Bab 1

Rumah Veni

"ZHEAAAA!"

Veni berteriak begitu keras sekali kala ia melihat meja makan masih kosong.

"Ya bu."

Zhea berlari kecil menghampiri Veni.

"Apa yang kamu lakukan? Mana sarapan kakakmu?"

Veni berteriak begitu keras sekali hingga membuat Zhea memejamkan mata karena terkejut.

"Zhea masih cuci baju bu," jawabnya membela diri.

Caramel yang sudah muak karena menunggu lama Zhea sontak langsung berdiri sembari menyambar segelas air.

Byur

"Caramel sayang."

Veni sedikit tersentak kaget kala Caramel menyiram wajah Zhea.

"Nanti pulang sekolah gue pengin makan ayam goreng sama spageti, awas aja lo pulang sampai telat."

Caramel menyambar tasnya, "Caramel berangkat dulu bu!"

Veni hanya mengangguk dan melihat kepergian putrinya.

Zhea mengusap wajahnya yang basah dengan mata yang berkaca- kaca.

"Cepat selesaikan cuci bajunya. Baru kamu boleh sekolah!"

Zhea langsung bergegas kembali ke belakang untuk menyelesaikan mencuci bajunya agar bisa pergi ke sekolah.

Brak

Veni terjengkit kaget kala pintu terbuka dengan kasar.

"VENI!"

Teriak seorang pria bertubuh kekar dan sedikit gempal.

Veni langsung bergegas untuk menemuinya di ruang tengah.

"Pak Lomes."

Sapa Veni dengan senyum murahnya.

Lomes duduk di sofa, menyalakan pematik rokoknya dengan kedua kaki di atas meja.

"Zhea tolong buatkan minum!" teriak Veni pada Zhea.

Lomes menghembuskann asap rokoknya dengan tenang.

"Mana setoran bunganya?"

Lomes mengadahkan tangannya pada Veni.

Veni langsung duduk di hadapan Lomes, memikir otak untuk bisa memberikan alasan yang tepat.

"Tidak bisakah bulan depan pak? Sekarang saya masih tidak punya uang."

Lomes tersenyum miring, "Kapan kau pernah punya uang. Setiap hari kau mengeluh tidak punya uang, lalu dari mana kau beli semua belanjaan yang kemarin hari kau tenteng bersama dengan putrimu?" tanya Lomes dengan sarkas.

Veni kicep, ia tidak bisa membantah kala ucapan Lomes begitu tepat.

Kemarin sore ia memang pergi ke mal bersama dengan Caramel untuk membeli beberapa baju dan bahan makanan.

Siapa yang tahu jika Lomes melihat hal itu.

Tak lama Zhea datang dengan nampan coklat di tangannya yang berisikan secangkir kopi.

Veni mengamati tatapan Lomes pada Zhea yang terlihat begitu takjub dan kagum.

Saat Zhea kembali ke belakang, Veni melontarkan candaannya, "Dia masih SMA. Jika bapak mau menjadikannya sebagai istri ketiga, saya akan memberikannya tanpa jaminan."

Lomes yang mendengar hal itu hanya tertawa renyah, meraih secangkir kopi yang masih mengepulkan asap untuk ia seduh.

"Meski aku hidung belang, bukan berarti aku seorang pedofil. Aku tidak suka anak remaja."

Veni menggerutu dan mengumpat dalam hati kala Lomes menolak tawarannya.

Udah tua bangka aja belagu banget, batinnya dalam hati.

"Bukankah ia lebih cantik dari putrimu sendiri? Kenapa tidak menjualnya pada germo?" usul Lomes membuat Veni yang tadinya ingin marah sontak langsung bungah.

"Menjualnya? Pada germo?" Lomes mengangguk.

Veni berpikir sejenak, mencoba mencerna dengan matang pilihannya.

"Biasanya berapa harganya untuk satu gadis?"

Lomes tersenyum miring kala Veni menanyakan tentang harga nilainya.

"Cukup untuk melunasi hutangmu dan hidup selama 2 tahun."

Mendengar hal itu Veni terlihat begitu berbinar, seolah kedua matanya dipenuhi dengan dollar.

"Yang terpenting dia masih perawan."

Veni menatap Lomes dengan lekat, namun detik kemudian ia tersenyum tipis.

"Jangan ragukan hal itu. Dia gadis yang tidak pernah aneh- aneh. Tidak mungkin dia tidak perawan. Aku bisa menjaminnya."

Lomes hanya manggut-manggut percaya dengan hal itu.

"Tapi ingat, germo ini bukanlah orang biasa."

Spontan raut wajah Veni langsung berubah pucat.

"Apa maksudmu?" tanyanya dengan nada suara yang takut.

Lomes mematikan putung rokoknya yang masih sepanjang jari telunjuk dan kembali menyeduh kopinya.

"Dia seorang mafia terkemuka di kota Malta."

Lomes lalu menyodorkan selembar kartu nama.

Devil Club.

Veni mengamati lama kartu nama berwarna hitam mengkilap tersebut.

"Deymond Castello."

Veni mengeja nama yang tertera di sana membuat Lomes tersenyum devil melihatnya.

•••

Kantor Ainsoft

Ada pria tampan yang tengah duduk di kursi putarnya sembari memainkan bolpoin hitamnya.

Tubuhnya tinggi, atletis, dan selalu berpenampilan rapi dengan pakaian mewah yang sesuai dengan status sosialnya sebagai seorang milyuner.

Dia tumbuh dalam kemewahan dan terbiasa mendapatkan apapun yang ia inginkan.

Kekayaan yang melimpah membuatnya menjadi seorang playboy yang sering terlibat hubungan singkat dengan wanita dan tidak pernah serius dengan mereka.

Deymond melihat wanita hanya sebagai peluang sementara untuk bersenang-senang.

Namun selama ia menjadi seorang germo, tidak pernah sekalipun Deymond bermain dengan seorang wanita.

Auranya yang gelap dan dingin membuat wanita manapun takut untuk mendekatinya.

Pasalnya Deymond tidak segan pada mereka yang mendekatinya.

Tok tok

"Masuk."

Deymond melemparkan bolpoinnya ke atas meja.

Pintu terbuka dan menampilkan sekretaris baru pengganti Zero dengan pakaian yang terbuka.

"Maaf tuan mengganggu, saya hanya ingin mengantar proposal yang harus tuan tanda tangani."

Deymond hanya mengangguk, mengambil bolpoinnya kembali untuk bersiap tanda tangan.

Deymond melirik tak suka kala sekretaris itu berdiri dekat di sampingnya.

"Saya dengar anda belum menikah, apa anda tidak ada niatan untuk menikah sekarang?" tanyanya sembari meraba tangan berotot nan berurat Deymond dari balik kemeja hitamnya.

Deymond memainkan bolpoinnya, menahan diri untuk tidak meledakkan amarahnya sekarang.

"Kamu pasti sudah tahu dari karyawati di sini. Saya benci disentuh orang asing."

Sekretaris itu hanya tersenyum tipis, membuka kancing kemejanya paling atas.

"Saya tahu. Tapi saya yakin anda tidak akan menolak dengan pesona ini."

Deymond mendongak, melihat sekretaris itu melepaskan satu persatu kancing kemejanya, bahkan Deymond sudah bisa melihat belahan squishy yang padat.

Entah senyuman apa itu namun sekretaris seksi itu beranggapan jika Deymond menyukainya.

"Berdiri di depan mejaku!"

Perintah yang singkat namun terkesan seksi di telinga sekretaris itu.

Sekretaris itu langsung mematuhi perintah Deymond dengan senang hati di mana kemejanya sudah terbuka dan menampilkan bra berenda warna hitam.

Deymond menarik laci di bawah mejanya, meraih revolver berwarna silver.

"Benar bukan, kamu tidak bisa menolak atas tawaran ini."

Sekretaris itu berucap dengan begitu percaya dirinya membuat Deymond yang tengah mengisi revolvernya tersenyum sinis.

DOR

Satu tembakan namun tepat sasaran.

Sekretaris itu sudah tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir begitu deras dari dada sebelah kanannya.

Ceklek

"Surprise!"

Zero bersorak begitu girang sembari mengangkat tinggi barang bawaannya.

"Bagus kau datang tepat waktu. Bereskan dia dan sterilkan ruanganku!"

Deymond beranjak dari kursi putarnya, menyambar kunci mobil dan jas hitamnya.

Zero masih tertegun di tempatnya kala melihat seorang wanita terduduk tak sadarkan diri di kursi dengan darah yang menetes dari lengannya.

"Kau apakan wanita itu?"

Deymond berhenti di depan Zero, menoleh sekilas pada sekretaris tersebut.

"Dia yang menggoda lebih dulu!"

Deymond mengadu bak anak kecil. Zero menatap tak percaya Deymond.

"Yaaa! Tidak bisakah kau membiarkan hidupku tenang. Aku baru saja kembali dari Belgia menggantikan perjalanan bisnismu."

Deymond mengernyitkan keningnya, "Aku yang buat masalah kenapa kau yang pusing?" tanya Deymond heran.

Deymond lalu melenggang pergi begitu saja tanpa memedulikan Zero.

Zero menjatuhkan barang bawaannya.

"Hatiku sudah mengatakan untuk tidak kembali sekarang. Dan kini aku menyesalinya karena tidak mengikuti kata hatiku."

Zero mendekati sekretaris yang ia jadikan penggantinya sementara untuk membantu Deymond selama ia mengikuti perjalanan bisnis.

"Kenapa kau menggodanya? Dia bukan manusia. Kau melemparkan candaan dia akan memberimu tembakan."

Zero menghembuskan napas berat kala melihat sekretaris itu mati mengenaskan.

"Bodolah. Biar dia yang membereskannya. Aku ingin pulang."

Zero hendak meninggalkan wanita itu namun ia kembali mendekatinya.

"Kenapa tugasku selalu memindahkan dan mengubur mayat? Apa sebenarnya profesiku?" gerutu Zero sembari memindahkan wanita itu.

Bab 2

Club Devil

Di sinilah Deymond sekarang di club miliknya sendiri.

Selain rutinitas, Deymond selalu bermain ke clubnya untuk melakukan kerjaannya.

Yah hanya kerja sampingan dengan bonus senang- senang.

Terlebih bisa bermain dengan teman- temannya.

Deymond memasuki ruangan diskotik itu dengan penuh pesona dan aura yang begitu memancar.

Semua mata tertuju padanya, terlebih para kaum hawa.

Namun sayang sekali, mereka hanya bisa mengamati Deymond dari jauh tanpa berani mendekat.

"Halo sayang!"

Tampak seorang pria dengan wajah yang terkesan tampan namun menggemaskan melambaikan tangannya pada Deymond.

Dia adalah Arka, perakit bom yang paling Deymond sayang.

Maksudnya ia anggap sebagai adik kecilnya, pasalnya dia yang paling muda.

"Wah bandar keuangan kita sudah datang."

Sambut seorang pria tinggi dengan rambut sedikit keriting dengan wajah blasteran Amerika Korea.

Dia adalah Matt, peretas paling handal di kelompok mereka.

"Kalian sudah lama?"

Deymond mendudukkan pantatnya di sofa kebesarannya.

"Baru dateng."

Jawab seorang pria dingin, tampan dan raut wajah yang sangat- sangat datar namun begitu menawan.

Dia adalah Calvin, mantan agen CIA yang dikeluarkan karena memiliki amarah yang mudah meledak.

"Mana kekasihmu?"

Arka tampak celingukan untuk bisa menemukan orang yang dia maksud.

Kekasih yang Arka maksud ialah Zero.

"Ada di parkiran."

Deymond menjawab singkat, meraih bungkus rokok di depan Gavin.

Dan benar saja tak lama dari itu tampak terlihat Zero datang menghampiri meja mereka dengan bibir yang mengerucut ke depan dan wajah yang terlihat begitu di tekuk.

"Ada apa dengan wajahmu itu? Apa kau baru saja dipukuli orang?"

Arka langsung mengintrogasi Zero kala melihat teman sebayanya itu terlihat kesal.

"Aku lebih senang dipukuli dibanding harus menyelesaikan masalah yang ia buat."

Semua mata memandang Deymond dengan penuh penasaran.

"Apalagi yang dia buat?" tanya Matt penasaran.

Deymond hanya tersenyum sekilas lalu menghembuskan asap rokoknya.

"Kau tahu wanita yang kemarin kuwawancarai di sini untuk kujadikan penggantiku sementara?"

Semua mengangguk kecuali Deymond.

"Dia membunuhnya!"

Lagi- lagi mereka semua dibuat terkejut bukan main dengan kabar yang Zero berikan.

Namun hanya Calvin yang terlihat biasa saja tanpa ada rasa keterkejutan.

"Memangnya apa yang wanita itu lakukan? Kulihat dia tidak begitu eksentrik."

Matt mencoba berkomentar, menilai wanita yang kemarin Zero wawancarai.

"Dia jual diri!"

Sarkas Calvin singkat namun begitu tepat.

"Serius?" tanya Arka yang diangguki oleh Deymond tipis.

"Wah ternyata dia tak hanya agen CIA, dia juga cenayang."

Matt memberikan tepuk tangan pada Calvin.

Deymond mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

"Bagaimana dengan klien kalian?" Matt memberikan tanda OK, "Beres semua."

Deymond mengangguk lalu meraih sebotol alkohol.

"Permisi tuan."

Seorang pengawal Deymond tiba- tiba datang dan berdiri di depan meja mereka.

"Ya, ada apa?"

Deymond meletakkan botol alkoholnya.

"Ada seorang wanita ingin bertemu dengan tuan."

Zero langsung berdiri dengan cepat, "Biar aku saja yang menemuinya. Aku kesal mengubur mayat hari ini."

"Maaf tuan Zero, wanita ini ingin melakukan transaksi."

Zero langsung kembali duduk kala mendengar kata 'Transaksi'

Transaksi sendiri diartikan sebagai jualbeli.

Dan hal itu hanya ditangani oleh Deymond sendiri.

Tidak ada seorangpun yang bisa mewakilinya termasuk Zero.

Selain Deymond menyeleksi mereka, ia selalu menginginkan sesuatu yang berkualitas tanpa mengecewakan pelanggannya.

Karena itu, ia tak membiarkan siapapun menangani Transaksi ini.

Deymond langsung beranjak dari sofanya, berjalan ke lantai atas untuk menemui wanita tersebut.

Mereka lalu memasuki ruangan yang bertuliskan VVIP.

Terlihat seorang wanita duduk di sofa bersama dengan gadis cantik berpakaian anggun.

"Beri hormat!"

Pengawal yang berdiri di samping Veni memberinya aba- aba.

Veni langsung berdiri dan membungkukkan tubuhnya sekilas pada Deymond.

Deymond melihat gadis itu enggan bergeming dari tempat duduknya.

Veni yang melihat tatapan itu sontak langsung menarik tangan Zhea untuk berdiri.

Ya, gadis cantik nan anggun itu adalah Zhea.

"Cepat beri salam."

Veni mencubit lengan Zhea untuk membungkukkan tubuhnya pada Deymond.

Deymond menahan senyumnya, mendaratkan pantatnya di sofa merah nan besar tersebut.

Entah kenapa sejak tadi tatapan Deymond tidak bisa teralihkan dari gadis cantik nan anggun tersebut.

Rasanya seperti ada magnet pada wajahnya.

"Maaf tuan, saya kemari untuk melakukan transaksi."

Deymond hanya mengangguk, menghisap rokoknya tenang lalu menghembuskannya dengan panjang.

"Berapa yang kamu inginkan?"

Deymond langsung menanyakan berapa nilai yang Veni inginkan.

Veni terlihat begitu terkejut, bingung juga senang bukan main.

Zhea yang sedari tadi menahan tangis dan takut sontak langsung angkat bicara.

"Bu, jangan jual Zhea. Zhea janji akan kerja keras dan menghasilkan banyak uang."

Zhea memegangi lengan Veni dengan penuh harap agar dirinya tidak dijual.

Sayang sekali, Veni sudah dibutakan dengan uang yang Deymond tawarkan.

Deymond mengamati Zhea dengan begitu dalam dan penuh kekaguman.

Tidak maksudnya Deymond tenggelam dalam pesona kecantikan Zhea.

Beberapa pengawal di sana sepertinya menyadari tentang tatapan Deymond pada Zhea.

Mereka terlihat menahan senyumnya saat ini kala tatapan Deymond tidak sedikitpun teralihkan dari Zhea.

"Hanya aku atau memang tuan Deymond sedang terpesona dengan kecantikan gadis kecil ini?" tanya pengawal sedikit berbisik.

"Aku juga merasakan hal itu, belum pernah kita melihat tuan Deymond menatap wanita sedalam dan setenggelam ini," timpali temannya.

Veni berdeham sekilas, sedikit memajukan tubuhnya ke meja.

"Kalau tuan sendiri, berapa harga yang anda berikan?" tanya Veni ingin tahu seberapa besar hasil yang akan ia dapatkan dari menjual Zhea.

Deymond tersenyum miring menghisap rokoknya.

Deymond memberikan kode pada pengawalnya.

Sebuah cek diletakkan di depan Veni.

"Anda isi sendiri nominalnya."

Veni dibuat terbelalak dengan ucapan Deymond barusan.

Tidak hanya Veni, Zhea serta pengawal yang berada di sana dibuat terkejut dengan perintah Deymond.

"Tunggu, minggu kemarin aku sudah membersihkan telingaku, apa di dalam masih tersisa sesuatu," gumam pengawal yang tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.

Zhea yang melihat Veni tampak berbinar dan begitu antusias meraih bolpoin hendak menuliskan nominal di atas cek sontak langsung menahan lengan Veni.

"Bu tolong jangan jual Zhea, Zhea janji akan bekerja dengan keras dan membayar semua hutang- hutang ibu, tolong jangan jual Zhea bu, Zhea mohon."

Zhea memohon dengan begitu pilu di mana air matanya terus menderai membuat Deymond sedikit tersentuh dengan hal itu.

PLAK

"DIAM KAMU! ANAK TIRI AJA NYUSAHIN BANGET!"

Veni langsung menuliskan nominal yang dia inginkan.

Deymond mematahkan putung rokoknya yang tinggal sejari manis di mana itu masih menyala.

Para pengawal yang melihat hal itu, paham betul bagaimana perasaan Deymond.

Ia sedang menahan amarah saat ini.

"Ini tuan."

Deymond meraih cek tersebut, melihat nominal yang Veni inginkan.

1 juta dollar.

Deymond hanya mengangguk memberikan isyarat pada pengawalnya untuk membawa Zhea pergi.

"Ibu tolong Zhea."

Zea terus berteriak memohon, memberikan janji serta meminta maaf pada Veni dengan harapan ia tida dijual.

Namun Veni terlihat acuh dan tidak memedulikan hal itu.

Deymond menatap datar Veni, tidak bukan datar, melainkan tatapan menghunus yang membunuh.

Tak lama pengawal meletakkan koper di atas meja.

Dengan cepat Veni langsung membukanya.

Kedua matanya begitu berbinar sekali kala melihat gepokan uang dollar.

"Terima kasih tuan."

Veni langsung bangkit dari kursinya, memeluk erat kopernya dengan senyum yang lebar dan hati yang girang.

Deymond memberikan isyarat pada pengawal untuk menghalangi pintunya.

Veni berhenti di tempatnya, berbalik menatap Deymond.

Alangkah terkejutnya ia kala Deymond menodongkan pistol ke arahnya.

"Apa salah saya tuan, kenapa anda menodongkan pistol?" Veni terlihat begitu gemetaran.

Deymond melangkah mendekati Veni.

"Tembakan atau berikan separuh uangnya?"

Deymond memberikan tawaran pada Veni tanpa menyebutkan alasannya.

Veni yang tak ingin mati konyol sontak langsung mengeluarkan setengah uangnya.

500 ribu dollar telah dikeluarkan.

"Kenapa dikurangi dari setengah harga tuan? Bukankah anda bilang saya bisa menulis berapapun nominalnya?" tanya Veni ingin tahu alasan Deymond mengurangi uangnya.

Deymond melangkah mendekati Veni.

"Itu untuk membayar perlakuanmu terhadap wanitaku."

Deymond menekankan setiap katanya.

Veni dan para pengawal dibuat terkejut dengan pengakuan Deymond barusan.

"Dia wanitaku sekarang! Bersyukurlah hanya uangmu yang kukurangi, bukan kedua tangan atau kakimu."

Deymond lalu melenggang pergi untuk menemui Zhea.

Bruk

Veni terjerembab di lantai, kakinya terasa lemas setelah mendengar penuturan Deymond barusan.

Ternyata benar kata Lomes, dia bukanlah sembarang orang.

Dia dijuluki manusia dengan nyanyian neraka.

Ucapannya begitu menakutkan hingga mampu membangunkan bulu kuduk Veni.

Bab 3

Deymond memasuki ruangan khusus miliknya.

Ya dia meminta pengawal untuk mengantar Zhea ke ruangannya.

Terlihat Zhea tampak duduk di sofa, menunduk dalam dengan bahu yang naik turun.

Deymond berdeham membuat Zhea mengangkat kepalanya.

"Itu ibu tirimu?"

Deymond melepas jam tangan serta dasinya.

Melihat hal itu membuat Zhea teringat akan ucapan ibunya tadi siang yang mengatakan ia dijual pada seorang germo.

Apa aku akan diminta untuk melayani pria- pria hidung belang? Apa yang harus kulakukan sekarang? Jika aku bersujud di kakinya, apa dia akan melepaskanku? Batin Zhea dalam hati.

Zhea beranjak dari sofa, mendekati Deymond.

"Tuan."

Deymond berbalik, melihat Zhea berdiri tak jauh darinya.

"S-saya tidak ingin melayani mereka."

Deymond menahan senyumnya, memperhatikan wajah cantik Zhea yang terus menundukkan kepalanya tanpa berani menatap matanya.

"Lalu?"

Zhea mengangkat kepalanya, meremas kuat dress biru dongkernya.

"Bisa tolong lepaskan saya? Saya akan mengganti semua uang tuan."

Deymond tersenyum tipis, melepas kancing kemejanya paling atas.

Kakinya melangkah mendekati Zhea, "Mengganti uangku? 1 juta dollar, kamu sanggup mengembalikannya dalam semalam?" Zhea dibuat terbelalak dengan nominal yang Deymond sebutkan.

"1 juta dollar?" pekiknya tak percaya.

Deymond terus mendekati Zhea.

"Bukankah itu harga yang sangat kecil untuk kamu yang sempurna ini? Jika aku jadi ibu tirimu," Deymond menjeda ucapannya, "Aku akan meminta lebih dari itu."

Plak

Deymond membuka mulutnya tak percaya kala mendapatkan tamparan dari Zhea.

Zhea sedikit terkejut juga takut.

Namun mendengar ucapan Deymond tadi membuat dirinya tak bisa lagi menahan diri.

Deymond mengusap sekilas pipinya, tersenyum ramah.

"Selama menjadi germo, tidak pernah sekalipun ada wanita yang menyentuhku," Deymond menjeda ucapannya, menatap lekat Zhea, "Tapi kamu langsung memberikan tamparan yang begitu keras."

Deymond tersenyum miring, "Menarik. Kamu adalah tipe idealku."

Zhea menatap tajam Deymond kala dirinya diklaim sebagai tipe idealnya.

"Aku akan mengembalikan uangmu. Jadi lepaskan aku! Aku tidak ingin melayani para pria tua itu."

Zhea tampak berani saat ini membuat Deymond semakin tertarik.

"Siapa yang akan memintamu untuk melayani para pria bangka itu sayang. Kamu hanya akan melayaniku!"

Zhea sedikit membuka matanya kala mendengar hal itu.

"Tidak. Aku tidak mau."

Zhea menolak dengan terus terang membuat Deymond semakin dibuat gila olehnya.

Deymond hanya tersenyum miring, lalu detik kemudian memanggul tubuh Zhea.

"Lepaskan brengsek!"

Zhea terus meronta dan mengumpati Deymond tanpa henti kala dirinya dipanggul layaknya karung beras.

Deymond yang kali pertamanya mendapatkan umpatan dari wanita, kini tak bisa menahan senyumnya.

"Disaat semua wanita di sekelilingku takut untuk menyentuh atau mendekatiku. Kamu dengan berani mengumpat dan menamparku. Aku jadi semakin tertarik denganmu!"

Deymond menampar sekilas pantat Zhea dengan gemas.

"Yaaa!"

Teriak Zhea kala pantatnya ditampar.

"Aww."

Ringis Deymond kala punggungnya digigit oleh Zhea.

"Wah, gigitanmu ini... Membangkitkan gairahku, Sayang. Apa kamu sedang menggodaku?" tanya Deymond dengan sorot mata penuh nafsu, tersenyum sinis. Gigitan Zhea ternyata tak membuatnya marah atau kesal, melainkan malah terangsang.

Zhea yang mendengar hal itu merasa takjub sekaligus putus asa dalam menghadapi Deymond.

Deymond keluar dari ruangannya, berjalan dengan anggun menyusuri lorong sambil memanggul tubuh Zhea.

Wajah para pengawal penuh kekagetan dan tidak menyangka saat menyaksikan Deymond keluar dengan gaya yang mendominasi sambil menggendong Zhea dalam pelukannya.

"Tunggu. Tadi itu yang keluar tuan Deymond kan?" tanya pengawal sembari menggosok kedua matanya.

"Apa itu terlihat seperti gajah yang sedang membawa anaknya?" tanya balik temannya dengan geram di mana ia sendiri juga terkejut saat melihat Deymond memanggul Zhea.

"Tadi itu sungguh tuan Deymond kan?" tanya pengawal satunya dengan raut wajah yang tidak percaya juga bingung.

Pengawal tinggi yang sejak tadi terus ditanyai, merasa geram dengan kedua temannya.

"Ayo kemari. Aku akan mencuci kedua mata kalian."

Pengawal tinggi itu menarik telinga kedua temannya untuk ia bawa ke kamar mandi.

Sedangkan itu Deymond keluar dari lift, semua orang sontak langsung membukakan jalan untuk Deymond lewat.

Tatapan mereka seolah terhipnotis dengan Deymond yang tengah memanggul seorang wanita.

Namun kebanyakan dari mereka, tatapan wanita lah yang paling berbahaya.

Di mana mereka menatap tajam, sinis dan penasaran dengan rupa wajah wanita yang Deymond panggul.

Sedangkan di meja sudut, Arka dan lainnya yang tengah sibuk bermain kartu, sontak menoleh kala mendengar suara teriakan histeris dari para wanita.

Matt, Arka dan Zero dengan kompak membungkam mulutnya kala melihat Deymond memanggul seorang wanita yang tidak mereka ketahui wajahnya.

"Itu Deymond?"

"Itu yang dipanggul siapa? Cewek kan?"

"Wah Zero, kau diduakan oleh Deymond. Sainganmu sangat berat sekarang."

Sedangkan Calvin terlihat biasa, datar tanpa ada ekspresi terkejut atau heboh.

"Calvin, kau lihat tadi, itu beneran Deymond kan?"

Arka memastikan jika yang ia lihat barusan adalah Deymond.

Calvin menaikkan sebelah alisnya, "Apa dia terlihat seperti unta?" tanya balik Calvin membuat Arka berdesis.

"Kenapa kau begitu dingin sekali. Kau bahkan tidak tahu caranya bercanda."

Sedangkan itu Deymond melenggang pergi menuju basement parkiran, membawa Zhea ke mansionnya.

•••

Di Mansion

Mereka baru saja tiba di Mansion.

"Kenapa kita kemari?"

Zhea terlihat takut juga takjub di waktu bersamaan kala diajak ke Mansion yang terlihat begitu megah nan mewah dari luar.

Deymond hanya menampilkan senyum tipis penuh arti.

Ia enggan menjawab pertanyaan Zhea dan turun dari mobilnya.

Deymond langsung mengangkat Zhea keluar dari mobilnya membawanya masuk ke dalam.

Para pengawal yang sedang berkeliling di sekitar halaman, sontak dibuat terkejut dengan apa yang Deymond bawa ke Mansion.

"Tunggu, itu sungguh tuan Deymond?" tanya pengawal gempal yang langsung menjatuhkan tongkat hitamnya.

"Sepertinya tuan Deymond salah membawa orang masuk. Aku akan menghentikannya."

Pengawal kurus itu hendak mengejar Deymond yang masuk ke dalam Mansion dengan Zhea di panggulannya.

"Eee kau mau kemana? Lanjutkan kelilingmu sebelum anggota badanmu berkurang."

Pengawal itu langsung menarik tangan temannya untuk kembali berkeliling tanpa mengganggu aktivitas tuannya.

Mereka tahu prinsip Deymond, di mana ia tak pernah sekalipun membiarkan wanita luar masuk ke dalam Mansion.

Tapi jika Deymond sendiri yang membawanya, mereka paham.

Berarti wanita itu adalah aset tuannya.

Deymond langsung membawa Zhea ke lantai paling atas.

Tepatnya ke dalam kamarnya.

Deymond mendudukkan Zhea di tepi ranjang.

"Tolong jangan lakukan apapun padaku? Aku akan mengembalikan semua uangmu. Aku rela bersujud di kakimu untuk meminta maaf atas sikap kurang ajarku tadi. Tapi tolong, jangan lakukan hal itu."

Deymond hanya diam dan berlalu ke dapur.

Entah apa yang sedang ia lakukan namun ia tidak pergi begitu lama.

Ia kembali dengan segelas susu di tangannya.

"Aku hanya ingin membawamu kemari. Di sana tempatnya para pria tua mencari mangsanya."

Deymond memberikan segelas susu itu pada Zhea.

Dengan ragu Zhea menerima segelas susu itu.

"Habiskan susunya lalu beristirahatlah!"

Deymond lalu keluar dari kamar membuat Zhea bertanya-tanya perihal hal itu.

Ia sungguh membawaku kemari hanya untuk beristirahat? Dia tidak memintaku untuk melayani para pria tua itu? Batin Zhea dalam hati, merasa janggal juga curiga dengan sikap Deymond.

Siapa yang tahu sikap picik Deymond.

Faktanya ia sedang duduk di ruang tamu sembari menikmati sebatang rokoknya.

Asap mengepul tinggi membubung, mencerminkan kebahagiaan dan ketenangan yang dirasakan di dalam hati. "Kurasa obat perangsang itu cukup untuk membuatnya terangsang hingga besok pagi."

Deymond tersenyum licik, sembari mengenang tindakannya tadi yang dengan cerdik memasukkan beberapa butir obat perangsang.

Ketika emosi memuncak dan adrenalin meluap, Deymond merasa seperti malaikat jahat yang telah berhasil menjalankan aksi onarnya.

Detik demi detik berlalu seiring senyum mengerikan yang menghiasi wajah Deymond, ia terus menikmati dampak perbuatannya itu.

Sedangkan bagi yang menjadi korban, obat perangsang yang sengaja diberikan oleh Deymond memicu gelombang gairah yang sulit dikendalikan.

Ironisnya, ini justru membuat Deymond semakin tergoda untuk terus menyaksikan hasil 'karya' kejam yang baru saja ia ciptakan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED