“Siapa kalian? Kenapa kalian datang menyerang kami!” teriak Tuan Fandy menatap mereka dengan penuh tanda tanya.
“Lebih baik tidak usah banyak tanya sebab ini adalah hari terakhir kalian di dunia ini!” Mereka pun tertawa puas.
“Apa maksud kalian? Kenapa kalian ingin membunuh kami!”
“Itu urusan bos kami, bodoh!”
“Bos?” Tuan Fandy semakin bingung.
“Iya, beliau ingin Anda mati agar tidak mendapatkan warisan dari ayahnya.”
“Apa kamu bilang?” Tuan Fandy sangat terkejut mendengar penuturan para berandalan tersebut.
Kini Tuan Fandy tahu apa yang sedang terjadi dengannya, siapa yang menyuruh mereka untuk menghabisinya, tidak mungkin!
“Mas, apa perlu kita hubungi Danny agar ia lekas pulang,” ucap sang istri, seketika sorot mata para preman tertuju kearahnya.
“Tidak, dia tidak boleh datang, Han!”
“Kenapa, Mas? Danny kan bisa bela diri.”
“Tetapi, mereka semua bukan tandingannya. Danny dalam bahaya, Han!”
“Apa maksud kamu, Mas?”
“Hey, siapa itu Danny!” seru ketua diantara para preman tersebut.
“Kalian tidak perlu tahu, biar aku yang hadapi kalian!” tegas Tuan Fandy tidak ingin mereka tahu siapa Danny, sebab Tuan Fandy tahu siapa mereka.
Perkelahian pun terjadi diantara para preman dan Tuan Fandy, beliau berusaha melindungi sang istri yang juga menjadi incaran mereka.
Tuan Fandy meminta Rihana sang istri untuk menjauh.
“Bagaimana denganmu, Mas?”
“Jangan khawatirkan aku, Sayang. Cepat pergi dan lindungi Danny!” pinta sang suami membuat Nona Rihana dilemma.
“Cepat!” seru Tuan Fandy sembari melawan beberapa preman bertubuh besar.
Nona Rihana pun akhirnya berlari keluar dari rumahnya, berusaha mencari bantuan, namun sayang seribu sayang, salah satu preman berhasil menangkapnya, hingga beliau tidak mampu lari kemana-mana.
“Mau kemana, ha? Anda tidak bisa lari lagi.” Preman tersebut mencengkram tangan Nona Rihana kuat-kuat.
“Lepas!” Nona Rihana memberontak, namun tenaganya kalah telak dari preman tersebut.
“Beritahu aku siapa itu Danny!”
“Tidak mau! Aku tidak akan memberitahumu, puas!” tegas Nona Rihana dengan bola mata membulat sempurna.
“Kurang ajar!”
Brukkkkk!
“Rihana!” teriak Tuan Fandy melihat sang istri didorong keras hingga mengenai meja makan oleh preman tersebut.
“Akh!” Nona Rihana pun meringis kesakitan sembari memegangi punggungnya, rasanya remuk redam, hingga ia langsung ambruk, tidak mampu berdiri lagi.
“Cepat katakan, atau aku akan berbuat yang lebih kejam dari ini!” ancam preman itu.
Nona Rihana menggeleng, ia menaati perintah suaminya. Beliau pun dihampiri sang suami yang sudah babak belur.
Para preman pun murka dengan kegigihan mereka yang tidak mau memberitahu tentang siapa Danny itu. Mereka sama-sama menyerang Tuan Fandy dan Nona Rihana tanpa ampun.
Tuan Fandy yang begitu menyayangi sang istri memeluknya untuk melindungi tubuh wanita tersebut dari kerasnya kaki para preman.
Bugh! Bugh!
Berkali-kali para preman memberikan tendangan demi tendangan terhadap mereka berdua membuat Nona Rihana ingin menyerah dan memberitahu para preman tentang anaknya yang bernama Danny. Namun, Tuan Fandy melarangnya dengan keras, beliau tidak mau mereka juga membunuh Danny. Tuan Fandy berharap Danny tidak segera pulang.
“Dasar keras kepala!” umpat ketua preman.
“Kita tunggu saja orangnya di sini, bos. Yang penting mereka harus kita habisi terlebih dahulu,” usul anak buahnya.
Ketua preman tersebut pun tersenyum sinis, “Kamu benar juga. Ayo kita lakukan tugas kita!” jawabnya diangguki anak buahnya.
Mereka pun kembali memukuli Tuan Fandy secara brutal, wajah beliau dan tubuhnya kini dipenuhi oleh luka karena melindungi sang istri. Setelah Tuan Sandy sudah tidak bernyawa, para preman tersebut menatap Nona Rihana dengan tatapan penuh nafsu.
Nona Rihana beringsut dari pelukan sang suami yang sudah tidak mampu melindunginya. Beliau ingin lari dari sana, akan tetapi tubuhnya terasa berat diajak bangkit. Beliau pun hanya bisa beringsut mundur sembari meringis menahan sakit.
“Haha .. haha.” Para preman tertawa puas melihat Nona Rihana ketakutan.
“Bos, tidak ada salahnya kan kita cobain dulu sebelum kita membunuhnya?” usul anak buahnya yang sangat biadab. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka semua sehingga mereka bisa berbuat kejam seperti ini.
“Tentu saja, kebetulan aku juga sudah tegang,” jawab sang ketua, seketika wajah Nona Rihana tercengang mendengar ucapan mereka.
“Pergi kalian, pergi!” teriak Nona Rihana, kini beliau tidak sanggup lagi menahan air matanya.
“Jangan takut, Nona. Kami tidak akan kasar-kasar, kita main halus saja, oke?”
“Dasar brengsek, aku bersumpah kalian akan masuk ke neraka Jahannam!” sumpah Nona Rihana.
Para preman menanggapinya dengan tawa yang menggelegar, mereka seakan tidak takut dengan sumpah serapah tersebut. Bagi mereka, hidup hanya ada di dunia ini saja. Padahal, setelah kematian ada hidup yang lebih mengerikan lagi bagi para penjahat sepertinya.
Mereka pun menghampiri Nona Rihana, melucuti pakaian wanita itu, tidak peduli dengan pemberontakan yang dilakukan Nona Rihana, mereka tetap memaksa dengan penuh nafsu.
“Tidakkk!” jerit Nona Rihana.
Jeritan demi jeritan tidak mampu menyusutkan niat mereka untuk terus menggauli Nona Rihana tanpa henti. Mereka seperti bajingan yang tidak punya akal sehat, tega berbuat kejam kepada seorang wanita yang sudah tidak berdaya.
****
Di sebuah tempat, tepatnya di depan café tempat Danny bekerja, ia tengah berdebat dengan kekasihnya lantaran diputusi tanpa alasan yang jelas.
“Apa maksudmu, Cintya? Kenapa tiba-tiba kamu ingin menyudahi hubungan ini?” tanya Danny penasaran.
“Tidak ada apa-apa, Mas. Aku hanya bosan denganmu dan aku capek.” Wanita yang bernama Cintya berbalik ingin pergi dari hadapan Danny, namun Danny mencegahnya.
“Tidak, jelaskan dulu alasanmu ingin putus dariku, Cintya. Apa kamu tidak tahu kalau cintaku sangat besar untukmu?”
Cintya menghela nafas panjang, lalu kembali berbalik berhadapan dengan Danny dengan wajah malas.
“Menurutmu, hidup hanya butuh cinta?”
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak mau hidup susah denganmu, Mas.”
Mulut Danny menganga mendengar alasan Cintya, padahal selama ini ia berusaha memenuhi keinginan wanita itu meski ia harus menahan lapar demi keinginan wanita tersebut, tetapi pernyataan Cintya barusan sungguh menuai goresan dalam di hati Danny.
“Kenapa tiba-tiba kamu berubah seperti ini?”
“Karena aku sadar bahwa hidup tidak hanya butuh cinta, Mas. Tapi juga materi yang akan menunjang kebahagiaanku nantinya. Aku rasa kamu tidak bisa melakukannya, jika kamu masih betah menjadi pelayan café terus,” hina Cintya menciptakan luka di hati Danny.
“Apa kamu sudah menemukan lelaki mapan, sehingga kamu mencampakanku seperti ini?”
“Iya, kamu benar, Mas. Dan lelaki ini yang akan membahagiakanku, karena dia bukan hanya sekedar tampan tapi juga mapan, tidak sepertimu yang hanya pegawai rendahan,” jawabnya seraya menatap pnampilan Danny penuh ejekan dari atas sampai bawah..
Danny melepaskan tangan Cintya, sorot matanya memancarkan kekecewaan, ia pikir Cintya berbeda dari wanita lain, ternyata sama saja.
“Selamat, pergilah! Dan ingat satu hal, jangan pernah kembali kepadaku.”
“Cih, memangnya siapa yang sudi kembali kepada pelayan café sepertimu, Mas?” ejek Cintya lalu berbalik, wanita itu melenggang meninggalkan Danny meninggalkan sejuta luka di hati Danny.
Danny menarik nafas dalam-dalam seraya memejamkan mata, ia pun pergi ke parkiran untuk mengambil motor butut yang menjadi kendaraannya. Ia memilih pulang karena hari sudah malam, ia ingin istirahat dan menenangkan pikiran setelah diputusi oleh Cintya. Ia merindukan pelukan sang ibu yang mampu menenangkan hatinya saat terluka seperti ini.
Sesampainya di rumah, kening Danny berkerut sebab ia melihat keadaan rumahnya yang gelap gulita seperti tidak ada penghuni, padahal biasanya kedua orangtuanya ada di rumah dan pasti menyambutnya pulang.
“Apa ayah dan ibu sedang pergi? Tapi kenapa tidak bilang?” gumam Danny sembari turun dari motor bututnya.
Cekrek!
Gelap, itulah yang pertama kali Danny lihat. Ia segera melangkah menyusuri tembok rumahnya guna menyalakan lampu yang ada di sebelah kiri pintu.
Betapa terkejutnya Danny saat lampu berhasil ia nyalakan.
“Ayah, Ibu!”
****
Dengan tubuh gemetar, Danny menghampiri jasad kedua orangtuanya yang saat itu terpisah. Ia lebih dulu menghampiri jasad sang ayah yang sudah terluka parah.
“Ayah, bangun, yah. Bangun!” pekik Danny dengan suara serak, rasanya ia ingin menangis.
Beberapa kali ia memanggil nama samg ayah, namun tidak ada jawaban dari lelaki yang sudah membesarkannya.
“Ayah!” jerit Danny dengan air mata yang kini mengalir deras membasahi wajahnya.
Dipeluknya sang ayah dengan sangat erat, tidak peduli darah yang berada di tubuh sang ayah berpindah kepadanya. Sekuat tenaga ia berusaha untuk membangunkan sang ayah, namun usahanya sia-sia. Lelaki berumur 60 tahun sudah terbujur kaku dengan darah dan luka yang memilukan.
“Yah, tolong bangun, katakan siapa yang sudah melakukan hal ini, Yah.” Danny masih terus berusaha, suaranya sangat serak saat itu. Ia tidak menyangka kejadian mengerikan ini terjadi kepada keluarganya.
Seberapa banyak ia bertanya kepada sang ayah, lelaki paruh baya tersebut tidak akan mampu menjawabnya.
Tidak, bagaimana hal kejam ini terjadi? Kedua orangtuanya adalah orang yang sangat baik, selama ini hubungannya dengan masyarakat pun tidak ada masalah, lalu kenapa hal ini terjadi? Siapa yang tega melakukan hal sekeji ini?
Kedua bola mata Danny berpindah kearah sang ibu yang juga sudah terbaring lemah penuh luka dan darah di atas lantai. Ia meletakkan kembali tubuh sang ayah dari pangkuannya dengan pelan, lalu ia berhambur menghampiri sang ibu yang kondisinya tidak kalah memilukan.
“Ibu!” Danny kembali menjerit histeris.
Keadaan Nona Rihana jauh lebih memilukan. Bajunya terkoyak, jelas wanita paruh baya itu mendapatkan kekerasan seksual.
“Tidakkkk!” Danny berteriak histeris melihat keadaan kedua orangtua yang ia sayangi seperti itu.
Dipeluknya jasad kedua orangtuanya dengan tangisan pilu. Tangan Danny yang semula bersih kini berlumuran dengan darah kedua orangtuanya. Ia masih bertanya-tanya siapa yang tega melakukan hal keji seperti ini kepada mereka.
Demi Tuhan, Danny tidak akan memaafkan pelaku penganiayaan ini!
Keesokan harinya ….
Kedua orangtua Danny dimakamkan di pemakaman umum. Banyak tetangga yang terkejut dengan kematian dua manusia yang selama ini mereka kenal sangat baik.
Dugaan sementara dari kasus yang dialami oleh keluarga Danny adalah perampokan, akan tetapi Danny tidak memercayai dugaan tersebut, sebab tidak ada barang-barang berharga yang hilang. Lagian siapa yang mau merampok rumahnya? Rumahnya jelek dan tidak ada barang berharga yang bisa dirampok. Kehidupan Danny dan keluarganya selama ini cukup sederhana. Meski begitu, Danny selalu menikmati momen kebersamaan bersama kedua orangtuanya, mereka adalah orangtua yang sangat baik, penyayang dan penuh cinta, ia merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka. Sehingga kematian mereka saat ini menjadikan Danny menyimpan seribu pertanyaan dan seribu dendam. Siapapun pelakunya, ia harus membalasnya dengan balasan yang setimpal!
Satu persatu pelayat yang ikut mengantarkan kedua orangtua Danny ke tempat peristirahatan yang terakhir pergi. Tinggal Danny seorang yang berada di sana. Iya, ia tidak memiliki saudara, ia anak tunggal dari Tuan Fandy dan Nona Rihana. Danny juga tidak memiliki kerabat dekat.
“Ayah, Ibu, siapa yang melakukan ini kepada kalian?” rintih Danny seraya mengusap nisan kedua orangtuanya.
Selama ini, ia tidak pernah menangis, namun saat ini tangisannya tidak terbendung. Semalaman ia tidak tidur, meratapi kematian kedua orangtuanya. Ia tidak pernah menduga hal sekejam ini terjadi kepada kedua orangtuanya. Ia tidak pernah membayangkan akan kehilangan kedua orangtuanya dengan cara yang tragis seperti ini.
“Katakan kepada Danny, Yah, Bu. Siapa yang sudah melakukan ini sama kalian? Danny ingin membalasnya! Danny ingin membunuhnya!” ucap Danny kejam.
Anak mana yang tidak ingin balas dendam bila melihat kedua orangtuanya terbujur kaku dengan cara yang sangat tragis? Danny yakin, semua anak akan berpikir yang sama seperti dirinya. Danny bersumpah, akan mencari tahu penyebab kedua orangtuanya meninggal dan memberikan balasan yang setimpal atas apa yang sudah dilakukan kepada kedua orangtuanya.
Danny menggenggam tanah kuburan kedua orangtuanya dengan kedua tangan, ia memandang kepalan tangannya dengan sorot mata yang begitu tajam.
“Aku tidak akan membiarkan orang yang menyakiti kalian hidup tenang, Yah, Bu.” Danny berucap dingin.
Beberapa detik kemudian, genggaman tangannya melonggar, ia tertunduk lesu, kedua bahunya bergetar, tangisnya kembali pecah saat itu juga, dipeluknya dua pusara kedua orangtuanya. Danny seperti anak kecil yang sangat kehilangan kedua orangtuanya.
Lelaki berusia 30 tahun itu terus berada di sana sampai sore hari menjelang malam. Saat matahari mulai redup, Danny baru bangkit dari sana.
Sebelum pergi, ia memandangi kedua pusara kedua orangtuanya dengan perasaan pilu, hancur sudah kebahagiaannya. Kepergian mereka berdua meninggalkan luka yang teramat dalam baginya.
Danny pulang dengan perasaan hampa, tidak ada senyum yang menghiasi wajahnya seperti biasa. Para tetangga sangat memaklumi perasaan Danny, sehingga mereka hanya bisa menatap iba lelaki itu saat melewati rumah.
Lelaki tampan nan gagah itu membuka pintu rumahnya yang sejak pagi tadi tertutup rapat, ia berdiri di ambang pintu seraya menatap seluruh ruangan di rumahnya dengan perasaan hampa dan pilu. Saat ini, keadaan rumahnya sudah rapi seperti biasanya, namun terasa kosong. Tidak ada lagi tawa dan sambutan hangat dari kedua orangtuanya.
“Permisi, Tuan!” salam seseorang membuyarkan lamunan Danny.
Dengan wajah sembab, ia berbalik dan menatap seseorang yang barusan memberi salam kepadanya. Ia nampak bingung melihat beberapa laki-laki berjas hitam tiba-tiba berbaris rapi dihalaman rumahnya yang tidak luas.
“Siapa kalian?” tanya Danny keheranan.
Sejenak, mereka saling pandang sebelum menjawab pertanyaan Danny. Tiba-tiba saja barisan mereka terbelah menjadi dua, menampilkan seorang kakek berkulit putih dan memakai kacamata turun dari mobil mewah.
Danny semakin keheranan melihatnya, ia sama sekali tidak kenal mereka. Apa mereka mau melayat? Jika iya, mereka sungguh terlambat. Pikir Danny.
“Apa benar ini rumah Fandy Laksana?” tanya kakek tersebut, yang entah sejak kapan sudah berada di depan Danny.
“Hem.” Danny berdehem seraya mengangguk.
“Suruh dia keluar, saya ingin bertemu dengannya,” suruh kakek tersebut.
“Siapa Anda?” tanya Danny.
Bukannya menjawab, kakek tersebut justru menatapnya dari atas sampai bawah dengan tatapan penuh makna, sayangnya Danny tidak mampu menerka arti tatapan tersebut.
“Kamu sendiri siapa? Anak Fandy?” tebak kakek tersebut.
Danny menghela nafas sejenak, jika di depannya bukan orangtua, mungkin ia sudah beralu masuk dan tidak mau meladeni pertanyaan bodoh tersebut, apalagi keadaannya sedang berduka seperti sekarang.
“Jawab pertanyaanku anak muda.” Sang kakek memaksa.
“Iya, saya anaknya. Ada apa Anda ingin bertemu dengan ayahku? Apa beliau mempunyai hutang kepada Anda?” tanya Danny, meski ia tahu kalau sang ayah tidak mungkin mempunyai hutang.
“Bukan ayahmu yang mempunyai hutang, tapi saya yang mempunyai hutang kepadanya.”
“Apa maksud Anda?”
****
“Akan saya jelaskan nanti setelah bertemu dengan ayahmu. Sekarang, dimana dia? Katakan padanya saya datang,” celoteh sang kakek.
Danny menelan salivanya, pandangannya seketika kosong dan berkaca-kaca. Ia tidak tahu harus berkata apa kepada kakek tersebut.
“Kenapa kamu diam saja, anak muda? Cepat panggil ayahmu!” tegur sang kakek yang tidak sabar ingin bertemu dengan ayah Danny.
“Mari saya antar Anda bertemu dengannya.” Danny melangkah kearah keluar lalu menutup pintunya kembali.
“Baiklah.” Sang kakek yang tidak tahu akan dibawa kemana hanya menurut saja kepada Danny. Beliau pikir orang yang beliau cari berada di luar.
Danny dipersilahkan masuk ke mobil mewah milik sang kakek, awalnya Danny sempat tidak mau, namun sang kakek memaksa dengan alasan ingin segera bertemu dengan Tuan Fandy.
Danny di depan sang supir untuk mengarahkan jalan, sedangkan sang kakek duduk di belakang bersama seorang lelaki berpakaian rapi, sepertinya lelaki tersebut adalah asisten sang kakek.
“Berapa umurmu, Nak?” tanya sang kakek.
“30, Tuan.”
Sang kakek mengangguk sambil tersenyum tipis, “Apa ayahmu tidak pernah bercerita tentangku?” tanyanya lagi membuat Danny mengangkat satu alisnya. Pertanyaan itu mampu sedikit mengulik hati Danny. Rasa penasaran pun tiba.
“Maksud Anda?” Danny mencoba bertanya.
“Ah, tidak. Lupakan saja.”
Danny pun diam seribu bahasa, tidak mau membahas apalagi saat ini keadaannya tengah berduka, ia tidak perlu memikirkan siapa orang yang sedang bersamanya, tugasnya hanya satu yaitu mengantar sang kakek ke tempat peristirahatan terakhir kedua orangtuanya.
“Tuan, apa jalan ini tidak salah? Ini jalan kepemakaman?” Supir sang kakek menengok kearah Danny untuk memastikan apakah jalan yang Danny arahkan benar atau salah.
“Apa? Jalan ke pemakaman?” Sang kakek pun berjingkat kaget lalu melihat jalan di sekitar, benar saja saat ini mobilnya tengah melaju menuju ke pemakaman umum.
“Iya, benar.” Danny mengangguk tegas.
“Apa maksud kamu membawaku ke sini?”
“Nanti Anda juga akan tahu sendiri, Tuan.”
“Jangan main-main anak muda, saya ini ingin bertemu dengan Fandy, bukan ke pemakaman begini? Atau jangan-jangan Fandy bekerja di sini?” tebak sang kakek, tidak mau berburuk sangka, meski saat ini jantungnya sudah tidak karuan rasanya.
Danny tidak menjawab pertanyaan sang kakek, sebab mobil yang ia tumpangi sudah berhenti, lebih baik ia menjawab dengan tindakan, menunjukan makam kedua orangtuanya kepadanya.
“Silahkan turun, Tuan.” Danny mempersilahkan sang kakek turun lalu melangkah menjadi pemimpin jalan.
Suasana yanag sudah gelap membuat para lelaki berjas hitam sigap menerangi jalan dengan sebuah baterai.
Sang kakek hanya bisa mengikuti langkah kaki Danny, sampai saatnya tiba mereka sampai di dua gundukan tanah yang masih basah dan bertaburan bunga segar.
“Maaf, Tuan. Orang yang Anda cari ada di sini,” kata Danny lalu tertunduk sedih.
Brukkkkk!
Tubuh sang kakek merosot ke bawah membuat Danny semakin penasaran, siapa orang yang berada di sampingnya itu, kenapa beliau terlihat sangat kehilangan mengetahui orang yang dicarinya sudah meninggal.
“Fandy ….” Tiba-tiba sang kakek merintih, beliau menangis penuh penyesalan.
“Fandy, anakku!” pekik sang kakek seraya memeluk pusara ayah Danny.
Jedeeerrr!
Hati Danny bagai tersambar petir mendengar rintihan sang kakek, anak? Apa maksud ucapan kakek itu? Ah tidak, selama ini ayahnya tidak pernah mengatakan apapun tentang sang kakek, bagaimana bisa sang kakek itu menyebut ayahnya sebagai anaknya?
“Fandy, kenapa kamu meninggalkan Papa secepat ini, Nak. Maafin Papa, Fan.” Sang kakek kembali merintih penuh penyesalan. Dadanya terasa sesak melihat anaknya sudah terkubur di dalam tanah.
“Maafin Papa, Fan. Seharusnya sejak dulu Papa singkirkan ego Papa. Papa menyesal, Fan. Maafin Papa.”
Mulut Danny menganga, entah apa yang dilakukan sang kakek sehingga ia baru mengetahui bahwa ayahnya masih memiliki keluarga dan ternyata keluarganya dari golongan orang terkaya di negara ini. Danny tidak mengerti kenapa ayahnya tidak pernah menceritakan hal ini kepadanya? Ah, tidak. Bisa saja kakek tersebut salah orang.
“Maaf, Tuan. Kenapa Anda memanggil ayahku sebagai anak Anda? Apa Anda tidak salah orang?” Danny bertanya langsung.
Tangisan sang kakek sejenak berhenti, ia memandangi pusara anaknya penuh penyesalan. Beliau pun berdiri dan berhadapan dengan Danny, anak Tuan Fandy, cucunya.
“Bagaimana dia bisa meninggal? Apa selama ini dia sakit? Apa selama ini hidupnya menderita?” Sang kakek justru bertanya balik, beliau penasaran kenapa anaknya meninggal secepat itu, padahal usianya lebih muda darinya. Umur memang tidak ada yang tahu, entah besok atau lusa orang akan mudah meninggalkan dunia, sayangnya sang kakek tidak menyadari hal tersebut.
“Tidak, selama ini kami hidup bahagia, bahkan sangat bahagia,” jawab Danny meyakinkan.
“Lalu bagaimana dia bisa meninggal secepat ini?”
Danny diam cukup lama, kedua bola matanya tertuju kearah pusara kedua orangtuanya, bayangan keadaan mereka yang parah seketika membuat tubuh Danny menegang dan memerah.
“Sebelum saya menjawab pertanyaan Anda, bisakah Anda menjawab pertanyaan saya terlebih dahulu? Siapa Anda sebenarnya? Kenapa memanggil ayahku dengan sebutan anak?”
“Ayahmu memang anakku.”
“Tidak mungkin, selama ini ayah tidak pernah bercerita tentang Anda.” Kedua netra Danny berkaca-kaca, rasanya tidak percaya bila orang yang berada di depannya itu adalah orangtua ayahnya yang berarti kakeknya.
Sang kakek tertunduk sedih, mereka pun membicarakan hal serius itu di rumah Danny. Ada suatu hal yang harus Danny tahu kenapa hal itu bisa terjadi.
Danny dan sang kakek yang bernama Tuan Willam Laksana duduk berhadapan di ruang tamu. Ruang tamu tersebut menjadi saksi bisu atas penganyiaan yang terjadi kepada orangtua Danny kemarin malam.
“Hanya satu alasannya, Nak. Kakek tidak pernah merestui pernikahan ayahmu dengan ibumu,” jawab sang kakek sambil menerawang ke masalalu dimana ia menentang keras anaknya menikah dengan wanita pilihannya sebab Nona Rihana hanya dari kalangan biasa-biasa saja, sedangkan Tuan Fandy terlahir dari keturunan ningrat.
Danny menghela nafas pendek, asalan yang cukup konyol menurut Danny.
“Lalu kenapa sekarang Anda datang?” tanya Danny dengan nada mengejek.
“Maafin kakek. Mungkin kamu kesal dan marah atas alasan kakek itu. Saat itu, Kakek masih mementingkan ego Kakek, tetapi ternyata Kakek sadar bahwa apa yang Kakek lakukan salah besar. Kakek ingin memperbaiki semuanya, dan Kakek tidak tahu kalau ….” Tuan Willam tidak mampu berucap, ia tertunduk sedih mengetahui anaknya sudah tiada.
Danny menengadahkan kepalanya, menghalangi air matanya agar tidak turun. Satu pertanyaannya, kenapa Tuhan memberikan takdir serumit ini kepadanya?
“Maafin Kakek, Dan. Seandainya saja Kakek tahu akan kehilangannya secepat ini, mungkin Kakek sejak dulu menyingkirkan ego Kakek dan hidup bersama ayah, ibumu sejak dulu.”
“Selama ini Kakek tersiksa oleh rasa rindu dan ego Kakek, dan sekarang Kakek ingin memperbaikinya, tapi Kakek tidak tahu harus dengan cara apa. Kakek semakin merasa menyesal.” Sang Kakek tiba-tiba bersimpuh memohon di kaki Danny.
Danny terpaku, ia tidak tahu harus berkata apa, ia juga sangat terkejut mendapati kenyataan bahwa ternyata ia cucu dari Tuan Willam.
“Dan, katakan apa yang harus Kakek lakukan untuk mendapatkan maafmu dan ayahmu,” kata sang kakek memohon.
“Mungkin Anda bisa melakukan sesuatu untuk menebus kesalahan Anda,” jawab Danny.
“Apa? Kakek akan melakukannya.”
“Bantu aku untuk membalas kematian mereka.”
“Maksud kamu apa?”
“Mereka mati dibunuh!”
“Apa!”
“Siapa yang melakukannya! Berani sekali dia membunuh keturunan Laksana!” seru Tuan Willam seraya berdiri tegak dengan wajah berang.
****