lalu tak sengaja pulpennya jatuh ke bawah kolong sebelah.

Mexsi akan membungkuk mengambil pulpennya, Kayla membunguk terlebih dahulu. Membuat lelaki itu menatap wajah gadis yang tertutup rambut panjangnya yang hitam lebat, mengambil pulpen dengan tangan kanan. Mengangkat punggung, menyandarkan tubuh, duduk kembali. Menengok, menatap Mexsi yang berada di sebelahnya, memberikan pulpen yang ia ambil.

Bukannya Mexsi mengambil pulpen, kedua alisnya terangkat, wajahnya memerah, menatap gadis itu.

"Lo!" teriak Mexsi langsung terkejut, syok dan panik menahan amarah, membuat seisi kelas melihat ke arahnya.

"Ko ada di sini?!"

Bab 2

Membalas tatapan dengan kebingungan dan beberapa pertanyaan yang meledak-ledak di

kepalanya.

Apa? Kenapa? Teriak sampai segitunya. Emangnya dia hantu apa? Tentu saja Kayla

keberatan atas perilaku lelaki itu.

Yang berteriak syok. Apa lagi yang diteriakin parno.

Pak Selamet menggebrak meja. "Anak baru, jangan berisik!" celetuknya mengejutkan

mereka yang saling bertatapan. "Jika terulang lagi, saya tidak akan segan-segan

mengeluarkan kalian berdua dari kelas!"

"Ba-ik Pak," jawab Mexsi ba-bi-bu. Kembali menatap kesamping sebelah kanan, dengan

tatapan tajam yang dingin dan membunuh.

Kayla pun menarik napas berat, menghembuskannya sekeras mungkin. Membuang

muka. Tanpa harus menjawab pertanyaan orang yang baru saja dikenalnya, beberapa menit

kemudian.

Astaga-naga! Gak salah liat? Ini cewek sampai ikut ke sini. Gue gak bisa tinggal diam!

SREEEET!

Menggeser bangku yang Mexsi duduki menjauh dari Kayla, pak Selamet sudah tak

mampu menahan amarah lagi. Darah di kepalanya bergejolak, hampir meledak keluar,

kesabarannya kini mencapai batasan. Ia mendekati tempat duduk anak baru itu, wajahnya

benar-benar memerah karena marah, sembari membawa penggaris kesayangannya. Untuk

memukul bokong siswa yang melanggar peraturan dengan itu. Berdiri memelototi Mexsi,

matanya hampir keluar, mulai mengelus-elus penggaris pelan. Siswa yang berada di sana

bergidik merinding dan ngeri, sudah mengira-ngira apa yang akan terjadi pada nasib anak

baru itu.

"Kalau tidak suka pelajaran Bapak... " mengatur pernapasannya. "KELUAAAR!"

Sebelum semua siswa yang berada dalam kelas menutup telinga.

"Bukannya gitu Pak." Mexsi menyipitkan matanya dengan sebaris kernyitan muncul

dikening. "Saya gak bisa duduk di samping... " mengangkat ringan bahunya menatap tajam

gadis yang duduk bersebelahan dengannya. "TOA BERJALAN."

Tawa satu kelas meledak. Kayla menundukkan kepala, pipinya memerah menahan malu.

Gila! Dia baru saja panggil gue apa? Toa berjalan? Panggilan semacam apa itu? Malu banget

gue. Pikirnya sempat mengerjap-ngerjapkan mata.

Pak Selamet menggebrak meja, suasana menjadi hening kembali, menatap ke samping kiri

paling pojok di barisan ketiga. "Mexsi pindah sana! Ke meja Tino." menunjukkan meja yang

di maksud dengan memutar bola matanya. "Tina cepat pindah ke sini, mulai sekarang kalian bertukar tempat duduk."

Mereka berpindah posisi duduk. Tino di kenal dengan julukan tukang rusuh alias Raja Jail,

suka menjaili teman-teman dan dicurigai tukang maling pulpen. Bahkan tukang gosip di

kelas. Duduk bersebelahan dengan Mexsi, ia tertawa kecil.

Kayanya dengan dia duduk di sini rejeki nomplok. Pikir Tino sambil mengelus-elus dagunya yang mulus, tidak. Ada satu jenggut kecil di sana, jika memakai kacamata pembesar

mungkin baru bisa terlihat jelas. Ia saudara sepupu dengan Tina, gadis yang terkenal super-duper cerewet yang duduk bersebelahan dengan Kayla, mereka saling berkenalan.

***

Teman yang baru Kayla kenal. Mengajaknya menuju ke kantin belakang sekolah. Diikuti Ino dikenal sebagai gadis yang paling pemalu dan pendiam, terkadang Tino suka menggodanya membuat Ino menahan napas sedetik lalu pergi menghindar. Tidak lupa Tina mengajak lelaki yang paling keren di sekolah, Padil ketua kelas yang paling digemari banyak orang, suka menolong siapa pun yang mengalami kesulitan, seratus persen ikhlas, tanpa pamrih, dia juga kandidat ketua OSIS.

Mereka duduk saling berhadapan, di salah satu kantin langganan Tina tidak lain ibu Ino.

"Mau pesan apa? Di sini banyak sekali makanan yang enak-enak, bakso, nasi goreng, pangsit, jus, es mambo masih banyak lagi. Yang paling gue demen di sini, bakso super jumbo dan jus melon yang manis, semanis senyuman gue. Hehehe," kata Tina pada Kayla dan Padil nyerocos, tak henti-hentinya cekikikan.

Lima menit kemudian...

Sampai membuat kedua orang itu bertanya di dalam hati, kapan bisa pesan? Kalau tak ada kata berhenti saat berbicara.

"Gue bakso aja deh," jawab Kayla secepat mungkin.

"Nasi goreng super pedas," sahut Padil.

"Oke! Pangeranku," menatap Padil malu-malu. "Pesanan kalian akan segera datang, tunggu aja. Tina yang berhati baik, seperti malaikat tak bersayap ini akan segera membawakan makanan yang kalian pesan." Tina akan pergi memesan.

Sosok lelaki yang berparas paling enek menurut Tina berlari ke arah mereka, duduk sambil mengambil tisu mengelap keringat di dahinya memandang Tina.

"Gue gak di tanyain," celetuk Tino dengan sebelah kaki yang dilipat ke atas.

Tapi Tina tidak memedulikan saudaranya.

Kayla dan Padil tertawa kecil membekap mulutnya sendiri.

"Ngeselin banget tuh anak!" lanjutnya.

Beberapa saat Tina kembali membawa bakso dan nasi goreng dibantu Ino. Tino akan bangkit dari tempat duduk.

"Mau ke mana?" tanya Tina. "Nih udah gue pesenin makanan kesukaan lo. Mangkannya jadi anak tuh yang baik dikit kenapa, jangan bikin onar mulu."

Menyodorkan semangkuk bakso super jumbo ke hadapan Tino, menatap saudaranya segan.

"Lo emang saudara gue yang paling pengertian," berdiri disamping Tina-"masalah itu biar waktu yang menjawab, udah lo makan aja." lanjutnya akan memeluk saudaranya namun Tina menghindar hanya manggut-manggut patuh, Tino tersenyum malu langsung duduk mengambil garpu dan sendok.

Meski mereka suka berantem gara-gara hal kecil tapi sebenarnya Tina dan Tino saling peduli. Mereka makan pesanan masing-masing.

Tina melontarkan sebuah pertanyaan, "Kayla, kenal ya sama Mexsi?"

"Hmm... gak ko, baru kenal," ucap Kayla sedikit hati-hati menjawab pertanyaannya, takut dia salah pengertian.

"Oh gitu, tapi ko dia kelihatannya kaya udah kenal lama sama lo, sampai teriak gitu?" pertanyaan Tina kembali dilontarkan.

Kayla merasa sedang dipojokkan, ia akan menjawab secara jujur. "Kalau itu, gue juga gak tahu."

"Ah Tina, gitu aja dibikin repot," kata Tino menepuk pundak Tina pelan. "Ya kali, Mexsi mirip sama gue. Canda dia, gitu aja gak tahu."

"Oh gitu, lo duduk sebelahan sama dia. Kenapa gak ajak Mexsi ikut gabung sama kita, gue yakin! Lo pasti dicuekin, ya iyalah orang kaya lo gak mungkin- "

"Udah Tina, kata nenek. Jangan makan sambil bicara, nanti keselek terus nyesel hahaha." Tino tertawa puas.

"Udah! Jangan langsung keliatan sifat aneh kalian, malu sama anak baru. Butuh waktu biar paham kalian makhluk seperti apa? Iya kan, Kayla?" tanya Padil melirik ke arahnya.

"I-iya." Kayla tersenyum kecil.

"Gue mau ke toilet sebentar," ucap Padil memberi tahu temannya.

"Jangan lama-lama, aku rindu," ucap Tina.

Padil langsung buang muka, mengambil langkah seribu. Kayla tertawa kecil, Tino menggeleng-gelengkan kepala.

Segerombolan lelaki datang dari sudut kanan. Kawal, Kiwil dan Kawul. Mereka terkenal pembawa masalah. Berbeda dengan Tino mereka suka menyanyi di mana pun alias tak lihat situasi dan kondisi. Kiwil duduk menggebrak-gebrak meja dan Kawul menabuh galon dengan tangan kananya, mereka memainkan alat musik seadanya.

Para siswa yang berada di sana tertawa datar secepatnya memakai headset, bahkan ada yang sampai memasukkan tisu makan ke dalam telinganya jika lupa membawa headset. Yang menjadi vokalisnya tidak lain ketua mereka si Kawal, lantunan lagunya mulai terdengar. "Judi tet... merusak keimanan. Judi tet... judi tet... teeet."

Terus saja seperti itu sampai kiamat, hampir semuanya merasa terganggu termasuk Kayla, baru pertama kalinya ia bertingkah seperti ini menutup kedua telinganya menahan kebisingan, menyerang telinganya secara bertubi-tubi. Saat itu pun ia bangkit dari tempat duduk tak tahan melangkah pergi.

Mexsi menuju kantin dan melihat suatu kejadian.

Kayla tak sengaja menabrak gadis yang membawa gelas berisi jus alpuket seketika menumpahi seragamnya. Sarah marah langsung mendorongnya sampai tersungkur di lantai.

Mexsi terus mengamati. Gue yakin, Toa pasti balas menonjok.

"Lo punya mata gak?" teriak Sarah membuat semua orang yang berada di sana menatapnya.

Kayla bangkit, Tina dan Ino membantunya berdiri. Sedangkan Tino melirik sebentar dengan tenang melanjutkan makan, sedangkan Padil belum kembali dari toilet.

"Gue minta maaf, gue gak sengaja," kata Kayla mengatakannya dengan tulus, sambil mengangkat tangan kanannya.

Mexsi menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya apa yang ia dengar barusan seharusnya tidak pernah terdengar.

Aneh, kok mendadak Toa minta maaf? Kaya bukan Toa yang dia kenal, salah gak salah ya tetap cewek itu paling benar. Tapi kok... batin Mexsi terus mengamatinya.

Cukup lama tangan Kayla tak disambut baik, ia menurunkan tangannya dengan sedikit sedih. Saat Sarah akan melayangkan telapak tangan ke wajah gadis yang menumpahkan jus kesukaannya. Kayla menutup mata, alis tertekuk takut, menunduk.

Seseorang berteriak. "GILA, TAMPAN BANGET!"

Spontan Sarah menatap seseorang yang menjerit lalu mengalihkan pandangannya pada Mexsi. "Iiih tampan... "

Hampir saja sebuah tamparan melesat mengenai pipi Kayla. Ia pergi dari sana melewati Mexsi begitu saja tanpa menatapnya, sedangkan lelaki itu menatapnya dengan serius.

Sarah melangkah mendekat dan memegang lengan Mexsi sampai senyum-senyum sendiri tak karuan mirip orang gila.

"Tampan siapa namanya? Rumahnya di mana? Kelas apa? Udah punya pacar belum? Kalau belum... aku mau kok jadi pacar kamu."

Mexsi memegang tangannya menghempaskan ke udara. Ia melangkah pergi meninggalkan Sarah, bukannya marah! Sarah semakin penasaran dengan lelaki yang di anggapnya jual mahal. Baginya hal itu sebuah tantangan yang harus gadis itu taklukan, bagaimana pun caranya.

...Flashback On...

Duduk dengan santai saat Mexsi berada di kantin, tiba-tiba Toa berjalan tak sengaja menabrak gadis yang sedang membawa semangkuk spageti berlumuran saus tomat di atas nampan. Membuat seragamnya kotor terkena saus tomat, gadis yang menabraknya tidak meminta maaf sekali pun. Ia hanya melengos pergi.

Tak terima dia melempar spageti menimpuk kepala Toa, ia mendekat mengepalkan tangan kananya satu pukulan mengenai samping bibirnya.

Langsung mengeluarkan darah, gadis yang meringis kesakitan membalas tonjokkan Toa. Sehingga mereka berdua saling hantam-menghantam dengan tangan kanannya, Mexsi hanya serius memperhatikan musuh bebuyutannya itu.

Salah satu penjaga kantin menghentikkan mereka, tetap saja Si Toa masih mengambil kesempatan menonjoknya.

...Flashback Off...

Bab 3

Menaiki tangga lantai tiga menuju atap gedung, Mexsi sampai di sana mendengar suara tangisan dari ujung samping sebelah kanan. Menjulurkan kepalanya, menengok dan memeriksa, dari kejauhan melihat sosok gadis berambut panjang hitam lebat meneteskan air mata. Matanya membulat, tatapan berubah menjadi terenyuh saat mengetahui siapa yang menangis hingga tersedu-sedu.

Gadis yang selama ini ia benci, dan terkenal tukang pembuat masalah bisa-bisanya menangis.

Terlintas dalam pikirannya, apakah tadi tanpa sengaja dia jadi penolong Toa? Tidak benar.

Berdecih malas ia turun dari sana dengan wajah kesal, satu-satunya tempat yang paling hening di sekolah kini tak ada bedanya. Duduk memikirkannya, baru pertama kali Mexsi melihat musuh bebuyutannya menangis, cukup menyenangkan ternyata Toa bisa nangis.

Kerasukan setan apa itu cewek? Jadi pemaaf begitu. ck, ck, ck. Menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan.

Duduk di bawah tangga asyik memikirkan gadis itu menangis tanpa ia sadari Kayla turun dari sana. Tidak lama kemudian gadis itu melangkah turun dari tangga.

Pandangan Kayla tiba-tiba memudar, pandangannya seketika memutih lalu berubah menjadi abu-abu sampai akhirnya memejamkan mata. Ia tumbang menimpa punggung Mexsi yang duduk di bawah tangga, terkejut akan hal itu Mexsi yang mengira sedang di jaili secepatnya berdiri dari sana, sembari memegang lengannya. Agar tidak kabur saat di introgasi nanti. Kayla masih setengah sadar, wajahnya tampak memucat.

Mereka berdiri saling berhadapan, Melepaskan genggamannya dari lengan gadis itu, Mexsi syok mengetahui tangan siapa yang ia pegang.

Kayla menggigil, kakinya melemas tepat saat bola matanya bertatapan dengan Mexsi samar. Kakinya langsung lemas dan tubuhnya langsung ambruk jatuh ke depan menimpa dada Mexsi. kedua tangan Mexsi memeluknya refleks. Kedua bola matanya hampir keluar.

Tidak lama kemudian bel masuk berbunyi mengejutkan dirinya yang sedang menahan tubuh Kayla dalam dekapannya.

Merasa kasihan ia mengangkat tubuh Kayla dengan kedua tangannya, melangkah turun tiba-tiba terhenti.

Gawat!

Kalau sampai ada yang liat dia gendong Toa, bisa turun drastis harga dirinya, belum lagi para penggosip diluaran sana, yang kepo akan dirinya.

Rasa kasihannya hanya dapat bertahan kurang-lebih beberapa detik saja. Menurunkan Kayla, mendudukannya di tangga, bersandar pada bahu tangga, kedua kakinya telentang. Ia meninggalkannya di sana, turun dari tangga seorang diri.

Toa pikir dia bego? Dengan cara pura-pura pingsan! Dia akan merasa simpatik, terus mulai jailin dia lagi pada akhirnya. Ck, jangan harap! ungkap batinnya tanpa dosa.

***

Sudah setengah jam berlalu, batang hidung Kayla tidak terlihat sama sekali.

Tina bertanya pada teman sekelasnya tentang keberadaan Kayla. "Kalian ada yang liat Kayla, gak?"

Mereka bertiga serempak menggeleng-gelengkan kepalanya tidak tahu.

Mexsi melirik jam di dinding sekolah. Toa ko gak balik-balik ya? Apa jangan-jangan beneran pingsan? Kenapa juga dia mikirin orang yang tak pernah penting dalam hidupnya... hampir satu jam berlalu Mexsi meminta izin pergi ke kamar kecil pada bu Riska.

Saat keluar dari toilet Mexsi akan kembali ke kelas kakinya terasa berat, ia sedikit penasaran tanpa sadar kedua kakinya melangkah menuju tangga lantai tiga. Sampai di atas tangga lantai dua, kakinya terasa kaku malas untuk mengecek keadaan di sana. Membalikan badan.

Bolehkah bertanya, kenapa dia harus repot-repot datang ke sini? Tapi... rasa penasarannya tak mampu dibiarkan begitu lama. Membalikan badannya kembali menatap tangga atas lantai tiga, lari menaiki tangga ternyata Kayla masih dalam keadaan saat ia meninggalkannya di sana, punggungnya bersandar pada bahu tangga.

Mexsi membungkuk, kedua tangannya lurus akan menyentuh tubuh gadis yang tergeletak di sana. Namun terhenti, saat menatapnya.

Apakah dia benar-benar pingsan?

Bimbang...

Mexsi berdiri memegang bahu tangga, ia tidak mungkin menolongnya. Buat apa? Lagian dia bukan siapa-siapa, ia melirik kembali. Terlihat Kayla tidak dalam keadaan baik-baik saja. Mexsi mendengus kesal langsung mengangkatnya bergegas turun dari sana, masuk ke dalam ruangan UKS.

Merebahkannya di atas Hospital bed, tidak ada yang melihat kejadian itu karena kelas sedang berlangsung alias sepi. Mexsi akan kembali ke kelas, kakinya terasa kaku berbalik menatap Kayla. Apa yang sebenarnya dia lakukan, seharusnya membiarkan gadis itu di sana akan jauh lebih baik bukan? Dan melihat keadaannya seperti menderita seharusnya membuat ia merasa senang, apa pedulinya! Mungkin sedikit peduli saat melihat gadis yang Mexsi benci menangis, cuma bilang bisa jadi.

Melangkah menuju ruang kelas, menatap Tina ragu akan memberitahunya. Menarik napas berat menghembuskannya.

Tina melihat kedua bola mata Mexsi menatapnya dengan serius langsung terpaku, napasnya seakan-akan sulit, lehernya bagaikan tercekik, tidak sanggup membalas tatapan Mexsi. Bagaimana tidak? Semua gadis yang berada di kelas, menatap Tina dengan tatapan membunuh. Karena mereka berharap Mexsi akan menjadi milik mereka, hanya bisa menunduk.

"Teman sebangku lo, gue liat pingsan... ada yang bawa dia keruang uks," kata Mexsi.

Sebelum Tina menjawab, Mexsi kembali duduk.

"Apa?!" jerit Tina. Mendekati bu Riska meminta izin menemani teman sebangkunya, bu Riska memperbolehkannya.

Guru magang yang cantik, seksi dan baik hati. Perkenalkan Riska dalam beberapa hari saja sudah menyita perhatian para kaum Adam, apalagi Tino. Ia tidak akan rela, bila harus membolos dalam pelajaran guru idamannya itu. Jika ketingalan pelajarannya sekali saja, bagaikan tidak makan dalam satu minggu lebay bukan?

Tina lari menuju ruang uks, melihat teman sebangkunya terbaring lemah di atas ranjang.

Kayla perlahan membuka mata, terlihat samar-samar, berusaha melihat siapa yang berada di sampingnya. Matanya terbuka menengok ke arah Tina yang sedang memegang teh hangat di tangannya.

"Lo udah sadar, gue khawatir banget sama lo. Meski baru kenal, tapi gue yakin lo cewek baik-baik, yang akan menjadi sahabat gue sampai akhir hayat hehehe... minum dulu tehnya."

Kayla mengangguk.

Tina membantunya duduk bersandar di tembok, beralaskan bantal.

"Lo ko bisa pingsan gitu, dan yang jadi pertanyaan gue. Siapa yang udah bawa lo ke sini? Apa jangan-jangan- "

"Gue juga gak tahu, tapi gue jatuh menimpa seseorang... sepertinya dia cowok, soalnya gue lihat dia samar-samar... tapi gue yakin kalau dia itu pasti cowok," potong Kayla mengangkat ringan bahunya berdecih kegelian. "Dia pasti gendong gue sampai ke sini, gue harus tanya. Tapi sama siapa? Ck."

"Apa jangan-jangan Mexsi, soalnya dia yang kasih tahu gue kalau lo di sini."

"Serius!" Kayla menatapnya.

"Terus dia bilang apalagi?"

"Gak si, cuma bilang 'teman sebangku lo, gue liat pingsan ada yang bawa dia keruang uks,' suka kali dia sama lo, dia diam-diam ngikutin dan kebetulan liat lo dalam keadaan sakit. Wah!"

Mengejutkan teman sebangkunya sampai Kayla mengelus dada.

"Lo baru satu hari di sini, langsung dapat cowok aja, ganteng lagi," kata Tina menepuk pundak Kayla. "Jujur, gue iri sama lo. Kenapa? Gue itu udah lama sekolah di sini, tapi pangeran gue susah didapetin hatinya."

Memutar bola matanya malas. "Apaan sih Tina, gue niat sekolah bukan nyari jodoh. Lagian gue yakin ko bukan Mexsi, pasti orang lain. Lo liat sendiri pas dia teriakin gue, terus bilang gue 'Toa Berjalan,' dia juga bilang kalau cuma liat gue pingsan, bukan bawa gue ke sini kan."

Terlihat temannya tersenyum mengejek.

"Pokoknya gue harus cari tahu siapa yang udah tolongin gue, gak enak kalau belum bilang terima kasih sama dia," jawabnya tanpa ba-bi-bu. "Iya, harus."

"Iya, iya terserah lo aja. Tapi lo harus hati-hati, biasanya kasus kaya gini... "

Kayla menatapnya serius. "Apa?"

Tina ikut menatapnya serius, mereka saling tatap cukup lama.

"Sebuah bertanda... lo bakal dapat pasangan hidup." Tina tersenyum puas.

"Duh Tina, udah ah. Gue cape bahas yang gak penting kaya gitu, cari topik lain aja."

"Ah masa, yang bener?"

"Tin- "

"Ciyeee, ciyeee, yang lagi jatuh cinta. Bakal jadi gosip teristimewa sepanjang hari, sama-sama anak baru! Saling jatuh cinta. Pasti meledak, gue jadi selebritas deh, karena bakal banyak yang bertanya-tanya tentang kalian."

"Udah jangan bikin gue bete."

"Bete apa seneng? Apalagi berbunga-bunga?"

Kayla berpura-pura lemas, badannya merosot, berbaring kembali, menutup matanya. Malas mendengarkan ocehan temannya jika terus diladenin yang ada makin parah pertanyaannya. Cukup tahu Tina cerewet, cerewet banget.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED