"Lagi! Lagi! Lagi!" teriak sekumpulan remaja di sebuah ballroom hotel yang sedang digunakan untuk acara pesta ulang tahun salah satu remaja itu. Claire Charlotte salah satu gadis yang selalu kalah dalam menghadapi tantangan. Harus mendapatkan hukuman untuk menenggak wine dalam jumlah sebanyak mungkin. Hingga saat Claire sudah terlihat sangat mabuk. Mereka membawa Claire ke depan sebuah lorong hotel.
"Ingat! Cari kami di salah satu kamar hotel ini. Jika kau tidak menemukan siapapun. Maka kartu Mahasiswamu ini akan kami tahan. Hahaha," ujar salah satu gadis sambil menunjukkan kartu mahasiswa milik Claire.
"Kembalikan itu! Besok aku tidak bisa mengikuti ujian tanpa menggunakan benda bodoh itu." Sambil berbicara ngelantur Claire berusaha mengambil kartu itu, tapi berhasil digagalkan oleh teman-temannya.
"Kalau begitu temukan kami dulu. Cepat putar dia tiga kali!" Seorang lelaki yang berdiri paling dekat langsung memutar tubuh Claire sebanyak tiga kali. Setelah itu mereka semua tunggang langgang masuk ke beberapa kamar hotel di lorong itu. Claire yang sedang mabuk ditambah pusing karena diputar-putar barusan. Hanya bisa berjalan sempoyongan sambil menyandar pada dinding.
"Kemana kalian semua! Katakan padaku!" ujar Claire semakin tak jelas.
Di saat yang sama seorang lelaki berjas hitam berkelas layaknya seorang CEO muda berjalan di lorong yang sama dengan diiringi seorang asisten. Ia melewati Claire begitu saja lalu sang asisten membuka salah satu pintu kamar hotel.
"Silahkan istirahat dulu, Tuan Joe! Jika Mr. Wilson sudah datang. Aku akan segera melapor padamu!"
"Baiklah. Tolong jangan ganggu jika tidak ada hal penting."
"Baik, Tuan." Sang Asisten pun pergi.
Tepat saat Sang CEO menutup pintu kamar itu. Claire langsung menahannya.
"Siapa kau?" tanya lelaki itu. Bukannya menjawab Claire malah nyengir kuda.
"Hehehe. Aku bisa menemukanmu jauh lebih cepat dari yang kau bayangkan, bukan? Sekarang kau tidak bisa menyebutku pecundang lagi," kata Claire ngelantur. Ia mendorong lelaki itu ke dalam. Kemudian meraba tubuhnya yang kekar meskipun masih dalam balutan kemeja mahal.
"A... Apa yang sedang kau cari?"
"Apalagi kalau bukan ini!" Claire mengeluarkan sebuah Mastercard kelas Platinum member dari saku dalam jas lelaki itu. Dia berpikir jika benda itu adalah kartu mahasiswanya. Claire tersenyum puas karena berpikir ia sudah berhasil memenangkan tantangan. "Lain kali kau harus lebih pintar lagi!" kata Claire sambil menepuk pipi lelaki itu dengan pelan. Belum sempat lelaki itu menghilangkan wajah bingungnya. Tiba-tiba Claire menarik kerah bajunya dan seketika muntah di kemeja lelaki itu begitu saja.
"Aaaa! Shit!" umpat lelaki itu.
Beberapa hari kemudian.....
"Tapi, Mom. Tak bisakah kau memikirkan perasaanku sedikit saja? Menikah itu akan mempengaruhi masa depanku. Aku ingin mengaturnya sendiri," kata Jonathan Nicole pada sang ibu melalui sambungan teleponnya. Sang Billionaire tampan itu masih berada di kantor. Padahal, hari sudah semakin larut dan para karyawan pun sudah pulang. Hanya tinggal dia dan asisten pribadi yang selalu setia menemaninya, Jacob Hans.
"Claire itu gadis yang cantik, baik dan pintar. Ibu yakin kau pasti akan menyukainya."
"Tetap saja. Dia orang asing yang tidak aku kenal, Mom. Jika kita berhutang budi pada ayahnya. Kenapa tidak kita berikan saja uang dalam jumlah banyak untuknya? Kenapa aku harus menikahi anaknya? Merepotkan saja. Aku masih ingin sendiri dan menikmati karirku."
"Kau sudah cukup dewasa, Nathan. Kau juga sudah memiliki perusahaan paling besar di negara ini. Kau sudah terkenal dengan kesuksesanmu menjadi Billionaire muda. Apalagi yang akan kamu cari? Dan mau sampai kapan lagi kau akan menjadi workaholic seperti ini? Pikirkan juga masa tuamu nanti. Kau harus memiliki anak untuk meneruskan karirmu. Sebelum kau sadar jika kau sudah terlalu tua untuk mendapatkannya. Dan lupakanlah Angelica. Gadis itu tidak baik untukmu, Sayang," omel Grace pada sang anak laki-lakinya.
"Tapi, Mom. Ini terlalu cepat. Bahkan, aku dan dia belum pernah bertemu. Dan kudengar dia masih kuliah, kan? Jadi, kenapa harus terburu-buru."
"Mommy yakin sekali kalian pasti pernah bertemu di Universitas dulu. Claire kuliah satu tingkat di bawahmu di Universitas yang sama denganmu dulu dan Mommy tau jika tidak lama lagi dia akan lulus."
"Apa? Jangan-jangan gadis ini yang sering Mommy ceritakan padaku. Gadis yatim piatu yang selama ini hidupnya kita biayai?" Joe bertanya dengan cepat.
"Iya. Betul sekali, Nathan. Mommy sudah lama mengenalnya. Dan tampaknya banyak lelaki juga menginginkan dia. Jadi, ibu mohon padamu. Menikahlah dengannya secepatnya. Sebelum ada lelaki lain yang mendahuluimu. Ibu sudah merasa sangat cocok dengan Claire. Hanya dia yang ibu inginkan untuk menjadi seorang menantu di keluarga kita."
"Tapi, Mom–"
"Aduh," pekik Grace yang membuat ekspresi wajah Jonathan langsung terlihat khawatir.
"Ada apa, Mom?"
"Dada Mommy langsung merasa sakit mendengar kenyataan. Jika putra semata wayang Mommy tidak mau memenuhi keinginan terbesar Mommy. Padahal, Mommy sudah tua dan sangat kesepian setelah kematian Daddy-mu dulu. Mungkin Mommy sakit pun kau sudah tidak peduli." Jonathan memijat pelipisnya sendiri. Ia tau Grace sedang berpura-pura agar dia bisa menurutinya.
"Mommy. Tapi aku–"
"Mommy mohon, Sayang. Kali ini saja kabulkan permintaan Mommy." Grace pura-pura batuk dan menggunakan nada bicara yang lemah. Dia sangat mengetahui jika Jonathan begitu mencintainya dan tidak ingin terjadi hal-hal buruk padanya.
"Baiklah, Mom. Aku setuju," balas Jonathan pasrah.
"Jadi, kau setuju?" Suara Grace terdengar bersemangat kembali.
"Iya," balas lelaki itu lemah.
"Baguslah. Karena aku sudah merencanakan acara pernikahan kalian besok lusa."
"Apa? Pernikahan? Tapi, Mom. Kenapa semuanya mendadak?"
"Sudah kubilang, kan? Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memiliki putri menantu seperti dia. Lebih cepat akan lebih baik. Sudah dulu ya. Mommy harus memesan cincin dan gaun terbaik untuknya. Bye, Nathan!" Sambungan telepon terputus.
"Mom. Mom. Tunggu sebentar! Aku ingin bicara!" ujar Jonathan yang sudah tidak digubris lagi oleh Grace. Sebab, Grace langsung jingkrak-jingkrak di salah satu meja Cafe dengan sangat bahagia. Claire yang bekerja di Cafe itu sampai mengerutkan keningnya saat melihat tingkah Grace.
"Mom. Apakah Mommy baik-baik saja?" tanya Claire sambil mendekati Grace. Bukannya menjawab, Grace malah memeluknya dengan erat.
"Sayang. Nathan sudah setuju, Sayang. Nathan sudah setuju."
"Setuju untuk apa?" balas Claire bingung. Grace melepaskan pelukannya tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.
"Setuju untuk menikah denganmu besok lusa."
"Apa?" pekik Claire tak percaya.
"Kau tak percaya, kan? Mommy juga tidak percaya. Sebentar lagi kau akan resmi menjadi anak Mommy Claire." Grace kembali memeluk tubuh Claire dengan erat. Sedangkan Claire hanya terdiam dengan tatapan kosong. Sambil pura-pura tersenyum.
Hari pernikahan pun tiba. Grace menyiapkan semuanya dengan sangat baik. Mulai dari dekorasi gedung yang sangat mewah, hidangan yang enak-enak dan gaun pengantin Claire yang sangat cantik. Semuanya seakan tak memiliki cela. Kecuali kehadiran sang mempelai pria yang belum muncul juga hingga melewati waktu pelaksanaan yang sudah dijadwalkan sebelumnya.
"Tunggu sebentar lagi ya! Aku yakin Nathan pasti akan datang," ujar Grace pada pendeta yang terus menanyakan keberadaan Jonathan sekarang.
Claire yang berdiri di samping Grace hanya bisa menahan bibirnya untuk terus tersenyum. Ini sudah kesekian kalinya Grace mengucapkan itu. Akan tetapi, sosok Nathan yang selalu menjadi kebanggaan wanita lima puluh tahun itu tidak kunjung terlihat. Claire yakin jika Nathan juga tidak menginginkan pernikahan ini. Begitu juga dengan dirinya. Namun, andai dia mau datang. Mereka pasti bisa mencari jalan keluar bersama. Karena Claire tak mungkin menolak permintaan wanita yang paling baik yang pernah dia kenal di dunia ini seperti Grace.
"Tapi kita harus segera memulai sekarang! Masih ada beberapa pasangan lain yang harus ku nikahkan hari ini."
"Saya mohon Pak Pendeta. Kasih sedikit waktu lagi untuk anakku. Dia pasti datang. Mungkin jalanan sedang macet. Sehingga menahannya di suatu tempat."
"Baiklah. Saya kasih waktu lima belas menit lagi. Jika sang pengantin pria belum datang juga. Saya harus pergi."
"Iya. Terima kasih." Grace terlihat semakin panik. Kemudian ia berjalan keluar sambil berusaha menghubungi Jonathan.
Tut. Tut. Tut.
Untuk beberapa saat belum juga diterima oleh Jonathan. Tetapi, Grace tak mudah menyerah. Ia terus menghubungi anaknya hingga akhirnya Nathan menerima panggilannya.
"Halo, Mom."
"Kau dimana? Cepatlah kesini. Acara pernikahanmu akan segera dilaksanakan!"
"Aku tidak bisa datang, Mom."
"Apa?" Grace terkejut mendengar pernyataan anak semata wayangnya.
"Aku sudah berada di Paris sekarang. Ada urusan bisnis yang harus diselesaikan."
"Jangan berbohong, Nathan. Aku sudah meminta Jacob untuk membatalkan semua acaramu hari ini. Mommy mohon janganlah bercanda. Semuanya sudah siap hanya menunggu kedatanganmu saja."
"Aku benar-benar tidak bisa datang, Mom. Tolong maafkan aku."
"Lalu bagaimana dengan pernikahan ini? Pokoknya Mommy tidak mau tau. Kau harus datang kesini secepatnya."
"Tidak mungkin, Mom. Aku baru saja sampai. Aku tidak mungkin kembali kesana sekarang."
"Kau ini selalu saja mementingkan pekerjaanmu. Baiklah. Kalau begitu kau bacakan janji pernikahan melalui telepon saja."
"Tapi... Tapi, Mom–"
"Jangan mengelak! Atau kau lebih ingin melihatku mati mendadak. Karena dipermalukan oleh seluruh tamu undangan?"
"Baiklah. Aku setuju!" Lagi-lagi Nathan hanya bisa pasrah.
"Bagus! Jangan matikan teleponnya atau kau ingin hidupku hancur setelah ini!" Cepat-cepat Grace berlari masuk. Lalu ia menarik Claire ke atas altar pernikahan. Ia berbisik sebentar pada sang pendeta.
"Baiklah. Karena sang mempelai pria tak bisa hadir. Maka dia akan mengucapkan janji pernikahan menggunakan sambungan telepon."
Mendengar ucapan sang pendeta semua tamu yang hadir pun langsung berbisik-bisik. Tentu saja ini hal yang tidak umum terjadi. Namun, demi kelangsungan pernikahan Claire dan Nathan. Sang Pendeta melanjutkan prosesi pernikahan hingga selesai. Meskipun Claire tidak bisa bertemu dengan pengantin prianya.
Di tempat lain Nathan sedang memandangi sosok wanita cantik di depannya dengan air mata yang mengalir deras. Sang gadis pun langsung berlari keluar dari area backstage sebuah acara fashion show terbesar di Paris dengan beruraian air mata juga. "Angelica tunggu!" teriak Nathan sambil mengejar gadis itu.
"Kau benar-benar keterlaluan, Nathan! Bisa-bisanya kau melewatkan acara penting yang sudah ibu atur dengan baik," kata Grace dengan nada tinggi. Nathan hanya menutup matanya sesaat sambil menjauhkan ponselnya dari telinga. Tak tahan mendengarkan omelan dari sang ibu. Dia memang belum pulang ke rumah sejak hari itu. Ia tak ingin mendapatkan ocehan sang ibu secara langsung makanya ia lebih memilih pulang ke apartemennya.
"Maaf, Mom. Aku sungguh tidak punya pilihan. Aku harus pergi ke Paris untuk pertemuan penting dengan klienku. Jika aku sampai terlambat sedikit saja. Karirku bisa hancur. Apa Mommy lebih suka melihat hal itu?" balas Nathan berbohong.
"Tentu saja tidak. Aku sangat bersyukur karena Claire begitu sabar. Sehingga dia terus menunggumu meskipun akhirnya kau tidak datang."
"Ya. Aku akui aku salah. Tapi, aku ragu dengan semua kebaikan gadis itu. Jangan-jangan dia menyimpan sesuatu di balik semua itu," gumam Nathan.
"Apa? Kau masih meragukan gadis sebaik Claire. Makanya coba kau temui dia. Kenali dia dari dekat. Kau pasti akan berpikiran yang sama denganku," kata Grace cepat.
"Ya. Bisa ku atur nanti." Nathan membalas dengan nada tak bersemangat.
"Apa? Kenapa harus menunggu nanti?"
"Sekarang hari sudah siang, Mom. Aku harus berangkat ke kantor."
"Baiklah. Kalau begitu nanti pulanglah ke rumah. Mommy juga akan mengundang Claire untuk makan malam bersama. Kalian harus saling mengenal satu sama lain."
"Aku... Aku tidak bisa berjanji, Mom. Pekerjaanku masih sangat padat dan semuanya aku simpan di Apartemen ini."
"Tolong usahakanlah, Sayang. Malam ini saja," bujuk Grace.
"Ehms.... Aku tidak bisa berjanji, Mom. Tetapi, akan ku usahakan nanti malam."
"Itu yang Mommy ingin dengar sejak tadi. Selamat bekerja, Sayang. Sampai jumpa nanti malam."
Nathan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Lalu menghembuskan nafas beratnya. Ia harus mengatur acara untuk malam ini. Jika tidak ibunya pasti akan terus menerornya sampai dia pulang ke rumah dan makan malam bersama gadis asing itu.
"Sampai kapan aku akan terus begini. Ini benar-benar membuatku muak," gumam Nathan kesal. Ia berjalan mendekati sebuah meja. Di sana tersimpan puluhan jam tangan mewah dengan harga puluhan juta yang menjadi koleksinya. Saat hendak meraih salah satu jam itu. Nathan mengalihkan pandangannya pada deretan dasi yang juga tersimpan rapi di balik meja kaca itu juga. Nathan mengambil salah satu. Ia mencoba memakainya. Akan tetapi, sejak dulu Nathan tidak bisa membuat simpul yang baik untuk dasinya. Itu kenapa dia terlihat tidak pernah memakai dasi selama ini. Dia terlalu malu jika ada orang lain yang tau akan kebodohannya ini.
"Ish!" Dengan kesal Nathan menggulung benda itu sembarangan lalu mengembalikannya ke tempat semula. Ia meraih jam tangannya kemudian segera pergi.
Sampai di depan pintu masuk Apartemen Jacob sudah menunggu Nathan dengan mobil mewah milik Nathan. Ia buru-buru membukakan pintu sebelum lelaki itu masuk ke dalam.
"Apa malam ini kita ada jadwal pertemuan dengan klien?" tanya Nathan. Jacob melirik sang Bos Muda dari spion yang menggantung di depannya.
'Kalau sudah begini. Pasti Tuan Joe ingin melarikan diri dari perintah Nyonya Grace,' pikir Jacob.
"Ehms.... Sepertinya tidak, Tuan. Kita bahkan tidak ada pertemuan sama sekali pada minggu ini," jawab Jacob jujur.
"Apa? Tak bisakah kau mengatur acaraku untuk nanti malam?"
"Maaf, Tuan. Tapi, sepertinya Nyonya Grace sudah lebih dulu memintaku untuk mengosongkan jadwalmu malam ini. Dia terus memohon sehingga aku tidak kuasa untuk melawannya," balas Jacob.
"Apa? Hei! Sebenarnya kau berpihak kepada siapa? Kau lupa jika aku yang membayarmu selama ini?" ujar Nathan dengan nada yang semakin meninggi. Jacob menundukkan kepalanya dengan wajah takut.
"Maaf, Tuan. Aku tidak akan melupakan hal itu. Begitu juga dengan bantuan dari ibumu pada ayah dan ibuku dulu. Aku tidak akan pernah melupakannya."
"Ish. Kau ini. Terlalu setia pada seseorang," protes Nathan yang hanya dibalas dengan tawa kecil dari Jacob. Dulu saat kedua orang tua Jacob jatuh miskin dan hampir mati kelaparan di jalan. Memang ditolong oleh Nyonya Grace yang tak sengaja bertemu dengan mereka. Nyonya Grace memberi mereka pekerjaan dan uang yang layak. Sehingga mereka bisa hidup dan membesarkan Jacob sampai bersekolah tinggi. Sekarang Jacob bekerja dengan Nathan pun sebagai salah satu tanda terima kasih mereka pada keluarga Nicole yang baik hati.
Di perusahaan Golden Eagle Company. Seorang staf Manager sedang menjelaskan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh sekelompok pekerja magang. Mereka datang untuk melatih dan menerapkan ilmu yang sudah dipelajari di kampus pada kehidupan berbisnis yang sesungguhnya. Selain itu, tentunya acara ini sebagai ujian terakhir mereka agar bisa lulus dengan nilai yang bagus. Salah satu diantara mereka tampak Claire sudah berdiri dengan tenang. Mendengarkan semua penjelasan yang diberikan oleh sang Manager. Hingga tak lama kemudian datang temannya yang terlambat dengan wajah panik.
"Aduh. Aku sangat terlambat. Bagaimana penampilanku, Claire? Kudengar kita memiliki CEO muda yang tampan. Jadi, aku harus mempersiapkan penampilanku sebaik mungkin. Apakah aku terlihat berantakan karena berlari tadi?" kata Jane yang langsung membuyarkan konsentrasi Claire. Dengan senyum manisnya Claire menatap sahabatnya itu.
"Kau sudah terlalu rapi untuk masuk ke kantor, Jane. Tak bisakah kau fokus dengan pekerjaanmu saja, Sayang?" kata Claire setengah menyindir. Lalu ia kembali memperhatikan sang Manager di depan.
"Ayolah, Claire! Hentikan omong kosongmu. Aku tau kau sudah memiliki tunangan meskipun kau belum pernah bertemu dengannya. Tapi, lihat diriku. Aku masih sendirian. Tak ada pasangan. Aku pikir akan bahagia juga jika bisa berpasangan dengan CEO tampan kita," balas Jane dengan nada berbisik sambil terus melihat penampilannya di cermin kecil yang ada di dalam genggaman tangannya.
"Hei! Kau yang baru saja datang!" tegur sang Manager. Claire langsung menyenggol Jane dengan sikunya. Sehingga gadis itu langsung tersadar dan segera bersikap tegap seperti yang lain. "Apakah kau sudah mendengar semua penjelasanku?" tanyanya. Jane langsung mengangguk mantap. "Bagus! Kalau begitu cepat kerjakan tugas-tugas kalian sekarang! Ingat! Jangan melakukan kesalahan sedikitpun. Karena CEO kita tidak menyukai adanya kesalahan sekpun. Apa kalian mengerti?"
"Kami mengerti," balas semuanya serempak.
"Bagus. Pergilah ke tempatmu bekerja sekarang!" Sepuluh pekerja magang itu langsung pergi ke tempat masing-masing untuk mengerjakan tugas-tugas mereka. Namun, Jane yang sebenarnya tidak mendengarkan penjelasan dari sang manajer sama sekali. Tampak kebingungan dengan apa yang akan dia lakukan.
"Claire! Claire!" panggil Jane dengan nada berbisik. Claire yang sedang sibuk dengan komputernya pun langsung menoleh.
"Apa?" balas Claire hanya dengan gerakan bibir saja.
"Aku harus melakukan apa?" Jane bertanya dengan menggerakkan bibirnya.
"Lakukan saja seperti perintah dari Madam Lim barusan."
"Tapi, aku tidak mendengarnya sama sekali. Tolong bantulah aku. Aku tidak ingin dipecat di hari pertama magang. Ini akan berpengaruh dengan masa depanku." Jane memohon pada Claire. Claire tidak bisa membiarkan sahabatnya terkena masalah. Meskipun ini sebenernya karena ulahnya sendiri. Akhirnya dengan langkah menunduk Claire datang ke meja kerja Jane.
"Urus saja laporan keuangan di komputerku. Aku akan mengerjakan tugasmu."
"Kau benar-benar sahabatku, Claire." Jane memeluk erat Claire sesaat.
"Aku melakukan ini hanya untuk kali ini saja. Mengerti!"
"Oke, Sayang." Jane bergegas pergi ke meja Claire dengan posisi menunduk seperti Claire tadi. Claire pun segera duduk di kursi kerja Jane dan mulai mengerjakan tugas teman baiknya itu.
Waktu berlalu. Tiba saatnya Claire dan yang lainnya mengumpulkan hasil pekerjaan mereka. Namun, saat Jane ingin mencetak hasil pekerjaannya pada tugas Claire. Ia justru melakukan kesalahan karena sudah menumpahkan tinta ke atas kertas pekerjaannya.
"Oh my God. Tugas Claire!" pekik Jane dengan panik. Ia cepat-cepat mengambil kertas itu, tapi sebagian tulisan di dalamnya sudah tertutupi tinta hitam.
"Jane. Bagaimana dengan hasil pekerjaanku? Aku sudah mengumpulkan tugasmu tadi." Claire berjalan masuk ke dalam ruang cetak.
"Claire. Claire maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya," ujar Jane sambil menunjukkan kertas itu. Claire langsung merebut kertas itu cepat.
"Apa? Kenapa seperti ini?"
"Apa yang sedang terjadi disini?" ujar Madam Lim yang ternyata sudah berdiri di belakang mereka. Madam Lim meraih kertas itu sebelum berhasil disembunyikan oleh Claire dan Jane.
"Madam. Tolong maafkan saya." Jane berusaha membela Claire agar tidak terkena amarah wanita paruh baya itu.
"Claire! Ini pekerjaanmu? Sungguh sangat memalukan! Laporan ini harus diserahkan pada Tuan Joe segera. Kenapa kau malah membuatnya seperti ini?"
"Tapi... Tapi, Madam!" Jane berusaha menjelaskan, tapi Madam Lim tak mau mendengarkannya.
"Diam! Aku tidak butuh pembelaan dari siapapun. Kau harus mendapatkan hukuman dari kecerobohanmu, Claire Charlotte!" teriak Madam Lim. Tanpa sengaja Nathan mendengar teriakkan Madam Lim saat melintas. Mendadak ia pun menghentikan langkahnya saat mendengar nama yang cukup fenomenal itu disebut.
"Claire Charlotte," gumam Nathan. Seketika ia menoleh ke sumber suara.
"Tapi... Tapi, Madam!" Jane berusaha menjelaskan, tapi Madam Lim tak mau mendengarkannya.
"Diam! Aku tidak butuh pembelaan dari siapapun. Kau harus mendapatkan hukuman dari kecerobohanmu, Claire Charlotte!" teriak Madam Lim. Tanpa sengaja Nathan mendengar teriakkan Madam Lim saat melintas. Mendadak ia pun menghentikan langkahnya saat mendengar nama yang cukup fenomenal itu disebut.
"Claire Charlotte," gumam Nathan. Seketika ia menoleh ke sumber suara.
"Cepat ikut aku sekarang!" Madam Lim menarik paksa tangan Claire agar mengikutinya.
"Hentikan!" ujar Nathan yang tiba-tiba datang.
"Tuan Joe," gumam Madam Lim. Wajahnya langsung berubah takut dan seketika menundukkan kepalanya. Jane langsung menatap girang lelaki tampan itu. Sedangkan Claire hanya bisa melangkah mundur sambil menundukkan kepalanya juga.
"Apa yang sedang terjadi disini?" tanya Nathan dengan nada tegas.
"Claire Charlotte ini adalah pekerja magang di perusahaan kita, Tuan. Tapi, baru saja diberikan tugas pertama. Dia sudah melakukan hal ceroboh. Maaf, Tuan. Saya harus memberinya sedikit teguran," kata Madam Lim tanpa berani mengangkat wajahnya. Claire juga merasa takut tak berani mengangkat wajahnya sedikitpun.
"Siapa diantara kalian yang bernama Claire Charlotte?" tanya Nathan. Claire dan Jane saling melempar pandang. Sebelum akhirnya Claire memberanikan diri untuk mengangkat tangannya.
"Saya, Tuan," jawab Claire dengan nada takut. Seketika Nathan pun terkejut melihat wajah gadis yang sangat familiar di matanya itu.
'Dia! Dia gadis malam itu. Sudah kuduga sebelumnya. Dia bukan gadis baik-baik. Bisa-bisanya dia membohongi Mommy seperti itu,' batin Nathan dengan wajah menahan emosi. 'Tunggu! Aku tidak boleh gegabah. Aku harus mencari cara untuk menjebak gadis ini dan membuka topengnya agar Mommy percaya! Ini kesempatan yang baik untuk menyingkirkan gadis tak bermoral ini,' Nathan menghembuskan nafas beratnya.
"Baiklah. Kalau begitu temui saya di atas. Saya punya hukuman yang pantas untuk kamu," kata Nathan sebelum pergi dan langsung diikuti dengan setia oleh Jacob. Claire dan Jane saling melempar pandangan dengan ekspresi ketakutan. Bahkan, mendadak tangan Claire gemetaran.
"Sebenarnya saya memiliki hukuman yang lebih ringan, Claire. Tetapi karena Tuan Joe sudah mengatakan seperti itu. Saya tidak bisa membantahnya. Banyak-banyaklah berdoa agar kau tidak dipecat hanya gara-gara ini," kata Madam Lim kemudian ikutan berlalu. Meninggalkan Claire dan Jane yang terlihat semakin kebingungan.
"Bagaimana ini, Claire? Aku tidak mungkin membiarkanmu dipecat karena kesalahanku. Kita harus pergi ke ruangan Tuan Joe bersama-sama." Claire langsung menahan langkah Jane.
"Aku tau bagaimana kedua orang tuamu sangat bangga saat mendengar kau diterima magang di perusahaan ini. Biarkan aku saja yang pergi. Aku tidak akan melihat siapapun kecewa jika sampai aku dipecat nanti."
"Tapi, Claire?"
"Kau harus bertahan, Jane. Demi aku dan orang tuamu yang sudah berusaha keras mencari uang. Agar kau bisa berkuliah di universitas kita yang mahal itu." Jane tak bisa berkata-kata lagi. Mereka hanya saling berpelukan dengan air mata yang mengalir deras. Claire tau seperti apa keluarga Jane sebenarnya. Mereka bukanlah orang kaya yang mudah mendapatkan uang. Sehingga untuk membiayai kuliah Jane disana mereka harus benar-benar memeras keringat.
Claire menghembuskan nafas beratnya tepat sebelum ia mengetuk pintu ruangan Nathan. Keputusannya ini memang berat. Karena jika sampai ia mendapatkan nilai jelek saat magang. Selamanya ia tidak akan mendapatkan pekerjaan yang bagus. Tetapi, ia sudah berjanji pada sahabatnya. Ia tidak ingin hal itu justru terjadi pada Jane.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk!" perintah Nathan. Claire pun langsung membuka pintu itu segera.
"Selamat siang, Pak! Saya.... Saya mengaku sudah melakukan kesalahan. Sehingga saya siap untuk dipecat dari perusahaan ini," kata Claire sambil menundukkan kepalanya. Air matanya langsung mengalir deras. Sampai-sampai ia harus mengusapnya berkali-kali. Nathan tersenyum geli sambil berpindah duduk di meja kerjanya yang berhadapan cukup dekat dengan Claire.
"Aku tidak akan memecatmu, tapi hukuman yang akan kuberikan adalah.... Kau harus menjadi sekretaris pribadiku," kata Nathan mantap yang langsung membuat wajah Claire terangkat dengan ekspresi kaget.
"Apa? Sekretaris pribadi? Tapi, saya baru saja masuk di perusahaan ini, Tuan. Saya tidak memiliki kemampuan untuk itu dan saya hanya pekerja magang disini." Nathan mengangkat tangan kanannya seakan meminta Claire untuk menahan ucapannya.
"Aku adalah pemilik perusahaan ini. Jadi, aku bebas menentukan siapapun orang yang aku mau untuk menjadi sekretaris pribadiku. Termasuk kamu."
"Tapi, Tuan–"
"Hust.... Jika kau berani membantah perintahku. Aku akan memberikan nilai terburuk pada ujian magangmu. Sehingga selamanya karirmu akan hancur," ancam Nathan. "Bagaimana?" Claire menatap Nathan curiga, tapi dia tidak punya pilihan lain.
"Baiklah, Tuan. Saya bersedia."
"Bagus! Sekarang kau boleh kemasi barang-barangmu di tempat yang sekarang untuk berpindah ke tempat yang baru."
"Ba... baik, Pak." Claire hanya menurut meskipun ia masih terlihat sangat bingung. Nathan menatap punggung gadis itu pergi. Senyum liciknya semakin terlihat jelas.
"Mom. Akan kubuktikan jika gadis yang selalu kau puja-puja. Hanya seorang gadis licik yang mengincar harta kita saja," gumam Nathan.
Sementara, Claire masih terlihat syok saat ia sampai di ruangannya. Jane yang sudah menunggunya. Langsung menyambut Claire dengan wajah panik.
"Claire! Apa kau benar-benar dipecat?" tanya Jane. Claire menggeleng perlahan.
"Tidak. Tapi, hukuman jauh lebih berat daripada itu," balas Claire dengan wajah yang terlihat semakin bersedih.
"Apa itu?" Jane mulai penasaran.
"Tuan Joe memintaku untuk menjadi sekretaris pribadinya," jawab Claire lemah.
"Apa? Menjadi sekretaris pribadi?" balas Jane setengah berteriak. Claire sampai harus menutup mulut gadis itu. Karena anak-anak yang lain mulai memperhatikan mereka.
"Hust.... Kecilkan suaramu!"
"Maaf-maaf. Aku terlalu terkejut. Lalu apa yang membuatmu takut? Bukankah itu justru baik?"
"Baik bagaimana? Coba pikirkan saja! Aku hanya seorang pekerja magang yang tidak punya pengalaman bagus untuk melakukan itu. Kenapa tiba-tiba saja dia memintaku menjadi seorang sekretaris pribadinya? Aku curiga dia pasti sedang merencanakan sesuatu."
"Merencanakan apa?" tanya Jane polos.
"Aku juga tidak tahu," balas Claire kesal.
"Nona Claire. Apakah anda sudah siap? Karena meja kerja anda yang baru sudah menunggu!" kata Jacob yang tiba-tiba saja datang. Claire dan Jane yang sedang menggosip langsung terlihat gelagapan.
"Iya-iya sebentar. Saya akan segera berkemas." Jane membantu Claire merapikan barang-barangnya. Setelah semuanya selesai. Claire segera mengikuti langkah Jacob menuju tempat kerjanya yang baru. Ia melambaikan tangan dengan wajah sedih kepada Jane yang justru bersorak gembira.
"Tetap semangat!" kata Jane dengan gerakan bibirnya saja dan mengepalkan tangannya ke udara.
Claire hanya bisa berjalan dengan tak bersemangat. Hingga akhirnya ia sampai di meja yang berada tepat di depan pintu masuk ruangan Nathan.
"Claire. Sekarang ini adalah tempat anda bekerja. Dan ini adalah tugas-tugas pertama yang harus anda kerjakan sekarang!" kata Jacob. Claire membulatkan matanya melihat tumpukan berkas yang ditunjukkan oleh Jacob.
"Sebanyak ini, Pak?" tanya Claire tak percaya.
"Iya. Jika ada sesuatu yang tidak kau pahami. Kau boleh bertanya langsung dengan Tuan Joe di dalam ruangannya. Apa kau mengerti?"
"Saya mengerti," balas Claire semakin tidak bersemangat.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Masih ada urusan lain yang harus saya kerjakan!" kata Jacob kemudian pergi. Claire tak begitu memperdulikannya lagi, sebab ia sedang fokus dengan tugas-tugasnya itu.
"Oh my God. Kapan aku bisa menyelesaikan ini semua," gumam Claire putus asa. Tanpa ia sadari. Nathan sedang memperhatikannya dari sela-sela tirai kaca di ruangannya. Ia pun langsung tersenyum licik melihat gadis itu frustasi dengan semua tugas yang dia berikan.
"Hahaha. Malam ini sepertinya ada gadis yang harus membatalkan janji untuk makan malam dengan seseorang," gumamnya sambil tersenyum penuh kemenangan.