Kecewa, terluka, patah, semua melebur menjadi satu.
Aku melihat sendiri siluet tubuh itu. Aku tidak mungkin salah mendengar juga bagaimana ia menceritakan niatnya untuk menikah lagi kepada wanita yang ada di depannya. Aku berusaha meredam isak tangisku, aku tidak ingin kepergok mengikutinya, namun aku menajamkan pendengaran.
Batinku semakin hancur di saat mendengar percakapannya mereka.
"Apa istri kamu setuju, Pak?" kata wanita itu.
"Setuju gak setuju, dia tetap harus setuju," ucap Bagas suamiku seraya menggenggam erat tangan kekasihnya. Aku duduk tepat dibelakang kursi yang mereka duduki. Aku mendengar dengan jelas perkataan mereka, mungkin juga jika wanita itu mengenalku atau jika aku tidak menggunakan pakaian tertutup, aku akan ketahuan mereka. Beberapa kali aku mengelap tangan dengan tisu yang ku bawa, sampai tisu itu terguling dan berakhir menumpuk di tasku, karena aku beberapa kali menggantinya karena tanganku terus berkeringat. Gugup, gelisah, takut jika Bagas mengetahui keberadaanku di sini.
Aku telah lancang mengikuti Bagas yang keluar rumah dengan baju rapi. Aku curiga dengan kepergian Bagas karena ini bukan kali pertama Bagas pergi di siang hari setelah zhuhur di hari weekend, tanpa sepengetahuannya aku mengikuti Bagas.
"Ta-tapi .…" Bagas meletakan jari telunjuknya di bibir wanita itu. Hal yang membuatku semakin muak, aku memalingkan muka, dan membetulkan kacamata hitam yang kukenakan.
"Aku cinta sama kamu, Sa. Aku gak mau kehilangan kamu, aku cuma mau menikah denganmu dan hidup bahagia denganmu." Aku berusaha menguatkan diri agar tidak melabrak mereka, terlalu memalukan rasanya jika aku bertengkar di depan umum hanya karena melabrak pelakor, masih untung kalo suamiku memilihku, mungkin aku tidak akan terlalu malu, tetapi jika suamiku memilih pelakor itu? Entah apa yang akan terjadi dengan perasaan ku.
"Tanpa memikirkan hati yang lain?" Bagas terdiam mendengar penuturan kekasihnya. Aku tersenyum kecut mendengar wanita itu berbicara seperti itu.
Aku yakin wanita itu justru dalam hatinya sedang bahagia mendengar Bagas akan menikahinya, hanya saja wanita itu pura-pura bertanya seperti itu agar wanita terlihat simpati padaku di mata Bagas.
Bagas mempererat genggaman tangannya pada wanita itu, dan aku yakin matanya menatap dalam Charissa-kekasih sekaligus sekretaris baru Bagas.
"Kamu mau 'kan, aku mohon. Aku gak bisa hidup tanpa kamu, jangan pikirkan yang lain, yang penting itu kita, aku dan kamu," rayu Bagas.
'Lantas Kenapa ia bisa hidup bahkan sampai titik ini jika dia tidak bisa hidup tanpa wanita itu. Lalu apakah aku tidak penting lagi bagi Bagas. Dasar laki-laki buaya,' sanandikku dalam hati.
Wanita itu berpikir lama, sebelum kemudian ia mengatakan. "Iya, aku mau."
Dasar pelakor, sudah tahu Bagas sudah punya istri, masih saja di embat. Benarkan apa yang ku katakan tadi, keraguan wanita itu hanya kepura-puraan, karena pada nyatanya ia menerima juga.
Tidak ingin berlama-lama menjadi kambing conge diantara dua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu. Aku segera pergi meninggalkan tempat mewah yang membuatku tidak nyaman. Entah suasana hatiku yang sedang kacau atau bagaimana? Aku benar-benar tidak menyukai tempat ini.
Di bawah guyuran hujan aku pulang sendiri, meninggalkan pasangan yang sedang memadu kasih di restoran ternama di kota Jakarta. Bahkan aku lupa kemana aku melangkah, pandangan ku kosong, perasaan sesak melingkupi hatiku, menumpul 'kan semua indra-indraku, bahkan aku tidak sanggup berdiri lagi dengan kedua kakiku. Kepalaku semakin pening bersamaan dengan perut seperti dipelintir. Aku terjatuh di pinggir jalan dekat pedagang kaki lima. Aku mendengar suara seseorang berteriak bersamaan juga kesadaranku mulai menghilang.
*****
Aku membuka mataku dengan pelan, bias cahaya lampu membuatku menyipitkan mata sayu.
Aku melihat langit-langit kamar yang nampak berbeda dengan kamarku, warna putih lebih dominan di ruangan ini, terbangun dengan keadaan pusing, langit-langit kamar tampak berputar di mataku, bau sesuatu membuatku mual, mulut ku pahit bagaikan baru makan pare mentah tanpa sambal. Aku menyesali 1 hal, sedari pagi aku belum mengisi perutku, aku lupa.
Aku buru-buru bangun dari tidurku, aku ingin ke kamar mandi untuk membuang isi perut yang sudah ada di mulutku minta di keluarkan. Namun, tiba-tiba saja seseorang menahanku dengan menggenggam pergelangan tanganku.
"Diajeng, kamu udah sadar, Sayang?" Aku melihat suamiku sedang duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan ku. "Kamu mau kemana, sini aku bantu?" Bagas berdiri hendak membantuku. Namun, aku segera menepis tangannya. Dia terlihat terkejut dengan apa yang aku lakukan, tapi aku tak peduli. Aku segera turun dari ranjang, yang baru aku sadari ternyata aku berbaring di ranjang rumah sakit.
Aku kebingungan di mana letak kamar mandi setelah turun dari ranjang. Kepalaku pusing membuat jalanku sedikit oleng.
"Sayang-sayang hati-hati, dong, emang kamu mau kemana hmm …" Bagas buru-buru membantuku disaat aku mulai oleng berdiri sendiri.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kepalaku benar-benar pusing.
"Hmmm, hoeek." Aku muntah di lantai.
"Yaampun, Sayang."
Bagas dengan pelan menuntunku ke kamar mandi, aku segera memuntahkan yang ingin dimuntahkan namun ternyata tidak ada sama sekali yang keluar karena mungkin sudah keluar tadi di luar. Aku membersihkan wajahku di wastafel. Aku lelah tenggorokanku sakit karena tidak memuntahkan apa-apa selain air.
Aku menatap wajahku di cermin, menghela nafas kasar saat melihat wajah Bagas di cermin, Bagas berdiri tepat di belakangku.
Selama ini, aku berusaha menjadi istri yang baik untuk Bagas. 2 tahun bukan waktu sebentar untuk sebuah hubungan rumah tangga. Mengetahui laki-laki yang selama ini mengisi hari-hariku telah berkhianat, sudah sangat menghancurkan hatiku jutaan keping, tak menyangka suami yang begitu aku cintai telah menghianatiku.
"Kamu kenapa ngeliatin aku kaya gitu banget?" tanya Bagas seraya memelukku dari belakang, ia meletakkan dagunya di pundakku. Menerima pelukan Bagas Entah kenapa membuat jantungku berdetak lebih cepat, entah perasaan yang sama seperti biasanya atau perasaan marah yang tidak bisa ku luapkan.
"Aku gak papa," ucapku dengan senyum tipis, namun banyak kepahitan yang ku rasakan dibalik senyumku itu.
"Kamu kenapa hujan-hujanan di jalan?" tanya Bagas.
'itu karena kamu mas," sanandikku dalam hati.
Aku melepaskan tangannya perlahan dari perutku, aku segera berbalik dan menatap wajahnya. Bagas langsung memelukku kembali.
"Aku gak papa, Mas." Aku tersenyum pada Bagas dan melepaskan diri dari pelukannya. Aku berjalan ke arah pintu dan dari kamar mandi diikuti oleh Bagas.
Bagas hendak membantuku kembali berjalan, tapi aku dengan cepat berjalan.
"Aku baik-baik saja, tidak apa!"
"Baiklah," lirih Bagas.
Di luar kamar ternyata sudah ada ibu mertuaku.
Ibu mertuaku dengan sigap berdiri dan membantuku melangkah ke keranjang, ia memegang selang infus ku.
"Aku nggak apa-apa, Bu."
"Udah gak papa," Ibu Miranda tetap saja mau membantuku meskipun aku sudah mengatakan jika aku tidak apa-apa.
Aku melihat lantai yang tadi aku muntahi ternyata sudah bersih.
"Ibu, sudah bereskan," ucap ibu seraya tersenyum. Aku juga ikut tersenyum padanya.
Ibu mertuaku ini memang sangat baik, beliau juga menganggapku seperti anak sendiri. Entah bagaimana perasaannya jika tahu anaknya berselingkuh dariku. Apakah dia akan menyetujui anaknya menikah lagi dengan wanita lain, dan menganggap istri kedua Bagas juga anaknya sepertiku, atau ibu mertuaku akan memilih aku seorang diri.
Drttt Drtttt Drttt
Setelah aku berbaring kembali handphone Bagas berdering. Aku melihat ke arah Bagas, Bagas yang sedang melihat ponselnya lalu melihat ke arahku.
"Ini ada telepon dari kantor, aku angkat dulu ya?" Aku mengangguk. Dulu awal menikah Bagas akan mengangkat telepon dari siapapun di depanku harus pergi menjauh dariku, tetapi akhir-akhir ini Bagas sering mengangkat telepon menghindar dariku. Awalnya aku sering mempertanyakan hal itu kenapa Bagas as-as lalu seperti menghindar maka telepon dari namun Bagas mengatakan jika ia hanya ingin lebih santai aja bicara sama teman-teman. Namun kenyataannya hal itu justru membuat aku menjadi curiga. 3 bulan ini Bagas terlihat aneh, ia sering pulang telat dan pergi malam.
"Sayang." Tiba-tiba ibu mertuaku menggenggam tangan ku.
"Eh, iya, Bunda."
"Kamu lagi mikirin apa sih?" Aku tersenyum padanya. Wajah renta itu mengingatkanku pada orang tuaku yang sudah tiada. Dulu ayah menitipkan ku padanya, dan dia juga menerimaku, menyayangiku dengan tulus, apakah aku sanggup mengatakan jika anaknya telah menghianati ku dan aku akan memutuskan untuk berpisah dengan anaknya.
"Kok malah bengong! kamu lagi mikirin apa hmm?"
"Aku lagi nggak mikirin apa-apa kok, Bunda." Bunda Miranda mengusap pipiku dengan lembut. Lihatlah bagaimana dia memperlakukan ku. Dia sangat perhatian terhadapku, bagaimana bisa aku tega meninggalkannya untuk memilih berpisah dengan Bagas karena keegoisan ku. Harusnya aku bisa lebih memikirkan perasaannya, dan mengesampingkan perasaan ku lebih dulu.
"Kamu tadi habis dari mana? Kenapa sampe pingsan di jalan hujan-hujanan?"
"Mm … ta-tadi aku habis … habis beli bakso, Bun," ucapku gugup. Alasan yang konyol memang tapi aku tidak tahu harus jawab apa aku tidak sepintar itu membuat alasan, apalagi aku yang tidak pernah berbohong.
"Bakso?" Bunda mengerutkan kening mendengar jawabanku.
"Iy-iya, Bunda. Ta-tapi bak-baksonya habis, jadi gak ja," ucapan ku terpotong karena ada Bagas.
"Bunda, sayang."
"Iya," ucapku dan bunda barengan. Aku sangat bersyukur ketika Bagas datang, aku bisa terbebas dari pertanyaan-pertanyaan bunda.
"Bunda, aku titip Diajeng sebentar ya, Bun. Aku mau keluar sebentar." Perasaan ku tak karuan mendengar perkataan Bagas, kecurigaanku kembali menghampiri.
"Kamu mau kemana, Gas. Ini lho istri kamu lagi sakit," kata bunda tak habis pikir dengan anaknya.
"Bentar aja, Bun. Aku keluar sebentar, Ya. Mau dibawain apa?"
"Terserah kamu aja deh, Gas," ucap bunda pasrah. Sementara aku hanya diam saja.
"Sayang kamu mau dibawain apa?" Aku tidak langsung menjawab, aku fokus kepada pikiran ku sendiri, aku yakin jika Bagas keluar untuk menemui kekasihnya. Bahkan di saat istrinya sakit pun Bagas masih keluar untuk menemui kekasihnya, tidakkah Bagas mau menemani istrinya yang sedang sakit?
"Sayang," ucap Bagas.
"Diajeng." Bunda memanggilku dengan lembut.
"Eh, iya bunda ada apa?"
"Itu suami kamu mau pergi, katanya mau dibawain apa nanti pas pulang,"
Aku bilang aku tidak mau dibawakan apa-apa, Aku cuman berharap Bagas ada disini menemaniku bukan malah pergi menemui selingkuhannya dan menitipkan aku kepada bunda.
"Sekarang jam berapa Bun?" Tanyaku pada Bunda karena aku tidak menemukan ponselku.
"Baru jam 8 malam. Kamu belum makan apa-apa 'kan. Tadi kamu mau beli bakso gak jadi," bunda tersenyum seraya mengambil makanan yang sudah ada di atas meja samping ranjangku.
"Kamu makan dulu, ya!" Aku mengangguk. Aku memang belum makan dari pagi, aku terlalu penasaran dengan kegiatan suamiku seharian ini, hingga aku mengikutinya dan lupa mengisi perutku, aku punya penyakit maag, aku juga tidak tau siapa tadi yang membawaku ke tempat ini, aku makan dengan tenang. Sementara bunda duduk di sofa. Aku sudah menawarkan makanan padanya tapi beliau menolak.
"Bunda, tidur sini, bareng sama aku," ucap ku padanya.
"Bunda tidur di sini aja."
"Nggak papa, Bun. Bunda tidur di sini aja. Aku mau tidur bareng Bunda. Lagian kasurnya muat, kok." Aku tidak tega melihat Bunda yang akan tidur di sofa sementara aku tidur di ranjang, mungkin saja badan Bunda nanti pas bangun akan pegal-pegal jika ia tidur di sofa.
Miris memang Bagas meninggalkanku dengan bunda berdua saja di rumah sakit. Bunda disuruh menjagaku disaat bunda sendiri butuh istirahat di kasur yang nyaman, bukan sofa rumah sakit. Seharusnya Bagas menghantarkan menenmaniku, bukan bunda, entah kemana Bagas yang sering mengucapkan janji akan selalu menemani ku itu.
Kecewa sedih marah, miris melebur menjadi satu namun aku tak bisa berbuat apa-apa selain diam dan menerima. Aku tidak ingin ibu mertuaku sedih karena pernikahan anaknya ternyata tidak baik-baik saja.
Ibu mertuaku naik ke ranjang dan tidur bersamaku, aku tidur dalam pelukan bunda. Aku sudah sangat menyayangi Bunda seperti aku menyayangi ibuku sendiri. Aku merasa sangat nyaman saat bersama Bunda.
***
Pagi hari saat aku terbangun bunda sudah tidak ada di sampingku. Aku mengedarkan pandangan ku ke seluruh penjuru ruangan, tidak ada siapapun. Hanya suara gemericik air dari kamar mandi. Mungkin bunda sedang di kamar mandi, fikirku.
'apa Bagas semalam gak pulang?' apa segitu cintanya Bagas kepada wanita itu sampai-sampai dia melupakanku yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Dan memilih pergi menemui wanita itu. Aku memang tidak tahu semalam Bagas pergi ke mana, tetapi firasatku mengatakan jika Bagas pergi menemui wanita itu.
Aku mau memandang langit-langit kamar makalah napas, kemudian bangun dari tidurku. Aku mau ke kamar mandi, tetapi Bunda belum keluar juga dari kamar mandi.
Tak berapa lama seseorang membuka pintu kamar mandi, aku mengerutkan kening ternyata bukan Bunda yang berada di kamar mandi melainkan Bagas, kemana bunda?
"Mas, Bunda ke mana?"
"Kamu udah bangun, Sayang?"
"Iya,"
"Bunda dijemput Ayah semalam Karena Riko bangun malam-malam nangis malam-malam dan nyariin Bunda makanya dia pulang," aku mengangguk mendengar jawaban Bagas. Riko adik Bagas yang paling kecil dia baru berusia 5 tahun.
Aku dan Bagas baru menikah 2 tahun ini kami belum dikaruniai momongan, apa Jangan-jangan itu juga adalah alasan Bagas mau menikah lagi?
Bagas duduk di bibir ranjang, ia mengambil tanganku dan menciumnya. Menerima perlakuannya dan melihat tatapan teduhnya padaku membuat aku tak kuasa jika harus kehilangan Bagas.
Namun tak dapat dipungkiri rasa sakit, kecewa dan benci bercampur di benakku. Bagas memelukku tanpa sadar air mataku lolos dari pelupuk mataku. Masih terekam jelas kata-kata yang diucapkan kepada wanita itu kemarin siang di restoran.
Menerima dia yang memelukku dengan nyaman tanpa rasa bersalah kepadaku, membuat aku marah. Ingin rasanya aku memukul menarik bajunya menjambak rambutnya melampiaskan rasa sakit yang ia torehkan kepadaku.
Tangannya masih setia memelukku erat layaknya seorang suami yang sangat mencintai istrinya, tak hentinya juga dia mencium kepalaku. Jika Bagas hanya mencintai wanita itu dan hanya ingin hidup dengan wanita itu lantas Apa arti dari pelukan ini?
Drtt Drtt Drtt
Handphone Bagas kembali berdering, Kenapa wanita itu selalu saja mengganggu kebersamaan ku dan Bagas. Bagas melepaskan pelukannya dan mengambil gawainya di meja dekat ranjang.
Sekilas aku melihat nama yang tertera di gawai Bagas. security office mana ada satpam menelepon pagi-pagi seperti ini.
"Aku angkat telepon dulu, Ya."
"Ya udah angkat aja, Mas." aku memalingkan muka, malas sekali aku menatap wajah suamiku.
"Jangan gitu dong Sayang, ini dari kantor siapa tahu ada yang penting.
"Sebentar doang aku angkatnya, Ya," lanjutnya.
"Kenapa gak diangkat dari sini sini aja, Mas. 'kan itu dari kantor!" Bagas menggaruk pelipisnya.
"Ya udah angkat aja mas di luar nggak apa-apa kok yang jauh ya Mas takut aku dengar nanti ikutin kamu," ucapku seraya turun dari ranjang. Bagas terlihat menelan ludah saat aku berucap setelah aku berucap seperti itu namun dia tetap keluar dari kamar.
Aku pergi ke kamar mandi, membasuh muka dan menatap diriku di cermin. Isak tangisku tak terbendung melihat wajah ku sendiri di cermin, miris. Kenapa hidupku bisa seperti ini, kenapa dia tega sekali menghianatiku? dulu dia sendiri yang memintaku kepada orang tuaku. Dan sekarang di saat orang tuaku sudah tiada dia malah menghianatiku. Aku dengan tulus mencintainya, tetapi ternyata ketulusan cintaku dipatahkan olehnya.
Aku mencintainya mengharapkan kebahagiaan darinya, dia adalah panutanku apalagi dia yang telah menguatkanku disaat orang tuaku meninggal. Dan sekarang aku bingung Entah kepada siapa aku harus bercerita dan entah siapa yang akan menjadi penguat ku jika bahkan orang yang aku percaya orang yang selalu menguatkan aku saja sudah menghianatiku.
Seterah aku aku membersihkan berwudhu tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mandi.
Tok tok tok
"Sayang kamu masih di dalam? " Ucap Bagas dari luar.
Aku segera membuka pintu, dia berdiri tepat di belakang pintu yang tidak memegang khusus namun aku mah.
"Aku habis wudhu."
"Maaf,"
"Diajeng, aku … Aku mau keluar sebentar,"
"Mau kemana lagi sih Mas, semalam kamu udah pergi aku juga kapan kamu pulang pulang, emang tadi yang telepon siapa? Masa ke kantor harus pagi-pagi buta kayak gini!"
"Iya jeng ini tuh penting, ada sesuatu yang penting yang nggak bisa aku tinggalin di kantor dan yang mengharuskan aku datang ke kantor pagi-pagi sekali Jeng," ucap Bagas meyakinkanku. Aku menghela napas berjalan mengambil mukena yang berada di atas sofa mengabaikan Bagas.
Aku menggunakan pola mukena dan memulai shalat tanpa menghiraukan Bagas.
"Ya udah aku pergi dulu ya jeng," ucap Bagas seraya meninggalkan tempat ini. Setelah sujud terakhirku dan salam terakhirku, aku menumpahkan tangisku. Kembali, lagi-lagi wanita itu yang lebih penting daripada istrinya sendiri.
Bahkan Bagas rela meninggalkanku sendirian di rumah sakit hanya demi menemui wanita selingkuhannya itu.
Setelah agak siangan dokter datang ke kamarku untuk mengecek keadaan ku bersama susternya. Aku juga baru menyadari ternyata infus ku juga sudah dilepas, mungkin semalam di saat aku tidur, fikirku.
"Bagaimana keadaannya? Sudah lebih baik?" Tanya Dokter padaku.
"Iya, Dok. sekarang sudah lebih baik," ucapku.
Dokter mudah dengan paras tampan, kulit putih bersih, hidung tegak berdiri, matanya kecoklatan dan alis tebal yang hampir menyatu. Badannya memang tidak sixpack sepertinya tapi cukup ideal dengan bahu yang lebar dengan bobot tubuh yang pas membuatnya terlihat macho dalam pandanganku.
Astaghfirullahaladzim Aku mengagumi dokter itu sementara aku sudah punya suami.
"Oke karena keadaan ibu sudah lebih baik Ibu udah pulang hari ini, perbanyak minum air putih Jangan lupa makan ya Bu," dokter itu menasehatiku seraya tersenyum. Aku membalas senyumnya.
"Ini obat yang nanti ditebus ibu tebus di apotek, ya, Buk." Dokter bernama Ardiansyah itu memberikan kertas kecil bertuliskan resep obat-obatan yang harus aku tebus di apotek dan aku menerimanya.
"Keluarga Ibu ke mana, nggak nemenin ibu?" Pertanyaan dokter itu membuat aku yang awalnya mengagumi dokter itu menjadi di tiba-tiba saja perasaanku menjadi sedih. Namun sepertinya dokter itu mengerti dan tidak bertanya lagi tentang keluargaku di saat melihat air mukaku berubah pedih.
Setelah aku membayar sendiri biaya administrasi pengobatanku dan menebus obat dari apotek aku segera pulang.
Pak Dokter juga mengantarkanku sampai halaman rumah sakit, ia juga dengan berbaik hati membantuku memesan taksi.
Aku sudah menolaknya namun dokter itu tetap mau mengantarkanku sampai halaman rumah sakit dan aku tidak kuasa menolak.
"Terima kasih Dokter,"
"Sama-sama," ucap dokter itu dengan senyum.
Aku tidak tahu kemarin siapa kemarin yang membawaku ke rumah sakit ini, aku sangat bersyukur dan ingin berterima kasih pada orang itu jika aku bertemu dengannya.
Sampai di rumah aku langsung naik ke kamarku membersihkan diri. Setelahnya aku pergi ke dapur untuk memasak sarapan karena tadi di rumah sakit aku belum sempat sarapan. Tidak ingin sebenarnya aku mau masak karena tubuhku masih lemas tapi aku aku akan meminum obat jadi lebih baik aku masak.
Aku dan Bagas tinggal berdua rumah ini memang tidak besar hanya terdiri dari 2 lantai. Bagas juga dulu menawarkan pembantu untuk membantu membersihkan rumah namun aku menolak dengan tegas jika aku juga bisa membersihkan rumah tanpa pembantu jadilah hanya aku dan Bagas di rumah ini dalam kesepian apalagi saat ini Bagas jarang ada di rumah.
Aku mau masak nasi goreng karena di rice cooker masih terdapat nasi kemarin pagi yang aku masak dan belum basi. Daripada sayang dibuang Lebih baik aku masak saja buat nasi goreng.
Suara wajan dan sendok wajan sedikit mengurangi keheningan dalam rumah itu.