"Tapi ayah. Aku tidak mungkin menikah dengan putri teman ayah itu, bahkan aku tidak mengenali nya, bagaimana mungkin aku bisa menikahi dia.?" Ucap damar pada sang ayah.
"Itu sudah keputusan akhir. Dan kamu tidak bisa lagi menawar, jika kamu tidak ingin menikahi luna. Maka silahkan keluar dari rumah ini dan kembalikan semua fasilitas yang ayah berikan." Jawab hartawan.
Hartawan adalah pengusaha terkaya di kota nya. Ia memiliki seorang putra yang bernama damar. Namun, sebelum damar mewarisi semua harta kekayaan nya, ia memberikan syarat pada sang putra untuk menikahi luna, putri dari sahabat nya dulu sewaktu sekolah.
"Aku tidak akan menikahi gadis itu ayah, Sampai kapanpun aku tidak akan menikahinya titik." Ucap damar
"Jika kamu terus menolak, maka silahkan keluar dari rumah ini sekarang juga dan serahkan semua fasilitas yang telah ayah berikan." Ucap hartawan lantang.
"Sudah, ayah. Jangan terlalu keras pada anak kita, ia sudah besar biarkan ia memilih pilihan nya sendiri." Bela rosa istri hartawan.
"Tidak bisa bu, hai damar mau kemana kamu.? Ayah belum selesai bicara." Tanya hartawan, saat melihat damar yang akan keluar.
"Sudahlah, ayah. Bebas kan aku, kenapa ayah memberikan syarat yang begitu berat.? Apa ayah tidak sayang denganku.?" Tanya nya.
"Lihat lah, bu. Ini kah hasil didikan mu selama ini.? Aku cape cape untuk semua keluarga kita, tapi apa.? Anak ku satu satunya selalu membantah printahku." Ucap hartawan, kecewa dengan perkataan damar padanya.
Hartawan berlalu pergi, meninggalkan ibu dan anak itu. Ia merasa kecewa dengan sikap damar, ia hanya ingin membalas budi pada sang sahabat.
Karena dulu. Saat orang tua hartawan bangkrut, orang tua roy lah yang membantu nya. Bahkan rosa dan hartawan pun menikah karena perjodohan.
Almarhum ibunda, rosa. Dulu memiliki hutang yang sangat banyak pada bumi hartawan, Sang ayah hartawan.
Itulah sebabnya, rosa tidak ingin anaknya mengalami hal yang sama sepeti mereka, tapi ia juga tidak bisa mengelak. Bahwa memang benar ayah mertuanya dulu pernah memiliki hutang budi pada roy ayah dari luna.
Hati hartawan sangat kesal dengan sikap sang anak. Ia merasa tidak ada harga dirinya, di depan putra nya itu.
Ia juga merasa telah gagal. Karena sedari dulu ia tidak pernah memberikan perhatian pada sang anak, bahkan ia pernah berselingkuh dengan seorang wanita penghibur.
Tok
Tok
Tok
"Ayah. Apa ayah masih marah dengan putra kita.?" Tanya sang istri
"Aku hanya ingin membalas budi. Pada keluarga mereka bu, itu saja." Jawab hartawan
"Ayah. Jangan lakukan hal yang sama persis dengan apa yang orang tua kita lakukan dulu, biarkan anak itu dengan pilihannya sendiri." Jelas rosa
"Kamu trus saja membela anak mu itu, pantas saja ia sekarang berani membatah perintah ku, begini kah kau membalaskan semua rosa.? Jika seperti ini menyesal aku menikahi mu dulu." Ucap hartawan lantang
"Maksud mu apa mas.? Kalau dulu tak ada hutang piutang antara keluarga kita, aku juga tak ingin menikah dengan mu mas. Aku sudah memiliki kekasih, tapi sayang aku harus patuh pada orang tua ku dan menikah denganmu." Tangis rosa pecah, ia merasa kecewa dengan penuturan sang suami.
"Arghhhhh sudah lah. Berada di rumah semakin membuat ku pusing saja, terserah kamu mau bicara apapun itu. Intinya aku akan tetap menikahkan putraku dengan luna anak roy, suka atau tidak ia harus terima." Hartawan berlalu pergi. Meninggalkan sang istri yang sedang menangis karena sikap nya, yang trus egois.
"Pergi sana, bersenang senanglah dengan para wanita penghibur mu itu." Usir rosa.
"Dengan senang hati." Hartawan benar benar pergi meninggalkan sang istri, meskipun rosa sedang menangis.
Ia benar benar pergi menuju sebuah club' malam terkenal di kotanya, di sana ia bertemu dengan teman teman sesama pengusaha hidung belang.
Setelah sekian lama ia berada di club' malam itu, ia memutuskan untuk kembali pulang, awalnya ia tidak ingin kembali setelah bersenang senang dengan para LC di sana.
Namun, salah satu teman nya memaksa ia harus pulang, apa lagi ia dan sang istri sedang di landa masalah.
"Sudahlah aku tidak ingin pulang, istriku seperti binatang. Ia tidak mengerti dengan semua ini, lebih baik aku bermain dengan para wanita cantik ini." Ucap nya
"Lebih baik kamu pulang har. Selesaikan masalah mu dengan istri dan anakmu di rumah, bukan seperti ini. Bagaimana jika ada pemberitaan mengenai mu lagi.? Ingat dulu kamu hampir celaka atas ulah mu sendiri, dan jangan ulangi kesalahan yang sama."
"Roy, pasti akan mengerti itu. Aku yakin ia tidak akan memaksakan kehendak nya, ia orang baik meskipun ia miskin tapi ia tidak akan memanfaatkan mu." Sambung nya
"Aku tidak peduli, bagiku janji tetap janji. Dan alangkah lebih baik lagi, kamu tidak perlu ikut campur urusan ku yang satu ini." Jawab hartawan. Memang ia sangat keras kepala dan tidak mau di bantah, hanya almrum orang tua nya lah yang bisa mengalahkan ego nya.
Ia mencontoh perilaku sang ayah, dulu sang ayah juga memperlakukan ibunya seperti ini, bahkan ia dengan tega mengurung sang ibu di kamar mandi karena intan tak mau menuruti kemauan sang ayah.
"Kamu tau. Aku dulu menikah dengan rosa karena terpaksa, kamu tau bukan seperti apa ayah ku.? Dan pasti kamu juga tau bagaimana ia mendidik ku dengan sangat keras. Aku menyesal telah melepaskan rosa mengasuh damar, dan lihat ia sekarang menjadi anak pembangkang, ia membantah ku. Aku kecewa dengan istriku itu,, seharusnya ia merayu anakku agar damar mau menikahi luna."
"Luna anak yang cantik. Ia juga sexi, dulu saat aku bangkrut roy lah yang membantuku, bahkan kamu tau persis bagaimana kisah ku dengan roy." Sambung nya.
"Ya aku tau itu. Tapi tak semestinya kamu melakukan hal yang sama pada putramu har, ia sudah dewasa biarkan ia bebas."
"Sudah cukup, biarkan aku bersenang senang dulu dengan para wanita ini. Dan dimana mantan ku berada.? Indah si gadis cantik itu.?"
"Indah sudah keluar om, ia menikah dengan salah satu pelanggan nya." Ucap salah satu wanita itu.
"Hmm. Baiklah layani aku sekarang." Titah nya.
Dan para wanita itu pun melayani nya dengan semangat. Setelah satu jam bermain, ia menyudahi permainannya, ia putuskan untuk kembali pulang.
"Sudah hentikan. Ini bayaran untuk kalian, dan cepat bersihkan bekas nya, aku akan pulang." Perintah nya pada para gadis.
Bahkan ia tidak tau malu lagi, ia bermain di depan sang temannya.
"Aku pulang." Ucapnya yang di balas dengan anggukan.
"Hallo. Dimana kamu.? Saya akan pulang cepat tunggu saya di lobby saya tidak ingin menunggu." Ia mengakhiri telfonnya dengan sang supir.
Sepanjang perjalanan ia hanya sibuk dengan ponselnya, ia sedang berkomunikasi dengan roy sang sahabat, ia berjanji akan terus membujuk putranya untuk menikahi luna putri dari roy sahabatnya itu.
Aku tidak akan menerima perjodohan ini, bahkan aku tidak mengenali perempuan itu, bisa bisa nya ayah menjodohkan aku dengan prempuan itu.
Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau menikah dengan nya, aku tidak peduli dengan perjanjian itu, toh bukan aku yang membuat sebuah perjanjian yang tidak masuk akal itu.
Aku pergi meninggalkan ibu dan ayah. Aku masuk ke dalam kamar, dan tak mau berbicara lagi dengan mereka.
Apa sih hebatnya perempuan itu.? Sampai ayah trus menerus mau menjodohkan aku dengannya. Apa ayah tidak ada pilihan lain.?
Saat aku berada di kamar, samar samar aku mendengar teriakan ibu, meneriaki ayah. Aku tak tau apa yang terjadi, tak pernah sekalipun mereka bertengkar sampai triak triak seperti itu.
Aku menguping pembicaraan mereka dari balik pintu kamar, ayah memaki maki ibu, bahkan aku tidak pernah melihat ayah semarah ini pada ibu.
"Ini semua gara gara kamu."
"Kenapa aku mas.? Kenapa kamu selalu menyalahkan aku.? Lalu dimana peran mu selama ini mas.? Apa kamu selalu membantu ku.? Bahkan kamu sibuk dengan para lonte di luar sana."
"Jaga mulut mu itu, aku seperti ini karena ulah mu, rosa. Apa kamu tidak sadar hah.? Dulu setelah damar lahir, kamu pergi meninggalkan kami, dan kamu kembali lagi dalam keadaan hamil. Untung saja anak haram itu keguguran, kalau tidak sudah lama aku ceraikan kamu."
"Mas, cukup. Kita sudah sepakat untuk tidak membahas ini lagi, tapi kenapa kamu masih membahas itu semua mas.?"
"Karena kamu, mencoba menyudutkan aku, andai saja ayahmu tidak berhutang pada ayahku mungkin aku tidak akan menikahi gadis pelacur seperti mu."
Plakk
"Aku bilang cukup mas."
Aku masih mendengarkan pertengkaran mereka, aku tidak menyangka bahwa ibu telah tega berbuat seperti itu pada ayah.
Apa lagi yang aku tidak ketahui soal ibu.? Aku harus ikut perintah siapa.? Ayah atau ibu.? Aku bingung.
Ayah berjalan menuju arah kamar ku. Dengan cepat aku buru buru masuk lagi ke dalam kamar, aku berpura pura tiduran di kasur. Aku tidak tau apa yang akan ayah lakukan padaku.
Dorr... Dorr... Dorrr
"Damar. Buka pintunya sekarang juga. Kalau tidak aku akan dobrak pintu ini."
Ceklekk
"Apa ayah.?"
"Minggu depan kita akan kekampung, kita akan temui calon istrimu di sana, jangan berani beraninya kamu mencoba untuk kabur dan menolak ini semua. Jangan seperti ibumu yang pelacur itu."
"Tapi ayah..."
"Aku tidak terima penolakan apapun itu."
Hufff. Ayah selalu saja egois, ia tidak pernah menanyai ku tentang apa yang aku mau. Bahkan sampai sekarang aku sudah menjadi CEO pun, ayah tetap mengatur ku.
Mau tak mau aku harus menuruti nya. Kali ini saja, aku akan menuruti kemauan ayah tapi aku harus mengajukan syarat untuknya.
Ya aku harus memberikan syarat pada ayah. Agar ia tidak semena mena lagi padaku, aku tidak mau terus menerus seperti ini.
Keesokan harinya....
Saat aku turun, dan menuju ruang makan, aku melihat ayah dan ibu sedang sarapan. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk bicara. Aku duduk di kursi ku dan mulai mengambil sarapan, aku melihat ibu dan ayah seperti tidak pernah terjadi apapun.
"Aku akan menerima perjodohan ini." Tanya ibu padaku, sepetinya ia merasa khawatir padaku.
"Apaan sih rosa, anak kita sudah setuju dengan semua ini jadi lebih baik kamu diam saja."
"Tapi
Uhuk... Uhukkk....
Ibu terbatuk mendengar penuturan ku itu, tapi ayah terlihat biasa saja.
"Apa kamu serius nak.? Kamu tidak terpaksa kan.?" Tanya ibu padaku, seperti nya ia merasa khwd
"Apaan sih rosa, anak kita ini sudah setuju jadi lebih baik kamu diam saja."
"Tapi aku memiliki syarat ayah."
"Apa itu.? Katakan lah."
"Baiklah, aku akan menerima nya sebagai istriku. Tapi setelah ijab Kabul itu di ucapkan, maka akulah yang berkuasa atas luna. Jadi ayah dan ibu diam saja tidak perlu ikut campur urusan ku dengannya."
"Itu bisa di bicarakan nanti saat kita berkunjung ke rumah sahabat ayah."
"Baiklah. Kalau begitu aku ke kantor dulu, ibu aku pamit ya."
"Iya nak, hati hati di jalan ya sayang. Semoga keputuasaan mu tepat."
Aku mengangguk dan berjalan meninggalkan mereka, semoga saja aku tidak salah jalan, aku tak ingin melihat ibu dan ayah selalu bertengkar dengan masalah ini semua.
Biarlah aku yang berkorban, aku tak tega melihat ibu menangis sepanjang malam.
Tak terasa aku pun sudah sampai di kantor, aku langsung menuju ke arah ruanganku, sebenarnya di kantor banyak sekali bawahanku yang cantik cantik dan pintar, bahkan sexi.
Tapi kenapa ayah memilih menikah kan aku dengan anak temannya itu.? Apa hanya karena balas budi lalu melupakan kemauan seorang anak.? Apa begini cara orang tua, orang tua bersikap.? Sungguh aku tidak mengerti jalan pemikiran mereka.
Bahkan ayah yang seorang direktur utama pun, memiliki pemikiran seperti itu, kenapa tidak berikan modal saja pada mereka untuk membuka usaha.? Tanpa adanya pernikahan.
Aku duduk termenung di dalam ruanganku, bahkan aku tidak menyadari kedatangan riki, asisten sekaligus sahabat ku.
"Melamunn aja sih, kenapa.?"
"Kapan datang.?"
"Eh ditanya malah nanya balik, aku baru datang barusan, mikirin apa sih.?"
"Aku di jodohkan dengan anaknya sahabat ayah."
"Seriusan.? Siapa.? Cantik ga.?"
"Mana ku tau, ketemu aja belum, rencananya Minggu depan mau ketemu. Tapi rasanya malas lah, tapi kalau aku nolak, ayah menarik semua fasilitas. Bahkan ia menggantikan posisi ku anak buahnya."
"Udah terima aja Napa sih. Mana tau kan cantik dan sexi."
"Yee kamu mh."
Hari ini pekerjaan ku di kantor, tidak aku kerjakan sama sekali, karena pikiran ku tidak tentu kemana arahnya. Bahkan aku tak bisa berpikir jernih sekalipun.
Saat jam kantor bubar, aku putuskan singgah terlebih dahulu ke sebuah cafe. Rasanya mumet saja kalau langsung ke rumah, pasti pembahasan nya tentang perjodohan ini trus.
Aku duduk seorang diri sambil minum kopi, tapi saat aku sedang menikmati hidup, tiba tiba hp ku berdering saat aku lihat ternyata ibu yang menelfon. Tumben sekali, ada apa ibu menelfon ku.?
Memang ibu jarang sekali menelfon, kalau bukan masalah yang sangat penting dan darurat, karena ibu tak ingin menganggu aktivitas ku.
"Hallo bu."
"Dimana kamu nak.? Pulang lah nak, ibu ingin bicara denganmu, cepat pulang sebelum ayahmu kembali, ia akan kembali pukul delapan malam nanti. Jadi kita masih ada waktu beberapa jam, jadi cepatlah."
"Baik bu." Tuttt, ibu langsung memutuskan telfonnya, dan aku bergegas untuk pulang, aku penasaran apa yang akan ibu bicarakan padaku.? Sepertinya sangat penting.
Sepanjang perjalanan aku trus memikirkan semuanya, hingga akhirnya aku sampai di depan rumah, ternyata ibu sudah menungguku.
"Hai bu, ngapain ibu tungguin aku
"Ayok cepat masuk nak. kita bicara di dalam kamar mu saja, biar nanti jika ayah mu pulang ia tidak akan tau."
"Baik bu, tapi sebenarnya ada apa ini.?"
"Nanti ibu ceritakan."
Kami pun berjalan menuju kamarku, aku tak tau apa yang akan ibu ceritakan padaku, saat sudah sampai di dalam kamarku. Terlihat ibu menarik nafas dalam, sepertinya ia berat untuk bercerita tapi kenapa.?
"Nak, kemariah. Ayah ingin bicara denganmu"
"Ada apa ayah.?"
"Nak, kamu sayang dengan ayah.?"
"Tentu saja. Kenapa ayah bertanya seperti itu.? Ada apa ayah katakan lah."
"Begini, minggu depan akan ada rombongan keluarga hartawan yang akan kemari, ia akan melamar mu nak."
"Bagaimana mungkin bisa ayah.? Sedangkan aku saja tidak mengenal mereka, bahkan aku tidak tau akan di lamar oleh siapa.?"
"Kamu akan di lamar untuk putra hartawan, yaitu damar hartawan, terimalah lamaran itu nak. Bantu ayah, jangan malukan ayah kita sudah hidup miskin seperti ini."
"Tapi ayah..."
"Dengar kan permintaan ayah nak, anggap saja ini permintaan terakhir ayah di sisa hidup ayah. Jika kamu sayang ayah, maka terimalah lamaran itu dan jangan buat kecewa ayahmu ini, layani suamimu, berbaktilah padanya nak."
"Biarkan aku berpiki dulu ayah, berikan aku waktu."
"Baiklah nak."
Maafkan ayah luna, ayah tak ada pilihan lain. Ayah tak mau melihat mu terus menerus hidup susah, dan di hina oleh orang lain. Kamu mewarisi watak ibumu, yang baik hati.
Semoga kamu tidak membuatku malu luna.
"Mas. Bagaimana mungkin kita menikah kan putri kita satu satunya, dengan lelaki yang kita tidak kenal.?"
"Kita mengenalnya bu, ia putra dari hartawan sahabat ayah dulu."
"Tapi putri kita bagaimana.? Jangan karena ayah sudah bersahabat lama dengan nya, jadi ayah mengorbankan putri kita satu satunya."
"Ayah tetap akan menikahkannya. Dengan atau tidak persetujuan dari ibu."
"Terserah ayah lah."
Bagaimana pun caranya, mereka harus tetap menikah karena aku sudah bosan hidup miskin seperti ini. Bahkan aku sudah sangat muak dengan kehidupan ku di kampung, kehidupan ku di kampung sangat berbeda jauh. Dengan kehidupan ku di kota.
Andai saja dulu aku tidak tergiur dengan judi online, dan para wanita jalang, mungkin sampai saat ini aku masih menjadi orang kaya.
Beruntung
Tak ada satu orang pun teman yang mau menoleh ke arahku, beruntung hartawan mau menolong ku, dan kami pun memang sejak awal sudah mengsepakati untuk menikahkan kedua anak kami.
Terlalu banyak orang orang yang menghina ku di kampung ini. Mereka menganggap keluarga ku sangatlah miskin, bahkan tak jarang para lelaki di kampung ingin melecehkan putriku.
Setiap kali aku mengancam akan melaporkan mereka. Mereka selalu mencemooh dan menghina ku habis habisan.
"Hey, kapan kamu melunasi hutang mu itu.?"
"Nanti aku lunasi, sekarang aku belum pegang uang."
"Alah kamu ini, alasan saja bisanya."
"Tunggu putriku menikah, dan akan aku bayar semua hutang ku."
"Baiklah awas bohong ya."
Inilah yang aku tidak suka tinggal disini, orang orang nya tidak sabaran, dan pastinya.
Kalau bukan karena aku yang menolong hartawan dulu, mungkin aku tidak akan bisa menikahkan putriku, dengan orang kaya sepertinya.
Yang ku dengar, ia sekarang sudah menjadi orang terkaya nomor satu di kota ini, semakin beruntung aku jika putriku menikah dengan putranya.
Malam hari tiba...
"Ayah. Aku sudah memutuskan keputusannya."
"Ya nak. Katakan lah."
"Aku bersedia untuk menikah dengan putra sahabat ayah. Tapi ayah, apa ia bisa menerima ku.? Sama hal nya aku menerima dia."
"Ia pasti akan sangat senang nak. Jika seperti itu, ayah akan hubungi hartawan, untuk mempercepat proses nya."
"Terimakasih banyak nak, lihat bu. Anak kita akan menikah dengan orang kaya, dan kita tidak akan hidup miskin lagi."
"Terserah ayah saja."
Senang rasanya putriku sudah mau di jodohkan, sesudah mendengar kan kabar itu, aku langsung menghubungi hartawan, untuk memberitahu kannya. Dan ternyata damar pun mau menerima putriku.
Aku sudah tidak sabar, menunggu pertemuan itu. Pasti semua warga di sini akan kaget, saat melihat mobil mewah datang ke rumah ku yang gubug ini.
Akan ku beli semua omongan mereka, awas saja mereka, yang sudah menghina ku. Jangan sampai menyesal.
Aku tidur dengan nyenyak, bahkan sebelum tidur aku meminta jatah pada sita istriku.
"Sayang. Aku sedang ingin, dan layani aku."
"Tapi mas. Aku sedang datang bulan."
"Layani aku cepat."
Sita langsung, melayaniku dengan semangat. Tak lupa aku memakai pengaman, karena sita sedang datang bulan. Kebetulan biarpun rumah ku gubug, dan sederhana tapi semua kamar di dalam sini kedap suara, jadi mau berteriak sekencang apapun tidak akan terdengar keluar.
"Ahhhhh ahhh... Sayang... Ayok hisap trus sayang..."
"Ahhh..."
Ku tarik sita, sampai ia terlentang, lalu aku masukkan rudal ku kedalamnya, dengan sekali hentakan.
"Ahhhh...... Mas sakit...... Sudah mas... Aku tidak kuat sakit..."
Tapi aku tidak mengindahkan perkataan nya, dan terus melanjutkan aktifitas ku.
Plok.. plok... Plok....
Suara tubuh kami menyatu, hampir dua jam aku dan sita bermain. Sepertinya sudah lama aku tidak senafsu ini, dan baru kali ini aku nafsu kembali.
Ku lirik sita, ia menangis menahan sakit akibat aktivitas ku tadi. Biar lah ia menangis, aku tak peduli. Banyak bercak darah di seprai kami.
Aku sudah tidak sabar, untuk pertemuan itu, dan menurut hartawan. Ia akan memajukan pertemuan kami. Mungkin lusa ia dan keluarganya akan datang kemari. Semakin cepat maka semakin baik.
Hari pertemuan pun tiba.
Aku menyuruh luna, untuk berdandan dengan sangat cantik, aku tak ingin membuat kesan pertama ini brantakan.
Sedangkan sita, aku suruh ia juga berdandan dengan cantik, aku tak ingin ia kalah cantiknya dengan rosa istri dari hartawan.
Tepat pukul sembilan pagi, rombongan hartawan tiba di rumah ku, kami menyambut nya dengan sangat baik. Bahkan terlihat para tetangga lainnya terheran heran melihat mobil mewah terparkir di halamanku.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumssalam, hartawan. Sahabat lamaku, apa kabarmu kawan.?"
"Roy. Kabarku baik, bagaimana denganmu.? Mana calon menantuku.? Dan ini kenalkan, damar putraku."
"Ada di dalam. ayok mari masuk."
"Sita, ajak Luna kemari. Tamu kita sudah datang."
"Baik mas."
"Tampan sekali calon menantuku ini. Sama seperti ayah nya hahahaha."
"Hahaha ada ada saja kamu ini Roy. Oh ya apa pekerjaan mu sekarang.?"
"Aku tidak ada pekerjaan, bahkan hutang ku banyak di warung warung."
"Kalau begitu, ikut lah kami ke kota. Bekerjalah di perusahaan ku, tidak usah sungkan karena kita sebentar lagi akan menjadi keluarga."
Tak lama kemudian luna dan sita pun bergabung dengan kami, sungguh cantik sekali dua bidadari ku ini.
"Akan ku bicarakan dulu dengan istriku, nah itu mereka sudah muncul, kenalkan ini putriku luna."
"Luna om, Tante."
"Ayah. Cantik sekali calon menantu kita. Aku sudah tidak sabar, untuk mempersunting nya."
"Kamu benar bu, tidak salah bukan aku memilih nya untuk menjadi menantu kita."
Sungguh senang sekali rasanya aku mendengar pujian mereka, tidak aku menyuruh luna untuk berdandan cantik.
Acara kami lanjutkan, dengan makan makan bersama, setelah makan makan. Terlihat damar mengajak luna, untuk berbicara. Aku biarkan mereka saling mengenal, karena sebentar lagi mereka akan satu atap. Bahkan satu rumah.
Setelah beberapa saat, mereka kembali bergabung dengan kami, damar memberikan syarat pada kami, bahwa setelah ijab Kabul. Kami tidak di perbolehkan ikut campur, dalam urusan rumah tangga mereka, meskipun mereka tinggal satu rumah dengan hartawa dan rosa.
Bagi kami itu bukan masalah yang besar, selagi tidak ada kata perceraian, kami mendukung apapun itu. Yang penting anakku tidak di ceraikan, olehnya.