Bab 1

Los Angeles, California…

Sunset View Apartments…

Di depan cermin full body, Grace berdiri sambil memeriksa penampilannya. Wanita berusia 26 tahun itu menatap datar pada cermin, namun kecantikannya tidak berkurang sedikitpun, seperti yang banyak diakui oleh rekan-rekannya di kantor tempat dia bekerja sebagai sekretaris.

Pagi ini, Grace memakai rok hitam berpotongan lurus yang pas dengan tubuhnya, dipadukan dengan blus putih berkerah, dan setelan jas hitam yang memberikan kesan profesional dan elegan.

Rambutnya dikepang rapi dan disematkan dengan peniti berhias bunga kecil, memberikan sentuhan feminin pada penampilannya yang serba formal. 

Sepasang sepatu hak tinggi hitam menambah kesan anggun pada penampilannya. Sorot matanya yang tajam dan senyumnya yang ramah memberikan kesan percaya diri dan profesionalisme yang melekat padanya.

Setelah memastikan bahwa outfit yang membungkus tubuh rampingnya sudah sesuai keinginannya, Grace mundur dari depan cermin dan berjalan menuju meja rias. Ia duduk di kursi di sana dan mulai memoles wajahnya dengan riasan tipis seperti biasanya.

Tak berselang lama, ponselnya yang tersimpan di sisi meja rias tersebut berdering nyaring, membuat Grace sedikit tersentak kaget. Ia melirik pada layar yang tengah menyala terang dan sedikit memicingkan kedua mata saat melihat nama kontak yang sangat tidak diharapkannya.

Tuan Mario is calling...

Grace mendesah kasar sambil menjauhkan kuas make up dari wajahnya. "Dia ini mau apa sih, menelepon pagi-pagi begini?" gumamnya dengan suara terdengar kesal.

Grace awalnya mengabaikan panggilan tersebut, namun ponselnya kembali berdering untuk kedua kalinya. "Kamu benar-benar menyebalkan, Marimar!" kesalnya dengan sengaja melesetkan ketika menyebut nama si penelpon itu. 

Mengulurkan tangan, Grace menyambar ponsel itu dan membawanya dekat ke telinga. Ia menekan tombol berwarna hijau dengan penuh kekesalan sembari berkata, “Iya, ada apa?!”

“Selamat pagi, Grace,” suara berat itu menyapa.

Grace mendesah kasar. “Selamat pagi, tuan. Ada apa, Anda menghubungi saya pagi-pagi begini? Saya sedang sibuk bersiap-siap. Seharusnya Anda paham dengan rutinitas pagi saya,” ucapnya.

Terdengar helaan nafas pelan dari pria itu. “Grace, pertama-tama, kita tidak tinggal serumah, jadi bagaimana aku bisa tahu apa yang sedang kamu lakukan sekarang. Kedua, aku bukan suamimu, jadi bagaimana aku bisa paham dengan kesibukanmu? Hem, atau mungkin kau ingin menjadi istriku? Apakah pernyataanmu barusan adalah bentuk sebuah kode?”

Grace seketika terbelalak dan bibirnya menganga. Kemudian dia berdecak sambil memutar malas kedua matanya. “Dasar tidak jelas!” dengusnya. Kekesalannya semakin bertambah saat mendengar kekehan menyebalkan dari pria itu.

“Apa yang anda inginkan sampai menelepon saya sepagi ini?” tanya Grace kemudian.

“Aku ingin memberitahumu bahwa aku sudah di bawah menunggumu,” jawab pria itu.

“Saya bisa berangkat sendiri, tuan. Anda tidak perlu repot-repot,” tolak Grace.

“Yah, bagaimana dong, Grace. Aku sudah di sini dan sekarang aku menuju lift.”

“Anda mau kemana?!” pekik Grace dengan suara memekik kesal.

“Naik ke atas. Aku ingin melihat Arvind sebentar. Dia pasti merindukan daddynya ini,” jawab pria itu.

Grace semakin frustasi. “Arvind masih tidur. Anda tidak perlu naik. Tunggu saja saya di bawah.” Bohongnya.

“Ck, jangan pikir aku semudah itu mempercayaimu. Dasar pembohong!” ujar pria itu.

Grace hendak membuka bibir namun urung saat panggilan berakhir. Panggilan tersebut diakhiri oleh pria itu, membuat Grace semakin kesal.

Sementara di depan pintu unit apartemen Grace, seorang pria tampan berusia 31 tahun, Mario Adisson, kakak sulung dari atasan Grace di kantor, berdiri menjulang. Ia terkekeh pelan saat membayangkan wajah kesal Grace padanya.

Mario menekan bel dan menunggu pintu dibuka. Tak berselang lama, pintu terbuka lebar menampilkan seorang wanita sepantaran dengan Grace tengah menggendong seorang balita berusia satu tahun.

“Daddyyyy…!” Balita itu dengan antusias mengulurkan kedua lengan mungilnya pada Mario, meminta pria itu agar menggendongnya.

Mario tersenyum dan mengambil alih tubuh mungil itu. “Good morning, buddy,” kata Mario sambil mencium pipi gembul Arvind. Balita itu bernama Arvind, keponakan Grace yang telah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.

Mario pun membawa langkah memasuki apartemen Grace, dipersilakan oleh pengasuh Arvind, menuju ruang tengah.

“Grace belum keluar dari kamar?” tanya Mario kepada wanita yang bernama Ely itu.

“Belum, Tuan,” jawab Ely.

Mario mengangguk pelan dan kembali memfokuskan pandangannya pada Arvind, mengajak balita itu bermain sebentar.

“Ayo, boy, kita lihat Mommy Grace, apakah dia tertidur di kamarnya atau mungkin dia pingsan?” ucap Mario sambil berdiri dari duduk. Mario mengayunkan tubuh mungil Arvind ke udara, membuat balita itu tertawa riang.

Selanjutnya, Mario membawa langkah menuju kamar Grace dengan Arvind yang berada dalam gendongannya.

Setelah berdiri di depan pintu yang tertutup rapat, Mario mengetuk daun pintu beberapa kali, dan setelah mendengar suara Grace dari dalam, barulah Mario membuka pintu dan memasuki kamar Grace yang cukup luas.

“Kau lama sekali, Grace, seperti mau kondangan saja,” tegur Mario.

Grace tidak menggubris. Wanita itu memilih fokus pada keponakannya yang sudah dianggap seperti anak kandung sendiri. Mengulas senyum pada Arvind, balita itu tertawa riang dalam gendongan Mario.

Grace membawa wajah dekat pada Arvind, berniat mengecup pipi gembul balita itu. Namun, naasnya, justru keningnya yang dikecup oleh Mario.

“Mario!” Grace kesal dengan suara tertahan. Dia ingin memprotes, namun takut membuat Arvind terkejut.

“Kenapa sih?” Keluh Mario sembari memasang wajah tanpa dosa seolah-olah tak melakukan kesalahan apapun. “Tidak sengaja, Grace. Oh, ayolah, jangan terlalu percaya diri sampai berpikir kalau aku sengaja mencium keningmu barusan,” lanjutnya.

“Kamu memang sengaja, Mario! Tidak usah mengelak lagi!” kesal Grace tanpa mempedulikan bahasanya yang non formal terhadap pria itu.

“Kau yang dekat-dekat, Grace. Apa kau tidak lihat kalau sejak tadi aku hanya berdiri di sini? Bahkan tubuhku tidak bergeser dari tempatku berdiri barang sedikitpun,” ucap Mario terus membela diri.

Grace mendesah kasar sambil memutar malas kedua mata. Ia muak terlalu lama meladeni Mario karena pria itu sangat amat menyebalkan dari yang Grace bayangkan.

“Sudahlah, daripada kau marah-marah tidak jelas, sebaiknya lanjut bersiap-siap biar kita tidak kesiangan,” ucap Mario memberi saran positif.

Kali ini Grace setuju dengan pria itu. Dia kembali ke meja riasnya untuk melanjutkan kegiatan yang belum selesai. Sementara Mario sudah keluar menuju ruang tengah bersama Arvind. Ia menunggu Grace disana sebab mereka akan berangkat ke kantor bersama.

Beberapa menit berlalu...

“Ayo, aku sudah selesai,” ucap Grace menghampiri Mario. Pria itu asyik bermain dengan Arvind.

Mario berdiri dari duduknya setelah puas mengecup pipi gembul Arvind. Balita berusia satu tahun itu sempat merengek karena tidak ingin jauh-jauh dari Mario.

“Sayang, kamu sama Ely dulu ya. Mommy mau berangkat kerja. Oke, nak?” rayu Grace pada Arvind.

Arvind menggeleng. “No, no, Daddyyyy!” Ia mengulurkan tangan mungilnya ke arah Mario.

Grace mendesah pelan. Ia frustasi sekali melihat keponakan yang seperti ini, susah mau lepas dari Mario. Namun, Grace memaklumi dan selalu berpikir bahwa mungkin saja Arvind sangat merindukan sosok seorang ayah.

Apalagi Mario tulus menyayangi balita itu. Tentu Arvind merasa nyaman bersama Mario sehingga ketika mereka sudah bertemu seperti sekarang, Arvind susah dijauhkan dari Mario.

Mario tidak tega, dan dia menggendong Arvind sebentar. Ia membujuk balita itu dengan berbagai cara hingga dia berhasil lepas dari Arvind tanpa membuat balita itu menangis.

Setelah itu, Mario dan Grace buru-buru keluar dari apartemen dan turun bersama menuju lantai dasar. Setelah beberapa menit, mereka sudah berada di dalam mobil milik Mario.

“Arvind membutuhkan sosok ayah, Grace. Apakah kau tidak kasihan padanya?” Tanya Mario sambil melirik sebentar pada Grace, bersama dengan itu ia melajukan mobil, meninggalkan bangunan tempat tinggal Grace.

Grace menoleh pada Mario dengan tatapan yang tajam. “Bilang saja kalau kamu sedang menawarkan diri menjadi suamiku. Cih, aku tidak akan sudi!” Ketus Grace.

Mario terkekeh pelan dan kembali menatap fokus pada jalan di depannya.

Sementara Grace membawa pandangan ke arah luar jendela. “Hah…! Sudahlah, Grace, jangan berulah,” batinnya sambil menyentuh dadanya yang berdebar.

Sepertinya rasa dilema kembali menghampiri Grace. Ia dilema akan pesona Mario. 

***

Bab 2

Di tengah keheningan, tiba-tiba ponsel Grace berdering, sedangkan di sampingnya, Mario langsung melirik padanya, seolah pria itu sedikit terusik atau mungkin penasaran dengan sosok yang tengah menghubunginya pagi ini.

Grace merogoh ponsel di dalam handbag-nya dan membawa benda pipih itu ke depan wajah.

Daniz is calling...

Grace mengulas senyum ketika melihat nama kontak salah satu rekan kerjanya yang cukup akrab dengannya. Dengan segera, Grace menekan tombol berwarna hijau di sana dan membawa dekat ke telinga kanan.

"Ya, halo, Daniz," jawab Grace setelah panggilan terhubung.

Di tengah fokus Mario mengemudi, ia kembali melirik Grace saat wanita itu menyebut nama Daniz. Dalam hati, Mario berdecak kesal.

"Daniz menyebalkan sekali. Buat apa sih dia menghubungi Grace pagi-pagi begini. Sudah seperti debt collector saja!" gerutu Mario dalam hati.

Tiba-tiba saja rasa kesal berkecamuk dalam hatinya. Ditambah lagi, sapaan Grace terhadap Daniz terdengar begitu lembut di telinga Mario, sangat berbeda ketika wanita itu menyapanya atau berhadapan dengannya. Grace selalu bersikap ketus.

"Hai, good morning!" seru Daniz di telepon.

Grace terkekeh pelan. "Morning," balasnya.

"Kau masih di apartemen?" tanya Daniz.

"Aku sudah di jalan menuju kantor. Kenapa?" tanya Grace penasaran.

"Ah, tidak. Aku pikir kau belum berangkat. Aku berencana menjemputmu tadi. Tapi, it's okay, baguslah kalau kamu sudah berangkat," kata Daniz panjang lebar.

"Hmm, sayang sekali," keluh Grace. "Oh iya, Dan, nanti sore setelah pulang kantor apakah kamu ada kesibukan?" tanya Grace kemudian.

"Tidak ada. Kenapa?"

"Boleh dong temani aku ke bengkel? Mau cek mobilku, mungkin saja sudah selesai," jawab Grace.

"Oh, oke. Boleh saja. Nanti sore ke kita kesana. Hem, aku pikir mobilmu sudah selesai dari kemarin-kemarin," ucap Daniz.

Grace berdecak pelan, mencerminkan kekesalan di wajahnya. "Aku pun heran mengapa bisa lama seperti ini," keluhnya.

"Ya, sudah tidak mengapa. Semoga setelah ini mobilmu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Nanti sore kita kesana, hem?" ujar Daniz.

"Okay, Dan. Thanks ya. Kamu memang terbaik!" balas Grace, dan Daniz tertawa pelan di seberang sana.

"Ck, apaan yang terbaik. Aku rasa wanita ini buta!" gumam Mario menggerutu kesal.

Grace menyudahi panggilan telepon dengan Daniz dan langsung menoleh pada Mario.

"Kamu bilang apa?" tanya Grace sembari memicingkan kedua mata. "Kamu mengataiku buta?!"

"Kau terlalu percaya diri sekali, Grace," balas Mario.

Grace mendengus. "Benar kata Grandpa Marius, kamu memang menyebalkan!"

Mario melirik Grace sebentar dan kembali fokus pada jalan. "Pria baik hati begini, kau anggap menyebalkan? Really?"

"Ya! Kamu memang semenyebalkan itu! Tukang paksa! Tukang fitnah! Tukang segalanya!" kesal Grace dan dibalas tawa oleh Mario.

Setelah perdebatan manis keduanya, Grace menarik pandangan dari Mario dan menatap ke luar jendela, sementara Mario kembali fokus pada jalan di depan. Tak lama kemudian, mereka tiba di kantor.

Beberapa menit kemudian, mobil Mario memasuki area gedung pencakar milik Addison Corporation dan berhenti tepat di depan lobby yang luas.

Grace melepas seatbelt, membuka pintu, dan turun dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Mario, walau sekedar ucapan terima kasih karena pria itu sudah memberikan tumpangan padanya.

Melihat Grace melangkah masuk ke dalam kantor, Mario hanya menghela nafas panjang. Ia menyambar ponsel di tempat khusus di dalam mobilnya dan membawanya ke depan wajahnya.

Mario mengotak-atik layar yang menyala terang di depannya, mencari kontak seseorang, dan setelah menemukannya, ia pun menghubungi.

“Halo, selamat pagi Tuan Mario,” jawab seorang pria di seberang telepon setelah panggilan terhubung.

“Iya, selamat pagi. Aku hanya ingin tahu bagaimana perkembangan mobil Grace, apakah sudah selesai?” tanya Mario sambil terus menatap ke dalam sana dan tidak melihat Grace lagi. Sepertinya wanita itu sudah masuk ke dalam lift.

“Mobil Nona Grace sudah selesai, Tuan,” jawab pria itu.

“Kalau begitu, rusakkan lagi. Kau dengar?” perintah Mario terdengar ambigu.

“Di-rusakkan lagi, maksud Anda bagaimana, Tuan?” tanya pria di sana dengan nada heran.

“Aku tidak mau Grace sampai membawa pulang mobilnya. Jadi lakukan saja yang menurutmu yang terbaik,” kata Mario sebelum mengakhiri panggilan.

Sejenak Mario memandangi layar ponsel, kemudian terkekeh pelan. Membayangkan jika Grace tahu kelicikannya ini, wanita itu pasti sangat murka.

Sudah hampir dua pekan mobil Grace di bengkel. Setiap kali wanita itu hendak membawa kendaraannya dari sana, selalu ada bagian yang rusak lagi dan lagi, membuatnya kesal namun tanpa curiga bahwa yang menjadi dalang kerusakan kendaraannya adalah Mario.

Setelah masuk ke dalam lift, Mario menekan tombol, lift tertutup rapat, dan mulai bergerak naik menuju lantai tempat ruang kerjanya berada, sebagai direktur keuangan Addison Corporation.

Sementara di ruang kerja Axel, atasan dari Grace, wanita itu terlihat sedang melaksanakan tugasnya sebagai sekretaris, membaca agenda untuk Tuannya hari ini.

“Kau terlalu galak dan tidak peka, Grace. Jadi terima saja hukuman dariku. Hidupmu tidak akan bisa tenang selama kau terus bersikap dingin padaku,” batin Mario dalam hati.

Mario menyimpan ponselnya ke dalam saku jas, lalu membuka seatbelt, pintu, dan turun dari mobil, meninggalkan kendaraannya dengan mesin yang masih menyala.

Dia membawa langkah masuk ke dalam kantor, sementara kendaraannya diambil alih oleh salah satu petugas di lobby.

“Selamat pagi, Tuan Mario,” sapa staf di sana, memberi salam hormat.

“Selamat pagi,” balas Mario, tanpa senyum di wajahnya yang tampan, dan terus menuju lift eksklusif.

"Aku tidak akan pergi ke Angelic Global. Aku akan meminta Mario untuk mewakiliku," ucap Axel kepada Grace.

Grace mengangguk pelan. Dia tidak banyak bertanya karena sudah mengerti alasan Tuannya menolak pergi ke salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan mereka.

"Kau sudah menyiapkan berkas-berkas untuk keperluan meeting di sana?" tanya Axel.

"Sudah, Tuan. Saya sudah merekap ulang dan memeriksanya beberapa kali," jawab Grace.

"Dimana berkas itu?" tanya Axel.

"Ada di meja kerja saya. Jika Anda menginginkannya, saya akan mengambilkannya sebentar," kata Grace.

Axel mengangguk pelan sambil berdiri dari duduknya. "Aku akan ke ruangan Mario sebentar dan membawa berkas itu ke sana," ucapnya sambil menggeser tubuh dan menjauh dari kursi kebesarannya.

"Baik, saya akan mengambilkannya untuk Anda," sahut Grace, lalu segera pergi ke meja kerjanya yang berada di depan ruangan tersebut.

Axel mengikuti dari belakang dan keluar dari ruangannya. Dia berdiri di depan pintu menunggu Grace mengambil berkas yang dia inginkan. Tak berselang lama, wanita itu kembali sambil menyerahkan berkas tersebut kepadanya.

"Terima kasih, Grace," ucap Axel.

"Sama-sama, Tuan," balas Grace, lalu membiarkan sang Tuan pergi menuju ruang kerja Mario yang berada di lantai yang sama dengan tempat mereka bekerja.

°

"Wakili aku ke sana karena aku tidak ingin bertemu dengan Jessie," ucap Axel kepada kakaknya Mario. Dia duduk di atas salah satu kursi di depan meja kerja pria itu sambil menatap lurus kepadanya.

Mario mengangguk pelan sambil membawa tangan dan mengambil berkas yang baru saja diletakkan oleh Axel di atas meja. Menarik dan membawa ke depan wajahnya, Mario membuka berkas tersebut sambil mengamatinya beberapa saat.

"Baiklah, tidak mengapa. Biar aku saja yang mewakili mu ke sana, tapi aku tidak bisa pergi sendiri, Axel. Aku membutuhkan orang yang mendampingiku," kata Mario, kemudian menatap Axel.

"Jangan bilang kau memanfaatkan kesempatan, Mario," tebak Axel sambil menatap curiga pada kakaknya itu. 

Mario mengedikkan bahu. "Terserah kau mau menuduhku seperti apa, yang jelas aku tidak akan pergi kalau kau tidak mengizinkan Grace menemaniku," ujarnya membuat Axel langsung mengumpat, namun Mario tidak membalas.

"Apa kau tidak berpikir kalau aku juga membutuhkan Grace di sini? Kalau dia pergi bersamamu, lantas siapa yang akan membantu pekerjaanku, Rio?" kata Axel dengan suara kesal.

"Oh, Ayolah Axel. Ada Daniz yang bisa membantumu. Tapi terserah kau saja, yang jelas aku tidak akan pergi tanpa Grace," balas Mario.

Kesal, Axel meraih sebuah pulpen di atas meja kerja Mario lalu melemparkannya pada pria itu, namun sang empu berhasil menghindar dari benda kecil tersebut.

"Dasar Keparat, kau memang tidak pernah tulus membantuku," kesal Axel sambil berdiri dari duduknya. Dia memutar tubuh lalu membawa langkah keluar dari ruang Mario dengan perasaan dongkol.

Mario tertawa pelan ketika Axel menutup pintu ruangannya dengan kasar.

***

Bab 3

"Grace…"

Grace, yang sejak tadi fokus pada layar komputernya, sontak mengangkat pandangan dan menoleh melihat pada sosok yang berdiri menjulang tak jauh dari meja kerjanya.

Rupanya, pria yang memanggilnya tadi adalah atasannya, Axel Addison.

"Ya, Tuan," sahut Grace.

"Temani Mario hari ini ke Angelic Global," kata pria itu melanjutkan.

Grace terdiam tanpa ekspresi, dan sepertinya Axel mengerti. "Dia tidak mau menggantikan ku kalau bukan kau yang menemaninya," lanjut Axel.

Grace kemudian menghela nafas lalu mengangguk pasrah. Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh Grace selain menyanggupi?

Menolak? Tentu saja dia tidak sebodoh itu. Memangnya, Grace punya hak apa sehingga bisa menolak perintah dari Tuannya?

"Baik, Tuan," ia sambil mengulas senyum sopan kepada pria itu.

"Terima kasih, Grace," ucap Axel, dan Grace membalas sebagaimana seharusnya. "Bersiaplah dan temui dia di ruangannya," sambung Axel.

Sebelum Axel masuk ke dalam ruang kerjanya, Grace sempat bertanya apakah pria itu membutuhkan sesuatu atau tidak. Dan ternyata Axel tidak membutuhkan apapun.

Sehingga Grace lekas bersiap-siap, mematut wajah cantiknya sebentar pada cermin kecil yang disimpan di dalam handbag-nya. Grace menyempatkan diri memperbaiki riasan tipis di wajahnya.

Ingat, dia melakukan itu bukan karena akan bertemu Mario, tetapi karena dia akan keluar kantor untuk memenuhi undangan meeting dengan klien.

Grace mengerutkan kening, merasa heran pada diri sendiri, karena tiba-tiba dia harus menegaskan kalau dia berdandan bukan untuk Mario.

"Ish, Grace, dasar tidak jelas!" gerutunya dalam hati.

Kemudian, menyudahi touch up-nya dan merapikan meja kerjanya. Tidak lupa, Grace menonaktifkan komputernya. Lalu bangkit dari kursinya dan berdiri sejenak di sana.

Grace menyapu pandangan pada permukaan meja serta menyambar sebuah berkas yang akan diperlukan untuk meeting nanti.

Setelah dipastikan tak ada lagi yang tertinggal di sana, Grace pun membawa langkah meninggalkan meja kerjanya dan menuju ruang kerja Mario.

Tok! Tok! Tok!

Grace berdiri di depan pintu ruang kerja Mario dan mengetuk daun pintu tersebut beberapa kali. Ia menunggu perintah dari sang pemilik ruangan untuk memperbolehkannya masuk.

Tak berselang lama, terdengar suara Mario lewat speaker yang dirancang khusus di dekat pintu sehingga Grace dapat mendengar dengan mudah dan jelas suara dari dalam sana.

Grace menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Dia seperti sedang menyiapkan mentalnya sebelum bertemu dengan pria yang menurutnya sangatlah menyebalkan.

Grace membuka daun pintu dan mendorongnya hingga terbuka lebar. Ia memasuki ruangan yang luas dan mewah itu. Tidak lupa, Grace menutup pintu dan baru setelahnya membawa langkah menuju meja kerja Mario di sana.

“Kenapa harus saya yang menemani Anda meeting di Angelic Global? Apakah Anda tidak memikirkan bagaimana pekerjaan yang saya tinggalkan itu?” cerocos Grace setelah berdiri di sana dan menatap Mario.

Pria itu juga tengah berdiri. Sepertinya Mario habis ganti baju. Sebab di tangan pria itu terdapat sebuah dasi yang sepertinya akan dipakai.

“Apakah Axel tidak memberitahumu kalau aku kesana untuk mewakilinya?” tanya Mario terdengar santai, seolah tak ambil pusing dengan nada keberatan Grace tadi.

“Ya, saya tahu, tapi kenapa harus saya yang menemani Anda? Bukankah bisa saja Anda meminta orang lain untuk menemani Anda?”

“Tidak bisa, Grace. Hanya kau satu-satunya yang bisa mendampingiku. Kau tahu kenapa?” Kemudian, Mario mengedikkan bahu lalu melanjutkan. “Karena kau adalah sekretaris Axel. Jadi kau lebih paham dengan materi-materi yang akan diperlukan pada meeting kali ini,” lanjutnya.

Grace terdiam, sebab apa yang dikatakan oleh Mario memang benar adanya.

“Baiklah,” Grace bergumam pelan.

Mario melirik sebentar lalu terkekeh dalam hati. Kemudian Mario melangkah ke arah Grace dan menyodorkan dasi di tangannya pada wanita itu.

“Tolong bantu pasangkan untukku,” pinta Mario.

Grace menatap dasi itu sambil mengerutkan kening lalu beralih pada Mario. “Anda punya tangan kan? Bisa dipasang sendiri, kenapa Anda malah merepotkan saya?!” sarkas Grace menolak membantu pria itu.

“Aku tidak bisa memakainya. Aku tidak pandai seperti Ibuku, karena yang biasanya pembantuku adalah Ibuku dan adikku. Mereka tidak ada di sini. Yang ada hanya kau seorang. Tolong bantu pasangkan, Grace,” pinta Mario di akhir kalimat panjang dan lebarnya barusan.

Grace terdiam sejenak. Kemudian lekas menyambar dasi tersebut dari tangan Mario. Dengan wajah cemberut serta bibir mengerucut, Grace melingkarkan dasi tersebut di kerah kemeja Mario dan mulai memasang dengan rapi hingga benar-benar selesai.

Grace merapikan kedua sisi bahu sambil memperhatikan, memastikan kedua sisi tidak kusut lagi. Sedangkan Mario terus memperhatikan lekat wajah cantik itu tanpa berkedip.

“Cantik,” batin Mario. “Tapi galak,” lanjutnya masih di dalam hati.

“Kenapa Anda menatap saya seperti itu?!” tegur Grace saat memergoki Mario menatap wajahnya dengan tatapan berbeda.

Mario sempat tersentak kaget. “Karena kamu cantik,” jawab Mario.

Deg!

Grace tertegun dan menengadahkan wajah pada Mario.

“Sayangnya kau galak,” imbuh pria itu, sehingga membuat Grace seketika membelalak kedua mata dan Mario terkekeh pelan.

“Terima kasih, Grace,” ucapnya kemudian setelah wanita itu selesai memakaikan dasi di lehernya.

Grace tidak menyahut karena masih menatap kesal pada pria itu. Kemudian ia mendengus ketika Mario mengedipkan sebelah mata padanya.

“Ck, gatal sekali mata Anda!” ketusnya.

“Gatal saat menggodamu saja. Kalau sama yang lain, biasa saja,” sahut Mario, dan lagi-lagi membuat Grace melongo tak percaya, disertai bibir terbuka.

Mario terkekeh pelan sembari mengambil ponsel dan kunci mobil di atas meja, kemudian menghampiri Grace.

“Ayo, kita berangkat sekarang, takut terlambat,” ajak Mario.

Grace mengangguk pelan. Setelah itu, ia dan Mario keluar dari ruangan tersebut dan melangkah bersama menuju lift eksklusif di sana. Mereka turun ke lantai dasar. Setelah sampai di lantai dasar, rupanya mobil milik Mario sudah disiapkan di depan lobby.

Sehingga Mario dan Grace tidak perlu menuju parkir. Mereka langsung naik kendaraan di depan lobby dan tak berselang lama, mobil itu melesat meninggalkan depan lobby menuju Angelic Global.

Beberapa menit kemudian, kini Mario dan Grace tiba di gedung pencakar milik Angelic Global. Mobil mereka berhenti di depan lobby yang luas. Keduanya turun bersama dan membiarkan petugas mengurus kendaraan mereka.

Mario dan Grace disambut hangat oleh beberapa petinggi perusahaan tersebut. Kemudian mereka dipersilahkan menuju lift khusus di sana dan naik ke lantai tempat ruang meeting berada.

“Selamat siang,” seru Mario menyapa para anggota rapat yang tengah duduk di kursi masing-masing. “Maaf, kami sedikit terlambat,” tambah Mario sembari menatap mereka bergantian.

“Selamat siang, Tuan Mario. Anda tidak terlambat sama sekali. Mari, silahkan duduk,” kata seorang pria paruh baya di dalam ruangan tersebut.

Di kursi pemimpin di sana tengah diduduki oleh seorang wanita. Dia adalah CEO dari Angelic Global, namanya Jessie Eldar.

Mario melirik pada wanita itu dan ternyata Jessie tengah menatap lekat padanya.

Mario tak ingin peduli. Ia dan Grace lekas mengambil posisi duduk pada kursi kosong di sana.

Tak berselang lama, rapat pun dimulai dan berlangsung hingga beberapa waktu ke depan.

••••

Setelah dua jam lamanya, akhirnya rapat pun usai. Satu persatu anggota mulai meninggalkan ruangan, dan perlahan ruangan pun sepi. Hanya beberapa orang yang masih asyik berbincang-bincang.

Sementara itu, Mario masih berada di ruangan, menunggu Grace sambil berbincang ringan dengan rekan bisnisnya. Sebelumnya, Grace telah meminta izin padanya untuk pergi ke toilet, yang kemudian dia izinkan.

Saat ini, di dalam toilet, Grace mencuci tangannya di wastafel yang tersedia. Setelah selesai, ia mengambil beberapa lembar tisu untuk mengeringkan kedua tangannya.

Kemudian, dengan cepat, ia menyambar tasnya di pinggir wastafel dan melangkah keluar menuju lorong yang sepi, bermaksud kembali ke ruang rapat untuk bergabung dengan Mario yang menunggunya.

"Hey, kamu, tunggu!" teriak seseorang yang ingin menghentikan langkah Grace.

Dengan cepat, Grace berhenti. Dia berdiri di tempat, menoleh ke belakang, dan melihat pada sosok yang baru saja memanggilnya dengan nada yang agak kurang sopan menurut Grace. Namun, ketika melihat siapa sosok itu, Grace tidak terkejut. Dia hanya menghela napas lelah.

"Wanita itu adalah Jessie, sang CEO perusahaan ini. Dengan langkah mantap, Jessie mendekati Grace, berdiri di depannya.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Grace pada Jessie.

Jessie menatap Grace dengan ekspresi tidak suka. "Kenapa Mario mengganti Axel dari rapat hari ini? Atau jangan-jangan kamu yang melarang Axel untuk datang ke rapat ini, bukan?" tuduh Jessie.

Grace tampak mengerutkan kening. "Saya hanya seorang sekretaris. Saya tidak memiliki wewenang untuk melarang atasan saya pergi ke mana pun, Nona Jessie," sahut Grace.

Jessie mendengus sambil mengibaskan tangan dengan gerakan cepat, seolah-olah apa yang dikatakan oleh Grace tadi hanyalah omong kosong.

"Ingat ya, aku tidak akan pernah lupa bagaimana pertemuan pertama kita, dan aku melihat dengan mata kepala sendiri keberanianmu terhadap Axel," kata Jessie.

Dengan desahan pelan, Grace menyatakan, “Pikiran Anda sungguh sempit. Mengapa Anda malah menuduh saya melarang Tuan Axel datang ke sini? Mengapa Anda tidak mempertimbangkan bahwa mungkin Tuan Axel memang enggan datang karena dia muak melihat wajah mantan kekasihnya. Calon benalu!” ujarnya tegas di akhir kalimat.

Jessie seketika menatap marah pada Grace. "Kurang ajar!" serunya sambil melayangkan tamparan kuat di pipi kanan Grace.

Plak!

Wajah Grace terpaling ke samping, kemudian dengan kesabaran setipis tisu, Grace membalikkan diri dan memberikan tamparan balasan pada Jessie.

Plak!

Tamparan yang dilayangkan oleh Grace begitu kuat sehingga wajah Jessie tidak hanya terpaling, tetapi wanita itu nyaris tersungkur karena kehilangan keseimbangan.

Bug!

Tidak puas hanya dengan satu tamparan, Grace menambah dengan menghantam bahu Jessie menggunakan tas yang ada di tangannya, membuat wanita itu menekik kesakitan.

Sementara itu, di ujung sana, Mario melangkah lebar sambil kedua matanya terbelalak.

"Astaga, apa yang kalian lakukan, huh?!" seru Mario setelah melihat kekacauan di antara keduanya.

"Dasar jalang! Dia yang memulai duluan!" hina Grace pada wanita yang merupakan mantan kekasih atasannya, Axel Addison, sambil melirik pada Mario.

Meskipun Grace tahu bahwa Jessie adalah seorang CEO di perusahaan ini, dia tidak segan membalas perlakuan buruk wanita itu.

Mario menelan saliva dengan susah payah. Ini adalah kali pertama dia melihat sikap tegas dan pemberani dari Grace. Mario pikir Grace hanya sekadar berucap pedas padanya.

Tapi rupanya wanita ini juga pemberani dan tidak segan berhadapan dengan lawan.

“Luar biasa!” gumam Mario dalam hati. Ia mengagumi keberanian Grace.

Setelah itu, Mario membawa Grace pergi dari sana tanpa menghiraukan Jessie. Mereka langsung turun ke lantai dasar dan menuju ke lobby. Kemudian, mereka keluar dari gedung tersebut dan menuju mobil di tempat parkir.

Kini Mario dan Grace duduk di dalam mobil, sementara kendaraan tersebut masih berada di tempatnya. Mario belum menjalankan mobilnya.

“Coba lihat kemari,” pinta Mario pada Grace sambil meraih dagu wanita itu.

Grace menuruti dan membawa wajahnya ke hadapan Mario. Ketika pria itu melihat pipinya yang memerah akibat tamparan Jessie tadi, dia menggumam, “Merah. Nanti kita mampir di apotek untuk membeli obat sebentar,” katanya melanjutkan.

Grace menggeleng pelan. “Tidak usah. Paling sebentar lagi akan hilang. Saya tidak butuh obat,” tolak Grace.

Mario terdiam sejenak, kemudian mengangguk pelan. “Itu artinya secara tidak langsung kau memintaku untuk mencium pipimu, ya kan?” ujarnya sambil memicingkan kedua matanya.

Grace seketika mengerutkan kening. “Anda ini bicara apa, sih?! Suka tidak jelas!” kesal Grace.

“Kau menolak diobati, ya sudah, kukecup saja bagaimana? Supaya merahnya hilang. Mau, Grace?” bisik Mario dengan suara menggoda.

Glek!

Seketika Grace menelan ludah dengan kasar, bersamaan dengan itu ia mulai gugup setengah mati. Dan pada saat yang bersamaan, ternyata Mario bersungguh-sungguh mengecup pipi Grace.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED