Bab 1

“Jodoh tak akan kemana.”

Perkataan Bapak kembali terngiang di tengah kebisingan jalan raya sore ini yang sedang macet. Pesan tersebut dikatakan setahun lalu saat aku ditinggal menikah oleh tunanganku—Gina Ayuningtyas—yang perselingkuhannya ketahuan lima hari sebelum aku dan dia menikah.

Aku masih ingat terakhir kali kami bicara. Saat itu pertengahan bulan Maret. Gina tiba-tiba menelpon dan memaksaku untuk keluar rumah secara diam-diam pada malam hari.

“Kenapa kamu begini, Gina? Bukannya hubungan kita sudah berakhir? Buat apa kamu ke sini?” tanyaku tanpa melihat ke arahnya.

“Aku cuma datang untuk meminta maaf, Mas.” Dia menangis dalam diam, sementara tangannya meraih ujung jaketku, memegangnya erat.

“Sudah kukatakan bahwa aku ikhlas. Pulanglah, besok kamu menikah, kan? Kamu akan resmi jadi istri orang, menemuiku seperti ini apakah pantas? Apa dia tahu kamu ke sini?” tanyaku lirih. Dia menggelengkan kepalanya pelan, lantas menunduk.

Aku menghela napas panjang, tidak percaya kalau dia datang tanpa sepengetahuan calon suaminya. Gina tetap bergeming. Dia malah mempererat pegangan pada jaketku, tangisannya perlahan terdengar.

“Maaf ...,” ucapnya lirih.

Aku diam membisu, mencoba mencerna apa yang baru saja dia katakan. Memangnya apa yang harus dimaafkan? Bukankah semua sudah berakhir?

“Maaf ....” Sekali lagi Gina mengucapkan kata maaf.

Aku berusaha bersikap dingin, walau sebenarnya hatiku masih menyimpan perasaan untuknya. Aku menepis tangan Gina, dan segera masuk ke dalam rumah tanpa sepatah kata, tanpa ucapan perpisahan, atau ucapan selamat menikah dariku.

Segala kenangan pahit itu terlalu menyakitkan dan membekas di ingatan. Aku sempat menggila waktu itu. Mogok makan, jarang mandi, tidak main sosial media, bahkan menangis. Namun, sekarang aku tertawa mengingat kebodohanku dulu, karena terus menerus memikirkan hal yang tak seharusnya kupikirkan. Benar-benar memalukan.

Tiid! Tiiiiid!

“E—kucing!” Suara klakson membuyarkan lamunanku, membuatku kaget setengah mati. Ternyata kemacetan mulai melonggar.

“Woy! Yang pakai motor merah, maju!” teriak seseorang dari belakang.

“Sorry, sorry, Bang!” sahutku ketika menoleh ke belakang. Kuanggukkan kepala sebagai tanda permintaan maaf padanya.

Perlahan kulajukan Honda CBR merah ini. Tak sampai satu jam macet berakhir, sehingga aku bisa meneruskan perjalanan pulang ke kosan.

“Baaang!” Teriakan cempreng tapi halus terdengar tak asing. Aku menepikan motorku untuk memastikan dari arah mana suara itu berasal.

Kepalaku celingukan, sebelum akhirnya kulihat seorang gadis berseragam SMA di trotoar seberang jalan, melambaikan tangan ke arahku. Ia merentangkan tangannya untuk menghentikan kendaraan yang sedang melaju.

“Heh, kamu dari mana?! Keluyuran aja, kerjaannya! Ini jam berapa? Anak gadis gak boleh ....”

“Mulai, mulai! Abang ini bisa nggak, sih, jangan suuzan dulu. Vivi baru pulang sekolah, kok, habis geladiresik perpisahan,” sangkalnya memotong ucapanku. Anak Ibu kos ini selalu saja membuatku jengkel. Seperti sekarang, memotong ucapan orang yang lebih tua darinya.

Tangannya bergerak meraih helm di jok belakang dan segera mengenakannya. Tanpa basa-basi lagi, ia segera naik ke motor, dengan posisi tangannya melingkar di pinggangku.

