“Kapan kamu akan segera menikah? Usiamu sudah 25 tahun, Maryam.”
Maryam diam. Dia tak bisa menjawab pertanyaan ayahnya yang sudah berulang kali ditanyakan kepadanya.
“Jawab Maryam!”
Maryam menggeleng. Dia masih belum sependapat dengan kedua orang tuanya yang terus mendesaknya untuk segera menikah. Menganggap kalau usianya sudah tak bisa ditawar lagi untuk menolak menikah. Sementara Maryam masih belum menemukan laki-laki yang dia rasa tepat untuk menjadi imamnya
“Maryam?” Ibu memanggil lembut nama putri bungsunya itu.
“Bukannya aku tidak mau menikah, Ibu. Tapi—” Maryam menghentikan ucapannya sebelum dia menjelaskan alasannya.
Sungguh, dia tak bisa selalu menjadikan Tyas sebagai alasan dia tak tertarik untuk menikah cepat. Melihat kehidupan rumah tangga yang dijalani kakaknya dengan penuh perbedaan prinsip, membuatnya merasa muak dengan laki-laki yang tak sekufu dengannya.
“Tyas dan kamu berbeda. Dia terlalu idealis dalam berpikir,” Ibu mencoba memberikan penjelasan atas pemikiran Maryam yang selama ini selalu salah dalam memandang tentang pernikahan.
“Itulah alasannya mengapa aku mempelajari tentang filsafat, agar aku—”
“Agar kamu terus menutup pikiranmu tentang sebuah pernikahan, yang selalu kamu anggap sulit!” ucap Arga, memotong perkataan putrinya yang belum selesai disampaikan.
“Maka dari itu, pikiranmu tentang kehidupan jadi dipandang sempit olehmu. Hingga membuatmu menjadi orang yang jauh lebih idealis melebihi kakakmu!”
Maryam kesal, sangat kesal mendengar ucapan ayahnya. Dia merasa tidak terima dikatakan seperti itu. Dibandingkan dengan Tyas yang selalu dia anggap buruk, dan sekarang, ayahnya malah membuatnya menjadi terlihat lebih buruk dari Tyas.
“Sekarang, aku sudah tidak peduli dengan apapun alasanmu lagi tentang pernikahan. Aku akan menjodohkanmu dengan Abizar.”
Maryam terkesiap mendengar perjodohan tersebut. Kedua matanya langsung mendelik, dan dia hampir menolaknya kembali.
Tapi, dengan cepat Arga langsung mengatakan, “Kali ini, aku tidak ingin mendengar penolakan darimu lagi!”
Dia sudah sangat tahu, kalau Maryam akan kembali menolak untuk dijodohkan.
“Abizar?” Maryam menyebut nama itu dengan penuh kegelisahan.
“Iya, Abizar. Dia lulusan doktor, yang pastinya seorang laki-laki yang sudah memiliki masa depan.”
“Hanya karena dia seorang lulusan doktor, Ayah dan Ibu jadi ingin menjodohkannya denganku?” Maryam mulai kembali memprotes perjodohannya untuk yang kesekian kalinya.
“Kau dengar Ibu?” ucap Arga pada istrinya. “Itulah kelakuan putrimu yang satu ini.” Arga benar-benar sudah sangat mengenali sifat putrinya yang sering tidak menurut padanya, meski hanya dalam persoalan perjodohan saja.
Ibu menarik pelan nafasnya, dan menghembuskannya perlahan. Dia mencoba untuk tidak ikut terbawa emosi seperti suaminya, setiap kali bicara pada anak-anaknya.
“Besok malam, akan ada pertemuan dua keluarga. Antara keluarga Abizar dan keluarga kita.” Beritahu Ibu pada putrinya.
Maryam mulai merasa cemas, dan sungguh, dia benar-benar tidak ingin datang dalam pertemuan itu.
“Sepulang dari kampus, aku terbiasa mengikuti kajian agama setiap hari Selasa. Dan, kajian agama itu sampai malam.”
“Selama itu?” tanya Ibu, merasa heran.
Arga masih diam, sengaja untuk mendengar alasan Maryam, sampai sejauh mana putri bungsunya itu akan membuat sebuah karangan cerita.
“Ya, karena sebentar lagi mau bulan puasa. Jadi, kami akan mengadakan rapat untuk membuat kegiatan selama bulan Ramadhan nanti.”
Alasan yang terdengar cukup masuk akal untuk Arga dan Ibu terima. Tapi, sebagai orang tua, tentu saja Arga tetap tidak mau menerima alasan apapun dari Maryam kali ini.
“Kau tetap masih akan dianggap oleh teman-teman kajianmu, kan? Kalau sekali saja kau tak datang mengikuti kajian itu?” Arga langsung menembak pertanyaan itu pada Maryam.
“Apa?” Maryam pun stuck. Dia tak bisa memberikan alasan apapun lagi pada ayahnya kali ini.
“Kalau begitu, izinkan aku mengikuti kajian sampai selesai. Setelah itu, aku akan langsung datang ke pertemuan itu.” Kata Maryam pasrah, dan terpaksa melakukan pertemuan itu.
Arga dan Ibu pun langsung tersenyum mendengar ucapan putrinya, yang akhirnya mau menuruti keinginan mereka.
***
Keesokan harinya, Maryam mengikuti kelas seSitar di kampusnya. Ketika dosen sedang membahas mengenai kebebasan di abad ke 21. Suasana yang semula biasa, dengan kesibukan para mahasiswa yang menulis setiap penjelasan dosen yang sedang menyampaikan materi. Tiba-tiba diheningkan dengan suara seorang laki-laki, yang mengeluarkan pendapat mengenai pembahasan yang sedang berlangsung dijelaskan saat ini.
Tentu saja, pendapat yang dia lontarkan mengherankan banyak orang. Karena adanya pendapat kontra dari pembahasan tersebut.
Laki-laki itu merasa, kalau kebebasan yang dosen maksudkan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi sebenarnya dalam kehidupan nyata. Di mana kebebasan tersebut harus didapat berlandaskan sesuatu yang sudah menjadi rahasia umum.
Maryam yang sejak tadi serius mendengarkan penjelasan dari dosen pun teralihkan dengan ucapan laki-laki itu. Tapi Maryam, tidak melihat sosok laki-laki itu. Dia hanya mendengarkan suara laki-laki itu saja, yang kini semakin membahas panjang hingga memasukkan tentang agama di dalam pendapatnya itu.
Setelah perkuliahan selesai, Maryam bergegas pergi ke masjid tempat biasa Maryam mengikuti kajian tentang agama yang dianutnya, yaitu agama Islam.
Maryam hidup dari keluarga yang cukup taat dengan agamanya. Keluarganya memegang prinsip kuat dalam segala perintah yang agama Islam berikan. Walaupun dari cara berpakaian mereka, hanyalah berpakaian biasa. Menutup aurat seperti para Muslimah pada umumnya. Tak jarang, Maryam pun justru lebih sering mengenakan stelan celana panjang dan blouse atau kemeja daripada rok atau gamis. Tapi, dia tetap menutupi kepalanya dengan jilbab.
Maryam sangat menyukai dengan kajian di masjid tersebut. Karena kajian tersebut bisa membawanya pada pergaulan yang tidak kebablasan.
Sebagai mahasiswi jurusan filsafat. Sering kali dia dibuat bingung dengan materi perkuliahan yang didapatkan olehnya. Maka dari itu, keseimmasan ingin dia dapatkan dari sisi lain, ketika ada sebuah pendapat yang sekiranya tidak sesuai dengan hati dan pikirannya.
Ddrrrdd… dddrrrddd…
Sudah tak terhitung lagi, berapa kali Ibu mencoba menghubunginya. Maryam yang tak mau meninggalkan semenit pun kajian, terpaksa mengabaikan panggilan telpon dari Ibu.
“Baiklah teman-teman, itulah kajian kita kali ini. Semoga kita bisa memiliki sudut pandang yang baik dari setiap kejadian buruk yang terjadi dalam hidup kita.”
“Sekarang, kita akan membahas mengenai kegiatan kita selama bulan Ramadhan yang akan tiba tidak lama lagi.”
“Maaf kak,” Maryam terpaksa memotong ucapan Hira yang sedang bicara.
“Ya, Maryam? Apa ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Hira, sebagai ketua dalam kegiatan kajian di masjid tersebut.
“Aku mau pamit pergi duluan, karena ada acara keluarga. Mengenai kegiatan Ramadhan, aku bersedia jika sekiranya aku harus dilibatkan dalam kegiatan tersebut nantinya.”
“Ya, tidak apa-apa Maryam. Silahkan, kalau memang kamu ada keperluan lain.” Hira pun mengizinkannya.
“Terima kasih, kak.” Maryam pun segera berpamit pada Hira dan teman-teman yang lainnya, yang juga mengikuti kajian itu.
Maryam berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari masjid tersebut. Dia berlari kecil, meski kakinya belum memakai sepatu dengan baik.
Dan, tiba-tiba saja—
Maryam hampir bertabrakan dengan seorang laki-laki, ketika dia baru saja keluar dari masjid. Beruntung, keduanya langsung bisa menahan langkah kaki mereka masing-masing dengan cepat.
Dan kini, keduanya pun saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang tidak biasa.
***
Deg!
Sepatu keduanya hampir saja bersentuhan. Tapi, mereka berdua berhasil menahan tubuh mereka masing-masing dengan cepat.
“Hampir, hampir, hampir saja…” ucap Maryam dengan nafas terengah-engah, seraya memperbaiki posisi berdirinya, setelah dia melepaskan tatapan matanya dari laki-laki itu.
Laki-laki itu pun tersenyum melihat sikap perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Kedua matanya sedikit melirik ke arah buku yang ada dalam pelukan satu tangan perempuan itu.
“Maaf, aku sedang terburu-buru. Jadi, aku tidak melihat jalan yang ada di depanku.” Kata Maryam menjelaskan, agar laki-laki itu tidak salah paham padanya.
“Benarkah itu?” tanya laki-laki itu, tersenyum. Cara bertanyanya terdengar seperti sedang menggoda Maryam.
Maryam cukup dikagetkan dengan suara berat dari laki-laki, yang sejak tadi terus menatap wajahnya dengan senyuman. Reflek, wajah Maryam pun ikut tersenyum.
Maryam mengangguk dengan malu-malu.
“Kalau begitu— silahkan jalan.” Kata laki-laki itu, yang kemudian menggeser tubuhnya ke samping dan memberikan jalan untuk perempuan itu lewat.
Maryam mengangkat pandangannya. Dia ikut menatap sama seperti yang sedang laki-laki itu lakukan padanya. Lalu, dengan senyumannya yang lembut, Maryam pun berpamitan untuk pergi.
Anggukannya dibalas oleh laki-laki itu dengan senyuman yang sama.
Setelah meninggalkan tempat itu, Maryam menoleh ke belakang sekali untuk melihat sosok laki-laki itu kembali. Sebelumnya, Maryam mengira kalau pertemuan dengan laki-laki itu di depan masjid, ternyata pertemuan mereka di depan gereja yang berada di dekat masjid.
***
Akhirnya, Maryam pun tiba di tempat pertemuan dengan laki-laki yang akan dijodohkan dengannya, satu jam dari waktu yang sudah diberitahukan oleh orang tuanya.
Arga sempat merasa kesal pada putrinya, lantaran kedatangannya sangat terlambat dari waktu yang telah dijanjikan dengan keluarga Adyaksa.
Tapi, saat dia melihat sikap santun dan keramahan yang ditunjukkan oleh putrinya pada keluarga laki-laki dan juga pada laki-laki pilihannya. Rasa kesal Arga pun perlahan menghilang.
Arga merasa yakin, kalau laki-laki pilihannya kali ini akan diterima oleh putri bungsunya itu. Dia bisa melihatnya dari cara Maryam bersikap yang terlihat malu-malu selama pertemuan itu berlangsung.
Namun, dibalik senyuman dan sikap malu-malu Maryam, bukanlah karena dia menyukai laki-laki pilihan orang tuanya. Melainkan, yang dia pikirkan adalah laki-laki yang dia temui di depan gereja tadi.
“Bagaimana dengan mas Abi?” tanya Arga, saat di perjalanan pulang.
“Mas bi?” tanya Maryam, bingung.
“Mas Abizar, maksud ayahmu.” Kata Ibu memperjelas.
“Oh—” mulut Maryam langsung membulat.
“Baik… baik…. Tidak ada masalah.” Jawabnya, sekenanya.
“Berarti kamu setuju kalau dia melamarmu?” tanya Arga kembali.
“APA?” Maryam terkesiap mendengar pertanyaan itu. Matanya langsung mendelik, dan sikapnya berubah kikuk.
“Kenapa kamu kelihatan kaget begitu?” tanya Arga, melalui kaca mobil melihat ke arah putrinya yang duduk di belakangnya.
“Ti-tidak. Hanya saja— aku—” Maryam ragu untuk mengatakannya.
“Maryam, jangan bilang kalau kamu ingin menolak lagi perjodohanmu.” Arga sudah mulai mewanti hal itu, sebelum putrinya mengatakan penolakannya.
“Bu-bukannya begitu, ayah. Tapi—” Maryam bingung, sangat bingung untuk mengatakannya.
“Tapi, apa?” Arga mau mendengar alasan Maryam kali ini.
“Sebenarnya, aku sudah punya pilihan laki-laki lain.” Terpaksa Maryam berbohong. Matanya mengerjap, dia pun menggigit ujung bibirnya. Menyadari kebohongan pada kedua orang tuanya yang terpaksa dia lakukan.
“Kenapa kamu baru mengatakannya?” Ibu terkesiap. Dia pun tak masalah jika putrinya memang sudah memiliki laki-laki pilihannya sendiri. Ibu adalah sosok Ibu yang flexible.
“Aku cuma takut kalau hubungan aku sama dia tidak disukai oleh ayah. Karena selama ini Ayah terus memaksa untuk menjodohkan aku dengan laki-laki pilihan ayah. Sedangkan, ayah tak pernah memberiku ruang untuk bicara.”
“Kamu sudah pacaran dengan laki-laki itu?”
“I-iya,”
“Sudah berapa lama?”
“Sekitar— satu tahunan.”
Arga sangat kecewa mendengarnya. Tapi, dia hanya diam tanpa mau berkomentar apa-apa.
Maryam pun langsung melihat ekspresi ayahnya melalui kaca depan. Terlihat jelas, ada raut kekecewaan yang mendalam yang dirasakan oleh ayahnya saat ini.
“Kalau Ibu sih, siapapun laki-laki pilihan Maryam untuk menikah dengan kamu nantinya. Yang terpenting buat Ibu adalah laki-laki itu harus seiman.”
Maryam hanya tersenyum, ketika mendengar pesan dari Ibunya itu. Dia pun merasa yakin kalau laki-laki yang dia temui tadi sore adalah seorang muslim.
***
Keesokan harinya, Maryam mendatangi rumah Tyas. Dia sudah menginap di rumah itu, karena jarak rumah kakaknya lebih dekat dengan kampusnya daripada rumah orang tuanya.
Maryam langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa setelah Tyas membukakan pintu untuknya.
“Kelihatan capek maset kamu, dek.” Kata Tyas, seraya duduk tak jauh dari Maryam yang tengah dirundung kegalauan saat ini.
“Bukan capek badan, kak. Tapi, aku capek pikiran!” tukasnya, dengan nada kesal.
“Pikiran soal perjodohan?” terkanya. Karena memang itu satu-satunya yang membuat adik semata wayangnya itu sering dilanda kegalauan akibat desakan pernikahan yang terus diminta oleh kedua orang tua mereka.
Maryam tak menjawab. Dia hanya mendesah amat berat. Rasanya, beban hidupnya seperti paling sulit diantara orang-orang yang ada di sekitarnya saat ini.
“Aku— menyukai seorang laki-laki, yang baru aku temui kemarin sore, sebelum aku pergi ke tempat perjodohan itu.” Kata Maryam mengakui dengan sangat jelas pada kakaknya.
Mendengar pengakuan dari adiknya itu, tentu saja membuat Tyas langsung merasa khawatir. Karena dia tahu, Maryam bukanlah perempuan yang mudah jatuh cinta. Dia tak akan menyukai seorang laki-laki kalau dia tidak benar-benar jatuh cinta pada laki-laki itu.
“Itu artinya, kamu akan kembali menolak perjodohan kamu kali ini?”
“Iya.”
Tyas mencoba untuk memahami perasaan Maryam saat ini. Dia tak akan menjudge perasaan adiknya itu. Dia juga tidak akan meminta Maryam untuk menerima perjodohannya itu, atau pun berhenti menyukai laki-laki itu.
Yang Tyas lakukan adalah mencoba untuk benar-benar memahami perasaan Maryam.
“Kamu tau siapa laki-laki itu?”
“Yang aku temui kemarin?”
“Iya,”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku sangat ingin mengenalnya. Bahkan, selama semalaman aku tidak bisa berhenti memikirkan sosoknya. Dia— begitu menawan. Senyumannya yang ramah, membuat jantungku terus berdebar setiap kali teringat dengan wajahnya.”
“Mungkinkah ini cinta?” tanyanya, mengakhiri kalimat hiperbolanya tentang perasaannya pada laki-laki itu.
“Mungkin saja.” Tyas pun tak memungkiri hal itu.
Maryam pun mulai merenungkan obrolannya yang baru saja terjadi dengan kakaknya mengenai pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Entah apa daya tarik dari pria itu, tapi Maryam mengenyahkan semua yang buruk dari pria itu menjadi indah, indah, dan indah di dalam pikiran juga hatinya saat ini. Rasa yang sudah lama sekali tidak dia rasakan dan dia bisa merasakan kembali rasa itu, yang dia kira berada di waktu yang tepat di saat dirinya harus mencari jodoh untuknya.
***
Sore ini, dengan segala kenekatannya. Maryam sengaja menunggu laki-laki itu di halaman Masjid. Tujuannya memang hanya ingin menunggu laki-laki itu saja, setelah dia selesai sholat Ashar di Masjid tersebut.
“Sebodoh ini. Aku begitu merindukannya. Sampai membuatku rela menunggu seperti ini.” Batinnya.
Tapi, Maryam mencoba untuk mengabaikan kebodohannya itu. Dia memang benar-benar tertarik pada laki-laki itu dan ingin mengenalnya.
“Maryam?”
“Mas Abi?” Maryam terkejut saat melihat Abizar yang tiba-tiba muncul di hadapannya, tanpa dia sangka-sangka.
Maryam langsung maskit dari duduknya, dan mencoba menyapa laki-laki perjodohannya itu.
“Kamu lagi ngapain di sini?” tanya Abizar.
“Aku habis sholat,” jawabnya dengan sikap canggung.
“Hanya sholat saja?”
“Aku memang biasa mengikuti kajian agama di Masjid ini.”
“Oh, kamu biasa ikut kajian agama di sini?”
“I-iya,”
Abizar tersenyum tipis. Dia seperti sedang merasakan sesuatu yang tidak nyaman untuknya.
“Memangnya kajiannya jam berapa?”
“Sudah selesai,”
“Lalu, kenapa kamu masih di sini? Apa masih ada yang sedang kamu tunggu?”
“Hah?” Maryam terkesiap, ketika pertanyaan sederhana itu jadi terdengar tak biasa. Abizar memang menerka dengan tepat.
“Teman?” terkanya kembali, dan jauh lebih jelas.
“I-iya.” Maryam tak bisa menutupi kecanggungannya. Dia merasa, kalau keberadaan Abizar malah akan merusak rencananya saja.
“Mau Mas Abi temenin?” sekarang, Abizar malah menawarkan itu padanya.
“Apa…?!” jelas saja Maryam semakin terkesiap mendengar tawaran itu. “Memangnya apa yang mau Mas Abi lakukan di sini tadinya?”
“Mas mau sholat,”
“Sholat?”
“Kok bisa kebetulan gini ya?” batin Maryam, agak aneh.
“Mas Abi kan bekerja di daerah sini.”
“Oh.” Mulut Maryam langsung membulat, setelah mengetahui alasan kenapa dia bisa bertemu Abizar di tempat ini.
“Kebetulan Mas tidak sengaja bertemu dengan Maryam. Ya sudah, sekalian saja kita ngobrol, biar kita semakin akrab.”
“Akrab?” Maryam sampai tertegun mendengar ucapan laki-laki itu.
Entah harus dengan cara apa Maryam menolak perjodohannya kali ini. Tapi, baru kali ini dia merasa terjebak sendiri dengan perjodohan yang tidak pernah dia inginkan. Maryam malah harus berpura-pura menyetujui perjodohan tersebut di depan laki-laki itu.
“Mas Abi sholat dulu ya?” kata Abizar, dengan suara lembut meminta izin pada wanita yang sudah dia anggap sebagai calon istrinya itu.
“Iya,” Maryam menjawab dengan suara sangat pelan. Dia tak mampu berkata-kata lagi pada laki-laki itu.
Baru saja Abizar masuk ke dalam masjid untuk sholat, Maryam langsung melihat laki-laki yang sudah di tunggu olehnya dari tadi berjalan di depan masjid.
Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Maryam pun segera berlari menghampiri laki-laki itu dengan langkah kaki penuh semangat.
“Aku akan mengajaknya berkenalan sekarang juga!” Niat itu sudah Maryam ucapkan berulangkali di dalam hatinya sejak pertemuan pertama mereka kemarin sore.
Tapi,
Mendadak langkah kakinya berhenti, ketika dia menyadari sesuatu. Kalau dirinya adalah— seorang perempuan.
Maryam terdiam. Dia tak menggerakkan kakinya sedikit pun. Namun, tatapan matanya tak berhenti mengikuti ke mana langkah kaki laki-laki itu berjalan.
Tiba-tiba dia menjadi lemah sebagai manusia. Perasaan cintanya terhadap laki-laki itu tetap tak sekuat imannya kepada Tuhannya.
“Bodohnya aku. Bodohnya aku bisa jatuh cinta seagresif ini pada seorang laki-laki yang belum aku kenal.”
“Ada apa denganku? Kenapa aku hampir rela mempermalukan diriku sendiri sebagai seorang perempuan?”
Kini, Maryam tak berdaya. Dia hanya bisa memandangi sosok pujaan hatinya itu dengan tatapan sendu. Dia sangat ingin mengenalnya, tapi dia tak punya kuasa atas perasaannya untuk melangkah sampai sejauh itu.
Maryam pun memutuskan untuk diam dan berhenti mengurungkan niat besarnya itu. Dia mencoba tersenyum untuk dirinya sendiri, memuji kehebatan perasaannya yang tak goyah meski dia sedang mencintai seseorang.
“Kamu hebat, Maryam.”
“Maryam?” suara Abizar melepaskan lamunan panjangnya.
Maryam segera menoleh perlahan ke belakang, ke arah laki-laki yang sedang berdiri jauh di belakangnya dan memberikan senyuman hangat padanya.
***
“Jadi, kamu tidak berani mengajaknya berkenalan?” tanya Tyas, ketika Maryam datang ke rumahnya kembali untuk curhat.
“Iya. Ternyata aku tidak punya keberanian sebesar itu untuk berkenalan dengannya.” Maryam mengakui dengan berat.
“Jika dia yang mengajakmu lebih dulu untuk berkenalan, bagaimana?”
“Aku akan memberi waktu untuk diriku selama satu minggu lamanya.”
“Waktu? Waktu apa yang kamu maksudkan?”
“Waktu untuk memberinya kesempatan mengajakku berkenalan.”
Tyas tercengung mendengar perkataan Maryam. “Wah! Adikku memang beda. Dia bisa seberani itu mengambil keputusan untuk masa depannya.” Kata Tyas memuji dengan tepukan tangan.
“Itu artinya, jika laki-laki itu tak juga mengajakmu berkenalan. Kamu akan menerima perjodohan kamu dengan Abizar?”
Maryam tak langsung menjawabnya. Dia terdiam beberapa saat untuk memastikan jawabannya itu.
“Tapi, kamu sudah tidak punya pilihan lain. Banyak teman-teman kamu yang sudah menikah.” Tyas mengetahui kegelisahan Maryam saat ini, dan dia pun mencoba untuk mengingatkan hal itu pada adiknya.
“Jangan terlena oleh waktu kesedirian kamu yang terasa nyaman. Kamu butuh seseorang untuk menjalani kehidupan suka dan dukamu.”
“Jangan seperti aku, yang salah memilih laki-laki. Hingga akhirnya aku terjebak dalam kesulitan yang salah. Kamu, harus berbeda dariku.”
“Kakak rasa, Abizar adalah laki-laki yang tepat untukmu.”
Maryam cukup kecewa mendengar perkataan Tyas. “Kenapa kakak malah jadi tidak mendukungku untuk memilih laki-laki pilihanku sendiri?”
“Karena aku sudah merasakannya.”
“Apa yang kakak rasakan?”
“Cinta.”
Maryam kembali terdiam. Terdiam semakin dalam ketika Tyas menyebutkan satu kata itu.
“Cinta tidak bisa membuat kamu menjadi jauh lebih baik, jika kamu memilih sesuatu hanya dengan emosimu saja.”
“Pikirkan secara matang, tujuan hidupmu. Jangan hanya karena kamu jatuh cinta padanya, lalu, kamu bisa mengatakan, kalau kamu hanya ingin menikah dengannya. Seperti itu kan yang kamu inginkan?”
“Tidak juga.”
“Lalu, apa yang kamu pikirkan?”
Sebelum menjawab pertanyaan dari Tyas, Maryam terlebih dahulu mengingat pada kejadian sore tadi. Saat dia mengobrol bersama Abizar di sebuah taman yang tak jauh dari masjid itu.
“Mas Al akan mengakui, kalau Amas menyukai Maryam. Tapi, Mas juga tidak bisa memaksa Maryam, kalau Maryam tidak menyukai Mas.”
“Jika Maryam memang bersedia untuk menikah dengan Mas, Mas akan melamarmu setelah Ramadhan nanti.”
“Hanya saja, Mas tidak bisa menunggu jawaban kamu terlalu lama. Maaf, Mas meminta jawaban kamu setidaknya dua minggu dari sekarang.”
“Mas butuh keputusan cepat, karena usia Amas yang sudah bukan lagi mencari pacar, melainkan mencari seorang istri.”
Semua ucapan Abizar membuat Maryam mulai memikirkan tentang masa depannya. Terasa konyol jika harus dipikirkan, bisa jatuh cinta pada seseorang pada pandangan pertama. Dan, yang meresahkannya, perasaan itu begitu amat mendalam.
Laki-laki itu masih tetap membuat Maryam sangat penasaran.
***