Bab 1

Menjadi anak baru di sebuah sekolah itu rasanya tidak enak. Itu yang dirasakan Sasa. Hari ini merupakan hari pertamanya masuk sekolah disalah satu sekolah negri di Jakarta. Di benaknya sudah dipenuhi dengan hal-hal yang mengerikan ketika akan melangkahkan kakinya di kelas.

Sasa diantar seorang guru ke kelas XI IPA 3, begitu Sasa masuk dia menjadi sasaran tatapan dari 28 siswa yang ada di kelas itu. Tentunya dengan tatapan yang menghakimi, mulai dari rambut sampai kaki. Sasa hanya bisa menunduk, menunggu Guru yang mengantarnya berbicara dengan Guru yang sedang mengajar di kelas itu.

“Ini kelas baru kamu, nanti perkenalan atau gimana selanjutnya tanya sama Ibu ini saja ya,”ujar Guru yang mengantar Sasa.

“Baik Bu.”

Guru itu ke luar, keadaan kelas semakin riuh. Bisa dipastikan seisi kelas sedang membicarakan Sasa.

“Baik anak-anak, tenang dulu. Tolong perhatiannya ke sini sebentar. Kalian dapat teman baru, dia pindahan dari Jogja.”

“Bu… jangan Ibu dong yang kenalkan. Biar dia dong Bu yang kenalkan sendiri…” celetuk seorang siswa laki-laki dari belakang.

“Boleh juga, oke silahkan kenalakan dirimu sendiri Nak,” ujar Guru itu pada Sasa.

Sasa mengangguk, dia mengangkat kepalanya yang dari tadi tertuduk. Dia menghela nafasnya, melempar pandangannya ke depan. Dia mengumpulkan tenaga untuk berbicara.

“Hai semua...” sapa Sasa.

“Hai...” sambut semua siswa yang ada di kelas.

“Perkenalkan nama saya Shakira Dwita Wijaya, biasa dipanggil Sasa…”

“Sasa? Micin dong…” celetuk laki-laki yang tadi lagi.

Jelas celetukan itu mengundang tawa seisi kelas. Sasa hanya bisa terdiam, dugaannya benar kalau hari ini dia akan menjadi bahan tertawaan teman-teman barunya.

“Sudah… sudah…. Nanti kalian lanjutkan saja perkenalannya pada jam istirahat ya. Sasa kamu bisa duduk di barisan belakang sebelah kiri,” Guru itu menunjuk meja yang di sudut.

Meja itu hanya diisi satu murid saja, bangku di sebelahnya kosong. Murid yang ada di meja itu seorang lelaki, wajahnya tidak terlalu bersahabat dan terkesan tidak peduli dengan yang terjadi di kelas. Sasa berjalan ke meja yang ditunjuk guru tersebut. Dia mencoba menebar senyum pada murid yang ada di sekitar meja itu.

“Hai Sasa, aku Della…” sapa seorang murid perempuan yang duduk di depan meja Sasa.

“Hai aku Sasa,” ujar Sasa pada Della.

Beberapa murid ikut bersalaman dengan Della, kecuali laki-laki yang duduk semeja dengan Sasa. Wajah murid laki-laki itu acuh, tidak peduli dengan kedatangan Sasa. Sasa mengalah, dia mengulurkan tangannya pada laki-laki itu.

“Hai, aku Sasa…”

“Aku sudah tahu, tadi kan kamu sudah bicara di depan. Buat apa diulang lagi? Aku gak tuli kok,” jawab laki-laki itu ketus.

Sasa melongo, dia tidak mengira kalau respon dari laki-laki dingin itu akan ketus.

“Dia pikir dia siapa? Sombong amat jadi orang,” batin Sasa.

“Sudah Sa, jangan masukin ke hati. Dion memang orangnya seperti itu kok,” ujar Della.

Sasa hanya mengangguk, mencoba tersenyum. Walaupun di dalam hatinya sangat kesal. Sasa membuka tas, mengeluarkan dan membanting bukunya ke atas meja.

“Biasa saja dong!” tegur Dion dengan ketus.

Sasa tidak merespon, dia seolah-olah tidak mendengar teguran dari Dion. Sampai pulang sekolah, tidak ada perbincangan antara Sasa dan Dion. Begitu bel berbunyi, Dion buru-buru mengemasi buku-bukunya dan pergi.

“Sa, kamu pulang ke arah mana?” tanya Della.

“Aku ke daerah Jakarta Selatan Del.”

“Ohh, kita searah dong. Mau bareng gak?”

“Ehmmm aku dijemput kok Del, makasih ya.”

“Ya sudah, aku duluan ya Sa. Sampai jumpa besok…”

“Iya Del…”

Sasa menyusuri koridor kelas sendiri, tentu dia menjadi bahan perhatian murid-murid di sekolah itu. Wajahnya yang manis, dengan tubuh yang tinggi semampai dan kulitnya yang putih bersih wajar menarik perhatian murid-murid terkhusus dari para lelaki.

Sampai di gerbang, Nino sudah menunggu. Nino adalah abang kandung Sasa. Usia mereka terpaut cukup jauh, sekitar 8 tahun. Sekarang Nino sudah bekerja, tepatnya membuka distro miliknya sendiri. Melihat Nino yang sudah ada di seberang jalan, Sasa langsung menyebrang jalan tanpa melihat ke kiri dan kanan.

“Aaaaaarrggggghhh….” Teriak Sasa, ketika satu motor melewati tubuhnya hanya terpaut beberapa centi meter.

Untung saja pengemudi motor itu bisa mengendalikan motornya dengan baik, nyaris saja Sasa diserempet motor besar itu.

“Punya mata gak?! Kalau menyebrang lihat-lihat dulu!” bentak pengemudi motor itu dari balik helmnya.

Sadar dengan kesalahannya, Sasa hanya tertunduk dan diam. Pengemudi motor itu juga langsung tancap gas. Dengan langkah lunglai, Sasa berjalan menuju mobil Nino.

“Kamu gak apa-apa Sa?” tanya Nino dengan panik.

“Enggak.”

“Lain kali hati-hati ya.”

“Iya.”

“Kamu lagi lamunin apa sih? Sampai gak lihat ada motor sebesar itu lagi jalan. Telat saja dia rem, sudah jadi lemper kamu.”

“Sudah dong Bang, jangan dimarahin terus. Aku juga gak mau kok kejadian seperti itu,” gerutu Sasa.

“Tuh kan, dibilanging pasti protes.”

“Bukan protes Bang, tapi aku juga syok tadi. Sudah dong jangan diomelin lagi.”

Nino tidak bersuara lagi, dia mengemudikan mobilnya. Melihat wajah Sasa yang cemberut, Nino merasa iba. Nino memang paling tidak bisa melihat wajah adiknya cemberut, dia sangat sayang pada Sasa apalagi setelah Ibu mereka meninggal dunia. Nino merasa kalau Sasa adalah tanggung jawabnya.

“Sudah gak usah cemberut, jelek banget ih…”

“Bodo amat,” jawab Sasa ketus.

“Eh, ngomong-ngomong kamu kenal sama yang bawa motor tadi?”

“Enggak.”

“Bukannya teman satu sekolah kamu, seragamnya sama.”

“Ya kali aku kenal semua anak murid di sana, baru juga hari pertama masuk sekolah,” jawab Sasa masih dengan intonasi yang ketus.

“Galak amat sih adikku, terus gimana hari pertama sekolah kamu?”

“Gak jauh beda seperti Abang, menyebalkan.”

Nino terkekeh mendengar jawaban Sasa.

“Ehmm, kamu lapar gak Sa? Kita makan yuk…”

Sasa melirik Nino.

“Mau gak? Kamu bisa makan sepuasnya deh nanti.”

“Bener?”

“Benar lah…”

“Gitu dong, itu baru Abang aku. Makan sepuasnya kan?” Sasa sumringah.

“Iya. Tapi makan sepuasnya di rumah…”

“Aahhhh, nyebelin!” Sasa cemberut lagi.

