Bab 1

Dea menghampiri sang papa yang tak kunjung keluar dari kamar. Gadis itu terlihat bersemangat untuk mengajak papanya makan bersama.

Di dalam kamar Dea mendapati sang papa yang hanya mengenakan sebuah handuk. Lelaki paruh baya itu tengah memandangi sebuah foto sambil bertelepon dengan mesra.

"Papa!" teriak Dea dengan wajah yang sudah memerah.

Mendengar teriakan dari Dea, lelaki itu segera memutuskan panggilan dan meletakkan ponselnya di sembarang tempat. Namun ia terlambat menyembunyikan foto yang masih tergenggam di tangan kirinya.

"De–Dea," ujar sang papa terbata dan merasa malu.

Dea segera merebut foto itu. Ia pandangi foto kemesraan papanya dengan Mawar di tepi pantai. Di belakangnya terdapat tanggal yang menyatakan bahwa hubungan mereka terjalin sebelum papa dan mama Dea bercerai.

Dea menatap sang papa dengan penuh amarah. Ia pegangi foto itu tepat di depan wajah papanya.

"Pantesan Papa selalu membela Mawar. Ternyata dia simpanan Papa. Bodohnya Dea yang tidak pernah mempercayai ucapan Mama waktu itu."

"Jaga ucapanmu, Dea!" bentak lelaki paruh baya itu.

"Kenapa? Papa tidak terima? Lihat saja. Dea akan melabrak pelakor itu. Dan mulai detik ini Dea pergi dari rumah ini!" tegas Dea seraya membawa pergi foto perselingkuhan papanya.

"Dea tunggu! Dengarkan dulu penjelasan papa."

Dea pergi tanpa mempedulikan teriakan papanya. Gadis itu membawa sebuah ransel. Ia berniat pergi ke rumah Mawar dengan menaiki motor matic pemberian tunangannya.

"Lihat saja Mawar. Apa yang akan aku lakukan nanti kepadamu. Kamu telah mengkhianati persahabatan kita. Ternyata selama ini kamu jadi sugar baby papaku. Tidak tahu malu!"

Dea mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Matanya telah basah. Hatinya terasa sakit seolah hancur berkeping-keping.

Selama ini Dea menganggap jika sang mama yang telah selingkuh. Hingga ia memilih tinggal bersama sang papa semenjak kedua orang tuanya bercerai. Namun nyatanya ia salah. Justru papanya yang main belakang.

Gadis itu menghentikan motornya di depan sebuah rumah kontrakan yang ditempati Mawar beberapa bulan ini.

"Rumah kontrakan yang mewah. Pasti Papa yang telah memilihkan rumah ini untuknya."

Dea melangkah dengan cepat. Ia yakin jika Mawar berada di rumahnya. Namun langkahnya terhenti seketika.

Gadis itu menaikkan sebelah alisnya ketika mendapati sebuah mobil yang mirip dengan mobil milik tunangannya tengah terparkir indah di halaman rumah Mawar.

"Jangan-jangan mereka—"

Gadis bertubuh kecil itu segera membuka pintu rumah Mawar yang tidak terkunci. Bahkan dengan mudah Dea berhasil memasukinya.

Dea mengedarkan pandangannya. Sepi dan kosong. Tidak ada seorang pun di ruang tamu. Gadis itu meneruskan langkahnya. Ia memutuskan untuk naik ke lantai atas.

Dea berjalan mendekati sebuah ruangan yang ia yakini adalah kamar Mawar.

"Iya, begitu. Terus sayang ...."

Terdengar suara menjijikkan yang masuk ke indera pendengaran milik Dea.

"Sungguh keterlaluan!"

Dea sangat mengenali suara itu. Ia yakin tidak salah dengar.

Dea semakin mempercepat langkahnya. Tiba-tiba tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Dengan sekuat tenaga gadis itu membanting pintu kamar sahabatnya. Rupanya dugaannya memang benar.

Mawar tengah melakukan perbuatan yang sangat Dea benci. Terlebih lagi sahabatnya itu melakukannya dengan seorang lelaki yang merupakan kekasih Dea. Bahkan mereka sudah hampir satu tahun bertunangan.

"Kamu! Dasar gadis murahan!"

Tanpa rasa kasihan Dea segera menjambak rambut panjang milik Mawar. Membuat sahabatnya itu meringis menahan sakit.

"Auh! Sakit, Dea! Ampun!" rintihnya.

Dea menumpahkan segala emosinya dengan menyakiti fisik Mawar.

"Hentikan Dea! Mawar itu pacar baruku! Kamu tidak berhak menyakitinya. Selama ini kamu terlalu kaku dan tidak pernah menuruti permintaanku!" sahut kekasih Dea.

Dea melempar tubuh Mawar ke atas ranjang. Ia menatap sahabatnya itu dengan kedua mata yang seolah hendak ke luar.

"Ternyata selain merebut Papaku, kamu juga merebut kekasihku."

Dea menatap Mawar dengan penuh kebencian. Sahabat yang sangat ia percaya dan selalu ia bangga-banggakan, ternyata berkhianat.

Gadis itu mendekati kekasihnya yang tidak merasa bersalah sama sekali.

"Dan untuk kamu. Hubungan kita selesai! Asal kamu tahu saja. Mawar juga memiliki hubungan spesial dengan Papaku!"

Setelah mengatakan kalimat itu, Dea segera keluar dari kamar Mawar. Ia melemparkan kunci motornya dan meninggalkan motor itu di halaman rumah Mawar.

Dea memesan sebuah taksi. Ia mencoba mengirim pesan kepada Amelia—mamanya. Selama ini sang mama tinggal seorang diri di rumah yang dulu pernah mereka tinggali bersama.

"Ma ... Dea ke rumah Mama ya, sekarang? Dea kangen sama Mama."

Tak butuh waktu lama pesan itu dibalas oleh mama Dea.

[Mama menunggumu, Sayang. Mama juga mau ngenalin Dea sama seseorang.]

Dea memegangi ponselnya dengan resah. Mendengar balasan dari mama, membuatnya teringat akan sesuatu hal.

Selama ini sang mama selalu meminta Dea untuk segera menikah. Padahal gadis itu masih belum siap. Mengingat kedua orangtuanya yang telah berpisah, membuat Dea sedikit trauma. Apalagi sekarang tunangannya itu ketahuan berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya Dea tiba di rumah mamanya. Gadis itu langsung masuk begitu saja ke rumah wanita yang telah melahirkannya.

"Dea, pulang ...."

Gadis itu berteriak mengagetkan sang mama yang masih sibuk memasak di dapur. Dea sudah membersihkan sisa-sisa air mata pada wajahnya.

Amelia mendekati putrinya. Memasang wajah penuh kebahagiaan. Tetapi saat melihat wajah Dea, seketika senyuman di bibirnya memudar.

"Dea, Sayang. Kenapa mukanya ditekuk gitu? Katanya kamu mau ngenalin calon suami kamu ke Mama," ungkap sang mama.

Dea mengerucutkan bibirnya. Memasang wajah penuh kekesalan.

"Untuk ketiga kalinya, Ma. Dea diselingkuhi lagi. Berhenti memaksa Dea untuk segera menikah!"

Dea melemparkan tas ranselnya ke sofa dengan ganas. Gadis itu langsung berlari menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamarnya.

"Makan dulu, Dea!" teriak Amelia.

"Dea mau tidur sebentar, Mama. Dea masih sakit hati."

Amelia hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia memaklumi sikap putrinya dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya di dapur.

Setelah satu jam lamanya, wanita paruh baya itu menemui Dea di kamarnya. Mengajak putri kesayangan untuk makan siang bersama.

"Dea, ayo makan. Sudah siang ini."

Dea yang masih berselimut tebal, mulai duduk di tepi ranjang. Tidurnya lelap sekali. Mungkin karena kecapekan.

"Iya, Ma. Bentar. Dea cuci muka dulu."

Amelia setia menunggu putrinya. Ia mendampingi Dea turun ke bawah.

Dea sudah berusaha melupakan semua yang terjadi. Ia belum siap untuk meminta maaf kepada Amelia dan menceritakan tentang papanya.

Gadis itu berjalan penuh semangat. Tetapi saat sudah tiba di ruang makan, Dea dikejutkan oleh kehadiran seorang pria.

"Dia siapa, Ma?" lirih Dea ketus.

Amelia paham dengan sikap yang Dea tampakkan. Tentu putri kesayangannya tersebut cukup terkejut.

"Oh iya, Sayang. Ini yang mau Mama kenalin ke kamu. Mulai sekarang Om Lukman akan menjadi papa Dea."

"Jadi Mama sudah menikah lagi? Sejak kapan? Kok nggak kasih tahu Dea terlebih dahulu?"

Gadis itu semakin kesal. Belum juga sakit hatinya terobati. Sekarang ia harus menghadapi sosok baru dalam hidupnya.

Sang mama mencoba menenangkan putrinya. Ia mulai menjelaskan semuanya.

"Ayo dong, salaman sama papa kamu."

Dengan berat hati Dea menyalami papa tirinya tersebut. Tetapi dia merasa aneh dengan tatapan mata Lukman. Sepertinya lelaki itu sedang merencanakan sesuatu.

"Nah, sekarang kita makan sama-sama ya," ajak mama Dea.

Makan siang berjalan dengan lancar. Dea terlihat bersemangat menghabiskan masakan sang mama.

"Tumben makannya banyak bener. Nanti kamu gemuk loh!" celetuk Amelia.

"Nggak papa, Ma. Dea udah jomblo sekarang. Mulai sekarang Dea nggak mau diet lagi."

"Jadi kamu nggak punya pacar?" Tiba-tiba sang papa tiri ikut menyahut.

"Bukan urusan, Papa!"

Dea bersikap cuek. Gadis itu melanjutkan kembali aktivitas makannya. Tidak peduli jika papa tirinya selalu melihat dirinya dengan tatapan lain.

Sementara mama Dea tidak menyadari sama sekali. Ia lebih fokus memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Menganggap sikap Lukman merupakan hal yang wajar.

"Dea sudah selesai. Dea ke kamar dulu ya, Ma. Makasih untuk makanannya. Enak banget."

"Harusnya kamu menolong mamamu membereskan piring dan gelas yang kotor Dea. Kasihan dia sudah capek-capek masak buat kamu," ujar sang papa.

"Nggak papa kok, Mas. Dea 'kan lagi bersedih. Ia juga jarang main ke sini." Amelia membela putrinya.

"Papa sudah dengar 'kan? Mama aja ngebelain Dea."

Gadis itu beranjak. Ia mengambil ransel yang tadi sempat dibuangnya.

Dea naik tangga dengan buru-buru. Karena masih merasa lelah dan sakit hati, gadis itu berencana untuk mandi air hangat.

"Em, ada pesan dari Kak Bian. Ada apa, ya?"

Dea memeriksa chat dari kakak angkatnya. Dia adalah Bian Pratama. Dulu mereka sempat tinggal bersama sebelum akhirnya Bian menemukan orang tua kandungnya.

[Dea, Share loc! Cepat!]

Membaca pesan dari sang kakak, membuat Dea memutar bola matanya dengan malas.

"Kebiasaan! Irit banget ngomongnya. Bilang kek, kalau kangen!" monolog Dea.

Meski kesal Dea mengirimkan lokasinya saat ini kepada Bian. Gadis itu bersiap untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket.

Sementara Amelia masih mencuci piring dan gelas yang kotor, Lukman menyelinap masuk ke kamar Dea di saat gadis itu mulai melepaskan pakaiannya.

Mendengar suara pintu kamar yang terbuka, seketika Dea memutar tubuhnya. Betapa gadis itu sangat terkejut menyadari bahwa yang datang bukanlah mamanya.

"Papa! Ngapain datang ke sini?" bentak Dea seraya menutupi bagian atas tubuhnya dengan kedua tangan.

Lelaki paruh baya itu tersenyum smirk. Lalu berjalan pelan mendekati anak tirinya.

Bab 2

"Dea, kamu sangat cantik dan seksi!"

Dengan gerakan cepat Lukman mencengkeram kedua tangan Dea. Ia menindih tubuh gadis itu ke dinding kamar.

"Lepaskan, Pa. Jangan sakiti, Dea!"

"Saya suka mendengarkan rintihan kamu. Apalagi jika kamu mendesah. Hahaha."

Dea masih berusaha untuk lepas dari papa tirinya. Ia merasa sangat malu dengan kondisi tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam.

"Mama, tolong!" jerit Dea kemudian.

Amelia yang mendengar teriakan putrinya segera naik ke lantai atas. Betapa ia sangat terkejut mendapati suami barunya mencoba melecehkan Dea. Padahal saat ini wanita paruh baya itu tengah mengandung calon anaknya.

"Mas Lukman! Kurang ajar kamu! Lepaskan Dea! Jangan lakukan itu."

Amelia mengiba. Ia menangis dan berusaha menolong putrinya.

Lukman mendorong tubuh istrinya dengan sangat kasar. Sehingga wanita itu jatuh tersungkur.

Papa tiri Dea mencari sebuah tali. Lalu mengikat tangan Dea dan istrinya.

"Maaf, Amel. Sudah lama aku tidak mendapat jatah darimu. Aku tidak kuat lagi untuk menahannya."

Amelia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Kini mulutnya sudah disumpal dengan lakban.

Lukman mengusap kepala istrinya. Kemudian beranjak dari duduknya. Lelaki itu kembali melangkah ke arah Dea yang berusaha melepaskan ikatan tangannya.

Ketika langkahnya semakin dekat, ponsel Dea yang berada di atas ranjang berdering dan bergetar.

Lukman melirik sekilas. Merasa penasaran siapa yang sedang menelepon Dea.

"Bian? Sepertinya aku pernah mendengar namanya."

"Jangan!" teriak Dea.

Lukman me-reject panggilan dari Bian. Kemudian mematikan ponsel anak gadisnya.

Lelaki paruh baya itu kembali mendekati Dea. Gadis itu mulai meneteskan air matanya.

"Kamu tidak perlu takut, Sayang. Pasti kamu sudah pernah melakukannya dengan pacar-pacar kamu sebelumnya. Atau jangan-jangan kamu tidak memberikannya, hingga pacar kamu memilih untuk selingkuh?"

Ucapan Lukman begitu terdengar menyakitkan di telinga Dea. Ia teringat akan Reno—mantan tunangan yang selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Entah dari mana papa tirinya tahu akan hal itu.

"Mungkin benar. Reno selingkuh karena menginginkan hal itu," batin Dea pilu.

Dea semakin terisak. Ia tidak menyesali keputusannya. Ia bersyukur karena telah dijauhkan dari lelaki brengsek seperti Reno.

"Kamu menangis, Sayang?"

Melihat sang putri menangis, membuat Lukman semakin menginginkan Dea. Lelaki itu mengangkat tubuh gadis itu dan melemparkannya ke atas ranjang.

"Sekarang kamu tidak bisa untuk mengelak lagi."

Lukman mulai mendekatkan bibirnya kepada Dea. Namun tiba-tiba ia merasakan seseorang menarik kerah bajunya dari arah belakang.

Rasa nyeri seketika terasa di wajahnya. Sebuah pukulan keras mendarat di hidung Lukman dengan sempurna.

"Bedebah kau lelaki brengsek!"

Bian sudah mengenal Lukman cukup lama. Lelaki itu pernah berhubungan dengan mama kandung Bian dan mencampakkannya begitu saja.

"Bian! Ampun. Tolong maafkan aku."

Lukman memohon kepada Bian setelah lelaki tampan itu beberapa kali memukulnya hingga babak belur.

Bian menghampiri Dea dan melepaskan ikatan tangannya.

"Pakai ini!"

Bian memberikan jaketnya kepada Dea. Untung saja ia segera datang ke rumah Amelia setelah panggilannya diabaikan oleh adiknya.

"Kak Bian ... terima kasih."

Dea langsung memeluk kakaknya tersebut. Meskipun Bian terkenal sebagai lelaki yang dingin dan cuek, namun ia sangat menyayangi dan peduli dengan gadis tersebut.

"Sudah tenang." Bian melepaskan pelukan Dea. Ia teringat dengan mamanya.

Bian segera menghampiri Amelia. Melepaskan ikatan tangan dan lakban pada mulutnya.

"Mama tidak apa-apa 'kan?" tanya Bian khawatir.

"Mama baik-baik saja, Bian. Terima kasih."

"Sebaiknya kalian berdua ikut denganku," ungkap Bian kemudian. "Ayo, Dea!" Bian menggandeng tangan gadis itu.

Namun Amelia tidak mau beranjak. Ia tidak mau pergi dari rumahnya.

"Ayo, Ma. Kita pergi dari sini!" ajak Dea.

Amelia menggeleng pelan. Ia menyelipkan rambut ke telinganya.

"Tidak Dea. Mama akan tetap di sini. Mama tidak mungkin membiarkan papamu kesakitan."

"Tapi, Ma?" Dea sangat menyayangkan keputusan mamanya.

Bian menahan tubuh Dea dengan merentangkan tangan kirinya. Membuat gadis itu urung memaksa sang mama agar ikut bersamanya.

"Bian ... jaga Dea baik-baik ya? Mama percaya sama kamu. Dan tolong jangan laporkan Mas Lukman ke polisi."

Bian hanya diam. Sesungguhnya ia berniat untuk menjebloskan Lukman ke dalam penjara. Namun melihat kesedihan sang mama, membuatnya tak sampai hati melukai perempuan yang sejak kecil dengan sabar dan ikhlas telah merawatnya.

"Mama tenang saja. Saya akan menjaga Dea. Kami pamit."

Bian segera menarik tangan Dea agar ikut bersamanya. Meski sebenarnya gadis itu menginginkan Amelia ikut bersamanya.

Tatapan mata Dea masih tertuju kepada sang mama. Jalannya terseok-seok hingga hampir terjatuh.

"Kak Bian ... Mama," lirihnya dengan wajah penuh kesedihan.

Namun Bian tetap menariknya. Ia tidak mungkin memaksa Amelia.

Setelah pintu mobil Bian terbuka, Dea segera masuk dan duduk. Gadis itu mengusap sisa-sisa air mata pada wajahnya.

"Kenapa Kak Bian tega ninggalin Mama bersama lelaki itu?"

Bian masih saja membisu dengan pandangan lurus ke depan.

"Mama hamil anak lelaki itu. Mama tidak ingin kita terbebani olehnya."

Dea terkesiap. Ia sama sekali tidak tahu akan hal itu. Ternyata mamanya hamil terlebih dahulu hingga memutuskan untuk nikah siri dengan Lukman.

Dea mengetahui semuanya setelah mendengar cerita dari Bian yang saat ini sedikit lebih cerewet dari biasanya.

Dea menghembuskan nafas beratnya. Betapa menyedihkan hidupnya. Cobaan yang menimpanya bertubi-tubi, membuat gadis itu hilang kepercayaan.

"Kak Bian pasti sekarang hidupnya bahagia ya? Sudah berjumpa dengan orang tua kandung Kakak."

Bian tidak menghiraukan pertanyaan dari Dea. Ia justru bertanya hal lain kepada gadis itu.

"Reno ke mana?" tanya Bian datar.

"Kenapa jadi nanyain dia? Udah kubuang ke laut. Dia selingkuh dengan Mawar."

"Oh."

"Kok gitu sih, jawabannya. Aku mau balas dendam sama dia."

"Kamu cemburu?"

"Kak Bian, ih. Nggak ngerti banget sama perasaan cewek. Semua lelaki itu sama. Mulai sekarang Dea nggak mau pacaran lagi. Lebih baik Dea menyendiri sampai tua nanti."

Gadis itu bertekad untuk tidak lagi mengenal cowok. Ia telah menutup pintu hatinya rapat-rapat dan memutuskan untuk tidak menikah.

"Yakin?"

Dea terdiam mendengar ucapan yang terdengar seperti sebuah sindiran untuknya.

"Yakin dong."

"Gimana kalau ada yang mencintai kamu dengan tulus?"

"Mana ada? Semua cowok yang deketin Dea cuma manfaatin kepolosan Dea."

"Em ...."

Bian manggut-manggut. Ia merasa ini bukan saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.

Dea merasa gemas dengan sikap kakaknya. Ia berharap bisa curhat dan mendapatkan solusi terbaik dari lelaki itu.

Tetapi apa yang didapatkannya? Hanya sebuah kekesalan belaka.

Bian mulai menjalankan mobilnya. Sejak tadi ia menunggu agar perasaan Dea menjadi lebih tenang.

Dea menatap ke arah Bian yang mulai fokus menyetir. Gadis itu mengagumi wajah kakaknya yang terlihat tampan jika dilihat dari samping. Ia berharap jika lelaki di sampingnya itu tidak sama seperti pacarnya yang suka selingkuh.

Setelah saling diam dan melewati jalanan yang macet, mobil Bian memasuki daerah kompleks. Kemudian berhenti di depan rumah sederhana satu lantai.

Bian turun dan membukakan pintu mobil untuk Dea.

Gadis itu keluar dari mobil. Ia memicingkan matanya. Merasa heran kenapa Bian tidak tinggal di rumah yang mewah.

"Mulai sekarang kamu tinggal di rumah Kakak."

Dea terdiam. Ia tampak berpikir keras. Hatinya merasa risau jika harus tinggal bersama Bian. Apalagi mereka tidak sedarah.

'Apakah Kak Bian bisa dipercaya?' batinnya kemudian.

"Baiklah, kalau tidak mau."

Lelaki itu berjalan seorang diri dengan gaya santainya. Meninggalkan Dea yang masih berdiri di tempatnya tanpa bergerak.

Bab 3

"Terus kalau nggak tinggal sama Kak Bian, aku harus tinggal sama siapa? Rasanya nggak punya siapa-siapa lagi selain dia," batin Dea merasa galau.

Lelaki tampan itu sudah mengeluarkan kunci dari sakunya. Ia hendak masuk ke dalam rumah.

"Kak Bian, tunggu!" teriak Dea sambil berlari. Terpaksa ia menuruti kemauan kakaknya.

Gadis itu membungkuk. Nafasnya ngos-ngosan.

"Dea mau tinggal sama Kakak," ucapnya kemudian.

"Sudah berubah pikiran?"

Bian melirik sekilas ke arah Dea sambil tersenyum miring. Ia segera masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju dapur.

Dea segera duduk di kursi ruang tamu. Tubuhnya terasa letih. Hatinya masih tidak baik-baik saja. Bayangan pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya membuat dadanya ngilu.

"Minum, dulu."

Bian datang dari arah dapur membawakan orange juice yang terlihat sangat segar.

Mata Dea berbinar. Ia sangat menyukai jus jeruk sejak kecil dan dulu selalu menikmati berdua bersama kakak angkatnya itu.

"Kak Bian bisa peka juga, ya?" ucapnya lirih sambil tersenyum dan merebut gelas dari tangan Bian.

"Begitu caranya?" Bian ikut duduk di samping Dea.

Dea teringat sesuatu. Kakak angkatnya tersebut adalah orang yang haus akan ucapan terima kasih. Gadis itu kemudian meletakkan gelas yang dibawa setelah menyeruput sedikit isinya.

Dea menatap ke arah kakaknya. Ia mendekatkan wajahnya. "Makasih Kak Bian yang paling ganteng."

Dea mencoba tersenyum. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan kakaknya.

Seketika Bian mengalihkan pandangannya. Ia berdiri kemudian melangkah ke arah kamar.

"Itu hidung kamu banyak ingusnya. Jorok banget!"

Dea berdecak kesal. Ia pikir kakaknya akan salah tingkah karena ulahnya. Teryata dugaannya tidak benar.

Gadis itu segera menghabiskan jus buatan sang kakak. Kemudian memilih untuk membersihkan wajahnya dengan sebuah tisu.

"Kak Bian kok lama banget di dalam kamar, ngapain ya?"

Dea memilih untuk menyusul kakaknya. Ia masuk ke kamar yang sama dengan kamar yang dimasuki Bian.

"Kakak?"

"Em, kamu pasti capek, ya?" Ternyata Bian baru mengganti sprei dan merapikan kamar itu agar nyaman ditempati Dea.

"Kakak nggak perlu repot-repot. Dea juga bisa kok ganti spreinya sendiri. Kenapa Kakak tinggal di tempat seperti ini?" tanya Dea yang penasaran sejak melihat rumah sederhana itu.

"Nggak suka?" tanya Bian dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Bukan begitu, Kak Bian."

Dea jadi serba salah. Ia tidak masalah tinggal di manapun. Yang ia heran kenapa kakaknya tidak tinggal di rumah mewah bersama orang tua kandungnya.

"Mama sama papa sudah lama di luar negeri. Kakak disuruh ngurusin perusahaan yang berada di Jakarta. Dan rumah ini rumah peninggalan nenek. Kakak lebih suka tinggal di sini."

Dea manggut-manggut. Tidak menyangka jika Bian masih bergaya sederhana seperti dulu.

"Sebenarnya Nenek berpesan sebelum meninggal. Ia ingin melihat kakak menikah terlebih dahulu. Tetapi umur siapa yang tahu."

Dea memperhatikan kakaknya dengan seksama. Ia baru sadar jika selama ini tidak pernah melihat Bian dekat dengan wanita manapun.

"Terus Kakak kapan nikahnya? Udah mau kepala empat loh," celetuk Dea tanpa disaring lebih dulu pertanyaannya.

Bian terdiam. Ia tampak berpikir. Andai Dea tahu jika lelaki tampan itu hanya mencintainya, mungkin hubungan mereka tak akan lagi sama. Bahkan merenggang dan Dea tidak mau tinggal bersamanya.

Bian tidak ingin hal itu terjadi kepadanya. Ia mencintai Dea sejak mereka berdua dinyatakan bukan saudara kandung. Lelaki itu sangat takut kehilangannya.

"Em, maaf Kak. Nggak usah dijawab juga nggak papa. Dea bisa kok nanti mencarikan calon buat Kakak."

Bian mengangkat bahunya. Tetap bersikap tenang meski bukan hal itu yang ia mau. Ia hanya tidak ingin memperpanjang masalah dan terus membualkan soal pernikahan.

"Oh, iya. Itu kamar mandinya lagi rusak. Nanti biar diperbaiki dulu. Sementara kamu mandi di luar, ya? Atau bisa juga mandi di kamar kakak kalau—"

"Di dekat dapur aja!" sahut Dea cepat.

Bian mengangguk dan segera keluar dari kamar adiknya. Ia mulai memeriksa ponselnya yang sejak tadi berdering tanpa sepengetahuannya.

Sementara Dea ingin mengistirahatkan tubuh dan otaknya. Ia bergegas untuk mandi agar merasa rileks.

Setelah beberapa menit lamanya, Dea menyelesaikan mandinya.

"Duh, kenapa aku cuma bawa handuk ya? Mana nggak bawa baju ganti."

Dea hendak membawa pakaian kotornya, namun tiba-tiba ada seekor kecoak di atas bajunya.

Aaaaaaaa !

Gadis itu berteriak sangat kencang. Mengagetkan Bian yang baru saja keluar dari kamarnya.

"Dea, kenapa dia?"

Bian langsung mendorong dengan kuat pintu kamar mandi itu. Ia hendak menghampiri adiknya, namun terpeleset dan jatuh menimpa tubuh Dea.

"Kak Bian! Apa yang Kakak lakukan?" tanya Dea syok.

"Ma–maaf, Dea."

Bian hendak beranjak, tetapi terdengar rombongan orang-orang mendekat ke arah mereka.

"Lihat Pak RT. Benar 'kan kata saya. Mereka berbuat yang tidak-tidak di sini."

"Reno?" lirih Dea.

Kedua matanya sudah berkaca-kaca. Ia tidak menyangka jika Reno mengetahui keberadaannya. Dan bisa-bisanya berusaha memfitnah Dea dengan Bian.

Gadis itu merasa sangat malu. Bahkan ia hanya mengenakan handuk saja.

Menyadari Dea yang sedang bersedih, Bian melepaskan jaket pada tubuhnya. Lalu memakaikannya kepada Dea.

Padahal tadi Bian sudah bersiap hendak menemui seseorang. Ia pikir Dea sudah tidur di kamarnya.

"Laporkan saja lelaki ini, Pak. Mereka bukan saudara kandung. Tidak ada hubungan darah. Jangan sampai mencemari nama baik kampung ini." Reno sangat senang mengompori Pak RT.

"Benar! Benar!" Yang lain ikut menimpali.

Pak RT menenangkan para warga. Ia berucap dengan tenang.

"Baiklah, saya berikan dua pilihan."

Para warga menyimak dengan seksama. Sedangkan Reno merasa gelisah karena lelaki itu masih diberikan pilihan.

Padahal ia ingin Bian dipenjara. Sehingga perusahaan papanya tidak harus bersaing lagi dengan perusahaan orang tua Bian yang kini dipegang oleh kakak angkat Dea tersebut.

"Kamu saya laporkan atau kalian harus menikah."

Seketika Reno terbelalak mendengar penuturan dari Pak RT. Begitupun Bian dan Dea. Mereka saling berpandangan sesaat.

Dea merasa galau. Tidak mungkin ia menikah dengan kakaknya sendiri. Tetapi ia juga tidak mau jika lelaki yang sejak kecil menemaninya itu dipenjara.

"Baik, saya akan menikahi Dea sekarang juga."

Dea terperanjat. Memasang wajah tidak percaya kepada kakaknya.

"Pak, tolong maafkan kami. Ini semua salah paham. Tidak seperti yang kalian bayangkan. Saya bisa jelaskan semuanya."

"Pak, saya juga tidak setuju jika mereka dinikahkan. Penjarakan saja lelaki ini," ucap Reno sambil menunjuk ke arah Bian.

Dea menggeleng lemah. Ia semakin membenci Reno.

"Sudah, sudah. Keputusan tidak bisa diganggu gugat. Kita tetap adakan sebuah pernikahan agar mereka tetap bisa tinggal di sini."

Pak RT mendampingi proses pernikahan siri antara Bian dan Dea.

Hari itu Bian sibuk mempersiapkan segalanya. Sedangkan Dea hanya terdiam di kamarnya.

"Dea, bagaimana kalau kamu kabur saja. Ayo ikut bersamaku. Tinggal di apartemen pemberian papaku."

Sebuah pesan dari Reno sukses membuat Dea menjadi resah.

Meski Dea mengucapkan jika ia sudah tak percaya lagi dengan cinta, namun hatinya masih mengingat nama Reno yang sejak dulu mengisi hari-harinya setiap waktu.

"Balas Dea. Aku menantimu di depan. Sebenarnya aku masih mencintaimu."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED