"Selamat datang di rumah ini, Maheswari."
Sudibja memberi sambutan yang hangat padanya. Dia bahkan menyuruh para pelayan di rumah untuk membawakan tas dan juga barang-barang milik gadis itu ke kamarnya.
Maheswari mengikuti pelayan yang membawakan barang-barangnya, tetapi Sudibja meminta dia untuk meninggalkan saja.
"Biar itu Bi Asih yang urus. Kamu pasti capek, habis dari perjalanan jauh. Kita makan dulu sekalian saya mau kenalin kamu dengan anggota keluarga di rumah ini."
Maheswari--Mahes--masih banyak diam, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Gadis itu sendiri masih syok dan bingung bagaimana bia dia berada di sini.
Bermula dari wasiat ibunya yang bilang kalau suatu saat nanti perempuan itu tidak ada di dunia ini lagi, Mahes harus mengirimkan surat ibunya pada Sudibja. Hanya selang satu minggu setelah pemakaman, Mahes mengirimkan surat itu dan beberapa hari setelahnya, Mahes dijemput oleh pengusaha dermawan dan kaya raya ini untuk tinggal di rumahnya.
Gadis itu tidak pernah tahu apa isi surat ibunya, yang jelas saat Sudibja mengatakn bahwa ini yang diinginkan ibunya, Mahes setuju aja untuk ikut.
Gadis desa tinggal di kota, dengan kehidupan yang snagat kontras dengan kehidupan sebelumnya tentu saja membuat sedikit bingung. Rumah yang ditemnpatinya sangat besar, apa mungkin dia akan jadi pembantu di sini
Sudibja mengajak Mahes ke ruang makan, gadis berusia enam belas tahun terebut diajaka bekernalan dengan anggota keluarga di sana.
"Mahes, ini istri saya. Namanya Amarta, kamu boleh panggil dia Ibu."
Amarta menatap sinis pada Mahes. "Saya nggak suka dipanggil ibu. Kalau kamu nggak perlu amat dengan saya mending jangan ajak nbgomong saya, ya!"
Maheswari jadi sungkan dengannya, sementara Sudibja menggeleng seakan tidak terima dengan sikap istrinya ini.
"Ini Yugo." Sudibja menunjuk pada lalik-laki berusia 28 tahuyn yang saat ini sedang ditugaskan untuk mengelola perusahaan. "Anak saya yang paling sulung. Dia jarang di rumah, khusus hari ini saja saya paksa pulang karena ada kamu."
Mahes mengulurkan tangan ingin bersalaman dengan Yugo. Tapi, laki-laki itu tetap setia melipat tangannya, tidak memedulikan. Dia malah mencebik.
"Papa suriuh aku pulang cuma buat acara kenalan nggak penting begini?"
"Jangan pernah sebut apa yang Papa suruh ini nggak penting!" Sudibja membentak. Amarta yang berada di sampaing putranya mengusap pundak Yugo menyuruh agar anaknya diam tidak melanjutkan perdebatan.
Detik berikutnya Sudibja memikit pelipis. "Harusnya masih ada satu lagi anakku. Junior," jelas pria itu dengan nada kurang senang. "Dia si Bungsu yang paling sudah diatur. Umurnya sudah mau 20, tapi kalau kamu lihat kelakuannya nggak ada beda dengan anak TK, jangan kaget."
Gadis berkulit pucat dengan mata sendu itu akhirnyya bisa sedikit melengkungkan bibir ketika Sudibja membahas Junior.
"Pa, kita harus makan." Amarta berujar dingin, sekan sudah muak berkenalan dengan Maheswari.
Sudibja tampak jelas sedang berusaha untuk mengakrabkan mereka yang ada di ruang makan ini. Meski sikap Amarta dan Yugo dingin, dua terus membuat Mahes bisa nyaman.
"Ini Mahes, orang tuanya dulu teman akrab Papa. Bahkan, kalau bukan karena ibunya Mahes, Papa nggak mungkin bisa sampai di titik ini."
Amarta mendengkus. "Papa, udahlah berhenti mengagungkan jasa orang yang nggak seberapa. Toh, anaknya juga sadar, kok, kalau orang tuanya cuma punya jasa kecil."
Mahes semakin tidak berani bicara. Di jamuan makan siang itu, dia tahu kalau keluarga ini tidak menyukainya.
*
Selesai makan siang, Sudibja menyuruh Asih untuk merngurus gadis kecil tersebut. Dengan senang hati Asih melakukannya Dia punya anak di kampung yang umurnya tidak jauh dengan Mahes, mengurus anak ini sama saja seperti mengurus anak sendiri.
"Bi Asih sudah lama kerja di sini?" Mahes baru selesai mandi, rambutnya yang basah sedang dihanduki Asih selanjutnya disisir dengan lembut.
"Bibi sudah lama kerja di sini, Non."
"Biasanya, kerjaan Bibi di sini apa?"
Asih menggumam sejenak sebelum menjelaskan. "Biasanya Bibi beresin rumah sama periksa di dapur stok makanan apa yang habis. Kalau kerjaan yang lain, ada yang pegang, Non."
Mahes tidak meraa dirinya diangkat sebagai anak di sini. Dia akan ebih tahu diri.
"Kalau gitu, besok saya bantuin Bibi kerja, ya?'
"Eh, jangan." Asih menepuk pelan bahu Mahes. "Kerjaan Bibi, itu urusan Bibi. Bibi di sini sudah ada gaji, Non."
"Tapi, saya nggak tahu harus ngerjain apa, Bi. Di rumah ini. Minimal kalau bantuin Bibi dulu, saya ada guna."
Asih terkekeh. "Non Mahes itu kata Pak Dibja mau diangkat anak, bukan jadi pembantu. Lagian, pembantu di rumah ini sudah ada banyak, Non. Kita benran nggak perlu dibantu lagi."
"Tapi ...." Mahes masih mendebat Asih, "saya lihat istri dan juga anaknya Pak Sudibja nggak suka dengan saya, Bi. Saya takut tinggal di sini."
"Bu Amarta itu memang sedikit galak. Tapi, tetap Pak Dibja yang punya kuasa di rumah ini. Pokokntya selama Pak Dibja baik ke Non, nggak akan ada yang berani usik, Non."
"Kalau anaknya, Bi?"
"Den Yugo sudah punya rumah sendiri. Dia jarang ada di rumah ini. Nggak perlu khawatir."
Mahes mengangguk pelan. "Kalau Junior itu, Bi?"
"Itu anak yang paling sering buat masalah, tapi Bibi paling sayang dengan dia. Nanti kalau kamu ketemu Den Junior, pasti kesal sendiri. Tapi, jangan khawatir dia aslinya baik, kok."
Mahes tersenyum lega. Setidaknya setelah rasa duka yang masih tersisa karena ditinggal ibunya dan harus hidup sebatang kara, Mahes masih bisa menemukan orang yang baik hati padanya.
Asih merasa sudah selesai mengurus Mahes, dia menyarankan pada gadis itu untuk istirahat saja kalau tidak ada yang dikerjakan kemudian dia pergi.
Mahes yang sendiri di kamar memilih untuk menyusun barang-baragnya di nakas. Sudibja bilang dia tidak perlu menyimpan barang yang sudah kumuh, besok semua akan dibelikan yang baru.
Beberapa barang peninggalan ibunya tidak bisa dia tinggalkan walau sudah kumuh. Mahes menyusunnya di nakas. Selesainya, dia tidur karena kelelahan.
Beberapa jam kemudian, Mahes yang bosan di kamnar memilih keluar, siapa tahu bisa bantu Asih.
Kaki kurus gadis itu melangkah menuruni anak tangga, begitu berada di lantai bawah, dia mencari keberadaan pembantu yang baik tadi.
"Kamu!" Suara laki-laki mengejutkannya hingga Mahes menoleh. "Ambilin gue minum, dong!"
"Saya?"
"Iya." Pemuda itu menjatuhkan tubuhnya di sofa. "Ambilin air dingin, buruan gue haus!"
Mahes bukannya tidak mau ambilkan. Dia cuma bingung kulkasnya ada di mana.
"Astaga!" Pemuda itu kesal. "Lo pembantu baru ya, di rumah gue! Kulkas sama dapur aja nggak tahu."
"Saya bukan pembantu."
"Lah, terus siapa lo? Maling apa setan gentayangan?"
"Saya Maheswari, anak gadis dari sahabat Pak Sudibja yang tinggal di sini."
Setelah mendengar penjelasan dari Mahes, pemuda yang baru saja menyangka bahwa dia pembantu memegang kepala. "Astaga, jadi lo anak yang bakal tinggal di sini jadi adik angkat gue?"
Mahes tentu saja bingung dengan pernyataan barusan, apalagi dia tidak kenal dengan siapa orang yang sedang bicara dengannya saat ini.
"Kenalin!" Dia mengulurkan tangan. "Gue Junior. Anak bungsu di sini. Satu-satunya orang yang paling hidup bebas, nggak pernah terikat dengan apa pun."
"Oh, iya." Mahes merasa sungkan untuk menyambut uluran tersebut. Walaupun Asih bilang dia adalah anak yang sering ke mana-mana tidak jelas, dari kulitnya tetap terlihat berbeda. Dia bersih dan juga terlihat lembut, sementara Mahes hanyalah gadis kampung. Perempuan itu takut jika nanti bersentuhan, Junior akan merasa jijik dengannya. Sama yang seperti Yugo lakukan padanya kemarin.
Daripada sakit hati sendiri, lebih baik Mahes harus menyadari siapa dirinya. Dia hanya menyimpulkan senyum kemudian tanya, "Jadi, kulkas dan dapurnya ada di mana? Biar saya ambilin air minumnya."
"Nggak usah." Junior jalan sendiri. "Li bukan pembantu di rumah ini. Sorry deh, kalau gue kira lo pembantu." Dia jalan sendiri mengambil minuman di sebuah kulkas--yang ukurannya sangat lebar dan tinggi melebihi badan junior.
Tadinya Junior kira setelah obrolan singkat mereka tadi Mahes langsung pergi. Ternyata, masih berada di tempatnya.
"Ngomong-ngomong." Laki-laki itu kembali bicara setelah menaruh gelas dan juga botol minum kembali ke tempatnya, "lo tidur di kamar yang mana?"
Mahes melihat ke atas. Hanya dengan bahasa tubuh begitu, Junior sudah paham.
"Oh, iya juga. Pantas dari dulu bokap gue sengaja ngerancang kamar di atas tuh ada lebih satu. Kayaknya dia sudah menduga deh bakal ada lo yang mau tinggal di sini."
"Oh iya," sambung Junior lagi, "gue turut berduka cita ya, soal keluarga lo. Jangan sedih-sedih terus, mungkin ini udah takdirnya. Gue bisa jadi teman yang baik kok, buat lo nanti. Kapan-kapan gue ajarin lo untuk lebih gaul di kota ini."
Mahes tertegun. Kalau lebih gaul yang dimaksud adalah hura-hura dan bersenang-senang di dunia malam seperti kebanyakan orang pada umumnya, dia tidak mau.
Mahes sudah janji pada mendiang ibunya bahwa ketika dia dapat kesempatan untuk tinggal di sini, hanya fokus untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan yang terbaik. Kemudian mengurus dirinya sendiri tanpa menyusahkan siapa pun.
Sayangnya perempuan yang pemalu itu tidak berani menjawab apa-apa. Dia hanya permisi untuk kembali ke kamarnya.
Junior menggeleng sendiri. "Itu anak kayaknya kena sindrom gagu. Dari tadi gue ajak ngomong kebanyakan diam."
Asyik dengan pikirannya membuat dia tidak menyadari kalau Asih sudah muncul di depannya.
"Ya ampun, Den Junior ke mana aja baru pulang?"
"Eh, Bi Asih yang cantik." Bisa saja Junior membujuk pembantunya. "Laper nih, masakin mie goreng kayak biasa, dong."
"Nggak bisa, ya." Asih mencubit perut Junior. "Ini sudah 3 hari nggak pulang, jangan-jangan udah makan macam-macam. Di rumah malah minta mie goreng."
"Bibi masakin sayur. Makan nasi sama sayur, Den. Biar sehat!" Urusan cerewet Asih melebihi Amarta.
"Junior nggak suka kalau makan sayur kayak begitu. Rasanya otot-otot yang ada dalam tubuh Junior ini malah jadi lembek semua."
"Kebalik, Den Junior." Asih sedikit kesal. "Justru karena kebanyakan makan mie, jadi gampang ada penyakit."
"Ya udah deh, biar adil gini aja. Masak mienya ditambahin sayuran sama makanan berprotein lain. Jadi imbang, 'kan?"
"Mie instan ada pengawetnya, Den."
"Yah, Bi. Tadi bilangnya kurang nutrisi kalau makan mie, masa sekarang sudah ditambahin nutrisi pakai alasan ada pengawet. Kalau tahu begini mending Junior nggak pulang, deh!"
Anak itu paling tahu bagaimana membujuk pembantunya yang sudah bekerja selama lebih dari 10 tahun supaya mau mengikuti apa yang dia pinta.
"Ya sudah, Bibi masakin mie. Tapi, jangan lupa makan nasi sama sayurnya juga.'
"Oke, beres!" Junior berniat untuk duduk di ruang santai sembari menunggu Asih menyiapkan makanan untuknya. Tapi, baru berbalik sudah dapat pelototan tajam dari Amarta.
"Bagus banget buat kamu, Junior, baru pulang sekarang!"
Junior mengangkat bahu. Inilah yang serba salah di rumahnya. Tidak pulang dicari, sekalinya pulang malah cuma dapat omelan.
"Junior bingung di rumah ini. sebenarnya kalau pulang diharapin atau enggak, sih?"
"Jun!" Amarta membentak "Mama setiap hari nungguin kamu pulang dan kamu nggak pernah ngertiin perasaan ini. Kemarin bahkan kamu sengaja nggak mau datang di pertemuan penting keluarga kita, Jun. Yang lain sudah pada berkumpul, Mama sampai malu sendiri karena kamu nggak pernah mau ikutan!"
Junior tidak terlalu menggubris. "Junior memang nggak suka dengan acara itu. Apa sih, kumpul-kumpul kayak gitu. Menunjukkan jabatan apa yang sudah dipegang. Norak."
"Kalau saudara-saudaraku yang lain bisa nyaman begitu, Junior nggak suka."
"Kamu nggak bisa semaunya, Jun!"
"Ayolah, Ma. Ini negara merdeka aku sudah umur 20 itu berarti bukan lagi harus diasuh orang tua begini."
"Dua puluh tahun, tetap saja kamu tuh cuma anak-anak di mata Mama."
"Kalau dengan pola pikir begitu, kapan aku bisa dewasa dan kapan aku bisa menentukan pilihan sendiri?"
"Junior kamu enggak tahu apa yang kamu omongin sekarang. Lain kali jangan pernah mangkir dari pertemuan keluarga kita."
"Mama yang harusnya jangan berharap Junior bakalan datang ke acara pertemuan kayak gitu."
"Jun, kamu kalau pulang pasti bikin kepala Mama sakit!" Amarta memijit pangkal hidung menahan kemarahannya.
Asih yang masih ada di sana kemudian membujuk majikannya. "Ibu jangan marah-marah dulu, ya. Kasihan Den Junior baru pulang. Biar dia makan dulu, nanti coba Ibu ngobrol baik-baik."
Bukannya tenang, Amarta malah menunjuk Asih. "Ini juga gara-gara kamu yang terlalu manjain anak saya! Lagian kamu tuh nggak sadar atau gimana sih, cuma pembantu di rumah ini berani dekat dengan anak saya."
"Bi Asih nggak salah apa-apa, Ma. Junior memang lebih nyaman dengan dia."
Kata-kata dari anaknya tersebut membuat Amarta mengepal tangan hingga tidak bisa bicara apa-apa lalu memilih pergi. Asih jadi tidak enak sendiri.
"Den Junior lain kali kalau sama mamanya jangan terlalu keras begitu. Ibu itu sebenarnya khawatir dengan Den Junior. Hampir setiap malam dia nungguin pulang."
"Iya, tahu." Junior memegang bahu Asih. "Ya udah masak, Bi. buruan Nanti Junior keburu mati kelaparan." Urusan makan anak satu itu memang tidak pernah lupa.
Asih masak, Junior kira dia bisa lebih tenang sekarang. Ternyata, belum juga.
Yugo mengadang. "Tahu pulang juga kamu!"
"Apa sih, Bang. Udah deh, nggak usah cari masalah. Gue pulang atau nggak, itu nggak ada urusan dengan lo. Yang tanggung biaya hidup gue ini papa dan dia juga pernah protes, kok."
"Itu karena Papa terlalu lembek dengan kamu."
"Dan lo adalah anak kesayangan mama. Udah deh, itu yang paling adil. Lo terus cari perhatian ke mama, turutin apa yang dia mau dan bakalan dinobatkan sebagai anak yang paling berbakti. Biarin aja gue hidup dengan cara gue sendiri."
Junior melintasi kakaknya begitu saja, sudah penat berdiri dengan pembahasan yang tidak jelas.
"Kamu udah ketemu sama anak angkat papa?" Yugo masih ingin bicara.
"Udah, barusan."
"Menurut lo, gimana dia di sini?"
"Nggak gimana-gimana. Gue cuma ketemu sebentar, nggak sempat ngobrol."
Junior lanjut melangkah, dia duduk di sofa mengeluarkan ponselnya asyik bermain game. Beberapa menit kemudian Asih sudah selesai masak mie, dia bisa nikmati. Untungnya Yugo tidak mengusik ketenangannya kali ini.
Tadinya Asih mau langsung pergi, tapi Junior malah memintanya untuk duduk. Berhubung Asih sadar kalau dia cuma pembantu, tidak mungkin duduk di kursi. Makanya hanya menempelkan bokong di lantai.
Terpaksa Junior juga harus duduk di lantai supaya bisa lebih enak ngobrolnya.
"Den Junior ngapain ikut-ikutan duduk di bawah begini?"
"Ya habisnya kalau Bibi di bawah, Junior nunduk banget!" Junior menggunakan alasan tinggi badannya yang membuat dia tidak nyaman untuk bicara ketika Asih berada di bawah. Padahal, dia hanya bersikap lebih sopan pada pembantunya tersebut.
"Bi, cewek yang diangkat papa jadi anak itu emang orangnya diem kayak gitu, ya?"
"Den Junior ngapain tanya-tanya? Asih curiga. "Jangan iseng ya, Den."
"Ya ampun, Bi." Sembari menancapkan garpu ke mie goreng kesukaannya, Junior menyangkal tuduhan tersebut. "Aku cuma tanya aja udah dituduh mau isengin dia."
"Den Junior mencurigakan, soalnya."
"Habisnya, aku penasaran. Soalnya tadi pas ketemu aku udah ngomong panjang kali lebar, itu anak cuma bengang-bengong."
Asih tertawa kecil. "Wajar, Den. Kalau banyak diam. Ibunya baru meninggal, dia juga masih syok tinggal di sini, ketemu dengan Den Yugo yang kemarin diam sajadisapa,a terus ketemu lagi sama Den Junior yang kelakuannya aneh-aneh."
"Junior nggak aneh-aneh ya, Bi," protesnya dengan mulut penuh mie instan. "Memangnya, kemarin Bang Yugo diem aja ditanya sama dia?"
Asih tidak mau menjelaskan secara mendetail karena takut menjelek-jelekan majikan. Tapi, untuk urusan yang satu itu Junior juga sudah bisa menebak kalau Yugo paling anti dekat-dekat dengan orang yang tidak sekelas dengannya.
"Pokoknya, Bibi ingetin ya, jangan gangguin Non Mahes anaknya polos banget loh, dia juga masih pemalu."
"Tenang." Junior melingkar jari pertanda dia sudah berjanji tidak akan mengganggu Mahes.
"Ya sudah, makan dulu Den. Bibi masih banyak pekerjaan yang lain."
*
Sekian lama Mahes ada, keadaan di rumah mulai sedikit berbeda. Junior yang tadinya tidak betah pulang sama sekali sekarang paling tidak beberapa hari sekali dia sudah pulang hanya untuk mengobrol dengan gadis itu. Dia merasa keberadaan Mahes membuatnya sedikit selamat karena Amarta ibunya lagi sering menatap sinis pada gadis itu ketimbang dirinya.
Kolam renang yang biasanya tidak pernah ditengok sekarang ada orang yang bermain-main di dekatnya. Kucing anggora peliharaan Junior hadiah dari saudara sepupunya sekitar 1 tahun lalu yang tidak pernah diajak bermain, sekarang kucing itu kelihatan lebih segar dengan adanya Mahes.
Dia banyak mengubah suasana di rumah ini hingga terasa lebih menyenangkan.
Bukan cuma Junior yang merasa lebih nyaman berada di rumah dengan keberadaan Mahes. Gadis itu juga senang tinggal di sini karena Sudibja memperlakukan dia benar-benar seperti seorang anak.
Selain diberi tempat tinggal, makanan yang layak, pakaian yang bagus, Mahes juga disekolahkan di salah satu sekolah favorit di kota ini. Sudibja juga sudah mengurus berkas-berkas milik Mahes agar masuk sebagai anggota keluarga, sebagai anak bungsunya di rumah ini, dengan status anak angkat hingga teman-teman di sekolahnya yang notaben mahasiswa kaya raya tidak ada yang mengucilkan ataupun meremehkan Mahes.
Maheswari gadis kampung yang dulu kelihatan lugu dan polos sekarang mulai menampakan sisi cantik dalam dirinya. Kulitnya yang kuning langsat alami, juga parasnya ayu tanpa polesan membuat beberapa siswa tertarik padanya. Dalam satu minggu terakhir Mahes mendapatkan setidaknya dua kali pernyataan cinta dari teman sekolahnya.
Tapi, perempuan itu tidak mau memikirkan sama sekali. Keberuntungan yang dia dapat saat ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Ibunya cuma berpesan agar dia bisa sekolah yang benar, menyelesaikan pendidikan, supaya nanti tidak bergantung pada orang lain.
Jadi, fokus Mahes saat ini adalah belajar dan sekolah. Dia terus berusaha agar mendapatkan nilai yang paling baik, mengabaikan cinta monyet yang menurutnya tidak penting.
Meski begitu, Mahes yang memang pendiam sama sekali tidak menutup diri dari pergaulan. Hanya saja mungkin dia tidak akan bisa sebebas teman-temannya yang lain.
Sore itu, Mahes yang sudah beberapa bulan tinggal di rumah, sedang berjalan di pinggir kolam. Lama dia menikmati tempat ini, ada hasrat ingin menceburkan diri ke dalam kolam tersebut. Tapi, dia takut.
Selain di rumah ini statusnya hanya anak angkat, dia juga perempuan sendiri di antara Yugo dan Junior. Meskipun salah satu atau keduanya jarang ada di rumah ini, tetap saja Mahes malu.
Gadis itu kemudian berjongkok, mencelupkan tangannya ke dalam air, menyibak dengan tatapan penuh kekaguman.
Junior yang diam-diam memperhatikan tahu kalau Mahes sebetulnya ingin berenang di kolam itu.
Harusnya dia coba saja, tidak perlu malu-malu. Lagi pula, tidak ada yang pernah pakai kolam itu di rumah ini. Sebuah fasilitas di dalam rumah di rumah yang disediakan hanya untuk disia-siakan karena semua sibuk di luar.
Amarta tidak akan mau memakainya kecuali kalau dia sedang mood, Yugo hanya pulang sesekali kalau ada perlu penting, sedangkan Junior jarang pmada di rumah. Mahes harusnya memakai saja. Dia bisa kok, pakai baju renang yang tertutup agar merasa lebih nyaman.
"Masuk sana!" Dengan keisengannya Junior mendorong Mahes hingga tercebur ke kolam. Sudah waktunya kolam renang di rumah mereka kembali terpakai.
Mahes tercebur tangannya terangkat ke atas berusaha mencari pegangan. Dia tersedak air, matanya juga perih. Sementara Junior malah asyik menertawakan.
"Ya ampun, lo mau berenang sini aja malu-malu, nih gue pinjemin Lo bisa berenang sepuasnya!"
Junior masih berdiri di pinggir kolam, cekikikan melihat Mahes yang berusaha naik. Beberapa saat kemudian saat Mahes mulai kelihatan lemas,dia baru sadar kalau gadis itu tidak bisa berenang.
"Shit!" Junior menceburkan diri ke kolam menyelamatkan Mahes. Dia terkulai lemas ketika diangkat.
"Heh, bangun!" Junior mengguncang tubuh Mahes yang kelihatan tidak berdaya. "Jangan bikin gue masuk penjara, dong."
Junior takut kalau ada yang melihat ini dia dikira penganiayaan terhadap Mahes. Dalam keadaan panik Junior coba menyelamatkan dengan menekan dada untuk mengeluarkan air. Langkah berikutnya tutup hidung Mahes, dia beri napas buatan dari mulut ke mulut. Tekan lagi dadanya hingga keluar air.
Mahes memuntahkan air, lalu batuk. Junior menariknya lalu memeluk dia. "Untung lo hidup. Sorry ya, gue nggak tahu kalau lo nggak bisa renang."
Mahes tertegun, dia masih linglung saat Junior memeluknya. Dan setelah agak sadar dia baru ingat barusan bibir Junior menempel di bibirnya.
Mahes mendorong Junior lalu menampar wajahnya.
"Loh, kok gue ditabok?" Junior kaget. "Eh, gue baru selamatin hidup lo, ya!"
"Kamu jangan manfaatin aku untuk dilecehkan. Aku memang anak kampung, tapi nggak berarti bisa kamu cium gitu!"
"Cium?" Junior kaget. "Itu napas buat, bego! Siapa yang cium lo!"
Tadinya Junior mau marah soal kebodohan Mahes yang mengira kalau bantuan darinya adalah sebuah ciuman. Tapi, saat melihat gadis itu berderai air mata dan juga wajahnya semakin pucat, laki-laki itu enggan untuk berdebat.
"Terserah deh mau dipikir kayak mana! Yang jelas gue tadi cuma mau nolong lo biar tetap hidup!"
Junior kemudian meninggalkannya, saat beberapa langkah menjauh dia berbalik untuk berteriak, "Ganti baju sana buruan, ntar lo masuk angin. Nanti gue suruh Bi Asih untuk buatin minuman hangat untuk lo."
Junior pergi. Dia juga sebenarnya kaget, kenapa tadi bisa berinisiatif seperti itu. Ini pertama kali dia merasakan bibir wanita. Niatnya sih, tadi cuma mau memberikan pertolongan. Tapi, gara-gara Mahes berpikir lain, Junior juga jadi oleng.
Apa ini bisa disebut dengan ciuman pertama?
"Aduh, gila!" Dia memukul kepala sendiri. Biar bagaimanapun juga sekarang Mahes adalah adiknya. Mana mungkin dia berani macam-macam.
"Lupain, Jun! Lupain!"