“Iya… iya… kita makan di luar deh. Sudah jangan cemberut lagi.”

Sasa tersenyum.

Mereka menuju salah satu resto keluarga yang ada di sekitaran Jakarta Pusat. Begitu sampai di sana, Sasa langsung memesan beberapa menu kesukaannya.

“Habis tuh Sa?” tanya Nino.

“Kalau gak habis, ya bawa pulang Bang,” jawab Sasa dengan santai.

Nino hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukan adik kandungnya itu. Tapi dia tidak melarang, dia membiarkan saja apa yang ingin dilakukan Sasa.

“Oh ya Sa, Papah pernah cerita sesuatu gak sama kamu?” tanya Nino disela-sela mereka makan.

“Cerita? Tentang apa Bang?”

“Tentang Tante Eva.”

“Tante Eva? Siapa itu?”

“Pacar Papah,” jawab Nino pelan.

Sasa berhenti makan, dia menatap wajah Nino. Seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

Bab 2

“Abang bilang apa?” tanya Sasa lagi.

“Pacar Papah.”

“Pacar Papah? Papah punya pacar? Sejak kapan?” Sasa terkejut dengan jawaban yang diberikan Nino.

“Ehmm, Papah belum pernah cerita sama kamu ya?”

“Belum. Abang sudah kenal? Sudah pernah ketemu?”

“Ketemu langsung sih belum, tapi Papah sudah cerita sama aku,” jawab Nino berhati-hati, dia takut Sasa syok mendapati fakta mengenai orangtua mereka.

“Sejak kapan mereka pacaran Bang?”

“Sekitar 4 bulan gitu deh…”

“Jadi Papah sudah berpaling dari Mamah ya?”

“Ya mungkin, bisa jadi Sa.”

“Pacarnya Papah janda atau gadis Bang?”

“Janda.”

“Sudah punya anak?”

“Sudah, seumuran sama kamu kayaknya. Anaknya cowok.”

“Ehmm, dia janda ditinggal mati atau cerai pisah Bang?”

“Dari cerita Papah sih, cerai pisah gitu. Suaminya yang gugat cerai dulu.”

“Iiihhh, Papah kok bisa sih cari pengganti Mamah dengan yang seperti itu? Gak sebanding banget sih,” gerutu Sasa.

Sesaat mereka diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sasa menusuk-nusuk makanan yang ada di depannya dengan garpu.

“Sasa gak setuju Papah sama janda itu Bang.” Tiba-tiba Sasa bicara.

“Memangnya kenapa Sa?”

“Pernikahannya yang pertama saja gagal, itu artinya dia bermasalah kan?”

“Ya belum tentu Sa, bisa jadi suaminya yang jahat.”

“Enggak mungkinlah, yang gugat cerai kan suaminya. Berarti yang bermasalah dia dong. Terus dia sudah punya anak, anaknya sudah besar, kalau dia baik harusnya dia bisa menahan egonya. Mempertahankan pernikahan demi anaknya. Iya kan?”

“Sa, itu sudah di luar dari pemikiranmu. Kamu terlalu jauh berpikirnya. Belum tentu juga Papah sama Tante Eva menikah, iya kan?”

“Gak tahu ah, intinya Sasa gak setuju. Titik,” jawab Sasa dengan suara bergetar.

Manik mata Sasa mulai berkaca-kaca, Nino sadar kalau perasaan adiknya sedang tidak baik. Nino duduk di sebelah Sasa, mengusap kepalanya.

“Sudah Sa, jangan terlalu dipikirkan.”

“Sasa gak mau Papah menikah lagi Bang. Sasa gak mau posisi Mamah digantikan siapapun.”

“Iya Abang paham, tapi kamu jangan berpikir berlebihan begini dong. Dengar ya Sa, pertama kamu gak boleh benci sama Papah karena masalah ini. Kedua, Papah sama Tante Eva itu barhubungan baru 4 bulan, dan belum ada rencana untuk menikah. Yang ketiga, kamu gak boleh menilai Tante Eva sebelum kamu mengenalnya lebih dalam. Kalau sudah waktunya, Papah pasti kenalkan kita dengan Tante Eva. Kalau kamu gak suka, kamu bilang sama Papah alasannya.”

“Apapun alasannya Sasa tetap gak setuju.”

“Setuju ataupun tidak setuju itu hak kamu, tapi baiknnya itu kita bicarakan nanti.”

“Terus Abang setuju kalau Papah menikah lagi?”

“Aku belum berpikir kalau Papah akan segera menikah, tapi yang pasti Papah pasti sudah tahu apa yang terbaik untuk kita semua.”

Sasa diam, dia masih bergumul degan kabar buruk yang baru dia terima. Menurut Sasa, mendapat Mamah baru bukan hal yang baik untuk dirinya, karena sosok Mamah di hatinya hanya ada satu, yaitu Mamah kandungnya. Tidak ada yang bisa menggantikan, kalaupun sekarang ada orang yang sedang mendekati Papahnya, Sasa yakin pasti itu karena materi.

“Sudah Sa, lanjut makan lagi…”

“Sudah kenyang Bang,” jawab Sasa pelan.

“Kenyang dari mana? Baru juga beberapa suap kamu makan. Lagian makanan yang kamu pesan banyak banget ini.”

“Buat Abang saja.”

“Loh, yang pesan kan kamu…”

“Sudah ah Bang, pulang saja yuk.”

“Terus semua makanan ini gimana?”

“Gak tahu.”

Sasa berdiri dan ke luar. Wajahnya terlihat sangat kesal.

“Sa… Sasa… tunggu dong. Tunggu aku suruh bungkusin dulu semua ini.”

Sasa tidak menggubris dia tetap berjalan ke luar.

Selama perjalanan mereka tidak bicara, terlebih Sasa. Wajahnya murung, setiap ditanya dia hanya menjawab dengan anggukan ataupun gelengan. Sampai di rumah, Sasa langsung masuk kamar. Dia ingin menenangkan dirinya sendiri, walaupun tetap saja dia tidak bisa tenang. Dia sudah mencoba segala cara, tapi tetap saja pikirannya fokus pada pacar baru Papahnya. Sampai sore, Sasa tidak ke luar kamar.

“Sa…” Nino mengetuk pintu kamar Sasa.

“Ya Bang,” sahut Sasa dari dalam kamar.

“Kenapa di kamar terus? Ke luar sini…”

“Pusing Bang, mau istirahat.”

“Sa, kalau ada yang mengganjal di hati kamu cerita sini. Jangan mengurung diri gitu.”

“Enggak Bang, Sasa hanya pusing saja. Mau istirahat.”

“Kamu gak mau aku anggap anak kecil kan Sa? Kalau kamu seperti ini, kamu sama saja bilang kalau kamu itu anak kecil,” tegas Nino dari balik pintu kamar Sasa.

Sasa tidak menyahut lagi, dia beranjak dari tempat tidurnya. Membuka pintu dan memaksa memasang senyum di wajahnya.

“Gak usah sok imut, jelek!”

“Apa sih Bang, jahat banget.”

“Sudah, sini duduk…” Nino menarik tangan Sasa duduk di sofa.

“Kamu masih pikirkan masalah tadi kan?” tanya Nino.

Sasa mengangguk.

“Sa kamu gak boleh egois. Papah itu berhak bahagia. Kamu gak lihat gimana Papah bisa bangkit setelah terpuruk ditinggal Mamah. Benar-benar gak mudah buat Papah loh, jadi kamu harus bisa lihat dari sisi lain Sa. Papah itu butuh pendamping.”

“Kan masih ada kita Bang…”

“Memangnya kita sampai kapan tinggal bareng sama Papah? Mungkin 2 atau 3 tahun lagi aku akan menikah dan tinggal bersama keluargaku, kamu sebentar lagi kuliah, kerja dan menikah ikut suami. Papah sama siapa? Kamu tega Papah sendiri?”

“Kan bisa ikut Abang atau aku.”

“Kalau sudah berumahtangga gak segampang itu Markonah. Banyak yang harus dipertimbangkan kalau ajak orang tua tinggal satu atap. Kalau pasangan setuju, gak masalah. Tapi kalau gak setuju, itu yang jadi masalah. Lagian kamu seperti gak kenal sama Papah, gak akan mau repotin orang lain.”

“Tapi kenapa harus sama janda itu sih?”

“Memangnya salahnya janda apa Sa? Seandainya Tante Eva itu masih gadis, pasti kamu bilang mana ada gadis yang mau sama duda tua anak dua. Iya kan?”

Sasa diam, dia tidak memungkiri apa yang dikatakan Nino. Sasa hanya bisa memainkan jari-jarinya. Dia mulai paham dengan keadaaan.

“Sa, kamu jangan bahas masalah ini dengan Papah dulu. Takutnya kamu nanti bicara gak terkontrol, Papah jadi merasa bersalah lagi. Papah juga mungkin belum siap cerita sama kamu, makanya kamu gak tahu masalah ini.”

“Iya Bang,” jawab Sasa lirih.

“Ya sudah, jangan cemberut lagi.”

Sasa hanya melirik Nino, kemudian beranjak meninggalkan Nino. Belum sampai Sasa ke kamarnya, dia berbalik lagi.

“Bang…”

“Apa lagi?” sahut Nino sambil memainkan gawainya.

“Ehmmm, makanan yang dari resto tadi jadi dibawa pulang?” tanya Sasa malu-malu.

Nino mendelik dan tersenyum jahil.

“Sudah kukasih orang.”

“Iihhh kok gitu sih Bang, kan aku baru makan sedikit.”

“Salah siapa tadi gak makan. Aku pikir kamu gak mau lagi.”

“Abang ih… Sasa lapar…”

“Makanya jangan pakai acara ngambek. Tuh ambil di dapur, tadi sudah dititipin sama Mbak Lastri,” ujar Nino.

Sasa terseyum dan segera pergi ke dapur. Sisi diri Sasa yang masih kekanak-kanakan membuat Nino memperlakukanya seperti anak kecil, walaupun Sasa selalu marah kalau diperlakukan seperti anak kecil.

Bab 3

Pagi ini Sasha bangun lebih awal, dia ke luar kamar Papahnya sudah ada di meja makan siap untuk sarapan. Sebenarnya Sasa igin sekali menanyakan masalah pacar baru Papahnya, tapi dia menahan diri. Mengikuti saran Nino, menunggu sampai Papahnya yang duluan cerita.

“Pagi Sasa…” sapa Bimo, Papah Sasa.

“Pagi Pah…”

“Sini sarapan sama Papah, kangen Papah direcokin sama kamu kalau sedang sarapan bersama,”ujar Bimo sembari tersenyum.

Sasa ikut tersenyum. Sasa duduk di samping Bimo yang menghadap ke ruang tengah. Di ruang tengah sudah ada Nino yang sedang sibuk di depan laptopnya.

“Tumben Bang sudah bangun jam segini?” tanya Sasa.

“Iya, aku ada meeting pagi ini,” jawab Nino tanpa menoleh.

“Widihhh, sudah seperti orang penting saja sibuk pagi-pagi,” sambung Sasa.

Nino tidak menjawab, dia masih terus sibuk di depan laptopnya.

“Bang, aku berangkat sekolah sama Abang ya…”

“Enggak ah, aku mau cepat,” sahut Nino.

“Kan mau ke distro Abang juga lewati sekolah aku. Ya sekalian saja kenapa sih?”

“Aku mau cepat Sa, aku harus sudah sampai di distro 20 menit lagi.”

“Bohong banget, Abang juga belum sarapan kan?”

“Sudah.”

“Serius? Cepat amat? Ya sudah, tungguin aku sarapan ya…”

“Enggak ah, tunggu kamu makan setahun.”

“Papah… Bang Nino gak mau antar aku…” Sasa mengadu pada Bimo.

“Ya gimana Sa, Nino kan mau cepat Nak. Kamu naik taksi online saja.”

“Aaah… Sasa kan mau bareng Bang Nino.”

“Gak usah sok manja deh Sa…” sahut Nino.

“Sudah…sudah… kalau kamu mau berangkat sama Nino, kamu sarapannya di sekolah saja. jadi Nino gak kelamaan tunggu kamu Sa,” ujar Bimo.

“Ehmmm, ya sudah deh. Mbak Lastri… tolong buatin bekal aku ya,” perintah Sasa pada asisten rumah tangganya.

Sasa bergegas ke kamarnya, merapikan rambut dan mengambil tas. Sasa ke luar kamar, Nino sudah siap berangkat. Sepanjang perjalanan, Nino tidak henti-hentinya menggerutu pada Sasa.

“Awas saja kalau aku sampai telat sampai di distro ya,” gerutu Nino.

“Loh, kok salahin Sasa sih? Kan mau ke distro Abang harus lewatin sekolah aku juga kan?”

“Tadinya aku mau ambil jalur barat,” jawab Nino ketus.

“Ya salah sendiri, kenapa tadi gak bilang mau ambil jalur Barat.”

“Kamu ya, sudah menyusahkan, menyalahkan lagi. Gak ada ahlak sama sekali.”

Sasa hanya tersenyum, tidak sampai 15 menit Sasa sudah sampai di sekolah. Nino benar-benar mengejar waktu.

“Turun gih…”

“Minta uang jajan dong Bang…”

Nino semakin cemberut, tapi tetap membuka dompet dan memberikan beberapa lembar uang. Sasa tersenyum lebar dan turun dari mobil.

Sekolah masih sangat sepi, di parkiran murid hanya ada beberapa sepeda motor motor. Sasa bersenandung kecil melewati koridor kelas. Sasa berpikir kalau dia akan menjadi murid pertama yang tiba di kelas, ternyata salah. Dion sudah terlebih dulu tiba, dia sedang bermain gawainya dengan mengangkat kaki ke meja.

“Kenapa harus ada manusia es ini sih…” gumam Sasa pelan.

Sasa meletakkan tasnya ke atas meja, Dion meliriknya dan menurunkan kakinya. Sama seperti kemarin, hari ini juga tidak ada tegur sapa diantara mereka. Sasa duduk diam menatap lurus ke depan, sementara Dion masih sibuk dengan permainan yang ada di gawainya.

Rasa lapar mengingatkan Sasa dengan bekal nasi goreng yang dibawanya tadi. Dia membuka bekal dan menikmati setiap suapan. Dion beberapa kali melirik Sasa.

“Kenapa? Mau?” Sasa menyodorkan kotak bekalnya pada Dion.

Tidak menolak, tidak pula menerima. Dion berdiri dan pergi begitu saja.

“Dasar aneh,” gumam Sasa lagi.

Beberapa saat kemudian, beberapa murid sudah tiba termasuk Della.

“Hai Sa, cepat juga ya kamu sampainya. Diantar ya tadi?” sapa Della hangat.

“Iya Del, eh sarapan yuk…”

“Ehmmm, aku sih sudah sarapan. Tapi nasi goreng kamu sepertinya enak, boleh aku cobain gak?”

“Boleh dong, nih…” Sasa menyodorkan kotak bekalnya pada Della.

Baru Della memakan satu suap, seorang murid laki-laki datang mendekati mereka. Dia adalah murid yang menjahili Sasa kemarin saat perkenalan.

“Hai anak baru, aku anak lama. Kenalkan aku Giring.” Giring mengulurkan tangannya.

“Sasa…”

“Asik banget nih makan nasi goreng pagi-pagi, punya kamu Del?” tanya Giring pada Della.

“Bukan, punya Sasa ini.”

“Ooh, boleh minta gak Sa?” tanya Giring dengan cueknya.

“Boleh…boleh…”

Giring langsung menyambar kotak bekal itu dan memakan beberapa suap. Dia terlihat sangat menikmati nasi goreng Sasa.

“Eh kamu masih mau gak?” tanya Giring dengan mulut yang penuh dengan nasi.

Sasa tiba-tiba merasa mual melihat Giring, menurut Sasa lebih baik dia menahan lapar dari pada harus satu sendok dengan orang seperti Giring.

“Eh Giring, itu kan punya Sasa kenap jadi kamu yang tawarin dia?” semprot Della.

“Sudah, habisin saja. Gak apa-apa, aku sudah kenyang kok,” ujar Sasa dengan senyum yang dipaksakan.

Giring menerima dengan senang hati. Giring memang terlihat jahil tapi sepertinya dia baik. Mereka bertiga mengobrol, dan mulai terlihat mereka satu frekuensi. Obrolan mereka bisa mengalir begitu saja sampai tidak terasa bel masuk sekolah sudah berbunyi.

Semua murid masuk kelas, termasuk Dion. Dion masuk kelas dengan wajah sinis, Sasa tidak menghiraukannya. Dion duduk dan mendekat pada Sasa.

“Kelas itu tempat belajar, bukan tempat makan. Gara-gara kamu, kelas jadi bau bawang!” bisik Dion.

Untuk kedua kali, Sasa melongo melihat kelakuan Dion. Sasa melihat kesekelilingnya, tidak ada murid yang mempermasalahkan bau bawang. Sasa melirik Dion, dia menahan rasa kesal. Apalagi tingkah Dion yang sangat dingin.

***

Sudah seminggu Sasa masuk di sekolah baru. Dia sudah berbaur dengan murid lain dan sudah sangat dekat dengan Della juga Giring. Tapi tidak dengan Dion, mereka masih tidak ada komunikasi. Diam-diam Sasa memperhatikan Dion, bukan memperhatikan karena dia tertarik tetapi Sasa merasa aneh saja dengan Dion. Dion bukan manusia dingin yang tidak senang bergaul, Dion bisa juga menjadi normal seperti kebanyakan murid lain. Tapi hanya dengan muris laki-laki saja, dengan murid perempuan dia akan menjadi gunung es yang sangat dingin.

Dengan Giring, murid yang paling jahil di kelas pun Dion bisa dekat. Itu artinya Dion itu bisa bergaul, tapi kenapa dia menghindari perempuan? Hal ini membuat Sasa penasaran.

“Ring, kamu kenapa bisa dekat sama Dion sih?” tanya Sasa pada Giring saat mereka sedang istirahat di kantin.

“Memangnya kenapa?”

“Ya kan dia manusia aneh.”

“Aneh dari mananya? Perasaan biasa saja.”

“Biasa dari mana? Aku loh sudah seminggu duduk satu meja dengan dia gak pernah ditegur, gak pernah diomongin. Gak tahu deh salah dimana,” ujar Sasa dengan kesal.

“Ooh kamu mau ditegur sama Dion? Bentar… Dion…” Giring berteriak memanggil Dion.

Respon Giring di luar dugaan Sasa, kebetulan Dion memang sedang lewat dari depan mereka. Spontan saja Sasa mencubit lengan Giring.

“Aaawww… sakit Sa,” gerutu Giring.

“Ya kamu juga, ngapain coba panggil-panggil Dion. Aku gak ada suruh kamu panggil dia.”

“Kirain…”

Semua sudah terlanjur, Dion yang mendengar suara Giring langsung mendekat ke meja Sasa. Wajah Sasa merona, dia merasa malu sendiri.

“Kenapa Ring?” tanya Dion begitu sampai di depan Giring.

“Enggak kok, makan yuk…” Giring malah mengajak Dion makan di meja yang sama.

Sasa semakin gelisah, dia mau pindah tempat tapi sudah tidak ada lagi tempat yang kosong. Dia mau bertahan, tapi takut Giring bicara aneh-aneh di depannya. Terpaksa Sasa berpura-pura ingin memesan makanan lagi, sementara Della sibuk dengan gawainya jadi tidak mengerti apa yang terjadi walaupun Sasa sudah memberikan kode.

Dari sudut kantin Sasa memperhatikan Giring dan Dion yang mengobrol. Mereka mengobrol sambil tertawa, membuat Sasa berpikiran kalau dirinyalah yang sedang dibicarakan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

DIONESA

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED