Bab 1

Tanpa beringsut dari tempat tidur, Aku menjawab pertanyaan ayah.

"Iya, Ayah,"

Kurasakan tangan kekar ayah mengusap kepalaku, lantas mengecupnya.

"Semoga bahagia, Nak,"

Mampukah aku menerima perjodohan ini, pilihan ayah kuyakin tak salah tapi tanpa cinta? Bisakah?

**

Dengan tergopoh kumasuki kelas, telat 3 menit. Beruntung pak Hadi belum masuk kelas.

"Tumben lu kesiangan?"

Aku menunjuk sepatu yang basah, menjawab tanya Rani. Sambil terus meniup niup sepatu.

"Abis ngapain lu?"

"Angkot sialan tadi brenti pas dijalan berlubang, masuk tuh kaki gue"

Kudengar Rani tertawa namun segera berhenti karena pak Hadi mengucap uluk salam dari luar.

"Tita, coba tulis jawaban peer kemarin," kata pak Hadi memerintahku. Aku langsung berdiri dan maju. Tanpa berlama-lama aku tulis semua jawaban pekerjaan rumah kemarin.

"Jawaban yang sama dengan Tita, berarti bener ya," seru pak Hadi.

Riuh suasana kelas, ada yang berseru "Yes" ada pula yang mengeluh "Hadah" dan itu artinya tidak dapat mengikuti ulangan matematika kali ini. Begitulah konsep pak Hadi dalam mengajar kami. Tak ikut ulangan maka harus ikut belajar dengan kelas lain yang sedang belajar matematika juga namun beda guru. Tak perduli itu kelas berapa. Dan pastinya malu jika dimasukan ke kelas 10.

Yang tersisa di kelas hanya 26 orang dari jumlah siswa 37 orang. Yang tidak mengikuti ulangan disebar di beberapa kelas.

"Siap semuanya, fokus, ada hadiah hiburan bagi yang berhasil menjawab benar semua, " kata pak Hadi mengumumkan.

"Horee...,"

"Pasti yang dapet, Shanum lagi," celetuk Rani. Aku menyenggol siku tangannya.

"Siapapun pokoknya"

Pak Hadi hanya memberikan waktu satu jam dalam menjawab soal ulangan. Aku, hanya butuh 25 menit saja untuk menjawab tujuh soal ulangan matematika ini. Bagiku, matematika itu ilmu pasti, satu ditambah satu harus dua jawabannya selain itu salah. Berbeda dengan Bahasa.

"Sudah satu jam, kumpulkan selesai tidak selesai."

Seisi kelas bergeming, menunggu hasil ulangan tadi. Bertanya-tanya siapa yang mendapat hadiah dari guru yang bagi sebagian siswanya itu killer.

"Oke, ada dua orang yang akan bapak kasih hadiah kali ini. satu, karena dia benar semua. kedua, karena progres siswa ini meningkat luar biasa,"

Semua saling pandang, siapa siswa yang dimaksud pak Hadi.

"yang benar semua sudah gak asing lagi, Tita Shanum, dan yang kedua Devan Adrian."

what???? Devan Andrian? Siswa paling konyol di kelas ini.

Dia siswa yang paling seneng bikin aku keki. Rani senggol-senggol tanganku sambil berbisik "cie"

"ayo, Tita sama Devan kemari," panggil pak Hadi. Aku dan Devan menghampiri, Alhamdulillah dapat bingkisan dari guru yang beda dari yang lain itu.

"Terima kasih, Pak."

***

Depan gerbang sekolah, sudah menunggu seorang cowok berpenampilan rapi. Meski wajahnya terlihat seram tapi dia tampan.

"Siang, Ta," sapanya menyunggingkan senyum.

"Siang, Ken."

"Kamu gak kuliah?" tanyaku sambil masuk ke mobil pajero putih.

"Sudah ko,"

Agak kaku aku duduk di sebelah Kenzo, Dia sesekali melirikku. Ah, ayah kenapa ayah jodohkan aku dengan cowok kulkas macam Kenzo. Harus aku terus yang memulai pembicaraan dengan topik yang aku sendiri males cerita.

"Kenapa kamu mau dijodohkan sama saya?" akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibir cokelat kehitaman Kenzo.

"Ayah gak akan salah pilih." kujawab sambil melempar muka ke samping kiri. Lantas kudengar Kenzo tertawa renyah sekali.

"Bapakmu salah, Ta, aku gak sebaik yang kalian kira"

Aku hanya menyimpulkan senyum menanggapinya. Tak mungkin juga lelaki soleh mengaku soleh, pikirku.

"Mau makan dulu?" tawarnya.

Aku mengangguk, "Boleh"

Kenzo memarkirkan mobilnya di sebelah timur caffe terdekat dari rumahku.

Pas keluar dari mobil, Kenzo dihampiri dua orang lelaki berperawakan atletis sama seperti Kenzo.

"Bos, biasa ya, " kata mereka sambil tos.

"Beres," sambut Kenzo.

Lantas mereka berbisik yang entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti aku tak mau tahu urusan mereka dulu.

"Have fun, Bos," ujar mereka sambil pergi.

"Mari, Neng," pamit mereka. Aku cuma tersenyum ke arah mereka.

"Temen-temen saya itu,"

Kuanggukan kepala merespon ucapan Kenzo.

Acara lunch bersama Kenzo, menyenangkan buatku. Sejauh ini aku masih yakin Kenzo lelaki baik. Meski sedikit terlihat sedikit seram. Apalagi melihat rekannya, bertato semua.

Diperjalanan pulang, dia lebih sibuk dengan ponselnya. Sepertinya ada sedikit masalah.

"Kenapa?"

"Biasa, anak buah gue rese,"

What, anak buah? aku mulai berpikir aneh, ah tapi dia kan memang pengusaha. meski entah aku belum tahu apa usahanya.

"Eu, maksudku temen nyebelin. Dia janji mau bayar utang ternyata gak jadi," kilahnya mengetahui keherananku. Mulutku membentuk huruf O.

"Mampir dulu, kan?" tanyaku ketika mobil sudah depan rumahku.

"Aku buru-buru, salam buat orangtuamu."

"Baik, Terima kasih buat hari ini. Kamu hati-hati ya"

"Siap, makasih, Ta."

**

Hari perlahan beranjak menjadi petang lalu berganti malam. Entah kenapa hatiku masih cerewet mengingat Kenzo. Ayah seyakin itu menjodohkan aku dengan Kenzo.

Semoga dia lelaki yang terbaik pilihan ayah. Ups, aku teringat sesuatu. Aku harus mengisi mading besok. Aku segera mengambil kertas hvs lalu kutulis sebuah prosa.

Jika pagi, senyum tersimpul seumpama teduh. Memaknai tentangmu adalah asa. Apa kabar, hati? Tiada warna yang sia-sia manakala tawa-tawa indahmu membersamai langkah yang menyandingkan jejak.

Jika senja memulangkan segala penat itu, mungkin saja ingin bermanja cerita tentang isi kepala.

Dan hening masih setia menyambut mimpi-mimpi yang berserakan layaknya bunga-bunga setaman, indah ... indah dan selalu harum semerbak

Majalengka, Juni 2022

Done, semoga pak Ragung suka. Guru bahasa Indonesia itu sangat selektif memilih karya yang akan dipasang di mading sekolah. Aku sebagai pengurus punya tanggung jawab dan andil di dalam nya.

Kulihat jarum jam menunjukan pukul 22.23 wib. hoam, pantesan mataku mulai mengantuk. Astaghfirullah, aku belum sholat isya. Bergegas aku ke kamar mandi mengambil air wudhu. Maafkan aku, Tuhan. Aku sering lalai dalam ibadahku, aku tak layak masuk syurga tapi aku pun tak mau masuk neraka. ya Allah izinkan aku terus menghirup udara dunia, agar aku bisa memperbaiki diri. Sukur-sukur bisa menebus dosaku yang kian menggunung. Tetapkan imanku, lahaula wala Kuwata ilah billah...

Kuakhiri doaku dan bersiap tidur, tapi ...

Suara notif whatsapp bunyi, ada pesan masuk dari aplikasi hijau itu.

[Sudah tidur?] pesan dari Kenzo.

[Baru mau, kenapa? tumben amat.]

[Lagi ingin chat saja, sudah belajar kamu? ]

[Sudah]

[tidurlah]

[Kamu juga, see u]

[Dah]

Kumatikan ponselku, agar terhindar signal radiasi. Tak lupa kupadamkan lampu agar tidurku terlelap.Lupa, aku belum minum obat. Kembali turun mengambil obat dan meminumnya, semoga Allah menyembuhkan sakitku. Bismiks Allahumma ahya wabismika amut.

Bab 2

Asolatu khoiruminanauw.... Aku terkesiap kaget mendengar suara adzan subuh. Ternyata mimpi lagi pas pertama jalan dengan Kenzo.

Segera aku ambil handuk dan masuk kamar mandi. Aku kerja shif pagi kali ini.

"Ta, buruan. Mau berjamaah, gak?" teriak ayah.

"Sebentar,"

Terpaksa mandi bebek, demi ikut berjamaah dengan keluarga. Senangnya punya Ayah dan ibu yang baik.

[Ta, aku jemput agak telat setengah tujuh gak pa apa kan?] chat wa dari Kenzo.

[Iya, Ken]

[Yasudah, jangan lupa sarapan dulu]

[Kamu juga]

[Iya]

Kenzo Alfarizi, laki-laki yang dijodohkan denganku. Masih kupantau apa usaha dia selama ini, kuliah malah out. Uangnya banyak, sering transfer aku tapi tak pernah aku pakai. Aku takut itu uang tak halal, na'udzubillah.

Kudengar suara klakson mobil di depan. Pasti Kenzo, dan benar saja. Fortuner barunya nongkrong depan rumahku.

Setelah pamit sama ayah dan ibu, aku pun langsung meluncur ke tempat kerjaku.

"Padahal tanpa kamu kerja, aku bisa memenuhi kebutuhanmu, Ta."

Tanpa menengok karena dia fokus nyetir dia bicara.

"Terima kasih, aku bisa bekerja," jawabku tak lupa tersenyum. Aku lebih bangga memakai uang hasil keringatku sendiri. Meski uang gajianku lebih kecil dari uang yang tiap bulan dia transfer. Aku tak mau jadi benalu buat dia ataupun keluarga.

"Ta, kapan kamu siap menikah?"

Oh my God, pertanyaannya membuatku tersedak.

"Nanti ya, Ken. kita saling mengenal dulu. Aku takut kamu menyesal menikah denganku."

"Kenapa begitu, orang tuaku pasti tak salah pilih."

Memang, aku juga berpikir demikian. Tapi, makin kesini tingkahnya semakin aneh. Hampir tak pernah kudengar dia tidur, pasti saja rame dengan teman-temannya.

"Iya si, Ken. Tapi yang jalani kan kita, jadi kita saling mengenal aja dulu."

"Berapa lama?"

"Satu tahun, maybe."

"Oke, Ta."

Suasana pabrik sudah mulai rame, aku segera ke tempat fingerprint lalu masuk ruangan.

"Pagi, Tita," sapa Rio anak teknisi.

"Pagi,"

"Cerah amat tuh muka,"

Aku melirik ke arahnya, "Gaje, lu"

"Cantik-cantik judes." Cibirnya padaku.

Posisiku lumayan aman di pabrik, seorang inspek di departemen linking. eitss, tunggu. Aku begitu gampang masuk pabrik ini dengan jabatan yang lumayan. Kenzo yang rekomendasikan, wih, sepenting itu seorang Kenzo di mata HRD. Siapa sebenarnya seorang Kenzo?

"Oiy, jangan ngelamun"

Aku dikagetkan Rio, lagi. Tuh anak ngintilin aku terus. Andai Kenzo tahu bisa bermasalah dia.

"Sono kerja!"

Sedikit kutinggikan nada bicaraku. Aku kurang suka terus dikuntit Rio.

jarum jam masih setia berputar, tak terasa waktu merangkak begitu cepat. Hari sudah setengahnya berlalu.

30 menit lagi bel istirahat bunyi. Aku masih asik keliling mengontrol hasil kerja operator di ruanganku.

"Tita, sudah ada hasilkah untuk idepe 76?" tanya Mr Lee menghampiriku.

"Sudah mister, saya sudah kirim ke bagian sample," jawabku.

"God Job," pujinya mengacungkan ibu jari ke arahku. Untung saja aku gerak cepat membuat hasil linking ke bagian sampel.

Kalau tidak, bakal ngamuk mister Lee.

Kulihat Rio mengerling nakal ke arahku, astaga dia keterlaluan. Kuacuhkan saja dia. Akhirnya bel istirahat berbunyi juga, aku segera rapiin semua.

[Ta, sudah rehat? ]

[Ni mau keluar ruangan]

[Aku di depan pabrik, ni. keluar gih] Tumben amat Kenzo. Ada apa ya?

Aku segera keluar untuk menemui Kenzo.

Dia melambaikan tangan di dalam mobilnya,

"Tumben, ada apa, Ken?"

"Kebetulan lewat, Ta, nih aku bawain makan."

Kenzo memberikan satu kotak nasi plus ayam goreng.

"Makan di dalam saja, sini,"tawarnya membukakan pintu mobil.

"Oke,"

Akupun segera masuk ke dalam mobil.

"kamu dah makan?"

"Sudah, kamu makan lah"

Aku mengangguk iya. Mengingat aku dikejar waktu, segera kusantap makanan yang dihidangkan Kenzo.

"Duhur berjamaah, yuk?" ajakku.

Kenzo planga plongo. "Eu, eu .... "

"Yasudah, aku duhur dulu."

"Iya, maaf gak bisa temenin,"

Aku tersenyum mengangguk, bukan minta ditemenin wahai Kenzo, aku mau kita solat berjamaah. Ah, mungkin malu pikirku.

Aku memasuki tempat wudhu cewek, sebelum mulai solat di mushola pabrik.

"Mau berjamaah denganku?"

tawar Rio menghadangku.

Bukankah pahala sholat berjamaah jauh lebih besar dari sholat sendiri. Tapi Rio? tak apa, yang kucari pahala bukan pujian.

"Hayuk"

"Oke"

Akhirnya Rio mengimamiku sholat duhur.

***

Bekerja delapan jam di pabrik tekstil ini membuatku sedikit ceria, di sana aku temui berbagai macam karakter orang. bisa kujadikan pengalaman cerita-cerita mereka.

Pernah kutemui seorang ibu muda yang

bekerja karena dipaksa keadaan. Baru melahirkan, ditinggal suaminya. padahal seumuran denganku. Kasihan sekali nasibnya, meninggalkan bayinya demi bertahan hidup. Semoga tidak kualami dalam hidup.

"Mba Tita, ukuran bahunya yang tepat berapa idepe lima sembilan?" tanya operator line 7 itu.

"Enam inci, coba tensyennya pas in ke Rio"

"Baik, mba,"

Operator yang kuketahui bernama Rina itu mencari cari Rio.

"Noh, di line lima," tunjukku.

"Oh iya mba"

Jam-jam terakhir aku harus membuat laporan hasil dari setiap idepe yang dikerjakan lima line peganganku.

Sedikit mumet karena suka tertukar nama.

"Panggil gue, Ta? "

Astaga Rio, malah nyamperin ke mejaku. Membuat konsentrasiku buyar saja.

"Rina yang butuh elu, bukan gue."

"Oh"

Kembali berkutat dengan lembaran-lembaran kertas putih, yang harus aku tulis dengan teliti.

"Mba, tensyennya gak bisa berubah. mentok di 5,5 inci"

Rina kembali mengahadapku. Astaghfirullah, ini pasti kerjaan Rio. Aku beranjak, mengikutinya sampai mesin 14 get.

Kuputar-putar tensyen mesin naik turun, kuatur sesuai pola idepe tersebut.

"Coba jahit," perintahku. Rina mencoba satu pcs bahu. Tak menunggu lama, dia kerjakan hanya dalam hitungan menit. Rio mendelik, aku tahu apa yang ada dipikirannya. Dia sedang bermain-main dengan Inspek cerdas Tita Shanum.

Kuukur jahitan bahu Rina, dan ternyata masih kurang 1 inci. Rio tersenyum mengejek, aku tak menyerah. Kurebut kunci yang sedang dipegang Rio. Kupakai untuk mengunci tensyen mesin biar pas.

"Coba lagi," kataku memberi perintah lagi pada Rina. Dia manut, aku membuka kembali jahitan bahu yang kurang pas tadi.

Lima menit kemudian, aku mengukur kembali jahitan baru Rina. Dan, berhasil. Rio tepuk tangan sambil berucap "Hebat,"

"Jangan bercanda sama saya," tegasku.

"Sorry, Nona"

Aku meninggalkan tempat itu, pekerjaanku masih belum beres. Masih harus kutulis angka-angka di kertas itu. Juga pedoman pola yang kubuat harus sesuai sampel. Semoga hariku menyenangkan setelah ini.

Kuambil kalkulator, menghitung total jumlah hasil dari tiap line.

"Ta, laporannya tinggal dulu. Ikut saya!" Tiba-tiba mister Lee menyuruhku ikut dengannya. Detak jantungku tak beraturan, ada apa gerangan. Kami ternyata menuju ruangan sampel.

"Ini hasil kamu?" tanya mister Lee

"Iya,"

"Kasih lihat sama pengawas, Lisa, hasil dia lebih buruk dari punyamu. Bagaimana dia kerjakan pola hah?"

Aku mengambil sampel yang kubuat itu, dan menghampiri pengawas line tiga, Lisa.

"Kamu buat sampel pake pola yang mana?" tanyaku.

"Yang dikasih mba lah," jawabnya sedikit bernada tinggi.

"Mana ada hah, hasil lingking mu jauh beda sama punya Tita." Mr Lee menyerahkan hasil lingkingku ke hadapan Lisa, juga hasil Lisa. Tapi sayang, bel pulang berbunyi. Aku menghela nafas. Setidaknya aku bisa istirahat dari ruwetnya hari ini.

Bab 3

"Gimana kerjamu hari ini?" tanya Kenzo yang menjemputku.

"Tadi sempet bersitegang, cuma keburu bel. Pasti besok rame," jawabku.

"Loh, kamu ribut sama siapa? bilang, dia ngapain kamu? "

Aku kaget melihat reaksi Kenzo, dia kenapa

ya.

"Gak, Ken. Orang lain yang kena, bukan aku."

"Oh, kalo ada yang jahatin kamu, bilang ya,"

"Mana ada, Ken. ah"

"Kali saja"

Lama kami terdiam di mobil, cuma sesekali saling pandang.

"Ken," panggilku.

"Iya"

"Kamu gak cape antar jemput aku?"

Ngiiiik ... Kenzo mengerem mobil secara tiba-tiba.

"Kamu bosen?"

Astaga kenapa dia malah melempar pertanyaan seperti itu.

"Bu--"

"Turun sana!" Bentaknya sedikit kasar. Sungguh, adrenalinku terpacu sekali. Ada apa dengan Kenzo.

"Ken, aku tak bermaksud. Tolong dengerin dulu." Kutautkan kedua telapak tangan memohon padanya.

"Turun!" sekali lagi dia membentakku. Akupun mengikuti perintahnya dengan berat hati. Kenapa Kenzo jadi sekasar itu?

Bagaimana kalau dia mengadu pada ayah, ya Tuhan ada apa ini. Siapa sebenarnya calon suamiku itu.

Kenzo menurunkan aku di jalanan, ah, pria macam apa kamu.

Tiba-tiba langit muram, titik-titik air mulai turun. Ya Tuhan, mulai menggigil aku membayangkan hujan besar dilengkapi petir yang bersahutan.

Ah, terlalu kau Tita. Santai saja, dibawa happy. Pikiranku mulai kudoktrin dengan hal hal yang baik.

Namun, duarrrr ...!

"Ayaaaah," jeritku duduk dengan melingkarkan tangan pada kaki yang kulipat. Masih dalam guyuran hujan dan rasa takut yang memuncak, kuberanikan berdiri saat mataku tertumpu pada dua orang lelaki bertato yang kuyakini teman Kenzo. Mau apa mereka, pikirku.

Mereka mengendarai motor berboncengan, berhenti dekat tong sampah samping pohon mangga.

Kupaksa seret langkahku sedikit mendekat, hujan mulai mereda tapi bajuku lumayan basah.

Dua orang berbadan tegap itu mengambil bungkusan dalam tong sampah, tak mungkin mereka pemulung. Apa yang mereka ambil, bungkusan itu rapi seperti baru terbungkus.

Lalu,

Oh My God, Rio menghampiri dua orang tersebut. Sepintas kulihat dua orang yang tadi mengambil bungkusan berbincang dengan Rio lalu mereka memberikan uang lumayan banyak kepada Rio. Apa yang mereka lakukan? pikirku. Mereka melakukan transaksi apa. Teman-teman Kenzo dengan Rio, apa hubungannya? Aku sedikit membungkuk takut Rio melihatku.

Aku sembunyi di balik pohon besar, memantau mereka.

Hanya sebentar, mereka lantas pergi. Apa sebenarnya usaha Kenzo, siapa juga Rio. Pertahananku mulai oleng, dingin menyergap menusuk pori- pori kulitku. penglihatanku sedikit mengabur karena pusing yang dahsyat, dan brakk ...!

Entah bagaimana ceritanya, aku tersadar sudah berada di kamarku sendiri. kulihat sekeliling, ayah dan ibu tersenyum menyambutku.

"Tita kenapa, Yah?"

"Gak papa, Sayang. Kamu hanya pingsan,"

"Siapa yang antar aku pulang?"

"Kenzo,"

Kenzo? dia tidak ada di tempat waktu itu. Kenapa bisa dia yang mengantarku pulang. Kuraih ponselku, ku kirim message ke nomor Kenzo.

[Ken, Thanks ya, dah nganterin aku pulang]

Hmm, ceklis satu. Dia off, tumben amat.

Hampir 20 menit tak ada balasan dari Kenzo.

[Lain kali gak usah ujanan] akhirnya dia balas juga.

[Iya, terimakasih]

[Aku otewe ke sana, tunggu]

[Iya, Hati-hati]

[Sip]

aku yakin Kenzo orang baik, kemarin mungkin sedang kecewa urusan pekerjaan. Tapi, apa pekerjaan dia sebenarnya?

"Makan, nih, "

Kenzo datang bawa makanan, dia itu perhatian sekali.

"Makasih,"

Ingin sekali aku bertanya apa hubungan dengan Rio dengan pekerjaannya.

Aku takut dia marah seperti kemarin, lagipula ada ayah di rumah takut beliau kepikiran.

"Eh, ada nak Kenzo," sapa ayah menghampiri. Kenzo langsung menyalami tangan ayah. Ya Allah, aku semakin bimbang. dia sopan pada orangtuaku, tapi kemarin ...,

"Ayah ke luar dulu, kalian lanjut ya"

"Iya, Yah," jawab Kenzo masih sangat sopan sekali.

"Ta, soal kemarin aku--"

"Gak papa, Ken,"

"Aku lagi pusing kemarin,"

"Sabar ya,"

"makasih, ta,

Kuperhatikan gestur tubuhnya saat dia menerima pesan yang entah dari siapa.

Dia gugup, terkesan marah juga. Lalu dia menelpon seseorang.

"Bawa dia, jangan jadiin tumbal dulu. Dia harus dapat balasan dari gue"

Sontak aku kaget mendengar itu, apa ada hubungannya dengan kejadian tadi. Ada apa dengan mereka, apa tumbal yang dimaksud Kenzo.

***

Pagi kembali hadir, membuatku semangat menjalani hari kembali ceria. Kenzo izin tidak mengantarku ke tempat kerja, dan aku harus bawa motor sendiri ke pabrik.

"Hati-hati, Nak," ujar ayah dan ibu saat ku pamit.

"Iya, Assalamu'alaikum,"

"Wa'alaikumsalam"

Dengan hati-hati kukendarai motor yang kubeli dari hasil kerjaku, lumayan, meski second tapi layak dipakai. Daripada aku harus kredit motor baru bikin pusing kepala juga riba dan pantang bagiku.

Di depan ruanganku sudah kulihat sosok tinggi dan putih yang tak lain Mister Lee, masya Allah pasti dia bakal bahas soal sampel kemarin. Ah, Lisa kamu harus kena wejangan dari mister Lee. Ngeyel si, sudah kukasih pola yang dah di Acc mister malah buat sendiri sesuai idemu. Nyari penyakit saja.

"Pagi, Mister," sapaku.

"Pagi, mana Lisa?"

Kan, dia kalau belum tuntas marahnya pasti dilanjut episode berikutnya.

"Belum datang, kayaknya, Mister,"

"Pengawas macam apa dia hah, hari siang sudah belum datang" katanya kebolak-balik.

"Macet, barangkali"

"Ada mana jam macet hari pagi," serunya belepotan, maklum dia belum sepenuhnya menguasai bahasa Indonesia.

"Ya saya tidak tahu, Mister,"

"Lagi kamu saja ada ada,"

Ya Tuhan, ada-ada saja kali. Dasar mister bloon. Untung cakep, kalau jelek pengen tak toyor.

Aku celingak-celinguk mencari Rio, tumben sekali dia belum datang. Biasanya dia on time, dan selalu menyapaku. Astaga, bagaimana jika yang dimaksud Kenzo itu Rio yang akan dijadikan tumbal. Ah, tak mungkin.

"Melamun malah kamu," mister menarik ujung jilbabku.

"Sorry, Mister, saya keingetan sesuatu tadi"

"Pacar hah"

"Bukan,"

Kepo banget si mister Lee itu. Lisa kulihat dia seperti tegang memasuki ruangan kerja, hampir saja aku tertawa meledeknya.

"Ini jam masuk baru, kemana pergi dulu?" tanya mister Lee.

"Maaf, Mister. Tadi ban motor saya bocor, jadi saya tambal dulu," jawab Lisa sedikit menundukan pandangannya.

"Sudah, kamu kemarin kerja cara apa hah? Tita kamu kasih sampel betul kenapa salah kamu buat hah?"

"Tita salah ngasih pola kali," eits playing victim.

"Kalau gue salah kasih pola, sampel gue sudah pasti salah jahit peak," cecarku.

"Marah kenapa jadi kamu Tita, biar saja saya buat dia marah"

"Maaf, Mister, mungkin mesin ganti tensyen"

Astaga, alasan apalagi. Macam anak kecil saja tingkahnya. Harusnya dia akui saja kalau dia salah, kelar urusan. Ini malah muter-muter tak jelas kemana arah pembicaraannya.

"Masih kerja mau di sini? "

"Masih, Mister,"

"Buat macam Tita sekarang."

Mister Lee mendorong sedikit tubuh Lisa, saling kesal kuyakin. Lisa menatapku penuh benci, kubalas tatapannya sambil menyeru "Ape lu?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED