Bab 1

Hujan turun deras membasahi jalanan batu di kota tua Ravencourt malam itu. Alena Callahan menutup payung hitam kecilnya sambil bergegas masuk ke dalam apartemen mungil yang selama tujuh tahun terakhir menjadi rumah sekaligus benteng perlindungannya. Bau lembap khas hujan bercampur dengan aroma bubur gandum yang masih mengepul dari dapur. Ia meletakkan payung di rak, menanggalkan mantel panjangnya yang basah, lalu menghela napas panjang.

"Mommy pulang!" serunya dengan nada ceria.

Seorang bocah laki-laki berusia enam tahun berlari keluar dari kamar, rambut cokelatnya berantakan, mata birunya berkilat seperti lautan yang memantulkan cahaya bintang. "Mommy! Lihat, aku membuat roket dari kardus!" katanya bangga, mengangkat kotak kecil yang dihias dengan spidol warna-warni.

Alena tersenyum, mencium kening anak itu. "Luar biasa, Julian. Kamu benar-benar jenius."

Julian Ezra Callahan. Anak kecil yang menjadi seluruh dunia bagi Alena. Ia menggendong anak itu sebentar, memeluknya erat, seolah dunia luar yang dingin tak akan pernah bisa menyentuh mereka. Ia tahu, setiap hari mereka hidup di atas jurang rahasia. Rahasia yang, bila terbongkar, bisa menghancurkan segalanya.

---

Tujuh tahun lalu, Alena bukan siapa-siapa. Ia gadis yatim piatu yang bekerja sebagai asisten riset di laboratorium keluarga bangsawan Whitmore, keluarga paling berkuasa di negeri itu. Di sanalah ia pertama kali bertemu dengan Dorian Whitmore - pewaris tunggal kerajaan bisnis raksasa yang membentang dari bank hingga perusahaan farmasi.

Dorian saat itu tampak seperti pria dari dunia lain: dingin, penuh karisma, dan nyaris tak tersentuh. Tidak ada yang menyangka ia akan jatuh cinta pada gadis sederhana seperti Alena. Tapi Dorian memilihnya. Menikahinya. Membawanya ke kastil Whitmore, tempat marmer putih dan kaca kristal bersinar di setiap sudutnya, tempat Alena merasa kecil dan tidak pada tempatnya.

Awalnya, pernikahan mereka bagai mimpi. Tapi mimpi itu runtuh saat Alena mengandung. Kehamilannya membawa tekanan besar. Keluarga Whitmore menuntut kesempurnaan. Mereka menginginkan pewaris yang sempurna. Saat Alena melahirkan bayi kembar, salah satunya lahir tak bernyawa. Rasa kehilangan itu menghancurkan Alena, sementara Dorian justru berubah menjadi sosok asing yang dingin.

Hari-hari setelah pemakaman bayi pertama mereka, Dorian menjauh. Ia menuduh Alena tidak cukup kuat menjaga anak-anak mereka. Perselisihan yang terus memburuk berakhir dengan perceraian. Dorian menghilang dari hidupnya tanpa pernah menyentuh atau bahkan melihat anak yang masih hidup - Julian.

Sejak saat itu, Alena melarikan diri. Ia mengganti nama belakangnya, pindah dari kota ke kota, hingga akhirnya menetap di Ravencourt. Ia hidup sederhana, bekerja sebagai guru privat, dan membesarkan Julian dalam bayang-bayang ketakutan: bahwa suatu hari, keluarga Whitmore akan menemukan mereka.

---

"Mommy?" suara Julian memecah lamunan Alena. Anak itu menatapnya dengan mata lebar penuh rasa ingin tahu. "Kenapa Mommy sedih?"

Alena tersadar, lalu tersenyum. "Mommy tidak sedih, Sayang. Mommy hanya lelah."

Julian mengangguk, lalu kembali memainkan roket kardusnya. Alena memandangi anak itu dalam diam. Setiap gerakan kecil Julian adalah pengingat dari cinta yang pernah ia miliki sekaligus luka yang tak pernah sembuh. Julian memiliki mata biru Dorian, tatapan tajam yang menembus, dan senyum kecil yang sama persis... membuat dada Alena sesak.

Malam itu mereka makan malam bersama di meja kecil di dapur. Julian bercerita tentang mimpinya menjadi astronot, tentang planet-planet yang ingin ia kunjungi, tentang bintang yang katanya bisa didengar jika kita cukup diam. Alena mendengarkan, mencoba menanamkan kenangan indah di benak anaknya - kenangan yang kelak akan melindunginya jika dunia mencoba merebut mereka.

Setelah Julian tertidur, Alena duduk di dekat jendela. Hujan masih turun, menimpa kaca seperti jari-jari kecil yang mengetuk-ngetuk waktu. Ia menulis sesuatu di buku hariannya: **"Hari ke-2.581. Mereka belum menemukan kami."**

Ia tidak tahu bahwa hitungannya akan berhenti malam itu juga.

---

Ketukan keras di pintu membuatnya terlonjak. Jam dinding menunjukkan pukul 23.47. Siapa yang datang larut begini? Alena berdiri perlahan, jantungnya berdetak keras. Ia mengintip melalui lubang pintu - hanya kegelapan lorong.

"Siapa di sana?" serunya pelan.

Tak ada jawaban. Lalu tiba-tiba - **BRAK!** - pintu apartemen diterjang terbuka. Alena menjerit, mundur terburu-buru. Empat pria berpakaian hitam dan bertopeng masuk seperti bayangan. Mereka bergerak cepat, sunyi, terlatih.

"Ambil dia," salah satu berkata dingin.

Alena meraih pisau dapur di atas meja, namun salah satu pria lebih cepat. Tangan kekarnya membekap mulut Alena, pisau itu terjatuh, lalu sesuatu menutup kepalanya - kain hitam berbau obat bius. Dunia berputar, kemudian gelap.

---

Ia terbangun dalam keadaan tangan terikat, kepala berdenyut hebat. Udara dingin dan lembap menyelimuti kulitnya. Ia berada di dalam ruangan batu besar dengan dinding tinggi - semacam ruang bawah tanah tua. Suara rantai berderak samar di kejauhan. Bau api dari obor di dinding menusuk hidungnya.

Pintu besi berat terbuka dengan derit panjang. Seorang pria masuk, langkahnya mantap, menyibak kegelapan dengan aura yang membuat jantung Alena membeku.

**Dorian Whitmore.**

Waktu tak banyak mengubahnya. Rambut hitam legamnya disisir rapi ke belakang, rahangnya tajam, matanya tetap sedingin es Arktik. Hanya ada satu hal berbeda - ia tampak lebih kejam, seperti singa yang terlalu lama dikurung.

"Alena," suaranya dalam, dingin, dan menyayat. "Akhirnya aku menemukanku."

Alena menatapnya penuh benci dan takut. "Apa yang kau lakukan padaku?! Di mana anakku?!" teriaknya, berusaha melepaskan ikatan.

Dorian melangkah mendekat, tatapannya menusuk seperti belati. "Anakmu? Maksudmu anak **kita**."

"Bukan! Kau tidak punya hak menyebutnya begitu!" Alena memuntahkan kata-kata itu dengan suara bergetar.

Senyum tipis muncul di bibir Dorian, senyum yang dulu pernah membuat Alena jatuh cinta dan sekarang membuatnya ingin berteriak. Ia mengeluarkan sebuah foto dari jasnya, meletakkannya di atas meja logam di hadapan Alena.

Foto itu memperlihatkan Julian sedang berjalan pulang dari sekolah, menggenggam tangan seorang pria tua tetangga mereka. Wajah anak itu tampak jelas - mata biru yang identik dengan Dorian.

"Jangan sentuh dia..." suara Alena pecah, nyaris memohon.

Dorian menatapnya tajam. "Tujuh tahun, Alena. Kau menyembunyikan pewaris Whitmore dari darahnya sendiri. Kau pikir kau bisa menghapus keberadaannya begitu saja?"

"Dia bukan pewarismu. Dia bukan bagian dari keluarga itu!" Alena membalas, matanya berair tapi penuh tekad. "Dia adalah anakku, dan aku tidak akan membiarkan kalian merusaknya seperti kalian merusak segalanya."

Kata-katanya bergema di ruang batu. Untuk sesaat, Dorian hanya berdiri diam, lalu berbisik, "Aku akan membuktikan dia darahku."

"Dia bukan milikmu," Alena menegaskan. "Aku hanya melahirkan dua bayi. Satu meninggal. Dan satu... satu aku besarkan sendiri. Namanya Julian Ezra Callahan. Bukan Whitmore."

Tatapan Dorian mengeras, seperti baja membeku. "Kau bisa berdusta pada dunia, Alena. Tapi tidak pada darah."

---

Jam terus berdetak di ruang batu itu. Alena duduk terikat, pikirannya berkecamuk. Ia tak tahu apakah Julian aman. Ketakutan menjerat dadanya seperti tangan besi. Ia harus melarikan diri. Ia harus kembali ke Julian. Anak itu tidak tahu apa-apa. Ia tidak tahu bahwa dunia gelap sedang mengintainya.

Suara kunci berputar di pintu membuat Alena tersentak. Seorang pengawal masuk, melepaskan ikatannya tanpa sepatah kata, lalu menariknya keluar. Lorong-lorong batu panjang terbentang, diterangi obor yang berkelip. Udaranya dingin, nyaris menggigit. Kastil Whitmore... Ia mengenali dinding ini. Tempat yang pernah ia sebut rumah, kini terasa seperti penjara.

Mereka membawanya ke aula besar. Marmer hitam mengilap, lampu kristal menggantung tinggi, bayangan api menari di permukaan lantainya. Dorian berdiri di ujung ruangan, menghadap jendela kaca besar yang memandang ke laut hitam pekat.

"Besok pagi," katanya tanpa menoleh, "kita akan melakukan tes DNA."

Alena menggigil. "Kau tidak akan menyentuhnya."

"Kau tidak punya pilihan."

"Aku akan melawanmu," desis Alena, suaranya pecah namun tegas.

Dorian berbalik, matanya tajam seperti pisau. "Kau sudah kalah sejak malam kau melarikan diri."

---

Malam itu Alena dikurung di kamar tua di sayap barat kastil. Ia menatap jendela yang terkunci besi, pikirannya berputar cepat mencari jalan keluar. Ia tahu satu hal: ia tidak bisa menunggu. Jika mereka mendapatkan Julian, anak itu tidak akan pernah kembali menjadi dirinya lagi. Ia akan menjadi Whitmore - dan itu berarti kehilangan segalanya yang pernah Alena perjuangkan.

Ia duduk di tepi ranjang tua, menggigit bibirnya hingga berdarah, menahan isak. Dalam hati ia berjanji: Apa pun yang terjadi, aku akan menyelamatkanmu, Julian. Mommy akan datang. Mommy akan bawa kamu pulang.

Di luar, badai laut mengguncang kastil tua itu, seolah alam pun marah karena rahasia kelam keluarga Whitmore akhirnya bangkit kembali dari kubur.

Bab 2

Suara pintu besi berderit berat saat terbuka, diiringi derap langkah kaki para penjaga. Alena mengerjap, cahaya lampu gantung yang menyilaukan memaksa matanya menyesuaikan diri. Ruangan batu dingin tempat mereka mengurungnya berbau lembap, seperti tanah basah yang lama tak tersentuh cahaya matahari.

Sudah tiga hari ia berada di sini, sejak malam kelabu ketika segerombolan orang bertopeng menyeretnya dari apartemennya di Ravencourt. Mereka membawanya melintasi hutan, melewati gerbang besi hitam berukir lambang singa bersayap: lambang keluarga . Kastil Whitmore menjulang seperti bayangan raksasa dari masa lalu, berdiri di atas tebing batu kelabu menghadap laut yang selalu bergemuruh.

Hari pertama, Alena menolak bicara. Hari kedua, mereka mendatangkan Dorian.

Dorian Whitmore berdiri di ambang pintu ruang interogasi itu seperti sosok dari mimpi buruk yang menjelma nyata. Jas hitamnya terpotong sempurna, rambut hitamnya disisir rapi, dan mata biru esnya menatap tanpa emosi.

"Di mana anak itu?" suaranya dalam, tenang, dan berbahaya.

"Aku tidak tahu yang kau bicarakan," sahut Alena, berusaha agar suaranya tidak bergetar.

Dorian mencondongkan tubuh, meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Jangan bermain-main denganku, Alena. Kau pikir aku tidak tahu? Ada bocah laki-laki bersamamu malam itu. Usianya sekitar enam tahun. Mirip sekali denganku."

Jantung Alena mencelos, tetapi ia menatap balik pria itu dengan pandangan kosong. "Itu bukan anakmu."

"Kau pikir aku bodoh?" desis Dorian. "Tujuh tahun kau menghilang. Tujuh tahun tanpa jejak. Lalu tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang wajahnya... seperti cerminan masa kecilku."

Alena memalingkan wajah. "Aku hanya pernah melahirkan dua bayi. Satu meninggal. Satu lagi... bukan milikmu."

Kata-katanya menorehkan luka di dadanya sendiri, tapi ia harus bertahan. Ia harus melindungi Julian, apa pun caranya.

Sekarang, di hari ketiga, dua penjaga menariknya keluar dari ruang bawah tanah dan membawanya ke sayap timur kastil. Koridor panjang berlampu redup membentang di depan mata, dindingnya dihiasi lukisan para leluhur Whitmore dengan tatapan tajam yang mengawasi.

Mereka membawanya ke sebuah kamar luas beratap tinggi. Tirainya tebal dan gelap, karpet merah tua terhampar di lantai marmer hitam. Di ujung ruangan, berdiri seorang wanita tua dengan rambut perak yang disanggul ketat: , ibu Dorian.

"Alena," ucapnya dingin, seperti mengucap nama seorang buronan. "Kau telah mencoreng darah keluarga kami. Tapi kami akan memberimu kesempatan. Serahkan anak itu, dan kami akan membiarkanmu pergi."

Alena menatap tajam, menggigit bibirnya hingga terasa darah. "Tidak akan pernah."

Margarethe menghela napas, lalu memberi isyarat pada penjaga. "Kunci dia di kamar atas. Pastikan dia tidak keluar. Dorian akan memutuskan apa yang harus dilakukan dengannya."

Mereka mengurung Alena di kamar di menara timur, ruangan yang tampaknya dulunya kamar tamu mewah: ranjang kanopi, perapian, dan satu jendela tinggi menghadap tebing dan laut. Tapi tidak ada kunci di dalam, tidak ada telepon, tidak ada jalan keluar-kecuali jendela itu.

Dan dari jendela itulah Alena melihatnya: sebuah jalan setapak menurun di balik taman, menuju gerbang samping yang tampaknya jarang dijaga. Di luar tembok, terlihat atap rumah-rumah kecil di desa bawah tebing.

Di suatu tempat di luar sana... Julian.

Dia tidak tahu bagaimana anak itu sekarang, setelah malam penculikan itu. Mereka diseret terpisah. Teriakan Julian masih terngiang di kepalanya. "Mommy! Mommy jangan pergi!"

Air mata panas mengalir, tapi Alena menyekanya dengan kasar. Tidak ada waktu untuk hancur. Dia harus keluar dari sini. Dia harus menemukan anaknya.

Malam itu, setelah para penjaga berganti giliran dan kastil tenggelam dalam keheningan, Alena mulai bergerak. Ia merobek seprai ranjang menjadi beberapa helai panjang, mengikatnya menjadi tali darurat. Jantungnya berdebar setiap kali kain itu berderit pelan.

Ia membuka jendela pelan-pelan. Angin laut malam menerpa wajahnya, dingin dan tajam seperti pisau. Ia mengikat salah satu ujung seprai pada tiang ranjang besi, mengujinya dengan berat tubuhnya.

"Demi Julian," bisiknya. Lalu ia mulai menuruni dinding batu kastil setinggi hampir lima lantai.

Tangannya lecet, jarinya nyaris beku. Setiap gerakan terasa seperti menarik tubuhnya melewati silet. Tapi ia tidak berhenti. Ia tidak boleh jatuh. Ia harus hidup. Untuk Julian.

Akhirnya, kakinya menyentuh tanah berumput basah. Ia menahan napas, menunggu. Tak ada alarm. Tak ada teriakan. Ia merayap melewati taman, bersembunyi di balik semak mawar yang tajam, menunggu saat dua penjaga di gerbang samping berpapasan dan berjalan ke arah berlawanan. Saat celah itu terbuka, ia berlari.

Kakinya melangkah di atas kerikil, napasnya memburu. Ia melewati gerbang samping sebelum sempat dipahami siapa pun. Lalu, jalan berbatu menurun membawanya menuju hutan kecil di kaki tebing.

Ketika kastil Whitmore menghilang di balik pepohonan, Alena hampir tak percaya bahwa ia berhasil lolos.

Namun pelarian itu belum berakhir.

Ia tidak tahu di mana Julian. Satu-satunya petunjuk adalah bahwa pria yang membawa Julian malam itu mengenakan lencana berbentuk elang hitam - lambang unit keamanan pribadi Whitmore. Itu berarti Julian kemungkinan besar masih ada di dalam lingkaran kekuasaan keluarga itu, mungkin disembunyikan di salah satu rumah persembunyian mereka.

Alena menumpang truk pengangkut hasil laut hingga kota pelabuhan terdekat. Dari sana, ia menyelinap ke sebuah penginapan tua dan menukar anting peraknya dengan satu malam kamar dan pakaian kering. Di dalam kamar pengap itu, ia duduk memandangi peta butut yang digantung di dinding.

Ada lima properti milik Whitmore di sekitar wilayah ini. Tapi hanya satu yang terpencil dan cukup aman untuk menyembunyikan anak: rumah kaca di tepi danau Blackmere.

Alena menggambar rute di secarik kertas. Ia tahu itu berbahaya. Ia tidak punya senjata, tidak punya uang, tidak ada sekutu. Tapi ia punya satu hal yang lebih kuat: naluri seorang ibu.

Perjalanan menuju danau memakan waktu dua hari berjalan kaki. Ia bergerak di malam hari, tidur di siang hari di lumbung kosong atau bawah jembatan. Ia makan roti kering yang ia curi dari pasar desa. Setiap kali rasa takut mulai melumpuhkannya, ia memikirkan Julian - senyum cerahnya, tawa kecilnya, cara anak itu selalu menggenggam tangannya saat mereka menyeberang jalan.

Pada malam kedua, ia sampai di bukit menghadap danau Blackmere. Di seberang permukaan air yang gelap, tampak rumah kaca batu abu-abu berdiri sunyi, lampu temaram menyala di dalamnya. Ada pagar kawat tinggi mengelilinginya, dan dua pria bersenjata berjaga di gerbang.

Alena berjongkok di balik pohon pinus, mengamati pola patroli mereka. Ia menunggu hingga salah satu penjaga pergi ke pos jaga, lalu menyelinap ke sisi pagar, merangkak melewati celah kecil di bawahnya. Bajunya robek, kulitnya tergores kawat, tapi ia tidak peduli.

Ia merayap ke dinding samping rumah, mengintip lewat jendela kecil. Ruangan dalamnya hangat, penuh mainan berserakan di lantai. Dan di sana - di atas sofa - duduk seorang anak kecil dengan rambut cokelat kusut dan mata biru cerah, sedang menggambar dengan krayon.

"Julian..." bisik Alena, air matanya menggenang.

Ia menunggu sampai penjaga di dalam mengantuk di kursinya. Lalu, dengan secepat kilat, ia memecahkan kaca kecil jendela itu menggunakan batu, menyelinap masuk. Potongan kaca melukai lengannya, tapi ia menahan rintih. Ia berlari pelan ke arah anak itu.

Julian menoleh. Matanya membesar. "Mommy...?"

"Shh," Alena menaruh jari di bibirnya, menahan isak. "Sayang, kita harus pergi."

Anak itu merangkul lehernya erat-erat, tubuh mungilnya bergetar. "Aku takut..."

"Aku tahu. Tapi Mommy di sini sekarang. Kita pulang."

Mereka menyelinap keluar melalui jendela yang sama, lalu berlari menembus hutan di tepi danau. Namun suara alarm meraung di belakang mereka - salah satu sensor gerak tertangkap. Lampu sorot menembus pepohonan. Teriakan para penjaga menggema: "Tangkap mereka!"

Alena menggendong Julian dan berlari sekuat tenaga, kaki mereka menabrak ranting, napas mereka berpacu dengan detik. Peluru menyalak di kejauhan, menumbangkan dahan pohon. Julian menangis tertahan di bahunya.

Sebuah perahu tua terikat di dermaga kayu kecil. Alena melompat ke dalamnya, memotong tali tambat, lalu mendayung sekuat tenaga menyeberangi danau gelap. Angin malam mencambuk wajah mereka, air muncrat membasahi pakaian. Di belakang, lampu-lampu senter menari di tepi hutan.

Akhirnya, mereka mencapai seberang. Alena mengangkat Julian ke darat, lalu menendang perahu menjauh agar tidak bisa digunakan untuk mengejar mereka. Mereka berlari ke dalam hutan, menyusuri jalan setapak sempit menuju rel kereta tua yang sudah tak dipakai.

Baru saat fajar menyingsing, mereka berhenti, terengah-engah dan basah kuyup, bersembunyi di bawah jembatan batu tua.

Julian menggigil di pelukannya. Alena membungkus anak itu dengan mantelnya, membiarkannya tertidur di dada. Ia menatap langit yang mulai terang, matanya kosong. Tubuhnya hancur, tangannya berdarah, tapi ia berhasil.

Untuk saat ini, mereka selamat.

Tapi ia tahu, perburuan baru saja dimulai.

Dorian tidak akan berhenti sampai mendapatkan mereka kembali.

Dan Alena bersumpah - ia tidak akan menyerahkan putranya. Tidak sekarang. Tidak pernah.

Bab 3

Kabut tipis menyelimuti jalanan berbatu kota saat fajar merayap perlahan dari ufuk timur. Alena memacu mobil tuanya melintasi gang-gang sempit, matanya nyaris tak pernah meninggalkan kaca spion. Setiap kilatan lampu, setiap bayangan mobil hitam di kejauhan membuat jantungnya meloncat panik.

Di kursi belakang, Julian duduk diam, memeluk tas ranselnya erat. Biasanya bocah itu akan berceloteh tentang bintang, dinosaurus, atau proyek sains kecilnya, tapi pagi ini dia hanya menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.

Alena menoleh sekilas. "Kita hampir sampai ke rumah Aunt Moira," katanya lembut, mencoba menghapus ketegangan.

Julian tidak menjawab. Hanya menggenggam erat boneka singa kecil dari kain lusuh - satu-satunya benda yang selalu menemaninya sejak kecil.

Sementara itu, ratusan kilometer dari sana, berdiri di balkon batu kastilnya, memandangi laut yang menghantam tebing dengan buih putih. Matanya menyipit, menatap layar tablet di tangannya: tampak rekaman CCTV buram yang menunjukkan Alena menyeret Julian keluar dari ruang bawah tanah kastil malam dua hari lalu, lalu melarikan diri melalui saluran pembuangan tua di bawah gudang anggur.

"Dia mencuri anakku," suara Dorian serak, hampir seperti auman binatang.

"Anak itu masih perlu diverifikasi, Tuan," ujar , kepala keamanan keluarga Whitmore, yang berdiri di belakangnya. "Kami bisa menunggu hasil tes DNA."

Dorian membalikkan badan, matanya membeku. "Tidak ada waktu. Alena sudah menyembunyikannya tujuh tahun. Jika dia lolos lagi, aku mungkin tidak akan pernah menemukannya." Ia berhenti sejenak, suaranya menurun menjadi dingin dan terukur. "Kirimkan tim. Lacak semua jaringan Alena. Semua rekening, semua kontak lamanya, semua kota tempat dia pernah tinggal. Temukan mereka."

Victor menunduk. "Baik, Tuan."

Dorian menatap laut lagi. Dalam benaknya, berkelebat bayangan mata biru seorang bocah di rekaman CCTV itu - mata yang sama seperti miliknya. Ia ingin menyangkal, tapi hatinya tahu: darah Whitmore mengalir dalam diri anak itu.

Dan ia tidak akan membiarkan pewaris darah Whitmore tumbuh di luar kendalinya.

Di rumah panggung tua milik di pinggiran Ravencourt, Alena menutup semua tirai dan mematikan ponselnya. Moira, kakak sepupunya yang berprofesi sebagai dokter hewan, menatapnya dengan dahi berkerut.

"Kau tidak bisa terus lari, Lena," ujar Moira lirih sambil menuang teh hangat ke cangkir. "Mereka akan menemukanmu cepat atau lambat."

"Aku tahu," bisik Alena, memeluk lutut di kursi kayu. "Tapi aku harus mencoba."

Moira menatap Julian yang sedang duduk di tangga beranda, memandangi cakrawala. "Dia mulai bertanya, ya?"

Alena mengangguk lemah. "Semalam... dia bertanya kenapa ada orang yang ingin memisahkan kami. Aku tidak tahu harus jawab apa."

Julian menatap langit kelabu. Sejak malam mereka kabur dari kastil, banyak hal terasa berubah. Ia masih bisa merasakan tangan ibunya yang dingin mencengkeram tangannya saat mereka merangkak di lorong bawah tanah yang gelap dan pengap, suara anjing penjaga menggonggong di atas kepala, dan deru helikopter di kejauhan.

Dan ada hal lain... bayangan wajah pria tinggi berjas hitam yang sempat dilihatnya dari balik jeruji. Mata biru tajam yang sama seperti miliknya.

Julian menggigit bibir. Ia selalu tahu ada yang berbeda dari dirinya. Ia lebih tinggi dari anak-anak seusianya, lebih cepat memahami pelajaran, dan sering merasa... seolah tidak benar-benar "milik" dunia kecil yang ibunya bangun.

Dan sekarang, ia mulai curiga.

"Mereka... siapa aku sebenarnya?" bisiknya lirih pada boneka singa kecilnya.

Malam itu, saat Alena memeriksa jendela untuk memastikan semuanya terkunci, Julian datang menghampiri dengan mata basah. "Mommy," suaranya pecah, "itu pria di kastil... dia ayahku, ya?"

Pertanyaan itu menghantam dada Alena seperti batu. Ia menatap putranya lama, nyaris tak mampu bicara. Lalu ia berlutut, memeluk bocah itu erat.

"Ya," bisiknya akhirnya. "Dia ayahmu. Tapi dia bukan orang yang bisa menjagamu."

Julian diam lama. Lalu bertanya lirih, "Kalau dia ayahku... kenapa dia ingin mengambilku dari Mommy?"

Air mata mengalir di pipi Alena. "Karena dia tidak tahu cara mencintai orang lain tanpa menguasainya."

Julian menunduk. "Apakah... aku seperti dia?"

Alena mengangkat wajah putranya, menatap dalam ke mata biru itu. "Tidak, Sayang. Kau jauh lebih baik. Kau bukan dia. Kau adalah Julian Ezra Callahan. Kau anakku."

Namun, bahkan saat ia mengucapkannya, Alena tahu waktu mereka menipis. Dorian semakin dekat - ia bisa merasakannya seperti bayangan dingin yang menjalar dari masa lalu.

Dan di sudut hati kecil Julian yang masih polos, benih konflik telah tumbuh: antara ingin tetap bersama ibunya... atau menemukan siapa dirinya sebenarnya.

Hujan turun deras membasahi atap rumah kayu tua di pinggiran . Malam itu, udara terasa menegang seperti senar biola yang ditarik terlalu kencang. Alena duduk di dekat jendela, menatap jalan berlumpur di luar dengan mata tak berkedip. Di tangannya, secarik peta lusuh bergetar ringan karena jemarinya yang menggigil.

Julian sudah tertidur di sofa, tubuh mungilnya meringkuk dalam selimut wol, boneka singanya terjepit di dada. Tapi Alena tahu, tidur anak itu tak pernah nyenyak sejak mereka kabur dari kastil. Setiap malam, Julian terbangun, berkeringat, berbisik ketakutan bahwa "mereka" akan menemukan mereka.

Alena memejamkan mata, menahan desakan air mata. Ia tak bisa lagi hanya bersembunyi. Ia harus membawa Julian pergi sejauh mungkin, bahkan jika itu berarti keluar dari negeri ini. Besok pagi mereka harus bergerak.

Tiba-tiba, suara mesin mobil meraung dari kejauhan. Satu... dua... lalu banyak. Cahaya lampu menembus kegelapan pepohonan. Alena menegakkan tubuh, napasnya tercekat.

Mereka sudah datang.

Konvoi hitam melaju menembus hutan pinus. Di mobil terdepan, duduk tegak di kursi penumpang, matanya menatap layar GPS dengan dingin. Hujan menetes di kaca depan, tapi pandangannya tak terganggu.

"Tim pengepung di sisi timur dan selatan sudah siap, Tuan," lapor melalui radio. "Kami memotong semua jalur keluar. Tidak ada jalan keluar bagi mereka."

Dorian hanya mengangguk. "Tangkap anak itu hidup-hidup. Jangan sakiti Alena... kecuali dia melawan."

Suara perintah itu menggema seperti baja.

Dalam dadanya, badai berkecamuk. Setiap detik yang berlalu tanpa melihat anak itu membuat dadanya sesak. Ia berusaha menganggap ini murni soal garis keturunan, tentang darah Whitmore yang harus dijaga... tapi bayangan mata biru bocah itu terus muncul dalam benaknya, memecah pertahanannya sedikit demi sedikit.

Di dalam rumah, Alena membangunkan Julian dengan lembut. "Sayang, kita harus pergi sekarang," bisiknya.

Julian mengucek mata, mendengar suara deru mobil mendekat, lalu menatap ibunya dengan mata melebar. "Mereka sudah di sini?"

Alena mengangguk. "Dengarkan Mommy baik-baik. Ambil tasmu. Kita lari lewat hutan belakang. Ikuti jalan setapak ke arah sungai. Jangan berhenti."

Julian menggigit bibirnya, lalu mengangguk. Tapi ketika Alena menoleh untuk mengambil tas mereka, Julian menatapnya lama... lalu membuat keputusan yang akan mengubah segalanya.

Mereka menerobos pintu belakang, berlari menembus guyuran hujan. Hutan pinus menyambut dengan kegelapan pekat dan tanah licin. Alena menggenggam tangan Julian erat, napas mereka memburu. Suara anjing pelacak menggema di kejauhan, semakin dekat.

"Cepat, Sayang! Sedikit lagi ke sungai," seru Alena.

Namun tiba-tiba, Julian melepaskan genggaman ibunya. "Mommy, aku akan memancing mereka menjauh!"

"Julian, jangan!" Alena hampir menjerit, tapi anak itu sudah berbalik dan berlari ke arah lain, melambai. "Aku akan baik-baik saja, Mommy! Sembunyi dulu!"

"Julian!!"

Teriakan Alena tenggelam dalam hujan dan lolongan anjing. Ia berlari mengejar, tapi suara langkah kaki para pemburu sudah mendekat dari dua arah. Ia harus membuat keputusan: mengejar Julian, atau menyelamatkan diri agar bisa kembali menjemputnya nanti.

Air mata panas bercampur hujan di wajahnya saat ia berbalik, menyelinap ke celah tebing berbatu untuk bersembunyi.

Julian berlari menembus semak belukar, paru-parunya terasa terbakar. Ia mendengar suara orang dewasa berteriak-teriak dan suara anjing menggonggong liar di belakangnya. Tapi ia terus berlari. Dalam benaknya, hanya ada satu hal: lindungi Mommy.

"Kalau mereka mengejarku, mereka tak akan menemukan Mommy..." desisnya lirih di antara deru napas.

Ia menyeberangi jembatan kayu kecil, lalu menjatuhkan boneka singanya di tengah jalan - sengaja, sebagai umpan. Ia tahu mereka akan mengenali benda itu. Ia ingin membawa pengejar sejauh mungkin dari tempat persembunyian ibunya.

Di belakang, cahaya senter menari-nari di antara pepohonan.

"Target kecil bergerak ke utara!" suara seorang pria menggema melalui radio.

Julian menahan tangis, menembus hutan lebih dalam, sampai tanah di bawah kakinya berubah jadi lumpur yang menelan langkahnya. Ia tergelincir, lututnya tergores batu, tapi ia bangkit lagi. Ia tidak akan tertangkap. Ia tidak boleh.

Sementara itu, Dorian turun dari mobil ketika Victor menunjukkan boneka singa yang ditemukan di jalan.

"Ini milik anak itu," kata Victor.

Dorian menatap benda lusuh itu lama, jemarinya mengeras di sekelilingnya. Ia ingat pernah memiliki boneka serupa ketika kecil - lalu dibakar oleh ayahnya karena dianggap kelemahan.

"Jangan sakiti dia," perintah Dorian datar, tapi matanya berkilat. "Tangkap dia hidup-hidup."

Kemudian, Dorian sendiri yang masuk ke dalam hutan, menyusuri jejak-jejak kecil di tanah becek. Dalam diam, sesuatu yang asing mulai tumbuh dalam dadanya - rasa takut.

Bukan takut kehilangan pewaris... tapi takut kehilangan anaknya.

Julian akhirnya sampai ke tepi sungai. Airnya deras dan hitam, berkilau oleh cahaya bulan. Ia menatap arus deras itu, menelan ludah. Ia tahu berenang, tapi arus ini ganas.

Di belakangnya, suara anjing dan orang dewasa semakin dekat.

"Aku harus melakukannya..." bisiknya.

Ia menarik napas dalam-dalam - lalu melompat ke dalam sungai.

Air es menyergap tubuh mungilnya. Arus menghantamnya, memutar tubuhnya seperti daun. Ia menendang dan mengayuh, berusaha mengambang, tetapi air terus menenggelamkannya. Di sela gelembung dan lumpur, ia sempat melihat cahaya senter berkelebat di atas tebing, lalu hilang.

"Julian!!" terdengar samar, jauh... suara yang berat, asing... dan entah kenapa terasa mengenalinya.

Dorian berlari ke tepi sungai, melihat sekilas tubuh kecil itu terseret arus sebelum lenyap di tikungan gelap.

"Tidak...!"

Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, nada panik meretakkan suara Dorian Whitmore.

Alena bersembunyi di gua sempit di bawah tebing, menggigil basah kuyup. Ia menunggu selama berjam-jam, hingga suara anjing dan manusia menghilang, sebelum keluar.

Tapi saat ia tiba di tepi sungai, yang ia temukan hanyalah boneka singa Julian yang terdampar di bebatuan, basah kuyup dan compang-camping.

"Julian..." suaranya pecah, lututnya ambruk ke tanah.

Di kejauhan, lolongan anjing menggema lagi - pengejaran belum berakhir.

Dan sekarang, Julian hilang entah ke mana... sendirian.

Kabut pagi menggantung rendah di atas sungai kecil yang meliuk di antara hutan cemara, saat terbangun di atas tanah lembap berselimut lumut. Kepala dan lututnya berdenyut, pakaiannya basah kuyup oleh hujan semalam. Ia tak tahu berapa lama ia pingsan-yang ia tahu, malam tadi ia berlari, menyeberangi jembatan kayu tua, lalu terpeleset ke dalam arus sungai yang deras.

Sekarang, ia sendirian.

Tidak ada suara ibunya. Tidak ada suara anjing pelacak. Hanya dentingan tetes air dari dahan ke tanah, dan desir samar burung pagi.

Julian duduk perlahan, menggigil. Ia masih memeluk boneka singa lusuhnya, satu-satunya hal yang menghubungkannya dengan rumah. Rumah yang kini terasa jauh, seperti mimpi samar.

"Mommy..." bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Puluhan kilometer ke barat laut, berlari di sepanjang tepian sungai yang sama, suaranya parau memanggil. "Julian! Sayang, jawab Mommy!"

Sepatu botnya terbenam dalam lumpur, tapi ia tak peduli. Matanya merah, rambutnya acak-acakan, tubuhnya penuh goresan ranting. Sejak malam kemarin ia terus mencari, menelusuri setiap jejak kaki mungil yang memudar di tanah basah. Tapi jejak itu hilang di tepi sungai, dan setelah itu... hanya air yang membawa anaknya entah ke mana.

Moira, yang ikut mencarinya dengan perahu kecil, memanggil dari kejauhan, "Alena, kita harus istirahat. Air sungainya deras. Dia bisa terseret jauh."

Alena menggeleng keras, menolak menyerah. "Aku akan menemukannya. Aku harus menemukannya."

Setiap menit tanpa Julian adalah neraka yang menggerogoti kewarasannya.

Sementara itu, di ruang komando darurat yang didirikan di kastil , menatap peta elektronik di dinding. Puluhan titik merah menandai wilayah pencarian. Ia berdiri tegak seperti patung, tangannya terkepal di belakang punggung.

"Tim Delta menyisir sepanjang garis timur. Tim Bravo memeriksa jalur hutan utara," lapor , kepala keamanannya. "Belum ada tanda-tanda anak itu."

Dorian tak menjawab. Matanya menatap layar lain: foto close-up Julian dari rekaman CCTV - rambut coklat kusut, mata biru tajam, ekspresi keras kepala seperti dirinya sendiri dulu.

Dia mengingat saat pertama kali melihat foto itu. Ada sesuatu yang menusuk dadanya, rasa yang asing, liar, dan tak terkendali.

Bukan sekadar warisan darah. Tapi seperti... kehilangan sesuatu yang seharusnya selalu ada bersamanya.

"Teruskan pencarian. Gandakan radius," ucapnya akhirnya. "Aku tidak akan membiarkan anak itu menghilang begitu saja."

Julian berjalan tertatih menembus hutan, mengikuti suara gemericik air. Perutnya melilit lapar, tenggorokannya kering. Ia menemukan beberapa buah beri kecil merah keunguan, ragu-ragu sebelum memakannya. Rasanya asam, tapi mengusir lapar sejenak.

Ia menemukan gua kecil di balik semak, cukup dalam untuk berlindung dari angin. Di dalamnya ia menyalakan api kecil dari ranting kering yang ia gosokkan dengan batu tajam-trik yang pernah diajarkan ibunya saat berkemah dulu. Api kecil itu menari-nari, mengusir dingin yang membekukan.

Saat malam turun lagi, Julian menggigil, menatap api sambil memeluk lutut. Ia mulai berpikir tentang hal-hal yang membuat kepalanya pening:

Jika pria itu benar ayahnya... mengapa Mommy membencinya begitu?

Jika darahnya benar-benar darah Whitmore... apa artinya dia akan menjadi seperti pria itu? Dingin, tajam, menakutkan?

Air mata menetes di pipinya. Ia menghapusnya cepat-cepat. "Aku harus kuat," gumamnya pada boneka singanya. "Aku harus lindungi Mommy."

Pagi berikutnya, Dorian berdiri di tepi jurang batu, angin dingin menerpa wajahnya. Di bawah sana, sungai menderu deras, membawa serpihan ranting dan dedaunan. Victor melapor bahwa satu tim menemukan jejak kecil kaki anak-anak di sisi hilir - baru, belum lebih dari sehari.

Untuk pertama kalinya, dada Dorian terasa sesak bukan karena kemarahan, melainkan ketakutan.

"Dia sendirian di luar sana," gumamnya nyaris tak terdengar.

"Ya, Tuan," jawab Victor. "Tapi kita akan menemukannya."

Dorian menatap hutan luas membentang seperti lautan hijau. Di suatu tempat di sana, anaknya yang keras kepala sedang melawan dunia sendirian. Dan Alena, dari arah berlawanan, pasti juga sedang berjuang menuju ke sana.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dorian sadar... mereka bertiga kini terikat oleh garis tipis antara cinta dan kehancuran.

Dan hanya waktu yang akan menentukan siapa yang akan lebih dulu menemukan Julian-dan siapa yang akan kehilangannya selamanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED