"Kamu jangan terlalu menuruti kemauan anakmu itu, Nisa! Apa kamu nggak tau, jaman sekarang mencari uang itu susah!" ujar Arman.
"Aku hanya membelikan ahmad tempat pensil,
kok Mas!" Nisa berusaha menjelaskan alasannya.
"Alah ... memangnya nggak bisa apa pakai kantong plastik?" tanya Arman tajam.
"Ingat Nisa! Jika ada uang lebih dari belanja, lebih baik kamu tabung! Agar saat kamu perlu sesuatu bisa kamu gunakan, nggak semata mata mengemis pada suami, paham!"
"Iya Mas!" Nisa hanya menarik napas pelan.
Lagi-lagi Nisa harus menahan kesal dengan segala perintah dan aturan yang diberikan.
"Oh ya Nisa, jika nanti Ibu atau Bella datang, jangan lupa kamu layani dengan baik?" ujar Arman.
"Aku nggak mau mereka ngadu tentang kamu, yang tak menghormati Ibuku!" ucap Arman lagi tanpa beban.
"Belajarlah untuk menjadi istri yang baik di mata Ibu! Kamu bisa 'kan?" Arman sedikit melunakkan suaranya.
"Ya Mas..! Tapi selama ini, aku itu sudah berusaha untuk selalu menghormati Ibumu, dan menuruti setiap perkataannya, lho! Dan aku juga selalu berlaku baik pada adikmu, Mas!" jawab Nisa.
"Kalau suami ngomong itu didengar Nisa, bukan dibantah! Buktikan dong, jika kamu itu memang istri yang baik di mata keluargaku. Bukan cuma pajangan!" Arman pun lantas berlalu begitu saja dengan raut wajah masam.
"Iya Mas," jawab Nisa dengan suara lembut. 'Apa selama ini, aku hanya istri pajangan?' Nisa mengusap dadanya perlahan.
"Bunda..Ahmad lapar!" Seorang anak laki laki berusia enam tahun berjalan menghampiri Nisa.
Nisa yang tersadar dari lamunannya, segera bangkit, "Ma'afin Bunda ya sayang, Bunda sampai lupa anak tampan Bunda belum makan siang! Ikut Bunda ke dapur yuk!" Nisa berjalan ke dapur, sambil menggiring putranya.
Saat sampai di dapur, kata yang tak pantas kembali terdengar, keluar dari mulut suaminya.
"Anak kecil itu nggak perlu makan makanan yang enak-enak, Nisa! Masa' sebagai Ibu, kamu nggak paham! Di usia mereka, hanya perlu gizi dan protein untuk pertumbuhannya, jadi biasakan saja anakmu itu, makan sama tahu atau tempe." Setelah berkata, Arman pun berlalu masuk ke kamar.
"Ya Allah! Ampuni hamba jika terlalu sering mengeluh dan mengadu! Hamba mohon, lunakkanlah hati suami hamba, dan buatlah ia menerima anak hamba, seperti janjinya saat ingin menikahi hamba dulu!" hanya do'a yang terucap dalam hati Nisa, sambil menyiapkan nasi putranya.
"Nggak usah Bun, Ahmad bisa makan sendiri kok!"
Ahmad pun mengambil alih piring dan sendok dari tangan bundanya, yang ingin menyuapkan nasi kemulutnya dan mulai memakannya sendiri.
"Pintar...anak Bunda udah bisa makan sendiri ya?" ucap Nisa sambil mengusap kepala putranya.
Ada perasaan pilu, di saat melihat anak yang ia besarkan, kini telah tumbuh menjadi anak yang penurut dan pengertian.
"Bun, nanti jika Ahmad udah besar, Ahmad akan bekerja seperti Ayah, cari uang yang banyak untuk Bunda! Agar Bunda bisa beli apa saja yang Bunda mau!" ujar bocah enam tahun itu semangat.
"Terimakasih sayang, Bunda do'akan jika Ahmad udah besar nanti, bisa jadi orang sukses ya? Sekarang makannya dihabisin, biar cepat besar seperti Ayah!"
"Iya Bun!" Ahmad pun melanjutkan makannya dengan lahap.
Hati Nisa terasa perih, jika membayangkan pendidikan putranya nanti "Untuk sekolah dasar saja sekarang sudah perhitungan, apalagi nanti," ujar Nisa pada diri sendiri.
"Aku harus usaha mencari uang sendiri, agar bisa memiliki tabungan untuk membiayai pendidikannya nanti, tapi usaha apa?" kata hati Nisa.
"Nisa!" panggil Arman dengan pakaian rapi keluar dari kamar mereka, kebiasaan yang akhir akhir ini dilakukan Arman, keluar dan pulang larut malam.
"Ya Mas!" Nisa bergegas beranjak begitu mendengar panggilan suaminya.
"Aku mau keluar, mungkin larut malam baru pulang! Jangan keluar rumah jika nggak benar benar penting!"
"Dan ingat pesanku tadi, jika Ibu datang sambut dengan baik!" Lagi-lagi perintah yang diberikan Arman, tak ubah seperti majikan pada pembantunya.
"Iya Mas!" hanya itulah, kata yang selalu terucap dari bibir Nisa jika tak ingin berujung perdebatan.
Nisa menemani anaknya kembali, setelah selesai, Ahmad berjalan mengambil buku ke kamarnya dan duduk kembali di tempat semula.
Nisa melanjutkan kembali kegiatannya membersihkan rumah yang berkali lipat lebih besar dari rumah orang tuanya waktu di desa.
Lelah setelah membersihkan rumah dan juga menyelesaikan urusan dapur, Nisa istirahat di kursi sejenak sambil menikmati segelas teh.
"Huhh...! Capeknya!" Terdengar hembusan kasar napas Nisa, sambil memikirkan masa depan rumahtangganya.
Suara bel yang terdengar menyadarkan Nisa dari lamunannya, ia pun beranjak dari duduknya dan membukakan pintu.
Tampak dua orang wanita dua generasi yang tiada lain adalah ibu mertua dan adik iparnya.
"Buka pintu aja kok lama!" Tanpa mengucap salam,
Kedua wanita itu pun langsung memasuki rumah tersebut.
"Biasa Ma, palingan juga lagi tiduran dan menikmati pasilitas mewah di rumah ini!" komentar Bella.
Bella berlalu bersama ibunya menuju ruang keluarga, sambil sesekali tertawa ngakak.
"Ibu sama Bella mau minum apa?" Walau sering direndahkan namun sebagai tuan rumah, Nisa tetap berusaha ramah.
"Aku minuman dingin aja, ingat jangan pakai es! Aku nggak mau jika nanti perut aku jadi gendut!" ucap Bella sambil memainkan kuku lancipnya.
Mendengar request dari adik iparnya, Nisa menarik napas dalam.
"Apa! Kamu nggak mau aku perintah ya?" Mendengar hembusan napas yang mengandung keberatan, Bella langsung tak terima! Dan berkata kasar tanpa merasa bersalah.
"Udahlah Bell, namanya juga orang kampung dan nggak berpendidikan! Mana tau sopan santun cara melayani tamu!" kata bu Susy terdengar menghina dan merendahkan.
"Kamu siapkan makan, aku dan anakku lapar! Dan ingat! Masak itu, harus masakan kota jangan masakan kampung!" titah bu Susy.
"Cuci bersih bahan masakannya ya? Jangan terlalu pedas, dan jangan terlalu banyak minyak, semuanya harus higienis! Awas aja kalau aku sampai sakit perut!" lanjutnya sambil melambaikan tangan mengusir.
"Iya Bu." Nisa pun beranjak ke dapur meninggalkan tamunya.
"Ibu kenapa sih larang aku ngerjain dia!" protes Bella.
"Sudahlah, kamu tenang saja, ibu punya rencana baru buat ngerjain dia!" jawab Bu Susy tersenyum smirk.
"Iya Bu!" jawab Nisa.
Nisa segera menyiapkan semua pesanan dan permintaan mertua dan adik iparnya dengan begitu teliti.
Setelah mengantarkan minuman untuk keduanya, Nisa kembali ke dapur.
Nisa menyuruh Ahmad yang menemaninya sambil belajar di meja makan, masuk ke kamar. Dan dia pun melanjutkan kembali, kegiatannya di dapur.
Setelah kurang lebih satu jam, semua masakan pun telah selesai disajikan. Nisa pun beranjak menemui mertua dan adik iparnya kembali.
"Bu, makanan sudah saya siapkan! Apa Ibu ingin makan sekarang?" kata Nisa.
"Masak begitu saja kok lama! Kenapa sih Arman mau menikah sama kamu! Kerja aja lelet begitu!" Bukannya menghargai, justru hinaan yang terlontar dari bibir bu Susy.
Bu Susy dan Bella beranjak dan berjalan ke arah dapur, duduk di kursi meja makan. Tanpa basa-basi untuk mengajak menantunya makan bersama, sepasang ibu dan anak tersebut, menikmati makanan yang tersaji.
Sementara Nisa hanya duduk memperhatikan keduanya, yang sama tak menganggap keberadaannya.
"Lain kali, kalau masak jangan terlalu banyak minyak, biar nggak nambah kalori dan bikin kolesterol," ujar bu Susy mengomentari masakan, menantunya.
"Iya Bu!" jawaban simpel dan aman itulah yang digunakan Nisa, jika menjawab ocehan mertuanya.
"Jangan iya iya aja! Apa yang dikatakan Mama itu di dengar bukan dilupakan, dasar orang kampung! Begitu saja nggak becus!" sarkas Bella ketus.
Kata kata pedas pun seolah sudah menjadi resep bagi Nisa, dalam mengolah kesabarannya.
"Iya Bell, lain kali akan saya kurangi minyaknya!" jawaban yang sama dari Nisa untuk menjaga telinganya dari bentakan Bella.
"Kami mau pulang tapi nggak ada ongkos taxi! Jadi berikan uang Arman untuk ongkos kami pulang satu juta!" ungkap Bu Susy sambil tersenyum ke arah putrinya.
"Maaf Bu, jika uang aku nggak punya. Aku cuma pegang uang belanja untuk sepuluh hari, dan jumlahnya juga tidak seberapa lagi!" jawab Nisa jujur tanpa maksud menjelekkan suaminya.
"Kamu jangan bohong ya! Arman itu uangnya banyak. Gak mungkin kamu hanya dikasih uang belanja sepuluh hari sekali! Apa kamu pikir aku percaya?" ucap bu Susy membela anaknya.
"Iya Bu, Mas Arman hanya memberikan uang belanja satu juta untuk sepuluh hari, dan hari ini adalah hari kedelapan, jadi sisa uang belanja, udah nggak cukup jika Ibu meminta satu juta!" jelas Nisa hati-hati.
"Alaah, kamu itu memang pelit, bilang saja kamu nggak mau memberi kami uang 'kan? Awas saja, kamu akan aku adukan pada Arman, biar jadi janda untuk kedua kalinya kamu!" ujar bu Susy tersenyum smirk.
"Saya berani sumpah Bu, jika apa yang saya katakan adalah benar!" Nisa merasa percuma menjelaskan tapi tak juga dipercaya.
"Ayo Bella kita pulang saja!" ucap bu Susy pada putrinya.
"Heh kamu, wanita kampung yang beruntung menjadi istri kakakku! Jangan pernah kamu memfitnah kakakku untuk menutupi kebohonganmu itu!" ucap Bella ikutan menghujat, sambil mengarahkan jari telunjuknya pada Nisa.
"Benar Bella, kamu bisa tanyakan pada Mas Arman jika kamu nggak percaya!" jawab Nisa sambil menurunkan jari Bella.
Nisa berusaha sabar menelan semua hinaan, yang selalu ia terima bila bertemu mereka.
"Alaah, sok meyakinkan! Padahal hati kamu itu busuk! Dasar nggak tau diri!"
"Sudah Bella, jangan bicara sama orang nggak berpendidikan, percuma! Nanti kamu bisa ikut-ikutan bodoh!" Bu Susy menarik tangan putrinya dan pergi meninggalkan rumah, dan berlalu begitu saja.
Hari sudah mulai magrib, Nisa kembali masuk ke kamarnya dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
Melihat baju kerja suaminya yang belum di bawa kebelakang, Nisa pun mengambilnya. Betapa kagetnya Nisa, saat melihat jika ada beberapa tanda bibir, di kemeja putih tersebut.
"Ini bibir siapa? Apa Mas Arman telah selingkuh?" Nisa bicara sendiri sambil menatap kosong baju kemeja di tangannya.
Nisa pun langsung menyimpan baju tersebut di tempat semula, menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.
Nisa keluar kamar dan menghampiri kamar putranya lagi.
"Ahmad....??" Sambil membuka pintu kamar Nisa memanggil, dilihatnya putranya sedang menghapal ayat ayat pendek suci Al-Qur'an di kamarnya.
" Ya Bunda!" jawab Ahmad sopan, sambil beranjak dan menghampiri Bundanya.
" Kita makan dulu yuk? Nanti belajarnya dilanjutkan lagi!" ujar Nisa sambil mengusap kepala putranya lembut.
"Baik Bun, kebetulan Ahmad juga udah lapar, hehe!" jawab Ahmad sambil berjalan ke dapur mengikuti langkah bundanya.
Mereka makan dengan lauk seadanya! Beruntung, Ahmad anak yang tidak cerewet, dan pemilih masalah makanan.
"Bun? Kenapa sekarang Ayah kalau bicara, kok suka bentak-bentak ya Bun?" tanya Ahmad di tengah suasana makan malam mereka.
"Nggak kok sayang. Cuma sekarang itu, telinga Ayah lagi bermasalah dan masih dalam masa penyembuhan, jadi kalau bicara harus lebih kencang agar kedengaran!" jawab Nisa berbohong.
"Berarti telinga Ayah sakit ya Bun?" tanya Ahmad lagi penasaran.
"Sekarang udah sembuh sayang, cuma tinggal pemulihan saja?" jelas Nisa.
"Oh syukurlah, Ahmad nggak mau lihat Ayah sakit Bun!"
Perhatian putranya pada Ayah sambungnya itu, membuat miris hati Nisa. Anaknya yang begitu perhatian namun tak pernah dianggap.
"Udah, cepat habiskan makanannya, habis itu masuk kamar lagi ya! Belajar yang rajin? Jangan lupa kalau mau tidur gosok gigi, cuci kaki dan baca do'a tidur ya, sayang!"
"Iya Bun!" jawab Ahmad sambil memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.
Setelah mereka selesai makan, Ahmad langsung meninggalkan meja makan, dan masuk ke kamar melanjutkan kegiatannya.
Nisa membereskan sisa makannya dan membersihkan dapur seperti semula. Nisa membuat segelas kopi kesukaannya. Nisa duduk di kursi sambil menyesap kopi buatannya sambil menerawang jauh.
Baru saja Nisa ingin memikirkan, bagaimana caranya agar ia bisa menghasilkan uang, tiba-tiba kembali sebuah panggilan masuk ke handphonenya.
Sejenak, Nisa melihat nomor yang tidak dikenalnya. Namun karena penasaran, Nisa pun menerima "Hallo...! Siapa ini?" Jawab Nisa.
"Hallo, Nisa..! Assalamualaikum!" Terdengar suara seseorang laki-laki.
Mendengar suara dari seberang, tubuh Nisa menegang kaku. Ia seakan tak percaya jika saat ini, ia kembali mendengar suara yang begitu ia kenal.
"Hallo... Nisa!" Kembali suara itu memanggil.
"Ha..hallo..!" jawab Nisa gugup.
"Bagaimana kabar kalian, Nis?" tanya pria tersebut lembut.
Nisa terdiam mendengar suara lembut, dari laki-laki yang pernah mengisi hatinya di masa lalu.
"Alhamdulillah, baik!" Nisa menjawab kaku pertanyaan.
"Nis..! Apa aku bisa bertemu dengan kamu dan anak kita?" tanya laki-laki tersebut penuh harap.
"Indra..!" panggil Nisa pelan, menyebut nama dari laki-laki yang begitu ia cintai pada saat itu.
"Ya sayang!" jawab Indra dengan semangat.
"Apa kita bisa bertemu, Nis? Aku rindu sama kamu dan anak kita!" Indra sangat bahagia bisa berbicara langsung dengan wanita yang selama sekian tahun ini, ia cari.
Mendengar permintaan dari Indra, Nisa tak mampu berkata-kata.
Karena tak mendapat jawaban, indra kembali memanggil "Hallo Nisa! Kamu mendengar suaraku 'kan?"
"I..iya!" Jawab Nisa gugup sambil memikirkan permintaan dari Indra tadi.
"Nisa, aku tau kamu pasti mendengar ucapanku tadi! Dan aku mohon Nisa, sebutkan alamatmu dan aku akan menemuimu, segera!" jawab Indra penuh harap.
Karena tak tau harus mengatakan apapun, Nisa pun menyebutkan alamat rumah Arman.
"Terimakasih Nisa, aku akan segera menemui kalian!" tegas indra.
Setelah beberapa saat, panggilan pun terputus.
Nisa masih terdiam, ia sama sekali tak menyangka, jika ayah kandung dari anaknya saat ini menghubunginya kembali.
Lama Nisa kembali larut dalam kisah masa lalunya yang tragis. Dimana ia dipaksa cerai, sehari setelah ijab kabul pernikahan yang tak direstui ibu dari suaminya.
Keesokan paginya, Arman duduk sambil menikmati kopi. Tiba-tiba suara handphonenya terdengar, Arman bergegas menerima panggilan dan berbicara dengan orang di sebrang sana.
Tampak kegelisahan dari raut wajah Arman. Setelah panggilan terputus, Arman pun langsung beranjak pergi tanpa berpamitan pada istrinya.
Nisa yang baru saja datang dari mengantar putranya sekolah, mendengar suara mobil suaminya bergegas menyusul keluar dan ternyata benar, bahwa suaminya kali ini pergi tanpa berpamitan lagi.
Nisa berjalan ke dapur dan melihat jika tas kerja suaminya tertinggal di meja makan.
Baru saja Nisa ingin meletakkan tas suaminya di ruang kerja, terdengar suara bel pintu.
"Assalamualaikum, Nisa!"
"I... Indra?" ucap Nisa pelan menyebut nama tamu, yang ternyata adalah mantan suaminya tersebut.
"Waalaikumsalam!" Nisa menjawab pelan salam yang diucapkan Indra.
"Apa kabar, Nisa?" tanya Indra masih berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
"Ba..baik!" jawab Nisa gugup.
"Kamu kenapa gugup gitu, Nis?" tanya Indra tersenyum, sambil meraih tangan Nisa.
"Gak apa-apa kok!" ujar Nisa sambil melepaskan tangannya dari genggaman Indra.
"Apa aku boleh masuk, Nis?" pinta indra penuh harap.
Nisa pun tersadar jika tamunya saat ini masih berdiri di pintu "Maaf, suamiku gak ada di rumah!" tolak Nisa sambil menundukkan kepalanya.
"Oh...! Gak apa-apa. Apa kita bisa bicara sebentar, Nis!" ungkap Indra dengan wajah memohon.
Nisa pun memandang wajah Indra, yang tak nampak perubahan berarti dari mereka remaja dulu.
"Apa lagi yang ingin dibicarakan! Bukankah semua sudah berakhir seperti harapan orangtuamu? Jadi biarkan aku dan anakku menjalani kehidupan kami sendiri!" jawab Nisa dengan wajah tegas.
"Nisa..! Kumohon Nis, beri aku kesempatan untuk membuktikan cintaku padamu!" ungkap Indra mencoba tuk menarik simpati dari mantan istrinya tersebut.
"Kesempatan yang sudah kamu buang percuma, demi menjadi anak yang berbakti, 'kan?" tegas Nisa lagi.
"Nggak Nis, aku gak pernah membuang kesempatan itu, aku hanya menundanya untuk saat ini!"
"Setelah aku menjadi istri orang lain, begitu?" tanya Nisa tegas.
"Ceraikan suamimu dan menikahlah denganku!" ucap Indra tak menyerah.
"Apa semudah itu, Indra? Apa kamu pikir aku piala bergilir, yang bisa kalian perebutkan saat merasa mampu, dan dilepaskan jika merasa sulit?" ungkap Nisa nanar.
"Apa Maksudnya ini?" tanya Arman, dengan tatapan tak sukanya pada Indra.
"Mas..! Kamu kenapa kembali?" tanya Nisa tak nyaman, sambil berdiri disisi suaminya.
"Oh...! Jadi kamu nggak suka, jika aku mengganggu acara lamaran kalian?" tanya Arman ketus.
"Kamu ngomong apa sih, Mas?" tanya Nisa tak nyaman pada suaminya.
"Jadi begini kelakuan kamu di belakangku, Nisa?" tanya Arman lagi.
"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Mas!" jelas Nisa serba salah.
"Lalu, seperti apa yang tidak aku bayangkan, Nisa?" tanya Arman kasar.
Indra yang merasa tak rela Nisa disudutkan, akhirnya tak mampu lagi menahan "Oh...! Jadi seperti ini kelakuan suami, yang kamu pertahankan, Nisa! Berkata kasar tanpa bertanya terlebih dahulu!"
"Apa maksud kamu, hah!" sambar Arman tak terima.
"Udah dong, Jangan ribut!" pinta Nisa sambil berusaha memisahkan.
"Orang kasar seperti ini, gak bisa dipertahankan, Nisa! Lebih baik ceraikan dia dan menikahlah denganku!" ucap Indra tanpa peduli dengan Arman.
"Indra....!" Nisa tak menyangka, jika indra senekat itu, melamar dirinya di depan Arman yang masih sah sebagai suaminya.
"Kamu gila ya? Nisa adalah istriku!" sambar Arman sambil menyembunyikan tubuh Nisa dibelakangnya.
"Hahaha....! Apa kamu pikir, kamu pantas berada disisi wanita sebaik dan selembut Nisa, hah!" ucap Indra sambil memandang rendah Arman.
Nisa yang dari tadi hanya melihat perdebatan itu, tak mampu berbuat apa-apa.
"Lalu, siapa yang pantas mendampingi Nisa! Kamu?" tantang Arman tak mau kalah.
"Ya..! Aku dan Nisa adalah sepasang kekasih, dan kami..! Akan melanjutkan kisah asmara kami pada sebuah pernikahan!" jawab Indra dengan jelas.
"Cukup...! Kalian berdua apa-apaan sih?" teriak Nisa dari samping Arman.
"Nisa..!"
"Nisa..!"
Serempak dua orang laki-laki dewasa itu, memanggil Nisa.
"Sayang, kamu harus mendengar saran aku, dan kita akan membangun rumahtangga seperti impian kita dulu, ya!" ungkap Indra dengan tatapan memohon.
"Nggak.. nggak, Nisa! Kamu jangan dengerin ucapan laki-laki ini, Nisa!" ujar Arman seketika panik melihat kesungguhan Indra.
"Kamu gak punya hak meminta Nisa, untuk menjadi istri kamu, brengsek!" lanjut Arman emosi.
"Hei, broo! Aku tau bagaimana menderitanya Nisa selama jadi istri kamu!" ungkap Indra mencemooh.
"Nisa, aku mohon Nisa! Ceraikan laki-laki ini, dan aku akan menikahi kamu!"
"Bugh...!" Arman tak mampu lagi menahan kekesalannya.
Seketika Indra mendapatkan pukulan di wajahnya, dan menyebabkan ia terjatuh ke lantai.
"Indra...!" reflek Nisa memanggil nama Indra, dan bergegas menghampirinya.
"Kamu nggak kenapa-kenapa 'kan?" tanya Nisa khawatir, tanpa sadar jika saat ini ia bukanlah siapa-siapa indra.
Arman, yang melihat bagaimana reaksi istrinya pada laki-laki lain, merasa cemburu, dan dia pun kembali melayangkan pukulan kepada Indra.
"Bugh..!"
"Akh...!"
"Hentikan....!!" bentak Nisa sambil menatap Arman tajam.
"Kamu apa-apaan sih Mas, kenapa harus sampai memukul Indra seperti itu?" tutur Nisa yang merasa kesal dengan kelakuan Arman yang kasar.
"Kamu yang apa-apaan, Nisa? Kenapa kamu membela orang, yang udah berniat menghancurkan rumahtangga kita?" tanya balik Arman tak kalah kesal.
Sejenak suasana menjadi hening. Ketiga orang dewasa itu hanya saling pandang dan mulai menyadari posisi masingmasing.
"Maaf...! Aku hanya tidak ingin terjadi kekerasan!" ungkap Nisa sambil beranjak masuk ke dalam rumah.
"Tunggu, Nisa!" panggil Indra seraya bangkit dari lantai.
Arman yang melihat gelagat indra, langsung bergegas menghampiri.
"Stop...! Jangan pernah kamu masuk ke dalam rumah ini!" tegur Arman.
"Oke..! Aku tidak akan masuk ke dalam rumahmu, asal ijinkan Nisa untuk ikut bersamaku!" ungkap Indra tak kalah tegas.
"Apa maksud kamu! Dan jangan pernah berpikir untuk merusak rumahtangga kami!" Arman pun berlalu dan masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.
"Mas..!" panggil Nisa.
Mendengar panggilan istrinya, Arman berhenti dan tanpa menoleh ia berkata "Aku tidak akan melepaskan dirimu untuk dia!" Arman pun melanjutkan langkahnya, meninggalkan dua orang yang hanya saling pandang.
"Nisa..! Kumohon Nisa, jangan bertahan dengan pernikahan yang toxcik seperti ini!" ujar Indra kekeh dengan rencananya.
"Cukup Indra! Kamu tidak berhak untuk menilai rumahtangga kami!" tegas Nisa.
"Nisa...! Aku tau bagaimana situasi rumahtangga yang kamu banggakan ini!"
"Cukup Indra, cukup! Sekalipun rumahtangga kami hancur, bukan hak kamu untuk memberi penilaian buruk, dan berpikir aku mau menikah lagi denganmu!" Bentak Nisa.
"Dengar Nisa! Aku tidak akan menyerah, aku akan buktikan jika aku mencintaimu, dan akan aku perjuangkan sesuatu yang berharga dalam hidupku! Camkan itu!"ungkap Indra sambil berniat pergi.
Nisa yang mendengar kata-kata Indra merasa gelisah "Tunggu Indra!"
Indra yang telah berniat pergi pun menghentikan langkahnya dan tersenyum, ia merasa yakin jika Nisa masih mencintainya.
"Kenapa lagi, Nisa? Apa kamu berubah pikiran, hmm..?" tanya Indra dengan tatapan lembut.
"Aku...!" Nisa tak sempat melanjutkan kata-katanya, saat ia melihat kemunculan suaminya.
,"Mas..!" Hanya itu kata yang terucap dari bibir Nisa.
"Kamu..! Masih betah juga kamu bertahan di rumahku!" ujar Arman sambil memandang tajam Indra.
"Ho..ho..! Ternyata ada orang yang sedang cemburu?" sindir Indra sambil tersenyum mengejek.
"Apa belum cukup aku menghajarmu! Cepat pergi, dan jangan pernah kamu berpikir, untuk merampas Nisa dariku!" sarkas Arman.
"Hei.. broo! Nisa bukan barang, yang bisa kamu pertahankan, meskipun kamu tidak lagi membutuhkannya!" jawab Indra tak kalah tegas.
"Apa urusanmu, meskipun aku menyakitinya, memangnya apa yang bisa kamu lakukan, hm..!" sambil berkata, Arman menarik paksa Nisa ke sisinya.
Melihat perlakuan kasar Arman, indra langsung menarik kerah baju Arman "Jangan pernah menyakiti wanita yang aku cintai, meskipun saat ini statusnya adalah istrimu!"
"Kita lihat saja, apa yang akan kamu lakukan, dan apa yang akan terjadi jika kamu masih mencampuri urusan rumah tanggaku!" jawab Arman santai, sambil melepaskan tangan indra dari bajunya.
Nisa yang melihat bagaimana pedulinya Indra terhadap dirinya.
Dan melihat bagaimana angkuhnya Arman, seakan tak terima jika dirinya dianggap tak penting dan lemah.
"Cukup..! Aku tidak ingin ada perdebatan lagi. Indra, pulanglah dan biarkan aku dengan kehidupanku!"
"Dan Mas Arman, jika memang ingin kembali ke kantor, pergilah!" Tanpa berkata lagi, Nisa langsung masuk ke dalam rumah.
Melihat Nisa pergi begitu saja, Arman langsung tersenyum "Lihatlah, bukankah itu tandanya, jika dia masih memilihku! Dan kamu, silahkan tinggalkan rumah ini, dan jangan pernah kembali ke rumah ini lagi!" ucap Arman sambil berlalu meninggalkan indra yang masih mematung.
"Hei...! Jangan pernah kamu berpikir aku akan mundur untuk mendapatkan wanita yang aku cintai. Dan asal kamu tau, diantara aku dan Nisa, telah lahir buah cinta kami!" teriak Indra.
Mendengar apa yang dikatakan Indra, Arman seketika baru menyadari, jika sosok yang berdebat dengannya, adalah mantan suami dari istrinya.
Arman berhenti dan berbalik arah memandang Indra.
"Jangan pernah kamu berniat, untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan! Dan aku tidak akan tinggal diam!" Arman pun melanjutkan langkahnya ke arah mobil, dan langsung pergi.
Indra memandang pintu yang tertutup rapat di depannya. Ia bertekad untuk tetap memperjuangkan Nisa dan putranya.
Sementara Nisa, yang sejak tadi hanya duduk diam di kursi makan, masih memikirkan pertemuannya dengan Indra.
Sejujurnya, Nisa masih menyimpan rasa pada ayah dari putranya itu. Namun, jika mengingat, bagaimana mantan mertuanya yang begitu tidak menginginkan kehadirannya, membuat Nisa kembali bersedih.
Berbeda dengan Nisa, Arman saat ini masih merasa kesal, dan ada sedikit ketakutan dalam hatinya. Ia seolah takut jika istrinya berpaling pada cinta masa lalunya, dan pergi meninggalkannya.
Lama Arman berkecamuk dengan pikiran dan hatinya. Ingin melepaskan Nisa, tapi ia masih sayang. Namun saat ini, ia juga mempunyai wanita lain, yang juga ia cintai.
"Huft.....! Mengapa aku seakan tak rela melepaskan Nisa? Tapi...! Bagaimana dengan Sherly? Belum lagi laki-laki bajingan itu begitu menginginkan Nisa."
Arman masih berpacu dan berdebat dengan pikirannya.
Tak terasa waktu seminggu berlalu begitu saja, dan masalah yang sempat hadir di dalam rumah tangganya pun seakan dilupakan.
Tak ada yang membahas masalah kedatangan Indra. Baik Nisa yang memang tak ingin berdebat dengan suaminya, dan Arman pun seolah hanya mendiamkan prihal itu.
Disaat Nisa sedang duduk sendiri di taman belakang sendiri, ia kembali teringat dengan setiap kata yang diucapkan mertua dan adik iparnya yang selalu menganggap dirinya adalah benalu di kehidupan Arman.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mempunyai penghasilan."
Jika ingin kerja, pasti tidak akan diijinkan! Jika kerja dari rumah? Tapi kerja apa?" ujar Nisa meracau sendiri.
Dalam kebingungannya, Nisa teringat dengan teman akrabnya satu desa yang juga tinggal di kota ini, dan rumahnya juga tidak terlalu jauh dari sini.
"Hm....bukankah? Yes, aku punya jalan keluarnya. Aku akan punya kerja, dan punya penghasilan sendiri. Aku akan keluar dari keadaan yang menyesakkan ini secepatnya!" gumam Nisa dengan segala rencana yang melintas di pikirannya.
"Kita lihat saja Ibu mertua, akan aku buat kalian tak berkutik lagi di depanku." Nisa tersenyum smirk dengan rencananya, untuk membungkam mulut kedua wanita, yang selalu menghinanya selama ini.