“Gladiresik sore-sore? Gak percaya, pacaran, ya?” tudingku sambil melepaskan pelukanya di pinggang secara perlahan. Tak enak di lihat orang.

“Fitnah! Enggak, lah! Mana ada aku pacaran,” sangkalnya lagi, “Jangan lepasin pegangan Vivi, dong, Bang.”

“Pengangan, ya, pegangan aja, Vi. Gak usah peluk-peluk. Taro di sini tangannya, baru bener!” Kutarik kembali tangan mungil itu, dan menempatkannya ke sisi pinggang.

“Ck! Kenapa? Takut dilihat gebetan?!”

Mendengar nada bicaranya yang agak kesal, aku hanya bisa tersenyum di balik helm-ku tanpa menjawabnya.

"Berangkaaat ...!" Vivi berteriak di balik helm-nya. Membuatku teringat pada jargon tukang ojek yang ada di film.

Kami yang tak sengaja bertemu di jalan pun akhirnya pulang bersama. Tak sampai dua puluh menit, kami pun tiba. Nyak Marni—ibu kost—sedang duduk manis di teras sambil membaca majalah.

“Assalamualaikum, Nyak.” Aku dan Vivi mengucap salam bersamaan.

“Waalaikumsallam,” jawabnya datar. Matanya menyorot tajam ke arah Vivi. Dia bangkit saat kami sudah turun dari motor.

“Kalian, kok, bisa bareng?” telisik Nyak Marni sambil memicingkan mata.

“Iya, Nyak. Kebetulan tadi ketemu di jalan.”

“Oh, begitu.” Nyak Marni mengangguk, tatapannya tak lepas dari Vivi.

Entah kenapa aku merasakan aura horor di sekitar Nyak Marni. Sepertinya dia akan memarahi Vivi lagi. Aku rasa, Nyak Marni akan marah karena anak gadisnya pulang terlalu sore.

“Elu, ya! Kebiasaan!” Nyak Marni langsung mendekati kami dan memukul lengan Vivi.

Benar saja dugaanku. Itulah akibatnya kalau dia pulang terlambat.

“Aaw! Apa, sih, Nyak?! Sakit tau!”

“Apaan, apaan! Kebiasaan lu, tuh, ya, baju kotor lu simpen sembarangan! Sama pakean dalem warna ping, lagi! Jorok banget, sih, lu jadi perempuan! Enyak lagi, Enyak lagi yang nyuci, kebangetan, lu!” teriak Nyak Marni.

Aku yang mendengarnya tiba-tiba serasa terkena sembelit. Kupikir, Nyak Marni akan memarahinya karena telat pulang ke rumah. Ternyata ... ah, sudahlah, aku tidak tahu harus bereaksi apa. Kulihat wajah Vivi memerah seperti kepiting rebus, sesekali kami bertemu pandang gelisah. Dia celingukan, mungkin takut terdengar penghuni kost lain. Begitu juga aku yang merasa malu karena mendengar hal sensitif seperti itu.

“Ish! Apaan, sih, Nyak! Malu-maluin aja!” katanya sedikit berbisik.

“Lu, tuh, ya ...!”

“Iya, iya, maafin Vivi. Udah, dong. Malu sama Bang Agam,” pungkasnya sambil melirik ke arahku.

“Gak denger kok, gak denger. Beneran.” Aku mengatakannya sambil garuk-garuk kepala, “Aku masuk dulu, Nyak. Permisi.”

Vivi hanya berdecak sambil menutup muka. Aku mengulum senyum ketika melihat tingkahnya barusan.

“Enyak! Kenapa, sih?! Malu tau!” Masih terdengar Vivi protes dari samping rumah. Suara Nyak Marni kembali terdengar.

Aku juga terlupa, Vivi sekarang usianya sudah hampir dewasa. Dia bukan lagi anak SD yang sering mengadu padaku sepulang sekolah karena diganggu anak laki-laki. Dia sudah punya rasa malu sekarang.

“Gam, udah pulang? Nyak Marni ngasih rendang telor, tuh. Dimakan sana, tadi udah kuambil satu setengah biji,” ujar Fadlan ketika aku masuk. Dia adalah teman satu-satunya yang baik padaku semasa kuliah hingga sekarang.

“Iya, makasih, Lan,” sahutku sambil menyimpan ransel kemudian mengambil handuk.

Kami kuliah sama-sama, berkarir sama-sama. Bedanya, dia orang berada, aku biasa saja. Entah kenapa dia tetap setia berteman denganku. Dia hanya berkilah 'Kita, kan, teman.' Sulit kumengerti. Orang tuanya juga baik, seorang pejabat negara. Aku bahkan disuruh tinggal dengan Fadlan di rumah megahnya. Namun, secara halus aku tolak. Alhamdulillah beliau mengerti.

“Gam ....”

“Hmm?”

“Si Vivi menurut kamu gimana?”

Aku yang sudah di ambang pintu kamar mandi pun berhenti dan menoleh pada Fadlan, “Maksudnya?”

“Sekarang cantik, ya?”

Aku mengeryitkan dahi mendengar omongan Fadlan, tak biasanya dia membicarakan Vivi, apalagi memuji anak itu.

“Bentar, ada apa, nih, tanya begitu?” Handuk pun kusampirkan di bahu, penasaran.

“Enggak, bukan gitu ....”

“Lah, terus?”

“A-aku ....”

“Aku apa, hayo? Suka dia?” pungkasku menggoda Fadlan. Raut mukanya langsung menampakkan kecemasan. Mungkin dugaanku benar. Aku tersenyum. Dia tak menjawab.

“Bukan, gini ....”

“Hahaha, muka kamu udah jelasin semuanya. Gak usah nyangkal, kali. Haduuh, dari sekian banyak wanita, hatimu berlabuh sama bocah,” ujarku sedikit mengejek.

“Bocah? Gak lihat dia sekarang udah besar?” Fadlan tampak jengkel.

“Jadi, beneran?” tanyaku setelah menghentikan tawa.

Dia mengangguk, “Enggak tahu, tapi ... ah, susah jelasinnya. Aku juga udah beberapa kali mastiin kalo bisa aja aku salah, tapi ternyata ini beneran terjadi.”

Aku mendengarkan dengan cukup serius kali ini. Dia tampak cemas dan berkeringat. Entah karena memang akibat ruangan yang panas, atau mungkin bawaan rasa cemasnya itu. Namun, biasanya dia memang bukan tipe-tipe yang mudah berkeringat.

“Kasih aku masukan, bagusnya gimana?”

“Salat istikharoh. Itu saranku.”

Dia mengangguk, “Hmm.”

“Gimana ceritanya, sih, kamu bisa suka sama anak yang punya kost? Gak takut didepak Nyak Marni, apa?” Aku nyeletuk saja. Untung Fadlan tidak marah.

“Perasaanku berubah sejak Vivi ngasih plester dan memasangkannya ke jariku yang terluka,” jelasnya tanpa menoleh padaku.

“Hanya karena sebuah plester?”

Fadlan mengangguk, “Iya. Karena plester itu, siang malam aku sampai kepikiran dia terus. Bikin malu dan salah tingkah kalo ketemu dia, bikin aku rajin mandi dan perhatiin penampilanku tiap saat, entahlah. Silakan kalo mau ketawa, tapi itu kenyataan,” ungkapnya dengan wajah serius. Aku diam.

Benar, cinta memang membuat seseorang berubah. Seperti aku yang dulu hampir gila karena memikirkan Gina. Rasa cinta padanya membutakanku, membuat aku jadi budak cinta. Masih teringat kala tiap malam hari aku susah tidur karena memikirkan Gina, tersenyum setiap kali membaca pesan emoticon love darinya. Namun, semua hanya manis di awal, pahit di akhir. Seperti diimingi manisnya buah jeruk, tetapi akhirnya malah diberi pahitnya buah pare.

“Jangan tertipu dengan cinta, jangan sampai kamu terluka seperti aku, temanku.” Aku menepuk pundaknya dan masuk ke kamar mandi.

***

Pukul satu malam, aku masih terjaga. Entah kenapa aku gelisah. Tak lama terdengar smartphone di nakas berbunyi.

“Siapa malam-malam begini yang nelepon? Gak tahu sopan santun!” gerutuku sambil meraihnya, lalu menerima panggilan tersebut.

“Assalamualaikum, Mas ....”

Degh!

Tiba-tiba aku mendadak seperti jadi Patung Pancoran. Seluruh tubuhku seakan membeku saat mendengar suara yang dulu amat kupuja. Hingga sekarang, aku masih ingat betul bahwa itu suara ... Gina.

Bab 2

Pagi kembali menyapa seperti biasa. Saat membuka mata, ingatan semalam—tentang Gina menghubungiku—kembali terngiang di benak.

“Mas, ini Gina ....”

Aku hanya terdiam saat mendengarnya. Suara itu masih sama seperti dulu, halus dan membuat jantungku berpacu. Seketika, potongan-potongan memori yang telah lama terkubur oleh waktu pun kembali menyembul ke permukaan. Hanya butuh waktu beberapa detik hingga potongan yang berserakan itu kembali menyatu, memperlihatkan bagaimana kami merajut kasih selama bertahun-tahun.

Hatiku terasa sakit, kala semua momen mulai tergambar jelas, terutama saat hari pertunangan yang berakhir dengan pengkhianatan. Suaraku kelu, dadaku tiba-tiba terasa sesak, mual dan pusing menyerang. Aku dilanda kecemasan hebat. Walau begitu, ponsel masih menempel di telinga, seakan tak rela menekan tombol 'Mengakhiri percakapan'.

“Gam?! Gam?!” Remang-remang suara Fadlan terdengar. Kurasakan tangannya menyentuh punggung, sehingga membuat kesadaran pikirku perlahan kembali.

Spontan panggilan pun kuakhiri.

“Masih melek, Gam?” tanya Fadlan.

“Iya, mau tidur sekarang, ngantuk.” Hanya itu yang kukatakan.

Untungnya Fadlan tak curiga. Dia pun kembali melanjutkan tidur.

Sejenak aku berpikir bahwa mungkin aku sedang bermimpi, atau berhalusinasi. Namun, semua terasa nyata. Pikiranku kalut, membuat banyak pertanyaan. Kenapa dia menghubungiku? Untuk apa? Ada apa? Dan banyak lagi pertanyaan lainnya dalam benak yang tak mungkin kutanyakan padanya.

Aku tak ingat jam berapa bisa memejam mata. Hanya saja, beberapa kali aku terbangun karena mimpi buruk mendatangiku. Akibatnya aku sampai kesiangan. Fadlan membangunkanku setengah enam pagi, dan menyuruhku melaksanakan ibadah dua rakaat.

***

Seperti hari-hari sebelumnya, hawa pagi berpolusi menemani rutinitasku yang siklusnya itu-itu saja. Namun, tak membuatku bosan dan malah aku menikmatinya. Setelah menyeduh kopi moka instan, aku duduk di bangku teras depan kamar kost. Tak lama Fadlan keluar dengan penampilan berbeda. Seperti orang yang mau pergi jogging.

“Mau ke mana, Lan?” tanyaku heran.

“Ya, mau larilah. Masa mau kuli di hari libur,” sahutnya sambil melakukan peregangan tangan.

“Tumben? Gak ada angin, gak ada ujan, tiba-tiba mau olahraga," celetukku. Dahiku mengerut.

Fadlan bukanlah tipe orang yang suka olahraga, aku tahu itu. Hidup bersama dengannya selama tujuh tahun membuatku mengenal dia cukup baik.

“Vivi mau lari hari ini,” ucap Fadlan sambil memperlihatkan postingan status di aplikasi hijau di ponsel miliknya.

“Hmm, pantesan. Awas nanti cuaca langsung berubah,” godaku sambil nyengir.

Fadlan berdecak, “Asem!”

Aku tergelak, tetapi tidak dengannya. Rautnya menampakkan kekesalan luar biasa.

“Usaha, kan, perlu. Aku mau mulai PDKT,” terangnya penuh percaya diri. Dia pun pergi dari hadapanku.

Aku hanya menggeleng sambil tertawa. Namun, selang beberapa detik kemudian aku kembali ingat akan sosok Gina. Parasnya yang cantik membuatku kembali terhasut untuk mengingat kenangan bersamanya. Heran, aku ini terkena pelet atau apa? Setahun lamanya berusaha melupakan, dalam satu hari saja keteguhanku runtuh.

“Bang?!” Suara nyaring terdengar di telinga.

Aku terperanjat, dan sadar dari lamunan. Kulihat Vivi sudah ada di hadapan wajahku dengan jarak dekat. Lagi-lagi aku hanyut dalam lamunan sendiri sampai tidak menyadari kedatangan Vivi.

“Vivi?! Ngagetin aja!” sentakku sambil mengelus dada.

“Idih, siapa yang ngagetin?! Abang aja yang budeg, ga denger panggilan Vivi. Malah ngelamun. Awas kesambet setan!”

Aku menatap nyalang, “Sembarangan kalo ngomong, nih, bocah!” tegasku sambil mendorong kepalanya mundur. Dia pun ikut duduk di bangku.

“Yaelah, Vivi becanda doang. Mikirin apa, sih, sampe ga nyadar Vivi datang?” tanyanya. Kali ini dia tampak serius.

“Gak ada,” kilahku sambil tersenyum. Berusaha menyembunyikan kegundahan di hati yang muncul sejak mendengar suara Gina semalam.

“Bohong, ya? Abang pasti ada masalah. Sini bilang. Jangan dipendem. Nanti jerawatan,” tawarnya dengan mimik serius meski diiringi candaan.

Seperti biasa, Vivi bisa menebak kalau aku berbohong. Dia bagaikan dukun sakti yang bisa membaca pikiranku. Entah mungkin karena kami sudah lama saling kenal, sehingga dia bisa memahamiku, atau hanya asal menebak.

“Gak ada, Vi.”

“Mulut bisa bohong, mata Abang gak bisa bohong. Ada apa? Jujur aja kali bang.”

“Gak ada, beneran.” Aku berusaha meyakinkan. Vivi diam sambil memicingkan mata.

Saat melihat Vivi, aku menyadari satu hal. Bukannya dia mau lari pagi?

“Vi, bukannya mau lari pagi?” tanyaku memastikan.

“Tadinya mau, tapi gak jadi. Soalnya temenku gak jadi. Kalau sendirian, Vivi gak mau,” terangnya.

“Oh ....” Perasaanku jadi tak enak. Bagaimana dengan Fadlan?

“Kenapa emangnya? Eh, tapi Abang tau dari mana?” Dia malah bertanya balik.

Aku gelagapan, “Liat di story, tadi.”

Vivi mengangguk.

“By the way, lagi galau karena perempuan, ya, Bang?” tanyanya sambil menautkan kedua alis tipis tapi simetris miliknya.

Aku menatap manik-manik beningnya lekat. Bulat, dan bulu matanya lentik. Irish coklatnya meneduhkan pandangan. Tak kusangka dia adalah bocah yang dulu sering mengadu padaku saat masih berseragam SD. Sekarang, setelah dia beranjak dewasa, aku yang malah sering mengadu tentang permasalahanku padanya, dan dia yang nanti akan membantuku menyelesaikan masalah tersebut.

Aku menghela napas dalam satu tarikan dan mengeluarkannya perlahan.

'Baiklah, Vivi. Biarkan aku percaya kepadamu untuk kedua kalinya. Izinkan aku mengeluarkan semua yang mengganggu pikiranku. Biarkan aku melepas bebanku dalam bentuk cerita singkat padamu. Agar perasaanku lebih baik dan tak terbebani lagi.'

“Bang?” Vivi menyentuh bahuku. Menatap dengan sorot yang meyakinkan.

Aku tersadar, dan mulai bercerita.

“Dia nelepon Abang, semalam, Vi.” Jantung yang berpacu saat mengucap 'Dia' pun semakin menghentak, seolah baru saja meledak.

Vivi diam. Ia tak bereaksi apa pun setelah ucapanku barusan. Mungkin dia belum sepenuhnya paham dengan apa yang kuucapkan.

“Dia ...? Siapa?” tanya Vivi penasaran.

“Gina,” jawabku singkat.

Vivi diam dengan ekspresi yang tak bisa kujelaskan. Matanya tak berkedip, dan menatap lurus padaku.

“Dia? Perempuan itu?! Mau apa?” Vivi bertanya dengan raut wajah datar.

Aku menggeleng, “Aku langsung menutup teleponnya setelah tau itu dia. Kami tak saling bicara.”

Setelah mengatakannya, Vivi tak berusaha menelisik lebih dalam lagi, mengorek sedikit saja tidak. Mungkin karena bosan mendengar tentang Gina atau apa. Aku tak tahu. Jelasnya, Vivi memang tidak suka kepada Gina sejak tahu aku dikhianati setahun lalu.

“Kenapa diam, Vi?”

“Abang seneng dia nelepon?” Entah perasaanku saja atau bukan, Vivi tampak sinis.

“Seneng? Enggak, tuh. Malah mood-ku terasa buruk setelah denger suaranya,” sangkalku. Padahal, dalam sebagian perasaan yang bercampur aduk, ada secuil ego yang membuat aku sedikit rindu. Ya, hanya sedikit.

“Bagus, deh.” Vivi memperlihatkan senyum terpaksanya. Dugaanku, dia mungkin memang tidak suka kalau aku membicarakan tentang Gina.

Setelah itu aku mengalihkan pembicaraan. Bertanya tentang sekolah Vivi. Suasana pun kembali mencair seperti biasa, dan raut wajah Vivi kembali sumringah. Kami tergelak bersama saat saling berbagi cerita konyol yang pernah dialami. Tak terasa pembicaraan kami ternyata sudah berlangsung kurang lebih lima belas menit lamanya.

Tawaku terhenti seketika, saat melihat Fadlan menatap kami dari jarak sekitar sepuluh meter. Dia tampak lesu dengan rambut yang agak mengkilap, mungkin karena basah oleh keringat. Sorot matanya mengarah padaku. Entah mengapa tatapannya itu seolah mengeluarkan aliran listrik bertegangan tinggi. Vivi yang baru menyadari kedatangan Fadlan pun menghentikan tawanya.

“Eh, Bang Fadlan, habis lari pagi, ya?” sapa Vivi sambil tersenyum.

Fadlan mengalihkan pandangan pada Vivi, dia tersenyum getir.

Ingin rasanya aku tertawa mendengar pertanyaan Vivi itu. Dia tak tahu kalau Fadlan sengaja lari pagi untuk bisa 'Pendekatan' dengannya. Namun, di sisi lain aku jadi tegang, takut Fadlan salah paham.

“Kalian ....”

Dia cemburu pastinya.

Bab 3

“Diem terus, kenapa, sih?” tanyaku pada Fadlan saat mulai menyadari sikapnya sedikit berubah. Rasa penasaran itu kian mencuat, sebab mendadak Fadlan berubah sikap dalam waktu sekejap. Apa dia mendiamkanku karena kejadian di teras tadi pagi? Entahlah.

“Ah, nggak apa-apa. Mungkin efek lapar.” Sanggahan yang tak masuk di akal. Namun, aku mengangguk saja, seolah percaya dengan ucapannya.

“Oh, kalau gitu, aku beli makanan dulu ke depan, ya? Kebetulan kita belum makan siang.” Aku menawarkan diri untuk membeli makan. Fadlan menganggukkan kepala tanpa bicara sepatah kata pun.

Akhirnya aku pergi ke warteg langganan yang tak jauh dari rumah Nyak Marni. Seperti biasa, Mpok Latifah—pemilik warteg—menyambut kedatanganku dengan ramah saat aku tiba.

“Mpok, yang biasa,” pintaku saat memesan lauk dengan nasi. Mpok Latifah yang sudah hafal dengan pesananku pun segera membungkus nasi serta lauknya dengan cekatan.

“Ini, Gam.” Mpok latifah memberikan satu kantong plastik berisi makanan yang kupesan.

“Loh, kok, cuma satu, Mpok?” tanyaku heran. Biasanya, tanpa dijelaskan lagi, Mpok Latifah akan membuat dua porsi untukku dan Fadlan.

“Tadi Fadlan udah makan di mari, Gam. Makanya aye pikir cuma pesen satu. Bentar, deh. Aye bungkusin lagi,” sahutnya, lalu berbalik pergi, mungkin mau membungkuskan satu lagi.

‘Hah?! Kok?’ Aku terperangah. Pikiranku kini berkecamuk buruk tentang Fadlan.

“Mpok, nggak usah. Cukup ini aja. Kirain Fadlan belum makan siang.”

“Jadi, enggak usah, nih?” Mpok Latifah berhenti, melihat ke arahku.

“Enggak usah, Mpok. Ini uangnya. Mari ....” Aku pun pamit setelah menyerahkan uang sebesar dua puluh lima ribu rupiah.

Selama perjalanan, aku kepikiran dengan Fadlan yang berbohong padaku perihal kata 'Lapar' tadi.

‘Nggak bener, nih. Udah pasti Fadlan ngambek gara-gara tadi pagi aku ngobrol sama Vivi.'

Pikiranku sudah berakar ke mana-mana. Cemas kalau Fadlan akan marah padaku terlalu lama. Sudah hampir setengah hari dia mendiamkanku seperti ini, bahkan berbohong dengan mengatakan lapar. Padahal, kenyataannya dia sudah makan siang tanpa mengajakku.

Ketika sampai, kulihat Fadlan sedang duduk di depan teras sambil memainkan ponsel. Sesekali dia tertawa. Saat menyadari kedatanganku, dia kembali menunjukkan raut wajahnya yang cuek.

“Lan, kayaknya kita perlu bicara. Sepertinya kamu salah paham padaku,” kataku dengan posisi masih bediri di hadapannya.

“Ngomong apa, sih? Ngelantur,” sahutnya tanpa membalas tatapanku.

“Semua karena Vivi, kan? Jangan kekanak-kanakan, deh, Lan. Cemburu berlebihan kayak gitu sampe bohongin temen sendiri.”

Akhirnya dia mau menatapku. Wajahnya tampak kesal. Fadlan bangkit dari duduknya.

“Jujur aja, deh. Kamu suka Vivi juga, kan?”

Aku terperangah, tak percaya dengan tudingan Fadlan yang mengada-ada. Bagaimana mungkin dia bisa sembarang menyimpulkan hal semacam itu hanya karena tadi pagi aku mengobrol berdua dengan Vivi?

“Jangan asal tuduh, mana mungkin aku suka Vivi. Dia itu sudah kuanggap adik sendiri. Kamu juga tahu, kan? Kejadian ngobrol tadi itu nggak direncanakan sama sekali. Plis, jangan berpikir negatif gitu.”

Fadlan diam menatapku, “Habisnya ....”

“Apa lagi?! Kita ini sudah dewasa, harusnya kamu berpikir jernih, bukan main tuding aja. Otakmu itu udah penuh sama racun cinta, tuh, sampe berpikir yang bukan-bukan.”

Fadlan terdiam, kepalanya menunduk seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya saja.

“Iya, aku salah. Maaf. Sebenarnya, aku cuma kesal aja karena ternyata Vivi nggak jadi lari pagi. Terus, kamu juga nggak ngasih tahu. Malah kalian asyik ngobrol,” jelasnya. Akhirnya Fadlan mengakui kesalahan dirinya sendiri, walau berakhir menyalahkanku juga.

“Oh, itu masalahnya. Oke, aku minta maaf karena lupa nggak ngasih tahu. Soalnya dia langsung ngomongin tentang temen-temennya gitu. Itu aja, sih. Nggak ada yang lain.”

Fadlan mengangkat kepalanya dan menatapku. Raut wajah kesalnya mulai memudar. Terlihat tanda-tanda Fadlan memaafkanku dari sorot mata itu. Kini, pandangannya beralih pada kantong plastik berisi makanan yang kubawa.

“Belinya, kok, cuma satu?” tanyanya sambil merebut plastik tersebut, lalu membawa nasi bungkus tersebut ke dalam. Aku mengekor di balik punggung Fadlan. Tanpa permisi, dia menaruh di meja dan membukanya.

Aku mengambil sendok dalam rak di pojok ruangan.

“Alah, tadi siapa yang bohongnya ketauan? Bilang lapar padahal udah makan. Ck! Gara-gara cewek doang sampe tega bohongin temen sendiri,” sindirku sambil melihat Fadlan yang kini menatap ke arahku.

Dia diam sesaat, lalu mengambil sendok yang ada di tanganku, “Itu, kan, tadi. Sekarang udah laper lagi. Bagian mana bohongnya?” Fadlan tertawa kecil dan menyendok nasi hangat yang masih mengepulkan asap.

“Woy, itu makanan siapa? Main suap-suap aja!” gerutuku yang segera mengambil sendok dan mulai ikut makan.

Akhirnya, sebungkus nasi itu kami lahap berdua. Fadlan sepertinya sudah tak mempermasalahkan kejadian tadi pagi. Namun, sebagai gantinya aku harus mau membantu Fadlan untuk bisa membuat Vivi menyukainya juga.

“Okey, setuju.” Aku mengatakannya dengan semangat.

Fadlan mengangkat sendoknya, “Janji, ya?”

“Dasar kampret.” Kutoyor kepala Fadlan saking geli dengan perkataanya yang seperti anak kecil itu.

***

Fadlan yang sedang kasmaran kini tengah duduk di hadapan meja yang mengarah ke jendela. Mentari yang sudah hampir tenggelam pun membiaskan cahaya kekuningan lewat kaca.

Dia sedang mencatat sesuatu dengan serius. Saat aku diam-diam melihatnya, ternyata Fadlan mencatat tahap dan rencana untuk pendekatan dengan Vivi. Ada-ada saja kelakuannya. Usia saja sudah dewasa, sikapnya malah seperti ABG yang baru saja pubertas.

“Lebay!” sindirku sambil berpura-pura lewat di belakangnya. Kurasa dia tidak menyadari bahwa sejak tadi aku mencuri pandang pada catatan itu.

Fadlan tak peduli dengan ejekanku dan terus mencatat sambil menggerutu, “Alah, aku jamin nanti juga kamu bakal ngalamin.”

Aku tergelak, lalu merebahkan diri di kasur. "Mustahil. Aku bukan tipe orang lebay kayak kamu."

Kini, Fadlan malah ikut tertawa. Suasana ruangan kamar kost terasa hangat kalau ada dia. Fadlan adalah sosok teman yang sangat penting dalam hidupku. Satu-satunya yang rela mengarungi lautan suka duka bersamaku. Seseorang yang mampu membuatku menyunggingkan senyum setiap harinya. Diakah yang dinamakan sahabat sejati?

Di tengah gelak tawa yang belum kunjung mereda, ponselku berdering dalam saku celana. Aku tercengang dan langsung mengenali nomor itu karena tadi pagi aku sempat melihat riwayat panggilan di ponsel berkali-kali.

Fadlan berhenti tertawa dan menoleh padaku, “Gam, siapa, tuh? Nggak diangkat?”

Aku bangkit dan duduk di tepi ranjang. Kecamasan kembali menyerang kala menatap lekat layar ponsel. Jantungku kian tak terkendali ketika nada dering memasuki bagian reff.

Fadlan merebut ponselku tanpa permisi dan mengamati nomor tanpa nama itu, lalu menerima panggilannya sebelum mati, “Hallo? Ini siapa?”

Aku membiarkan Fadlan yang menjawabnya. Tatapanku menerawang jauh ke luar jendela, lalu beralih menatap langit-langit kamar dengan perasaan kacau. Apa yang harus kulakukan? Kecemasan ini kian menjadi kala mendengar percakapan Fadlan dengannya sangat lancar. Sekilas kulirik dia hanya mengangguk dan menjawab ‘Iya’.

‘Dia sudah dua kali mencoba menghubungiku. Baiknya aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku terus menghindar seperti ini. Setidaknya, sekali ini saja kucoba dengarkan. Cukup sekali saja.’

Kuhela napas panjang dan berusaha menormalkan detak jantung, “Bismillah ....”

Kurebut ponsel yang masih menempel di telinga Fadlan dengan penuh keyakinan. Fadlan menautkan alis seolah sedang mengatakan 'Kamu yakin?'. Aku mengangguk. Fadlan mengacungkan jempol sebelum akhirnya memilih pergi ke luar. Mungkin ingin memberiku ruang.

“Assalamualaikum, Gina.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED