Bab 1

Siang menjelang sore Ferdy tiba di rumah. Sebenarnya dari tadi dia sudah merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, seperti firasat buruk yang tak bisa dijelaskan. Bahkan sejak dalam perjalanan, hatinya sudah terasa sesak. Rencana tiga hari perjalannnya bahkan sampai dia pangkas jadi dua hari.

Semakin dekat ke rumah, napasnya terasa semakin berat, seolah ada yang tidak beres. Begitu tiba, ia mendapati pintu kamar sedikit terbuka. Langkahnya terhenti sejenak. Ia mendengarkan. Detak jantungnya berpacu cepat ketika samar-samar terdengar suara bisikan-suara yang seharusnya tak ada di sana.

Itu suara Tania, tapi ada sesuatu yang aneh. Ferdy menahan napas, merasakan seberkas ketakutan menyusup ke dalam dirinya.

BRAK!

Tanpa pikir panjang, Ferdy mendobrak pintu dengan kasar, menghancurkan ketenangan yang semu.

"TANIA! APA YANG TERJADI DI SINI?!" suaranya menggema, parau, penuh kemarahan dan ketidakpercayaan, tak mampu menyembunyikan guncangan batinnya.

Tania tersentak. Ia berdiri panik. Wajahnya pucat, matanya membesar seolah baru tertangkap basah melakukan sesuatu yang tak seharusnya. Tangannya gemetar, meremas ujung bajunya, berusaha menutupi rasa bersalah yang terpancar dari setiap geraknya.

"MAS FERDY?! Kamu sudah pulang? Kenapa nggak ngabarin dulu?" Suaranya nyaris tak terdengar. Wajahnya takut menatap laki-laki yang jelas tengah menahan emosi.

Di atas tempat tidur mereka, seorang lelaki yang Ferdy kenal baik-Ricko-terduduk kaku. Matanya melebar, tangannya mengepal di atas selimut. Napasnya tak beraturan, terlihat jelas ketakutan menguasainya.

"Mas Fer, aku... aku cuma...," gumam Ricko tergagap, wajahnya pias. Kekhawatiran jelas terpancar di matanya, tapi tak ada sedikit pun rasa simpati dalam hati Ferdy saat itu.

Ferdy melangkah masuk. Aura dingin mengelilinginya. Rahangnya mengeras, tatapannya menajam, mengunci Ricko yang duduk di tempat tidur pernikahannya.

"Apa yang kalian lakukan di sini?! Kenapa dia ada di kamar kita, Tania?! JAWAB!" suara Ferdy meledak, seperti petir yang siap merobek segalanya.

Tania melangkah mendekat, tangannya terangkat seolah hendak menenangkannya. "Mas Ferdy, dengar dulu... Ini nggak seperti yang kamu kira! Tolong, jangan marah dulu!"

Ferdy terkekeh pendek, penuh kepahitan. "Bukan seperti yang aku kira? Jadi, apa yang sebenarnya terjadi, Tania?" suaranya bergetar, campuran antara marah dan kebingungan yang menyayat.

Tania menggigit bibirnya, menatap suaminya dengan sorot memohon. Namun air mata sudah jatuh dari sudut matanya.

"Ricko hanya teman lama, Mas. Aku butuh seseorang buat bicara. Aku merasa... kesepian," ujarnya dengan suara rapuh, seolah baru saja membuka rahasia terdalamnya.

Ferdy mendengus sinis. "Kesepian? Lalu kamu memilih bicara dengan dia di kamar kita? Di atas tempat tidur? DALAM KEADAAN SAMA-SAMA BUGIL? suaranya meninggi. Dadanya naik-turun menahan emosi yang membuncah.

Tania melotot, mendadak berubah defensif. "Mas Ferdy selalu sibuk! Kamu nggak pernah ada buat istrimu! Aku butuh seseorang yang bisa dengerin aku tanpa menghakimi!" Nada suaranya kini penuh emosi, matanya mulai memancarkan kemarahan.

"Jadi ini balasanmu? Mengundang pria lain ke kamar kita?" Ferdy mengarahkan pandangan menusuk ke arah Ricko yang masih terpaku di tempatnya.

"Mas Fer, aku nggak ada maksud apa-apa," ucap Ricko dengan suara rendah, menunduk dalam ketakutan. Tapi kata-katanya sudah tak berarti apa-apa.

Ferdy tak bisa menahan diri lagi. Tangannya terangkat.

PLAK!

Tamparan keras itu mendarat tepat di pipi Ricko, membuat tubuh pria itu terdorong ke belakang. Tangannya refleks menutupi wajahnya. Amarah Ferdy mencapai puncaknya.

"BRENGSEK LU, RICKO!" geramnya, suara penuh gemuruh kemarahan. "LU PIKIR BISA MASUK KE HIDUP GUE SEENAKNYA?!"

Tania menjerit, lalu berlari mendorong dada Ferdy dengan kedua tangannya yang mungil. "MAS FERDY HENTIKAN! Kamu keterlaluan!" teriaknya panik.

Ferdy menatapnya tajam, nyaris tak mengenali perempuan yang dulu begitu dicintainya. "Aku keterlaluan? Tania, kamu yang bawa pria lain ke kamar kita, dan aku yang keterlaluan? Maksud kamu apa?" Suaranya seperti pisau.

Ia mundur selangkah, dadanya makin sesak.

Tania terdiam. Bibirnya bergetar. Ricko berdiri perlahan, mengenakan pakain dengan tergesa-gesa menunduk, lalu melangkah mundur.

"Saya pergi. Maaf, Mas Ferdy," ucapnya lirih.

Ferdy menatapnya dingin. "Lu jangan pernah balik lagi ke sini, BANGSAAAAT!" teriaknya, memuntahkan seluruh amarah yang tertahan. Tapi kekosongan di hatinya tak juga hilang.

Ricko menunduk sekali lagi lalu buru-buru pergi. Ferdy menatap Tania penuh amarah, kecewa, dan luka yang menganga.

"Aku nggak tahu lagi, Tania... Aku nggak tahu lagi." Dengan langkah berat, Ferdy keluar, menutup pintu dengan hentakan keras-seolah mengubur semua harapan yang pernah tumbuh.

Ia tak bertanya di mana anak-anaknya. Ia tahu pasti Nazwa dan Rayhan belum pulang dari rumah neneknya, atau di rumah Mak Iyoh, pengasuhnya.

Ferdy melangkah pelan di jalan setapak yang mulai ditelan rumput liar, menuju bukit kecil yang sejak lama menjadi tempat pelariannya. Angin sore menyapu wajahnya. Langit berubah warna-semburat jingga dan ungu menghiasi cakrawala, seolah mencerminkan gejolak batin yang tak kunjung reda.

"Tania... aku masih ingat... matanya yang berbinar saat kami menata rumah kecil itu. Cerewet soal gorden, ribut sendiri memilih warna cat yang katanya harus sesuai suasana hati. Kami tertawa puas, rumah itu benar-benar terasa hidup."

"Tawa kami pecah waktu Nazwa belajar bicara. 'Papa,' katanya-cadel, gemetar, tapi menggetarkan seluruh jiwaku. Tania menepuk tangan seperti anak kecil yang baru saja menang undian."

"Lalu Rayhan lahir... tiga tahun setelahnya. Tubuh kecilnya tidur di dadaku, dan Tania, di sebelahku-lelah, tapi penuh bahagia. Lima tahun... ya Tuhan, lima tahun yang terlalu cepat berlalu. Tapi semuanya begitu bermakna. Dan sekarang?"

"Ricko... lelaki yang dulu aku selamatkan dari kubangan dosa, yang aku beri pekerjaan, pakaian, bahkan tempat tinggal. Aku ajari dia mengenal Tuhan, aku kenalkan dia pada keluargaku-pada istriku. Tapi dia membalas dengan pengkhianatan."

Dari kejauhan, suara burung-burung pulang ke sarang terdengar lirih. Ferdy memejamkan mata, membiarkan angin membelai wajahnya. Ia mendengar bisikan yang mungkin berasal dari hatinya sendiri.

Ia tak tahu apa yang dicarinya di sini. Mungkin jawaban. Mungkin ketenangan. Atau mungkin hanya waktu untuk meredakan badai dalam dadanya.

Ia menunduk, menggenggam sejumput rumput kering lalu melepaskannya ke udara. Angin membawanya pergi, seperti waktu yang tak bisa ia genggam. Udara malam mulai turun. Dan Ferdy berharap, kesakitan ini bisa memudar seperti senja yang perlahan menghilang.

Malam perlahan turun, dan Ferdy masih di sini, sendirian bersama pikirannya yang semakin tak karuan. Setiap detik terasa begitu berat, dan kesepian semakin menyelimuti hatinya, membuatnya merasa semakin terperangkap dalam kegelisahan.

Esok harinya, ia kembali. Rumah terasa sunyi, terlalu sunyi. Seolah semua kehidupan di dalamnya telah pergi, meninggalkan kesepian yang menggerogoti setiap sudutnya. Langkahnya terasa berat, seolah setiap inci ruang ini menahan setiap langkah yang ingin ia ambil.

Ferdy melangkah menuju kamar, perasaan aneh yang membebani dadanya semakin menjadi. Begitu pintu kamar terbuka, hatinya langsung mencelos, terhempas ke dasar jurang yang tak terlihat. Lemari pakaian terbuka dan kosong.

Perhiasan di kotak hilang. Buku tabungan Tania lenyap begitu saja, tanpa jejak. Motor matic yang biasa dipakai Tania juga raib, bersama semua surat-suratnya. Semuanya menghilang, seolah tak pernah ada. Ruangan ini kini terasa lebih dingin, lebih asing. Tidak ada lagi celotehan ceria kedua anaknya yang biasa memenuhi rumah ini.

Ferdy melangkah limbung ke ruang tengah, perasaannya hancur begitu saja. Harapan yang sempat ada, hancur seketika. Ia berharap menemukan sesuatu-apa pun itu, yang bisa memberi jawab dan arti pada kekosongan yang mencekam ini.

Namun yang ditemuinya justru selembar kertas di atas meja. Kertas itu tergeletak begitu saja, seperti sebuah pesan yang sengaja ditinggalkan untuk menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih ada di dalam dirinya.

Tangannya gemetar hebat saat mengambil kertas itu. Kertas itu terasa begitu berat, seolah beban dunia ada di dalamnya. Ferdy membuka kertas itu dengan tangan yang hampir tak bisa ia kendalikan.

"JANGAN CARI KAMI. NAZWA DAN RAYHAN BUKAN ANAKMU, KAMU LELAKI LEMAH DAN MANDUL FERDY!"

Dunia Ferdy runtuh seketika. Seolah semua yang ada di sekitarnya menghilang dalam sekejap. Tangannya bergetar hebat, tubuhnya terasa hampa, seolah tak lagi terhubung dengan dunia ini. Napasnya memburu, panas dan sesak. Kepalanya terasa berat, seperti ada batu besar yang menekan dahi.

Ia mencoba berdiri, namun tubuhnya tidak mau diajak bekerjasama. Ferdy terduduk di lantai, menatap kosong ke dinding, tak tahu apa yang harus dilakukannya. Pikirannya menolak untuk percaya. Tidak. Ini tidak mungkin. Ia tidak bisa menerima kenyataan ini. Tapi hatinya tahu. Ini adalah kenyataan yang harus diterimanya. Ia tak tahu mana yang lebih sakit-mempercayai kenyataan ini atau menyangkalnya.

"Tidak... Ini nggak mungkin..." bisiknya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh rasa sakit yang mencekam.

Ferdy menekan wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menekan perasaan yang mengguncang tubuhnya. Namun tak ada yang bisa ia lakukan. Tubuhnya terguncang hebat, terasa disayat, dan rasa sakit ini begitu tak tertahankan...

Ia bahkan tidak peduli lagi ketika keluarga besar Tania datang meminta maaf atas perbuatan memalukan anak mereka yang entah kemana. Ia juga tidak terlalu merespon kedua orang tuanya, yang dulu memaksanya menikahi Tania. Ketika kejadian ini sudah terjadi, mereka pun hanya bisa menangis dan meminta maaf atas segala kesalahan mereka.

"Umi dan Abi bersumpah, mulai sekarang tidak akan lagi ikut campur urusan jodohmu, Nak. Umi dan Abi menyesal..."

Ferdy tidak membenci orang tuanya. Biarlah mereka menginsafi kesalahan mereka, bahkan membatalkan semua rencana perjodohan mereka untuk kedua adiknya. Ferdy merasa dirinya telah menjadi tumbal atau perisai untuk masa depan kedua adiknya yang belum sempat dipaksa kedua orang tuanya untuk menikah dengan lelaki pilihan mereka.

Ferdy hanya ingin adik-adiknya bahagia dengan pilihan mereka masing-masing.

Dengan kaki yang berdarah dan bernanah, Ferdy tetap melanjutkan hidup. Setiap langkah terasa menyiksa, seolah dunia ingin menghentikannya, tapi ia tetap berjalan.

Luka di tubuhnya hanyalah bayangan dari luka yang jauh lebih dalam-yang menganga di dalam hati dan tak kunjung sembuh. Hari demi hari terasa semakin berat, seperti memikul beban yang tak pernah berkurang.

Namun Ferdy tahu, tak ada pilihan lain selain terus melangkah... walau tertatih, walau sendiri, walau kadang nyaris menyerah.

^*^

Ikuti terus kisah sebelum dan sesudahnya kerjadian ini. Seru menegangkan, bikin panas dingin dan tak tentu saja tidak akan mudah ditebak alur dan endingnya.

^*^

Bab 2

Sebulan sebelum kejadian.

Pagi itu begitu sempurna. Matahari menembus tirai tipis ruang makan, memantulkan cahaya keemasan di lantai marmer yang mengilap. Rumah dua lantai bergaya modern tropis itu berdiri megah di tengah kompleks semi elite, dengan taman depan yang rapi dan wangi kopi hangat yang menguar dari dapur bersatu dalam harmoni.

Ferdy turun dari lantai atas dengan kemeja biru muda yang sudah disetrika rapi, rambutnya klimis, dan sepatu kulit yang mengilap. Tania menyusul dari dapur dengan segelas jus jeruk dan senyum manis yang selalu membuat Ferdy merasa beruntung memilikinya.

"Dua hari aja, ya?" Tania menyentuh lengan suaminya sambil merapikan kerah bajunya. "Kalau gak sibuk, mungkin aku nyusul ke rumah Mama. Nazwa sama Rayhan betah banget di sana."

Ferdy mengangguk sambil mengancing jasnya. "Iya, sekalian istirahat juga, Sayang. Kamu juga udah lama gak nengok Mama."

Sambil mengambil kunci mobil dari meja konsol, Ferdy sempat melirik keluar jendela.

"Eh, ngomong-ngomong, Bang Ricko kemana, ya? Udah lama gak kelihatan main ke sini."

Tania tampak berpikir sejenak, lalu menjawab ringan, "Kayaknya pulang kampung ke Lombok. Mungkin ada urusan keluarga juga."

"Hmm," gumam Ferdy, lalu mengangguk kecil.

Ia memeluk Tania singkat, mencium keningnya dengan lembut. "Jaga diri ya, Sayang."

Tania tersenyum. "Kamu juga. Hati-hati di jalan, Mas."

Ferdy melangkah keluar. Suara deru mesin mobil terdengar halus saat ia membuka pintu garasi. Tania berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan, memandangi sosok suaminya yang gagah dan tampan hingga mobil itu perlahan menghilang di tikungan jalan.

Beberapa menit setelah mobil Ferdy menghilang di ujung jalan, suasana rumah kembali sunyi. Tania berdiri di ambang pintu, matanya menatap kosong sesaat sebelum ia menutup pagar. Tapi belum sempat ia benar-benar masuk, suara langkah datang mendekat rumah.

Seorang pria sebaya dengannya, kaos hitam pas badan yang menempel di dadanya yang bidang, celana jeans hitam sobek di beberapa bagian, dan senyum khas nakal yang membuat wajahnya makin berkarisma. Kulitnya sawo matang, rambut sedikit gondrong berantakan, tapi terawat. Pria itu membuka gerbang tanpa mengetuk, langsung masuk seolah rumah itu juga miliknya.

"Assalamu'alaikum, Tante Rumah," ucapnya ringan, dengan nada menggoda.

Tania tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. "Astaga... Bang Ricko, jangan manggil tante dong. Bikin aku merasa tua aja."

Ricko tertawa pelan, lalu berjalan mendekat dan memeluk Tania erat, penuh kerinduan yang seolah telah lama tertahan. Tania membalas pelukannya tanpa ragu, membenamkan wajahnya di dada Ricko, menghirup aroma maskulinnya yang khas-campuran parfum murah dan keringat yang justru memabukkan.

"Kamu panjang umur. Tadi Mas Ferdy nanyain, udah lama gak keliatan," bisik Tania.

"Udah lebih seminggu, ya... Gila, aku kangen banget, Sayang," balas Ricko.

Tania mengangguk kecil, masih di pelukannya. "Aku juga. Rasanya sempit banget seminggu ini, Mas Ferdy sibuk terus... Aku di rumah kayak hantu, numpang tinggal aja."

Ricko mengusap rambut Tania pelan, lalu menciumnya lembut di ubun-ubun. "Untung suamimu sibuk... jadi kita bisa puas.?"

Tania tersenyum nakal. "Iya. Baru aja dia pergi ke Bandung. Anak-anak juga masih di rumah Mama. Jadi... rumah ini milik kita berdua hari ini."

Mereka tertawa bersama, hangat dan mesra, selayaknya pasangan yang sudah lama saling memahami. Ricko duduk di sofa, melepas sepatunya dengan santai, sementara Tania membawa dua gelas kopi hangat dari dapur.

"Aku seneng loh... Nazwa dan Rayhan tuh udah kayak anakmu sendiri. Mereka lebih nempel ke kamu daripada ke Mas Ferdy."

Tania duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahunya. "Mereka suka banget kalau kamu datang. Katanya kamu lebih lucu, lebih sabar... dan gak pelit. Nanti sore kita jemput mereka ke rumah Mama, mereka juga pasti udah kangen kamu."

Ricko tergelak. "Jelas lah. Aku sayang sama mereka dan sama kamu juga, kan?"

Tania mencubit perutnya. "Dasar!"

Ricko menangkap tangan Tania dan menggenggamnya. Pandangan mereka bertemu, dan dalam keheningan yang manis itu, waktu seolah melambat.

"Sayang..." suara Ricko serak, lirih.

"Hm?" Tania menjawab pelan, tanpa mengalihkan pandangannya.

"Aku... gak tahu bisa tahan sampai kapan, begini terus. Aku makin sayang sama kamu, tiap kali kita pisah, rasanya berat dan nyesek."

Tania mengelus pipi Ricko. "Aku juga, Bang... Tapi sekarang kita punya pagi ini. Jadi... jangan pikir jauh-jauh dulu. Peluk aku lagi."

Ricko menariknya dalam pelukan, lebih erat dari sebelumnya.

Ricko menarik napas panjang. "Sayang, terkadang aku suka berpikir pengen ngajak kamu dan dua anak kita pergi."

Tania menoleh, alisnya sedikit mengernyit. "Kemana, Bang?"

"Ya... kemana aja. Yang penting gak ada suamimu. Gak ada tekanan. Gak ada kepura-puraan. Hanya kita bertiga... eh, berempat." Ia tersenyum kecil, menyentuh ujung dagu Tania.

Tania menghela napas, lalu menatap Ricko dalam-dalam. "Emang Abang udah siap ngidupin aku dan kedua anakku?"

Ricko menatapnya lekat. "Cinta pasti akan membuat kita siap dan kuat, Sayang."

Tania tersenyum getir. "Ya, sebenarnya aku juga sama denganmu... kadang pengen pergi jauh. Mulai semuanya dari awal. Tapi kamu tahu sendiri kan? Bukannya aku merendahkan atau gak percaya, tapi aku merasa... kita belum siap."

Ricko tertunduk. Tania menggenggam tangannya erat.

"Tabunganku pun belum seberapa. Apalagi Abang masih nganggur. Kita mau makan dari mana? Mau kasih anak-anak masa depan dari mana?" katanya lirih.

Ricko mencium punggung tangan Tania. "Aku janji, aku bakal berubah. Aku bakal kerja, apa aja. Asal kamu tetap di sisiku."

Tania tersenyum kecil, menahan perasaan yang bercampur antara rindu, sayang, dan ketakutan akan masa depan yang belum pasti.

"Aku percaya sama kamu. Tapi untuk saat ini... kita jalani aja dulu. Pelan-pelan aja, ya?"

Ricko mengangguk, lalu menarik tubuh Tania ke pelukannya. Mereka berdiam lama dalam keheningan yang nyaman, sebelum akhirnya Tania berkata pelan pelan, "Sayang makan dulu yu."

Di ruang makan yang luas dan terang, cahaya matahari pagi menyinari meja bundar dari kayu jati yang mengilap. Vas kaca berisi bunga segar berdiri anggun di tengah meja, diapit dua piring yang telah ditata rapi oleh Tania. Di atasnya, sepiring nasi goreng kampung dengan telur mata sapi yang masih hangat mengepul, lengkap dengan acar mentimun dan kerupuk udang buatan sendiri.

Ricko duduk santai, kaosnya sedikit basah karena keringat, tapi wajahnya tampak puas, seperti lelaki yang baru saja memenangkan pertarungan paling manis dalam hidupnya. Tania menuangkan teh manis hangat ke dalam dua cangkir porselen bergambar angsa putih, lalu duduk di seberangnya, tersenyum hangat.

Mereka makan perlahan, saling menyuapi sesekali, seperti sepasang kekasih remaja yang baru pacaran. Tania menyeka ujung bibir Ricko dengan tisu, Ricko pura-pura menggigit jarinya, membuat Tania tertawa geli.

"Gak nyangka ya, kita bisa sampai segininya," gumam Ricko sambil memandangi Tania yang duduk manis di hadapannya, rambutnya diikat seadanya, tapi tetap terlihat memesona.

Tania menatapnya lama. "Kadang aku takut, Bang... takut bahagia ini cuma sesaat. Kayak mimpi yang bisa runtuh kapan aja."

Ricko menyentuh tangannya di atas meja. "Kalau ini mimpi, aku gak mau bangun."

Tania tertawa pelan, tapi ada semburat sedih di matanya. "Aku juga..."

Mereka melanjutkan sarapan sambil sesekali tertawa kecil, membicarakan hal-hal remeh: tentang Nazwa yang sudah bisa menyanyi lagu viral, tentang Rayhan yang makin cerewet dan suka bercerita di meja makan.

Tania bahkan sempat membuka galeri di ponselnya, menunjukkan foto-foto anak-anak kepada Ricko. Dan Ricko memandangi gambar-gambar itu dengan mata berbinar, seolah anak-anak itu benar-benar darah dagingnya.

"Aku pengen jadi bagian nyata dari hidup mereka," bisiknya lirih.

"Kamu sudah," jawab Tania tanpa ragu, menyentuh pipinya.

Di luar, suara burung masih bersahutan. Tapi di dalam rumah itu, waktu seakan berhenti, memberi ruang bagi dua hati yang mencari perlindungan dalam pelukan terlarang-di meja makan, dalam wangi nasi goreng dan teh hangat, di antara senyum dan ketidakpastian.

Usai sarapan, Tania bangkit dari kursinya, menyapu remah di pangkuannya, lalu berdiri di samping Ricko. Ia menyentuh pundaknya perlahan, lalu membisik di telinganya, "Yuk... sebentar aja."

Ricko menoleh dengan senyum miring, matanya menyipit menggoda. "Wah, cepet banget ngajaknya, Tante-eh, Sayang Rumah."

Tania mencubit pinggangnya. "Udah ah, jangan sok-sokan. Lagian kamu yang suka duluan goda-godain aku tadi."

Ricko mengangkat kedua tangan, seolah menyerah. "Iya iya, aku ngaku. Tapi... boleh gak hari ini aku jadi cowok alim dulu? Mau istirahat dari dosa sehari."

Tania menatapnya sejenak, lalu tertawa lepas. "Alim dari Hong Kong!"

"Tan, aku harus pergi siang ini, juga," ucap Ricko sambil menatap dalam-dalam mata Tania. "Ada peluang usaha di luar kota. Temanku nawarin tempat buat buka gerobak sendiri. Tapi aku butuh modal buat mulai."

Tania diam. Dalam hatinya berkecamuk berbagai rasa-antara ragu dan percaya. Tapi lebih dari itu, ada harapan. Harapan bahwa Ricko benar-benar ingin memperbaiki hidup mereka.

"Berapa?" tanyanya pelan.

"Tiga puluh juta," jawab Ricko. "Aku tahu ini besar, tapi aku janji, Tan... demi masa depan kita. Aku nggak akan main-main lagi."

Tania menarik napas pelan, menatap wajah Ricko yang kini sedikit menunduk. Ia tahu, di balik janji itu mungkin masih ada kebohongan. Tapi ia juga tahu, sebagian dari hatinya belum sepenuhnya bisa melepaskan.

Tanpa banyak kata, Tania mengambil ponselnya. Dengan jemari cekatan, ia membuka aplikasi mobile banking. Tak sampai dua menit, dana itu sudah terkirim.

"Udah. Cek rekeningmu."

Ricko memeriksa ponselnya dan wajahnya langsung berubah-kaget, kagum, dan terharu dalam satu ekspresi.

"Tan... terima kasih. Aku nggak akan sia-siain. Aku janji."

Tania tersenyum tipis, lalu menatap lurus ke matanya.

"Janji itu bukan buat aku, Kok. Tapi buat dirimu sendiri. Karena kalau kamu gagal lagi, bukan aku yang rugi. Tapi kamu yang kehilangan kesempatan terakhir dari orang yang pernah sepenuh hati percaya."

Baru saja Ricko berbalik hendak pergi, tangannya terulur ke arah sepatu yang ia simpan di bawah kursi ruang tamu-satu-satunya benda yang membuatnya merasa masih punya tempat di rumah ini-tiba-tiba ting-tong, bel rumah berbunyi nyaring, memecah keheningan.

Ricko refleks membeku. Tatapannya langsung mengarah ke pintu, lalu ke Tania. Dan tanpa menunggu aba-aba, ia melesat menuju lorong samping dan masuk ke kamar mandi. Sunyi, sempit, dan bau sabun yang menusuk hidung, tapi setidaknya aman. Nafasnya tercekat, jantungnya berdentum keras seperti ingin keluar dari dada.

Tania yang terkejut setengah detik tadi, segera menata raut wajah. Ia berjalan tenang menuju pintu, membuka perlahan sambil menarik napas dalam.

^*^

Bab 3

"Tadaaaa!" seru Tasya riang, mengenakan dress ketat warna pastel dan kacamata hitam besar. "Kita tahu lo lagi sendirian. Yuk hangout! Brunch cantik trus cari cowok lucu-lucu!"

Widia tersenyum sopan. "Iya, Tan. Kita gak lama kok. Kangen aja ngobrol-ngobrol."

Tania menahan senyum canggung. "Duh, maaf banget ya. Hari ini aku bener-bener gak bisa. Lagi kurang enak badan, kayaknya masuk angin..."

Tasya mendengus. "Masuk angin? Hellooo... lo bukan nenek-nenek, Tania! Ayo doong, udah lama kita gak 'ngasah magnet brondong'. Inget gak waktu kita ke coffee shop di Sentul, yang baristanya sampe lupa nge-froth susu saking sibuk mandangin lu?"

Tania tertawa pelan, berusaha menjaga nada suara tetap normal. "Gue inget. Tapi serius, hari ini gue pengen istirahat aja dulu. Besok-besok deh, gue traktir lagi."

Widia mengangguk maklum. "Ya udah, kalau gitu kita gak maksa. Tapi jangan lama-lama ngilang, ya. Kangen kamu."

Tasya menatap tajam sambil menyipitkan mata. "Hmm... jangan-jangan ada yang disembunyiin nih?"

Tania berakting terkejut. "Lah, emangnya gue siapa, James Bond?"

Tasya terkekeh geli. "Yah, pokoknya next time lo harus ikut. Kalo enggak, gue bom rumah lu pake brondong sekompi! Hahaha!"

Mereka tertawa bersama, meski Tasya tampak sedikit kesal karena gagal menyeret Tania keluar rumah. Setelah berpamitan dan melambaikan tangan, kedua sahabat itu pun akhirnya pergi.

Begitu pintu tertutup, Tania bersandar sejenak. Tubuhnya terasa lelah dalam sekejap. Ia berjalan ke arah kamar mandi, mengetuk pelan.

"Udah pergi," katanya dingin.

Pintu kamar mandi terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Ricko yang sedikit pucat.

"Siapa itu?" bisiknya.

"Temen-temen aku," jawab Tania tanpa ekspresi.

Ricko menunduk, mengangguk kecil. Lalu mengenakan sepatunya, dan melangkah ke arah pintu tanpa berkata apa-apa.

Sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, Tania bersuara, datar tapi menusuk: "Lain kali, kalau mau kabur... jangan simpan sepatu di rumah istri orang."

Ricko menoleh. Tak ada senyum. Tak ada canda. Hanya tatapan yang menyerah pada kenyataan. Dan akhirnya... ia pun pergi.

Sementara itu di dalam mobil SUV hitam milik Widia, aroma parfum mewah bercampur samar dengan bau kopi dingin dari cup yang tergeletak di cupholder. Widia fokus menyetir, tapi dari ekor matanya, ia tahu Tasya tampak gelisah sejak keluar dari rumah Tania.

"Lu kenapa sih, Sya? Dari tadi nyengir-nyengir sendiri kayak nemu dosa masa lalu," tanya Widia sambil menyalakan lampu sein kanan.

Tasya menyandarkan tubuh ke jok sambil menghela napas panjang. "Lu lihat gak tadi di dekat kursi tamu? Ada sepatu belel, warna item dekil, kayak punya tukang bangunan."

Widia tertawa kecil. "Ya ampun, bisa aja lu. Mungkin itu sepatunya Kang Ledeng atau orang PLN. Rumah segede gitu pasti banyak yang keluar-masuk."

Tasya menggeleng cepat, nada suaranya mulai penuh keyakinan. "No no no, Wid. Gue hafal banget itu. Itu sepatu Ricko. Gue pernah lihat dia pake itu waktu nemenin Tania ke bengkel mobil."

Widia melirik cepat ke arah Tasya. "Ricko? Emang siapa sih Ricko? Gue gak kenal..."

Tasya mengangkat alis, gaya bicaranya makin dramatis.

"Ricko itu... dulunya preman. Serius. Terus kayak dijinakin gitu sama Ferdy. Dulu sempet berantem hebat, katanya Ferdy mukul dia sampe KO. Abis itu malah jadi akrab, kayak dianggkat adik gitu, ngerti gak? Sekarang malah sering jagain Tania sama anak-anaknya kalau Ferdy ke luar kota."

Widia mulai terlihat penasaran. "Preman? Yang kayak sinetron-sinetron itu?"

Tasya mengangguk. "Modelannya tuh... gagah, tinggi, badan kekar tapi urakan. Gaya ngomongnya males-malesan, tapi senyumnya... aduh. Kayak bisa ngeluluhin emak-emak majelis juga."

Widia tertawa geli, tapi nadanya mulai bercampur khawatir. "Hmm... lu curiga Tania dan Ricko ada main?"

Tasya mendesah, matanya menerawang ke depan. "Gue gak nuduh sih, tapi Tania tuh... ya lu tau lah. Diam-diam menghanyutkan. Mantan-mantannya aja, rata-rata preman semua. Mungkin dia punya selera yang unik. Kalo kata lu, suka aroma jalanan... tapi dalam kemasan parfum mahal."

Widia tak menjawab, tapi sorot matanya mulai berubah. Ia tahu Tania bukan tipe sembarangan, tapi... perasaan seorang wanita seringkali lebih tajam dari logika.

Mobil pun melaju perlahan, menyisakan bayang-bayang kecurigaan yang mulai tumbuh liar di pikiran mereka.

"Wid, belok kanan, itu tuh mini market. Gue mau beli sesuatu," kata Tasya tiba-tiba sambil menunjuk minimarket kecil di pinggir jalan.

Widia menoleh sebentar ke arah yang ditunjuk. "Lah, tadi bilang kenyang, gak pengen ngapa-ngapain."

"Ini beda," sahut Tasya cepat, matanya tajam mengamati area parkir di depan toko.

Mobil pun berhenti, dan mereka turun berdua. Baru dua langkah masuk ke dalam minimarket, Tasya tiba-tiba menarik lengan Widia dan berbisik pelan tapi penuh semangat.

"Lihat deh... tuh yang jaga parkir. Yang jaketnya belel tapi pantes dipakai model."

Widia menoleh pelan. Seorang pria berperawakan tegap, berkulit sawo matang dengan sorot mata tajam dan jambang tipis berdiri santai di pinggir trotoar. Jaket jeans tua yang lusuh dipadu celana kargo lusuh seakan tak mengurangi pesonanya. Malah sebaliknya.

"Siapa tuh?" tanya Widia, setengah kagum setengah curiga.

"Nizar," jawab Tasya pendek, tapi matanya masih tak lepas dari pria itu. "Katanya sih preman ini keturunan Arab. Tapi yang pasti... itu salah satu tukang parkir favoritnya Tania."

Widia mengangkat alis. "Hah? Maksudnya?"

Tasya mengangguk mantap. "Dulu katanya teman SMA-nya. Tania sering banget belanja ke sini. Bukan karena butuh belanjaan, tapi karena si Nizar itu. Ya... begitulah. Tania kan emang punya 'selera jalanan' yang eksklusif, arab lagi, hehehe."

Widia tertawa pelan, menutupi mulutnya. "Jadi lu ngajak gue ke sini cuma buat nunjukin si Nizar itu?"

"Ya, kali aja lu minat juga. Sekaligus pembuktian bahwa teori gue tentang Tania itu valid," sahut Tasya sambil meraih satu botol minuman ringan dari rak. "Tania tuh modelnya suka cowok-cowok yang... apa ya, keras di luar, tapi katanya manis di dalam. Kayak es krim di balik jaket kulit."

Widia melirik lagi ke luar. Nizar memang menarik. Ada aura liar yang membius, tapi juga semacam kesedihan di balik tatapan kosongnya.

"Gak bohong sih... yang kayak Nizar itu emang punya daya tarik sendiri," gumam Widia setengah hati.

Tasya mengangguk puas. "Nah kan. Gak heran kalau Ricko sekarang jadi... ya begitulah. Si Nizar dulu sempat ditawarin kerja bareng sama Ferdy juga, tapi orang kaya mereka, mana mau jadi 'anak buah'."

Widia tertawa geli. "Drama banget hidup Tania ya. Teman SMA-nya jadi preman, disikat. Preman adik-adikan suaminya, disikat. Jangan-jangan anak-anak yang sering kumpul di sana juga disikat. Kan ada yang keliatannya agak bengal calon preman gitu..."

"Oh, namanya Rizky? Kayaknya sih gak, dia keliatanya susah dijinakin. Liar banget, kerjaannya aja balapan liar, hehehe."

"Alah, apa sih yang gak bisa buat Tania, hehehe." Widia meragukan pendapat Tasya.

Mereka pun membayar dan kembali ke mobil, meninggalkan mini market dengan sejuta bisik-bisik dan praduga yang makin mengental. Sorotan mata Tasya tak lepas dari bayangan masa lalu Tania-yang ternyata lebih kompleks dari yang pernah mereka bayangkan.

"Gila, itu selangkangan si Nizar gede banget, Sya!" bisik Widia yang disambut tawa ngakak Tasya.

^*^

Ferdy duduk di sudut sebuah café berkonsep industrial minimalis. Aroma kopi dan kayu panggang menguar di udara. Di depannya, Aldo, rekan bisnis sekaligus sahabat lamanya, tampak resah, memainkan sendok di dalam gelas es kopi yang belum disentuh.

"Lu jam berapa ke Bandungnya?" tanya Aldo pelan.

"Gak tahu, gue nunggu kabar dari Harry dulu. Lu tahu sendirkan gimana dia. Nyuruhnya gue berangkat pagi, sampai jam segini belum juga datang."

"Hahaha, tapi Harry kan emang special. Tapi gue seneng, Fer, gue mau curhat dikit," ucap Aldo wajahnya ngedadak mendung namun serius.

"Sebenarnya gue nggak enak ngomong gini, Fer," lanjut Aldo lirih. "Tapi akhir-akhir ini, istri gue kayak beda. Dan... dia jadi sering nyebut-nyebut nama Alfian. Kakak gue sendiri."

Ferdy menaikkan alis. Ia menyesap kopinya pelan. "Lu yakin? Jangan cuma karena rasa curiga, terus lu jadi mikir yang enggak-enggak. Apalagi itu saudara lu sendiri."

"Gue tahu, makanya gue belum mau ngecek hape dia atau nyari-nyari bukti. Tapi naluri gue bilang, ada yang nggak beres."

Ferdy mengangguk pelan, mencoba menimbang. "Gue ngerti, Do. Tapi percaya sama gue, lebih baik lu konfirmasi baik-baik. Jangan langsung nuduh. Kadang istri kita bisa jadi dekat sama keluarga kita karena nyari kenyamanan, bukan karena hal yang kita takutkan."

Aldo mengangguk pelan. Tapi matanya tetap kosong, pikirannya melayang entah ke mana.

Tak lama kemudian, dua orang lagi datang-Raka dan Dimas, rekan mereka yang lain. Suasana pun berubah jadi lebih hidup. Canda tawa mulai mengisi meja, diselingi obrolan soal proyek renovasi hotel yang tengah mereka kerjakan di Bandung.

"Eh, Fer, kemarin arsitek dari Singapura itu nelpon gue," kata Raka. "Dia bilang desain lu yang baru itu keren. Clean banget, katanya."

Ferdy tersenyum kecil, merasa sedikit terhibur. "Alhamdulillah. Mudah-mudahan cocok sama konsep natural-industrial yang mereka minta. Ya, walau itu karyanya Razman, gue cuma rekom doang."

"Udah pasti cocok, lah. Razman emang jagonya mainin elemen ruang dan cahaya," timpal Dimas sambil mengangkat gelasnya. "Nasibnya aja belum ketemu yang cocok, mudah-mudah design itu jalan pembuka untuk karie dia selanjutnya."

Obrolan pun mengalir ringan tanpa beban seperti biasa,

Dimas melirik arloji di pergelangan tangannya, lalu berdiri sambil merapikan jas semi formalnya.

"Bro, gue cabut dulu ya. Ada meeting sama klien jam dua. Katanya sih rewel banget soal detail kontrak," ujarnya sambil menepuk bahu Ferdy.

"Gas, Dim. Semoga lancar," sahut Ferdy, menjabat tangan Dimas dengan hangat.

Raka dan Aldo pun melambaikan tangan saat Dimas melangkah keluar dari café. Setelah itu mereka bertiga kembali larut dalam obrolan, kali ini dengan nada yang lebih santai. Topik bergeser ke masa kuliah, kenangan lama, dan rencana investasi ke depan.

"Do, lu serius mau bangun vila di Batu?" tanya Raka.

"Iya, niat sih. Tapi ya itu... kalau urusan rumah tangga gue bisa tenang dulu," jawab Aldo, setengah senyum setengah menghela napas.

Ferdy hanya menepuk pelan punggung sahabatnya. "Pelan-pelan aja. Jangan biarkan masalah pribadi ngeganggu mimpi lu."

Makan siang mereka pun selesai dalam suasana akrab. Ferdy merapikan kemeja, lalu meneguk air mineralnya yang tinggal setengah.

"Gue cabut dulu ya, Harry udah jalan duluan," ucap Ferdy sambil tersenyum kecil.

"Salam buat si Boss Harry, kapan-kapan ajak gue bisnis dong," kata Raka.

Aldo menambahkan, "Dan makasih, Fer. Lu udah dengerin uneg-uneg gue."

Ferdy hanya mengangguk dan menepuk bahu mereka satu-satu sebelum melangkah keluar dari café. Sinar matahari siang menyambutnya dengan sangat terik.

^*^

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED