Pazel memegang pundak Silvia dengan kedua tangannya.
“Sayang, jangan pergi. Maaf karena tadi Abang emosi. Abang berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”
Laki-laki yang berstatus suami Silvia itu mencoba menenangkan istrinya yang sedang tergugu menangis sambil memangku lututnya dilantai. Selalu seperti itu. Pria itu selalu lepas kendali jika amarahnya sedang memuncak.
Dia tidak segan-segannya mengeluarkan kata-kata kasar, bahkan sampai mengucapkan kata talak. Dan setelah itu dia akan membujuk wanita yang sudah dinikahinya dua tahun lalu itu.
“Apa maksud Abang tidak akan mengulanginya? Abang sudah mengucapkan kata cerai di depan Ibu,” ucap Silvia tergugu.
Dia sudah merasa putus asa menghadapi sikap suaminya yang kasar. Hal yang paling menyakitkan adalah saat suaminya mengucapkan kata talak dan mengusirnya.
Ditambah lagi dengan mertuanya yang tidak pernah menghargai keberadaan Silvia. Ingin rasanya dia mundur dari pernikahannya yang baru seumur jagung. Tapi dia selalu meyakinkan hatinya bahwa tidak ada rumah tangga yang tidak ada cobaannya.
Sesaat Pazel memikirkan sebuah cara agar dia tidak jadi bercerai dengan istrinya.
Kemudian dia ingat kalau tamannya pernah bercerita bahwa dia sudah mengucapkan talak untuk istrinya, tapi karena dia masih sayang pada istrinya dia tidak jadi menceraikan istrinya. Dia segera melakukan kewajibannya sebagai suami untuk membatalkan perceraian itu, karena masih dalam masa idah. Dia pun segera memberitahu Silvia akan hal itu.
“Sayang. Abang pernah dengar, kalau kita melakukan kewajiban kita sebagai suami istri, cerainya akan batal,” ucap Pazel dengan memegang kedua tangan Silvia.
Tapi tangis Silvia semakin menjadi. “Aku tidak mau diduakan Bang. Aku tidak mau dikhianati.”
Melihat tangis Silvia yang semakin menjadi, Pazel tersenyum kecil sambil mengelus kepala istrinya.
“Abang tidak menduakan kamu. Kamu jangan banyak pikiran. Lihat tubuhmu sudah kurus kering. Mulai sekarang kamu harus banyak makan dan jangan banyak pikiran, ok?” bujuk Pazel
“Lagi pula, kenapa kamu bisa berpikiran kalau Abang selingkuh. Ibu itu hanya salah bicara, kamu malah menanggapinya serius. Sekarang, hapus air mata kamu ya, Sayang? Abang gak mau lihat kamu kayak begini. Sekarang kamu mandi, ya. Abang mandiin ya, Sayang.”
Melihat keseriusan Pazel, akhirnya Silvia luluh juga, baginya pernikahan itu sakral, tidak untuk main-main. Selagi bisa dia akan berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi, mereka melanjutkan ritual pembatalan perceraian.
Mereka melakukan kewajiban mereka malam itu sebagai pasangan suami istri yang sah.
Perasaan sedihnya berubah menjadi bahagia. Dia sangat mencintai suaminya. Wanita cantik dengan lesung pipi itu menatap suaminya yang tertidur pulas setelah menyelesaikan ritual malam yang indah itu.
Ditatapnya wajah tampan suaminya yang sedang terbang ke alam mimpi. Hidung mancung, kulit putih bersih tanpa ada bulu di wajahnya. Wajah inilah yang dulu membuat dia meninggalkan pekerjaan yang baru dirintisnya sebagai seorang desainer muda.
Pandangannya seketika dialihkan ke laci meja riasnya, karena dia mendengar suara getar dari tempat tersebut. Dia turun dari ranjang dan membuka laci meja riasnya. Ternyata benar. Di sana ada benda pipih milik suaminya. Ada satu panggilan tidak terjawab. Terdengar lagi ada notifikasi dari satu aplikasi
Matanya membulat membaca pesan dari aplikasi itu. Sayangnya dia tidak dapat membuka aplikasi tersebut. Namun dia sudah dapat membaca pesan itu dengan sangat jelas.
Pagi harinya Pazel bersiap untuk ke kantor. Dia terlihat tegang. Dia mencoba menyembunyikan raut wajah kehawatiran yang terlihat di wajahnya.
Namun Silvia dapat menangkap sinyal wajah suaminya. Untuk itulah pagi ini dia berdandan dengan rapi. Untuk suatu misi yang akan ia jalankan.
Seperti biasa Silvia menyiapkan sarapan di meja makan. Kali ini dia ikut sarapan tanpa banyak bicara dan menghiraukan mertuanya.
Mertua Silvia yang bernama Rohana hanya menatap anak dan menantunya secara bergantian. Kali ini dia menjaga agar mulutnya tidak bicara sembarangan dengan mengisi mulutnya dengan nasi goreng buatan Silvia tanpa henti.
Setelah sarapan, Pazel pamit untuk berangkat ke kantor. Dia tidak terlalu memperhatikan Silvia yang sudah berpakaian rapi, karena ingatannya sudah ada di tempat lain. Dia berjalan menuju ibunya dan mencium tangan ibunya, setelah itu dia mencium kening Silvia. Silvia pun tidak lupa untuk mencium punggung tangan suaminya sebelum berangkat bekerja. Itu dia lakukan setiap Pazel berangkat bekerja, agar rezeki suaminya selalu diberkahi dengan do’a darinya sebagai seorang istri.
“Apakah ini yang terakhir kalinya aku bisa mencium tanganmu, Bang? Karena aku sudah tidak merasakan kehangatan tanganmu yang dulu lagi. Mungkinkah ini suatu pertanda,” batin Silvia
Rohana yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik Silvia merasa sedikit heran. Karena tidak biasanya Silvia berdandan rapi. Apalagi ini masih pagi.
“Biasanya jam seperti ini dia masih pakai daster. Kenapa hari ini dia rapi sekali? Mau ke mana dia? Apa dia akan meninggalkan rumah ini? Jika dia pergi, siapa yang akan mencucikan pakaianku dan Pazel? Siapa yang masak dan beres-beres rumah? Enak ada dia dirumah, pagi-pagi sudah ada sarapan, pakaian tinggal terima bersih. Kayak ada pembantu gratis. Dia juga gak banyak neko, kayak pembantu-pembantu kurang ajar itu. Untung mereka bekerja belum sebulan. Jadi aku gak perlu membayar mereka saat mereka berhenti,” gerutunya dalam hati. Wajah Bu Rohana menampakkan berbagai macam ekspresi. Kadang tersenyum, kadang bersungut seperti orang marah.
Setelah Pazel keluar, mertuanya yang selalu ikut campur urusan anak dan menantunya itu bertanya. “Kamu ga jadi pergi kan Silvia?” tanya Bu Rohana.
“Ngga, Ibu.”
“Alhamdulillah, tapi kamu mau ke mana pagi-pagi sudah rapi?”
“Aku mau ke pasar membeli bahan makanan kita Bu. Aku pamit ya Bu.” Silvia mencium tangan mertuanya dan menyambar tasnya yang ada di meja. Bergegas dia keluar, karena ojek Online yang dia pesan sudah menunggu.
Silvia melihat kendaraan yang sudah dipesannya berdiri di depan pagar. Dia pun segera menaikinya.
“Bang. Ikuti mobil itu!”
Silvia menunjuk ke arah mobil suaminya yang baru melaju.
Tadi malam Silvia sempat membaca pesan di ponsel suaminya dari seseorang bernama Udin.
[Abang jadi ambil cuti besok bang? Kalau jadi, temani aku ke Dokter ya, bang? Soalnya dari kemarin aku gak enak badan, mual terus bawaannya.]
Pesan itu hanya di baca sekilas karena aplikasinya tidak bisa di buka. Sebelum subuh dia sengaja bangun untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah, agar dia bisa bersiap-siap untuk mengikuti suaminyia
Nama yang tertera di ponsel itu memang nama laki-laki. Tapi dia yakin pesan itu dari seorang perempuan. Dia tidak membangunkan suaminya malam itu. Karena dia ingin membuktikannya dengan mata kepala sendiri tentang kecurigaannya.
Perasaannya benar-benar dihancurkan oleh kebohongan suaminya. Dia sangat kecewa kepada laki-laki yang sudah berumah tangga selama dua tahun dengannya itu.
“Apakah pernikahan yang kita jalani selama dua tahun ini tidak ada artinya bagimu bang. Atau aku yang mungkin terlalu curiga padamu? Jika memang ini hanya kecurigaanku saja, lalu siapa laki-laki itu? Kenapa dia mengirim pesan kepadamu seperti itu? Aku benar-benar bisa gila jika tidak memastikan kebenarannya dengan mata kepalaku sendiri. Pesan itu mengatakan kalau kamu hari ini cuti. Tapi kamu dari rumah bilangnya mau berangkat bekerja.”
Silvia terus teringat dengan pesan yang dibacanya itu hingga kekecewaannya membawanya untuk mengikuti suaminya secara diam-diam.
“Jangan terlalu dekat ya, Bang? Supaya tidak ketahuan.”
“Siap, Neng,” Sahut abang ojeknya.
Tukang ojek itu sepertinya mengerti kalau penumpangnya sedang membututi suaminya, dia pun agak memperlambat lajunya, namun dia tidak membiarkan mobil yang dia ikuti hilang dari penglihatannya.
Saat melewati jalan di depan sekolah taman kanak-kanak ternyata ada anak perempuan berumur sekitar tiga tahun yang lepas dari pengawasan orang tuanya sedang berjalan sendirian di pinggir jalan. Anak itu menyeberang jalan yang akan dilewati ojek yang di tumpangi oleh Silvia.
“Awas, Bang....!” teriak Silvia histeris
Karena terkejut dengan teriakan penumpangnya serta merta Abang ojek itu membanting setang motornya ke kiri. Abang ojek itu bersyukur tidak menabrak anak perempuan itu karena teriakan Silvia.
Namun dia harus rela lampu motornya pecah ditambah luka ringan di telapak tangannya karena menapak di trotoar jalan. Seketika orang-orang yang ada di sekitar berteriak histeris.
Tapi hanya Silvia yang segera berlari mengejar anak kecil yang masih berada di tengah jalan raya. Tak dihiraukannya rasa sakit yang ada di kakinya yang sebelah kiri karena terimpit motor. Dia takut jika anak itu tidak segera diambil akan tertabrak pengendara lain. Dengan terseok-seok Silvia membawa anak itu ke trotoar.
“Kamu tidak apa-apa, Nak?” tanya Silvia kepada anak itu sambil memeriksa tubuh anak itu.
“Iya Tante, maacih Tante tantik?” ucap gadis kecil itu dengan lembut. Gadis kecil dan imut itu mengambangkan tangannya untuk memeluk Silvia. Silvia merasa terharu dan memeluk gadis manis itu dengan lembut.
“Kenapa kamu berkeliaran di jalan, Nak? Orang tua kamu mana?”
Anak itu hanya teersenyum
“Mungkin anak ini tidak mengerti dengan kata orang tua,” batin Silvia.
Dia mengulang pertanyaannya lagi.
“Mama sama Papamu mana, Nak?”
Bukannya menjawab, anak itu malah balik bertanya.
“Kaki Tante luka. Nanti obat cama papa ya, Tante?”
Silvia melihat ke kakinya sebelah kiri yang mulai terasa perih.
“ Oh iya, Kaki Tante terluka. Terima kasih ya, Sayang. Kamu baik banget, sampai tahu kalau kaki Tante sedang terluka.”
Dia mencubit lembut hidung mungil gadis kecil itu. Silvia mencoba lagi untuk bertanya.
“Sayang. Mama kamu mana, Nak?
“Mama cudah di cuga, Tante.” Telunjuknya diarahkan ke atas langit oleh gadis kecil itu.
Silvia merasa haru mendengar jawaban gadis kecil itu. Dia pun memeluknya.
“Maaf ya, Sayang.”
Gadis kecil itu membalas pelukan Silvia dengan hangat. Dia melingkarkan tangannya di leher Silvia, seolah dia telah menemukan ibunya yang sudah lama dirindukannya. Dia tidak berniat untuk melepaskan pelukannya dari Silvia. Silvia merasa pelukan anak itu begitu hangat dan nyaman.
“Seandainya aku bisa memiliki anak yang cantik dan imut seperti ini, alangkah bahagianya aku, Rumah tanggaku pasti akan bahagia,” batin Silvia.
Wanita yang sudah terluka di kaki kirinya itu melepaskan pelukannya secara perlahan. Di sentuhnya kepala anak lucu itu. Anak itu memperlihatkan senyum manisnya kepada Silvia, dan itu membuat Silvia semakin gemas. Dia kembali mencubit hidung mungil anak itu dengan lembut.
“Kamu lucu banget, sih. Nama kamu siapa, Sayang?”
“Nama atu Tila, Tante,” ucapnya sambil tersenyum.
Silvia yang kurang mengerti dengan bahasa anak kecil, mengulangi perkataannya.
“Nama kamu, Tila?”
“Butan.”
“Dila?”
“Butan, Tante. Tapi Ti_la.” Gadis cilik itu mengeja namanya, agar Silvia bisa mengerti.
Silvia jadi bingung, karena setiap nama yang ia sebut selalu salah. Lalu dia menyebut satu nama yang terlintas di kepalanya, walau dia juga tidak yakin nama itu akan sesuai dengan apa yang disebut gadis kecil itu.
“Kaila?”
“Iya, betul, Tante. Tante hebat.”
Anak itu melonjak kegirangan.
Silvia pun ikut merasa senang melihat kegirangan anak itu. Lalu dia kembali menanyakan keberadaan orang tuanya.
“Kaila kesini sama siapa?”
“Cama papa.” Kemudian anak itu menunjuk ke arah kerumunan orang-orang yang masih berlari ke arahnya, entah ingin membantu atau hanya menonton saja.
Dari kerumunan orang yang ingin membantu ada sepasang orang yang berlari menghampiri Silvia. Penampilan mereka berbeda dari yang lain. Mereka berdua terlihat bak model papan atas. Sang pria mengenakan jas berwarna coklat susu, berkacamata hitam, tinggi dan tegap. Kulit putih bersih seperti aktor Korea. Yang perempuan cantik, ayu dan ramah.
Kedua orang itu berlari ke arah Silvia yang sedang berjongkok memangku gadis kecil yang sudah ia selamatkan dari jalan raya.
Silvia berkata dalam hatinya. “Mungkinkah pasangan ini orang tuanya anak ini? Kalau iya, benar-benar keluarga yang sempurna, pantas saja anaknya cantik, lucu, imut lagi,” pikir Silvia.
“Mungkinkah pasangan ini orang tuanya anak ini? Kalau iya, benar-benar keluarga yang sempurna,” pikir Silvia.
Wanita yang sedang dikagumi Silvia segera berjongkok mengambangkan tangannya. Dia mengajak gadis kecil yang bernama Kaila itu untuk pulang.
“Ayo, sayang. Kita pulang ya?”
Namun, diluar dugaan, gadis kecil berambut ikal panjang itu menolak ajakan wanita itu.
“Tidak mau, pedi tana, pedi tana, tamu daat.” “(Pergi ke sana, pergi ke sana, kamu jahat.)”
Gadis kecil itu menoleh ke arah wanita itu, sesaat kemudian membelakanginya dan kembali memeluk Silvia. Seperti bertemu dengan seorang musuh, gadis kecil itu terlihat begitu marah dan ketakutan.
Wanita itu pun terlihat tidak senang dengan penolakan anak yang bernama Kaila itu. Dia berdiri dan memegang pipinya sebelah kiri untuk menghilangkan rasa malunya.
Sesaat kemudian terdengar suara seorang laki-laki memanggil nama anak itu.
“Kaila. Sayang, ayo sini, Nak?”
Begitu mendengar suara itu dia segera menoleh dan berlari ke arahnya.
Laki-laki itu setengah berjongkok menjulurkan kedua tangannya menyambut gadis kecil itu.
“Papa!” ucap anak itu sambil memangkunya dengan erat.
Orang yang dipanggilnya papa itu membelai kepalanya dengan lembut. Terlihat sekali sisi kebapakannya yang sangat mencemaskan anaknya.
“Kamu baik-baik saja kan? Tidak ada yang luka?” ucap lelaki itu memeriksa tubuh anak yang dipanggil Kaila itu.
“Tidak, Pa, tadi atu ditolong Tante tantik, tapi Tante tantiknya datuh, tatinya luta, Pa. Papa mau dak tacih obat buat Tante tantik?”
Laki-laki itu sudah paham dengan bahasa anaknya. Jadi dia menjawab dengan sangat nyambung.
“Iya, Sayang. Nanti Papa kasih obat ya, kaki tantenya.”
Pria itu menoleh ke arah Silvia.
“Maaf, Mbak. Karena Mbak sudah banyak direpotkan oleh anak saya. Ohya, kenalkan nama saya Dana.”
Laki-laki itu menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Silvia. Dan Silvia pun menyambut uluran tangan laki-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai Dana itu.
“Halo, saya Silvia.” Silvia merasa nyaman bersalaman dengan tangan yang lembut dan hangat itu.
Namun ada rasa minder dalam hatinya karena kulitnya yang kasar akibat terlalu banyak melakukan pekerjaan rumah tangga.
Dia juga teringat dengan suaminya yang sedang ia buntuti. Akhirnya dia menarik tangannya dengan cepat.
“Ini teman saya Rani dan ini Kaila anak saya,” ucap laki-laki yang bernama Dana itu.
Wanita yang dikenalkannya bernama Rani itu juga mengulurkan tangan ke arah Silvia dengan ramah.
“Halo, saya Rani,” ucap wanita itu lembut.
“Saya, Silvia.” Silvia menjabat tangannya dengan ramah.
Lalu Pria itu melanjutkan ucapannya yang tertunda.
“Saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena anak saya telah menyebabkan mbak Silvia celaka. Dan sebenarnya ini adalah kelalaian saya sebagai papanya. Tolong maafkan saya. Saya bersedia mengganti kerugian Abang dan Mbak.” Pria itu mengeluarkan dompet dari dalam jas yang dikenakannya. Diambil lembaran uang seratus ribu sebanyak sepuluh lembar dan diserahkan ke abang ojek yang sedang berusaha membetulkan setang motornya.
“Ini, Bang. Sebagai permintaan maaf saya dan perbaikan motor Abang. Jika kurang Abang bisa hubungi saya. Ini kartu nama saya.”
Pria itu menyerahkan sebuah kartu nama kepada tukang ojek itu. Namun ditolaknya dengan sopan. Dia hanya menerima uang dengan agak sedikit membungkuk.
“Uang ini saja sudah cukup, Pak. Kerusakannya tidak terlalu parah, kok. Hanya kaca lampu depan yang pecah sama setangnya agak ke kanan sedikit.
Saya bersyukur penumpang saya tadi berteriak Pak. Jika tidak, aduh, saya tidak berani membayangkannya. Mohon maaf Pak, agak lebih hati-hati lagi menjaga si kecil ya, Pak? Mohon maaf,” ucap tukang ojek agak merasa sungkan.
“Iya, Bang. Sekali lagi maaf ya, Bang.”
“Hehe, iya, Pak. Tapi penumpang saya sepertinya kakinya terluka Pak. Sebab saya lihat tadi waktu dia berlari mengejar Anak Bapak, jalannya agak terseok.”
Pria itu berpaling ke arah kaki Silvia yang di tunjuk tukang ojek, dan ternyata benar, ada darah yang mulai menetes dari luka di kaki Silvia sebelah kiri. Apalagi tadi anaknya juga sudah bilang kalau kaki orang yang menyelamatkannya terluka.
Sebagai seorang Dokter dia tergerak untuk segera memberikan pertolongan pertama pada lukanya. Tapi karena kotak obatnya ada di dalam mobilnya, dia belum bisa memberikan pertolongan pertama pada luka Silvia.
“Kebetulan saya seorang Dokter. Dan saya juga akan ke rumah sakit. Apa Mbak Silvia bersedia ikut dengan kami ke rumah sakit? Saya akan mengobati luka di kaki Mbak Silvia.”
“Tidak usah, Dokter. Ini hanya luka kecil. Biar saya obati di rumah saja,” ucap Silvia.
Dia tidak peduli dengan kakinya yang luka. Yang dia inginkan sekarang adalah segera pergi dari tempat itu untuk mengikuti suaminya, tapi sayang sekali, kejadian ini memakan banyak waktunya sehingga dia kehilangan jejak.
Dia memandang dengan tatapan hampa ke arah jalan yang ditujunya tadi. Orang-orang yang tadi berkerumun sudah mulai lengang.