Bab 1

Langit Jakarta malam itu bertabur bintang, tapi bagi Sakti, cuma ada satu bintang yang dia mau lihat: mata Anjani. Mereka duduk di bangku kayu usang di taman panti asuhan tempat Anjani tinggal. Tempat ini, walau sederhana, sudah jadi surga rahasia mereka selama dua tahun terakhir.

"Dingin, Sakti," bisik Anjani pelan, suaranya kayak angin malam yang lembut. Anjani selalu begitu. Semua gerakannya halus, nggak pernah tergesa-gesa. Beda banget sama Sakti, cowok yang hidupnya selalu dipacu adrenalin, baik di kantor ayahnya yang sebesar gedung pencakar langit, atau di trek balap mobil.

Sakti cuma tersenyum, melonggarkan jaket kulitnya, lalu menyampirkannya ke bahu Anjani. "Kalau dingin, harusnya kamu protes dari tadi, bukan malah diam. Nanti sakit."

"Aku nggak mau kehilangan momen," jawab Anjani, bersandar ke lengan Sakti. "Momen di mana kamu cuma milik aku, bukan milik rapat, bukan milik saham, atau milik..." Dia berhenti, nggak mau menyelesaikan kalimatnya.

Sakti tahu apa yang Anjani maksud: bukan milik 'dunia' Sakti. Dunia yang dipenuhi marmer dingin, janji bisnis miliaran, dan harapan keluarga besarnya. Sakti Valentino, nama belakang yang membawa beban seberat emas batangan. Anjani, nggak punya nama belakang yang istimewa, cuma nama yang diberikan pengurus panti.

"Aku selalu milik kamu, Anjani. Di mana pun aku berada," kata Sakti, menarik Anjani mendekat dan mencium pucuk kepalanya. Aroma sampo murah tapi segar dari rambut Anjani adalah satu-satunya wewangian yang benar-benar menenangkan Sakti.

Malam itu seharusnya berjalan seperti biasa: penuh bisikan janji, rasa aman yang singkat, dan perpisahan yang berat. Tapi malam itu terasa berbeda. Ada firasat aneh yang merayap di punggung Sakti, kayak bayangan hitam yang nggak bisa dia sentuh.

"Kamu kenapa, Sakti? Dari tadi senyumnya agak tegang," tanya Anjani, mengusap pipi Sakti.

Sakti menghela napas. "Nggak tahu. Mungkin cuma capek. Papa lagi gila-gilaan dengan proyek baru. Dia mau aku ambil alih semua urusan investasi luar negeri."

Anjani membenarkan jaket Sakti. "Pulanglah. Kamu butuh istirahat. Aku juga nggak mau kamu kena masalah gara-gara sering telat pulang."

Masalah. Kata itu terngiang di telinga Sakti. Masalah terbesar dalam hidup Sakti itu bukan saham atau proyek, tapi fakta bahwa cintanya adalah sebuah anomali di mata keluarganya.

"Aku janji, kita nggak akan lama-lama sembunyi begini," ucap Sakti penuh tekad. "Aku akan bicara dengan orang tuaku. Mereka harus tahu, kamu bukan cuma pacar biasa. Kamu..."

Tiba-tiba, ponsel Sakti berdering kencang di saku celananya. Nomor Papanya.

Sakti merasa jantungnya langsung mencelos ke perut. Dia nggak pernah dapat telepon dari Papanya jam 11 malam, kecuali ada... keadaan darurat.

"Ya, Pa?" suara Sakti terdengar lebih formal dan kaku dari yang dia inginkan.

"Sakti. Pulang sekarang juga. Sekarang." Suara Ayahnya, Bapak Hardian Valentino, dingin, tajam, dan sama sekali nggak menerima bantahan. Nggak ada basa-basi, nggak ada pertanyaan tentang apa yang sedang Sakti lakukan.

"Ada apa, Pa? Kakek kenapa?" Sakti langsung panik.

"Kakekmu baik-baik saja. Ini tentang kamu. Dan... gadis panti asuhanmu itu. Cepat pulang, Sakti. Atau Papah yang akan menjemputmu ke sana."

Telepon itu langsung diputus.

Sakti berdiri tegak, wajahnya pucat. Skenario terburuk yang selama ini dia takuti, terjadi. Keluarga besarnya sudah tahu. Rahasia yang mereka jaga rapat-rapat, bocor.

"Sakti? Ada apa? Gadis panti asuhan? Siapa yang dimaksud Papamu?" tanya Anjani, matanya membesar ketakutan. Dia pasti mendengar sedikit percakapan itu.

Sakti memegang kedua tangan Anjani erat-erat. "Nggak apa-apa, sayang. Dengar aku. Ini akan berat. Mereka sudah tahu tentang kita. Tapi nggak ada yang perlu kamu takutkan. Aku akan hadapi mereka. Kamu tunggu di sini, ya. Janji sama aku, jangan keluar dari panti malam ini, apa pun yang terjadi."

Anjani hanya mengangguk, terlalu terkejut untuk bicara.

Perjalanan dari panti asuhan ke rumah keluarga Valentino terasa seperti perjalanan ke jurang. Lima belas menit yang dipenuhi adrenalin dan rencana di kepala Sakti.

Rumah besar itu, atau lebih tepatnya 'Istana Valentino', berdiri megah dengan gerbang besi tempa yang selalu tertutup. Saat Sakti masuk, lampu-lampu di ruang tamu utama menyala terang benderang. Terlalu terang.

Di sana, sudah menunggu Ayahnya, Hardian Valentino, duduk di kursi berlengan kulit dengan ekspresi datar yang mematikan. Di sampingnya, Mamanya, Ibu Diana, yang kelihatan sudah menangis, tisu basah ada di tangannya.

Suasana ruangan itu begitu hening, kecuali suara jam kuno yang berdetak pelan, kayak menghitung mundur waktu kehancuran.

