"Dari mana saja kamu, Mas?" tanyaku saat melihat Mas Heru muncul dari balik pintu kamar.
"Aku lembur, Sayang!" jawabnya sambil tersenyum manis. Seperti biasa, jawaban yang ia berikan selalu saja lembur.
Hal ini sudah berlangsung sejak tiga bulan belakangan ini. Biasanya aku selalu saja percaya dengan semua kata-kata suamiku itu. Tapi, entah mengapa tadi aku merasa ingin tau kebenarannya. Aku menelpon Siska, sekretaris Mas Heru di Kantor. Dan Siska mengatakan bahwa Mas Heru sudah pulang bahkan sejak jam lima sore. Lalu, kemana dia pergi sampai larut malam begini baru pulang? Sudah jam sebelas malam saat ia memasuki kamar.
"Apa benar kamu lembur, Mas?" aku yang sudah dipenuhi rasa curiga, tak dapat lagi menahan hati untuk mengintrogasinya.
"Lho, kok kamu nanya-nya gitu sih, Sayang?" sahutnya, kemudian menghampiriku yang duduk di tepi ranjang tempat kami memadu cinta selama tiga tahun ini.
Mas Heru membelai rambutku dengan lembut, kemudian mengecup ujung kepalaku. Hal rutin yang selalu ia lakukan jika pulang kerja selama menjadi suamiku.
"Suaminya pulang, kok ga disalim sih?" tegurnya masih dengan nada lembut.
"Aku tadi telpon Siska, katanya kamu udah pulang dari jam lima sore!" sungutku tanpa menghiraukan tegurannya.
"Sis-Siska? Ngapain kamu nelpon-nelpon bawahan Mas? Kamu udah mulai curigaan sama suami sendiri? Kamu udah nggak percaya lagi ya sama Mas?" bentak Mas Heru padaku.
Aku terdiam cukup lama. Hanya karena aku menelpon Siska, Mas Heru segitu marahnya dan tega membentakku. Padahal, sejak kami menikah ia tak pernah sama sekali bicara dengan nada tinggi padaku. Meski, sampai saat ini kami belum diberikan buah hati yang selalu kami rindukan. Tapi, sikap Mas Heru sama sekali tidak berubah. Caranya berbicara padaku, memanjakanku dan memenuhi semua kebutuhan jamani dan rohaniku. Tifak sebelum tiga bulan belakangan ini.
Aku merasa, Mas Heru mulai jenuh denganku. Ia sering pulang larut malam, saat kutanya selalu jawabannya lembur. Padahal, dia adalah seorang Manager di Perusahaan tempatnya bekerja. Awalnya aku selalu percaya, tapi hati nuraniku sebagai seorang istri juga tak bisa di bohongi. Aku curiga dan takut jika Mas Heru bermain serong di belakangku.
Tanpa terasa, mataku basah. Hatiku terlalu lemah meski hanya dibentak sedikit saja, apalagi oleh orang yang aku sayangi. Saat melihat air mataku jaruh berderai, Mas Heru memelukku.
"Sayang, maafkan Mas. Mas ga bermaksud..."
"Sudah lah, Mas. Kamu berubah sekarang. Jika memang kamu bosan padaku, lebih baik terus terang. Aku ikhlas jika kamu ingin mendapatkan wanita lain, karena aku sadar belum mampu memberikanmu keturunan!" jeritku memotong pembicaraan Mas Heru, dan mendorong tubuhnya agar menjauh dariku.
"Winda, apa yang kamu bicarakan?"
"Jujur saja lah, Mas. Kamu sudah ada perempuan lain kan?
"Cukup, Winda. Hentikan! Sepertinya ada seseorang yang sudah mempengaruhi jalan pikiranmu itu." jawab Mas Heru lalu meninggalkanku sendirian di kamar.
Aku menatap suami yang kukenal baik itu berlalu. Aku berusaha menahan tangisku. Saat aku ingin berbaring, kutatap tas hitam yang biasa dipakai Mas Heru pergi bekerja. Rasa penasaranku pun kembali meningkat tajam. Dengan cepat aku berjalan ke arah pintu, dan menguncinya dari dalam.
Kembali aku bergegas duduk di sisi kasur. Membuka dengan tak sabar tas Mas Heru. Mengeluarkan semua dokumen-dokumen yang ada di dalamnya. Setelah mengecek satu persatu, tidak ada hal yang aneh. Aku kembali menyusun dan memasukkan semua dokumen itu ke dalam tasnya.
Namun, sebelum aku meletakkan kembali tas itu, aku merogoh kantong kecil di sisi depan tas Mas Heru. Jari-jariku bersentuhan dengan kertas-kertas kecil. Aku menariknya keluar.
Deg...
Tagihan makan di Restoran, tagihan belanja, tagihan Hotel dan entah tagihan apa saja lagi yang aku genggam saat ini.
Ternyata benar dugaanku, Mas Heru telah bermain gila dengan wanita lain di belakangku.
'Lihat saja kamu, Mas. Aku pasti akan mendapatkan bukti untuk membuatmu mengakui pengkhianatanmu ini.' bisikku dalam hati.
Aku kembali memasukkan semua kertas itu pada tempatnya. Membuka kunci kamar dan memutuskan untuk tidur lebih awal. Sampai pukul tiga dini hari, saat aku tersentak dari tidurku karena haus, aku tak melihat Mas Heru di kamar ini.
'Apa dia tidak kembali ke kamar sejak tadi?' tanyaku dalam hati. Kemudian aku turun dari kasur. Berniat mengambil air di atas meja, tapi ternyata gelasku sudah kosong. Kemudian aku berjalan menuju dapur. Saat melintasi kamar tamu, kulihat Mas Heru di atas kasur iru dengan bertelanjang dada.
'Dengan siapa dia bervideo call jam segini? Apalagi, tanpa memakai baju seperti itu!' fikirku lagi.
Aku memutuskan untuk menghampirinya. Saat aku sampai di depan pintu kamar tamu, aku bertanya dengan nada kesal, "Siapa yang kamu telpon, Mas? Sepertinya asik sekali." sindirku tajam.
"Wi-Winda... Sejak kapan kamu berdiri di situ?" tanya Mas Heru gugup dan langsung menyembunyikan ponselnya ke balik selimut.
"Sejak kamu bermesra-mesraan sama selingkuhanmu itu di video call!" ketusku lalu pergi meninggalkan Mas Heru yang masih tampak gugup di atas kasur kamar tamu.
Aku tak ingin berlama-lama di sana, toh tak ada gunanya berdebat dengannya pagi buta begini. Setelah mengisi gelasku dengan air putih, aku kembali ke kamar. Aku memikirkan cara agar bisa membongkar rahasia Mas Heru, hingga tak terasa mataku kembali terasa berat dan aku kembali terlelap.
Aku terbangun lagi saat merasakan kecupan hangat mendarat di keningku. Ya, Mas Heru juga selalu melakukan ritual wajib itu saat pagi hari. Karena memang, dia selalu bangun lebih awal dariku.
"Selamat pagi, Sayang!" sapanya lembut, seperti biasa.
"Pagi," jawabku singkat.
"Pagi-pagi kok udah jutek sih? Mau mandi bareng nggak?" tanya Mas Heru dengan tatapan menggoda.
"Nggak ah, kamu duluan aja. Aku masih ngantuk!" balasku lagi sambil memejamkan mata, pura-pura ingin tidur kembali.
"Ya sudah, Mas mandi duluan ya," dia mengelus kepalaku, kemudian masuk ke kamar mandi.
Saat sudah kupastikan dia sedang mandi, buru-buru aku mencari keberadaan ponselnya.
'Ketemu.' sorakku dalam hati, saat mendapati ponsel itu di sebelah tas kerjanya.
Aku membuka kode layar ponsel Mas Heru, dan mencari nama di daftar panggilan keluar. Nihil. Aku membuka aplikasi hijau miliknya. Banyak sekali pesan dari grup kantor dan keluarga yang belum dibaca Mas Heru sejak kemarin. Saat kutekan daftar panggilan.
"Mami.." lirihku tak percaya.
Ada nama Mami di daftar teratas. Kuperhatikan jamnya, jam dua malam tadi. Panggilan itu berlangsung sekitar satu jam dua puluh menit. Berarti, sampai setelah aku menghampirinya itu?
"Kenapa Mas Heru bervideo call ria dengan Mamiku di jam seperti itu? Apalagi, aku melihat Mas Heru bertelanjang dada saat melalukan video call itu. Apa Mami sudah menggoda suamiku?" ucapku dengan tangan gemetar.
Aku dan Mas Heru memang menikah karena di jodohkan. Kami menikah demi memenuhi keinginan terakhir Papi. Dimana saat itu, Mas Heru adalah anak dari sahabat Papi. Untuk menunjukkan tanda baktiku, aku menerima perjodohan itu meski baru pertama kali bertemu.
Saat itu, aku tinggal hanya berdua dengan Papi. Karena, sejak aku berusia sepuluh tahun, Mami kabur bersama pria lain. Kudengar, mereka tinggal di London selama ini. Tapi, entah karena alasan apa, lima bulan lalu Mami kembali pulang ke Indonesia dan menemuiku.
Tentu saja hatiku meradang dan menolaknya mentah-mentah. Enak saja, sudah meninggalkanku selama lima belas tahun, kini kembali seperti tanpa dosa. Aku sama sekali tak mengerti dengan jalan pikirannya. Tapi, karena desakan Mas Heru yang terus membujukku memaafkan Mami, akhirnya aku pun mengalah pada suamiku yang baik dan tampan itu.
Begitu lah sifat Mas Heru, dia selalu bertindak dengan sabar dan kepala dingin. Membuatku semakin hari semakin mencintai dan menggilainya. Tubuhnya yang tinggi sempurna, otot-otot tubuh yang menggoda, membuatku tak mampu lagi berpaling darinya.
Kami memutuskan untuk membiarkan menyewakan Mami sebuah apartemen. Karena jujur saja, aku tak ingin Mami tinggal satu rumah dengan kami. Apalagi ini adalah rumah peninggalan Papi. Terlebih, sejak tinggal di luar negeri, penampilan Mami sudah sama layaknua wanita penghibur. Aku saja jijik melihatnya. Bagaimana ia bisa tak tau malu seperti itu?
"Sayang, tolong ambilkan handuk. Mas lupa!" teriak Mas Heru dari dalam kamar mandi.
Aku bergegas meletakkan kembali ponsel Mas Heru, dan mengambil handuk yang tergantung di rak besi. Kemudian mengetuk pintu kamar mandi. Kulihat tangan Mas Heru keluar dari balik pintu yang terbuka sedikit. 'Tumben!' pikirku
Setelah mengambil handuk, ia kembali menutup pintu kamar mandi. Ada apa dengan Mas Heru sebenarnya? Apa yang coba ia sembunyikan? Biasanya ia akan membuka pintu kamar mandi dengan lebar, lalu mempertontonkan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Atau dia akan menarikku untuk turut masuk ke dalam kamar mandi. Dan seingatku, sudah satu minggu ini Mas Heru tak pernah mengajakku bercinta. Hal ini semakin menguatkan tekadku untuk menyeledikinya.
Setelah Mas Heru selesai mandi, aku pun bergegas mandi. Kemudian membuatkan teh dan memberi selai pada roti tawarnya. Mas Heru tidak minum kopi dan merokok. Itu alasan utama aku dulu mau menerimanya. Karena aku tidak suka dengan pria perokok.
"Mas, siapa yang kamu video call semalam?" tanyaku saat menyodorkan roti padanya.
"Oh, itu Mami." jawabnya santai.
"Ngapain kamu video call sama Mami jam tiga malam? Ga pake baju lagi!" tanyaku lagi dengan sengaja memperlihatkan raut curiga.
"Mami tiba-tiba nanyain gimana caranya nyalain alarm otomatis di apartemen itu, Sayang. Kamu kenapa sih? Kok sama Mami-nya sendiri curigaan gitu?" tanya Mas Heru seolah saat ini akulah yang terlihat bersalah karena terlalu curigaan.
Memang benar, selama ini aku selalu percaya dan tak pernah berpikir kalau Mas Heru adalah pria yang akan tergoda dengan wanita lain. Tapi, kali ini aku benar-benar tak bisa menahan perasaanku untuk tidak curiga.
"Nggak, aku kan cuma nanya." jawabku, lalu meneguk susu promil yang sudah rutin kuminum dalam satu tahun ini.
"Ya sudah, jangan berpikiran yang macam-macam lagi. Mas nggak akan berpaling dari kamu kok. Mas sayang banget sama kamu, Winda. Kamu pelengkap hidup, Mas." ucapnya dengan mengelus tanganku yang berada di atas meja.
"Semoga saja kamu benar, Mas." balasku dengan ketus.
"Mungkin kamu lagi dapet ya? Kok marahan terus sih dari semalam? Eh, Mas berangkat dulu ya. Udah jam setengah delapan, Mas ada meeting dengan klien penting hari ini." ucapnya saat melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kekarnya itu.
"Nanti kamu pulang jam berapa?" tanyaku setelah menyalim tangannya.
"Mas usahakam pulang cepat, Mas berangkat dulu ya, Istriku yang cantik," pamitnya, kemudian mengecup keningku.
"Hati-hati di jalan, Mas." Teriakku saat melihat Mas Heru sudah sampai di ambang pintu.
Mas Heru berbalik dan mengacungkan jempolnya sambil tersenyum manis. Aku sama sekali sulit untuk bersikap manis padanya sejak kemarin. Setelah lima belas menit kepergian Mas Heru, aku selesai membersihkan meja bekas kami sarapan.
Kami tidak memakai jasa Asisten Rumah Tangga, meski beberapa kali Mas Heru menawarkannya padaku. Aku berpikir bisa melakukan semuanya sendiri. Toh kami hanya hidup berdua, tidak akan banyak pekerjaan yang akan aku lakukan di rumah ini.
Aku kembali ke kamar, lalu memutuskan untuk menghubungi sahabatku sejak masih duduk di kelas satu SMP, Nia.
Tuuut... Tuuut... Tuuut...
Setelah tiga kali panggilan telponku berbunyi, terdengar suara malas dari seberang sana, "Kamu nggak ada kerjaan lain ya pagi-pagi gini, selain gangguin aku tidur?" tanya Nia dengan nada khas baru bangun tidurnya.
"Beb, kamu harus bantuin aku. Aku curiga Mas Heru punya wanita lain," ucapku tanpa menghiraukan pertanyaan Nia.
"What?" teriaknya memekakkan telinga.
"Jangan ngarang deh, Beb. Nggak mungkinlah suami kamu selingkuh. Dia kan cinta banget sama kamu, Beb!" ucapnya tak percaya. Aku yakin saat ini Nia sudah dalam keadaan duduk dan sadar penuh dari tidurnya, setelah mendengar ucapanku tadi.
Tentu saja Nia kaget, sudah kukatakan sebelumnya, suamiku itu tipe suami idaman. Dia sempurna banget di mata para wanita. Banyak wanita yang terang-terangan menggodanya, tapi dengan gentle Mas Heru mengatakan bahwa dia hanya mencintai istrinya, yaitu aku. Dan tak akan pernah tergoda oleh wanita secantik dan seseksi apa pun di luaran sana.
"Makanya, kamu cepat ke sini. Nanti aku kasih tau semuanya. Sekalian, kamu juga coba cari informasi siapa yang bisa memasang pelacak pada ponsel Mas Heru. Supaya aku tau dimana saja dia berada selama di luar rumah!" ucapku serius pada Nia.
"Oke-oke. Kalau gitu, aku mandi dulu. Setelah itu aku langsung ke rumah kamu. Jangan lupa, buatkan aku mie goreng super pedas buatanmu yang lezat itu," pintanya sebelum menutup telpon.
Nia memang seorang sahabat yang paling pengertian. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Nia belum menikah, karena masih terlena oleh pekerjaannya. Ya, dia seorang Pengacara. Sikapnya saat di luar Pengadilan sangat jauh berbeda dengan saat ia menjadi Kuasa Hukum untuk kasus-kasus yang terpilih untuk ditanganinya.
Nia juga sebenarnya sangat trauma untuk menjalin komitmen dengan seorang pria, karena pernah dua kali ia di khianati. Yang terakhir, ia memergoki tunangannya sedang bercinta dengan panas dengan bawahannya. Padahal, pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Sejak memilih untuk membatalkan pernikahan dengan bajingan itu, Nia terlalu fokus pada pekerjaannya.
Tidak sampai tiga puluh menit, Mercedes merah milik Nia tampak memasuki halaman rumah mewah milikku. Sebenarnya, aku bisa saja pindah dari sini. Ke rumah yang tiga kali lipat lebih mewah dari ini. Karena Mas Heru mampu membelikannya, tapi lagi-lagi aku sayang membiarkan rumah peninggalan Papi ini dalam keadaan kosong. Di sini penuh kenanganku bersama Papi. Aku tak akan pernah mau pergi kemana pun.
"Hei... Mukanya kok masam banget, kayak jeruk busuk," sapa Nia mendekatiku, kemudian kami berpelukan dan cium pipi kanan, cium pipi kiri.
"Gimana ga masam, coba? Mas Heru tu sekarang berubah banget, sering pulang tengah malam. Dan kemarin aku periksa tas kerjanya, banyak banget tagihan belanja, Hotel, juga bill di Restoran mahal. Sementara, aku udah satu bulan ini nggak pernah minta temanin sama dia belanja, nggak pernah diajak dinner di luar, apalagi nginap di Hotel. Apa aku nggak boleh curiga sama dia, kalau udah gini?" cerocosku tak henti pada Nia yang baru saja datang.
Nia tampak mendengarkanku dengan sabar. Aku bahkan lupa menyuguhinya air minum, karena kulihat dia berjalan sendiri mengambil air. Ya, dia memang sudah mengenal baik rumah ini. Semasa sekolah, bahkan dia sering menginap di rumahku ini berhari-hari.
"Kamu yang ngomong panjang lebar, aku yang haus. Aku minum dulu," jawabnya, lalu meneguk air putih hangat itu hingga tandas.
"Nih, aku udah buatin juga pesanan kamu!" ucapku menyodorkan sepiring mie goreng pedas kesukaannya. Aku tau, Nia buru-buru datang ke sini dan pasti dia belum sempat sarapan. Jadi aku memang sengaja membuatkan pesanannya ini selagi menunggu ia datang.
"Wuaa... Kamu memang terbaik, Beb. Muach!" jawabnya senang dan mengecup pipiku.
Aku membiarkan Nia memakan sarapannya dengan tenang. Setelah selesai, pasti otaknya itu akan langsung conect dan dia mulai gencar menanyaiku.
"Jadi, hal lain apa yang membuatmu yakin dia memiliki wanita lain?" tanya Nia, setelah menghabiskan sarapannya.
"Aku curiga, ini ada hubungannya dengan Mami!" jawabku serius.
"Ma-Mami? Mami kamu?" tanya Nia tak percaya.
"Iyalah, Mami siapa lagi? Mas Heru kan udah yatim piatu," ungkapku lagi.
"Emm... Kalau boleh jujur sih, aku memang pernah melihat Mas Heru itu sedang berada di Hotel A4 bersama seorang perempuan. Aku tidak melihat dengan jelas, tapi perempuan itu bergaya ala-ala cewek Eropa. Super seksi. Aku pikir, dia sedang mengadakan pertemuan dengan klien dari luar Negeri," ungkap Nia panjang lebar padaku.
"Itu pasti Mami. Kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku? Kapan kamu melihatnya?"
"Mungkin, sekitar satu minggu yang lalu. Waktu aku sedang mengantarkan dokumen perceraian pada seorang wanita yang bersembunyi dari suaminya dan menginap di Hotel itu untuk sementara waktu,"
"Tidak salah lagi. Awas kamu, Mas. Aku akan membuat kamu menyesal karena telah mempermainkanku!" gerutuku dengan tangan terkepal menahan emosi.
"Sudahlah, tenangkan dirimu dulu. Kita harus mengatur strategi, supaya semua bisa jelas. Jika benar dia berselingkuh, apa yang akan kau lakukan?" pertanyaan Nia sontak membuatku terdiam cukup lama.
Jujur saja, aku takut jika semua hal ini benar-benar terjadi. Aku masih berharap, semua ini hanyalah ketakutanku saja. Tapi, jika ternyata benar, apa aku siap melepaskan Mas Heru? Aku tentu saja tidak ingin berbagi suami dengan wanita lain. Aku bisa memaafkan kesalahan-kesalahannya yang lain, tapi tidak jika urusan wanita.
"Aku akan menggugat cerai!" jawabku penuh tekad.
"Apa kau sungguh tak akan terluka nanti?"
"Aku akan lebih terluka jika terus melanjutkan hubungan dengan seorang pengkhianat," balasku tanpa menatap pada Nia.
Pasti Nia paham, apa yang sedang berkecamuk di dalam hatiku saat ini. Biarlah, jika Tuhan memang telah menghabiskan umur jodohku dengan Mas Heru secepat ini, aku akan mencoba untuk ikhlas.
"Sebaiknya, kamu cari seorang yang bisa menyisipkan pelacak pada ponsel Mas Heru. Agar aku tau kemana saja dia pergi. Jadi kita bisa memantaunya atau menggrebeknya sekalian," sahutku bersemangat.
"Oke, gimana kalau kita ke rumah Ferdi?" ajak Nia padaku.
"Ferdi? Siapa dia?"
"Kau lupa? Ferdi, kakak kelas kita waktu SMA. Yang pernah empat kali kau tolak mentah-mentah di depan seluruh siswa di lapangan sekolah,"
"Hah? Kak Ferdi yang itu? Untuk apa kita ke rumahnya? Jangan bilang, kau mau menjodohkanku lagi dengannya?"
"Hus, jangan berpikiran negatif pada sahabatmu yang cantik ini," tukas Nia cepat.
"Lalu, untuk apa?" desakku padanya lagi.
"Dia itu ahli dalam bidang lacak melacak. Ahli informatika dan dalam dunia perhackeran. Jika kamu mau, ponsel suamimu juga bisa di sadap. Jadi kita bisa tau apa saja isi pesan dan pembicaraan telponnya!" jelas Nia.
"Oh, begitu. Kenapa tau tidak mengatakannya sejak tadi? Kalau begitu ayo kita ke rumah Kak Ferdi." ajakku dengan menarik tangan Nia.
"Wah lihat ini, yang sudah tak sabar ingin bertemu mantan kekasih," ejeknya padaku.
"Aku bahkan tak sekalipun menerimanya, bagaimana dia bisa jadi mantan kekasihku?" balasku dengan bangga saat melihat Nia sudah berdiri dari kursinya.
"Ya, kamu benar. Apa kamu akan pergi dengan pakaian seperti ini?" tanya Nia heran melihatku hanya mengenakan kaus oblong dan jeans ketat semata kaki. Rambut panjangku, kubiarkan tergerai karena masih basah setelah mandi tadi.
"Ya iyalah, memangnya aku harus berdandan dulu untuk ketemu sama pria lain?" jawabku sekenanya.
"Mungkin, karena itu kamu dicintai banyak pria. Sifat dan sikapmu yang sederhana itu, Beb. Pasti salah besar, jika Mas Heru benar-benar mengkhianati kamu kali ini." puji Nia terlihat sungguh-sungguh.
"Tentu saja, aku menyingkirkan antrian panjang psra pria yang ingin melamarku demi dirinya. Awas saja, jika benar dia berselingkuh. Akan kubuat dia menyesal sampai bersujud di kakiku ini!" ujarku sungguh-sungguh.
Setelah mengambil tas yang berisikan ponsel, atm, kartu kredit dan beberapa benda wajib bagi perempuan di dalamnya, aku menyusul Nia yang sudah terlebih dahulu ke mobil. Setelah mengunci rumah, aku masuk ke mobil Nia dan kami berangkat.
Tak pernah terbayangkan olehku, bahwa aku akan mengalami hari yang seperti ini di dalam hidupku. Mencurigai lalu mulai menyelidiki suamiku sendiri. Suami yang selalu kupandang tanpa celah dan dosa, suami yang kubangga-banggakan dan kupuja-puja karena kelembutan hatinya, sikapnya, tutur bahasanya.
Mungkin, benar kata pepatah. Air yang tenang, memiliki bahaya besar di dalamnya. Mungkin, kata-kata itu pantas kusematkan untuk Mas Heru. Pria yang tak banyak neko-neko, penurut dan tak pernah mengatakan tidak padaku. Namun sebenarnya, ada rahasia besar yang ia sembunyikan dari sikap baiknya selama ini. Aku yang dibutakan oleh cintanya, terlena. Dan lupa, bahwa Mas Heru tetaplah laki-laki biasa. Dia bukan Malaikat yang tanpa dosa dan nafsu.
'Maaf, Mas. Demi ketenangan hatiku dan kebaikan kita bersama, aku harus menempuh jalan ini,' lirihku dalam hati.