"Berapa kali harus Liana katakan pada mami, kalau Liana tidak ingin menikah?! " ujar Liana dengan kesal
"Tapi sampai kapan kamu akan bertahan pada pendirian kamu seperti ini?" Tanya ibu Fitri seraya mengikuti Liana yang baru saja pulang dari kerjaan.
"Liana tidak tahu sampai kapan itu, tapi mam ... Liana mohon sama mami, untuk tidak pernah membahas masalah seperti ini lagi dengan Liana. Sudah dulu ya mam, Liana capek mau istirahat," ucap Liana yang segera pergi menuju kamar.
Sesampai di kamar Liana menyimpan tas dan tidak langsung pergi ke kamar mandi seperti biasa. Melainkan duduk di kursi tempat meja belajar kemudian membuka buku diary.
"sampai kapan engkau akan seperti ini, membuatku terdiam dengan keegoisanmu!” batin Liana
Liana menutup diary dengan lemah. Air matanya yang sejak tadi mengalir ia usap dengan telapak tangan, sehingga meninggalkan bekas goresan merah samar di pipinya. Liana berdiri. Tanpa menatap lagi pada benda yang menjadi tempatnya meluapkan emosi itu, dia pun beranjak pergi. Hal yang dia butuh kan sekarang adalah mandi.
Setelah selesai mandi Liana mengambil mukena dan melaksanakan Shalat isya, hanya dengan bersimpuh di hamparan sajadah hati Liana akan menjadi lebih tenteram. Selesai Shalat tak lupa ia mengadu kepada Sang Pencipta.
"Ya Rabb ...
Apalah daya diriku,
sungguh ya Rabb, bagaimana lagi harus aku katakan pada mami dan papi bahwa aku belum bisa menerima kejadian yang menimpa diriku, dan aku belum bisa untuk menikahi laki-laki pilihan mereka.
Ya Rabb ...
Bolehkah aku hilang sebentar saja, agar aku bisa merasakan ketengan hidup.
Aku tahu ya Rabb, diriku ini hina, Diriku ini kotor. Namun apalah daya diriku, sebagai manusia hanya bisa menangis dengan apa yang membuat diriku terluka.
Sekejap saja ya Rabb ...
Sekejap saja ...
Aku merasakan ketenangan di dalam diriku ini, sampai kapan ya Rabb, dia pergi dari hidupku. Sampai kapan ya Rabb, dia pergi meninggal kan kotoran ini di dalam diriku.
Aku yakin ya Rabb. Suatu saat nanti engkau akan memberikan yang terbaik buat aku, walau aku sendiri tidak tahu kapan itu akan datang. Namun, aku akan sabar untuk menantinya. Amiin" Liana menutup doa dengan senyuman manis, menghapus air mata yang jatuh saat do'a, kemudian melipat mukena dan duduk di atas kursi kesayangannya, setelah itu Liana membuka ponsel, dan melihat beberapa pesan yang masuk.
Setelah selesai membalas beberapa pesan. Ia pun segera membuka diary, Mengambil pena kemudian menuliskan sesuatu tentang semua hal yang ada di dalam hari-harinya
27,november,2021
Dear diary ...
Aku bosan, aku jenuh, bahkan kesal dengan hari-hariku. Hari-hari yang sama dengan kejadian yang sama dan seakan itu sudah menjadi makanan harianku.
Kamu tahu tidak diary ... Tadi, ketika aku baru tiba di rumah belum sempat aku membuka sepatu, tiba-tiba mami menghampiriku, kemudian bertanya dengan persoalan seperti biasa. Ya, apalagi kalau bukan bertanya tentang *KAPAN DIRIKU AKAN MENIKAH?* Aku merasa bahwa yang ada di pikiran mami hanya ada pertanyaan tentang diriku kapan menikah? Aku capek selalu beralasan kepada mami, mengapa aku tidak ingin menikah.
Sebenarnya bukan aku tidak ingin, Namun ... (Liana mengingat masa lalunya) ah sudah lah diary, terlalu sakit jika aku katakan kepadamu lagi.
Liana menutup diarnya dan segera pergi ke ruang makan. Sesampainya di ruang makan Liana melihat mami dan bibi yang sudah siap memasak untuk makanan malam ini.
"Mami kira kamu tidak akan turun untuk makan malam" ucap ibu Fitri seraya menaruh sayuran di atas meja
"Aku lapar, jadi aku terpaksa turun untuk mengisi perutku. Lagi pula mami salah, kenapa masak terlalu harum sangat, hingga membuat perutku tidak tahan untuk menikmatinya" candaku dengan tertawa
"Kamu ini bisa saja" jawab ibu Fitri dengan malunya
Liana menarik salah satu kursi di depan kemudian duduk dan bersiap untuk mengambil makanan.
"Kamu mau makan apa? Biar mami ambil kan" tawar ibu Fitri kepada anaknya tersebut
"Tidak usah mam, aku bisa ambil sendiri" jawab Liana seraya mengambil piring . Kemudian mengambil nasi dan lauk.
"gimana kuliah kamu hari ini?” tanya ibu Fitri
"Lancar seperti biasanya, Namun untuk akhir-akhir ini, aku terlalu banyak tugas dan pertemuan, hingga membuatku harus mengambil sif malam untuk kerja" jawab Liana.
"Untuk apa kamu harus kerja? Kan papi sudah menyuruh kamu agar fokus saja dulu kepada kuliah. Nanti selesai kuliah kamu juga bakal di berikan pekerjaan kok sama papi. Kayak kak Odi" ujar ibu Fitri.
"Tapi kan mam, aku ingin cari uang sendiri, bayar uang kuliah sendiri, dan aku juga ingin semua yang aku beli itu pakai uangku sendiri, aku juga ingin merasakan kerja sama orang lain itu gimana. Dan aku belajar dari sekarang mam” jawabku dengan nada sedikit kesal.
"kamu susah banget ya di kasih tahu, tidak kayak kakak kamu si Odi, bisa buat mami dan papi bahagia. Kalau di kasih tahu dia selalu patuh. tidak seperti kamu yang selalu membantah" kali ini ibu Fitri juga tidak mau kalah dengan anaknya.
"Kak Odi lagi, kak Odi lagi, terus saja mami membeda-beda kan antara aku dengan dia. Yang aku beginilah begitulah. Di mata mami sebenarnya aku itu di anggap apa sih?. Apa yang ada di pikiran mami hanya ada keburukan aku saja. Apa tidak pernah kebaikan aku sekali saja mami ingat, sudah lah mam aku capek. Capek terus-terusan seperti ini. Hilang sudah nafsu makanku.”
"Kamu mau pergi ke mana? Mami belum selesai bicara" ucap ibu Fitri
"Aku mengantuk mau tidur" cetus Liana
"Liana! Halo! Liana ... Hai Liana" tegur ibu Fitri dengan nada keras sambil menepuk meja
"eh Iyah mam, adalah apa?" jawab Liana gugup
"Melamuni apa sih kamu? Kok malah melamun begitu, mami lagi bicara loh sama kamu” gerutu ibu Fitri
"Em maaf mam, tidak ada melamuni apa-apa kok. Cuman lagi memikirkan tugas kuliah saja" jawab Liana sedikit gugup
Ternyata tadi, Liana hanya melamun dan berhalusinasi membantah mami yang selalu saja membedakan antara dia dengan sang kakak, ingin rasanya hati ini mengatakan semua rasa kesal yang dia pendam selama ini. Namun hal itu belum bisa terwujud karena dia tidak ingin penyakit mami kambuh akibat perbuatannya.
Liana beranjak dari tempat duduk, berjalan ke wastafel, menaruh piring kotor dan mencuci tangan.
"Secepat itukah kamu menyudahi makan malammu? Tanya ibu Fitri yang heran dengan sikap Liana malam ini.
Padahal makanan yang Ia makan belum habis, masih bersisa banyak. Namun rasa selera makan itu sudah hilang yang membuatnya harus menyudahi makan malam tersebut.
"Aku sudah mengantuk mam, badanku ingin istirahat ... Aku duluan ya mam. Good Night" ucap Liana seraya mengecup pipi kanan ibu Fitri.
"Good Night juga” jawab ibu Fitri yang juga menyelesaikan makan malamnya.
Saat hendak berjalan menuju kamar tak sengaja mata Liana terpandang oleh sebuah ruangan yang mengingatkan dia dengan masa lampau, Liana berjalan menuju ruangan itu.
"Krekk" pintu itu di buka
Liana berjalan masuk ke dalam ruangan. Ruangan tersebut tampak begitu gelap, sepi, sunyi, membuat bulu kuduk Liana merinding. Liana menghidupkan lampu, terang seketika ruangan tersebut
Senyum di bibir Liana terpapar begitu manis ketika melihat sebuah ayunan bayi berbalut kan kain merah muda dengan mainan yang ada di atasnya. Membuat Liana harus ingat dengan suatu hal yang sama sekali belum bisa ia terima.
Air mata Liana jatuh seketika, dengan cepat ia hapus air mata itu, rasa yang begitu sakit, yang baru-baru saja di alami olehnya, kini teringat kembali. Rasa itu ia pendam cukup dalam dari lubuk hatinya.
"Dengarlah Liana hanya engkau saja wanita yang boleh rasakan perihnya penderitaan ini jangan sampai mereka yang lain tahu akan sakitnya hatimu. Biarkan lah hari dan waktu yang akan mengobati ini semua, sabarlah Liana ... akan ada saat dimana pelangi menampakkan wujudnya. Akan ada masa di mana kebahagiaan itu datang di hatimu" bisikkan yang tidak tahu dari mana berasal membuat Liana teguh kembali.
Liana yang ingin menangis dan berteriak karena belum bisa melupakan nasib malang yang menimpa kehidupannya membuat Liana harus menahan diri dari semua itu.
Liana bangkit dari tempat ia duduk, kemudian mematikan lampu dan segera pergi dari ruangan tersebut.
Setelah sampai di dalam kamar, Liana duduk di kursi tempat dimana ia selalu menulis kisah hariannya.
Duduk dalam kesepian membuat Liana harus teringat akan masa lalu yang dulu pernah menjadi hari-hari indah dalam hidupnya.
Namun sesaat kemudian, lamunan tersebut terusik oleh suara ponsel yang tiba-tiba berdering, melihat nama yang terpapar di ponsel, Liana pun tersenyum dan segera mengangkat panggilan itu.
Sahabat Liana : "assalamualaikum sahabatku"
Liana : "Wa'alaikum salam sahabat"
Sahabat Liana : "gimana kabar kamu Liana?"
Liana : "Alhamdulillah aku dalam keadaan baik-baik saja kok kamu sendiri gimana?"
Sahabat Liana : "Alhamdulillah aku juga baik kok Lin. oh ya, Lin besok setelah pulang kampus kamu ada waktu tidak?"
Liana : "Em ... Ada sih, memang kenapa Din?"
Sahabat Liana : "aku besok mau ajak kamu ke perpustakaan yang baru saja buka di pinggiran kota itu ... Ya biasa lah mau lihat-lihat buku"
Liana : "boleh saja sih ... Tapi jam berapa Din?"
Sahabat Liana : "sepulang dari kampus saja gimana?"
Liana : "boleh juga, ya sudah besok aku tunggu kamu di kantin ya"
Sahabat Liana :Oke, ya sudah Lin ... Sudah malam juga aku tidur ya, kamu juga langsung tidur tidak baik tidur larut malam"
Liana : siap komandan"
Mereka pun tertawa serempak, dan kemudian mengakhirkan perbincangan tersebut
Liana segera ke kamar mandi menyikat gigi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.
Setelah itu Ia merebahkan diri di atas kasur yang empuk, tak lupa ia mengatur alarm agar tidak bangun kesiangan.
Di lain cerita
...........................
"Papi besok kita pulang ke Medan kan?" Tanya Odi, kakak Liana yang sedang sibuk mengemasi pakaian ke koper.
"Iyah sayang, besok kita pulang ke Medan" jawab pak Arbi
"Aku tidak sabar banget bertemu sama mami dan adikku Liana" ujar Odi yang sangat menanti hari esok
"Papi juga tidak sabar ingin bertemu dengan mereka sayang, oh Iyah Odi sebelum kita ke bandara, nanti kita singgah ke toko yang baru buka kemarin ya, papi mau beli oleh-oleh buat mami kamu dan Liana"
"Oke papi"
"Mimpi indah adalah sebuah hal yang selalu di nantikan semua orang di saat kita tertidur lelap, bagaimana jadinya jika mimpi yang di alami adalah mimpi buruk? Astaghfirullahaladzim" sontak Liana yang terbangun dari tidurnya.
"Ya Allah, aku kira itu benaran ternyata hanya sebuah mimpi buruk. Terima kasih banyak ya Allah ... karena hanya sebuah mimpi, dan aku harap ... Mimpi tersebut tidak menjadi sebuah kenyataan.” Liana mengelus dada, bersyukur karena hanya sebuah mimpi.
Liana melihat jam di samping Jam menunjukkan pukul 06.15 WIB. Melihat jam tersebut, Liana segera bergegas menuju kamar mandi, menghidupkan air kemudian menyegarkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi Liana mengganti pakaian kemudian mengambil mukena dan terus mengerjakan Shalat subuh
"Allahu Akbar!" Liana memulai Shalatnya. Lima menit sudah berlalu Liana selesai mengerjakan Shalat subuh, seperti biasa tidak lupa Ia berdo'a kepada Sang Pencipta.
"Ya Allah ... Aku tidak tahu apakah mimpi yang baru saja aku alami adalah sebuah pertanda atau hanya sebuah bunga tidur saja? Aku harap tidak akan terjadi apa-apa pada diriku ini ya Rabb. Amiin” Liana mengakhiri doanya.
Setelah selesai Shalat Liana mengemasi barang-barang yang akan di bawa ke kampus.
Tas berwarna hitam ... bermotif corak-corak polkadot selalu menemani hariku, aku meraih tas tersebut dan memasukkan buku-buku serta alat tulis yang wajib di bawa ke kampus ... Tak lupa aku membawa laptop hadiah pemberian kak Odi ketika aku juara kelas.
"Aku rasa semua sudah cukup"
Setelah semua selesai, aku menutup tas dan pergi ke ruang makan
Saat hendak menyusuri tangga diriku melihat sosok wanita yang sangat tidak asing bagiku .... Wanita itu duduk di sebelah kursi meja makanku.
Aku terus mengamatinya. dan siapa sangka ternyata itu adalah kak Odi...Sungguh senang diriku karena kak Odi dan papi telah pulang dari Jakarta.
Liana segera berlari menemui mereka berdua "pagi papi! Pagi kakak bawel" dengan seketika sapaan itu memecahkan keheningan
"Hay Baby lama sudah aku tidak berjumpa dengan dirimu" Odi memeluk Liana dengan erat begitu juga sebaliknya.
"Aku rindu dengan dirimu Baby... Apakah kamu juga merindukan kakakmu ini? "
"Tidak, aku tidak merindukan dirimu ... Aku hanya merindukan hadiah darimu saja"
Mendengar hal itu Odi merasa kesal dan mencubit pipi Liana dengan berkata "dasar kamu ya"
"Ih sakit tahu" keluh Liana yang merasa sakit dengan cubitan itu
"Siapa yang suruh kamu ledek kakak kamu yang cantik ini" ujar Odi
Wajah Liana segera menunjukkan ekspresi seseorang ingin muntah
(Baby adalah panggilan manja Odi kepada Liana. Dari dulu Odi menganggap Liana adalah seorang bayi, walaupun sekarang umur Liana menginjak 21 tahun, Namun ia tetap melihatnya sebagai seorang bayi mungil).
"Sudah-sudah jangan bertengkar. Odi, Liana, kalian duduk lah. Mami sudah masakkan nasi goreng kesukaan kalian"
Liana tak kunjung duduk ia segera menghampiri papinya, mencium pipi sang papi dan berkata "papi hadiah Liana mana?"
Pak Arbi yang melihat tingkah laku putri bungsunya hanya tersenyum sambil mengisyaratkan kepada Liana, bahwa sebentar lagi akan di berikan.
Liana yang melihat isyarat dari papi segera paham, dan duduk untuk menikmati sarapan pagi yang sangat lezat di buat oleh ibu Fitri.
"Sayang bagaimana kerjaan kamu di sana?" Tanya ibu Fitri di sela-sela makan mereka.
"Alhamdulillah berjalan dengan sangat lancar mam, dan mami tahu tidak? aku dapat peringkat ... sebagai karyawan terbaik di perusahaan papi" jelas Odi
"Benarkah begitu? Kamu memang putri terbaik yang pernah mami punya"
Mendengar ucapan ibu Fitri tadi, Liana mulai memesamkan wajah, dan segera mempercepat makannya.... Menahan rasa cemburu adalah suatu hal yang sudah terbiasa dia alami.
"Liana hari ini kamu ke kampus kan?” tanya ibu Fitri secara tiba-tiba kepada Liana
"Iyah mam, kenapa?”
"Nanti setelah pulang dari kampus, kamu segera pulang ya. soalnya mami ada mau mengenali kamu dengan anak dari teman mami"
"Mau mengenali dengan siap sayang?" Tanya pak Arbi
"Itu loh papi, mami mau mengenali Liana dengan anaknya ibu Zainab" jawab ibu Fitri dengan senang.
"Ibu Zainab yang mana? Papi tidak pernah tahu itu? “
"Itu loh papi ... Ibu Zainab kawan arisan mami, yang anaknya bekerja sebagai direktur perusahaan saham emas terbesar di kota Bandung" jelas ibu Fitri
"Oh anak pak Mustofa itu ya?”
"Yang nama anaknya Muhammad Ilyas itu kan mam" Odi tiba-tiba menyambung pembicaraan.
"Iyah kok kamu tahu?"
"Kan dulu dia satu sekolahan sama aku mam"
"Ih apaan sih papi, mami, kenapa kalian jadi membahas anak orang lain?... Kaka juga, kenapa malah ikut-ikutan membahas seperti ini. Sudah ah, aku mau pergi ke kampus dulu. Oh ya mam ... Bukankah aku sudah bilang kepada mami, bahwa aku. Tidak ingin sama sekali membahas masalah seperti ini lagi. Dan satu lagi. Aku tidak ingin di kenalkan sama siapa pun itu" Liana yang tidak suka dengan sebuah perjodohan. Marah dengan tindakan yang di buat oleh ibu Fitri.
Tanpa basa basi lagi Liana pergi dari suasana tersebut
"Liana tunggu, mami belum selesai bicara dengan kamu. Papi, lihatlah anak kamu itu, sangat susah jika di beritahu. belum selesai maminya berbicara. Liana sudah pergi saja" ibu Fitri yang begitu kesal dengan sikap Liana berusaha menahan emosi.
"Sudah lah mami, jangan marah-marah nanti cepat tua loh" pak Arbi yang berusaha menenangkan istrinya tersebut hanya bisa tersenyum melihat ibu dan anak itu.
"Papi pergi ke kantor dulu ya mami”
“ia, hati-hati ya sayang”
Ibu Fitri mencium punggung tangan sang suami ... Kemudian pak Arbi pergi dengan seketika.
Ibu Fitri melanjutkan aktivitas harinya, sementara itu Odi segera pergi ke kamarnya.
Di sisi lain, Liana yang telah sampai ke kampus segera menghampiri sahabatnya Dina ( Dina Kamalia, adalah nama asli dari sahabat kecil Liana, mereka bersahabat sejak duduk di bangku kelas 2 SD. Saat itu Dina kesulitan dalam pelajaran matematika, sementara Liana. Sangat mahir dalam pelajaran tersebut. Melihat Dina yang menangis karna kesulitan menghadapi pelajaran matematika, membuat Liana sangat iba dan berniat untuk membantu dina, semenjak saat itu mereka pun bersahabat dengan baik)
"Eh Lin gimana? Jadikan?" tanya dina
"Pasti jadilah, kan kita juga sudah janji tadi malam, bahwa kita akan pergi ke perpustakaan itu. Lagi pula, aku sudah membawa uang. Ya ... Buat jaga-jaga lah. Aku takut nanti, nafsuku tidak tahan ... ketika melihat buku-buku yang begitu menarik untuk di baca.”
"Hahaha kamu ini ada-ada saja ... Tapi betul juga sih kata kamu, itu kan toko baru. Jadi, ya wajar saja jika banyak keluaran buku baru yang membuat kita tergugah untuk membelinya" ujar Dina
"Sebab itulah aku membawa uang lebih, sekiranya ada yang kena di hati, bisalah nanti aku meminangnya.”
“Hahaha” mereka berdua tertawa dengan ruang.
.....................................
"Anak-anak, hari ini kita ada kedatangan Dosen baru. Jadi ... Dosen baru ini yang akan mengajar kalian di semester satu kali ini. Dan saya harap, kalian bisa menghargai dia" ujar pak Umar. Kepala sekolah universitas Sumatera Medan
"Maaf pak, buk Erin ke mana ya pak? Kok tiba-tiba ganti Dosen baru?" tanya Ihsanul Tisam, sang ketua kelas
"Ibu Erin ada urusan pribadi, jadi beliau mengambil waktu cuti untuk beberapa bulan ini. Oleh sebab itu untuk sementara waktu, bapak mencarikan guru baru untuk kalian semua, sekaligus bisa menggantikan posisinya ibu Erin selama dia bercuti”
Dosen baru tersebut memasuki kelas, setelah pak Umar memanggil dirinya. Saat Dosen tersebut memasuki ruangan, keadaan tiba-tiba hening dengan seketika. Semua wanita di ruangan tersebut menatap Dosen baru dengan sangat kagum, wajah sang guru bagaikan malaikat yang Tuhan hadirkan kepada sekolah itu. Hidung Dosen yang sangat mancung, alisnya yang begitu tebal serta wajahnya yang Baby face, membuat setiap orang yang menatapnya akan menjadi tercengang. Bahkan terkagum-kagum ketika melihatnya. Di tambah tubuh sang Dosen yang memiliki postur tubuh berotot. sungguh lelaki idaman para kaum wanita.
“lelaki idaman” bisik dina dengan lembut
“Apa? Aku tidak salah dengar Din! Jika kau mengagumi Dosen baru itu” ucap Liana dengan nada remeh
“mengapa? Apa kau sama sekali tidak tertarik dengan Dosen itu?” tanya dina
“Em, sama sekali tidak. Bagiku dia biasa saja, seperti layaknya pria-pria di sini, tidak ada yang menarik sama sekali.”
“tapi...sepertinya aku mengenali Dosen itu. Dimana ya?” gumam kecil Liana
Ketika semua wanita berdecap kagum dengan Dosen baru yang mereka miliki.
Lain hal dengan Liana, yang hanya terlihat biasa saja ketika melihat Dosen baru itu masuk, sikap Liana yang dingin, membuat Rudhi memerhatikan Liana “mengapa tatapan anak ini begitu sangat biasa saja dengan diriku” batin Rudhi dalam hati.
Rudhi masih memerhatikan Liana, dan sangat penasaran dengan wanita yang begitu membuatnya bertanda tanya?
Bukan karena Liana gadis yang cantik. Namun seakan ada suatu hal yang pernah di lihat Rudhi dari gadis ini ... Namun entah apa itu, Rudhi juga tidak terlalu memikirkannya.
"perkenalkan anak-anak ini guru baru kalian namanya pak Rudhi dan dia adalah wali kelas baru kalian. Untuk sementara waktu pak Rudhi yang akan menggantikan posisi buk Erin, jadi bapak harap kalian bisa berlaku sopan kepada pak Rudhi”.
Pak Rudhi hanya tersenyum manis melihat murid barunya.
"Bapak tenang saja ... Kami pasti akan sopan kok, sama guru baru kami kali ini, apalagi gurunya setampan bapak ini" ucap Tania cewek terpopuler di kelasnya.
"Iyah pak benar kata Tania itu " jawab semua mahasiswa di ruangan tersebut dengan serempak
"Bagus jika yang kalian katakan itu benar. Bapak hanya berharap yang terbaik buat kalian. Ya sudah anak-anak, bapak pamit dulu ya. Karena masih ada tugas yang harus bapak kerjakan, pak Rudhi saya balik ke kantor dulu ya pak, kalau ada apa-apa panggil saya saja pak, jangan sungkan-sungkan"
Pak Rudhi hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian pak Umar segera keluar dari ruangan kelas.
Pelajaran pun di mulai. semua mahasiswa kampus universitas Medan belajar dengan lancar. Hal tersebut membuat pak Rudhi sangat nyaman untuk mengajarkan mereka.
Lain hal-Nya dengan Liana. Ia sedari tadi hanya melihat lelaki yang ada di depannya. Pikiran Liana tak karuan, mengingat siapakah lelaki yang sekarang menjadi Dosen di hadapannya ini "Aku seperti mengenalnya namun dimana? Ah kacau sudah pikiranku"
Jam terus berputar hingga saat dimana pelajaran berakhir.
Liana dan Dina segera mengemasi barang-barangnya.
"Selesai sudah pelajaran kita hari ini. Bapak harap tugas yang bapak berikan bisa segera kalian selesai kan dengan hasil yang memuaskan. Dan jika sudah selesai, segera di kirim lewat email yang sudah bapak berikan.
"Baik pak" jawab mereka dengan serempak
Semua mahasiswa keluar dari kampus tersebut.
"Liana aku ke WC dulu ya, kebelet nih”
"Oke-oke entar aku tunggu kamu di gerbang kampus saja ya"
"Oke" jawab Dina yang kemudian berlari dengan cepatnya.
Liana mengemasi semua barang-barangnya, setelah itu pergi keluar kelas.
"Aduh ..." Pak Rudhi yang tidak sengaja menabrak Liana membuat Liana jatuh tersungkur ke tanah.
"Kamu tidak apa-apa" pak Rudhi mengangkat tubuh Liana dan menyuruh Liana duduk di kursi taman kampus.
"Apa ada yang terluka?" Pak Rudhi Masih sangat khawatir dengan keadaan Liana
"Saya baik-baik saja kok pak ... Terima kasih banyak sudah menolong saya tadi" Liana mengangkat wajahnya setelah memeriksa dirinya dalam keadaan baik-baik saja.
Wajah Liana yang putih bersih, serta pipinya yang kemerah-merahan. membuat setiap mata lelaki memandang dengan penuh rasa takjub.
Melihat sebuah tanda luka di pergelangan tangan Liana membuat pak Rudhi sontak kaget.
"Rara" pak Rudhi memanggil nama Liana dengan sebutan berbeda
Liana yang mendengar pak Rudhi menyebutkan nama “Rara” membuatnya bingung seketika. “Bagaimana dia bisa mengetahui nama itu? Siapakah dia sebenarnya”
"Kamu Rara kan? Kok kamu bisa ada di sini"
"Em ... Eh, aum ... Anu pak, itu apa eh ... Em ... Mungkin bapak salah orang kali, masak Iyah nama saya Rara. Nama saya kan Liana pak"
"Tapi tanda ini" pak Rudhi menunjukkan luka yang membekas di pergelangan tangan Liana dan dengan cepat Liana menutupnya.
"Eh Liana, di sini rupanya kau, sudah menunggu aku dari tadi loh" dina yang tiba-tiba datang membuat hati Liana sedikit lega
"Maaf ya din, aku sudah membuat kau Menunggu ... Ya sudah yuk din, kita pergi"
"Yuk lah, naik apanya kita ini? Naik angkot saja atau naik gojek? " dina mengajukan beberapa angkutan umum pada Liana
"Serah engkau saja lah din, yang penting sampai kita ke tempat tujuan"
"Kalian mau ke mana sebenarnya? " tanya pak Rudhi datang dengan tiba-tiba
"Eh, itu pak ... kami mau ke perpustakaan yang baru buka itu loh pak" dina menjawab dengan santainya
Sedang kan Liana bergumam dalam hatinya "mau apa lagi sih dia?"
"Oh, kalian mau ke sana? Ya sudah yuk sama saya saja, sekalian saya juga ada mau cari buku di sana" pak Rudhi menawarkan tumpangan kepada mereka berdua.
Dina menatap Liana. Liana hanya menggeleng kan sedikit kepala meminta agar dina tidak menerima ajakan dari dosen tersebut
"Kenapa masih diam? Kalian mau ikut tidak?"
"Em ... Tidak usah saja pak, kami tidak ingin merepotkan bapaknya" Liana mencoba menjelaskan dengan baik.
"Krek" terdengar pintu mobil di buka
"Dina?!" Liana mendelik kan matanya menunjukkan wajah marah kepada Dina.
"Aku tidak ingin menghabiskan uangku hanya untuk hal sepele itu, lagi pula, tidak mengapa bukan! Jika kita bisa mendapatkan tumpangan gratis" Dina yang segera masuk dan duduk di dekat kaca mobil membuat Liana tidak bisa berkata apa-apa.
"Memalukan" gumam Liana dengan kesal
Mau tidak mau Liana juga harus masuk ke dalam mobil mengikuti Dina, Di dalam mobil Liana hanya diam membungkam. beda halnya dengan Dina yang begitu asyik mengobrol dengan pak Rudhi, terkadang sesekali Liana ikut tertawa bersama mereka. Walau tidak tahu sedang menertawakan apa?.
"Alhamdulillah kita sudah sampai" pak Rudhi segera memarkirkan mobilnya di area parkiran, segera turun dari mobil. Begitu juga Liana dan Dina
"Liana apa lagi yang kamu cari?" Tanya Dina
"Dompet Aku terjatuh" jawab Liana yang tengah sibuk mencari dompetnya
"Ini dompet kamu" pak Rudhi menyodorkan dompet yang sedang Liana cari
Liana mengambilnya kemudian turun dari mobil, "kita mau berpencar atau gimana ini" ujar Liana
"Lebih baik kita bersama saja" Dina mengusulkan. di ikuti oleh anggukan pak Rudhi.
Akhirnya mereka berjalan bersama memasuki ruangan besar yang sangat mereka nantikan, rak demi rak mereka telusuri hingga tiba di mana mata Liana di buat berhenti oleh sebuah buku berwarna abu-abu dengan cover yang cukup menarik. buku itu segera di raih oleh Liana. Melihat judul buku itu, Liana segera mengambilnya, dan mencari tempat duduk untuk segera membaca buku yang telah ia temukan.
"GARIS WAKTU" ya, itu adalah judul dari buku yang Liana ambil, dengan pengarang buku yang bernama "FIERSA BESARI" buku yang membuat Liana berdecap kagum ketika melihat judulnya.
"Aku sudah mendapatkannya, aku mau cari tempat duduk dulu ya! " Liana pergi dari deretan rak-rak yang ia telusuri, untuk mencari tempat yang nyaman.
Lembaran demi lembaran Liana buka hingga membuat dirinya terlena akan kata-kata dalam buku itu.
"Serius benar kamu baca buku" ucap seorang pria yang tiba-tiba datang menghampiri Liana
"Buku ini sangat menyentuh hati" jawab Liana singkat tanpa memandang pria tersebut
"Boleh aku duduk di sampingmu?" pria itu mencoba meminta izin untuk duduk di samping Liana
"Silakan"
"Oh ya, itu buku karangan FIERSA BESARI kan? Yang kisahnya tentang aku dan kau" ucap sang pria
Mendengar lontaran dari pria tersebut Liana segera menoleh ke padanya "mengapa kau bisa mengetahuinya? Apa engkau sebelumnya sudah pernah baca buku ini? " tanya Liana dengan tatapan penuh jawaban
"Sudah, tapi tidak sampai habis"
"Mengapa?"
"Karena buku itu sudah ada yang miliki, dulu akulah tuannya dan tidak ada yang boleh memilikinya kecuali atas izinku. Namun sekarang buku itu sudah di ambil alih oleh seorang wanita yang super dingin, cuek, tapi dia sangat cantik, hingga aku terlena dibuatnya" lelaki itu mulai menggoda Liana
Dengan wajah sinis dan sedikit penasaran Liana bertanya tentang siapa wanita yang di maksud "siapa wanita itu?"
"Kamu"
"Maksud kamu aku?" Liana menunjuk dirinya
"Iyah siapa lagi kalau bukan kamu, buku itu aku taruh di rak nomor tiga dan sengaja aku selipkan di antara buku-buku kimia agar tidak ada orang yang bisa menemukannya. Namun, apalah dayaku ini (wajah memelas) buku itu akhirnya di temukan oleh seorang wanita seperti dirimu"
"Aku minta maaf" Liana merasa bersalah karena telah mengambil hak seseorang.
"Tidak mengapa, santai saja ... malah aku senang”
"Kenapa senang?" tanya Liana
"Karena yang mendapatkan buku itu adalah dirimu. Wanita kutu buku yang sangat pandai menjaga barang, apalagi saat barang itu rusak, mungkin kamu mau menangis sampai berhari-hari layaknya buku dogeng yang dulu rusak karena tidak sengaja di pijak oleh teman sekelas"
"kisah itu? Mengapa engkau bisa mengetahuinya?"
"Liana... Liana, masa kamu sudah lupa dengan aku? Oh ... Mungkin karena aku terlalu tampan ya? Hingga kamu tidak dapat mengenali diriku"
Liana mengamati wajah sang lelaki dengan begitu lama, Tiba-tiba dia teringat akan seseorang "HUSAIN!"
"Kamu Husain kan? Ya Allah Husain... tampan sekali dirimu, hingga aku tidak mengenalimu" Liana berdecap kagum dengan ketampanan Husain.
Husain yang melihat reaksi Liana hanya tersenyum sahaja, bagaimana tidak? Husain adalah teman Liana semasa SMP dan SMA.
Husain memiliki rasa hati kepada Liana, saat pertama kali masuk SMP,(siapa sih, yang tidak jatuh cinta dengan wanita seperti Liana. Liana itu bagaikan bidadari yang tuhan turunkan dari langit) dan Husain pernah mengatakan perasaannya kepada Liana, namun Liana yang masih fokus dengan belajar dan berjanji pada mami dan papi untuk tidak pacaran. akhirnya menolak cinta Husain secara halus. Namun demi menjaga perasaan hati Husain, Liana mengajaknya untuk bersahabat saja... dan Husain menerima hal itu. Tetapi, waktu dan jarak memisahkan persahabatan mereka, ketika selesai SMA ... Liana melanjutkan kuliah di Medan sementara Husain melanjutkan kuliah di Jakarta. Tapi inilah takdir, Tuhan telah mempertemukan mereka kembali. Dan menyatukan mereka menjadi sepasang sahabat.