Sakti melepas jaketnya, berusaha terlihat tenang. "Ada apa, Pa? Bisa dijelaskan kenapa kamu harus pakai cara begini?"

Ayahnya nggak menjawab. Dia cuma melempar selembar foto ke meja kopi di depan Sakti. Foto itu adalah foto candid Sakti dan Anjani yang diambil beberapa hari lalu, saat mereka makan di warung soto pinggir jalan-salah satu tempat kencan favorit mereka.

Foto itu bukan cuma menampilkan kedekatan fisik mereka, tapi yang lebih penting, kontras latar belakang mereka: Sakti dengan kemeja mahal yang dia gulung, Anjani dengan sweater rajutnya, dan di latar belakang, sebuah becak lewat. Itu adalah bukti nyata, visual, yang nggak bisa dibantah.

"Kamu pikir kamu sedang main film, Sakti?" Hardian akhirnya membuka suara, nadanya rendah, tapi setiap kata menusuk kayak belati es. "Menjalin hubungan serius, selama dua tahun, dengan... pengemis cinta dari panti asuhan? Di mana otakmu? Di mana harga diri keluarga ini?"

Sakti nggak bergeming. "Dia bukan pengemis cinta. Namanya Anjani. Dan dia perempuan paling baik yang pernah aku kenal."

"Baik? Kami tidak butuh yang baik! Kami butuh yang sepadan!" Ibu Diana, yang selama ini diam, akhirnya angkat bicara dengan suara bergetar. "Kami sudah menyiapkan segalanya untuk masa depanmu. Calon istrimu, Tifany, sudah siap menunggu. Keluarganya akan memperkuat jaringan bisnis kita di Eropa. Dan kamu? Kamu malah berkubang dengan lumpur di panti asuhan!"

"Mama, aku nggak cinta Tifany. Dan aku nggak akan pernah menjadikan pernikahan sebagai alat bisnis!" balas Sakti, mencoba mengendalikan nada suaranya.

"Cinta? Cinta itu omong kosong, Sakti! Yang ada di dunia kita adalah aliansi, kekuatan, dan warisan! Dan kamu, anak tunggal yang akan mewarisi semua ini, seenaknya merusak semuanya demi wanita yang bahkan nggak punya apa-apa selain... air mata drama," bentak Hardian, kini suaranya meninggi.

Hardian berdiri, berjalan mendekati Sakti, matanya menyala marah. "Aku nggak mau tahu bagaimana kamu mengenalnya. Aku nggak mau tahu apa yang sudah kamu janjikan padanya. Malam ini, aku mau kamu dengar baik-baik: Ini adalah ultimatum. Kamu putuskan dia. Sekarang. Telepon dia, katakan semua sudah berakhir. Atau..."

Sakti menahan napas. "Atau apa, Pa?"

"Atau aku pastikan, panti asuhan itu akan kehilangan semua donasi yang mereka terima. Semua. Dan akan aku buat dia dan semua temannya di sana, hidup menderita. Kamu pilih. Masa depanmu, atau panti asuhan itu."

Ancaman itu menghantam Sakti lebih keras daripada pukulan fisik. Ayahnya bukan main-main. Ayahnya punya kekuatan untuk menghancurkan hidup banyak orang hanya dengan satu panggilan telepon.

Sakti memejamkan mata sebentar, mencoba menelan kemarahannya yang memuncak. Dia sadar, kali ini dia nggak cuma berhadapan dengan egonya sendiri, tapi dengan nyawa dan tempat berlindung Anjani.

Dia menarik napas panjang. "Aku nggak akan putusin Anjani."

Hardian terdiam sesaat, seolah nggak percaya dengan apa yang dia dengar. "Apa kamu bilang?"

"Aku nggak akan putusin Anjani," ulang Sakti, kali ini lebih tenang, lebih tegas. "Kamu boleh ambil semua asetku, semua kartu kreditku, semua yang aku punya. Kamu boleh memecatku dari perusahaan. Tapi kamu nggak berhak mengancam panti asuhan itu."

"Jangan bodoh, Sakti! Kamu pikir kamu bisa hidup tanpa uangku? Tanpa nama belakang Valentino?" Hardian tertawa sinis, tawa yang nggak lucu sama sekali.

"Aku bisa. Dulu aku nggak punya apa-apa sebelum aku lahir. Aku bisa mulai lagi dari nol. Tapi aku nggak akan pernah membiarkan kamu menyentuh Anjani atau orang-orang di sana. Kalau kamu nekat mengusik mereka, aku akan pastikan semua rahasia bisnis gelapmu akan terbongkar ke publik, Pa. Aku tahu lebih banyak daripada yang kamu duga."

Hardian terpaku. Dia tahu Sakti adalah anak yang cerdas dan selama ini memang memegang banyak kunci penting di perusahaan. Ancaman Sakti bukan gertakan kosong.

Hardian mengepalkan tangan. "Baik. Kamu pilih perang, Sakti. Perang yang akan kamu sesali seumur hidup."

"Itu pilihanmu, Pa," balas Sakti, mengambil foto Anjani dari meja. Dia melipatnya rapi dan menyimpannya di saku kemejanya, dekat dengan jantungnya.

Sakti berbalik, meninggalkan ruang tamu. Ibu Diana hanya bisa menutup wajahnya, menangis histeris melihat anak tunggalnya memilih jalan yang paling sulit.

Sakti menyalakan mobilnya, meninggalkan 'istana' itu tanpa menoleh. Dia tahu, mulai detik ini, dia adalah orang asing di rumahnya sendiri. Statusnya sudah dicabut.

Dia mengemudi kembali ke panti asuhan. Janjinya pada Anjani tadi harus ditepati: dia harus meyakinkan Anjani, bahwa ini semua belum berakhir.

Saat Sakti tiba di panti, jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Lampu di jendela kamar Anjani sudah mati. Sakti mengirim pesan singkat: Aku di sini. Jangan tidur.

Tak lama kemudian, pintu belakang panti terbuka pelan. Anjani keluar, masih mengenakan jaket kulit Sakti, wajahnya sembab.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Anjani, langsung memeluk Sakti erat-erat. Pelukan yang penuh ketakutan.

"Aku baik. Kita baik-baik saja," bisik Sakti, mendekap Anjani. "Mereka sudah tahu. Papaku marah besar. Dia kasih aku ultimatum."

Anjani menarik diri sedikit, menatap mata Sakti dalam-dalam. "Dia minta kamu putusin aku, kan? Aku tahu. Sakti, aku nggak mau kamu menderita. Aku nggak mau kamu kehilangan semua yang kamu punya. Kalau memang... kalau memang ini jalannya..."

"Nggak," potong Sakti cepat. "Nggak akan ada kata 'putus'. Aku sudah putuskan. Aku pilih kamu. Aku bilang ke dia, dia boleh ambil semuanya, tapi aku nggak akan melepaskan kamu."

Anjani menggeleng, air matanya tumpah lagi. "Sakti, kenapa kamu bodoh? Kamu nggak ngerti risiko apa yang kamu ambil? Kamu bisa kehilangan segalanya! Panti ini... Papamu bisa benar-benar menghancurkan panti ini kalau kamu terus begini!"

"Panti ini aman, aku janji. Aku sudah buat 'jaring pengaman'. Aku bilang ke Papaku, kalau dia nekat mengusik panti, aku akan bocorkan rahasia bisnisnya. Dia nggak akan ambil risiko itu, Anjani." Sakti memaksakan senyum meyakinkan. "Dia bisa ambil uangku, tapi dia nggak bisa ambil hatiku. Dia nggak bisa ambil kamu."

Sakti memegang wajah Anjani, menyeka air matanya dengan ibu jari. "Kita akan hadapi ini, tapi kita hadapi sebagai suami istri."

"Suami istri?" Anjani bingung.

"Ya. Kita nggak bisa menunggu restu yang nggak akan pernah datang. Aku nggak mau sehari pun hidup dalam ketakutan Papaku akan memisahkan kita. Besok, kita harus lakukan apa yang kita bicarakan dulu. Kita akan nikah siri, secepatnya. Sebelum dia bisa bergerak lagi."

Anjani menatap mata Sakti, mencari keraguan, tapi nggak ada. Yang ada cuma tekad membara, dan cinta yang begitu tulus. Dia tahu, pernikahan itu akan jadi pengkhianatan besar bagi keluarga Sakti, sebuah tamparan keras di wajah Hardian Valentino. Tapi, itu juga satu-satunya cara untuk mengikat diri mereka secara sah di mata Tuhan.

"Tapi... dengan cara siri? Kamu yakin?" tanya Anjani lirih.

"Yakin. Seribu persen yakin," jawab Sakti, mencium kening Anjani lama. "Mulai sekarang, kita resmi jadi musuh keluarga Valentino. Dan kita akan berjuang bersama."

Malam itu, di bawah bayangan pohon mangga di halaman panti asuhan, janji suci yang belum terucap secara resmi, terpatri kuat. Mereka berdua tahu, mereka baru saja menyalakan api peperangan yang akan membakar habis segalanya.

Pagi menjelang. Sakti harus pergi untuk mengatur semuanya, mencari saksi, mencari penghulu. Dia nggak bisa kembali ke rumahnya. Dia hanya bisa kembali ke Anjani, sebagai suaminya.

Bab 2

Pagi itu, mentari Jakarta terasa menyengat, kontras banget sama hati Anjani yang masih dingin ketakutan. Setelah Sakti pergi subuh tadi, Anjani nggak bisa tidur. Dia cuma duduk di dipan kamarnya, memegang jaket kulit Sakti. Jaket ini sekarang jadi satu-satunya jembatan antara dunianya yang sederhana dan dunia Sakti yang penuh intrik.

Menikah siri. Kata-kata itu berputar terus di kepala Anjani. Itu adalah impian terliar, tapi cara mencapainya terasa salah. Sakti kehilangan rumahnya, ancamannya ke Papanya itu pasti bakal ada konsekuensinya. Anjani merasa egois. Dia merasa dirinya adalah penyebab kehancuran Sakti.

"Anjani! Udah bangun? Ada paket buat kamu!" Suara Mbak Rini, salah satu pengurus panti, mengagetkan Anjani.

Anjani cepat-cepat menyembunyikan jaket itu di bawah bantal dan membuka pintu. Di tangannya, Mbak Rini memegang sebuah kotak kardus kecil dan tas belanja kertas mewah.

"Dari siapa, Mbak? Aku nggak pesan apa-apa," tanya Anjani bingung.

"Ada kurir yang bilang ini dari Tuan Sakti. Buruan buka!" Mbak Rini nyengir.

Dengan tangan gemetar, Anjani membuka kotak itu. Di dalamnya ada gaun putih sederhana, anggun, tapi nggak berlebihan. Kainnya jatuh lembut, pas banget buat upacara kecil. Di tas belanja yang lain, ada sepatu flat cantik dan sebuah clutch kecil. Bersama semua itu, terselip selembar surat tulisan tangan Sakti:

Sayang, pakai ini hari ini. Aku sudah atur semuanya. Kamu cuma perlu hadir. Aku jemput jam 4 sore. Aku tahu kamu takut, tapi ini demi kita. Nggak ada kata mundur. Aku cinta kamu. Sampai jumpa.

Air mata Anjani menetes. Nggak peduli seberapa besar tekanan yang Sakti terima, dia masih sempat mikirin detail kecil ini. Gaun ini, bukan gaun pengantin mewah dari desainer mahal, tapi gaun ini terasa lebih bernilai karena dikirim dari hati Sakti yang sedang berjuang sendirian.

Siang itu, Anjani menghabiskan waktu dengan merenung, berdoa, dan bicara dengan beberapa anak panti yang dia asuh. Dia nggak menceritakan apa-apa, tapi sentuhan tangan anak-anak itu memberinya kekuatan. Mereka adalah alasan kenapa panti asuhan ini harus aman, dan kalau pernikahannya dengan Sakti adalah cara untuk memastikan perlindungan itu, dia akan melakukannya. Dia akan berdiri tegak di samping Sakti.

Sementara itu, di sebuah kafe tersembunyi jauh dari pusat kota, Sakti duduk tegang di hadapan sahabatnya, Rio. Rio adalah satu-satunya orang yang tahu seluruh cerita. Dia seorang pengacara muda, cerdas, dan yang paling penting, punya kesetiaan yang nggak bisa dibeli uang Hardian Valentino.

"Gila, Sakti. Kamu benar-benar nekat," ujar Rio sambil menyeruput kopinya. "Dalam 12 jam, kamu berhadapan dengan Ayahmu, diusir, dan sekarang kamu mau nikah siri? Aku salut sama nyali kamu."

Sakti nggak tertawa. "Nggak ada pilihan, Yo. Begitu aku keluar dari rumah itu, aku tahu Papaku akan bergerak. Kalau aku nggak ikat Anjani, dia akan cari cara buat memisahkan kami secara paksa. Bahkan mungkin buat Anjani terancam."

"Oke, aku ngerti. Makanya aku sudah siapin semuanya. Aku sudah kontak penghulu dan dua saksi yang benar-benar bisa dipercaya. Tempatnya di rumah Eyangku di Bogor. Kosong, terpencil, dan aman dari radar siapa pun."

"Aman dari radar Papaku?" tanya Sakti memastikan.

"Sangat aman. Hardian Valentino nggak akan pernah menyangka kamu kabur ke Bogor. Dia pasti mikir kamu sembunyi di Bali atau ke luar negeri." Rio menunjukkan dokumen singkat. "Ini perjanjian pranikah sederhana. Jaga-jaga kalau Hardian menyerang dari sisi hukum. Aku tekankan, kamu nggak punya aset, dan Anjani nggak menuntut aset apa pun. Jadi nggak ada yang bisa dia gugat."

Sakti tersenyum tipis. "Makasih, Yo. Kamu benar-benar malaikat pelindungku."

"Malaikat pelindung yang akan dimusuhi Hardian seumur hidup," canda Rio, tapi kemudian ekspresinya berubah serius. "Dengar, Sakti. Begitu kamu nikah siri, ini nggak bisa dibatalkan seenaknya. Kamu resmi jadi suami Anjani di mata agama. Kamu siap dengan semua tanggung jawab ini? Kamu udah kehilangan segalanya lho."

Sakti menatap keluar jendela. Hujan mulai turun rintik-rintik. "Aku memang kehilangan uang, rumah, dan status. Tapi aku nggak kehilangan diriku, Yo. Dan aku dapat Anjani. Itu lebih dari cukup."

"Kalau begitu, bagus. Sekarang, fokus. Jam 4 sore kita jemput Anjani, jam 6 upacara, jam 7 kamu bisa bulan madu sederhana di rumah Eyang. Aku akan jaga pintu gerbang di Jakarta. Aku cuma butuh satu hal, janji sama aku: begitu kakek kamu membaik, kamu harus cari cara untuk mengakui Anjani. Jangan biarin dia terus-terusan jadi istri yang tersembunyi."

"Aku janji, Rio."

Tepat pukul 4 sore, Sakti menjemput Anjani. Dia nggak datang dengan mobil sport mewahnya yang biasa, tapi dengan mobil Rio yang nggak mencolok. Sakti terlihat berbeda. Bajunya sederhana, tapi matanya memancarkan ketenangan.

Anjani sudah siap. Melihat Anjani dalam balutan gaun putih itu, semua keraguan Sakti hilang. Dia cantik, murni, dan benar-benar tak ternilai harganya.

"Hai, calon istriku," sapa Sakti lembut, meraih tangan Anjani.

"Hai, calon suamiku," balas Anjani, pipinya bersemu merah.

Mereka berdua naik ke mobil, dan Rio langsung mengemudi menuju Bogor. Perjalanan itu diisi dengan obrolan ringan, tapi di balik tawa kecil mereka, ada ketegangan yang menggantung. Mereka tahu, mereka sedang mempertaruhkan semua yang mereka punya.

Pukul enam kurang lima menit, mereka tiba di rumah Eyang Rio. Sebuah rumah kayu bergaya lama yang dikelilingi kebun rindang. Rumah itu terasa hangat dan jauh dari hiruk pikuk kota.

Di teras, penghulu dan dua saksi sudah menunggu. Semuanya berlangsung cepat, khidmat, dan penuh haru. Nggak ada kemewahan, nggak ada pesta besar, cuma janji suci yang disaksikan oleh Tuhan dan beberapa orang terpercaya.

Saat Sakti mengucapkan ijab kabul, suaranya mantap dan jelas. Anjani menangis, bukan karena sedih, tapi karena rasa syukur yang meluap-luap. Di tengah semua ancaman dan tekanan, dia kini resmi menjadi istri dari pria yang sangat dicintainya. Mereka sudah melalui garis api pertama.

Setelah upacara selesai, Anjani dan Sakti bertukar cincin sederhana yang dibeli Sakti di pinggir jalan. Cincin perak tanpa berlian, tapi bagi mereka, ini lebih berharga daripada cincin warisan keluarga Valentino.

"Selamat, Nyonya Sakti Valentino," bisik Sakti, mencium kening Anjani lama.

Anjani memeluknya erat-erat. "Terima kasih sudah memilih aku, Sakti."

Mereka berdua duduk di kursi rotan di teras, menikmati sisa cahaya senja yang merayap turun. Rio dan para saksi sudah pamit, meninggalkan mereka berdua untuk menikmati momen pertama sebagai suami istri.

Sakti merasa lega. Beban seberat gunung di pundaknya seolah terangkat. Mereka berhasil. Mereka menang. Setidaknya, untuk malam ini.

Tiba-tiba, ponsel Sakti yang diletakkan di meja bergetar hebat. Nomor yang sama seperti semalam: Ayahnya.

Sakti menghela napas. "Pasti dia mau marah lagi. Aku abaikan saja."

"Angkat, Sakti. Siapa tahu penting. Jangan biarkan dia berpikir dia menang dengan mengabaikanmu," desak Anjani.

Sakti mengangguk, mengambil ponselnya dengan enggan. "Ya, Pa?"

Nggak ada amarah di seberang sana. Yang ada cuma suara yang tercekat, nyaris menangis-suara yang nggak pernah Sakti dengar dari Ayahnya seumur hidupnya.

"Sakti! Kakek... Kakek kolaps lagi! Lebih parah dari kemarin. Dia di ICU sekarang! Datang ke Rumah Sakit Medika Sentosa!"

Jantung Sakti langsung berdebar kencang. Dia melompat berdiri, wajahnya tegang. "Kenapa bisa? Bukannya dia stabil?"

"Jantungnya melemah drastis! Dokter bilang dia cuma punya waktu kurang dari 24 jam kalau nggak ada transplantasi segera. Sakti! Kakek..." Suara Hardian putus-putus.

"Aku ke sana sekarang!" Sakti memutus panggilan, langsung meraih kunci mobil.

"Ada apa? Kenapa Kakek?" tanya Anjani, ikut berdiri, matanya penuh kekhawatiran.

"Kakek kolaps. Aku harus pergi, Anjani. Aku minta maaf. Ini... ini nggak bisa ditunda. Tolong, kamu aman di sini. Aku akan segera kembali."

Sakti baru mau berlari ke mobil saat ponselnya bergetar lagi. Kali ini, pesan teks dari Ayahnya:

Jangan bodoh. Aku tahu kamu nikah siri. Urusan itu belakangan. Kakekmu butuh donor jantung. Tiba-tiba ada donor. Tapi ada syarat. Datang ke rumah sakit sekarang! Nyawa Kakekmu di tanganmu!

Sakti membeku di tempatnya. Donor tiba-tiba? Syarat? Ayahnya pasti tahu tentang pernikahannya, tapi kenapa dia nggak marah? Kenapa dia malah fokus ke kakek?

Sakti mengemudi secepat kilat. Dia meninggalkan Anjani sendirian, di malam pertama mereka sebagai suami istri, dengan sebuah janji yang baru saja terukir dan sebuah ancaman baru yang bahkan lebih mengerikan.

Rumah Sakit Medika Sentosa, lantai VIP. Hardian dan Ibu Diana duduk di kursi tunggu, wajah mereka tampak kacau dan rapuh. Untuk pertama kalinya, Sakti melihat Papanya nggak seperti CEO perusahaan besar, tapi cuma seorang anak yang takut kehilangan ayahnya.

"Pa! Bagaimana Kakek?" tanya Sakti, napasnya tersengal.

"Dokter sedang berusaha menstabilkannya. Tapi dia harus segera dioperasi, Sakti. Jantungnya nggak kuat lagi." Hardian menarik Sakti ke samping, suaranya pelan dan mendesak.

"Apa maksud pesan itu, Pa? Donor apa? Syarat apa?"

Wajah Hardian mengeras, kembali pada wujud aslinya yang keras. "Kamu tahu Tuan Wijaya? Sahabat Kakekmu yang dulu partner bisnis kita?"

Sakti mengangguk. "Tahu. Beliau baru meninggal, kan?"

"Tuan Wijaya sudah mendaftarkan diri sebagai pendonor organ sejak lama. Ternyata, jantung beliau cocok. Tapi sebelum meninggal, beliau buat surat wasiat dengan syarat yang nggak masuk akal." Hardian menatap Sakti tajam. "Transplantasi ini cuma bisa dilakukan kalau kamu menikahi cucunya, Sakti. Gadis yang bernama Mala."

Dunia Sakti langsung berhenti berputar. Mala. Gadis yang dia kenal sejak kecil, yang sering bermain dengannya di rumah Kakeknya. Gadis yang selalu dia anggap seperti adiknya sendiri. Sekarang dia harus menikahi Mala?

"Apa-apaan ini, Pa?! Ini gila! Kenapa harus aku?" Sakti nggak percaya dengan apa yang dia dengar.

"Karena itu wasiatnya! Tuan Wijaya tahu kamu cucu kesayangan Kakekmu. Dia bilang, dia ingin memastikan cucunya punya masa depan yang aman dengan keluarga Valentino. Dia nggak percaya uang, dia percaya ikatan keluarga!" Hardian mencengkeram bahu Sakti. "Ini bukan lagi soal bisnis, Sakti. Ini tentang nyawa Kakekmu! Jantung itu ada di sini, siap digunakan! Tapi kalau kamu bilang nggak, kita kehilangan kesempatan ini. Kakekmu akan meninggal besok!"

Sakti merasa mual. Baru beberapa jam lalu dia menikahi Anjani, berjanji untuk menjadikannya satu-satunya. Sekarang, Ayahnya memaksanya melanggar janji itu demi nyawa Kakek.

"Aku nggak bisa, Pa! Aku nggak bisa menikahi Mala! Aku sudah menikah!" desis Sakti.

"Aku tahu kamu nikah siri dengan gadis panti asuhanmu itu!" Hardian berbisik, matanya menajam, penuh ancaman. "Aku tahu kamu pikir kamu menang. Tapi kamu salah. Aku nggak membatalkan donasi panti asuhan itu, bukan karena ancamanmu soal rahasia bisnis. Aku nggak mau tanganmu kosong saat menghadapi situasi ini, Sakti. Kamu harus punya sesuatu yang bisa aku rebut darimu."

Hardian mendekatkan wajahnya ke telinga Sakti. "Kalau kamu menolak menikahi Mala, besok pagi Kakekmu meninggal. Dan setelah itu, aku akan pastikan gadis panti asuhanmu itu, si Anjani, akan hilang dari muka bumi ini. Aku akan buat dia seolah nggak pernah ada. Kamu pilih, Sakti. Nyawa Kakekmu, atau keselamatan istrimu. Kamu harus jadi suami Mala, atau kamu akan jadi duda yang nggak punya Kakek."

Ancaman itu adalah pukulan telak. Sakti nggak cuma harus memilih antara Kakek dan Anjani. Dia harus memilih antara nyawa Kakeknya dan keselamatan Anjani. Hardian nggak main-main. Dia akan menggunakan segala cara.

Sakti memejamkan mata, membiarkan sakit itu menyebar di dadanya. Dia baru saja bersumpah setia. Kini, sumpah itu harus dikhianati dalam hitungan jam.

"Baik, Pa," kata Sakti, suaranya hampa. "Aku akan menikahi Mala. Tapi ingat, ini bukan pernikahan. Ini adalah perjanjian darah demi Kakek. Dan kamu janji, Anjani akan aman."

Hardian tersenyum dingin. "Dia akan aman, selama kamu menjalankan peranmu dengan baik, Sakti. Sekarang, ayo kita temui Mala dan keluarganya. Malam ini juga kita harus sepakati tanggal pernikahan. Besok, Kakekmu harus dioperasi."

Sakti mengikuti langkah ayahnya, berjalan menuju ruang tunggu lain. Gaun putih Anjani, janji suci yang baru terucap, dan ciuman di bawah senja, semuanya terasa seperti mimpi yang baru saja dia hancurkan sendiri. Malam pertama pernikahannya, dia memilih istri kedua, demi nyawa dan keselamatan.

Bab 3

Langkah Sakti terasa berat, kayak menapaki dasar lautan. Koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik itu seolah jadi panggung sandiwara paling menyedihkan. Baru beberapa jam lalu dia resmi jadi suami Anjani, sekarang dia dipaksa untuk 'melamar' perempuan lain, demi nyawa dan keselamatan.

Ayahnya, Hardian, berjalan mendahului dengan langkah penuh kemenangan yang tersembunyi di balik kekhawatiran palsu. Hardian tahu, dia sudah menang. Dia berhasil menemukan titik lemah Sakti: Kakek dan Anjani.

Mereka tiba di ruang tunggu VIP lain. Di sana sudah duduk dua orang: paman Mala, Tuan Dharma, dan Mala sendiri. Mala. Gadis yang selalu Sakti anggap adiknya. Mala terlihat rapuh dalam balutan gaun hitam sederhana, matanya sembab karena baru kehilangan kakeknya, Tuan Wijaya.

Melihat Sakti, Mala langsung berdiri. Senyum tipis yang dipaksakan terukir di wajahnya. "Sakti? Aku nggak nyangka kamu datang."

Sakti membalas senyum itu, senyum palsu yang terasa kayak mengiris bibirnya sendiri. Dia menyalami Tuan Dharma, yang terlihat letih dan penuh kesedihan.

"Tuan Dharma, saya ikut berduka atas kepergian Tuan Wijaya," ujar Sakti, nadanya tulus.

"Terima kasih, Sakti. Kami sangat menghargai kehadiranmu. Terutama dalam situasi Kakekmu sekarang ini," balas Tuan Dharma, suaranya pelan.

Hardian langsung mengambil alih kendali, duduk di sofa terdekat seolah dia adalah hakim agung. "Baik, karena waktu kita sangat sempit, kita langsung saja ke intinya. Tuan Wijaya adalah sahabat lama Ayah saya. Wasiatnya harus kita hormati. Kita di sini bukan untuk merundingkan bisnis, tapi merundingkan nyawa. Nyawa Kakek saya, dan harga diri keluarga Anda, Tuan Dharma."

Hardian menoleh ke Sakti. "Sakti, jelaskan rencanamu pada mereka. Kamu harus meyakinkan Tuan Dharma bahwa kamu serius menjalankan wasiat Tuan Wijaya."

Sakti menelan ludah. Ini adalah bagian yang paling sulit. Dia harus berakting, meyakinkan orang-orang yang dia hormati bahwa dia mencintai Mala, padahal hatinya remuk redam memikirkan Anjani yang ditinggal sendirian di Bogor.

"Mala... Tuan Dharma," Sakti mulai bicara, berusaha menahan getaran di suaranya. "Aku nggak bisa bohong, situasi ini sangat mendadak. Tapi aku kenal Mala sejak lama. Kami tumbuh bersama. Kakekku... dia sudah seperti segalanya bagiku. Kalau memang ini satu-satunya syarat agar Kakekku bisa selamat, aku akan melakukannya. Aku akan menikahi Mala."

Mala menatap Sakti, matanya penuh tanda tanya. Dia tahu betul Sakti nggak pernah menunjukkan ketertarikan romantis padanya. Mereka benar-benar murni seperti kakak dan adik.

"Sakti, aku... aku kaget. Kita, kan, sudah kayak keluarga. Apa... apa kamu yakin?" tanya Mala, suaranya ragu.

Sakti memaksakan senyum yang lebih lebar. "Aku yakin, Mala. Aku ingin Kakekku hidup. Dan aku juga ingin melihat kamu bahagia. Mungkin ini cara Tuhan menyatukan kami setelah semua yang terjadi." Astaga, aku terdengar kayak aktor murahan, batin Sakti benci pada dirinya sendiri.

Tuan Dharma terlihat lega, tapi juga sedikit curiga. Dia melirik Hardian, lalu kembali ke Sakti. "Baik, Sakti. Kami menghargai pengakuanmu. Kami tahu kamu berasal dari lingkungan yang berbeda. Tapi Mala adalah harta terakhir yang ditinggalkan Wijaya. Kami mau pernikahan ini dilakukan secara resmi dan terbuka. Tidak ada yang ditutup-tutupi."

"Tentu saja!" seru Hardian cepat. "Kami sudah menyiapkan segalanya. Pernikahan akan dilangsungkan besok lusa. Cepat, tapi megah. Kami akan menggunakan Balai Agung. Sakti akan mengurus semua dokumen. Setelah itu, Kakek bisa dioperasi."

Sakti memotong. "Tunggu, Pa. Besok lusa? Itu terlalu cepat."

"Nggak ada kata terlalu cepat, Sakti! Kakekmu nggak punya waktu!" desis Hardian, matanya memperingatkan Sakti untuk nggak membantah.

Sakti tahu dia harus mundur dari perdebatan waktu. Tapi ada satu hal yang nggak bisa dia kompromikan. Dia menatap Mala lurus-lurus.

"Mala, Tuan Dharma. Ada satu hal yang harus aku jelaskan, ini tentang perjanjian kita," kata Sakti, mencoba mencari kata yang tepat. Dia nggak bisa melibatkan Mala dalam kebohongan.

"Perjanjian apa, Nak?" tanya Tuan Dharma.

Sakti menarik napas. "Pernikahan ini... aku ingin menjamin bahwa Mala akan mendapatkan perlindungan dan keamanan penuh dari keluarga Valentino. Aku akan menjaganya, menghormatinya. Tapi aku juga harus jujur. Aku minta maaf, Mala. Aku nggak bisa menjanjikan hati aku seutuhnya. Paling nggak, nggak untuk saat ini."

Mala terkejut. Tuan Dharma mendengus nggak senang, sementara Hardian langsung menyela.

"Sakti! Jangan bicara omong kosong! Tentu saja kalian akan saling mencintai setelah menikah!" Hardian mencoba menutupi kejujuran Sakti.

"Nggak, Pa. Biarkan aku bicara," potong Sakti tegas. Dia menatap Mala lagi. "Mala, aku butuh kamu untuk peran ini. Setelah Kakekku pulih, kalau kamu mau, kita bisa menyelesaikan ini secara baik-baik, dengan perceraian. Tapi selama kita menikah, aku akan memberimu semua yang kamu butuhkan, kecuali... ya, kamu tahu. Kehidupan pernikahan yang normal. Aku harap kamu mengerti."

Mala, yang tadinya menunduk, mengangkat wajahnya. Di matanya nggak ada marah, cuma kesedihan yang mendalam. Dia mengangguk perlahan. "Aku mengerti, Sakti. Aku tahu kamu cuma ingin Kakekmu selamat. Aku akan menikahimu. Aku... aku hanya ingin Kakekku (Tuan Wijaya) tenang, dan kamu nggak perlu khawatir. Aku akan jalankan peran ini. Tapi sebagai imbalannya, aku mau kamu janji, kamu akan selalu terbuka tentang apa pun yang kamu rasakan, Sakti. Jangan pernah bohong padaku."

Sakti merasa tertampar oleh kemurahan hati Mala. Dia baru saja berbohong tentang perasaannya, tapi Mala memintanya untuk jujur. "Aku janji, Mala. Aku akan berusaha jujur sebisaku."

Tuan Dharma, walau nggak sepenuhnya puas, akhirnya mengangguk. "Baik. Kalau Mala sudah setuju, kami setuju. Besok lusa, di Balai Agung. Tapi ingat, Valentino. Kalian nggak bisa main-main dengan pernikahan ini."

Hardian tersenyum lebar. "Sempurna. Aku akan urus surat-suratnya. Sakti, kamu temui Kakek sebentar. Setelah itu, kamu pulang, dan jangan sampai aku lihat kamu berkeliaran di dekat panti asuhan itu lagi. Paham?"

Sakti nggak menjawab, dia cuma mengangguk kaku.

Sakti masuk ke ruang ICU. Kakeknya terbaring lemah, penuh selang dan kabel. Melihat Kakeknya dalam kondisi itu, semua rasa benci pada Ayahnya, semua rasa bersalah pada Anjani, seolah teredam oleh rasa takut kehilangan.

Sakti meraih tangan Kakeknya yang dingin. "Kakek, ini Sakti. Aku janji, Kakek akan baik-baik saja. Aku akan lakukan apa pun. Besok lusa, jantung baru Kakek akan ada di sini. Aku sudah urus semuanya, Kek. Kakek harus kuat, ya. Aku cinta Kakek."

Dia mencium tangan Kakeknya, air matanya menetes. Ini adalah pengorbanan terbesarnya. Dia baru saja menjual kebahagiaannya sendiri demi menyelamatkan orang yang dia cintai.

Setelah menemui Kakeknya, Sakti meninggalkan rumah sakit. Hardian sudah menyiapkan sebuah flat kecil di pusat kota untuk Sakti tinggali sampai pernikahan dengan Mala. Semacam pembuangan yang nyaman.

Sakti mengemudi menuju flat itu, tapi mobilnya secara refleks berbelok ke arah Bogor. Dia nggak tahan. Dia harus melihat Anjani. Dia harus minta maaf, meskipun dia nggak bisa menjelaskan apa-apa.

Sakti tiba di rumah Eyang Rio pukul 10 malam. Lampu di teras masih menyala. Anjani, yang ternyata nggak tidur, langsung berlari ke arahnya begitu melihat mobil Sakti.

"Sakti! Kenapa baru datang? Aku khawatir banget! Bagaimana Kakekmu?" Anjani langsung memeluk Sakti, erat, penuh lega.

Sakti membalas pelukannya, tapi pelukan itu terasa seperti siksaan. Baru beberapa jam lalu dia memeluk gadis ini sebagai istri, sekarang dia datang sebagai calon suami orang lain.

"Kakek... Kakek stabil. Dia akan dioperasi besok lusa," jawab Sakti, berusaha menjaga suaranya agar nggak bergetar.

"Syukurlah! Aku terus berdoa buat Kakekmu. Jadi, syukurlah operasinya bisa berjalan," kata Anjani, matanya bersinar.

"Anjani, aku... aku harus jujur sama kamu soal satu hal," ujar Sakti, menjauhkan Anjani sedikit agar bisa menatap matanya.

Anjani mengerutkan kening. "Jujur apa, Sakti?"

Ini dia. Momen yang paling dia takuti. Dia harus membuat Anjani menjauh, tapi dia nggak boleh menyebut nama Mala atau pernikahan kedua. Dia harus melindungi Anjani.

"Anjani, tentang operasi Kakek. Papaku... Papaku menggunakan momen ini untuk menyerangku. Dia tahu kita nikah siri. Dia tahu dia nggak bisa membatalkan itu. Tapi dia punya satu kartu truf lagi." Sakti menatap Anjani dengan tatapan penuh keputusasaan. "Dia bilang, dia akan mencelakai kamu. Dia nggak akan membatalkan donasi panti, tapi dia akan menggunakan kekuatannya untuk membuat hidup kamu... nggak nyaman. Ancaman yang jauh lebih pribadi."

Anjani pucat. "Mencelakai aku? Kenapa dia begitu jahat?"

"Dia tahu kamu adalah kelemahanku. Dan dia membuat kesepakatan denganku. Aku harus menjauh dari kamu, menunjukkan bahwa aku sudah 'menyerah' pada tuntutan keluarga, dan berjanji akan menjalani hidup yang dia mau." Sakti berbohong, memutarbalikkan fakta. Dia membuang bagian Mala dan wasiat, dan menggantinya dengan kebohongan yang lebih aman.

"Menjalani hidup yang dia mau? Maksudnya... menikahi Tifany?" tanya Anjani, suaranya tercekat.

Sakti menggeleng cepat. "Nggak, aku nggak akan menikahi Tifany. Aku nggak pernah setuju dengan itu. Tapi aku harus... aku harus pindah. Aku harus putus komunikasi dengan kamu secara total untuk sementara waktu. Paling nggak, sampai Kakek pulih dan aku bisa mendapatkan pijakan sendiri untuk melawannya."

Anjani menggelengkan kepalanya, air mata mulai mengalir. "Nggak... nggak mungkin, Sakti. Baru beberapa jam lalu kita menikah! Kamu bilang kita akan hadapi bersama!"

"Kita hadapi ini dengan cara ini! Ini adalah taktikku! Kalau Papaku melihat kita berjuang bersama, dia akan semakin keras menyerang! Kalau dia melihat aku 'menyerah', kalau dia melihat aku 'sendirian', dia akan mengendurkan pengawasan. Itu adalah satu-satunya cara untuk menjamin keselamatan kamu, Anjani. Aku nggak peduli kehilangan uang, tapi aku nggak akan membiarkan dia menyentuh sehelai rambut pun di kepala kamu."

Sakti meraih tangan Anjani, meletakkan cincin perak mereka di telapak tangannya. "Simpan ini. Jangan pakai. Jangan kontak aku. Kalau kamu dengar rumor apa pun tentang aku, anggap itu kebohongan yang sengaja dibuat Papaku untuk menekan aku."

Anjani terisak, memeluk Sakti seerat mungkin, seolah itu adalah pelukan terakhir mereka. Dia nggak tahu, di balik pelukan itu, Sakti sudah menancapkan pisau pengkhianatan di punggung mereka berdua.

"Berapa lama, Sakti? Sampai kapan aku harus pura-pura kamu nggak ada?" bisik Anjani di bahu Sakti.

Sakti memejamkan mata. Dia nggak bisa bilang 'sehari' atau 'seminggu'. Karena pernikahan dengan Mala akan berlangsung besok lusa.

"Sampai Kakekku pulih total. Mungkin sebulan. Mungkin dua bulan. Begitu aku bebas dari ancaman Papa, aku akan datang menjemput kamu. Kita akan kabur ke tempat yang nggak akan pernah bisa dia temukan," janji Sakti, janji palsu yang dia ucapkan demi keselamatan Anjani.

Anjani akhirnya melepaskan pelukan itu, air matanya membanjiri pipi. "Aku percaya sama kamu, Sakti. Tapi kalau kamu sampai... kalau kamu sampai benar-benar menikahi perempuan lain, aku nggak akan pernah memaafkan kamu."

Sakti nggak sanggup menatap mata Anjani. Dia cuma bisa mencium keningnya, lama, penuh penyesalan. Dia tahu dia sudah menjadi pengkhianat, tapi dia harus meyakinkan Anjani bahwa ini demi kebaikan mereka.

"Jaga diri, Anjani. Aku cinta kamu. Sampai bertemu lagi."

Sakti berbalik, berlari ke mobil, nggak berani menoleh lagi. Dia nggak bisa membiarkan Anjani melihat betapa hancurnya dia. Dia meninggalkan Anjani sendirian, menangis, dengan janji kosong dan sebuah cincin perak di genggamannya.

Saat mobil Sakti menjauh, Anjani berdiri di sana, di bawah rembulan, hati terbelah. Dia percaya pada Sakti, tapi dia nggak bisa menghilangkan firasat buruk yang menggerogoti. Firasat bahwa pengorbanan kali ini jauh lebih besar dan lebih menyakitkan daripada yang Sakti jelaskan.

Sementara itu, Sakti mengemudi kembali ke flat barunya, memukul setir berulang kali. Dia membenci Hardian. Tapi yang paling dia benci adalah dirinya sendiri, yang sudah menjadi pengecut dan pembohong. Besok lusa, dia akan menjadi suami dari dua wanita. Satu di mata Tuhan, satu di mata dunia. Dan dia tahu, badai yang sesungguhnya belum dimulai. Malam itu, Sakti tidur dengan rasa bersalah yang menusuk, seorang suami yang baru menikah tapi sudah mengkhianati janji sucinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED