Bab 1

“Kamu apa-apaan, Ratih!” seru Wisnu. Pria tampan berusia 32 tahun itu terus memegang pipinya yang terasa panas usai ditampar Ratih.

“Aku yang seharusnya bertanya, Mas. Apa yang kamu lakukan dengan Fani? Bukankah dia sekretaris barumu. Mengapa kalian berpelukan bahkan saling cium tadi?” sergah Ratih penuh amarah.

Wanita berambut ikal dengan tinggi 165 cm itu masih berdiri mematung menatap Wisnu dengan tatapan penuh amarah. Sementara Fani, gadis yang duduk di sebelah Wisnu hanya terdiam tak berani bersuara.

Sebuah helaan napas panjang keluar begitu saja dari mulut Wisnu. Pria berwajah manis itu menatap Ratih dengan sendu kini.

“Aku akan jelaskan semuanya, Ratih. Duduklah!” pinta Wisnu. Ia sudah merendahkan suaranya dan tampak trenyuh menatap Ratih.

“TIDAK!! AKU TIDAK MAU!! Aku mau pulang. Aku tunggu penjelasanmu di rumah!” Ratih sudah membalikkan badan dan berjalan cepat meninggalkan suami bersama sekretaris barunya.

Rencana Ratih Apsari untuk menikmati sajian ikan bakar di restoran langganannya saat istirahat makan siang kali ini harus gagal. Dia memergoki suaminya sedang asyik bermesra dengan seorang gadis yang tak lain Fani, sekretaris barunya. Ratih tahu dan mengenal Fani bahkan suaminya mengenalkan Fani kepadanya beberapa bulan yang lalu, tapi Ratih tidak menyangka kalau akhirnya Wisnu malah bermain gila dengan sekretarisnya itu.

“RATIH!! TUNGGU!!” Wisnu mengejar sambil mencekal tangan Ratih membuat wanita berwajah manis itu berhenti.

Napas Ratih tersenggal seakan berusaha menahan amarah yang sedang memenuhi dadanya. Wisnu menggeser tubuhnya hingga berdiri sejajar di depan Ratih.

“Aku akan menjelaskannya sekarang, Ratih,” lanjut Wisnu.

Ratih hanya diam. Perlahan dia mengangkat kepala dan menatap pria berwajah manis di depannya itu dengan tajam.

“Aku mencintainya, Ratih. Aku mencintai Fani. Maafkan aku ... .” Sangat pelan Wisnu mengatakannya, tapi sudah berhasil membuat Ratih terluka.

“Aku sudah lama ingin mengatakan kepadamu. Aku butuh seorang anak, Tih. Kedua orang tuaku juga membutuhkan cucu. Itu sebabnya ---“

“Itu sebabnya kamu memilih berselingkuh dengannya dan menganggap legal semua yang telah kamu lakukan,” sahut Ratih.

Wisnu menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala.

“Bukan begitu, Tih. Kamu tahu sendiri berapa lama kita menikah. Sudah hampir 8 tahun dan kamu belum juga hamil. Aku bosan selalu dituntut anak oleh ayah dan ibu. Aku lelah menghadapi tuntutan mereka, Ratih.”

Ratih berdecak sambil tersenyum miring menatap Wisnu.

“Lalu kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku, Mas? Kenapa juga kamu tidak mau menerima saranku? Bukankah aku sudah mengajakmu berulang kali untuk memeriksakan diri. Jika memang ada yang salah pada kita, aku yakin dokter bisa membantunya.”

Wisnu hanya tersenyum menyeringai sambil menatap Ratih dengan tatapan yang aneh.

“Jadi menurutmu ada yang mandul di antara kita?”

Ratih hanya diam dan menatap Wisnu dengan sendu. Ia tidak mengatakan hal seperti itu, tetapi suaminya sudah menduga sendiri.

“Aku yakin kalau bukan aku. Kamu tahu sendiri, aku terlahir dari keluarga besar. Sementara kamu, kamu hanya anak tunggal. Itu sebabnya aku tidak mengatakan keinginan ayah dan ibu padamu. Aku takut menyakiti perasaanmu, Tih.”

Ratih membisu menelan ludah berulang sambil menatap pria yang sudah satu windu menjadi suaminya. Entah mengapa Ratih merasa tidak mengenali pria di depannya ini. Ia sudah jauh berbeda. Bahkan ucapan terakhirnya itu terkesan menyudutkan Ratih.

“Jadi kamu berpikir kalau aku yang bermasalah dalam hal ini? Aku ... yang mandul?” jelas Ratih.

“Aku tidak mengatakannya, kamu sendiri yang melakukannya. Namun, jangan khawatir. Aku hanya membutuhkan Fani untuk melahirkan anak kita. Aku masih mencintaimu dan sama sekali tidak berniat untuk menceraikanmu. Mungkin, aku hanya meminta izinmu untuk menikah lagi.”

Seketika Ratih terbelalak kaget mendengar penuturan Wisnu. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan suaminya. Mengapa semudah itu dia menyelesaikan masalah perselingkuhannya ini?

“Jadi kamu ingin aku dimadu?”

Wisnu tersenyum sambil mengangguk. Wajahnya sangat ceria dan penuh harapan menatap ke arah Ratih. Sementara Ratih hanya terdiam. Mata bulatnya tampak terluka dan kini menghunus tajam ke netra coklat milik sang Suami.

“Teganya ... teganya kamu melakukan ini padaku, Mas. Apa salahku? Apa hanya karena aku tidak bisa memberimu anak, kamu memperlakukan aku seperti ini?”

Wisnu terkejut dengan reaksi Ratih.

“AKU TIDAK MAU!! AKU MAU CERAI!! AKU MAU CERAI SEKARANG JUGA!!” sentak Ratih.

“KAMU GILA!! Aku tidak akan menceraikanmu. Aku masih mencintaimu, aku lakukan ini dengan Fani hanya demi seorang anak yang tidak bisa kamu berikan. Kenapa juga kamu tidak mau mengerti?”

“Aku gila? Aku tidak mau mengerti? Lalu bagaimana dengan dirimu?” Ratih menjeda kalimatnya tampak mengolah udara sambil menatap nanar ke arah Wisnu.

“Kamu egois, Mas. Padahal ada jalan keluar untuk permasalahan kita, kenapa kamu tidak mau menerimanya? Jangan-jangan ini hanya alasanmu saja. Kalau kamu masih mencintaiku harusnya kamu tidak melakukan ini semua.”

“CUKUP!! Aku tidak mau membahasnya lagi. Cepat pulang!! Bulan depan aku akan menikah dengan Fani dan aku minta kamu menyetujuinya,” putus Wisnu.

Ratih membeku di tempatnya, hatinya terkoyak bahkan air mata sudah luber membasahi pipinya. Dengan helaan napas berat, Ratih mengangkat kepala melihat Wisnu dengan tatapan menantang.

“Aku tidak akan memberikan izin padamu. AKU MINTA CERAI!!” ucap Ratih dengan lantang.

Ia langsung membalikkan badan dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan Wisnu. Melihat istrinya pergi begitu saja Wisnu tampak kesal. Ia kembali mengejar, menarik tangan Ratih.

“DENGAR, PEREMPUAN MANDUL!! Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu. INGAT ITU!!”

Ratih berontak mengibaskan tangan Wisnu dan langsung berlari pergi meninggalkannya. Hatinya sangat sakit saat Wisnu mengoloknya dengan kata ‘mandul’. Padahal belum tentu juga dia yang terbukti mandul. Ratih tahu mengapa Wisnu tidak mau melepasnya begitu saja. Pria berwajah manis itu tahu kalau istrinya mempunyai banyak warisan peninggalan kedua orang tuanya. Wisnu tidak mau kehilangan ladang emasnya begitu saja.

Sementara itu Ratih sudah berjalan menjauh meninggalkan restoran tersebut. Hatinya terluka bukan hanya karena perselingkuhan Wisnu, tetapi ucapan terakhir Wisnu benar-benar membuat dia bersedih. Ratih berjalan cepat sambil berurai air mata. Pandangannya kabur sehingga tidak bisa melihat jelas di mana ia meletakkan mobilnya.

“Berengsek, bajingan, sialan, pengecut!!” umpat Ratih dalam isakan tangis.

Jalannya tampak sempoyongan dan kini sudah mengarah ke sebuah mobil yang mirip dengan mobilnya. Dengan tergesa Ratih membuka tas dan mencari kunci mobilnya. Ia belum menemukannya, tapi ada bunyi bip yang menandakan kalau mobilnya sudah tidak terkunci.

Gegas tanpa pikir panjang Ratih langsung masuk ke dalam mobil dan memilih duduk di bangku depan. Saking bingungnya, dia tidak fokus dan memilih duduk di sebelah kiri kursi pengemudi. Ratih berdecak kesal, menyesali kebodohannya dan bersiap pindah. Namun, dia sangat terkejut saat ada seseorang yang sudah duduk di kursi pengemudi menatapnya dengan bingung.

“Kamu siapa?”

Bab 2

“Kamu siapa?” tanya sosok pria itu.

Ratih terdiam, mengerjapkan mata berulang sambil menatap dengan bingung ke arah pria yang duduk di sebelahnya. Pria itu sangat tampan, wajahnya putih bersih, khas oriental, dengan rambut lurus berpotongan model koma macam oppa Korea yang sedang booming kali ini. Belum lagi postur tubuhnya yang porposional, kelihatan sekali kalau dia pecinta olah raga.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa kamu berada di mobilku?” ucap Ratih setelah terdiam sejenak.

Pria yang tak lain bernama Derryl Dariawan itu hanya membelalakkan mata dengan kedua alis yang terangkat. “Mobilmu? Apa kamu gak salah?”

Ratih berdecak kesal melihat dengan jengkel ke arah Derryl. Ia sedang sedih saat ini dan tak mau berdebat terlalu lama.

“Sudah jangan ngoceh. Cepat jalan dan antar aku pulang!” pinta Ratih kemudian.

“HAH!!” Lagi-lagi Derryl terbelalak kaget membuat mata kecilnya membola sempurna.

Ratih menoleh cepat ke arah Derryl dengan tatapan mata yang mengancam. “Aku akan membayarmu. Antar saja aku pulang!!” lanjut Ratih.

Derryl hanya menghela napas panjang kemudian sudah mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir tersebut. Sementara Ratih meneruskan tangisannya bahkan dia tidak peduli tatapan aneh Derryl ke arahnya.

“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Derryl memberanikan diri.

Ratih menoleh dengan cepat. Matanya tampak sembab, pipinya kusam bahkan ingus sudah keluar dari hidungnya.

“Apa menurutmu aku baik-baik saja?” Lagi-lagi Ratih kembali mengajukan pertanyaan.

Derryl menghela napas panjang sambil mengendikkan bahu. “Aku tidak tahu. Lalu mengapa kamu menangis?”

Ratih menarik napas panjang berbarengan sambil menyedot ingusnya dengan keras membuat Derryl bergidik geli melihatnya.

“Jangan cerewet!! Jangan ikut campur urusanku. Terus saja menyetir!!” ketus Ratih.

Lagi-lagi Derryl menghela napas panjang sambil melirik dengan sinis ke arah Ratih.

“Memangnya kita mau ke mana?” Kembali Derryl bertanya.

“Jalan saja!!! Nanti kalau sudah dekat pasti kuberi tahu.”

Derryl memilih mengangguk saja menjawab ucapan Ratih padahal dia sangat bingung kali ini. Ini adalah hari kedua Derryl berada di ibukota. Sudah bertahun-tahun dia berada di luar negeri untuk menyelesaikan studynya. Hal yang wajar kalau dia sedikit kebingungan dengan keadaan jalanan di ibukota saat ini.

Mereka terus berputar-putar tak tentu arah hingga malam menjelang dan Ratih masih saja tidak mengatakan tujuannya. Derryl yang tak tahu arah jalan, membuat mereka terjebak kemacetan dan menghabiskan waktu lebih lama di jalan.

“Kamu gimana, sih? Kok jadi terjebak macet gini?” protes Ratih.

Derryl tidak menjawab, hanya melirik kesal ke arah Ratih.

“Bilang dong kalau kamu gak tahu jalan,” imbuh Ratih.

Derryl menghela napas panjang. “Kamu sendiri gak bilang mau ke mana dari tadi. Aku jadi bingung.”

Ratih hanya diam sambil melipat tangannya di depan dada. Ia lebih tenang daripada tadi bahkan isakan tangis sudah tidak terdengar keluar dari mulutnya. Mungkin dia sudah lelah menangis dan sedikit tenang usai menikmati perjalanan ini.

“Eh ... stop!! Stop!! Aku berhenti di sini,” ucap Ratih tiba-tiba.

Derryl buru-buru menepikan mobilnya dan menatap bingung ke arah Ratih. Pasalnya tempat yang dituju Ratih bukanlah sebuah rumah melainkan sebuah pub.

“Kamu beneran mau berhenti di sini?”

Ratih mengangguk, tampak sibuk merapikan riasannya dan bergegas turun tanpa mempedulikan Derryl. Ia bahkan lupa memberi bayaran atas jasa Derryl kali ini.

“Sialan!! Apes banget aku,” dumel Derryl.

Ia kembali menjalankan mobil usai Ratih turun. Derryl sudah melajukan mobilnya menjauh dari pub, tempat Ratih turun tadi. Namun, tiba-tiba Derryl mengerem mobil dengan mendadak. Dia terkejut saat melihat sebuah dompet tergeletak dengan manis di bangku sampingnya.

“Gawat!! Ini ‘kan dompet cewek tadi. Pasti sekarang lagi nyariin. Duh ... ngerepotin banget orang satu itu."

Tanpa banyak kata, ia sudah memutar mobilnya kembali ke pub tempat Ratih turun. Derryl bergegas memarkir mobil dengan rapi kemudian masuk ke dalam pub.

Suasana hingar bingar musik dengan lampu temaram langsung menyambut Derryl begitu masuk ke dalam pub. Memang dia sudah biasa masuk ke tempat seperti ini, tapi tetap saja hal yang tidak mudah untuk menemukan seseorang di dalam sini.

Derryl hampir putus asa untuk menemukan Ratih hingga akhirnya dia mendengar sebuah tawa renyah dengan makian yang sangat dikenal.

“BERENGSEK!! WISNU BERENGSEK, SIALAN, BAJINGAN!!”

Derryl menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang wanita tampak mabuk. Di mejanya terlihat beberapa gelas minuman kosong, di samping kanan dan kirinya ada dua pria menemani. Dari tampangnya tampak kalau mereka bukan pria baik-baik.

Derryl bergegas menghampiri dan menyapa Ratih.

“Hei!! Kamu di sini rupanya.” Ratih menoleh, menengadahkan kepala sambil menyipitkan matanya. Ia tersenyum dengan manis menyapa Derryl.

“Eh, mas sopir ganteng. Kamu mau menjemputku?”

Derryl hanya menelan ludah mendengar sapaan Ratih. Sejak kapan dia berubah profesi menjadi seorang sopir.

“Eng ... iya. Yuk, pulang!!” Derryl terpaksa berbohong. Dia sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba ingin membawa Ratih keluar dari sana.

Ratih tersenyum kemudian bangkit berjalan dengan terhuyung menghampiri Derryl. Dua pria yang menemani Ratih tampak tidak senang dan berusaha menghalangi Derryl membawa Ratih.

“Dia belum selesai dengan kami,” ucap salah satu pria tersebut.

“Aku rasa dia belum memulai sesuatu apa pun dengan kalian. Maaf, aku harus membawanya pergi.”

Derryl langsung merengkuh tubuh Ratih hendak membimbingnya keluar. Namun, salah satu pria itu menahan Derryl membuat Derryl urung melangkah. Dia menghela napas panjang kemudian salah satu tangannya masuk ke dalam saku celana dan keluar dengan beberapa helai uang berwarna merah.

“Aku rasa itu cukup untuk menggantikan dia.” Dua pria itu tersenyum menyeringai sambil mengangguk usai menerima pemberian Derryl.

Tanpa pikir panjang, Derryl segera membawa Ratih kembali masuk ke dalam mobilnya. Wanita berwajah manis itu langsung tergolek tak sadarkan diri begitu Derryl meletakkannya di bangku mobil.

“Sepertinya aku harus membawa pulang. Besok pagi saja aku antar ke rumahnya,” gumam Derryl.

Ia kembali memacu mobilnya dan kali ini menuju apartemen tempatnya tinggal. Selang beberapa saat, Derryl sudah tiba di kamarnya. Bahkan baru saja mengolah udara usai meletakkan Ratih berbaring di kasurnya.

“Mimpi apa aku semalam hingga bertemu wanita aneh ini.”

Derryl bersiap berdiri meninggalkan Ratih yang sedang terbaring dengan tenang. Ia ingin segera beristirahat saja. Namun, tiba-tiba Ratih membuka mata dan langsung mencekal lengan Derryl membuat dia terkejut seketika.

“Ada apa lagi?” Ia menoleh ke arah Ratih.

Ratih hanya diam kemudian bangun dari tidurnya dan duduk di atas kasur.

“Jangan pergi!! Jangan tinggalkan aku. Aku mohon ... ,” cicit Ratih lirih.

Derryl terdiam, tertegun menatap Ratih. Ia yakin kalau wanita manis di depannya ini masih dalam pengaruh alkohol. Namun, anehnya Derryl langsung mengangguk mengiyakan permintaan Ratih.

“Iya, aku gak pergi. Sekarang kamu tidur saja.”

Ratih hanya diam menatap Derryl dengan tatapan yang beda. Jakun Derryl naik turun saat membalas tatapan mata Ratih nan sendu seakan sedang menginginkan sesuatu darinya. Tanpa diminta tiba-tiba Ratih meringsek mendekat ke arah Derryl. Lalu langsung menarik dagu Derryl dan melumat bibir Derryl dengan liar.

Derryl terkejut setengah mati, matanya terbelalak kaget dan ingin menolak. Namun, yang ada perlahan matanya terpejam menikmati setiap pagutan yang diberikan Ratih. Bahkan tangan mereka berdua sudah bergerak lincah saling melucuti satu sama lain.

“Tu-tunggu!” Derryl mengurai pagutannya dan menahan wajah Ratih yang terus mendekat dengan tangannya.

“Kamu dalam kondisi mabuk dan aku tidak mau memanfaatkan keadaanmu.”

Ratih hanya diam, tersenyum menggoda kemudian langsung mendorong tubuh Derryl hingga terjatuh ke atas kasur. Dengan gerak cepat, wanita berwajah manis itu langsung duduk di atas tubuh Derryl.

“Aku tidak masalah, bukankah kamu juga menginginkanku.” Derryl makin terbelalak kaget saat mendengar ucapan Ratih.

Belum habis Derryl berpikir tiba-tiba Ratih memainkan jemari lentiknya, menyusur dada bidang Derryl, turun ke perut sixpack lalu bermain di pusar. Jemarinya berhenti sejenak kemudian bergerak lagi turun ke bawah dibarengi dengan kepala Ratih yang ikut menunduk seakan bersiap menjemput sesuatu di balik boxer.

Derryl memelotot saat jemari Ratih memegang ujung boxernya. Bahkan wanita berwajah manis itu sudah membuka mulut bersiap melakukan aksinya.

"Aah ... ."

Bab 3

“Aah ... hoek!!” Tiba-tiba Ratih muntah mengeluarkan semua isi perutnya.

Parahnya Ratih memuntahkan semuanya tepat di atas perut Derryl. Derryl memelotot sambil menatap cairan lengket yang sudah menempel di tubuhnya.

“What's the hell?” maki Derryl kesal.

Dia ingin marah ke Ratih, tapi wanita itu sudah ambruk ke samping tubuhnya kemudian terlelap tak bergerak di sana.

“Ya Tuhan, mimpi apa aku bertemu wanita aneh ini,” gumam Derryl.

Akhirnya malam itu terpaksa dia membersihkan kamar, kasur dan juga tubuhnya. Sementara Ratih masih terus tertidur tak bergerak meski Derryl berulang kali memindah posisinya. Keadaan kembali tenang hingga pagi menjelang.

“Aku di mana?” ujar Ratih dengan pelan. Matanya terus mengerjap sambil melihat ke sekeliling ruangan dengan seksama.

Ratih sangat terkejut begitu mendapati dirinya terbangun di sebuah tempat asing. Parahnya lagi dia tertidur tidak berpakaian lengkap hanya bra dan brief yang menempel di tubuhnya kali ini. Ratih mengerjapkan mata sambil berulang memijat keningnya. Rasa pusing seperti berputar masih membuat dia kesakitan.

“Sial! Gara-gara kebanyakan minum, aku jadi seperti ini.”

Perlahan Ratih turun dari kasur kemudian memunguti baju dan memakainya dengan tergesa. Ia tidak tahu ada di mana saat ini yang pasti ini bukan rumahnya dan juga bukan di hotel.

“Kenapa aku tidak mengingat sama sekali apa yang terjadi semalam?” keluh Ratih sambil memijat keningnya.

Ia sudah bersiap pergi keluar dari kamar tersebut, tapi tiba-tiba kakinya membeku saat melihat sosok yang baru keluar dari kamar mandi. Apartemen Derryl memang hanya mempunyai satu kamar dengan kamar mandi dalam dan kebetulan saat Ratih masih tidur, Derryl memutuskan mandi lebih dulu.

Sayangnya Derryl lupa tidak membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Sehingga begitu usai mandi ia langsung keluar hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Kini tubuh Derryl yang putih dengan dada lebar dan perut sixpack sudah menjadi pemandangan terindah bagi Ratih.

“Ka—kamu siapa?” tanya Ratih dengan gugup.

Derryl tersenyum berjalan mendekat. Rambutnya yang setengah basah dengan beberapa buliran air yang masih menempel di tubuh indahnya membuat Ratih tidak bisa fokus di satu titik saja kali ini. Sepertinya Ratih lupa dengan mas sopir gantengnya ini.

“Jangan bilang kalau kita sudah menghabiskan malam bersama.” Belum sempat Derryl menjawab, Ratih kembali bersuara. Kini nada suaranya terdengar penuh amarah dan dengan ancaman.

“Heh? Apa maksudmu?” Derryl bingung dengan pertanyaan Ratih.

Ratih hanya diam kemudian menatap Derryl dengan tajam bahkan matanya kini menelisik leher putih Derryl yang sudah penuh bekas merah. Ratih beranggapan dia sudah melakukan hal yang memalukan terhadap Derryl. Ia memelotot dengan tangan menunjuk leher Derryl.

“Akh ... aku benar-benar gila. Kenapa aku melakukannya?” Derryl hanya diam sambil menatap Ratih dengan bingung.

Perlahan Ratih mendekat, rambutnya yang berantakan dengan riasan tak karuan sama sekali tidak menghapus kecantikan khas seorang wanita Asia. Wanita berusia 32 tahun itu berdiri sejajar di depan Derryl. Dadanya kembang kempis dengan napas tersenggal menatap penuh ketakutan sekaligus amarah ke arah Derryl.

“Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak mencegahnya? Apa kamu sengaja ingin menjebakku?” cercah Ratih dengan berondongan kata.

Derryl masih diam dan kini sibuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku gak ngerti maksud ucapanmu apa? Sumpah!”

Ratih makin membelalakkan mata menatap tak percaya ke arah Derryl. Ia tampak kesal dan kini sudah memukul keningnya berulang. Derryl penasaran dengan tingkah aneh Ratih saat ini dan dia sudah menelisik memperhatikan Ratih.

“Kamu masih pusing? Apa perlu aku antar ke rumahmu?”

Ratih menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. Kemudian mendongakkan kepala melihat ke arah Derryl. Kini sorot matanya berbeda seakan penuh kebencian disertai amarah yang siap meledak bagai gunung berapi.

“Jangan mentang-mentang kamu ganteng. Aku akan memaafkanmu. Kamu benar-benar lelaki berengsek. Teganya kamu membuatku mabuk dan mengajakku begituan. Apa kamu gak tahu kalau aku udah nikah. Nih, nih ini cincin kawinku!” Ratih menunjukkan cincin kawinnya ke arah Derryl

Derryl hanya mengernyitkan alis sambil memundurkan tubuhnya. Dia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Ratih yang pasti wanita di depannya ini sudah salah sangka padanya. Ratih menghela napas lagi sambil melirik Derryl. Kemudian dengan kesal melepas cincin kawinnya. Derryl heran dengan ulah Ratih kini.

“Kenapa dilepas? Katanya itu menunjukkan statusmu.”

Ratih tidak menjawab hanya diam kemudian memasukkan cincin itu ke dalam saku bajunya.

“Kamu gak perlu tahu. Gara-gara Wisnu berengsek aku jadi ketemu kamu dan menghabiskan malam bersamamu. Akh ... benar-benar menyebalkan.”

“Aku tidak kenal Wisnu dan aku tidak menyebalkan seperti yang kamu kira. Aku hanya ---“

“STOP! JANGAN BICARA!” Ratih sudah meletakkan telunjuknya ke depan bibir Derryl membuat pria tampan berwajah oriental itu menghentikan kata-katanya.

“Sudah jangan dibahas. Anggap saja semalam aku sial bertemu kamu dan kamu beruntung sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Ini sebuah kesalahan dan kebodohanku. Jadi aku tidak akan menuntut apa-apa padamu. Termasuk jika aku hamil nanti.”

Derryl kini yang terbelalak kaget usai mendengar uraian Ratih. Ia ingin menjawab, tapi tangan Ratih kembali menutup mulutnya. Akhirnya Derryl hanya membelalakkan mata menatap penuh kesal ke arah Ratih.

“Udah, gak perlu aku dengar penjelasanmu. Jadi jangan sampai kita bertemu lagi. Case close!”

Ratih membalikkan badan kemudian berlalu pergi begitu saja meninggalkan Derryl yang bengong.

“Dia memang wanita gila! Dasar Aneh!” maki Derryl penuh kekesalan.

**

“Kamu dari mana, Tih? Kok jam segini baru datang,” tegur Mawar salah satu rekan sekantor Ratih.

Ratih tidak menjawab hanya mendengus kesal. Gara-gara terbangun di apartemen Derryl, Ratih terpaksa berangkat kerja terlambat. Ia berangkat naik taxi online dan mandi dadakan di sebuah SPBU. Mobil Ratih masih tertinggal di restoran ikan bakar kemarin. 

“Kenapa? Kamu kelihatan suntuk apa ada masalah?” Ratih hanya diam kemudian duduk di samping Mawar dan berurai air mata. Tentu saja Mawar bingung melihatnya.

“Ada apa? Kamu berantem dengan Wisnu lagi?” tebak Mawar. Ratih menggeleng kemudian mengangkat kepala menatap Mawar dengan sendu.

“Aku mau cerai dengan Mas Wisnu, dia ketahuan selingkuh dengan sekretaris barunya.”

“APA?!!!” Sontak Mawar terkejut mendengar ucapan Ratih. Mereka berdua sudah bersahabat lama sejak zaman kuliah dan bahkan bekerja di kantor yang sama hanya divisinya saja yang beda.

“Kamu yakin, Tih?”

Ratih menganggukkan kepala dengan mantap. Kemudian sudah menceritakan tentang pertengkarannya dengan Wisnu kemarin siang. Bahkan alasan Wisnu berselingkuh juga turut ia sertakan.

Mawar hanya menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. “Ya udah terserah kamu. Kalau itu memang pilihan yang terbaik, aku mendukungmu."

Ratih kembali tersenyum kemudian menganggukkan kepala.

“Oh ya, kenapa semua terlihat sibuk hari ini. Aku lihat anak OB juga terus membersihkan lantai dari tadi. Apa ada tamu penting kali ini?” Ratih kini mengalihkan bahan pembicaraan mereka.

“Kamu lupa kalau hari ini kita kedatangan CEO baru. Minggu lalu Pak Samuel sudah pamitan kalau undur diri dari posisinya dan akan digantikan dengan CEO baru. Katanya sih masih muda, fresh graduate, lulusan dari luar negeri lagi.”

Ratih berdecak sambil melipat tangan di depan dada.

“Hmm ... aku paling males kalau bos kita fresh graduate seperti itu. Alamat kita yang malah ngajarin si Bos. Ujung-ujungnya nambahin kerjaan orang aja.” Ratih sudah ngedumel gak karuan.

“Ya .. kita lihat aja nanti. Yuk, buruan ke ruang meeting. Aku gak mau terlambat, penasaran ama tampang bos baru kita.”

Ratih hanya diam sambil berjalan mengekor langkah Mawar. Tepat dugaan Ratih kalau hampir semua karyawan sudah berkumpul di ruang meeting. Banyak beberapa dari mereka yang tidak kebagian tempat duduk kali ini. Untung saja Ratih sebagai salah satu manager di sana mendapat tempat duduk paling depan.

Cukup lama mereka menunggu hingga akhirnya, pintu ruang meeting terbuka. Tampak Pak Samuel, CEO lama berjalan masuk lebih dulu. Di belakang Pak Samuel ada beberapa orang pria yang berdiri mengekor. Ratih tidak antusias untuk melirik bagaimana tampang CEO barunya. Ia sudah illfeel dulu saat mendengar kata fresh graduate tadi.

“Selamat pagi semua!” sapa Pak Samuel dengan ramahnya.

“Pagi!!” Sontak seluruh karyawan yang hadir di sana membalas.

“Baik, kali ini saya akan memperkenalkan CEO baru kita. Kita sambut Pak Derryl Dariawan.” Tepuk tangan riuh reda bergema memenuhi seisi ruangan itu. Semua mata kini tertuju ke arah pria yang sudah berdiri di depan bersebelahan dengan Pak Samuel.

Ratih yang tadinya acuh, mau tidak mau mengarahkan matanya melihat ke depan. Seketika jantungnya berhenti, dadanya terasa sesak dan keringat dingin sudah bercokolan di keningnya. Ratih berulang mengerjapkan mata dengan napas tersenggal. Ia sangat terkejut saat melihat CEO barunya adalah pria yang ditemuinya tadi pagi dan sudah menghabiskan waktu dengannya semalam.

Pelan Ratih mengumpat, “Mampus aku!”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED