Bab 1

"Gue udah bilang sama lo!! Jangan sekali-kali dengerin omongan temen lonte lu!! Mana ada gue selingkuh. Coba tanya temen lu! Dimana dia liat gue bawa cewek, hah?!!! Dimana?!!"

Ayah mencengkram lengan ibu dengan mata melotot tajam, bola matanya memerah memandang ibu yang menunduk pilu sambil menangis, surainya berantakan dan wajah ibu begitu tersiksa namun tak bisa lepas.

Ibu sesegukan dalam cengkraman ayah, aku diam memeluk tubuh di pojok ruangan. Ini bukan tontonan baru bagiku ketika ayah murka kepada ibu yang meminta cerai karena tak kuat. Ayah selalu begitu, tidak pernah berubah walau sering meminta maaf setelahnya.

Maafnya hanya di mulut, tidak pernah sampai ke hati.

Aku dengar suara teriakan nenek yang keluar meminta tolong, sebab ayah seperti orang kerasukan. Sempat mengambil barang apa saja untuk ia lempar kepada ibu, bahkan sampai mengenai kepalaku. Aku menangis, tentu saja. Aku hanya bocah 13 tahun yang tidak berdaya, tidak begitu mengerti cara membela diri.

Tapi dalam hati aku berucap syukur, adik lelakiku tengah bermain disaat kedua orang tuaku bertengkar hebat lagi, para tetangga datang untuk melerai pertengkaran ibu dan ayah. Pun tubuhku yang diraup oleh seseorang yang entah siapa, sampai aku memeluk tubuhnya erat kemudian mendengar suara lelaki yang kukenali.

"Sudah... Gapapa, disini ada abang. Nggak usah takut, nanti kalau ayah sama ibu berantem lagi. Keluar aja nyari abang atau kerumah ende Iwan, jangan didalam rumah aja, ya. Hm...?"

Ia mengusap belakang kepalaku pun punggung ringkihku, menenangkan sekali. Aku merasa aman dalam dekapannya jadi aku mengangguk sembari sesegukan.

"Setan lo!! Awas aja kalau sampe lu masih temenan ama itu lonte!! Gue cekek mati, babi!"

Ayah terus berteriak walau sudah dipegangi oleh tiga orang warga. Ibu sudah dibawa keluar oleh ibu-ibu yang aku tidak lihat siapa. Ibu memang bukan wanita baik-baik, tapi ibu wanita yang mencoba belajar patuh pada suaminya. Hanya lingkup teman-temannya saja yang kotor, sejak ayah ketahuan selingkuh saat ibu melahirkan adik lelakiku.

Ayah tidak datang, dia entah ada dimana sampai teman ibu membagikan poto ayah sedang berciuman di dalam club dengan perempuan lain yang di kata teman ibu adalah selingkuhannya selama ini.

Parahnya lagi, aku melihat poto itu. Tidak. Aku di paksa untuk melihat. Ibu yang lelah menjadi murka tanpa pandang bulu ia sodorkan gambar itu padaku yang berusia 10 tahun ketika itu. Ibu berteriak marah sambil memegangi kepalaku agar melihat kelakuan ayah dari layar ponsel ibu.

"Liat!! Liat gimana ayah kamu kelakuannya!! Laki-laki gak bener kaya begini, sudah seharusnya dari dulu ibu tinggalkan. Liat gimana bejatnya ayah yang kamu hormati, kak!!"

Aku ingin mengelak tapi kepalaku dicengkeram kuat oleh ibu. Jadi aku memejamkan mata tapi ibu malah berteriak kencang semakin tidak terkontrol.

"Buka mata kamu, kak!! Jangan pejamkan. Liat gimana kelakuan ayah kamu!! Benci dia, dia yang sudah buat kita sengsara kak, dia yang suka pergi tanpa mikirin gimana perut kamu sudah kenyang atau belum, gimana bayaran sekolah kamu!!! Gimana mulut kotor itu memaki ibu dan kamu!"

Aku tentu berteriak sambil menangis ketakutan, karena tingkah ibu yang seperti orang kesetanan. Ibu memukul dadanya setelah melepas kepalaku, beliau terlihat tersiksa sekali akan rasa sakitnya tapi saat itu aku tidak mengerti.

Aku berlari keluar menuju kamar nenek. Aku yang kecil tentu saja tidak paham apa yang terjadi dengan benar, aku hanya mengadu jika ibu menjambak kepalaku dan memperlihatkan poto ayah sedang berciuman dengan perempuan yang bukan ibu.

Nenek marah dan mendatangi kamar ibu kemudian menampar ibu yang tengah menangis. Nenek berteriak tidak karuan di dalam kamar ibu, aku tidak berani masuk. Suara nenek dan ibu bersahutan sangat menyeramkan. Ketika itu aku ketakutan bukan main, jadi aku berlari keluar pukul sembilan malam untuk mengetuk rumah abang.

Setelahnya ibu selalu murung, ibu layaknya mayat hidup. Apalagi ayah semakin menjadi dengan pulang tengah malam bahkan ketika pagi akan datang. Aku jadi sering mendengar suara ayah di malam hari yang sedang menelpon dengan rayu-rayuan dan ucapan vulgar entah dengan siapa. Dan disitu ibu ada di sisiku tengah menidurkan adik lelakiku yang rewel ditengah malam.

Ibu menatap kosong wajah adik, tidak lagi berteriak ataupun memaki jikalau mendengar ayah menelpon selingkuhannya. Aku jadi menutup diri sejak pertengkaran hebat ibu dan ayah. Aku dikucilkan, di katai anak brokenhome. Padahal waktu itu aku belum tau apa itu brokenhome, aku hanya tau mereka mengatai keluargaku yang tidak harmonis dan suka bertengkar.

Ibu akhirnya kabur dan menggugat ayah tanpa mau ada mediasi, ayah tidak terima dan sempat mengamuk di pengadilan sebab ibu memberikan bukti KDRT dan perselingkuhan ayah untuk menguatkan gugatan cerai.

Sebulan setelah itu ayah membawa wanita baru dan ibu bekerja entah dimana, aku hanya sesekali ditelepon dengan rasa rindu yang memeluk erat. Aku rindu ibu pun adikku juga sering bertanya ketika itu, kemana ibu pergi. Ayah tidak memedulikan kita berdua.

Kami terlantar, sampai kabar nenek meninggal membuat aku semakin sedih. Ditambah sejak saat itu, ayah seakan hanya memiliki tanggung jawab pada dirinya saja, tak mengingat aku maupun adikku.

Uang jajanku dan adik berkurang. Ibu sulit aku hubungi dan ayah sering berteriak membentak pada kami. Aku sering kali melihat adik lelakiku memandangi temannya yang jajan namun ia tidak. Kami sering kelaparan. Kemudian waktu berjalan cepat, aku sudah berusia 17 tahun dan masih melanjutkan sekolah sampai jenjang SMA.

Aku mulai kewalahan membayar uang sekolah bersama uang jajan adikku, hampir putus sekolah. Sampai teman ibuku menawarkan pekerjaan yang gajihnya lumayan dalam semalam, ia bilang waktu itu kepadaku yang berumur 17 tahun.

"Pekerjaanmu di akhir pekan saja, dan kamu hanya perlu menuangkan minuman kedalam gelas orang-orang disana."

***

Suara tawa berat bersorakan ketika salah seorang berjas yang sudah terbuka kancingnya. Berdiri diatas meja dan meminum gelas berisi cairan emas di hadapan teman-temannya, kebanyakan dari mereka sudah memiliki istri dan anak. Aku menuangkan lagi botol beralkohol ini kedalam gelas lelaki dewasa yang kutahu sudah mempunyai dua anak remaja.

Dia cukup tampan dan mapan tentunya, sebab dialah yang menyewa tempat dan beberapa wanita penghibur termasuk diriku.

"Kamu benar-benar tidak mau ngamar denganku ya? Padahal aku sengaja terus menyewa kamu." Dia memulai percakapan.

Namanya pak Yazid, sebenarnya banyak dari teman seprofesi denganku naksir dengan beliau tapi tidak diindahkan walau mereka sengaja merayu dengan pakaian vulgar sekalipun. Beliau malah menawarkan aku untuk ke hotel dan bisa berlanjut sebagai sugar babynya. Ucapannya sering kali sangat vulgar dan bersikap kurang ajar, tapi ini pekerjaanku.

Kemudian Aku bilang."Aku tidak menjual diri pak, hanya sebagai wanita pesanan untuk sekedar menemani minum saja." Setelah itu aku malah dicela.

Katanya tidak mungkin aku bekerja menemani saja, pasti aku juga menjual diriku. Sial, memang kebanyakan dari temanku berujung menjual diri. Sebab bookingannya lumayan untuk kami yang awam. Apalagi jika masih perawan harganya bisa selangit, walau tidak seperti artis yang semalam saja bisa seharga 80 juta.

"Seharusnya kamu jangan jual mahal, padahal saya sudah tawarkan tiga kali lipat dari bayaran semalam kamu menemani minum." Tangan pak Yazid yang kasar mengusap pahaku yang terbuka.

Sekarang aku menggunakan pakaian yang super ketat sana sini, kurang bahan sana sini dan sangat menonjolkan kesan seorang wanita malam. Ini pakaian kerjaku selama menemani pelanggan minum, aku menerima apapun perlakuan mereka. Sebab kami di jamin tidak akan terjadi hal paling buruk bagi kami jika tidak ada kesepakatan mau sama mau antar kami dan pelanggan.

Bos memikirkan kami sebagai prodaknya, agar selalu bersih dan cantik. Kami adalah boneka porselin bagi bos.

Pak Yazid ini tumben sekali, memesan diriku masih dengan pakaian formal yang dia pertahankan kerapihannya. Seperti akan melakukan pertemuan, karena memang malam ini aku pun di berikan pakaian yang berbeda warna dan polanya walau masih sama ketat dan seksi. Bahkan bisa di katakan, aku seperti telanjang saat ini.

Jari panjangnya mulai meraba paha dalamku, aku menahannya dan memindahkan telapak kasar itu kearah payudaraku. Aku mendesis nyeri ketika ia meremas kuat dengan wajah mesumnya, matanya menatap tepat dimataku.

Menunggu reaksiku menerima tawarannya, aku menengadah ketika ia mencium leherku perlahan. Mengabaikan suara bising dari teman-teman satu kerja pak Yazid yang mulai hilang akal dimakan alkohol.

"Katakan kalau kamu mau aku masuki... Katakan kalau kamu mau aku ada di dalam kemaluanmu yang panas itu... Maka aku akan dengan senang hati memuaskannya..."

Ini sudah sering terjadi, jadi aku sudah lumayan mengasah birahiku ketika dipermainkan oleh pelanggan yang ingin tidur denganku.

Aku hanya mendesah tidak mengiyakan, hanya menikmati dengan kebohongan. Ketika mulutnya mencium dan mengulum payudaraku dari luar pakaian ketat yang kugunakan. Tangannya tidak tinggal diam, ia mengusap paha dalamku sampai kedalam sana. Aku melenguh dengan hati menjerit, merapatkan kaki dan mencengkram tangannya.

Tuhan, aku berhenti pada pekerjaan menjijikan ini. Tapi, pantaskah dia masih menyebut nama tuhan saat dia sering kali berpaling?

"Ekhem!!"

Pak Yazid mengangkat wajahnya dari atas payudaraku dan aku menunduk untuk melihat baju bagian payudaraku basah oleh air liurnya.

"Pak Keenan!! Saya kira bapak tidak akan datang kemari, mari pak. Sudah ada ruangan khusus dengan pelayanan VIP," ucap pak Yazid memandu pria itu.

Aku hanya duduk menunduk membenahi pakaianku, sebelum berdiri menuju ke sofa lain yang berisikan laki-laki tidak masuk akal yang tengah bercumbu panas dengan temanku. Sampai aku menyadari, ada pria yang tadi menyelamatkanku dari kebuasan nafsu pak Yazid tengah menatapku. Aku menoleh dan terkejut kemudian. Aku diam mematung untuk beberapa saat sampai suara baritonnya yang sangat khas seorang lelaki dewasa menyebut namaku.

"Yara."

Nayara segera berkedip untuk memastikan lagi, kemudian tersenyum seakan menyapa pelanggannya.

"Selamat datang pak, apa bapak ingin saya tuangkan minum?"

"Ya."Jawabnya kaku.

Dengan itu, langkah kakinya mengikuti Yazid dan pria bernama Keenan itu kedalam ruangan VIP. Saat Yazid melihat Yara ada di dalam ruangan, bergerak mendekat menuju Keenan dia mengernyit.

Mata pria itu lekat menatap Nayara, gadis itu bergerak mengambil gelas baru yang tersedia diatas meja dan menuangkan alkohol kedalam gelasnya sampai suara pak Yazid mengintrupsi gerakannya memberikan gelas kearah lelaki berkemeja putih dihadapannya.

"Ayu, apa yang kamu lakukan. Maafkan Ayu pak, pelayanan khusus untuk bapak ada didalam kamar ekslusif tanpa alkohol. Mari pak, ikuti saya.-"

"Aku ingin Ayu melayaniku,"ujarnya sambil mengucapkan nama panggilan Nayara selama bekerja.

Keenan cepat beradaptasi, saat mendengar nama Nayara yang dipanggil Ayu. Sadar jika perempuan itu tidak menggunakan nama aslinya.

"Tapi pak, didalam sudah ada-"

"Keluarkan saja mereka, aku ingin Ayu. Bukan pelayan yang lain. Keluarkan saja mereka dari sana, saya tidak akan membuat kerjasama kita mudah."Potongnya otoriter, suara tegas tanpa mau ditolak.

"B-baik pak...Ayu, mari ikut saya dan pak Keenan kedalam."

Bab 2

Ruangan VIP memang yang terbaik disini ada empat sofa besar saling berhadapan melingkari meja bundar kaca dihadapanku. Aku duduk dihadapan pria yang berhasil membungkam pak Yazid atau perlu ku sebut, pak Keenan. Aku menuangkan minuman yang tentu saja bukan alkohol.

Aku baru melihat minuman ini di sajikan untuk pelanggan, karena jarang sekali minuman ini di pesan oleh beberapa orang kantor dengan gajih UMR. Aku jadi bertanya-tanya, apa selama itu aku tidak peduli sampai tidak tau pria ini sudah menjadi orang kaya?.

Aku yang melamun setelah menyerahkan minuman ke abang terkejut ketika tangan pak Yazid lagi-lagi mangelus paha dalamku. Aku menelan ludah susah payah, menahan napas sebab tidak mau mengeluarkan suara lenguhan di depan pak Keenan. Pak Keenan melirikku tajam dari balik gelas yang sedang ia minum isinya. Ruangan VIP ini di terangi lampu berwarna biru remang-remang.

"Proposal pengajuan sudah saya serahkan ke bapak, kita hanya tinggal menunggu persetujuan untuk pembangunannya pak."

"Hm... Dari yang saya lihat, banyak pengeluaran yang tidak perlu. Saya sudah suruh Deden hitung kembali dan cek setiap harga material. Sangat mencengangkan, sebab sangat jauh berbeda dengan yang pak Yazid ajukan. Saya bisa menyuruh pihak CFO juga turun tangan?"

Suaranya berat sekali, aku suka mendengarnya. Bolehkah aku berharap abang menyapaku lagi dan menyebut namaku dari bibirnya. Jantungku berdesir hanya dengan melihat tatapannya, seakan hanya dengan menatap mata abang aku bisa langsung menyerahkan diri secara cuma-cuma. Ada yang berdesir dibawah sana.

Pak Yazid sempat berhenti berpetualang di balik baju dress di bawah. Namun kembali bergerak dalam sampai aku mengeluarkan suara lenguhan kecil, sebab walau kutahan tangan besar pak Yazid tetap sampai disana.

"Ayu, tuangankan minuman saya dari sisi saya."Pak Keenan bersuara sambil menunjuk dengan ekor matanya.

Tentu Pak Yazid dan aku terkejut, segera aku berdiri dan berpindah duduk. Sial, Wangi tubuhnya memabukkan. Aku sedikit bergetar sebab sisa-sisa kenikmatan itu masih menguasai tubuhku. Dengan tangan yang tidak stabil menuangkan minum kedalam gelas, aku yang juga merasa terintimidasi hanya dengan duduk didekat abang.

"Sesekali saya akan datang mengecek, apa sangketan tanah milik warga disana sudah dibereskan?"

"Sudah, pak Keenan. Tenang saja, untuk masalah tanah bu Edah juga sudah selesai. Walau sempat masuk pengadilan, tentu kemenangan kita dapat. Apalagi banyak tanah yang tidak memiliki bukti surat tanah kepemilikan,"

Pak Kenna mengangguk sambil membaca berkas ditangannya, gerakan tangannya saat menatap kearah berkas di tangannya sangat elegan. Padahal lampu tidak begitu terang, tapi dia berhasil membaca tiap tulisan yang ada di berkasnya.

"Tetap berikan uang 50% dari harga jual tanah mereka di awal,"

"Lalu, lokasi tanah dan sumber airnya. Jangan sampai itu menjadi kendala lagi, yang malah merugikan perusahaan sebab komentar-komentar itu sampai masuk media masa kembali. Saya bisa cabut investasi dan suntingan dana untuk beberapa pembangunan lainnya."

Dan setelahnya aku hanya menjadi pendengar dan menuang minuman serta dijauhkan dari tangan mesum pak Yazid yang sesekali menatap kearahku. Dia memang lelaki brengsek, tidak pernah melepaskan mangsanya dengan mudah seperti kucing lapar yang melihat santapan empuk.

Entah sudah berapa menit yang terlewati keduanya makan dan akupun diminta ikut makan dimeja bersama pak Keenan. Yang membuat pak Yazid terlihat tidak senang, tapi aku tidak tau apa yang membuatnya tidak senang.

Sampai meja hanya tersisa beberapa santapan yang tidak habis, keduanya berdiri dan berjabat tangan. Aku berpindah tempat berdiri didekat pintu keluar memandang kearah abang dan pak Yazid yang tersenyum merekah bahagia setelah pak Keenan menerima proposal pembangunan perumahan ditanah dekat indutri.

"Mari kalau begitu pak, silakan beristirahat. Ruangan ini sudah kami pesan khusus untuk bapak sampai esok. Mari Ayu-."

Namun sebelum lengan pak Yazid memeluk pinggangku, abang segera bersuara tegas tidak terbantahkan.

"Biarkan Ayu melayani saya,"

"T-tapi pak... Saya sudah sediakan wanita kelas satu untuk bapak nikmati-"

Lagi-lagi sebelum pak Yazid menyelesaikan ucapannya, abang menyela jengkel.

"Biarkan Ayu disini, apakah sudah jelas?"

Dengan geram pak Yazid meninggalkanku namun sebelum itu ia labuhkan tangan kasarnya diatas bokongku dan meremasnya sambil mendekatkan bibirnya pada telingaku.

"Jangan membuat masalah, turuti apa maunya."

.

.

Aku diam membisu dihadapan abang yang melepas jas armani mahalnya, melepas jam tangan mewah dari pergelangan tangan kekarnya. Aku menelan ludah susah payah ingin mengalihkan mata tapi tidak mau menyia-nyiakan melihat feromon seorang lelaki dewasa ketika melepas atribut yang ia kenakan dengan elegan dan tampan.

"Kemari Yara,"

"Hah?"

Aku tersadar dan kebingungan ketika melihatnya melepas kancing kemejanya satu persatu, aku meneguk ludah kepayahan.

'Kenapa dengan diriku?'

Suara kepalaku menggema mengolok aku yang menolak disentuh pak Yazid namun hanya melihat pak Keenan melepas semua kancing kemejanya dan menampilkan tubuh terpahat indah bak dewa yunani itu, malahan membuat sisi jalang dari diriku meronta untuk segera meminta dan merintih disentuh oleh tangan kekar nan perkasa itu.

"Aku tidak akan mengulanginya lagi. Mendekatlah Nayara."Ucapnya final yang membuat aku segera bergerak mendekat kehadapannya yang duduk di sisi ranjang kamar remang-remang itu.

Tangan kekar menarik pinggangku namun kemudian tangan hangatnya masuk kedalam inti sariku sampai aku berjengit ketika ia menyentuh dan menarik celana dalamku hingga aku terkejut lagi dan mencoba menjauh namun tertahan oleh lengan kuatnya.

"Abang!!"Tanpa sadar aku memanggilnya dengan sebutan akrab, lupa jika abang sekarang adalah pelangganku.

"Mandi, bersihkan dirimu."

Abang berucap dengan rahang mengeras, ia benar-benar melepaskan celana dalamku dan melemparnya asal. Tau jika aku sangatlah lembab, masih sangat lembab akibat permainan tangan pak Yazid yang kurang ajar.

Aku tergagap ingin menyangkal, tapi aku tidak punya daya ketika abang mendorong punggungku untuk masuk kedalam kamar mandi.

"T-ta-tapi... baju gantiku ada diruang khusus pegawai-"

"Masuk saja dulu, dan jangan keluar dengan handuk. Gunakan bathrobe!"

Dan.

BLAM!!

Pintu kamar mandi ditutup abang kencang di depan wajahku, aduh aku tidak tau. Aku akan diapakan oleh abang, aku akan menolak jika abang meminta untuk dipuaskan seperti pak Yazid dan sejenisnya. Aku bukan pelacur yang menjual harga dirinya demi uang, untuk menghidupi dirinya. Aku hanya pekerja, yang menemani pelanggan yang butuh teman minum.

.

.

Aku menarik napas dengan rakus ketika abang melepas bibirku yang dilumatnya beberapa saat yang lalu, menciumi telingaku dan dapat kurasakan bulu kudukku bersidi meremang sebab napas panas abang disana, apalagi ketika lidahnya menyentuh tepat dinadi leherku. Aku berjengit dalam desah yang tidak dapat aku kontrol.

"Ahk..."

Berawal dari aku yang disuruh abang menggunakan pakaian dihadapannya, baju yang sudah ada ketika aku keluar kamar mandi. Namun baru saja aku memakai celana dalam tubuhku sudah dibantingnya ke atas ranjang empuk nan mahal ini.

Aku sempat menjerit dan mendorong dengan penolakan bahwa aku hanya wanita untuk menemani minum bukan untuk menjadi teman tidur.

Tapi abang terlalu lihai sampai aku lemas menikmati, dan abang tau bagaimana memuja tubuh wanita agar menerima dan pasrah. Napas panasnya kini berada dihadapanku dengan bibir tebalnya yang panas abang menyusuri pipi kananku dan turun menuju leher, menciumnya disana seringan bulu sampai aku sulit menelan ludah.

"Abang."

Aku mencoba memanggil akal sehat abang, terutama diriku. Ketika jari panjangnya berjalan menyusuri payudaraku yang sudah tidak tertutup, menekan puncak menegang itu sampai tubuhku melengkung mendamba dan abang menyeringai puas.

Dan turun menuju perut, berlama-lama bermain diatas celana dalamku, dan masuk perlahan sampai aku mencoba mendorong pinggulku mendekati jari hangat itu agar segera menyentuhnya disana.

"Kenapa?"

Abang menatapku dengan tatapan yang sulit aku pahami, otakku kosong melompong. Hanya sentuhan abang yang bisa aku pikirkan, perutku tergelitik dengan rasa menyenangkan yang terus merasa kurang dengan sentuhan abang. Aku butuh sesuatu memenuhi diriku.

Aku melengkungkan tubuh sempurna sampai payudaraku menyentuh dagu kasar abang dengan angkuh, menawarkan diri untuk dilahap. Ketika jarinya berhasil menembus inti sari dari diriku perlahan dan pasti mengeluarkannya dan berhenti untuk kembali bersuara.

"Katakan, kenapa kamu berada disini? Apa yang terjadi?"

"Abang..."

Aku memegang tangan abang dan menahannya untuk bergerak lagi dan mencoba menjauhkan diri tapi tubuh abang yang besar menahan tubuh kurusku.

"Abang, ak-uhh... bukan wanita untuk ti-tidurihhh. Enghh..."

Aku gagal menolak ketika jarinya berhasil menuju pusat kenikmatanku sampai pada akhirnya aku menggila dan mendesah tidak karuan dengan bibir abang yang menunduk melumat puncak dadaku yang menantang. Aku meremas rambutnya dan meremat seprai tempat tidur, merasa kurang hanya dengan melampiaskan kenikmatan yang datang. Aku memeluk bahu lebarnya yang kokoh.

"Aku adalah pelangganmu. Jangan sebut aku abang selagi kamu bekerja."

Dan setelah itu abang kembali menenggelamkan kepalanya pada dadaku dengan jari yang terus bergerak walau aku sudah sampai dan bergetar lemas. Disana sudah sangat lembab dan dapat aku rasakan sesuatu yang mengeras dibalik celana abang, tapi abang hanya menggeram dan terus menyentuhku dengan tangan panas dan bibir seksinya.

Serta pertanyaan abang yang tidak kujawab dan diabaikan sampai abang memuaskan dirinya dihadapanku, tanpa menyatukan dirinya padaku ia bekerja dengan tangannya, aku sudah tidak berdaya dan hanya menetralkan napas juga memejamkan mata sambil mendengarkan abang yang tengah mengejar kenikmatannya sendiri tanpa penyatuan.

Tapi kenapa?

Bab 3

Ayah semakin menjadi, ia membawa selingkuhannya kerumah. Sedang aku. Masih tidak tau ibu ada dimana. Semua orang mengetahui perselingkuhan ayah dan aku tidak tau kenapa mereka bilang tidak masuk akal tentang ayahku. Sebab aku melihat kekasih ayah yang baru itu sangatlah muda, terlihat seumuran dengan abang. Dan juga gayanya lebih kekinian berbeda dengan ibu yang lebih sering menggunakan daster.

Yang tidak kupahami, kenapa semua orang dirumah berlakon tidak tau jika ayah membawa perempuan lain selain ibu. Yang aku tau dari mulut tetangga, mereka bilang ayah menduakan ibu. Katanya, itu artinya ayah sudah tidak menyayangi ibu dan kami berdua.

Kemudian ayah memperkenalkan kekasihnya padaku dan adik lelakiku, ayah bilang.

"Naya, Agha, kenalkan ini pacar ayah, namanya Maya."

Tentu aku dan Agha hanya menatap tidak paham, jika perempuan itu kekasih ayah lalu siapa ibu?

Jadi kemudian kami berdua diarahkan untuk duduk dengan perempuan bernama Maya sedangkan ayah masuk kedalam rumah mengatakan ingin membuat minum dan mengambil cemilan.

"Hei, adek udah makan belum."

Kekasih ayah berpindah tempat mendekati Agha dan tersenyum manis. Agha yang ditanya segera merengsek menjauh dan menatapku sambil memegang lengan.

"Ibu, Agha pengin ketemu ibu kak."

Mati kutu, perempuan bernama Maya itu tersenyum kikuk tidak setulus sebelumnya. Aku menatap tidak simpati kemudian paham situasi aku menarik Agha agar jangan merengek merindukan ibu jika tidak ingin ayah marah besar. Ayah itu jika marah menyeramkan, matanya melotot hampir keluar dan tangannya pasti akan menampar maupun memukul kami dengan kasar, ayah tidak pernah main-main pada kami.

Walau adikku baru berumur lima tahun, tetap saja tidak ada belas kasihan dari ayah.

"Kakak ada permen sama susu, Agha mau?"

"Nggak mau, orang Agha pengin ketemu mamah malah dikasih susu sama permen. Kakak gak jelas banget."

Agha membalas dengan ketus karena perempuan bernama Maya ini belum menyerah merayu adikku.

"Oh...Yaudah."

Aku melihat wajahnya keruh setelah Agha menjawab sarkas dengan cara bocah cilik, Maya tidak mencoba mendaki Agha lagi dan aku juga tidak bersuara hanya melihat dan menarik Agha mencoba memperingati.

Ayah datang dengan wajah cerah sekali sampai aku bertanya dalam hati.

Apa ini benar ayah yang selalu membentakku?

"Hei... kenalin bang, ini ka Maya. Udah salaman belum?"

Ah, mungkin ini memang hari sial aku dan adikku, karena ayah memperkenalkan kekasihnya pada Agha yang tidak suka. Aku bisa memperkirakan hal buruk akan terjadi jika Agha menjawab dan aku tidak segera menutup mulut kecil nakalnya.

"Agha sangat suka kak Maya, ayah. Apa aku boleh keluar bawa Agha main?"

"Oh, yaudah. Kamu bawa adik kamu main dan ini sekalian bawa Agha jajan, ya."

Oh, baik sekali ayah dihadapan perempuan bernama Maya ini. Tidak biasanya ayah memberikan uang dua puluh ribu untuk jajan aku dan adik, biasanya kami diberi sepuluh sampai lima ribu untuk jajan berdua.

Padahal tetangga bilang, ibu selalu berpesan untuk minta uang ke ayah sebab ibu sudah mengirim uang untuk jajankami berdua. Lalu, kemanakah perginya uang pemberian ibu untuk kami?

.

.

Baiklah, disinilah aku sekarang. Duduk diatas kursi pantry dengan abang yang duduk dihadapanku dengan pakaian kasual yang terlihat segar, harum tubuhnya kurang dari satu meter sudah dapat aku cium. Dan aku juga memakai pakaian baru yang abang belikan, jika kalian berpikir aku dibelikan pakaian seperti wanita dalam cerita dalam novel dengan harga selangit dan mewah.

Kalian salah besar, karena sekarang aku hanya memakai sweater rajut yang tebal dan celana traning bewarna abu-abu muda, semuanya serba panjang. Disebelah kami berdiri seorang lelaki yang abang panggil Deden, sekretarisnya.

"Pengacara sedang menyiapkan berkas pak. Mungkin belum rampung tapi bisa disahkan lebih dulu."

"Hm. Kamu boleh keluar."

Dan tinggallah kami berdua yang duduk berhadapan dengan abang yang anteng sekali makannya, cara makannya sangat elegan dan terlihat begitu keren. Aku membicarakan hal yang nyata, kamu tau cara makan chef Renatta ketika mencoba makanan peserta kan?

Begitulah kira-kira versi laki-lakinya, dengan lengan kokoh seperti Chef Juna. Kamu pasti akan merasa canggung seperti diriku. Gugup sekali aku sampai makanan pun tidak terasa nikmat, padahal dapat kulihat jika sarapan pagi ini terlihat mahal dan mewah. Bolehkah aku membungkusnya untuk kubawa pulang dan memakannya bersama Agha.

"Makan dengan benar, atau perlu aku suapi kamu?"

"Ah?"

"Makan dengan benar!"Ulangnya kemudian dengan tatapan tajam yang membuat sekujur tubuhku kaku meremang."Kamu ini memang budeg, ya?"

"Hah?"Aku tidak paham, tapi dari tatapan mata abang kemudian aku mengerti.

Dan menunduk untuk kembali fokus pada makanan milikku sampai semua bak film yang hilir mudik dikepalaku, ketika tangan kekar abang memeluk dan membelai tubuhku. Aku mendongak untuk menatap abang, bibir itu menciumi hampir seluruh tubuhnya seringan bulu sampai tubuhnya kembali meremang menyenangkan.

Tidak, aku nggak boleh mengingat apapun tentang semalam. Bagaimana tentang pekerjaanku semalam? Eh, tidak, kan sudah ada pak Yazid mungkin sudah izin dengan bosku.

Uh, keluar dari sini aku yakin teman-teman kerjaku akan mengolok-ngolok diriku. Sialan, karena abang semalam aku malah pasrah menikmati. Ya tuhan, aku tidak seharusnya begini. Tapi aku tidak menyesalinya, itu menyenangkan dan aku merasa bebas. Untuk pertama kalinya. Jadi, apa aku kini sudah kehilangan harga diriku?

"Gimana kabar kamu selama ini. Kenapa bisa sampai bekerja disini?"

Aku segera mendongak untuk melihat abang yang sedang bertopang dagu menatapku, aku yang gugup malah balik terpaku menatap abang. Seriusan, abang begitu mengintimidasi hanya dengan pandangan tajam matanya.

"Yara, Abang bertanya."

"Eh... A-aku bekerja disini sudah selama lima tahun kurang lebih."

"Kenapa, kenapa harus disini."

"Kenapa abang perlu tau?"

"Oh, tidak usah diberitahu jika kamu memang tidak mau memberitahu."Ucap abang sambil meneguk minumnya.

"Karena kebutuhan, Agha perlu uang sekolah dan kami perlu tempat tinggal baru jauh dari ayah."

Dengan sadar aku malah menjawab pertanyaan abang.

Dan abang kembali memfokuskan pandangannya padaku sambil tersenyum tipis sekali, sejujurnya sedari kecil aku tidak bisa menahan diri untuk selalu memberitahu abang tentang sesuatu yang aku alami ataupun yang aku lakukan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED