Bab 2

Pagi kembali menyapa seperti biasa. Saat membuka mata, ingatan semalam—tentang Gina menghubungiku—kembali terngiang di benak.

“Mas, ini Gina ....”

Aku hanya terdiam saat mendengarnya. Suara itu masih sama seperti dulu, halus dan membuat jantungku berpacu. Seketika, potongan-potongan memori yang telah lama terkubur oleh waktu pun kembali menyembul ke permukaan. Hanya butuh waktu beberapa detik hingga potongan yang berserakan itu kembali menyatu, memperlihatkan bagaimana kami merajut kasih selama bertahun-tahun.

Hatiku terasa sakit, kala semua momen mulai tergambar jelas, terutama saat hari pertunangan yang berakhir dengan pengkhianatan. Suaraku kelu, dadaku tiba-tiba terasa sesak, mual dan pusing menyerang. Aku dilanda kecemasan hebat. Walau begitu, ponsel masih menempel di telinga, seakan tak rela menekan tombol 'Mengakhiri percakapan'.

“Gam?! Gam?!” Remang-remang suara Fadlan terdengar. Kurasakan tangannya menyentuh punggung, sehingga membuat kesadaran pikirku perlahan kembali.

Spontan panggilan pun kuakhiri.

“Masih melek, Gam?” tanya Fadlan.

“Iya, mau tidur sekarang, ngantuk.” Hanya itu yang kukatakan.

Untungnya Fadlan tak curiga. Dia pun kembali melanjutkan tidur.

Sejenak aku berpikir bahwa mungkin aku sedang bermimpi, atau berhalusinasi. Namun, semua terasa nyata. Pikiranku kalut, membuat banyak pertanyaan. Kenapa dia menghubungiku? Untuk apa? Ada apa? Dan banyak lagi pertanyaan lainnya dalam benak yang tak mungkin kutanyakan padanya.

Aku tak ingat jam berapa bisa memejam mata. Hanya saja, beberapa kali aku terbangun karena mimpi buruk mendatangiku. Akibatnya aku sampai kesiangan. Fadlan membangunkanku setengah enam pagi, dan menyuruhku melaksanakan ibadah dua rakaat.

***

Seperti hari-hari sebelumnya, hawa pagi berpolusi menemani rutinitasku yang siklusnya itu-itu saja. Namun, tak membuatku bosan dan malah aku menikmatinya. Setelah menyeduh kopi moka instan, aku duduk di bangku teras depan kamar kost. Tak lama Fadlan keluar dengan penampilan berbeda. Seperti orang yang mau pergi jogging.

“Mau ke mana, Lan?” tanyaku heran.

“Ya, mau larilah. Masa mau kuli di hari libur,” sahutnya sambil melakukan peregangan tangan.

“Tumben? Gak ada angin, gak ada ujan, tiba-tiba mau olahraga," celetukku. Dahiku mengerut.

Fadlan bukanlah tipe orang yang suka olahraga, aku tahu itu. Hidup bersama dengannya selama tujuh tahun membuatku mengenal dia cukup baik.

“Vivi mau lari hari ini,” ucap Fadlan sambil memperlihatkan postingan status di aplikasi hijau di ponsel miliknya.

“Hmm, pantesan. Awas nanti cuaca langsung berubah,” godaku sambil nyengir.

Fadlan berdecak, “Asem!”

Aku tergelak, tetapi tidak dengannya. Rautnya menampakkan kekesalan luar biasa.

“Usaha, kan, perlu. Aku mau mulai PDKT,” terangnya penuh percaya diri. Dia pun pergi dari hadapanku.

Aku hanya menggeleng sambil tertawa. Namun, selang beberapa detik kemudian aku kembali ingat akan sosok Gina. Parasnya yang cantik membuatku kembali terhasut untuk mengingat kenangan bersamanya. Heran, aku ini terkena pelet atau apa? Setahun lamanya berusaha melupakan, dalam satu hari saja keteguhanku runtuh.

“Bang?!” Suara nyaring terdengar di telinga.

Aku terperanjat, dan sadar dari lamunan. Kulihat Vivi sudah ada di hadapan wajahku dengan jarak dekat. Lagi-lagi aku hanyut dalam lamunan sendiri sampai tidak menyadari kedatangan Vivi.

“Vivi?! Ngagetin aja!” sentakku sambil mengelus dada.

“Idih, siapa yang ngagetin?! Abang aja yang budeg, ga denger panggilan Vivi. Malah ngelamun. Awas kesambet setan!”

Aku menatap nyalang, “Sembarangan kalo ngomong, nih, bocah!” tegasku sambil mendorong kepalanya mundur. Dia pun ikut duduk di bangku.

“Yaelah, Vivi becanda doang. Mikirin apa, sih, sampe ga nyadar Vivi datang?” tanyanya. Kali ini dia tampak serius.

“Gak ada,” kilahku sambil tersenyum. Berusaha menyembunyikan kegundahan di hati yang muncul sejak mendengar suara Gina semalam.

“Bohong, ya? Abang pasti ada masalah. Sini bilang. Jangan dipendem. Nanti jerawatan,” tawarnya dengan mimik serius meski diiringi candaan.

Seperti biasa, Vivi bisa menebak kalau aku berbohong. Dia bagaikan dukun sakti yang bisa membaca pikiranku. Entah mungkin karena kami sudah lama saling kenal, sehingga dia bisa memahamiku, atau hanya asal menebak.

“Gak ada, Vi.”

“Mulut bisa bohong, mata Abang gak bisa bohong. Ada apa? Jujur aja kali bang.”

“Gak ada, beneran.” Aku berusaha meyakinkan. Vivi diam sambil memicingkan mata.

Saat melihat Vivi, aku menyadari satu hal. Bukannya dia mau lari pagi?

“Vi, bukannya mau lari pagi?” tanyaku memastikan.

“Tadinya mau, tapi gak jadi. Soalnya temenku gak jadi. Kalau sendirian, Vivi gak mau,” terangnya.

“Oh ....” Perasaanku jadi tak enak. Bagaimana dengan Fadlan?

“Kenapa emangnya? Eh, tapi Abang tau dari mana?” Dia malah bertanya balik.

Aku gelagapan, “Liat di story, tadi.”

Vivi mengangguk.

“By the way, lagi galau karena perempuan, ya, Bang?” tanyanya sambil menautkan kedua alis tipis tapi simetris miliknya.

Aku menatap manik-manik beningnya lekat. Bulat, dan bulu matanya lentik. Irish coklatnya meneduhkan pandangan. Tak kusangka dia adalah bocah yang dulu sering mengadu padaku saat masih berseragam SD. Sekarang, setelah dia beranjak dewasa, aku yang malah sering mengadu tentang permasalahanku padanya, dan dia yang nanti akan membantuku menyelesaikan masalah tersebut.

Aku menghela napas dalam satu tarikan dan mengeluarkannya perlahan.

'Baiklah, Vivi. Biarkan aku percaya kepadamu untuk kedua kalinya. Izinkan aku mengeluarkan semua yang mengganggu pikiranku. Biarkan aku melepas bebanku dalam bentuk cerita singkat padamu. Agar perasaanku lebih baik dan tak terbebani lagi.'

“Bang?” Vivi menyentuh bahuku. Menatap dengan sorot yang meyakinkan.

Aku tersadar, dan mulai bercerita.

“Dia nelepon Abang, semalam, Vi.” Jantung yang berpacu saat mengucap 'Dia' pun semakin menghentak, seolah baru saja meledak.

Vivi diam. Ia tak bereaksi apa pun setelah ucapanku barusan. Mungkin dia belum sepenuhnya paham dengan apa yang kuucapkan.

“Dia ...? Siapa?” tanya Vivi penasaran.

“Gina,” jawabku singkat.

Vivi diam dengan ekspresi yang tak bisa kujelaskan. Matanya tak berkedip, dan menatap lurus padaku.

“Dia? Perempuan itu?! Mau apa?” Vivi bertanya dengan raut wajah datar.

Aku menggeleng, “Aku langsung menutup teleponnya setelah tau itu dia. Kami tak saling bicara.”

Setelah mengatakannya, Vivi tak berusaha menelisik lebih dalam lagi, mengorek sedikit saja tidak. Mungkin karena bosan mendengar tentang Gina atau apa. Aku tak tahu. Jelasnya, Vivi memang tidak suka kepada Gina sejak tahu aku dikhianati setahun lalu.

“Kenapa diam, Vi?”

“Abang seneng dia nelepon?” Entah perasaanku saja atau bukan, Vivi tampak sinis.

“Seneng? Enggak, tuh. Malah mood-ku terasa buruk setelah denger suaranya,” sangkalku. Padahal, dalam sebagian perasaan yang bercampur aduk, ada secuil ego yang membuat aku sedikit rindu. Ya, hanya sedikit.

“Bagus, deh.” Vivi memperlihatkan senyum terpaksanya. Dugaanku, dia mungkin memang tidak suka kalau aku membicarakan tentang Gina.

Setelah itu aku mengalihkan pembicaraan. Bertanya tentang sekolah Vivi. Suasana pun kembali mencair seperti biasa, dan raut wajah Vivi kembali sumringah. Kami tergelak bersama saat saling berbagi cerita konyol yang pernah dialami. Tak terasa pembicaraan kami ternyata sudah berlangsung kurang lebih lima belas menit lamanya.

Tawaku terhenti seketika, saat melihat Fadlan menatap kami dari jarak sekitar sepuluh meter. Dia tampak lesu dengan rambut yang agak mengkilap, mungkin karena basah oleh keringat. Sorot matanya mengarah padaku. Entah mengapa tatapannya itu seolah mengeluarkan aliran listrik bertegangan tinggi. Vivi yang baru menyadari kedatangan Fadlan pun menghentikan tawanya.

“Eh, Bang Fadlan, habis lari pagi, ya?” sapa Vivi sambil tersenyum.

Fadlan mengalihkan pandangan pada Vivi, dia tersenyum getir.

Ingin rasanya aku tertawa mendengar pertanyaan Vivi itu. Dia tak tahu kalau Fadlan sengaja lari pagi untuk bisa 'Pendekatan' dengannya. Namun, di sisi lain aku jadi tegang, takut Fadlan salah paham.

“Kalian ....”

Dia cemburu pastinya.

Bab 3

“Diem terus, kenapa, sih?” tanyaku pada Fadlan saat mulai menyadari sikapnya sedikit berubah. Rasa penasaran itu kian mencuat, sebab mendadak Fadlan berubah sikap dalam waktu sekejap. Apa dia mendiamkanku karena kejadian di teras tadi pagi? Entahlah.

“Ah, nggak apa-apa. Mungkin efek lapar.” Sanggahan yang tak masuk di akal. Namun, aku mengangguk saja, seolah percaya dengan ucapannya.

“Oh, kalau gitu, aku beli makanan dulu ke depan, ya? Kebetulan kita belum makan siang.” Aku menawarkan diri untuk membeli makan. Fadlan menganggukkan kepala tanpa bicara sepatah kata pun.

Akhirnya aku pergi ke warteg langganan yang tak jauh dari rumah Nyak Marni. Seperti biasa, Mpok Latifah—pemilik warteg—menyambut kedatanganku dengan ramah saat aku tiba.

“Mpok, yang biasa,” pintaku saat memesan lauk dengan nasi. Mpok Latifah yang sudah hafal dengan pesananku pun segera membungkus nasi serta lauknya dengan cekatan.

“Ini, Gam.” Mpok latifah memberikan satu kantong plastik berisi makanan yang kupesan.

“Loh, kok, cuma satu, Mpok?” tanyaku heran. Biasanya, tanpa dijelaskan lagi, Mpok Latifah akan membuat dua porsi untukku dan Fadlan.

“Tadi Fadlan udah makan di mari, Gam. Makanya aye pikir cuma pesen satu. Bentar, deh. Aye bungkusin lagi,” sahutnya, lalu berbalik pergi, mungkin mau membungkuskan satu lagi.

‘Hah?! Kok?’ Aku terperangah. Pikiranku kini berkecamuk buruk tentang Fadlan.

“Mpok, nggak usah. Cukup ini aja. Kirain Fadlan belum makan siang.”

“Jadi, enggak usah, nih?” Mpok Latifah berhenti, melihat ke arahku.

“Enggak usah, Mpok. Ini uangnya. Mari ....” Aku pun pamit setelah menyerahkan uang sebesar dua puluh lima ribu rupiah.

Selama perjalanan, aku kepikiran dengan Fadlan yang berbohong padaku perihal kata 'Lapar' tadi.

‘Nggak bener, nih. Udah pasti Fadlan ngambek gara-gara tadi pagi aku ngobrol sama Vivi.'

Pikiranku sudah berakar ke mana-mana. Cemas kalau Fadlan akan marah padaku terlalu lama. Sudah hampir setengah hari dia mendiamkanku seperti ini, bahkan berbohong dengan mengatakan lapar. Padahal, kenyataannya dia sudah makan siang tanpa mengajakku.

Ketika sampai, kulihat Fadlan sedang duduk di depan teras sambil memainkan ponsel. Sesekali dia tertawa. Saat menyadari kedatanganku, dia kembali menunjukkan raut wajahnya yang cuek.

“Lan, kayaknya kita perlu bicara. Sepertinya kamu salah paham padaku,” kataku dengan posisi masih bediri di hadapannya.

“Ngomong apa, sih? Ngelantur,” sahutnya tanpa membalas tatapanku.

“Semua karena Vivi, kan? Jangan kekanak-kanakan, deh, Lan. Cemburu berlebihan kayak gitu sampe bohongin temen sendiri.”

Akhirnya dia mau menatapku. Wajahnya tampak kesal. Fadlan bangkit dari duduknya.

“Jujur aja, deh. Kamu suka Vivi juga, kan?”

Aku terperangah, tak percaya dengan tudingan Fadlan yang mengada-ada. Bagaimana mungkin dia bisa sembarang menyimpulkan hal semacam itu hanya karena tadi pagi aku mengobrol berdua dengan Vivi?

“Jangan asal tuduh, mana mungkin aku suka Vivi. Dia itu sudah kuanggap adik sendiri. Kamu juga tahu, kan? Kejadian ngobrol tadi itu nggak direncanakan sama sekali. Plis, jangan berpikir negatif gitu.”

Fadlan diam menatapku, “Habisnya ....”

“Apa lagi?! Kita ini sudah dewasa, harusnya kamu berpikir jernih, bukan main tuding aja. Otakmu itu udah penuh sama racun cinta, tuh, sampe berpikir yang bukan-bukan.”

Fadlan terdiam, kepalanya menunduk seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya saja.

“Iya, aku salah. Maaf. Sebenarnya, aku cuma kesal aja karena ternyata Vivi nggak jadi lari pagi. Terus, kamu juga nggak ngasih tahu. Malah kalian asyik ngobrol,” jelasnya. Akhirnya Fadlan mengakui kesalahan dirinya sendiri, walau berakhir menyalahkanku juga.

“Oh, itu masalahnya. Oke, aku minta maaf karena lupa nggak ngasih tahu. Soalnya dia langsung ngomongin tentang temen-temennya gitu. Itu aja, sih. Nggak ada yang lain.”

Fadlan mengangkat kepalanya dan menatapku. Raut wajah kesalnya mulai memudar. Terlihat tanda-tanda Fadlan memaafkanku dari sorot mata itu. Kini, pandangannya beralih pada kantong plastik berisi makanan yang kubawa.

“Belinya, kok, cuma satu?” tanyanya sambil merebut plastik tersebut, lalu membawa nasi bungkus tersebut ke dalam. Aku mengekor di balik punggung Fadlan. Tanpa permisi, dia menaruh di meja dan membukanya.

Aku mengambil sendok dalam rak di pojok ruangan.

“Alah, tadi siapa yang bohongnya ketauan? Bilang lapar padahal udah makan. Ck! Gara-gara cewek doang sampe tega bohongin temen sendiri,” sindirku sambil melihat Fadlan yang kini menatap ke arahku.

Dia diam sesaat, lalu mengambil sendok yang ada di tanganku, “Itu, kan, tadi. Sekarang udah laper lagi. Bagian mana bohongnya?” Fadlan tertawa kecil dan menyendok nasi hangat yang masih mengepulkan asap.

“Woy, itu makanan siapa? Main suap-suap aja!” gerutuku yang segera mengambil sendok dan mulai ikut makan.

Akhirnya, sebungkus nasi itu kami lahap berdua. Fadlan sepertinya sudah tak mempermasalahkan kejadian tadi pagi. Namun, sebagai gantinya aku harus mau membantu Fadlan untuk bisa membuat Vivi menyukainya juga.

“Okey, setuju.” Aku mengatakannya dengan semangat.

Fadlan mengangkat sendoknya, “Janji, ya?”

“Dasar kampret.” Kutoyor kepala Fadlan saking geli dengan perkataanya yang seperti anak kecil itu.

***

Fadlan yang sedang kasmaran kini tengah duduk di hadapan meja yang mengarah ke jendela. Mentari yang sudah hampir tenggelam pun membiaskan cahaya kekuningan lewat kaca.

Dia sedang mencatat sesuatu dengan serius. Saat aku diam-diam melihatnya, ternyata Fadlan mencatat tahap dan rencana untuk pendekatan dengan Vivi. Ada-ada saja kelakuannya. Usia saja sudah dewasa, sikapnya malah seperti ABG yang baru saja pubertas.

“Lebay!” sindirku sambil berpura-pura lewat di belakangnya. Kurasa dia tidak menyadari bahwa sejak tadi aku mencuri pandang pada catatan itu.

Fadlan tak peduli dengan ejekanku dan terus mencatat sambil menggerutu, “Alah, aku jamin nanti juga kamu bakal ngalamin.”

Aku tergelak, lalu merebahkan diri di kasur. "Mustahil. Aku bukan tipe orang lebay kayak kamu."

Kini, Fadlan malah ikut tertawa. Suasana ruangan kamar kost terasa hangat kalau ada dia. Fadlan adalah sosok teman yang sangat penting dalam hidupku. Satu-satunya yang rela mengarungi lautan suka duka bersamaku. Seseorang yang mampu membuatku menyunggingkan senyum setiap harinya. Diakah yang dinamakan sahabat sejati?

Di tengah gelak tawa yang belum kunjung mereda, ponselku berdering dalam saku celana. Aku tercengang dan langsung mengenali nomor itu karena tadi pagi aku sempat melihat riwayat panggilan di ponsel berkali-kali.

Fadlan berhenti tertawa dan menoleh padaku, “Gam, siapa, tuh? Nggak diangkat?”

Aku bangkit dan duduk di tepi ranjang. Kecamasan kembali menyerang kala menatap lekat layar ponsel. Jantungku kian tak terkendali ketika nada dering memasuki bagian reff.

Fadlan merebut ponselku tanpa permisi dan mengamati nomor tanpa nama itu, lalu menerima panggilannya sebelum mati, “Hallo? Ini siapa?”

Aku membiarkan Fadlan yang menjawabnya. Tatapanku menerawang jauh ke luar jendela, lalu beralih menatap langit-langit kamar dengan perasaan kacau. Apa yang harus kulakukan? Kecemasan ini kian menjadi kala mendengar percakapan Fadlan dengannya sangat lancar. Sekilas kulirik dia hanya mengangguk dan menjawab ‘Iya’.

‘Dia sudah dua kali mencoba menghubungiku. Baiknya aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku terus menghindar seperti ini. Setidaknya, sekali ini saja kucoba dengarkan. Cukup sekali saja.’

Kuhela napas panjang dan berusaha menormalkan detak jantung, “Bismillah ....”

Kurebut ponsel yang masih menempel di telinga Fadlan dengan penuh keyakinan. Fadlan menautkan alis seolah sedang mengatakan 'Kamu yakin?'. Aku mengangguk. Fadlan mengacungkan jempol sebelum akhirnya memilih pergi ke luar. Mungkin ingin memberiku ruang.

“Assalamualaikum, Gina.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED