Bab 1

"Beraninya anak seorang pelacur sepertimu berhubungan dengan cucu saya. Punya nyali kamu!" teriak kakek Hanu.

Lula tengah duduk menunduk ketakutan di kamar kos 6x6 meter itu.

Lula terkejut dengan kedatangan seseorang yang mengaku sebagai kakek dari kekasihnya itupun gemetaran dengan teriakan kakek Hanu.

"M—maaf, Kek! Lu—"

Belum selesai Lula menjawab, Kakek Hanu sudah terlebih dahulu memotong dengan suara ketusnya.

"Aku bukan kakek kamu! dan aku tidak sudi menerimamu menjadi cucu menantuku ... Cucuku begitu berharga untuk gadis sepertimu, bisa jadi virus HIV ibumu ada dalam dirimu!"

Ibu Lula memang tengah berada diambang kematian karena penyakit HIV yang dideritanya semenjak tiga tahun lalu.

"Kek!" pekik Olan sambil memasuki kamar Lula.

Olan yang akan menjemput Lula untuk kerumah sakit dikejutkan dengan kehadiran dan ancaman sang Kakek.

"Olan ...!" kata kakek Hanu dan Lula bersamaan.

Mereka berdua terkejut karena Olan tiba-tiba muncul.

"Kenapa kakek menggertak kekasihku? Aku yang mencintai Lula, Kek!" kata Olan pada kakek Hanu dengan ekspresi seriusnya.

Kakek Hanu menggeleng tidak habis pikir, "Dia wanita tidak jelas siapa bapaknya, Olan ... Anak haram yang lahir dari seorang perempuan malam! Buka mata kamu Olan!"

Kakek Hanu mulai tersulut dengan jawaban Olan.

"Aku tau dan aku mencintai Lula, Kek! Lula tidak salah karena lahir seperti ini," jawab Olan.

Olan menjeda ucapannya berharap Kakeknya akan mengerti.

"Lula tidak bisa memilih mau lahir dari ibu seperti apa? yang penting, Lula gadis baik-baik dan aku sangat mencintainya, Kek!" lanjut Olan.

"Berhenti berhubungan dengan cucuku atau kamu akan tau akibatnya!" gertak Kakek Hanu tajam.

Kakek Hanu beralih menatap cucunya.

"Olan, jika kamu tidak berhenti disini maka kakek akan menggunakan cara kakek agar kalian berhenti sampai disini!" lanjutnya penuh penekanan.

Aura mafia di dalam tubuhnya masih sangat kental walaupun sudah berhenti dari dunia gelap itu sejak lama.

"Kek, Olan tidak bis—" bantah Olan terpotong.

"Apa lagi, Olan?" pekik kakek Hanu.

Urat-urat di wajah Kakek Hanu semakin menonjol menghadapi cucunya.

"Tolong izinkan Olan dan Lula menikah. Olan akan lakukan apapun untuk menyenangkan hati kakek," rayu Olan.

Olan memegang tangan Kakeknya.

"Mengembangkan perusahaan? memiliki banyak anak? bekerja sungguh-sungguh? belajar dunia bawah tanah? Olan akan lakukan semua, asal kakek izinkan Olan menikahi Lula, Kek!" lanjut Olan memelas.

"Kamu sudah termakan tipu daya wanita ini, Olan! Sadarlah!" pekik kakek Hanu benar-benar sudah sangat marah mendengar keinginan Olan.

"tidak, Kek! Olan benar-benar mencintai Lula, Kek!" jawab Olan memelas.

"JANGAN MEMPERMALUKAN KELUARGA! KAKEK TIDAK AKAN MEMBIARKAN PEWARIS KELUARGA ANTAMA LAHIR DARI RAHIM KOTOR ANAK HARAM SEORANG PELACUR. CAMKAN ITU OLAN!" teriak Kakek Hanu.

Jedar!

Kakek Hanu kemudian pergi dari kosan sempit itu setelah berteriak.

Meninggalkan dua manusia yang tengah terpaku karena ucapan kasar kakek Hanu.

Kata-kata kakek Hanu menyadarkan Lula dimana letak posisinya yang seharusnya.

Seperti petir disiang bolong, tapi petir itu mampu memporak-porandakan hidup Lula.

Sesak dan sakit sekali hinaan yang dilontarkan oleh Kakek dari seseorang yang sangat dicintainya.

Lula sudah terbiasa dengan hinaan dan cacian yang dialaminya sejak kecil, tapi ini jauh berkali-kali lipat sakitnya daripada hinaan tetangganya dulu.

Entah karena hinaannya atau karena kenyataan bahwa dia tidak akan bisa bersama dengan Olan yang membuat hatinya seakan tersayat-sayat.

Melihat sang kekasih berurai air mata, Olan langsung mendekat dan memeluk Lula dengan erat.

Olan mengusap punggung bergetar Lula dengan penuh kasih dan juga rasa bersalah.

"Maafkan Kakekku ya, nanti aku akan bicara kembali pada Kakek. Kamu tenang saja," kata Olan menenangkan Lula.

"Tidak usah menghiburku dengan harapan palsumu, Olan!" kata Lula.

"Apa maksudmu, Lula?" tanya Olan.

Olan terkejut sambil melonggarkan pelukannya dan memandang wajah kekasihnya itu.

"Kita tidak akan pernah bersatu, Olan. Mengertilah! Kakekmu benar, aku tidak pantas mendampingimu! aku hanya seorang anak haram yang lahir dari wanita malam tanpa tau siapa ayahnya!" ketus Lula.

Dengan suara meningginya, Lula mengulangi kata-kata kakek Hanu.

Olan menggeleng, "Stop Lula, aku menerima itu semua dan itu bukan salah mu! Jangan berfikir—"

"Berfikir apa? memang kenyataannya aku tidak pantas untukmu. Aku seperti punuk yang merindukan bulan. Kau terlalu tinggi untuk digapai manusia hina sepertiku!" kata Lula dengan nada tingginya dengan air mata yang berurai.

Lula terlalu emosional karena terlalu banyak yang dia pikirkan saat ini.

Keadaan ibunya yang sudah di ujung tanduk dan juga penghinaan kakek Hanu secara tiba-tiba.

Olan tak lagi menjawab Lula yang tengah diliputi amarah.

Olan merengkuh Lula dalam pelukannya walaupun Lula terus berontak melepaskan diri.

Olan sangat sedih karena ini kali pertamanya Olan dan Lula bertengkar cukup hebat.

Sebelumnya setiap ada masalah selalu berakhir dengan kepala dingin dan saling evalusi diri agar lebih baik.

Hal itu yang selalu menenangkan hati Olan dan membuat Olan jatuh cinta pada Lula dari jaman kuliah.

Olan dan Lula sudah berpacaran selama empat tahun terakhir.

Olan sangat mencintai Lula, begitupun dengan Lula.

Bagi Olan, Lula adalah satu-satunya wanita yang membuatnya jatuh cinta.

Pria dingin dengan berjuta kharisma yang membuatnya menjadi idola kampus, namun lebih memilih bersama gadis kupu-kupu.

Karena Lula hanya kuliah pulang kuliah pulang, tak pernah bermain dengan teman lain.

"Tenanglah, serahkan semuanya padaku! aku akan berjuang agar bisa bersatu denganmu! kamu cukup berdiri ditempatmu dan aku akan datang menjemputmu! jangan kemana-mana!" kata Olan.

Suara lembut Olan sambil memeluknya, membuat Lula sedikit tenang.

"Jangan menjanjikan sesuatu yang sulit kamu lakukan Olan, karena itu akan memupuk harapanku!" kata Lula pelan tapi menyaratkan sebuah luka.

"Aku yakin—" jawab Olan terputus.

Lula membalikkan badannya, "Stop Olan! Jangan melambungkan harapanku sampai ke Langit. Aku takut jika terjatuh, aku tak akan bisa bangkit lagi. Pergilah!".

Bab 2

Olan membiarkan Lula menenangkan diri terlebih dahulu.

Olan kembali ke rumah untuk meyakinkan Kakek, serta orang tuanya jika Lula gadis yang pantas untuk mendampinginya.

Namun setelah perdebatan panjang dengan sang Kakek, nyatanya Olan tidak bisa membuat Kakeknya luluh.

Olan kembali menuju kosan Lula karena mengingat tujuan awal Olan datang saat Kakek menemui Lula yaitu menemui Ibu Lula di Rumah sakit.

Tok! Tok! Tok!

"Assalamualaikum, Lula!" Salam Olan sambil mengetuk pintunya Lula.

"Waalaikumsalam Olan, ada apa lagi? Biarkan aku sendiri terlebih dahulu," sahut Lula dari dalam kamar kosnya.

"Tidak Lula, ini soal ibu. Ibu kritis dan kita harus ke rumah sakit sekarang juga!" jawab Olan.

Cklek!

"Ibu?" tanya Lula dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Iya, ayo kita ke rumah sakit sekarang!" kata Olan sambil menatap mata Lula yang membengkak dengan intens.

Setelahnya mereka menuju rumah sakit.

Lula yang tengah bersedih karena kisah cintanya dengan sang kekasih terhalang oleh latar belakang dirinya itu semakin menangis terisak karena takut kehilangan satu-satunya keluarganya di dunia ini.

Olan hanya diam disepanjang jalan menuju rumah sakit.

Karena tidak ingin mengganggu Lula yang tengah sangat bersedih.

Sesampainya di rumah sakit, Lula langsung berlari menuju ruang isolasi ibunya dan bertemu dengan dokter yang menangani ibunya.

"Dok, bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Lula cemas saat melihat dokter keluar dari ruang isolasi.

"Maaf Mbak, saya harus meminta maaf sebesar-besarnya, mungkin ini terakhir kalinya kamu bertemu dengan Ibumu. Temuilah, Mbak." kata dokter itu.

Lula langsung berlari masuk ke dalam ruang isolasi.

Melihat ibunya sedang menatapnya dengan tatapan yang meredup sambil menahan nafas yang tersengal.

"Nak!" lirih ibu.

"Ibu ... Ibu harus kuat. Lula takut sendirian di dunia ini, Bu. Lula takut menghadapi dunia ini sendirian, Bu!" kata Lula mengiba pada ibunya.

Derai air mata tak bisa lagi Lula hentikan.

"Lula, ka—kamu tidak sendirian di dunia ini. A—ada Olan yang sangat mencintaimu. Lula dengarkan ibu baik-baik!" kata Ibu Lula tersengal.

Lula hanya menangis menanggapi perkataan ibunya dengan suara lirih dan tersengal.

Lula merasa sangat tidak tega melihat keadaan ibunya.

Kemudian dia merasakan tangan ibunya menggapai tangan nya dan memberikan sesuatu.

"Pakailah nak!" kata Ibu Lula memberikan sebuah liontin berwarna putih dengan butiran diamond yang mengelilingi.

Bias cahaya dari liontin putih itu tampak menyilaukan mata Lula.

"Apa ini, Bu?" tanya Lula sambil melihat liontin yang diberikan oleh Ibunya.

"Itu .... Satu-satunya benda berharga yang I—ibu temukan bersama dirimu, di d—depan sampah Bar saat bekerja 24 tahun lalu,"

Ibu menjeda ucapannya karena merasa semakin sedikit oksigen yang bisa dihirup.

"Ma—maafkan ibu tidak pernah jujur. Temukan orang tua kandungmu dengan liontin itu,Nak!" kata Ibu dengan pandangan semakin melemah.

Jedar!

Seperti tersambar petir disiang hari.

Kenyataan yang diterima Lula sore itu membuat seluruh tulangnya seolah tak memiliki tenaga.

Tak pernah ada dalam pikiran Lula, jika ibunya bukanlah ibu kandung Lula karena cinta yang begitu besar dia dapat dari ibunya.

Walaupun dia seorang wanita malam, Lula sangat menyayangi Ibunya.

"I—Ibu berbohong kan?" kata Lula tergagap.

"M—maafkan Ibu yang egois ingin memilikimu seutuhnya dan takut ditinggalkan oleh putri sepertimu!" jawab Ibunya Lula semakin tersengal.

"T—tidak Bu, Ibu adalah ibu kandungku, kan?" tanya Lula.

Lupa tidak percaya dengan kenyataan yang ibunya ungkapkan.

Ibu hanya menggeleng dan kemudian menutup matanya untuk selamanya.

Lula menangis sejadi-jadinya karena telah kehilangan seseorang yang telah menjadi pelindungnya selama ini.

Lula telah luruh ke lantai tak kuat menompang kehidupan dan juga kenyataan bahwa ibunya telah berpulang.

Dokter masuk untuk mengurusi jenazah ibu Lula, dan Olan masuk untuk menguatkan Lula.

Olan memeluk tubuh bergetar kekasihnya itu dalam dekapan hangatnya.

"Istighfar Lul, kamu gadis hebat. Sabar, Sayangku," kata Olan.

Olam membantu berdiri untuk dibawanya keluar agar tidak menghalangi dokter menangani jenazah ibunya yang terkena HIV.

"Ibu pergi Olan, Ibu bilang jika Ibu bukan ibu kandungku. Tapi cintanya luar biasa untukku!" racau Lula.

Lula menunjukkan liontin yang ada di genggaman tangannya.

Olah tidak bisa berkata-kata lagi dengan apa yang terjadi hanya bisa memeluk erat tubuh Lula.

Olan juga tidak menyangka bahwa Lula, bukanlah putri kandung ibunya.

Tapi ada sedikit lega dihati Olan, bahwa ada kemungkinan Kakek Hanu akan menyetujui jika Lula bukan putri dari seorang wanita malam.

Olan kemudian meminta dokter langsung memandikan dan di sholatkan langsung di masjid rumah sakit untuk langsung dikebumikan di TPU terdekat.

Karena lingkungan tempat tinggal Lula adalah rumah kumuh pemukiman para wanita malam.

Selama ini telah ditinggalkan Lula, selama dua tahun semenjak bekerja di perusahaan Olan.

Hanya Olan meminta bantuan tim pemakaman dan juga ustadz yang biasa melakukan itu untuk mensholati jenazahnya.

Setelah semua selesai dan malam itu juga jenazah langsung dimakamkan karena tidak disaran kan untuk dibiarkan terlalu lama.

Pukul sembilan Olan mengantar Lula ke kosannya karena pemakaman sudah selesai.

Olan juga melihat sang kekasih terlihat butuh waktu untuk istirahat.

"Sampai sini saja!" Kata Lula sampai depan kos.

"Aku antar sampai kamar, Lula." jawab Olan.

"Sudah malam, Pulanglah. Terima kasih untuk hari ini Olan. Aku menyayangimu." jawab Lula sambil tersenyum sedikit lebih lebar.

"Aku lebih menyayangimu, Lula. Masuklah dan istirahatlah! Besok aku akan kesini lagi," kata Olan.

Tanpa menoleh Lula masuk ke dalam gerbang dan maruk ke rumah utama.

Srak!

"Aaaaa ... Kalian siapa?" teriak Lula.

Lula merasakan ada beberapa orang memegang tubuhnya.

"Mau apa kalian!" teriak Lula lagi mulai ketakutan.

Kemudian seseorang menggumpal mulut Lula dengan kain namun Lula terus berontak.

Hingga lula tak bisa lagi mengeluarkan suaranya karena tersumpal gumpalan kain yang meredam suaranya.

Dugh!

Bruak!

Detik berikutnya seorang pemuda menerjang dan berusaha menolong Lula.

Namun dengan mudahnya diringkus oleh dua laki-laki berbadan besar itu.

Kemudian Olan diikat dengan tali tambang yang sangat kuat dikursi yang diikat tiang pintu.

"Kalian siapa? Bedebah!" pekik Olan.

Saat ini dirinya sudah terikat sempurna tidak bisa bergerak.

"Periksa pintu depan, dan kunci semua!" perintah ketua bandit itu.

"Siap bos!" jawab salah satu anak buahnya dan pergi.

Kemudian detik berikutnya lampu dinyalakan dan Olan melihat kedua tangan kekasihnya sudah terikat erat dikayu senderan ranjang atas kepalanya.

Dengan mulut tersumpal dan kedua kakinya dipegang oleh dua laki-laki berbadan besar.

Lula terus berontak dengan suara tertahan mencoba melepaskan cengkeraman tangan laki-laki itu.

Lula menatap mata Olan dengan tatapan penuh permohonan agar diselamatkan.

Ya, Olan yang perasaannya tidak enak memilih kembali dan memastikan kekasihnya tidur dengan nyaman.

Namun Olan justru mendapati Lula tengah diserang oleh laki-laki berbadan besar penuh tato dan memakai topeng.

Olan berontak dengan sepenuh tenaga tapi tidak menghasilkan apapun, karena ikatan Olan yang erat dan banyak, juga mulut tersumpal sama seperti Lula.

Mata Olan merah menyala mengisyaratkan kemarahan yang luar biasa.

"Baiklah kekasih yang baik hati, aku akan berbaik hati memberimu kesempatan untuk melihatku mengambil kesucian kekasihmu!" kata laki-laki itu.

Bab 3

Ketua preman itu menatap Lula dengan seringai menjijikan sambil melepaskan celananya.

Kejadian itu membuat amarah Olan berkobar dan terus berontak berharap bisa lepas dan menghajar pria kurang ajar itu.

Kemudian laki-laki itu berjalan dalam keadaan yang sudah tidak menggunakan celana mendekati Lula.

Dan menggunting semua pakaian Lula.

Pakaian itupun lepas hingga seluruh tubuh Lula dapat dilihat oleh lima laki-laki berbadan besar itu, sambil menelan air liurnya sendiri.

Olan menutup mata sambil menahan amarah dan terus berontak.

Lula pun menutup matanya yang tak henti mengeluarkan air matanya sambil berontak dan berharap sebuah pertolongan.

"Wah, sangat ranum sekali!" kata laki-laki itu dan mulai mendekati inti Lula.

Menghirup aroma segar inti seorang gadis yang masih suci.

Dan laki-laki itu tidak bisa menahan diri untuk tidak menjilat bibir bawah Lula, dan itu membuat Lula terus meronta.

Namun, kekuatannya tak bisa dibandingkan dengan keempat preman lainnya yang memegang tangan dan mengangkangkan kakinya.

Hingga preman itu mulai naik dan menghabisi dada Lula yang bulat, padat, sintal dan menantang.

"Lepaskan aku! Aaaaaa!" rintih Lula pilu.

Namun, rintihan itu semakin membuat preman itu bergairah dan diarahkannya senjatanya di antara paha Lula.

"T—tidak! Jangan! Aaaaaaaa!" pekik Lula bersama meronta dan melawan.

Bles!

Hemppppp! Aaaaaaaa!

"Arghhhhh!" erang preman itu membobol pertahanan Lula.

Bersamaan dengan preman itu mulai memacu tubuh Lula, teriakan kesakitan Lula menggema di kamar kos kecil itu.

Sakit!

Jijik!

"Ahhh ... Uhh, Nikmat sekali! Sempitnya liang perawan!" racau preman itu, "Buka lebar pahanya!" lanjutnya memberi perintah para anak buahnya.

Dan kedua orang itu semakin membuka lebar paha Lula sambil menciumi paha Lula.

Kedua anak buah preman itu tentu tidak tahan melihat bos mereka keenakan.

"Ahhh, shttt ... Ahhh!" racaunya sambil membungkam mulut Lula.

"Bos boleh pegang dadanya?" tanya dua anak buah yang memegang tangan Lula.

"Remas dan jilatlah, kamu akan ketagihan ... Ahh!" jawab ketua preman itu.

Dan benar saja, kedua laki-laki itu langsung menyusu pada Lula bak anak bayi.

"Ahhhh, sempit! Ahhhh!" racaunya terus.

Hingga preman itu merasakan lonjakan gairah yang menerbangkannya, "Arghhhhh!" erangnya.

Lula hanya bisa terus menangis.

Olan? Tentu saja masih terus berusaha lepas dari ikatan tangannya.

Hatinya hancur melihat wanita yang dicintainya dinikmati empat laki-laki itu.

Hingga kejadian demi kejadian selanjutnya pun tak terelakkan bersama dengan ribuan air mata Lula yang jatuh.

Kelima orang itu dengan bejadnya menuntaskan hasrat satu per satu naik bergantian di tubuh Lula.

Lula hancur, tubuh Lula remuk redam, kesuciannya ternoda dan direnggut paksa, harga dirinya diinjak-injak.

Ruangan sempit 6 x 6 itu menjadi saksi bisu sebuah ketidakberdayaan seorang gadis tanpa ayah dan ibu.

Tanpa tau alasannya, tanpa tau penyebabnya, Lula harus menanggung kesakitan yang luar biasa ditubuhnya juga kehancuran yang begitu besar dihidupnya.

Di ambang kesadarannya Lula menoleh pada Olan dan melihat ekspresi marah, sedih, hancur pada mata Olan.

Dan berakhir Lula menutup matanya.

Bugh!

Lula pingsan karena sakit yang teramat sangat mendera tubuhnya.

Olan yang melihat tatapan hancur Lula yang dilayangkan padanya membuatnya seperti berada direruntuhan bagunan tinggi yang menghujaminya dengan batuan besar.

Terlebih kala melihat Lula menutup matanya.

Sekuat tenaga, Olan terus berontak walaupun tangan kaki dan tubuhnya sudah banyak mengeluarkan darah akibat gesekan berjam-jam.

Sayangnya, Olan merasakan pukulan yang teramat keras ditengkuk lehernya dan semuanya menjadi gelap.

******

Begitu sadar, pria itu sudah berada di ruangan putih dengan pergelangan tangannya sudah diperban.

Selang infus kini menancap dipunggung tangannya.

Olan langsung melepas infus itu secara paksa dan turun dari ranjang rumah sakit.

Kebetulan saat Olan turun dari ranjangnya seorang suster masuk ke dalam kamarnya dan terkejut melihat ulah Olan.

"Tuan, Anda tidak boleh seperti ini," kata suster itu.

"Dimana gadis yang datang bersama saya!" jawab Olan dingin.

"Tenang saja tuan, sedang diperiksa oleh dokter di sebelah." jawab suster itu.

Olan langsung berlari keluar ruangannya dan menuju ke ruang sebelah yang dikatakan oleh suster.

Saat Olan masuk ke ruangan Lula, dokter tengah membereskan alat setelah berusaha menyelamatkan nyawa Lula yang baru saja melakukan percobaan bunuh diri.

Darah bercecer dimana-mana dan jas putih dokter itupun juga banyak darah pun dengan baju Lula.

"Dok, ada apa ini?" kata Olan mendekat.

"Maaf, Tuan, apa anda ini—?" tanya dokter itu terputus.

Dokter bingung bagaimana menanyakan apakah Olan pelaku pelecehan.

"Bukan, saya pacarnya. Dan kekasih saya di perkosa, Dok." jawab Olan.

"Hanya itu saja? Apa Anda di lokasi kejadian?" kata dokter itu.

"Iya, saya diikat dan mereka merudapaksa kekasih saya sampai pingsan lalu saya dipukul sampai pingsan!" jawab Olan pada dokter itu dan mendekat.

"Pasien mengalami depresi, Pak. Dia melakukan percobaan bunuh diri yang sangat mengerikan," kata dokter kemudian menjelaskan.

Jarum Infus yang panjang itu Lula gunakan untuk memutus urat nadinya dipergelangan jangan hingga darah muncrat-muncrat.

Namun tidak berhasil karena dokter lebih dulu masuk dan menghalangi Lula melanjutkan aksinya.

Olan hanya diam mendengar penuturan dokter itu.

"Lalu, Dok?" tanya Olan.

"Kekasih anda ini tidak hanya trauma akan kejadian itu, akan tetapi tekanan batin dalam hatinya karena kejadian itu dilihat langsung oleh kekasihnya mungkin, mengakibatkan dia mengalami depresi." jawab dokter itu.

Jedar!

Kata-kata dokter membuat Olan lemas seketika.

Kenyataan bahwa para bajingan itu tidak hanya merenggut kesucian kekasihnya, harga diri kekasihnya, juga merenggut kewarasan kekasihnya membuat Olan begitu merasa tidak berguna sebagai kekasih.

"Lebih baik segera bawa ke rumah sakit jiwa saja, Pak. Di sana banyak psikolog atau psikiater untuk membantu penyembuhan kekasih anda!" kata dokter itu.

Jelas Olan sangat terpukul.

Dan Olan terdiam, kemudian menyetujui perintah dokter karena saat ini Lula sebatang kara.

Olan tidak memiliki pilihan lain.

Olan mencari rumah sakit jiwa yang tidak bisa dijangkau oleh Kakeknya.

karena Olan tau, jika tidak ada yang bisa melakukan hal sejahat ini kecuali Kakeknya itu, hingga api amarah itu berkobar dalam mata Olan.

Bagaimanapun, Olan sangat marah dengan Kakeknya.

Lula selalu histeris dan selalu ketakutan melihat laki-laki tanpa terkecuali Olan.

Dan hari itu, Olan mengirim Lula untuk menghuni bangkar rumah sakit jiwa di salah satu rumah sakit ternama di kota itu.

Dia tak tahu apakah Lula akan sembuh? Yang jelas, dia harus segera menemui kakeknya segera!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED