Bab 1

Keringat terus membasahi dua tubuh yang saling menyatu dan beradu. Meskipun AC cukup dingin, tapi tidak mampu menghilangkan keringat mereka yang mengucur deras.

"Akhhh!" pekik keduanya saat mencapai puncaknya. Nafas mereka terengah-engah, rasanya sedikit kehilangan oksigen karena energi mereka terkuras habis.

"Sayang, tadi itu sungguh sangat luar biasa. Terima kasih banyak ya, aku sangat sayang dan cinta padamu," ucap Marlon lalu mencium kening Natalia dengan lembut.

Natalia tersenyum tertahan, sebenarnya Natalia sedang memikirkan sesuatu setelah pergulatannya dengan Marlon beberapa kali belakangan ini.

"Baby? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Marlon menyidik sambil mengelus puncak kepalanya gemas.

Pasalnya wajah Natalia terlihat mendadak mendung. Amat berbeda dengan beberapa menit lalu, yang terlihat sangat menggairahkan. Dan biasanya Natalia akan membalas ciumannya dengan panas, walaupun permainan telah berakhir.

"Aku hanya minta kepastian darimu. Kita sudah lima tahun lamanya berpacaran, lalu kapan kamu akan mengenalkan aku pada keluargamu?" tanya Natalia dengan wajah penuh harap. Jemarinya memainkan dada bidang milik Marlon.

Natalia benar-benar tidak pernah berhasil mendapatkan jawaban pasti selama ini jika dirinya menanyakan perihal tersebut. Natalia selalu gagal dalam mendapatkan kepastian hubungan mereka ke depannya.

Seketika Marlon terlihat gugup lantas Marlon beranjak dari tempat tidur dan berjalan membelakangi Natalia yang masih polos tanpa pakaian di atas ranjang.

"Sepertinya aku harus segera pergi bekerja, aku akan kirimkan beberapa nominal uang untuk kamu belanja hari ini. Malam ini aku tidak bisa temani kamu makan, kamu bisa ajak teman-temanmu untuk menemanimu." Marlon memunguti pakaiannya lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Natalia hanya membisu.

Dan seperti dugaannya, Marlon selalu menghindar dan tidak pernah memberikan jawaban untuk Natalia. Wanita mana yang bisa hidup dengan ketidakpastian? Mungkin itulah Natalia.

"Sebenarnya aku bisa saja menyelidiki untuk tau alasan dia. Tapi misal aku cari tau, dia pasti akan marah karena dia dulu pernah memperingatkan akan hal itu. Tapi apakah aku harus terus menunggu dan menunggu sampai dia benar-benar siap?" gumam Natalia sambil terus memandang ke arah pintu kamar mandi yang telah tertutup.

Sesaat hening, yang terdengar hanya suara air dari dalam kamar mandi.

"Apa aku harus hamil terlebih dahulu agar aku bisa menikah dengannya? Lagipula mama dan papa juga sudah lama menginginkan agar aku menikah karena ingin menimang cucu."

Kini Natalia membayangkan bagaimana reaksi Marlon jika dirinya mengandung anaknya, pastilah Marlon tidak memiliki pilihan lain selain mengenalkan Natalia pada kedua orang tuanya lalu menikahinya. Tidak akan ada drama Marlon untuk menghindari kepastian hubungan mereka lagi.

Lamunan Natalia buyar seketika setelah mendengar suara dering telepon ponsel milik Marlon

Kedua bola mata Natalia menatap layar ponsel Marlon yang berada di atas nakas. Di sana terlihat dengan jelas kontak nama yang telah memanggil Marlon.

"Pa-pa?" Natalia mengeja.

***

CV. ADI JAYA

Seperti hari biasanya, kesibukan pagi menjadi rutinitas semua karyawan kantor. Dari mulai cleaning servis sampai manager, mereka bekerja dengan penuh semangat.

"Selamat pagi, Boss," sapa tukang parkir. Marlon sedikit mengangguk dan menyerahkan kunci mobilnya.

Marlon melihat karyawan itu tidak lekas mengambil kunci di tangannya dan justru malah memperhatikan Marlon, walaupun dengan cara melirik saja.

"Kau lihat apa? Ambil ini, cepat! Mau ku pecat?" tegur Marlon.

Seperti biasanya, Marlon akan sangat marah jika karyawannya tidak sigap. Apalagi terkesan tidak konsentrasi pada saat bekerja.

"Iy-iya, Boss. Ampun, Boss. Jangan pecat saya," sahutnya dengan ketakutan.

Tanpa banyak kata, dia pun menerima kunci dari Marlon dan tukang parkir itu pun langsung bergegas memindahkan mobil bossnya tersebut sesuai prosedur kendaran harus terparkir dengan rapi di tempatnya masing-masing.

"Heran sama karyawan yang lelet seperti dia, aku harus bicara dengan HRD. Bego banget menerima karyawan seperti itu, jangan sampai dia menerima karyawan macam itu lagi. Bisa-bisa nanti kantor ini bukan lagi menjadi kantor tapi menjadi panti sosial yang menampung orang lelet!" omel Marlon sepanjang perjalanannya.

"Selamat pagi, Boss. Kenapa Boss baru datang? Ini sudah pukul 10 pagi lebih, tadi boss besar datang dan sempat marah," ujar Melly---sekretaris Marlon. Hanya Melly karyawan yang berani banyak bicara, karena dia bekerja atas kehendak papanya Marlon. Tentunya Marlon tidak bisa memecat Melly dengan sesuka hatinya hanya, karena banyak omong dan Marlon tidak menyukainya.

Sesaat Melly tidak dapat mengalihkan pandangannya, pasalnya boss yang ada di hadapannya itu sungguh menyita perhatian siapapun jika melihatnya.

"Aku tidak peduli dengan hal itu, sekarang siapkan baju untukku. Aku harus pergi setelah ini," ujar Marlon.

Melly memperhatikan dokumen yang ada di tangannya.

"Tapi, Boss. Boss besar berpesan, beliau akan datang ke kantor setengah jam lagi. Sebaiknya Boss menunggu, karena itu pesan dari beliau tadi dan---"

Melly tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat Marlon mengacungkan jari telunjuknya, menandakan bahwa Melly disuruh untuk diam.

"Kamu bisa gak, kalau gak cerewet dan mengaturku sekali saja? Aku ini boss, lho. Aku hanya mau kamu siapkan baju untukku saja, karena aku mau pergi. Ku tunggu di ruanganku. Jika dalam waktu 10 menit tidak kamu antar, kamu akan aku pecat!" tekan Marlon.

Setelah mengucapkan hal tersebut, Marlon langsung pergi meninggalkan Melly yang masih cengo dengan ancaman Marlon.

Sudah berapa puluh kali Marlon mengancam Melly, tapi sekali lagi Melly tidak mungkin bisa dipecat tanpa persetujuan dari papa Marlon.

Melly hanya bisa diam dan segera menjalankan perintah sang bossnya tersebut. Melly tidak habis pikir kenapa baju bossnya itu lusuh, padahal Marlon sudah memiliki istri di rumah. Melly tidak tahu saja jika baju yang Marlon kenakan adalah baju kemarin.

Marlon menutup pintunya dengan gerakan cepat. Matanya menyapu seluruh isi ruang kerja dengan malas.

Pria bertubuh tegap yang tingginya mencapai 185 cm tersebut berjalan ke arah meja kerjanya, kemudian dia menjatuhkan diri di atas kursinya yang empuk. Kursi seorang CEO pastilah amat nyaman.

Marlon mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Dilihatnya ada beberapa kontak nomor telah menghubungi beberapa kali.

Ada papanya yaitu tuan Carlos, pemilik resmi perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan internasional. Perusahaannya telah berdiri hampir 40 tahun yang lalu dan berkembang sangat pesat, hingga mampu membuka cabang di perbatasan negara.

Ada juga kontak 'mak lampir' yang tak lain adalah Sarah---istri Marlon. Marlon telah menikah dengan Sarah sekitar 3 tahun yang lalu. Meskipun begitu, sekalipun Marlon belum pernah menyentuhnya.

Alasannya sangat sederhana, Marlon tidak mencintai Sarah. Bagi Marlon, pernikahannya dengan Sarah hanyalah sebuah permainan bisnis.

Akibat perjodohan Marlon dan Sarah yang tidak dapat dihindarkan, keduanya terpaksa menikah hanya karena urusan berbakti pada orang tua mereka masing-masing.

Untuk bercerai tentu saja tidak mungkin, meskipun kini mereka tinggal bersama, tapi tetap mereka tidur masing-masing.

"Kita buat perjanjian, kita tidak berhak saling mengatur dan saling merasa memiliki. Jadi apapun yang kita lakukan, kita bebas melakukannya tanpa harus ada ikut campur satu sama lain," ujar Sarah 3 tahun yang lalu.

"Oke, aku setuju. Dan kamu juga tidak berhak ikut campur urusanku, apalagi mengadu ini itu tentang aku yang akan menghabiskan waktu di luar pada orang tua kita, karena pernikahan ini hanyalah mimpi buruk," kata Marlon.

Akhirnya mereka pun saling menyetujui dan kehidupan rumah tangga mereka selama ini teramat dingin, seperti orang asing yang hidup satu atap tanpa sapaan dan kepedulian. Mereka hidup sendiri-sendiri. Mereka akan terlihat seperti pasangan suami-isteri yang ideal kala di depan kedua orang tua mereka saja.

Marlon menyenderkan punggungnya di kursi. Bayangan Natalia terus menerus menari di pelupuk matanya.

Rasanya begitu berat harus selalu menghindar dari kejaran Natalia yang meminta kepastian akan hubungan mereka. Sesungguhnya Marlon sangat mencintainya, tapi untuk menikah? Marlon harus menguras pikirannya.

Rasanya tidak mungkin, meskipun Natalia telah menyerahkan mahkotanya sekalipun pada Marlon.

"Aku memang laki-laki brengsek dan bodoh, kenapa hidupku seperti ini!"

Bab 2

RUMAH KEDIAMAN KELUARGA NATALIA

Natalia pulang ke rumah dengan perasaan yang bercampur aduk, seharusnya hari ini dia masuk kerja, karena hari ini bukanlah hari libur tapi Natalia enggan karena badannya terasa sangat capek.

Dia tidak peduli jika akan terkena marah oleh atasannya yang terkenal galak dan disiplin di restoran---tempat dia bekerja itu.

Seharusnya Natalia saat ini khawatir atasannya akan memecatnya, lantas Natalia akan menjadi pengangguran karena sudah enam kali dia absen tidak masuk kerja tanpa alasan yang jelas.

Tapi yang pasti, semalaman dia hampir tidak tidur akibat melayani hasrat Marlon yang menggebu-gebu. Agaknya dia akan sedikit demam, itu yang Natalia rasakan.

Jari tangannya yang lentik, menyapu rambutnya yang menutupi sebagian wajah ayunya, karena angin berhembus kencang tatkala kakinya menapaki emperan rumah papanya.

"Bagus ya, semalam gak pulang dan sekarang pulang sudah siang!" sapa seseorang, suara yang sangat Natalia kenal itu tengah menegurnya.

Natalia tidak menyukai pemilik suara tersebut, sebab dia yang menyebabkan kedua orang tuanya bercerai. Meskipun begitu, Natalia membenci orang tersebut sewajarnya saja. Tidak mau terlalu ambil pusing.

Natalia tidak terlalu membencinya itu semua karena kedua orang tuanya masih akur sampai saat ini, walaupun sudah bercerai dan tinggal terpisah. Coba saja jika kedua orang tuanya bermusuhan, maka Natalia akan sangat membenci wanita tersebut. Bahkan melihat mukanya saja, Natalia tidak akan sudi.

Natalia memandang dengan tatapan tidak suka, terpaksa Natalia harus meladeni omongan orang yang tidak penting bagi Natalia itu.

"Tante tidak usah bertingkah seolah Tante itu adalah mamaku! Selamanya Tante itu tidak akan pernah jadi mamaku! Karena mamaku cuma satu dan yang pasti itu bukan Tante!" sahut Natalia.

Wanita paruh baya yang bernama Mariam itu melotot, tangannya memegang handel pintu dan tubuh bahenolnya memenuhi pintu yang hanya terbuka sedikit saja.

Natalia akui bahwa ibu tirinya itu memang memiliki badan yang bagus. Meskipun umur sudah setengah abad tapi tubuhnya masih padat dan kulitnya kencang.

Pantas saja dia menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kedua orang tuanya. Lelaki manapun, pasti tidak akan mampu menahan lebih lama jika terus digodanya. Dan sialnya papa Natalia salah satu korbannya.

Natalia yakin, saat ini papanya sudah pergi ke kantor dan di rumah hanya ada Mariam dan seorang pembantu yang umurnya sudah tidak muda lagi. Pembantu itu memang sudah ada sejak Natalia belum lahir.

"Dasar anak durhaka, aku ini sudah sah menjadi istri papamu sejak 1 tahun lalu. Seharusnya kamu ingat itu dan aku berhak untuk mengaturmu!" balas Mariam meradang.

Natalia sudah malas berbicara, dia hendak menerobos masuk ke dalam rumah dan tidak mau mempedulikan Mariam lagi, tapi secepat kilat Mariam menghentikannya.

"Ekh, enak aja main masuk!" Mariam mendorong bahu Natalia sebelah. Karenanya, Natalia berhenti dan mengurungkan niatnya. Tubuhnya sedikit terhuyung, karena sangat capek. Untung saja tidak sampai jatuh.

"Ada apalagi? Ini rumah papaku, aku mau masuk!"

Mariam berkacak pinggang dan menatap Natalia dengan penuh kebencian.

"Hebat ya kamu tidak masuk kerja! Berarti kamu udah ada uang, kan? Mana, kamu harus bayar uang sewa rumah ini jika kamu mau masuk untuk tidur, karena rumah ini sudah beralih menjadi namaku. Papamu sudah menyerahkannya padaku."

Tercengang Natalia mendengar ucapan Mariam. Bibirnya yang sensual terbuka sedikit, permainan apalagi yang sedang Mariam perankan? Begitu pikir Natalia.

"Gak mungkin," gumam Natalia pelan.

Rumah yang sudah dibangun lama dengan keringat kedua orang tuanya, tempat Natalia dibesarkan dan mendapatkan kasih sayang selama ini harus jatuh ke tangan orang lain. Natalia sungguh sangat sedih bila itu memang benar-benar terjadi.

"Kenapa? Kamu kaget? Gak percaya? Baiknya kamu tanya langsung sama papa kamu nanti kalau kamu masih tidak percaya," tantang Mariam.

"Untung aja aku masih ada rasa cinta sama papa kamu, kalau enggak sudah ku usir dari kemarin-kemarin," lanjut Mariam.

Hanya bisa terdiam saja, saat ini Natalia bisa saja percaya dengan omongan Mariam karena memang yang terjadi papa Natalia seperti terhipnotis oleh Mariam, apa pun selalu menurut padanya.

Maka tak jarang Natalia terlibat cekcok dengan Mariam, papa Natalia selalu membela Mariam, meskipun itu bukan sepenuhnya salah Natalia.

"Akh! Kelamaan!" Mariam merampas tas yang ada di tangan Natalia, Natalia tersadar dari lamunannya dan kini hendak merebut tas miliknya kembali tapi Mariam mempertahankannya.

"Kamu harus membayarnya, biarkan aku ambil sendiri!" Mariam pun membuka tas Natalia dan langsung mencari dompet. Natalia hanya pasrah.

Natalia yang memperhatikan Mariam, dia melihat Mariam merasa shock alias kaget.

"Ap-apa? Kamu gila, ya? Kamu berlagak seperti orang kaya males-malesan kerja, tapi uang tidak ada?" Natalia mengambil semua uang yang berada di dompet Natalia lalu tas dan dompetnya di lempar ke arah Natalia.

Refleks Natalia menangkapnya. Natalia memang sudah tidak memiliki uang, itu uang terakhir yang dia miliki dari hasil kerja Natalia. Untung saja Natalia memiliki kekasih yang royal, pagi tadi Marlon mentransfer uang 10 juta. Lumayan, itu setara gaji Natalia selama 5 bulan bekerja sebagai pelayan restoran.

Biasanya dengan uang Marlon, Natalia bisa membelikan sesuatu pada mamanya dan memberikan uang untuk pegangan.

Natalia memang dilahirkan dari keluarga yang lumayan kaya akan tetapi sejak perceraian yang terjadi pada kedua orang tuanya semua berubah drastis.

Papa Natalia seperti tersihir oleh istri barunya, papa Natalia tidak seroyal dulu. Bahkan, Natalia harus berkerja untuk mamanya dan dirinya sendiri hidup. Terkadang papanya memberikan uang yang tidak seberapa, tapi kalau ketahuan Mariam selalu diminta lagi.

Memang mama tiri yang pelit.

Sedangkan mama kandung Natalia kini tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sederhana, yang masih satu kota dengan mereka.

"Ini hanya 300 ribu? Kamu gak niat kerja ya?" omel Mariam. Natalia rasa Mariam sudah mendapatkan apa yang dia mau, Natalia langsung masuk tanpa minat mendengarkan ocehan Mariam lebih lama lagi.

"Eh, eh, eh. Dasar anak tidak sopan! Orang tua masih berbicara main pergi-pergi saja!" teriak Mariam.

Natalia tidak peduli lagi dengan ocehan Mariam. Rasa-rasanya telinganya sudah kembali nyaman ketika dia memasuki kamarnya yang bercat biru laut itu.

Natalia mengitari kamarnya yang terlihat selalu rapi, meskipun saat ini dirinya tinggal dengan papa dan juga mama tirinya tapi Natalia bersikap adil. Natalia selalu mengunjungi mamanya.

Sebenarnya papa Natalia melarang keras Natalia untuk bekerja dan menyuruh Natalia melanjutkan kuliahnya tapi Natalia tidak mau. Lagipula Natalia tidak yakin bahwa papanya itu akan berhasil membiayai kuliah Natalia selama Mariam masih ada.

Natalia ingin hidup senyamannya. Jika saja Natalia meneruskan kuliahnya, siapa yang akan menghidupi mamanya?

"Jika memang benar rumah ini sudah beralih nama, papa benar-benar sudah keterlaluan. Aku harus tanya soal ini pada papa dan aku bersumpah, aku tidak mau lagi tinggal di sini dengan papa. Lebih baik aku ikut mama."

Natalia melucuti semua pakaiannya dan dibiarkan berserakan di lantai. Lantas Natalia berjalan ke arah kamar mandi, berharap setelah dia berendam nanti penatnya akan hilang.

***

KANTOR CV. ADI JAYA

Marlon tertegun tatkala mendengar suara ketukan pintu ruangannya.

"Masuk!" perintah Marlon. Daun pintu itu pun langsung terbuka dan Melly masuk membawakan pakaian yang Marlon minta.

"Saya mau mengantarkan baju, Boss," ujar Melly. Marlon pun berdiri dan menerima pakaian tersebut.

"Aku mau keluar sampai jam makan siang selesai. Kamu urus pertemuan dengan para kolega dari Malaysia nanti malam," lanjut Marlon.

"Baik, Boss. Tapi bagaimana kalau boss besar datang ke kantor mencari Boss lagi?" tanya Melly.

"Itu urusanku, baiknya kamu keluar dari ruangan ini sekarang!" perintah Marlon.

Tanpa menunggu lagi, Melly langsung berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar.

Marlon memperhatikan baju yang berada di tangannya. Warna baju itu sama persis seperti yang sering mendiang mamanya siapkan.

"Aku harus segera pergi temui dia!" gumam Marlon.

Bab 3

Hanya dalam waktu tidak lebih dari 10 menit, mobil mewah milik Marlon telah tiba di halaman rumah kediamannya yang berlantai dua dengan pilar depan yang menjulang tinggi, menambah kegagahan rumah bercat warna putih tersebut.

Sejak tiga tahun terakhir itu, dia memang sudah menghabiskan hari-harinya untuk tinggal di rumah yang dia beli. Rumah itu khusus untuk tinggal dirinya bersama istrinya---Sarah.

Meskipun begitu, Marlon lebih banyak hidup di luar. Marlon terpaksa menyebut rumahnya itu adalah rumah utama. Ya! Rumah yang dia tempati bersama Sarah. Karena tidak mungkin bagi Marlon harus tinggal bersama papanya di rumah tempat dia dibesarkan.

Apalagi jika ada acara keluarga, rumah Marlon yang akan menjadi tempat utama. Padahal rumah itu tidak semewah mansion milik tuan Carlos. Orang tua Marlon dan Sarah memang sudah percaya penuh terhadap mereka, meskipun pernikahan mereka hanyalah sebuah permainan saja bagi mereka.

Sandiwara pernikahan itu sudah membuat kesan yang mendalam bagi keluarga kedua belah pihak. Nampak kebahagiaan selalu terpancar dari wajah mereka saat memandangi Marlon dan Sarah, padahal sekali pun keduanya tidak terlihat romantis atau bermesraan di hadapan mereka. Marlon dan Sarah hanya bersikap seolah kompak dan memang menjalani kehidupan rumah tangga yang normal.

"Selamat pagi, Den."

Seorang pembantu menyambut kedatangan Marlon sambil membungkukkan badannya setelah membukakan pintu untuk Marlon.

"Pagi. Sarah ada di mana, Bi?" tanya Marlon menyebut pembantunya tersebut.

Kedua bola mata Marlon menyapu seluruh ruangan rumahnya yang sudah dia tinggal sejak dua hari lalu. Tidak ada yang berubah, tetap sama. Hanya ada beberapa vas yang diganti bunganya karena layu.

"Non ada di kamarnya. Non sedang sakit, Den. Semalam non muntah-muntah sampai badannya lemas, tapi sudah diperiksa oleh dokter," terang pembantu.

"Sakit?" ulang Marlon sambil mengerutkan keningnya.

Marlon merasa harus menunggu sampai keadaan Sarah membaik untuk berbicara. Apalagi, Marlon berniat membicarakan hal penting. Marlon pikir itu tidak akan membutuhkan waktu yang lama, sebab selama ini Marlon lihat, Sarah tidak pernah sakit.

"Ya benar, Den." Pembantu itu membenarkan.

"Ohh ya sudah, kalau gitu aku pergi lagi saja. Kalau dia sudah mendingan, Bibi kabari aku. Aku mau bicara dengannya nanti," pesan Marlon.

Marlon berbalik badan dan hendak pergi lagi, tapi tiba-tiba ketika baru mendapatkan beberapa langkah, pembantunya itu memanggilnya.

"Den, tunggu!"

Pembantunya menyusul langkah Marlon dan berhenti di hadapannya.

"Kenapa, Bi?"

Marlon memandangi Sumi---pembantunya dengan dahi berkerut.

"Sebaiknya Aden jangan pergi dulu, sebentar lagi kedua orang tua non Sarah akan datang ke sini. Sebenarnya saya sudah ingin telpon Aden sejak pagi tadi, tapi non Sarah melarang saya, Den," adu Sumi.

Marlon mengeraskan rahangnya, dia merasa kesal. Hal seperti itu mengapa justru Sarah malah ingin mengacaukannya?

Marlon sudah dapat menebak jika dia tidak ada di rumah saat mertuanya berkunjung, maka Marlon akan mendapatkan banyak pertanyaan saat berjumpa. Dah itu bisa membahayakan untuk dia dan keluarganya ke depannya.

Pastilah Marlon tidak akan mendapatkan kebebasan seperti kemarin-kemarin, karena hidupnya akan terus dipantau oleh orang suruhan orang tua Sarah dan juga papanya sendiri---tuan Carlos.

"Baiklah aku akan tetap di rumah, kapan mereka akan kemari?" tanya Marlon mencoba bersikap tenang.

"Sebentar lagi, Den. Katanya di dalam telepon tadi jam 10 mereka akan ke sini," sahut Sumi.

Marlon jadi berfikir tentang panggilan Sarah dan papanya tadi pagi. Mungkin mereka mau mengabarkan hal itu.

Marlon terdiam. Dia mengamati arloji di lengan tangan kirinya. Masih banyak waktu.

Karena merasa tidak dibutuhkan lagi akhirnya Sumi berkata:

"Kalau gitu saya permisi, Den. Mau meneruskan masak." Sumi pun berlalu.

***

Beberapa jam kemudian.

Kedua orang tua Sarah benar-benar datang, bahkan kedua orang tua Sarah mengatakan bahwa papa Marlon---Carlos akan datang pula.

Sumi yang menyambut kedatangan mereka pun segera melaporkan kepada Marlon, yang ketika itu Marlon sedang berada di ruang pribadinya.

Marlon menghembuskan nafas pelan.

Setelah merapikan pakaiannya, Marlon pun pergi menuju kamar Sarah yang masih satu lantai dengannya. Mereka akan sama-sama menemui orang tua itu di bawah.

"Aku tidak mau tau dengan keadaanmu. Mereka datang ke sini karena hal ini. Jadi aku tidak mau ada urusan ribet dengan mereka," ujar Marlon pelan saat menjemput Sarah, lelaki itu berdiri di ambang pintu kamar Sarah.

"Kamu ngomong apa? Sama sekali aku tidak mengundang mereka ke rumah, apalagi mengabarkan tentang kesehatanku. Aku paling benci dituduh seperti ini, Marlon!"

"Sssttt! Kamu bisa gak ngomong pelan saja? Kamu menginginkan sandiwara kita terbongkar di detik ini juga ya?" ingat Marlon sedikit jengkel.

Mendengar ucapan Marlon, Sarah langsung menepiskan tangan Marlon yang hendak menuntunnya.

"Lepaskan aku, aku tidak butuh bantuanmu!" Sarah berjalan mendahului Marlon.

Marlon kembali jengkel dengan tingkah Sarah yang terlihat seperti anak kecil, yang sedang ngambek.

"Gila! Harusnya aku yang marah, kenapa malah dia? Dasar mak lampir!" hujat Marlon pelan tapi penuh dengan tekanan. Marlon juga tidak berniat menyentuhnya, hanya saja Marlon pikir Sarah akan membutuhkan bantuannya mengingat Sarah sedang sakit.

"Aku mendengarnya, Marlon!"

Marlon langsung berlarian menyusul Sarah dan berjalan di sampingnya.

"Lalu kenapa kalau aku menyebutmu mak lampir? Gak terima?" tanya Marlon masih membahas nama julukan untuk istrinya itu.

"Tak masalah kamu menyebutku seperti itu, kau juga kaya gerandong!" balas Sarah. Keduanya kini terus berjalan dan hendak menuruni anakan tangga.

"Kau berani menyebutku gerandong, Sarah!"

Marlon menarik tangan Sarah dengan kuat hingga akhirnya Sarah yang sedang dalam lemah itu tertarik oleh tangan Marlon yang kekar dan akhirnya tubuhnya tidak dapat menjaga keseimbangan sehingga kini tubuh Sarah berada dipelukan Marlon.

Tentu saja keduanya tersentak kaget.

Sepasang mata milik Marlon dan Sarah saling bertatapan, jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja. Hidung mancung milik Marlon dapat dengan jelas membau aroma parfum tubuh Sarah itu.

Sungguh sangat menggoda.

Apalagi, rambut Sarah yang sangat wangi dan lembut menyentuh wajah Marlon.

Sebaliknya, Sarah baru menyadari jika suaminya yang amat dingin dan cuek itu memiliki wajah yang sangat tampan. Sarah yakin, dia bisa mendapatkan wanita berapapun yang dia mau di luar sana.

Tapi sayangnya Marlon harus menikah dengan Sarah, padahal Sarah tahu bahwa Marlon tidak mencintainya. Begitu juga dengan dirinya.

Hingga akhirnya keduanya mau tak mau harus menahan diri untuk tidak mengenal lawan jenis dimuka publik, apalagi berpacaran karena takut ketahuan oleh orang tua mereka masing-masing. Apa kata mereka nanti? Marlon termasuk lelaki yang sempurna. Begitu yang ada dipikiran Sarah.

Dengan Marlon, Sarah terpaksa harus mengenal makhluk aneh yaitu cowok sebagai suaminya. Sarah akui, dia tidak tahu menahu tentang kepribadian Marlon di luar sana yang sering tidak pulang. Tapi Sarah juga tidak mau tahu, sebab hal itu tidak penting bagi Sarah.

Marlon bisa mendengar dan merasakan detak jantung Sarah, mengalun tidak karuan.

"Kamu deg-degan, Sar?" celetuk Marlon. Kedua bola mata Sarah hampir saja loncat keluar mendapat pertanyaan tersebut dari Marlon.

Refleks di detik ke lima, Sarah mendorong tubuh Marlon dengan kuat. Meskipun begitu, dorongan Sarah tidak ada artinya bagi Marlon. Bahkan Marlon tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri.

"Dasar otak kotor!"

Wajah Sarah memerah karena malu, sebab apa yang Marlon ucapkan adalah benar. Sarah tidak tahu kenapa dia memiliki perasaan seperti tadi, sampai-sampai detak jantungnya berdegup begitu kencang.

Mungkin ini pertama kalinya Sarah sangat dekat dengan suaminya setelah berumah tangga selama 3 tahun.

Sarah mulai menuruni anakan tangga dengan cepat. Dia sudah terlalu lama bersama dengan Marlon di atas. Sarah merasa tidak enak jika kedua orang tuanya harus menunggunya.

Marlon berdiri dengan menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.

"Sepertinya dia sudah memulai menaruh perasaan padaku, jangan sampai aku juga seperti itu. Aku harus jaga jarak, hal ini bisa membuat aku terjebak pernikahan dengannya sampai tua. Tapi gak mungkin kalau dia menyukaiku, akh! Masa bodo!" gumam Marlon membuang pikirannya jauh-jauh. Kemudian menyusul Sarah ke bawah untuk menemui orang tuanya.

"Hey, Sayang!" teriak seorang wanita paruh baya begitu melihat Sarah. Marlon dapat melihat dengan jelas wajah-wajah bahagia ketika menyambut kedatangan Sarah.

Wanita itu merentangkan kedua tangannya, hendak memeluk Sarah.

Sarah pun merangkul wanita yang telah melahirkannya itu.

"Mama, Papa. Aku rindu kalian," ujar Sarah memeluk mamanya dan papanya secara bergantian.

Marlon langsung duduk di hadapan mereka, di saat yang bersamaan tuan Carlos datang diantar oleh Sumi untuk bergabung.

"Syukurlah, kita bisa bertemu lagi di rumah anak kita," kata tuan Jameson pada tuan Carlos. Tuan Carlos  menerima jabatan tangan tuan Jameson. Kemudian duduk berdampingan. Senyuman terus mengembang di wajah mereka.

Akhirnya semuanya duduk di tempatnya masing-masing.

Marlon mencuri pandang ke arah tuan Carlos yang tampak memandangnya dengan tatapan tajam. Marlon tahu jika tuan Carlos sedang marah padanya.

Mungkin karena suatu hal, tapi entah apa. Marlon pun pagi tadi juga tidak sempat bertemu dengan tuan Carlos di kantor dan berbicara empat mata.

"Tumben Papa dan Mama ke sini? Ada apa?" tanya Marlon to the poin.

Sesaat semuanya terdiam melihat Sumi menyuguhkan minuman dan kue. Setelahnya, Sumi kembali ke belakang.

"Iya, Marlon. Kami memang sengaja janjian untuk ke sini. Setelah kalian menikah 3 tahun yang lalu, rasa-rasanya kami semua menginginkan cucu," ujar nyonya Yuki---mama Sarah diikuti anggukan tuan Jameson.

Marlon dan Sarah saling berpandangan.

Bagaikan mendengar petir di siang bolong, mereka hanya bisa melongo.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED