Bab 1

Secara perlahan Bellina mulai membuka matanya, ketika ia merasakan sedang tertidur di atas ranjang king size milik seseorang. Kedua manik matanya yang begitu indah menatap lurus ke arah lampu hias yang menggantung di atas plafon yang dirasa penglihatannya masih kabur. Wajah perempuan berambut panjang sampai punggung itu tampak terlihat sayu menahan rasa sakit dan ngilu di area sensitif-nya. Tak lama ia mengedarkan pandangan ke arah pakaian yang sudah berantakan di tubuhnya yang polos. Dengan cepat perempuan itu menarik selimut di sampingnya untuk menutupi beberapa bagian tubuh yang terekspos karena pakaian yang dikenakannya sudah koyak dan tak layak pakai.

Perempuan dengan mata hazel yang begitu indah tersebut mencoba bangkit secara perlahan untuk menyandarkan tubuhnya di punggung ranjang, dan mengingat kejadian semalam yang terjadi padanya. Walaupun ia harus menahan rasan sakit di kepalanya yang terus berdenyut dan juga di area sensitif akibat kegiatan semalam yang merenggut keperawanannya, setelah menjadi istri sah dari seorang El Barack Gunadhya Nagara, pengusaha sukses yang sangat terkenal di seantero perbisnisan di negara ini maupun di luar negeri. Namun perempuan itu tak tahu tujuan dari pria itu menikahinya untuk apa? Bahkan ia sama sekali tak mengenal sosok El Barack sebelumnya, walaupun pertemuan pertamanya dengan pria itu ketika ia memberikan sejumlah uang kepada sang bibi.

“Apa aku sudah tak perawan lagi?” lirih Bellina mendapati cairan berwarna merah yang menempel di kedua kakinya yang berjajar, bahkan cairan tersebut juga menempel di seprai putih yang merupakan saksi dengan kejadian semalam. Walaupun yang melakukan adalah suaminya sendiri, namun tetap saja pria itu merenggutnya secara kasar.

Terdengar suara langkahan kaki dari arah luar, dengan cepat perempuan itu mengedarkan pandangan ke arah pintu dan sudah terlihat jika handle pintu yang bergerak menandakan seseorang yang akan masuk. Jantung Bellina berdetak tak normal, terasa jika aliran darahnya pun mengalir tak sempurna di dalam tubuh. Ia merasakan jika keringat dingin sudah mulai mengucur di sekujur tubuhnya yang terus merasakan takut harus bertemu dengan pria kejam yang telah merenggut kesuciannya semalam.

Dengan cepat Bellina segera membenarkan pakaiannya yang berantakan, walaupun terlihat sudah koyak dan tak bisa menutupi beberapa bagian tubuhnya yang dapat dilihat oleh orang lain. Namun, tak ada cara lain yang dapat dilakukan oleh perempuan itu selain tetap memakai pakaian yang sudah koyak ini dan menutupnya dengan selimut, karena ia tak tahu bisa mendapatkan baju ganti dari mana.

“Ternyata kamu sudah bangun juga.” Suara baritone itu terdengar jelas di telinganya, gerakan tangannya pun terhenti ketika ia masih sibuk membenarkan pakaiannya sehingga perempuan itu tidak melihat seseorang yang sedang mengajaknya bicara dan sudah berdiri di tepi ranjang.

Bellina mendongakkan wajahnya tepat di depan seorang pria yang sedang berdiri, dan pria itu tak lain adalah suaminya. Wajah tampan dari seorang El Barack tidak mampu membuat Bellina terpana akan pesonanya begitu saja, karena sekarang yang ada dalam hati perempuan itu adalah sebuah rasa kebencian kepada pria yang sudah merenggut semuanya dari diri Bellina, termasuk pernikahan paksa ini tanpa adanya cinta.

Pria angkuh yang sedang berdiri sembari menyilangkan kedua tangan di dadanya itu denagn santai bernama El Barack Gunadhya Nagara, seorang pria kaya dan penuh kuasa yang memaksa Bellina untuk menjadi istrinya, karena terus di desak oleh sang kakek Gerald Nagara untuk segera melahirkan garis keturunan demi melanjutkan dinasti kepemipinannya di Perusahaan Nagara Group. Bahkan pernikahan yang dilakukan keduanya pun terbilang  sangat singkat. Bellina tidak bisa menolak ajakan El, ketika pria itu memberikan sejumlah uang dengan nominal yang begitu besar kepada sang bibi, satu-satunya keluarga yang masih dimiliki oleh Bellina setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Namun karena sang bibi begitu materialistis dan haus akan uang membuatnya begitu saja menjual keponakan untuk menjadi istri El Barack dan melahirkan keturunan untuknya.

El Barack adalah pria tampan, dengan postur tubuh yang proporsional, tatapannya begitu tajam dan memiliki rahang yang tegas. Sejuta pesona yang dimiliki pria berusia 29 tahun itu. Tak terhitung lagi para perempuan di luar sana yang menginginkan hanya untuk disentuh olehnya atau bahkan ingin menjadi istrinya.

Pria itu mendekat ke arah Bellina yang masih diam tertunduk lesu dengan keadaannya ini, bahkan terlihat jika seprai yang berwarna putih sudah terdapat bercak darah akibat  hubungannya semalam, ketika Bellina sudah kehilangan keperawanannya yang diambil secara paksa oleh El Barack.

Pria itu menekan kuat dagu Bellina dan mengangkat dagu perempuan itu agar menatap ke arahnya.  Bellina harus menambah rasa sakitnya lagi, selain di area sensitifnya dan kini juga di dagunya yang ditekan kuat oleh pria gila itu.

“Aku kira kamu adalah wanita jalang yang sudah tidak perawan lagi, tapi ternyata aku salah, punyamu terlalu sempit sehingga aku kesulitan untuk memasukkan milikku ke dalam milikmu itu,” ucapnya sembari tersenyum kecil. Tanpa merasa kasihan dengan keadaan Bellina yang begitu menyedihkan.

Hati Bellina merasa teriris dan begitu sakit mendengar pelecehan verbal yang dilontarkan oleh El Barack, merasa jika masa depannya sudah hancur dengan diperistri oleh pria kejam sepertinya yang tak bisa menghargai seorang perempuan.

“Tapi kamu tenang saja, karena aku sudah memasukkan benih ke dalam rahimmu, mungkin sebentar lagi kamu akan segera hamil, dan yang kuinginkan dari kehamilanmu itu hanyalah keturunan untuk meneruskan dinasti kepemimpinanku di dalam Perusahaan Nagara,” ucap El Barack yang melepaskan secara kasar cengkeramannya di dagu Bellina, dan tidak memperdulikan keadaan perempuan itu yang masih merasa kesakitan akibat ulahnya. Karena tujuan pria itu menikahinya hanya ingin memiliki keturunan dari rahimnya saja tak lebih.

Wajah El masih begitu dekat dengan wajah Bellina, pria itu menatap lekat wajah cantik Bellina yang tampak pucat dan menurunkan pandangannya ketika Bellina berusaha menutupi bagian puncak dadanya yang terlihat menggunakan kedua tangan, sedangkan perempuan itu hanya menatap penuh kebencian kepada El, walaupun belum ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Dan sekali lagi wajah tampan dan rupawan dari El Barack tidak mampu membuat Bellina langsung jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama. Bagi Bellina percuma memiliki wajah tampan namun hati bagai iblis yang merenggut kebahagiaan orang lain demi kepentingannya sendiri. 

El segera kembali ke posisi semula dan akan membalikkan tubuhnya untuk segera pergi. 

“Dasar pria jahat dan kejam!” tegas Bellina yang menghentikan gerakan tubuh El yang hendak berbalik. “Kenapa kamu tega sekali melakukannya kepadaku … padahal aku sendiri tidak kenal siapa kamu, tapi dengan teganya kamu membawaku ke sini, memperistri dan melecehkanku, mengambil harta berhargaku satu-satunya untuk kuberikan kepada suami yang kucintai kelak,” ucap Bellina dengan nada suara yang sedikit terisak, namun penuh penegasan.

“Jika kamu menginginkan seorang anak, kamu bisa menikahi perempuan lain dan tidak harus aku yang menjadi korbannya,” ucap kembali Bellina dengan berani. Sesekali perempuan itu mengusap matanya yang terasa sudah mengeluarkan air mata, dan menahan rasa sakit di area sensitifnya. Bellina teringat jika El Barack melakukannya dengan cara yang sedikit kasar maka dari itu ia sangat merasakan kesakitan seperti ini, dan sedikit trauma dengan yang dialaminya walaupun tidak parah.

Pria itu sudah mengepalkan kedua tangannya kuat, ingin sekali ia menampar dan menyumpal mulut Bellina yang sudah berani berkata kasar kepadanya. Namun ketika kedua matanya melihat dengan jelas Bellina yang sedang meringis kesakitan sambil memegang area sensitifnya, bahkan darah segar yang mengalir di kaki jenjang Bellina, membuat pria itu sedikit melemah dan tidak sampai hati untuk melakukannya.

“Pelayan.” Panggil El kepada salah satu pelayan yang bekerja di rumahnya. 

Tak menunggu lama, sang pelayan pun tiba dan berjalan tergesa-gesa untuk berhadapan dengan El Barack, dengan posisi menundukkan kepalanya.

“Iya, Tuan El.”

“Bibi, urus perempuan itu dengan sebaiknya, dan ganti seprai yang terkena bercak darah,” titah El kepada sang pelayan yang bernama Emma. 

“Baik, Tuan El.” 

Daripada El terus berdiri dan rasa kasihan tumbuh di hatinya. Lebih baik baginya pergi keluar, bagi hidup pria itu tak ada yang harus dikasihani termasuk Bellina. Karena ia sudah membayar mahal kepada bibi dari perempuan itu agar keponakannya mau melahirkan keturunan untuknya, di depan sang kakek yang sebentar lagi akan segera tiba ke tanah air.

“Ayo Non, biar bibi bantu,” ucap sang pelayan perempuan yang bersikap ramah kepada Bellina. Bahkan wajah pelayan itu terus menyiratkan senyuman di wajahnya. 

Bellina memegang tangan pelayan yang sudah diulurkan ke arahnya, untuk membantu memapahnya berjalan ke kamar mandi. Dengan penuh kesabaran pelayan perempuan itu membantu Bellina turun dari ranjang, bahkan di bagian kedua kakinya terus mengalir darah segar.

Sedangkan di depan pintu, El tak benar-benar pergi dan mengarahkan matanya kembali ke arah Bellina yang sedang kesulitan untuk berjalan. Bahkan terlihat raut wajah perempuan itu yang terus meringis kesakitan menahan rasa sakit dan ngilu. Terdapat sedikit rasa tak tega di dalam diri El melihat perempuan yang sudah ia nikahi dalam keadaan tak berdaya. Tapi El langsung menepis jauh-jauh perasaan kasihannya kepada Bellina. Bagi El jika Bellina hanya sebagai alat untuk melahirkan keturunannya, dan tidak ada perasaan kasihan di dalam hubungan pernikahannya dengan perempuan itu. El segera melangkahkan kakinya tegas pergi keluar. 

To be continued...

Bab 2

Setelah sampai di kamar mandi dengan berjalan tertatih-tatih, tubuh Bellina ditahan oleh sang pelayan yang dengan setia berada di sampingnya agar tidak tejatuh. Bellina berusaha berdiri sendiri tanpa bantuan dari sang pelayan, walaupun terlihat jika pelayan wanita itu sangat mengkhawatirkan keadaan Bellina.

“Bibi boleh keluar, aku bisa melakukannya seorang diri,” pinta Bellina.

“Tapi Non, Tuan El bilang jika bibi harus membantu Non Bellina membersihkan tubuh sampai membantu Non Bellina memakai baju,” jawab sang pelayan yang bernama Ema itu.

Bellina berusaha tersenyum di depan sang pelayan. “Aku tidak apa-apa, Bi. Aku bisa melakukannya seorang diri. Saat tadi memang rasanya begitu sakit, tapi sekarang rasanya sudah mulai sedikit baikan,” jawab Bellina yang terpaksa berbohong dan meyakinkan sang pelayan.

Ema tidak bisa membantah ucapan dari Bellina karena hal itu begitu privasi juga menurutnya.

“Ya sudah kalau begitu, tapi biar bibi yang membersihkan tempat tidur Non Bell, yah,” ucapnya.

Bellina menganggukkan kepala sembari menyiratkan senyuman, bibir indahnya begitu pucat. Mencoba menahan rasa sakit di depan orang lain.

Ema segera keluar dari kamar mandi dan membiarkan Bellina membersihkan tubuhnya seorang diri.

Bellina langsung mengunci pintu kamar mandi, terasa jika kepalanya berdenyut lagi dan berusaha dengan sekuat tenaga menekan dinding menggunakan tangannya agar tak terjatuh. Bahkan area sensitifnya pun begitu sakit dan ngilu. Gadis itu sudah tak bisa menahan lagi air matanya untuk tidak terjatuh yang sejak dari tadi ia tahan saat berhadapan dengan El Barack.

Berjalan secara tertatih-tatih menuju bathtub yang sudah terisi air penuh. Bellina menyalakan shower, karena ingin menangis sejadi-jadinya di dalam kamar mandi agar tak ada orang yang dapat mendengar tangisannya.

Air jatuh dengan derasnya yang sudah membasahi seluruh tubuh Bellina. Sedangkan gadis yang sangat menyedihkan itu sudah menangis terisak, menumpahkan rasa kesakitan dan kekecewaan yang dirasakannya.

“Hiks ... hiks ... hiks …”

“Kenapa bibi tega sekali padaku, menjualku kepada pria kejam sepertinya. Apa yang dia harapkan untuk menikahiku. Dia tak memikirkan perasaanku, yang ada di dalam pikirannya hanya seorang keturunan, hiks … memangnya aku apa? Alat untuk melahirkan anak begitu.” Bellina terus menangis sejadi-jadinya. Padahal usianya baru menginjak 22 tahun, tapi ia harus merasakan nasib hidup yang miris seperti ini.

“Aku ingin pergi dari sini, tolong aku … bahkan keadaanku sudah sangat menyedihkan, untuk apa aku hidup dengan pria kejam dan tak aku cintai sama sekali,” lirih Bellina yang sudah merasa tidak ingih hidup lagi. Rasanya ia ingin segera bertemu dengan kedua orang tuanya di surga.

“Kevin,” lirih Bellina yang teringat dengan teman sekaligus pria yang sangat dicintainya. “Kevin, tolong aku!”

Terbesit keinginannya untuk mengakhiri hidupnya jika ia harus menjalani hidup dan menjadi alat permainan bagi pria kejam itu. Bellina sudah tak dapat berpikir jernih lagi dan sudah memantapkan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Sedangkan di lain tempat, El Barack sedang menyesap coklat hangat di pagi hari, sembari membaca majalah bisnis. Sudah kebiasaan bagi El melakukan kegiatan itu di pagi hari. Dan di depannya sudah tersaji beberapa hidangan western untuk mengisi sarapannya, sembari menunggu Bellina.

“Apa sudah selesai, Bi?” tanya El ketika melihat sang pelayan yang diperintahkannya untuk membantu Bellina.

Sang pelayan belum menjawab pertanyaan dari Tuannya. Namun dengan berani sang pelayan mendongakkan wajahnya mengarah ke wajah El yang sedang menatapnya dingin.

“Non Bellina menyuruh saya untuk keluar, Tuan El. Nona mengatakan bisa membersihkan tubuh seorang diri tanpa bantuan saya, mungkin sekarang Non Bellina sudah selesai,” jawabnya dengan suara yang bergetar, ia takut jika Tuannya akan memarahinya. Karena Ema tau jika Tuannya begitu tempramen. Kesalahan sedikitpun menjadi fatal baginya.

“Ya sudah kalau begitu, bibi boleh pergi,” titah El yang kembali membaca majalah bisnisnya hari ini. Sedangkan sang pelayan sudah pergi dari hadapan El, untuk segera mencuci sprai yang terkena bercak darah akibat semalam.

El Barack menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang majalah, pikirannya sudah dipenuhi dengan keadaan Bellina sekarang. Ia melirik jam di tangannya, hampir setengah jam lamanya tapi gadis itu tak kunjung keluar.

“Apa dia masih berada di kamar?” tanya El pada dirinya sendiri yang langsung bangkit dari duduknya. El Barack segera pergi ke kamar untuk mengecek keadaan Bellina.      

Sesampainya di kamar, El barack tak mendapati Bellina. Pria itu mengarahkan matanya ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup.

“Apa dia belum selesai membersihkan tubuhnya,” ucap El barack mengira. Tapi ia tak mendengar suara Bellina yang sedang mandi. Namun hanya terdengar derasnya suara air yang mengalir berjatuhan ke lantai.

“Tidak ada yang dapat kulakukan lagi, lebih baik aku mati daripada harus hidup dengan pria sepertinya,” ucap Bellina yang secara perlahan akan memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam baththub yang sudah terisi air penuh, bahkan sudah sejak tadi shower menyala sehingga air menggenangi seisi kamar mandi.

“Apa kamu belum selesai juga,” teriak El Barack yang mengetuk pintu. Suara baritone itu terdengar samar-samar di telinga Bellina yang sudah memasukkan sebagian tubuhnya ke dalam air.

“Bellina, buka pintunya!” teriak kembali El Barack yang terus menggedor pintu kamar mandi, sedangkan Bellina tak memperdulikan teriakan El Barack, baginya yang sudah dikuasai untuk tidak melanjutkan hidup.

El Barack sudah kehilangan kesabarannya, bahkan gedoran pintu dan teriakannya pun tak digubris oleh Bellina.

“Awas saja jika kamu berani macam-macam di belakangku, aku tidak akan mengampunimu,” ancam El barack yang akan membuka paksa pintu kamar mandi dengan cara mendorongnya sekuat tenaga.

“Gubrak …” Pintu kamar mandi terbuka secara paksa.

Mata El Barack terbelalak ketika air sudah hampir menggenangi seisi kamar mandi, bahkan kini matanya mengarah kepada baththub, terlihat tangan Bellina yang sedang memegang ujung baththub, sedangkan tubuhnya sudah tak terlihat masuk ke dalam air.

“BELLINA!” teriak El Barack yang menarik tubuh Bellina cepat dari dalam air. Wajahnya sudah sangat pucat, bahkan tak hanya wajah tapi seluruh tubuhnya pun sudah sedikit kaku.

“Apa kamu berniat bunuh diri di belakangku!” gertak El Barack yang menekan kedua pipi Bellina.

Tanpa berpikir lagi, El Barack langsung memberikan pertolongan pertama dengan cara memberi napas buatan kepada Bellina, menciumi bibir mungil Bellina berusaha untuk menyelamatkan nyawa gadis itu.

Secara perlahan Bellina membuka matanya, bersamaan dengan air yang keluar dari mulutnya walaupun rasanya sudah tidak kuat. Melihat jika El sedang menciumnya. Bellina membulatkan matanya dan langsung mendorong tubuh El dari hadapannya. “Jangan menyentuhku!” seru Bellina yang tidak sudi disentuh oleh El Barack. Sedangkan tubuh El Barack sama sekali tak terjatuh, karena tenaga Bellina yang sudah terkuras habis tidak bisa mendorong tubuh El Barack.

“Dasar bodoh! Kamu ingin bunuh diri di belakangku.” El Barack kembali menahan tubuh Bellina agar tak terjatuh ke dalam baththub.

“Tolong, biarkan aku mati,” pinta Bellina dengan suara lirihnya, sedangkan tubuhnya masih berada di pangkuan El Barack.

“Aku akan mempercepat kematianmu, Bellina. Tapi nanti setelah aku mendapatkan apa yang kuinginkan darimu, jadi bertahanlah karena aku tidak akan membiarkanmu mati secepat itu."

Bellina mencengkeram kuat pergelangan tangan El, walaupun ia sudah tak memiliki tenaga dan air matanya pun sudah jatuh mengaliri pipi wajahnya yang putih.

“Aku ingin mati, hiks ... kamu pria jahat yang sudah menghancurkan semuanya, kenapa harus aku yang menjadi alat permainanmu, hiks …” Isak Bellina yang memukul-mukul tubuh El Barack. Karena sudah tak kuat, Bellina pingsan tak sadarkan diri dipangkuan El. Keadaan gadis itu benar-benar sangat menyedihkan. Bahkan El Barack sendiri tak menyangka jika gadis polos seperti Bellina dapat melakukan hal senekat ini.

“Jika melihatmu seperti ini, aku ingin segera mengakhiri hidupmu, Bellina. Tapi aku masih sangat membutuhkanmu untuk keturunanku kelak,” ucap El barack yang segera membawa Bellina keluar dari kamar mandi dan memberikan pertolongan padanya sebelum nyawa gadis itu tak bisa tertolong.

El Barack membaringkan tubuh Bellina yang sudah basah kuyup ke atas ranjang. Wajahnya begitu pucat dengan bibir mungil yang sedikit membeku.

“Pelayan.” Panggil El kepada salah satu pelayannya lagi. Dan datanglah Ema, pelayan yang sudah mengenal Bellina sebelumnya.

Ema terkejut melihat keadaan Bellina.

“Iya Tuan, El,” jawabnya dengan nada bergetar.

“Kamu ganti pakaian gadis ini, aku akan menelepon dokter,”  titah El Barack yang beranjak pergi.

Ema melihat raut wajah Tuannya yang sudah sangat khawatir dengan keadaan Bellina, bahkan dirinya pun tidak tega melihat perempuan yang begitu polos seperti Bellina harus merasakan hal seperti ini.

To be continued...

Bab 3

El Barack tampak serius memperhatikan Dokter Lukman ketika pria berjas putih itu dengan rambut yang sedikit beruban, sedang memeriksa keadaan Bellina dengan wajah yang sudah pucat pasi. Di dalam hati El bergumam jika Bellina harus hidup, perempuan itu tak boleh mati secepatnya. Karena belum banyak yang dapat ia lakukan dengannya, bahkan El sangat menginginkan keturunan yang lahir dari rahim Bellina. Entahlah, El pun tidak mengerti mengapa dirinya ingin sekali memiliki anak dari Bellina. Padahal El Barack sama sekali tak mengenal sosok Bellina sebelumnya, ia bertemu dengan bibi Bellina dan diarahkan kepada sang ponakan untuk menikahinya. Dan anehnya, El ingin langsung membeli Bellina untuk dijadikan istri dan dijadikan alat untuk menyimpan benih untuk keturunannya kelak.

Dengan posisi berdiri sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. Tatapan tajam bak seekor elang, terus terarah ke wajah Bellina yang masih terpejam. Ketika El yang masih memperhatikan wajah Bellina. Ia merasakan sesuatu berbeda yang masuk ke dalam hatinya begitu saja, ada rasa kasihan melihatnya.

Dokter pun menyudahi pemeriksaannya kepada Bellina dan segera merapikan peralatan kedokterannya, beranjak bangun untuk membicarakan perihal penyakit yang diderita oleh Bellina kepada El Barack.

“Bagaimana keadaannya, Dokter Lukman?” tanya El kepada Dokter Lukman, dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi. “Dan apakah perempuan itu memiliki riwayat penyakit lain yang tidak kuketahui?” tanya kembali El Barack yang begitu penasaran.

Sebelum menjawab pertanyaan dari El Barack, sang dokter yang bernama Lukman itu menatap ke arah Bellina, dan kembali mengarahkan matanya ke arah El Barack. Seperti ada penyakit serius yang telah diketahuinya.

“Keadaaan Non Bellina memang sudah baik, Tuan. Tapi, di lain sisi Nona Bellina menderita penyakit Endometriosis.”

El Barack langsung menyipitkan matanya ketika mendengar pernyataan dari Dokter Lukman.

“Endometriosis,” gumam El mengulang nama penyakit itu.

“Dan setelah saya memeriksanya, sepertinya sudah lama jika Nona Bellina mengidap penyakit itu,” jawab kembali Dokter Lukman.

Sesak dan tak menyangka yang sekarang terasa di dalam jantung El Barack mendengar penuturan sang dokter, sesuatu hal yang begitu penting dan baru diketahuinya. Mata pria itu menatap kembali ke arah Bellina yang sedang tertidur dengan tenang.

“Apa penyakit Endometriosis, Dok?” tanya El Barack yang tidak tahu dengan nama penyakit itu, bahkan terdengar asing di telinganya. “Apa sangat membahayakan nyawanya?” Nada suaranya sedikit berubah terdengar khawatir dengan penyakit yang menyerang Bellina.

“Endometriosis adalah salah satu kondisi di mana jaringan yang seharusnya melapisi dinding rahim tumbuh dan menumpuk di luar rahim. Beberapa wanita yang mengidap penyakit ini sering mengeluhkan nyeri yang terasa menjalar dari perut bagian bawah, punggung dan kaki. Rasanya begitu sakit ketika seorang wanita yang hendak menstruasi dan melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Penyakit ini tidak membahayakan nyawa, melainkan rahim dari Nona Bellina,” ungkap Dokter Lukman.

El Barack mencerna ucapan dari Dokter Lukman tentang penyakit yang dialami oleh Bellina. Pantas saja jika wanita itu terus merasakan sakit ketika El Barack memaksanya untuk melakukan malam pertama setelah ia menikahinya. Bahkan darah yang keluar dari area sensitifnya pun cukup banyak seperti seorang yang mengalami pendarahan.

“Apakah bisa hamil jika wanita mengalami penyakit itu, Dok?”

“Tuan, walaupun Endometriosis dapat mengganggu kesuburan dan kemungkinan bisa hamil. Namun, Tuan jangan langsung menyerah.  Karena menurut penelitian 1 dari 3 wanita yang mengalami Endometriosis dapat hamil dengan normal tanpa dibantu perawatan kesuburan.

Namun, hal ini pun tergantung tingkat keparahan penyakit ini. Apabila berada di tahap yang cukup berat, maka dapat membuat pergerakan sel telur sehingga tidak bisa tuba falopi. Dan ada beberapa cara yang bisa dilakukan wanita dengan kondisi endometriosis agar cepat hamil, yaitu rajin mengonsumsi obat penyubur kandungan setelah berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Melakukan inseminasi buatan atau intrauterine, yang terakhir melakukan program bayi tabung, apabila kondisi di tingkat yang parah.”

“Dan satu lagi, Tuan El. Jika Nona Bellina merasakan sakit yang amat nyeri ketika akan menstruasi atau ketika Tuan dengan Nona akan melakukan hubungan seksual berikanlah obat pereda nyeri, agar tidak menyakiti keadaan Nona Bellina. Dan untuk jenis obatnya, Tuan El dapat berkonsultasi dengan saya. Apabila obat pereda nyeri tidak berfungsi, maka hindari dulu hubungan suami istri antara Tuan dengan Nona Bellina.

Entah mengapa El Barack sedikit melemah dengan penyakit yang diderita Bellina, mengapa jika sang bibi tidak mengatakan yang sebenarnya dengan kondisi kesehatan keponakannya itu, atau mungkin saja Bellina menyembunyikan penyakitnya dari sang bibi.

Setelah satu jam perbincangannya dengan Dokter Lukman selesai, dan El Barack tahu dengan penyakit yang dialami oleh Bellina sekarang. Ditatapnya kembali wajah Bellina yang masih tertidur dengan pulas, terlihat jika rasa sakit sedikit hilang ketika kedua mata perempuan itu masih terpejam.

El Barack membungkukkan tubuhnya dan menyentuh kening Bellina. “Bagaimanapun caranya kamu harus melahirkan keturunan untukku, Bellina. Aku sudah membelimu dengan harga mahal agar kamu menjadi istriku dan menyimpan benihku di dalam rahimmu,” gumam El Barack yang kembali berdiri tegap dan akan pergi. Namun ponselnya terlebih dahulu bergetar menandakan sebuah panggilan masuk. Membuat El merogoh ponselnya.

Terlihat jika nama Gerald lah yang menelponnya dan tak lain adalah sang kakek yang sekarang menetap di Amerika. Mata El membulat seketika, ia sudah yakin jika kakeknya pasti akan menanyakan tentang keturunan lagi. Dan Gerald sudah mengetahui jika cucu satu-satunya telah menikah dengan seorang wanita yang memang bukan berasal dari konglomerat dan terpandang. Namun Gerald menerimanya karena itu memang keinginan sang kakek, walaupun Gerald tak tahu dengan rupa Bellina, karena Gerald tak hadir dalam pernikahan singkat sang cucu. Gerald ingin agar El menikah dengan wanita yang baik-baik, walaupun berasal dari kalangan bawah, Dan tidak menikah dengan salah satu wanita yang pernah dekat dan menjadi bagian dari hidupnya. Wanita yang selalu berpakaian seksi yang hanya menginginkan kesenangan kepada El. Perempuan seperti itu bukanlah kriterianya.

“Halo Kek.” Sapa El terlebih dahulu.

“Kenapa kamu begitu lama menjawab panggilan dari kakekmu itu, El,” gertak Gerald.

“Maaf, tadi El sedang di kamar mandi,” El terpaksa berbohong. El selalu melemah jika berbicara dengan Gerald.

“Ya sudah, apa istrimu sudah hamil?” tanya Gerald yang langsung to the point menanyakan tentang kehamilan. Dan benar saja apa yang dikhawatirkan oleh El jika sang kakek akan menanyakan tentang hal itu.

“Hem …. ”

“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan kakek, El? Satu bulan lagi kakek akan kembali, kakek harap jika istrimu segera hamil dan lahirkanlah banyak keturunan untuk meneruskan seluruh perusahaan kakek, karena kamu tidak bisa mengurusnya seorang diri.” Gerald langsung menyudahi perbincangannya dengan El setelah mengatakan kalimat yang menyesakkan batin El Barack. Bagaimana bisa ia mendapatkan keturunan dalam waktu dekat, sedangkan istrinya mengalami penyakit sulit untuk hamil.

El Barack mengeluarkan napasnya kasar dan menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.  Kepalanya kembali berdenyut memikirkan sang kakek yang menginginkan seorang keturunan dari waktu yang dekat, dan memikirkan kondisi tubuh Bellina.

To be continued...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED