“Abang bilang apa?” tanya Sasa lagi.
“Pacar Papah.”
“Pacar Papah? Papah punya pacar? Sejak kapan?” Sasa terkejut dengan jawaban yang diberikan Nino.
“Ehmm, Papah belum pernah cerita sama kamu ya?”
“Belum. Abang sudah kenal? Sudah pernah ketemu?”
“Ketemu langsung sih belum, tapi Papah sudah cerita sama aku,” jawab Nino berhati-hati, dia takut Sasa syok mendapati fakta mengenai orangtua mereka.
“Sejak kapan mereka pacaran Bang?”
“Sekitar 4 bulan gitu deh…”
“Jadi Papah sudah berpaling dari Mamah ya?”
“Ya mungkin, bisa jadi Sa.”
“Pacarnya Papah janda atau gadis Bang?”
“Janda.”
“Sudah punya anak?”
“Sudah, seumuran sama kamu kayaknya. Anaknya cowok.”
“Ehmm, dia janda ditinggal mati atau cerai pisah Bang?”
“Dari cerita Papah sih, cerai pisah gitu. Suaminya yang gugat cerai dulu.”
“Iiihhh, Papah kok bisa sih cari pengganti Mamah dengan yang seperti itu? Gak sebanding banget sih,” gerutu Sasa.
Sesaat mereka diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sasa menusuk-nusuk makanan yang ada di depannya dengan garpu.
“Sasa gak setuju Papah sama janda itu Bang.” Tiba-tiba Sasa bicara.
“Memangnya kenapa Sa?”
“Pernikahannya yang pertama saja gagal, itu artinya dia bermasalah kan?”
“Ya belum tentu Sa, bisa jadi suaminya yang jahat.”
“Enggak mungkinlah, yang gugat cerai kan suaminya. Berarti yang bermasalah dia dong. Terus dia sudah punya anak, anaknya sudah besar, kalau dia baik harusnya dia bisa menahan egonya. Mempertahankan pernikahan demi anaknya. Iya kan?”
“Sa, itu sudah di luar dari pemikiranmu. Kamu terlalu jauh berpikirnya. Belum tentu juga Papah sama Tante Eva menikah, iya kan?”
“Gak tahu ah, intinya Sasa gak setuju. Titik,” jawab Sasa dengan suara bergetar.
Manik mata Sasa mulai berkaca-kaca, Nino sadar kalau perasaan adiknya sedang tidak baik. Nino duduk di sebelah Sasa, mengusap kepalanya.
“Sudah Sa, jangan terlalu dipikirkan.”
“Sasa gak mau Papah menikah lagi Bang. Sasa gak mau posisi Mamah digantikan siapapun.”
“Iya Abang paham, tapi kamu jangan berpikir berlebihan begini dong. Dengar ya Sa, pertama kamu gak boleh benci sama Papah karena masalah ini. Kedua, Papah sama Tante Eva itu barhubungan baru 4 bulan, dan belum ada rencana untuk menikah. Yang ketiga, kamu gak boleh menilai Tante Eva sebelum kamu mengenalnya lebih dalam. Kalau sudah waktunya, Papah pasti kenalkan kita dengan Tante Eva. Kalau kamu gak suka, kamu bilang sama Papah alasannya.”
“Apapun alasannya Sasa tetap gak setuju.”
“Setuju ataupun tidak setuju itu hak kamu, tapi baiknnya itu kita bicarakan nanti.”
“Terus Abang setuju kalau Papah menikah lagi?”
“Aku belum berpikir kalau Papah akan segera menikah, tapi yang pasti Papah pasti sudah tahu apa yang terbaik untuk kita semua.”
Sasa diam, dia masih bergumul degan kabar buruk yang baru dia terima. Menurut Sasa, mendapat Mamah baru bukan hal yang baik untuk dirinya, karena sosok Mamah di hatinya hanya ada satu, yaitu Mamah kandungnya. Tidak ada yang bisa menggantikan, kalaupun sekarang ada orang yang sedang mendekati Papahnya, Sasa yakin pasti itu karena materi.
“Sudah Sa, lanjut makan lagi…”
“Sudah kenyang Bang,” jawab Sasa pelan.
“Kenyang dari mana? Baru juga beberapa suap kamu makan. Lagian makanan yang kamu pesan banyak banget ini.”
“Buat Abang saja.”
“Loh, yang pesan kan kamu…”
“Sudah ah Bang, pulang saja yuk.”
“Terus semua makanan ini gimana?”
“Gak tahu.”
Sasa berdiri dan ke luar. Wajahnya terlihat sangat kesal.
“Sa… Sasa… tunggu dong. Tunggu aku suruh bungkusin dulu semua ini.”
Sasa tidak menggubris dia tetap berjalan ke luar.
Selama perjalanan mereka tidak bicara, terlebih Sasa. Wajahnya murung, setiap ditanya dia hanya menjawab dengan anggukan ataupun gelengan. Sampai di rumah, Sasa langsung masuk kamar. Dia ingin menenangkan dirinya sendiri, walaupun tetap saja dia tidak bisa tenang. Dia sudah mencoba segala cara, tapi tetap saja pikirannya fokus pada pacar baru Papahnya. Sampai sore, Sasa tidak ke luar kamar.
“Sa…” Nino mengetuk pintu kamar Sasa.
“Ya Bang,” sahut Sasa dari dalam kamar.
“Kenapa di kamar terus? Ke luar sini…”
“Pusing Bang, mau istirahat.”
“Sa, kalau ada yang mengganjal di hati kamu cerita sini. Jangan mengurung diri gitu.”
“Enggak Bang, Sasa hanya pusing saja. Mau istirahat.”
“Kamu gak mau aku anggap anak kecil kan Sa? Kalau kamu seperti ini, kamu sama saja bilang kalau kamu itu anak kecil,” tegas Nino dari balik pintu kamar Sasa.
Sasa tidak menyahut lagi, dia beranjak dari tempat tidurnya. Membuka pintu dan memaksa memasang senyum di wajahnya.
“Gak usah sok imut, jelek!”
“Apa sih Bang, jahat banget.”
“Sudah, sini duduk…” Nino menarik tangan Sasa duduk di sofa.
“Kamu masih pikirkan masalah tadi kan?” tanya Nino.
Sasa mengangguk.
“Sa kamu gak boleh egois. Papah itu berhak bahagia. Kamu gak lihat gimana Papah bisa bangkit setelah terpuruk ditinggal Mamah. Benar-benar gak mudah buat Papah loh, jadi kamu harus bisa lihat dari sisi lain Sa. Papah itu butuh pendamping.”
“Kan masih ada kita Bang…”
“Memangnya kita sampai kapan tinggal bareng sama Papah? Mungkin 2 atau 3 tahun lagi aku akan menikah dan tinggal bersama keluargaku, kamu sebentar lagi kuliah, kerja dan menikah ikut suami. Papah sama siapa? Kamu tega Papah sendiri?”
“Kan bisa ikut Abang atau aku.”
“Kalau sudah berumahtangga gak segampang itu Markonah. Banyak yang harus dipertimbangkan kalau ajak orang tua tinggal satu atap. Kalau pasangan setuju, gak masalah. Tapi kalau gak setuju, itu yang jadi masalah. Lagian kamu seperti gak kenal sama Papah, gak akan mau repotin orang lain.”
“Tapi kenapa harus sama janda itu sih?”
“Memangnya salahnya janda apa Sa? Seandainya Tante Eva itu masih gadis, pasti kamu bilang mana ada gadis yang mau sama duda tua anak dua. Iya kan?”
Sasa diam, dia tidak memungkiri apa yang dikatakan Nino. Sasa hanya bisa memainkan jari-jarinya. Dia mulai paham dengan keadaaan.
“Sa, kamu jangan bahas masalah ini dengan Papah dulu. Takutnya kamu nanti bicara gak terkontrol, Papah jadi merasa bersalah lagi. Papah juga mungkin belum siap cerita sama kamu, makanya kamu gak tahu masalah ini.”
“Iya Bang,” jawab Sasa lirih.
“Ya sudah, jangan cemberut lagi.”
Sasa hanya melirik Nino, kemudian beranjak meninggalkan Nino. Belum sampai Sasa ke kamarnya, dia berbalik lagi.
“Bang…”
“Apa lagi?” sahut Nino sambil memainkan gawainya.
“Ehmmm, makanan yang dari resto tadi jadi dibawa pulang?” tanya Sasa malu-malu.
Nino mendelik dan tersenyum jahil.
“Sudah kukasih orang.”
“Iihhh kok gitu sih Bang, kan aku baru makan sedikit.”
“Salah siapa tadi gak makan. Aku pikir kamu gak mau lagi.”
“Abang ih… Sasa lapar…”
“Makanya jangan pakai acara ngambek. Tuh ambil di dapur, tadi sudah dititipin sama Mbak Lastri,” ujar Nino.
Sasa terseyum dan segera pergi ke dapur. Sisi diri Sasa yang masih kekanak-kanakan membuat Nino memperlakukanya seperti anak kecil, walaupun Sasa selalu marah kalau diperlakukan seperti anak kecil.
Pagi ini Sasha bangun lebih awal, dia ke luar kamar Papahnya sudah ada di meja makan siap untuk sarapan. Sebenarnya Sasa igin sekali menanyakan masalah pacar baru Papahnya, tapi dia menahan diri. Mengikuti saran Nino, menunggu sampai Papahnya yang duluan cerita.
“Pagi Sasa…” sapa Bimo, Papah Sasa.
“Pagi Pah…”
“Sini sarapan sama Papah, kangen Papah direcokin sama kamu kalau sedang sarapan bersama,”ujar Bimo sembari tersenyum.
Sasa ikut tersenyum. Sasa duduk di samping Bimo yang menghadap ke ruang tengah. Di ruang tengah sudah ada Nino yang sedang sibuk di depan laptopnya.
“Tumben Bang sudah bangun jam segini?” tanya Sasa.
“Iya, aku ada meeting pagi ini,” jawab Nino tanpa menoleh.
“Widihhh, sudah seperti orang penting saja sibuk pagi-pagi,” sambung Sasa.
Nino tidak menjawab, dia masih terus sibuk di depan laptopnya.
“Bang, aku berangkat sekolah sama Abang ya…”
“Enggak ah, aku mau cepat,” sahut Nino.
“Kan mau ke distro Abang juga lewati sekolah aku. Ya sekalian saja kenapa sih?”
“Aku mau cepat Sa, aku harus sudah sampai di distro 20 menit lagi.”
“Bohong banget, Abang juga belum sarapan kan?”
“Sudah.”
“Serius? Cepat amat? Ya sudah, tungguin aku sarapan ya…”
“Enggak ah, tunggu kamu makan setahun.”
“Papah… Bang Nino gak mau antar aku…” Sasa mengadu pada Bimo.
“Ya gimana Sa, Nino kan mau cepat Nak. Kamu naik taksi online saja.”
“Aaah… Sasa kan mau bareng Bang Nino.”
“Gak usah sok manja deh Sa…” sahut Nino.
“Sudah…sudah… kalau kamu mau berangkat sama Nino, kamu sarapannya di sekolah saja. jadi Nino gak kelamaan tunggu kamu Sa,” ujar Bimo.
“Ehmmm, ya sudah deh. Mbak Lastri… tolong buatin bekal aku ya,” perintah Sasa pada asisten rumah tangganya.
Sasa bergegas ke kamarnya, merapikan rambut dan mengambil tas. Sasa ke luar kamar, Nino sudah siap berangkat. Sepanjang perjalanan, Nino tidak henti-hentinya menggerutu pada Sasa.
“Awas saja kalau aku sampai telat sampai di distro ya,” gerutu Nino.
“Loh, kok salahin Sasa sih? Kan mau ke distro Abang harus lewatin sekolah aku juga kan?”
“Tadinya aku mau ambil jalur barat,” jawab Nino ketus.
“Ya salah sendiri, kenapa tadi gak bilang mau ambil jalur Barat.”
“Kamu ya, sudah menyusahkan, menyalahkan lagi. Gak ada ahlak sama sekali.”
Sasa hanya tersenyum, tidak sampai 15 menit Sasa sudah sampai di sekolah. Nino benar-benar mengejar waktu.
“Turun gih…”
“Minta uang jajan dong Bang…”
Nino semakin cemberut, tapi tetap membuka dompet dan memberikan beberapa lembar uang. Sasa tersenyum lebar dan turun dari mobil.
Sekolah masih sangat sepi, di parkiran murid hanya ada beberapa sepeda motor motor. Sasa bersenandung kecil melewati koridor kelas. Sasa berpikir kalau dia akan menjadi murid pertama yang tiba di kelas, ternyata salah. Dion sudah terlebih dulu tiba, dia sedang bermain gawainya dengan mengangkat kaki ke meja.
“Kenapa harus ada manusia es ini sih…” gumam Sasa pelan.
Sasa meletakkan tasnya ke atas meja, Dion meliriknya dan menurunkan kakinya. Sama seperti kemarin, hari ini juga tidak ada tegur sapa diantara mereka. Sasa duduk diam menatap lurus ke depan, sementara Dion masih sibuk dengan permainan yang ada di gawainya.
Rasa lapar mengingatkan Sasa dengan bekal nasi goreng yang dibawanya tadi. Dia membuka bekal dan menikmati setiap suapan. Dion beberapa kali melirik Sasa.
“Kenapa? Mau?” Sasa menyodorkan kotak bekalnya pada Dion.
Tidak menolak, tidak pula menerima. Dion berdiri dan pergi begitu saja.
“Dasar aneh,” gumam Sasa lagi.
Beberapa saat kemudian, beberapa murid sudah tiba termasuk Della.
“Hai Sa, cepat juga ya kamu sampainya. Diantar ya tadi?” sapa Della hangat.
“Iya Del, eh sarapan yuk…”
“Ehmmm, aku sih sudah sarapan. Tapi nasi goreng kamu sepertinya enak, boleh aku cobain gak?”
“Boleh dong, nih…” Sasa menyodorkan kotak bekalnya pada Della.
Baru Della memakan satu suap, seorang murid laki-laki datang mendekati mereka. Dia adalah murid yang menjahili Sasa kemarin saat perkenalan.
“Hai anak baru, aku anak lama. Kenalkan aku Giring.” Giring mengulurkan tangannya.
“Sasa…”
“Asik banget nih makan nasi goreng pagi-pagi, punya kamu Del?” tanya Giring pada Della.
“Bukan, punya Sasa ini.”
“Ooh, boleh minta gak Sa?” tanya Giring dengan cueknya.
“Boleh…boleh…”
Giring langsung menyambar kotak bekal itu dan memakan beberapa suap. Dia terlihat sangat menikmati nasi goreng Sasa.
“Eh kamu masih mau gak?” tanya Giring dengan mulut yang penuh dengan nasi.
Sasa tiba-tiba merasa mual melihat Giring, menurut Sasa lebih baik dia menahan lapar dari pada harus satu sendok dengan orang seperti Giring.
“Eh Giring, itu kan punya Sasa kenap jadi kamu yang tawarin dia?” semprot Della.
“Sudah, habisin saja. Gak apa-apa, aku sudah kenyang kok,” ujar Sasa dengan senyum yang dipaksakan.
Giring menerima dengan senang hati. Giring memang terlihat jahil tapi sepertinya dia baik. Mereka bertiga mengobrol, dan mulai terlihat mereka satu frekuensi. Obrolan mereka bisa mengalir begitu saja sampai tidak terasa bel masuk sekolah sudah berbunyi.
Semua murid masuk kelas, termasuk Dion. Dion masuk kelas dengan wajah sinis, Sasa tidak menghiraukannya. Dion duduk dan mendekat pada Sasa.
“Kelas itu tempat belajar, bukan tempat makan. Gara-gara kamu, kelas jadi bau bawang!” bisik Dion.
Untuk kedua kali, Sasa melongo melihat kelakuan Dion. Sasa melihat kesekelilingnya, tidak ada murid yang mempermasalahkan bau bawang. Sasa melirik Dion, dia menahan rasa kesal. Apalagi tingkah Dion yang sangat dingin.
***
Sudah seminggu Sasa masuk di sekolah baru. Dia sudah berbaur dengan murid lain dan sudah sangat dekat dengan Della juga Giring. Tapi tidak dengan Dion, mereka masih tidak ada komunikasi. Diam-diam Sasa memperhatikan Dion, bukan memperhatikan karena dia tertarik tetapi Sasa merasa aneh saja dengan Dion. Dion bukan manusia dingin yang tidak senang bergaul, Dion bisa juga menjadi normal seperti kebanyakan murid lain. Tapi hanya dengan muris laki-laki saja, dengan murid perempuan dia akan menjadi gunung es yang sangat dingin.
Dengan Giring, murid yang paling jahil di kelas pun Dion bisa dekat. Itu artinya Dion itu bisa bergaul, tapi kenapa dia menghindari perempuan? Hal ini membuat Sasa penasaran.
“Ring, kamu kenapa bisa dekat sama Dion sih?” tanya Sasa pada Giring saat mereka sedang istirahat di kantin.
“Memangnya kenapa?”
“Ya kan dia manusia aneh.”
“Aneh dari mananya? Perasaan biasa saja.”
“Biasa dari mana? Aku loh sudah seminggu duduk satu meja dengan dia gak pernah ditegur, gak pernah diomongin. Gak tahu deh salah dimana,” ujar Sasa dengan kesal.
“Ooh kamu mau ditegur sama Dion? Bentar… Dion…” Giring berteriak memanggil Dion.
Respon Giring di luar dugaan Sasa, kebetulan Dion memang sedang lewat dari depan mereka. Spontan saja Sasa mencubit lengan Giring.
“Aaawww… sakit Sa,” gerutu Giring.
“Ya kamu juga, ngapain coba panggil-panggil Dion. Aku gak ada suruh kamu panggil dia.”
“Kirain…”
Semua sudah terlanjur, Dion yang mendengar suara Giring langsung mendekat ke meja Sasa. Wajah Sasa merona, dia merasa malu sendiri.
“Kenapa Ring?” tanya Dion begitu sampai di depan Giring.
“Enggak kok, makan yuk…” Giring malah mengajak Dion makan di meja yang sama.
Sasa semakin gelisah, dia mau pindah tempat tapi sudah tidak ada lagi tempat yang kosong. Dia mau bertahan, tapi takut Giring bicara aneh-aneh di depannya. Terpaksa Sasa berpura-pura ingin memesan makanan lagi, sementara Della sibuk dengan gawainya jadi tidak mengerti apa yang terjadi walaupun Sasa sudah memberikan kode.
Dari sudut kantin Sasa memperhatikan Giring dan Dion yang mengobrol. Mereka mengobrol sambil tertawa, membuat Sasa berpikiran kalau dirinyalah yang sedang dibicarakan.