Bab 1

"Aaaaa..."

Teriakan Alana dipagi hari seolah lonceng rutin untuk membangunkan semua orang yang ada di rumahnya.

"Mas... ularmu" Alana berlari keluar kamar sambil berteriak memanggil suaminya. Para pelayan yang bekerja di rumah itu kini sudah hafal betul kegiatan rutin istri dari majikan mereka setiap pagi, selalu berteriak dan berlari keluar kamar dengan ketakutan.

Alana yang takut pada hewan melata itu memang hampir setiap pagi mendapati dirinya terbangun dengan seekor ular besar berada disampingnya, diatas tempat tidurnya.

"Dimana Mas Cakra?" tanya Alana pada salah seorang pelayan.

"Tuan sudah berangkat pagi-pagi sekali nyonya"

"Apa?! mengapa dia tidak membangunkan aku?"

Alana dengan kesal menghentakan kakinya ke lantai, dia hendak berjalan kembali ke arah kamarnya, namun teriangat bahwa ada ular besar berada di atas ranjang.

"Hesti, cepat kau keluarkan ular itu, aku mau mandi"

"Tt..tapi nyonya, bukankah tuan berpesan agar tak ada yang boleh menyentuh peliharaan tuan yang bernama Raja itu selain tuan dan nyonya?"

"Bagaimana mungkin seperti itu Hesti?! Aku paling jijik sama yang namanya ular, sudah cepat kau bawa pergi ular itu, masukan kembali ke kandangnya"

"Tapi nyonya, Raja tidak memiliki kandang disini, hanya dia yang diperbolehkan berkeliaran bebas di rumah oleh Tuan Cakra"

"Kau ini sungguh tak berguna Hesti!" Alana geram dengan penolakan Hesti, wanita yang seusia suaminya itu, selalu saja mengingatkan padanya tentang peraturan yang dibuat oleh suaminya di rumah tersebut.

Baru seminggu ini Alana Mahesa menikahi seorang duda tanpa anak, bernama Cakra Heryawan. Seorang pengusaha muda yang sukses dan mapan, memiliki beberapa usaha restoran yang cabangnya tersebar diseluruh kota besar di Indonesia.

Dengan langkah ragu dan takut, Alana membuka kembali pintu kamarnya, dilihatnya hewan melata itu masih melingkar diatas kasur.

Alana bergidik ngeri melihat ukuran tubuh ular tersebut yang besarnya melebihi ukuran ular pada umumnya, serta memiliki pupil mata berwarna hijau terang. Sorot mata ular itu pun tajam seolah mengerti setiap perkataan dan gerak tubuh manusia disekitarnya, dan tepat di tengah kepalanya terdapat beberapa tonjolan kecil seperti memakai mahkota. Cakra pernah mengatakan bahwa itu adalah ular dengan spesies langka.

Dengan langkah sedikit gemetar Alana masuk dan berusaha mengusir ular itu dari atas pembaringan.

"Dengar... wahai ular, jangan mendekatiku, dan pergilah keluar, jangan terus-terusan berada dikamarku, aku mau mandi" ucapnya seakan dia berbicara pada manusia.

Bukanya pergi sang ular malah merayap mendekatinya, Alana langsung membeku karena takut, dia menahan napasnya dan memejamkan mata.

Perlahan Alana merasakan ular besar itu mulai melingkari tubuhnya, hingga merasakan kepala ular itu tepat berada diwajahnya, Alana semakin ketakutan, keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya, dia berpikir bahwa ini adalah hari terakhirnya hidup di dunia.

Sebuah keanehan terjadi, ular itu segera mengurai lilitanya, setelah itu binatang melata itu kembali merayap keluar dari kamar.

Alana terduduk lemas di lantai, hampir saja hilang kesadaran karena takutnya. Dia langsung berlari ke arah kamar mandi, untuk membersihkan dirinya yang menurutnya ketularan aroma ular.

"Badanku bau ular begini" gumamnya sambil menyalakan shower dan menggosok-gosok tubuhnya, tak puas hanya disitu, Alana mengisi bathub dengan ari hangat dan mencampurkan sabun serta pewangi kesukaanya.

Wanita berusia 26 tahun itu pun masuk kedalam bathup setelah menanggalkan seluruh pakaianya. Alana merebahkan dirinya dan berendam, dia juga tadi sudah menyalakan lilin aroma therapi untuk mengendurkan urat syarafnya.

"Sepertinya aku memang membutuhkan ketenangan seperti ini, setelah hampir setiap hari hidupku penuh ketakutan dan tegang dengan semua ular-ular peliharaan Mas Cakra" gumamnya dan dia pun mulai memejamkan mata, menghirup aroma yang membuatnya tenang. Tak lama Alana pun mulai terlelap.

Entah berapa lama Alana tertidur, saat dia merasakan sesuatu merayap dan melilit tubuh polosnya, Alana ingin membuka matanya, namun terasa amat berat sekali, hanya napasnya saja yang terlihat terengah.

Alana begitu ketakutan menyadari bahwa saat ini ular bernama Raja itu tengah berada dalam satu bathup denganya. Dia pun merasakan tubuh sang ular yang mulai melilit keseluruhan tubuhnya dengan ekor menjuntai diantara kedua pahanya.

Alana berusaha keras untuk membuka matanya yang terasa berat seolah ada satu kekuatan yang menahanya. Dirasakan olehnya lilitan ular itu mulai mengendur. Namun alangkah terkejutnya Alana saat dirasakanya hewan melata tersebut berubah menjadi sosok manusia.

"Aaahhhh...."

Alana menjerit dan langsung membuka matanya, dilihatnya ke sekeliling kamar mandi, namun tak dijumpainya sosok manusia maupun ular.

"Ya ampun, apakah aku bermimpi? Mengapa terasa nyata sekali? Sepertinya tadi ular peliharaan Mas Cakra ada disini, dan berubah wujud menjadi manusia" gumam Alana sambil menggelengkan kepalanya.

Perlahan Alana pun bangkit dan keluar dari dalam bathub, dia memutuskan untuk menyudahi ritual mandinya dan berjalan menuju walk in closet.

Dengan gerakan cepat Alana mengambil pakaian santai dari dalam lemari untuk kemudian dikenakan olehnya. Alana pun tak lupa memoleh wajahnya dengan make up tipis dan natural. Untuk sesaat dia melupakan kejadian yang tadi menimpanya.

"Aku harus berdandan cantik agar suamiku betah di rumah" ucapnya mengingat nasehat dari salah seorang sahabatnya saat dia mengeluhkan sikap Cakra yang sering kali tidak pulang ke rumah dan dingin terhadapnya semenjak mereka menikah.

"Aneh sekali Mas Cakra ini, bukankah setiap laki-laki selalu ingin berdekatan dengan istrinya setelah menikah? Ini malah lebih sibuk mengurusi bisnisnya, dan malah bersikap cuek dan dingin terhadapku"

Alana mendengkus kesal mengingat bahwa dia telah melawan orangtua dan juga kakaknya agar dapat menikah dengan Cakra.

Kala itu keluarga besar Alana menentang hubunganya dengan Cakra, terutama sang mama. Wanita paruh baya itu bersikeras melarang putri bungsunya menikahi pria pilihan hatinya itu. Namun bukan Alana jika dia gampang menyerah.

Alana bukanlah anak yang bisa menuruti keputusan kedua orangtuanya, terlebih itu adalah menyangkut masa depanya. Tidak seperti kakak perempuanya, Riana Mahesa, yang menikah karena di jodohkan oleh orangtua masing-masing.

Saat Alana masih bercermin di depan meja riasnya, pintu kamarnya diketuk dari luar.

"Nyonya, sarapan sudah siap, apakah anda ingin dibawakan ke dalam kamar?"

Terdengar suara Hesti, pelayan yang sudah bekerja lama pada sang suami.

"Sebentar Hesti, aku akan turun ke bawah, aku akan makan di ruang makan" teriak Alana.

"Baik nyonya" setelah mendapat jawaban dari istri majikanya, Hesti pun pergi menuju dapur.

Alana kembali melihat pantulan dirinya di cermin, setelah dirasa cukup dia pun melangkah keluar dari dalam kamarnya.

Setelah Alana menutup pintu kamarnya rapat, dari balik gorden di samping meja riasnya keluarlah sosok hewan melata dengan tubuh besar dan panjangnya. Tubuh ular itu terlihat berkilau berwarna keperakan saat terkena sinar matahari.

Perlahan ular besar itu merayap dan berhenti di depan cermin meja rias Alana, dan di dalam cermin terlihat sesosok pria tampan dengan rambut pendek sedikit ikal berwarna coklat terang, hidungnya mancung dengan tatapan mata tajam menatap pantulan dirinya dalam cermin.

Bab 2

Di ruang makan Alana telah menghabiskan sarapan yang disajikan oleh Hesti. Tanpa sadar dia menggerakan kepala serta tubuhnya ke kanan dan ke kiri.

'Mengapa tubuhku rasanya pegal semua? Aku juga merasa sedikit lelah, padahal ini masih pagi' pikirnya.

Akhirnya Alana memutuskan untuk kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya, niatnya hanya ingin rebahan sebentar. Namun, akhirnya dia kembali pulas tertidur. Entah berapa lama dia terlelap, Alana mulai membuka matanya saat merasakan jemari seseorang menyentuh pipinya.

"Alana, bangunlah... aku sudah pulang"

Samar terdengar suara seorang pria membangunkanya, dan saat matanya benar-benar terbuka, Alana melihat suaminya sedang duduk disamping ranjang dan tengah tersenyum menatap kearahnya.

"Mas Cakra, mas kemana aja? Kenapa selama tiga hari ini mas ga pulang ke rumah? Aku takut mas, apalagi dengan ular besar peliharaanmu itu"

"Sayang, mas kan udah bilang, mas sedang mengembangkan bisnis mas, ini juga untuk masa depan kita sayang, tapi mas janji setelah semua urusan pekerjaan beres, kita akan berbulan madu"

"Tapi mas-"

"Sshh... sudah ya, mas lelah, baru pulang dari Sumatra untuk mengecek beberapa cabang restoran kita disana, dan rencananya mas juga ada buka lagi di beberapa kota disana"

Alana kembali harus menelan kekecewaanya, karena semenjak menikah, sikap Cakra berubah drastis padanya. Alana memang tak menyalahkan Cakra sepenuhnya, karena pria itu memang selalu mengatakan ingin membahagiakanya dengan limpahan harta seperti yang selalu dituntut oleh kedua orangtua Alana. Mungkin itu sebabnya Cakra berusaha dengan gigih mengembangkan bisnis restoran dan juga kulinernya untuk menunjukan pada mertuanya bahwa dia mampu untuk mencukupi segala kebutuhan Alana lebih dari saat dia masih tinggal bersama kedua orangtuanya.

Cakra melepaskan pakaianya dan mengganti dengan pakaian rumahan, setelahnya dia pun segera naik ke tempat tidur, tanpa menghiraukan Alana yang masih terbaring disampingnya, Cakra memejamkan mata dengan posisi memunggungi istrinya itu.

Tinggalah kini Alana yang kesal dengan sikap Cakra, tak ada keromantisan pengantin baru yang diharapkanya. Padahal saat berpacaran dulu Cakra selalu memanjakan Alana, dia bahkan memberikan apapun yang diminta Alana, termasuk sebuah mobil mewah keluaran Eropa dengan harga fantastis yang diberikanya pada saat Alana berulang tahun sebagai hadiah ulang tahunya.

Itulah sebabnya Alana nekad menikahi Cakra yang baru dipacarinya selama enam bulan meskipun harus menentang kedua orangtuanya.

Alana sendiri tak mengerti mengapa ayah dan ibunya tak merestui hubunganya dengan Cakra, terutama ibunya. Wanita paruh baya itu bahkan tak menghadiri acara pernikahan putri bungsunya itu. Padahal Cakra Heryawan adalah sosok pria mapan dan wajahnya pun cukup tampan, entah atas dasar pertimbangan apa ibunya itu selalu saja mengatakan bahwa Cakra bukanlah pria baik.

Walaupun diakui Alana, setelah menikah Cakra seakan tak mempedulikanya, tetapi jauh di lubuk hatinya Alana mengerti akan kesibukan sang suami, itu karena dia ingin bersanding sejajar dengan keluarga Alana yang memang jauh lebih berada dibandingkan Cakra yang hanya seorang anak yatim piyatu.

Kakak perempuan Alana pun menikah dengan suami pilihan kedua orangtuanya, yang adalah anak dari rekan bisnis ayahnya dan juga seorang yang memiliki jabatan di pemerintahan. Dan kini mereka telah dikaruniai seorang anak yang imut dan lucu.

"Kalau suamiku terus saja mengacuhkan diriku, kapan kami akan memiliki buah hati?" gumam Alana sambil memperhatikan punggung suaminya yang kini telah pulas tertidur karena lelah.

Alana bangkit dari tempat tidur, dan berjalan menuju walk in closet. Setelah berganti pakaian karena menurutnya baju yang dikenakanya terlihat kusut akibat dia bawa tidur, ia pun keluar dari dalam kamarnya.

"Nyonya, apakah anda baik-baik saja?"

Hesti yang merasa heran karena hari ini Alana lebih sering berada di kamarnya, terlebih dia tadi mengecek Alana kembali tidur setelah memakan sarapanya, melihat Alana dengan tatapan yang rumit.

"Aku baik-baik saja Hesti, jam berapa sekarang?"

"ini sudah hampir memasuki jam makan siang nyonya, saya sudah menyiapkan makanan di meja jika anda sudah merasa lapar"

"Iya, aku lapar" Alana pun langsung berjalan menuju ruang makan, disana dia melihat beberapa menu masakan yang menggugah selera. Memang Hesti sangat pintar memasak. Semua masakanya selalu cocok di lidah Alana.

"Kenapa aku cepa merasa lelah dan lapar ya? Padahal tidak melakukan pekerjaan apapun, tidak biasanya aku seperti ini"

Untunglah Hesti memasak cukup banyak. Hari ini Alana makan sangat lahap, dia menghabiskan hampir separuh dari semua makanan yang terhidang diatas meja.

"Ya ampun... porsi makanku seperti kuli saja, aku makan banyak sekali, tapi bodo amatlah, yang penting aku merasa kenyang sekarang"

***

Esok hari sinar matahari pagi masuk melalui celah jendela yang terbuka, entah siapa yang telah membuka jendela kamar Alana pagi ini. Perlahan mata Alana mengerjap karena terkena cahaya, dan perlahan terbuka.

Tangan Alana mengusap sisi ranjang disebelahnya, terasa dingin dan kosong. Alana pun menoleh, tak didapatinya siapa pun disisinya.

"Mas Cakra kemana?" gumamnya.

Saat Alana menyibakan selimut yang menutupi tubuhnya, matanya membulat kala melihat tubuhnya yang sudah tak memakai sehelai benangpun.

Ingatanya perlahan terkumpul, berawal dari dirinya yang banyak makan seharian kemarin hingga merasa kenyang dan mengantuk, lalu Alana kembali ke kamar dan merasa matanya amat berat hingga dirinya kembali terlelap.

Dalam kamar yang gelap dia merasakan ada sosok yang menggaulinya begitu hebat hingga dia beberapa kali menjerit dan mendesah dalam kenikmatan.

"Sial! Lagi – lagi aku bermimpi seperti itu" umpatnya.

Namun kali ini dia merasa heran karena pakaian yang dikenakanya tadi malam ikut terlepas dari tubuhnya. Ini sudah kesekian kalinya Alana bermimpi berhubungan badan dengan seorang pria tampan yang sama sekali tak di kenalnya.

"Kali ini mimpiku benar-benar aneh, atau... jangan-jangan tadi malam Mas Cakra yang diam-diam melepaskan pakaianku?"

Dalam keraguan hatinya, akhirnya Alana memutuskan untuk tak terlalu memikirkan tentang mimpinya, dan beranggapan bahwa pakaianya memang ditanggalkan oleh Cakra, suaminya. Entah untuk alasan apa Cakra melakukan hal itu padanya. Namun saat Alana teringat bahwa semalam dirinya memang merasa amat sangat mengantuk, Alana pun menjadi yakin bahwa itu memang benar perbuatan suaminya.

"Aku harus meminta maaf pada Mas Cakra karena semalam tidur sangat pulas sampai-sampai tak menyadari bahwa suamiku menginginkan diriku"

Alana bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan berhias dengan memakai pakaian yang menurutnya membuat dirinya terlihat lebih cantik.

Dengan langkah tergesa, Alana mencari keberadaan Cakra di ruang kerjanya. Namun dia harus menelan kekecewaan karena ruangan itu kosong.

"Hesti, apa kau melihat suamiku?" tanya Alana pada Hesti yang kebetulan saat itu datang hendak membersihkan ruangan tersebut.

"Tuan sudah berangkat ke kantor tadi pagi nyonya." Hesti menjawab dengan sedikit membungkukan tubuhnya didepan Alana.

Baru saja Alana akan menelpon Cakra, namun ponselnya berbunyi dan menunjukan sebuah pesan singkat yang diterimanya.

[Alana, aku ada meeting penting pagi ini, aku pulang nanti malam, jangan menungguku, kau tidurlah lebih dulu]

Alana membaca pesan dari suaminya, dan merasa sedikit kecewa, karena kembali dia ditinggal sendirian, suaminya lebih memilih menyibukan diri dengan pekerjaanya.

Bab 3

Semburat lembayung senja keemasan menghiasi langit sore, Alana menikmati pemandangan indah itu dari atas balkon kamarnya, sedangkan Cakra tengah berkutat kembali di ruang kerjanya. Ini adalah hari kedua setelah Alana mendapati dirinya tanpa busana saat bangun di pagi hari. Setelahnya tak ada lagi moment kedekatan dirinya dengan sang suami.

Meskipun statusnya kini telah berubah menjadi seorang istri, tetapi hingga kini Alana tak pernah merasakan sentuhan seorang suami. Semenjak menikah Cakra berubah menjadi acuh padanya, dengan alasan sibuk mengurusi pengembangan bisnisnya demi memenuhi gengsinya terhadap keluarga Alana.

Sebuah lengan kokoh tiba-tiba memeluknya dari belakang, Alana terperanjat karena kaget, dia langsung menoleh ke belakang.

"Mas Cakra?"

"Sedang apa istriku melamun sendiri disini? ini sudah hampir gelap loh, tidak baik berada di luar rumah saat seperti ini"

Antara terkejut dan bahagia, Alana membalikan tubuhnya dan balas memeluk suaminya. "Mas, aku kangen sama kamu"

"Aku juga sayang, ayo masuk jangan di luar seperti ini"

Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar dengan Alana yang masih bergelayut manja pada lengan Cakra.

"Sayang, mas punya hadiah buat kamu"

"Apa itu mas?"

Cakra berjalan kearah lemari, dan membuka laci di dalamnya. Kini ditanganya terdapat sebuah kotak beludru berwarna biru. Disodorkanya kotak tersebut pada Alana.

"Ini apa mas?" dengan mata berbinar Alana menerima pemberian suaminya.

"Bukalah"

Sambil tersenyum Alana membuka kotak beludru tersebut, dilihatnya sebuah kalung berlian yang amat indah.

"Wah, mas.. ini.. indah sekali, pasti harganya mahal, mas kenapa membuang uangmu hanya untuk memberiku hadiah seperti ini?"

"Itu belum seberapa Alana, nanti aku akan sering memberikanmu hadiah seperti itu" Cakra tersenyum menatap wajah cantik istrinya, terlihat dia menelan salivanya dengan susah payah. "Kau sangat cantik Alana" ucapnya lagi dengan suara sedikit serak.

"Apa kau tidak akan memakaikan kalung ini di leherku mas? Mengapa kau berdiam diri terus disitu?"

Alana sengaja berkata dengan manja untuk menggoda suaminya, dan ternyata usahanya itu berhasil. Cakra terlihat beberapa kali menelan salivanya, jakunya naik turun saat Alana melangkah kearahnya untuk mengikis jarak diantara mereka, kemudian memutar tubuhnya membelakangi Cakra sambil menyibakan rambutnya kesamping.

Dengan tangan sedikit gemetar Cakra pun akhirnya memakaikan kalung hadiah darinya ke leher jenjang istrinya itu.

Alana langsung memutar tubuhnya saat dirasakanya kalung tersebut telah terpasang sempurna di lehernya.

"Kau.. semakin cantik Alana.."

Tiba-tiba Cakra melingkarkan lenganya di pinggang Alana dan menariknya semakin menempel pada tubuhnya. Alana pun mengalungkan kedua tanganya di leher Cakra.

"Mas Cakra..."

Suara Alana terdengar mendesah menyebut nama suaminya, membuat Cakra semakin gelisah, terlebih saat istrinya itu dengan berani menempelkan bibirnya dan juga menciumnya.

Ciuman Alana yang lembut dan menggoda itu mampu membangkitkan sesuatu dalam diri Cakra, hingga pria itu menggeram puts asa, dan membalas ciuman Alana dengan lebih dalam, dan bahkan tanganya kini telah menyusup kedalam pakaian Alana, serta meremas kuat gundukan kembar milik istrinya itu.

Saat keduanya sibuk memagut dan mencecap bibir masing-masing, tiba-tiba terdengar suara barang berat yang dibanting dengan kasar. Keduanya pun tersentak kaget.

"Apa itu mas?"

"Ya ampun... maafkan aku Alana, maafkan aku..."

Cakra terlihat gugup dengan tatapan matanya yang terlihat cemas, dia pun melangkah mundur menjauh dari Alana untuk kemudian bergegas keluar dari kamarnya dan menutup pintu, meninggalkan Alana yang terbengong sendiri tak mengerti akan sikap suaminya itu.

Lama Alana tergugu dan menunggu, namun suaminya itu tak juga kembali ke kamar, akhirnya Alana merasa jenuh, dia pun keluar dari kamar.

Alana masih terheran akan perubahan sikap suaminya, setelah mendengar suara barang jatuh tadi. Cakra terlihat memucat dan ketakutan, dia langsung keluar kamar dan pergi entah kemana.

"Mas Cakra kenapa ya? Ko setelah bunyi keras tadi dia seperti ketakutan melihatku? Seolah melihat hantu saja"

Alana yang merasa heran dengan sikap suaminya itu mulai mencari dimana keberadaan Cakra saat ini, juga dia penasaran barang apa yang terjatuh tadi. Hingga langkah kakinya terhenti saat melewati ruang kerja pribadi suaminya itu.

"Ampuni saya Raja Agha, saya tadi khilaf, tolong ampuni saya, saya janji tak akan mengulangi hal itu lagi"

Alana menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruang kerja suaminya, dia merasa heran karena mendengar suara Cakra yang menghiba memohon ampun pada seseorang. Alana pun mendekat kearah pintu yang sedikit terbuka itu, dia ingin melihat dengan siapa suaminya bicara.

Dengan mengernyitkan dahinya, Alana berusaha untuk melihat melalui celah pintu.

"Nyonya, anda sedang apa? bukankah mengintip itu hal yang tidak terpuji?"

"Astaga..! Hesti, kau membuatku kaget saja"

Refleks Alana memutar tubuhnya dan mendapati pelayan yang bekerja dirumahnya itu sedang berdiri tak jauh darinya.

"Anda tidak boleh melakukan hal seperti itu nyonya, Tuan Cakra tidak akan menyukainya"

"Aku ini istrinya, dan kau disini cuma seorang pelayan Hesti. Jadi tolong kau urus saja tugasmu sana, jangan mencampuri urusan majikanmu!"

Alana menatap kesal pada pelayan yang sudah lama bekerja pada suaminya itu, dia tidak terima atas teguran yang dilakukan oleh Hesti padanya.

"Ada apa ini? mengapa kalian ribut disini?"

Belum sempat Alana melanjutkan kalimatnya yang hendak kembali menumpahkan kekesalanya pada Hesti, dari arah pintu telah berdiri Cakra Heryawan, suaminya.

"Maaf tuan, saya tidak bermaksud mengganggu Tuan Cakra" Hesti menundukan kepalanya saat melihat Cakra keluar dari ruangan tersebut.

"Mas, tolong kamu peringati karyawanmu itu, untuk menghormati aku sebagai nyonya rumah disini"

Dengan kesal dan menyentakan kaki ke lantai Alana pergi dari sana meninggalkan keduanya, dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya.

"Berani sekali si Hesti itu menegurku, bahkan kepala pelayan dirumahku tak ada satu pelayan pun yang berani menegur mama, apapun yang dilakukanya, karena mama adalah nyonya rumah" gerutunya masih dengan wajah ditekuk.

Alana bertekad akan mengadukan sikap Hesti pada Cakra, namun sesaat dia bingung karena khawatir suaminya itu akan bertanya balik padanya tentang apa yang dia lakukan di depan pintu ruang kerja Cakra.

"Tapi kalau terus dibiarkan pelayan itu bisa besar kepala nantinya, aku harus cari cara agar dia dipecat oleh Mas Cakra"

Karena rasa kesalnya pada pelayan di rumah itu, Alana sampai melupakan niatnya yang tadi hendak mencari tau benda apa yang terjatuh, juga tentang suaminya yang seolah sedang bersama seseorang di ruang kerjanya tadi.

***

Malam semakin larut, Alana sudah tak berniat lagi untuk menunggu suaminya memasuki kamar mereka, dia memilih pergi mandi dengan air hangat dan memanjakan dirinya dengan skincare dan bodycare yang dibelinya.

Setelah olesan terakhir body serum dan body lotion ke tubuhnya, Alana pun tersenyum puas.

"Harum sekali tubuhku, juga rasanya segar, namun sayang Mas Cakra tak memperhatikan istrinya ini yang sudah berdandan cantik dan wangi untuknya" kembali Alana kesal mengingat moment indahnya bersama Cakra tadi sore rusak gara-gara benda jatuh.

Alana pun mematikan semua lampu dan bersiap untuk tidur, dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Namun, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan kembali tertutup, setelah itu terdengar langkah kaki yang kian mendekat.

"Mas Cakra? Apakah itu kau?" tanya Alana, dia berusaha menajamkan penglihatanya. Namun, hanya siluet hitam yang tertangkap oleh matanya.

"Mas mengappphhhh....."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED